Tren E Commerce 2020

tren e-commerceE-commerce mendapatkan angin segar sejak berkembangnya perangkat mobile smartphone di Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur dan suprastruktur yang baik, ke depannya potensi di e-commerce akan semakin besar. Untuk itu, setiap pelaku  usaha perlu merumuskan strategi untuk menangkap dan memanfaatkan tren e-commerce ke depannya.

Perkembangan dunia e-commerce memang sangat cepat, sejalan seiring dengan perkembangan teknologi. Perkembangan ini ikut mendorong minat para pelaku usaha memanfaatkan internet sebagai jalur penjualannya. Tahun lalu saja, total transaksi e-commerce mencapai 77 trilyun rupiah (CNBC Indonesia). Nilai itu meningkat 150% dari tahun sebelumnya.

Tahun ini, nilai transaksi diperkirakan meningkat, karena per bulan saja sudah mencapai Rp 13 T (BeriTagar). Hingga akhir tahun, nilai transaksi  diperkirakan meningkat 100% dari tahun lalu.

Terus, seperti apa tren e-commerce 2020, dan bagaimana perusahaan menyiapkan diri untuk menyambutnya? Berikut ini 7 tren e-commerce 2020.

1. Perangkat Mobile masih Menjadi Andalan

Melanjutkan tren e-commerce tahun ini, perangkat mobile masih menjadi andalan dalam melakukan transaksi online. Tak heran sebenarnya, karena secara kemudahan dalam mobilitas dan mekanisme membuat perangkat ini makin diminati menjadi sarana transaksi.

Menurut Google, masyarakat Indonesia yang mengakses internet 95% menggunakan perangkat mobile. Hanya 5 % yang menggunakan perangkat PC saja. Dari pengguna perangkat mobile tersebut, sebanyak 68% telah menggunakannya untuk melakukan transaksi via internet.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan meningkatkan responsivitas website ketika diakses via  mobile phone. Begitu juga dengan meluncurkan aplikasi-aplikasi smartphone untuk program Customer Relationship Management (CRM). Tingkat interaksi yang semakin tinggi dengan pelanggan via mobile phone dapat meningkatkan transaksi dan laba perusahaan.

tren e-commerce

2. COD Semakin Ramai

Fenomena COD (Cash on Delivery) atau pembayaran saat pesanan sampai akan menjadi andalan di masa mendatang. Ini berkaitan dengan masih belum berkembangnya rasa aman pada masyarakat tentang transaksi online. Meskipun sudah ada banyak marketplace yang menyediakan mekanisme rekening bersama, namun masih banyak yang belum merasa secure.

Kebiasaan lama mungkin memang sulit diubah. Dan bagusnya, perusahaan ekspedisi menyikapi ini dengan memfasilitasi layanan COD ini. Fenomena cashless dan bayar di tempat tentu semakin diminati para pelanggan.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan menyediakan layanan COD, bekerjasama dengan pihak ekspedisi. Dengan demikian, perusahaan dapat memberikan jaminan bahwa barang akan sampai ke tempat pelanggan dan uang pelanggan aman.

3. Industri Ekspedisi Semakin Berkembang

Ekspedisi merupakan salah satu backbone dalam e-commerce. Oleh karena itu, jasa ekspedisi banyak memberikan pengaruh terhadap tren e-commerce 2020. Yang paling dapat dibaca, adalah meningkatnya jumlah perusahaan yang menyediakan jasa pengantaran barang ini.

Selain itu, ekspedisi ke luar pulau, hingga ke pelosok Indonesia akan semakin mudah dan murah. Kebijakan infrastruktur dari pemerintah nampak akan mulai terasa pengaruhnya. Dan, bagi industri e-commerce, ini berarti berita gembira.

tren e-commerce

4. Marketplace Menemui Tantangan

Era marketplace tampaknya akan mengalami stagnan setelah beberapa tahun ini berkembang cukup cepat. Strategi bakar uang yang digunakan di awal-awal akan mulai dikurangi dan marketplace mulai menuju ke arah monetisasi. Perkembangan marketplace semakin kelihatan lebih mendatar dan normal.

Ini menjadi  tantangan bagi marketplace untuk menyediakan promo yang kreatif dan layanan yang baik. Karena selama ini marketplace selalu identik dengan perang harga, membuat penjual mulai melirik channel lain untuk penjualan. Adanya game dan kuis dalam marketplace menjadi  salah satu upaya yang sangat baik untuk menjaga loyalitas pelanggan.

Pebisnis dapat menyikapi ini dengan membuat toko online sendiri dan melakukan  optimasi. Dengan branding dan optimasi yang baik, pelanggan akan dengan mudah berpindah ke toko online tersebut. Apalagi sekarang program COD sudah dapat difasilitasi  via jasa ekspedisi. Ini  tentu memberikan rasa aman yang lebih besar daripada rekening besama di marketplace.

tren e-commerce

5. Media Sosial Kembali Berkibar

Setelah agak lama menggeliat akibat banyaknya penipu yang menjual via media sosial, kini media sosial akan semakin berkibar. Fasilitas  COD via ekspedisi banyak memberikan pengaruh dalam hal tren e-commerce. Apalagi secara frekuensi, orang lebih banyak membuka media sosial daripada aplikasi lainnya.

Media sosial juga semakin berkibar akibat banyak media sosial mulai mengembangkan aplikasinya untuk mendukung transaksi e-commerce. Beberapa fitur marketplace atau social media for business semakin berkembang dan diminiati. Masyarakat akhirnya cenderung ingin langsung bertransaksi via media sosial daripada harus membuka aplikasi lain.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan mengoptimalkan media sosialnya. Social media manager benar-benar akan sangat dibutuhkan ke depannya. Jadi pebisnis harus semakin kreatif dengan social media yang dimilikinya.

6. Fintech dan Alat Pembayaran Digital Makin Diandalkan

Start Up pembayaran digital semakin diminati oleh masyarakat. Terutama karena kemudahan dan bonus-bonus yang ditawarkan. Ditambah lagi, adanya  fasilitas gratis transfer ke bank-bank berbeda, meski terbatas, juga ikut mendorong pertumbuhannya.

Ke depannya akan semakin banyak transaksi  yang dilakukan masyarakat via  dompet digital ini. Apalagi, semakin banyak jenis layanan ini yang hadir dengan keunggulan-keunggulan yang berbeda.

Perusahaan dapat menyikapi hal ini dengan menggunakan layanan dompet digital  ini untuk menerima pembayaran. Dengan demikian, transaksi akan semakin ringkas dan mudah sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan.

 

Sumber : jojonomic

Upaya Korporasi Besar Berinovasi dan Tip Agar Startup Bisa Berkolaborasi

Astra Digital

Jika dibandingkan dengan startup, korporasi besar kerap diidentikan sebagai entitas yang sulit menghadirkan inovasi yang cepat. Beberapa hal ini sering kali menjadi alasan dibalik macetnya inovasi-inovasi baru yang lahir dari rahim korporasi.

  • Soal akses birokrasi perusahaan yang rumit,
  • skala produksi yang besar, hingga
  • kendala ketersediaan waktu.

Namun begitu, saat ini sudah banyak korporasi yang mulai berbenah. Beberapa muncul inisiatif baru, baik dari internal maupun yang melibatkan pihak eksternal. Beberapa perusahaan bahkan mulai terbuka dan mengajak startup berkolaborasi demi memenuhi kebutuhan pasar.

Mendorong inovasi internal lewat program akselerator

Inovasi bisa datang dari mana saja. Termasuk dari internal perusahaan. Hal inilah yang diupayakan Coca Cola Amatil Indonesia melalui inisiatif Amatil X pada tahun 2018. Program ini merupakan wadah akselerator khusus bagi karyawan mereka yang memiliki ide inovasi bisnis.

Shark-Tank-Amatil-X-2

Amatil X membantu memfasilitasi karyawan mereka untuk megembangkan ide inovasi. Saat ini Coca Cola Amatil fokus mencari solusi dan inovasi di bidang logistik dan optimalisasi distribusi, analisis ketersediaan produk, dan pengemasan berkelanjutan.

Bisnis besar kata Alix Rimington selaku Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil, cenderung hanya fokus pada pembaruan skala besar. Di sisi lain, pola pikir ala startup memiliki ide kemudian menguji dan mempelajarinya.

“Setelah mempelajari akan diubah lagi jika diperlukan, untuk kemudian kembali diuji dan dipelajari lagi secara terus-menerus,” katanya.

Rimington berharap, inisiasi Amatil X bisa mendorong karyawan lebih kreatif dan berani dalam melahirkan ide pembaruan. Demi menyukseskan ini, Coca-Cola Amatil Indonesia mengundang pakar dari beberapa perusahaan teknologi seperti Gojek dan Tokopedia untuk menjadi mentor.

Selain mempelajari kemampuan teknis untuk kebutuhan riset dan pengembangan, mentor tersebut juga diharap bisa menularkan kultur startup yang identik dengan perubahan dan pengembangan yang cepat.

Yang kami pelajari dari Amatil X di Australia dan Selandia Baru adalah begitu banyak nilai baru yang muncul ketika orang-orang terpapar dengan (ekosistem) startup dan bekerja bersama.

 Alix Rimington, Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil Indonesia

Telkom Indonesia juga menerapkan hal yang sama lewat Amoeba Digital. Program yang dimulai awal 2018 ini menjadi wadah bagi karyawan Telkom yang memiliki ide inovasi digital. Mereka yang terpilih akan dimutasikan ke innovator group, agar bisa fokus mengembangkan dan melakukan validasi ide yang mereka gagas.

Gandeng startup lewat corporate venture capital

Lahirnya banyak startup baru yang menawarkan beragam solusi rupanya juga disambut positif beberapa korporasi besar.

Wesley Harjono, Managing Director Plug and Play Indonesia berpendapat, pola pikir perusahaan besar mulai bergeser. Kini, mereka lebih terbuka untuk mengadopsi inovasi yang dihadirkan oleh startup dibanding memaksakan diri melahirkan inovasi dari tim internal.

“Dibanding memulai semuanya secara internal dari nol, mengadopsi solusi yang sudah dikembangkan startup akan menghemat banyak waktu dan resource (tenaga kerja)”

Hal tersebut diamini oleh Suwandi selaku Head of Business dari Astra Digital Internasional. Sebagai sebuah korporasi raksasa dengan cakupan lini bisnis yang luas, pergerakan mereka dalam mencoba hal baru tidak bisa seleluasa startup.

Hal itu dikarenakan mereka memiliki standar produksi dan operasional yang harus dipenuhi setiap harinya, sehingga tidak ada alokasi waktu dan tenaga yang memadai untuk berinovasi.

Itulah sebabnya Astra mendirikan corporate venture capital (CVC) bernama Astra Digital Internasional. CVC tersebut bertujuan mencari dan memberi pendanaan kepada startup yang bisa bersinergi dengan lini bisnis Astra. Mulai dari sektor otomotif, logistik, layanan finansial, hingga agrikultur.

“Dari sudut pandang korporasi, setiap kita akan berinvestasi, pertanyaan yang ada di kepala kami adalah apakah startup ini nantinya bisa menjadi bagian dari ekosistem Astra,” jelas Suwandi.

Salah satu langkah Astra masuk ke ekosistem startup ketika 2018 lalu menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun ke Gojek Indonesia. Saat itu PT Astra International bersama dengan PT Global Digital Niaga yang menaungi Blibli memimpin pendanaan.

Selain pendanaan, Astra Digital Internasional juga memberikan akses ke startup untuk menguji inovasi mereka dalam ekosistem maupun jaringan pelanggan Astra. Suwandi menilai, kesempatan itu bisa menjadi sarana untuk mematangkan inovasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

edmund carulli | korporasi Salim Group

Langkah serupa juga diambil oleh Salim Group. Sebagai pemain besar di sektor makanan dan retail. CVC yang mereka gagas aktif mencari startup yang bisa menghadirkan inovasi di ekosistem Salim Group dan membawa bisnis mereka berkembang lebih jauh.

Meskipun sudah berhasil menjadi pemimpin pasar di berbagai sektor, Salim Group menyadari peran penting inovasi demi menjaga keberlangsungan bisnis. Selain untuk efisiensi kegiatan operasional, inovasi juga penting agar produk yang dipasarkan tetap relevan dengan pola konsumsi pasar yang terus berubah.

Hal itu yang menjadi acuan utama Salim Group dalam menggandeng startup. Edmund Carulli sebagai Investment Portfolio Manager Salim Group menyatakan, mereka mencari startup yang memiliki inovasi yang matang dan terbukti dibutuhkan pasar, bukan hanya yang tumbuh pesat akibat strategi bakar duit.

Kami lebih tertarik dengan startup dengan sustainable growth, karena inovasi mereka sudah tervalidasi.

 Edmund Carulli, Investment Portfolio Manager Salim Group

Salim Grup juga mendikiran Block71 yang mereka sebut sebagai sebuah innovation factory. Block71 memiliki berbagai peran. Mulai dari pembangun komunitas, akselerator bagi startup, hingga penyedia ruang komunal sebagai wadah bagi para inovator bekerja dan berkolaborasi.

read also

Tip agar startup bisa kolaborasi dengan korporasi besar

Sebagai pihak yang kerap membantu perusahaan merambah inovasi di dunia digital, PT Cyberindo Aditama (CBN Group) membagikan perspektif mereka tentang cara bekerja sama dengan korporasi besar, khususnya di Indonesia

Do not overshoot. Tawarkan inovasi secara bertahap, dengan data serta kalkulasi yang jelas. Jangan tawarkan hal-hal yang tidak mereka butuhkan” kata Dani Sumarsono selaku Presiden CBN Group.

deni sumarsono | korporasi CBN

Dani menegaskan, perubahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan, apalagi jika kasusnya adalah korporasi besar yang telah memiliki kultur dan sistem operasional yang kuat dan kompleks.

Jika dilakukan secara besar-besaran dalam waktu yang bersamaan, bukannya membentuk iklim inovasi malah berpotensi menimbulkan penolakan.

Dani juga melihat, inovasi butuh dukungan kolektif dari seluruh elemen perusahaan, mulai dari jajaran direksi hingga karyawan yang ada di lapangan. Apabila direksi sudah menginstruksikan suatu inovasi namun karyawan belum bersedia mempercayai pembaruan tersebut, Dani mencemaskan kemungkinan besar instruksi tersebut gagal saat dieksekusi.

“Karena memang tidak mudah mengubah cara bekerja seseorang, untuk mengubah kebiasaan. Kuncinya adalah waktu, konsistensi, dan leadership.”

Sementara CEO Kata.ai, Irzan Raditya, merangkum pelajaran penting yang ia dapat dari pengalamannya bekerja sama dengan berbagai korporasi besar menjadi 2R, yaitu:

  • Return of Investment. Sejak awal startup harus menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana perusahaan bisa merasakan manfaat dari inovasi yang ditawarkan.
  • RelationshipIrzan menilai inilah yang cukup menantang karena membangun relationship yang baik membutuhkan waktu, sementara kebanyakan pelaku startup saat ini cenderung ingin melakukan bisnis secara ringkas dan efisien.

Dari dua hal itu, Irzan menyimpulkan tidak bisa ada perubahan radikal yang mendadak di perusahaan berskala besar. Inovasi dan teknologi baru sebaiknya diimplementasikan secara gradual, sambil terus menganalisa masalah apa yang perlu dijadikan prioritas berikutnya.

 

Sumber : techinasia

Empat Kehebatan OKR dalam Penggunaannya di Perusahaan

OKR2

Apakah alasan kehebatan OKR  sehingga membawa Google mengalami pertumbuhan bisnis puluhan kali lipat? Larry Page, cofounder Google, pernah mengatakan bahwa “Good ideas with great execution are how you make magic. And that’s where OKR come in”. Ide-ide yang bagus dengan pelaksanaan yang luar biasa adalah bagaimana Google membuat keajaiban terjadi, dan disanalah OKR membantu.

OKR adalah metode sistematis yang digunakan untuk menentukan tujuan (goal-setting) dan cara mengukur pencapaian tujuan tersebut. OKR akan membantu memfokuskan prioritas kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut, dan bagaimana ritual kegiatan yang dilakukan untuk memonitor eksekusi rencana tindakan tersebut.

Mengapa sih OKR demikian hebat? Yang membuatnya sangat populer di banyak perusahaan startup teknologi, bahkan beberapa perusahaan yang mapan pun mulai menerapkannya juga. John Doerr, sebagai salah satu investor awal Google, yang menginginkan Google menerapkan sistem manajemen OKR yang pernah dipelajarinya ketika John Doerr masih bekerja di Intel. Dalam bukunya “Measure What Matters”, John Doerr menyarikan kehebatan OKR dalam istilah superpower. Ada empat alasan kehebatan OKR dalam pelaksanaannya di perusahaan. keempat hal itu yakni :

Superpower No. 1 Focus and Commit to Priorities

OKR membantu perusahaan untuk fokus pada hal yang super penting, sehingga kita bisa mengerjakan hal-hal yang menjadi prioritas saja. Karena itu ketika membuat OKR entah untuk perusahaan, departemen atau untuk individual hanya boleh mempunyai 1 hingga 4 OKR saja. Kalau terlalu banyak namanya bukan fokus lagi ya kan. Dan, setiap objectives disarankan hanya mempunyai 2 hingga 5 key results untuk tolak ukurnya. Tentu saja, setiap key results nantinya memiliki beberapa inisiatif atau langkah-langkah pelaksanaan yang jelas.

Marshall Goldsmith,  yang dikenal sebagai Leadership Thinker and Executive Coach No.1 di dunia, pernah bertanya bahwa “Bila hanya satu hal saja yang bisa Anda lakukan hari ini, apakah itu?” Dengan kata lain beliau sedang mengajarkan kita untuk fokus pada hal terpenting yang akan kita lakukan hari demi hari. Apabila hal no.1 itu telah selesai dilakukan, baru kita bisa berpindah ke hal no.2 dan demikian seterusnya.

Coba kita refleksikan pada diri kita masing-masing, apa sebenarnya prioritas kita dalam tiga bulan ke depan, enam bulan ke depan, atau bahkan setahun ke depan? Apakah sudah cukup jelas? Pertanyaan yang sama bisa ditanyakan pada anggota tim kita. Kalau mereka ditanya “Apakah hal no. 1 yang akan Anda lakukan dalam minggu ini yang akan memberikan dampak terbesar untuk perusahaan?” Mungkin hanya 20% saja yang tahu, dan sisanya yang 80% hanya mengerjakan rutinitas pekerjaan tanpa menyadari esensi terpenting yang memberikan dampak terbesar pada unitnya.

Bila ini realitanya, lalu bagaimana mereka bisa menyelaraskan pekerjaannya dengan tim dan unit yang lain? Konsep OKR esensinya ingin membuat semua orang tahu sebenarnya apa yang menjadi fokus perusahaan atau unitnya dalam tiga bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan, sehingga semua insan bisa menyelaraskan pekerjaannya dengan prioritas tersebut. OKR mendorong para Leader untuk memilih dan memutuskan apa yang menjadi prioritasnya.

OKR berfungsi pula sebagai alat komunikasi yang terstruktur dari atas hingga ke level individual. Ingat dalam Conversational Intelligence,  kualitas komunikasi kita sehari-hari menjadi dasar yang sangat penting untuk membangun budaya kerja yang sehat. Yang pada akhirnya ada keselarasan, semua menjadi semakin jelas, transparan dan bisa memberikan fokus yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan yang diinginkan.

Superpower No. 2 Align and Connect for Teamworks

Adanya transparansi dan keselarasan prioritas kerja ini, membuat tim yang di bawahnya hingga level individual bisa melihat prioritas atasannya hingga ke top level tertinggi. Terjadilah alignment dan sekaligus connection disini, yang sangat bagus untuk meningkatkan kualitas relasi antar anggota yang ada. Engagement pun akhirnya meningkat, dan terbentuklah budaya organisasi yang lebih baik.  Premis ini ternyata sejalan dengan konsep Conversational Intelligence. Tahun 2012 Google pernah mengadakan riset mendalam dan menghabiskan dana jutaan dolar untuk mengetahui rahasia membentuk tim yang ideal. Kesimpulannya ciptakan lingkungan yang aman secara psikologis, dimana setiap insan bebas dan tanpa rasa takut untuk mengekspresikan pendapat dan pemikirannya. Dengan kata lain, Conversational Intelligence-nya semakin tinggi.

OKR yang benar mestinya seperti hal di atas. Dengan transparansi OKR, kepercayaan terbentuk dan goal setiap orang mulai dari pucuk pimpinan ke bawah terbuka. Masing-masing orang bisa menghubungkan Objective mereka dengan Objective perusahaan, adanya saling ketergantungan dan 3C dalam tim. 3C adalah Communication, Coordination dan Collaboration. 3C ini pula yang menjadi tagline yang sedang dikampanyekan terus menerus di perusahaan saya belakangan ini.

Superpower No. 3 Track for Accountability

OKR mendorong pemantauan dan siapa yang bertanggung-jawab secara jelas. Key Results dalam OKR berisi data numerik atau kuantitatif yang mengukur pencapaian goal yang diinginkan dalam OKR. Proses tracking ini mengetahui apakah kinerja saat ini masih jauh dari target, cukup atau sudah baik sekali. Dalam OKR tercatat dengan jelas pula untuk inisiatif rencana tindakan tertentu siapa yang menjadi penanggung-jawabnya. Jadi disini tidak ada saling tuduh, karena semuanya terbuka dan transparan. Setiap insan memiliki tanggung-jawab atas apa yang harus dicapainya.

OKR speak by data. Akuntabilitas dapat dilakukan dengan proses monitoring yang rutin dengan evaluasi yang terus menerus. Semangatnya adalah continous improvement untuk mencapai goal yang diinginkan, bukan semangat untuk saling mencari kambing hitam apabila objectives tidak tercapai. Sekali lagi disini adalah soal membentuk budaya organisasi yang baik. Dan, inilah yang menjadi tugas utama seorang pemimpin. Membentuk budaya kerja yang sehat dan ada Trust disana. Hal itu bisa dimulai dari hal paling sederhana yakni membangun ritual percakapan sehari-hari yang sehat. Ritual ini yang akan meningkatkan Conversational Intelligence yang sebenarnya telah ada di dalam diri setiap manusia.

Superpower No. 4 Stretch for Amazing

Ketika menyusun OKR, goal yang dibuat mestinya inspirasional, yang bisa bikin Wow. Istilah Google adalah moonshots, atau menembak rembulan. Maknanya adalah menetapkan sasaran luar biasa tinggi, yang kelihatannya sepintas tidak mungkin bisa dicapai. Hal ini yang membuat tim mempunyai can do attitude dengan semangat tinggi untuk mengejarnya.

Dua dekade yang lalu, Google mempunyai misi menjadi “organizing the world’s information”, mengorganisasikan informasi yang beredar di dunia. Mungkin pada waktu itu ada orang yang mengatakan “Gila kali ya, goal itu!” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi apa yang kita lihat saat ini! Istilah google sudah menjadi kata kerja dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita butuh mencari informasi, seringkali kita bilang “Di-google aja…”, “Tanya ke mbah google….”.

OKR memberikan target besar yang ambisius. Seperti contoh Google selalu mencoba mencapai 10x, apa yang bisa dicapai dengan 10 kali lipat dari apa yang umumnya bisa dilakukan. Pencapaian 0,7 dari 1,0 dalam scoring Key Results sudah dianggap Google sangat bagus itu. Pencapaian 0,3 pun sudah dianggap cukup baik. Malahan kalau mencapai skor sempurna 1,0 alias 100% dianggap salah OKR yang disusun. Karena dianggap mudah dicapai, terlalu gampang. Jadi pencapaian 6-70% sudah dianggap sukses.

Anda bisa merasakan dari penjelasan saya di atas, bahwa sistem OKR ini memotivasi setiap insan untuk menjadi unggul, atau bahasanya Tom Peters itu In Search of Excellence. Menjadi pribadi yang ekselen. Bahwa ekselen menjadi nilai hidup, yakni cara kita hidup baik sebagai profesional maupun dalam kehidupan pribadi. Ekselen adalah tindakan yang menunjukkan kita peduli, baik dengan karyawan kita sendiri, suplier maupun customer kita, hingga komunitas dimana kita hidup dan berkembang.

Jadi keempat superpower itulah yang menjadi alasan mengapa OKR itu dahsyat! Supaya mudah diingat saya akronimkan menjadi FATS ya. Focus, Align, Track, dan Strecth. Bagaimana OKR bisa membimbing semua insan dalam sebuah organisasi memfokuskan pada hal-hal kunci, menyelaraskan semua departemennya, melacak siapa yang berhasil dan siapa yang masih belum berhasil, serta menjadi ambisius dan ekselen dalam kehidupannya.

Saya tutup tulisan diatas dengan quote dari John Doerr bahwa “Tantangan terbesar Anda adalah membangun Tim yang hebat!”

Sumber : swa.co.id

Strategi Jangka Panjang LinkAja Menghadapi Persaingan Dompet Digital di Indonesia

 

Peta kondisi persaingan dompet elektronik di Indonesia hingga kini masih menjadi topik hangat yang menarik untuk dibicarakan. Berdasarkan riset konsumen aplikasi pembayaran digital yang dirilis oleh Snapcart bulan Juli 2019 lalu, terdapat empat layanan dompet digital yang saling berebut pasar saat ini, yakni OVOGopayDana, dan LinkAja.

Dari sekian dompet digital tersebut, LinkAja bisa dibilang merupakan layanan yang tidak secara spesifik menggempur segmen konsumsi kelas menengah atas. Apalagi dengan aneka ragam promosi dan maupun klaim terbuka sebagai pengguna dengan pasar terbanyak di Indonesia.

Pantauan Tech in AsiaLinkAja lebih sering bergerak di kawasan perkotaan daerah seperti Banyuwangi, Malang, dan Yogyakarta untuk mengejar fungsi pembayaran sektor yang erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Strategi persebaran adopsi luar kawasan sentral ibukota ini memperlihatkan adanya upaya strategis lain yang tengah dikejar LinkAja.

Berbicara kepada Tech in Asia, Danu Wicaksana selaku CEO LinkAja mengutarakan seperti apa “end game” jangka panjang dari layanan dompet digital mereka. Dan bagaimana pandangannya terhadap persaingan layanan fintech pembayaran dalam kurun waktu setahun terakhir. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh CEO Link aja tersebut :

Hindari persaingan dengan menarget pasar yang berbeda

Sebagai dompet elektronik hasil merger berbagai layanan pembayaran digital BUMN dengan fondasi di atas infrastruktur Tcash (sebelumnya dompet elektronik milik Telkomsel), LinkAja saat ini tengah berupaya menjadi alat pembayaran universal yang sektor agnostik.

Ini artinya, LinkAja dibuat agar tidak terpaku hanya satu atau beberapa ekosistem digital tertentu seperti yang dilakukan ketiga pemain besar lainnya di Indonesia.

Sikap LinkAja sebagai pemain yang berupaya “netral” ke semua ekosistem ini sebelumnya bisa terlihat dari kerja sama strategis antara mereka dengan Gojek untuk rencana ketersediaan opsi pembayaran non tunai LinkAja di layanan transportasi online mereka.

Tidak hanya itu saja, opsi pembayaran menggunakan LinkAja juga bisa ditemukan di e-commerce besar seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Pendekatan universal ini diakui Danu sebagai salah satu value proposition yang dari awal pihaknya telah upayakan supaya dapat menjangkau adopsi pengguna yang lebih luas lagi.

Salah satu hal yang dari awal LinkAja upayakan adalah memahami kekuatan kita dan mencari use case apa yang bisa ditawarkan ke pasar. Kasarnya kita harus tahu target market pasar kita itu siapa.

 Danu Wicaksana, CEO LinkAja

Danu menggambarkan, ketika Tcash merger menjadi LinkAja, posisi pasar saat itu sudah sangat jauh berbeda dibandingkan saat Tcash pertama kali masuk ke pasaran.

“Hal ini mendorong kami untuk mengubah strategi cukup signifikan, karena pemain lain di Indonesia sudah memiliki funding yang cukup kuat di segmen target market yang kami sebut convinience di kawasan perkotaan.”

Kondisi tadi membuat pihak LinkAja tidak berminat untuk head-to-head menghadapi persaingan promo seperti cashback atau sejenisnya.

Hingga di bulan keempat perkembangannya, LinkAja lebih tertarik fokus melebarkan sayap kepada pengadopsian sektor lain seperti pembayaran transportasi umum, kereta, transaksi SPBU, jalan tol, dan beragam layanan lain yang didukung perusahaan BUMN lainnya.

Prioritaskan adopsi di kota tier kedua dan ketiga

Danu berpandangan, di masa mendatang fokus perkembangan dompet digital di Indonesia akan terbagi menjadi dua sektor.

  • Sektor pertama yakni kebutuhan convinience yang saat ini digarap oleh nama-nama besar seperti OVO, Gopay, dan Dana di kota besar.
  • Lalu sektor kedua adalah mass middle market, yaitu jenis dompet digital yang dipakai untuk kebutuhan fundamental sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan dompet digital di sektor pasar kedua tadi, Danu menjelaskan saat ini pihaknya tengah mengupayakan strategi growth yang matang dalam waktu singkat.

Pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Managing Director Berrybenka ini optimis bisa memenuhi tantangan scaling bagi LinkAja dengan berbekal aset dan akses yang dimiliki perusahaan pelat merah lainnya.

Akses ke sejumlah aset BUMN ini menjadi poin kelebihan LinkAja yang turut mendorong fokus pengembangannya di kota-kota tier dua dan tiga Indonesia.

Salah satu akses aset BUMN potensial adalah afiliasi LinkAja dengan Bank Himbara yang menaungi layanan Anjungan Tunai Mandiri ATM Link. Dengan kemiripan nama brand yang dimiliki keduanya, pengguna layanan LinkAja bahkan bisa menarik uang tunai ke mesin ATM Link yang tersebar di berbagai pelosok daerah.

read also

Bidik potensi inklusi keuangan yang lebih massal

Danu mengatakan, rata-rata adopsi penggunaan dompet digital di Indonesia sudah sangat terkonsentrasi di Jabodetabek. Salah satu layanan dompet digital yang namanya tidak disebutkan bahkan adopsi penggunaanya di kawasan Jabodetabek bisa mencapai angka 70 persen.

Temuan inilah yang mendorong pihak LinkAja untuk mencari ceruk adopsi pengguna dompet lain yang lebih luas dengan tidak terkonsentrasi penuh di kawasan perkotaan tier satu seperti Jakarta dan sekitarnya.

Meskipun baru mulai meluncur ke publik pada Juli 2019, pihak LinkAja sudah menargetkan jumlah pengguna sebesar 40 juta orang. Pada bulan Oktober 2019, jumlah pengguna terdaftar di LinkAja diklaim telah menyentuh angka 33 juta orang.

Menurut Danu, target angka demikian besar tadi di satu sisi juga terbantu lewat akses LinkAja di ponsel konvesional melalui layanan USSD bagi pengguna operator Telkomsel. Target adopsi jumlah pengguna awal LinkAja yang demikian besar tadi, menurut Danu selaras dengan misi inklusi keuangan digital yang juga cukup sering digaungkan oleh pemain dompet elektronik lainnya di Indonesia.

Meskipun garis besar inklusi keuangan dompet digital ini kurang lebih sama, namun Danu mengungkapkan bahwa gol akhir dari segmen pasar yang hendak dicapai LinkAja akan lebih masif, semua ini karena peluang konsumen layanan BUMN lain yang akan dipayungi oleh dompet elektronik tersebut.

Untuk persiapan di tahun 2020 mendatang, Danu menambahkan ke depannya ekosistem pengadopsi LinkAja juga akan semakin luas seiring dengan proses masuknya tujuh entitas shareholder baru dari kalangan BUMN seperti AngkasaPura, Taspen, dan lain-lain.

 

Sumber : Techinasia

Konsumsi Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Investasi Startup Asia

Investment-Landscape-in-Asia-TIA-Conference-Featured

Jumlah kelas menengah yang terus mengalami peningkatan menjadi penggerak utama investasi startup di Asia. Gejala tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Vietnam.

Data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan, populasi dunia akan tumbuh hingga 8,2 miliar jiwa pada 2030 nanti, di mana Cina dan India akan menjadi rumah bagi sekitar 66 persen kelas menengah global.

Beberapa ahli memproyeksikan, negara-negara di Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan kelas menengah hingga lebih dari 500 persen hingga 2030, jauh melampaui pertumbuhan kelas menengah di Eropa dan Amerika yang masing-masing hanya 2 dan 5 persen.

Pada 2011, jumlah kelas menengah di Asia telah mencakup seluruh populasi penduduk di Eropa. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,5 miliar kelas menengah di Asia yang menginginkan standar lebih tinggi pada kebutuhan hidupnya, seperti untuk makanan, pariwisata, pendidikan, kesehatan, barang mewah, hingga properti.

Perspektif dari tiga partner perusahaan modal ventura

Kuo-Yi Lim selaku Managing Partner Monk’s Hill Ventures menyatakan populasi kelas menengah menjadi kekuatan ekonomi tersendiri di Asia Tenggara. Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya model bisnis yang bagus bagi startup untuk dapat bertahan di tengah persaingan. Menurutnya, salah satu tanda sebuah startup memiliki model bisnis yang baik adalah menawarkan produk atau layanan yang menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat.

“Indonesia adalah salah satu contoh sukses investasi yang berkembang. Saat ini juga ada peningkatan energi dan aktivitas wirausaha di Vietnam.  Di luar dua negara itu, pasar Asia Tenggara sebenarnya tak terlalu besar,” ujar Lim.

Monk Hill’s Ventures adalah perusahaan modal ventura yang berinvestasi di tahap awal, khususnya post-seed pada startup teknologi di Asia Tenggara. Sejumlah startup yang ada di portfolionya antara lain CekAjaGlintsKulinaWaresix, dan masih banyak lainnya.

read also

Founding Partner Golden Gate Ventures Vinnie Lauria menyatakan, pertambahan populasi kelas menengah mengakibatkan peningkatan konsumsi per kapita. Ia menilai Peningkatan daya beli menjadi salah satu momentum baik bagi startup untuk memasarkan usaha masing-masing.

“Selama lima hingga enam tahun terakhir, negara di Asia juga mengalami perkembangan internet yang cukup pesat. E-commerce mengambil peran yang cukup besar di kawasan ini, tetapi baru menjangkau tiga persen dari total transaksi retail,” ungkap Lauria. “Masih banyak potensi yang bisa kembangkan.”

Lauria menambahkan, biasanya sebuah startup membutuhkan waktu setidaknya 8-10 tahun untuk mencapai kesuksesan. Lokalisasi juga memainkan peranan penting bagi perusahaan teknologi dalam memasarkan produk masing-masing.

Ia menilai penawaran saham ke publik (IPO) belum jadi strategi exit yang populer di antara para pendiri perusahaan teknologi di Asia, khususnya Asia Tenggara. Meski demikian, aksi korporasi seperti akuisisi startup lain yang lebih kecil untuk bergabung ke dalam ekosistem berjalan cukup agresif. Lauria menyebut Gojek sebagai salah satu perusahaan yang aktif mencaplok perusahaan lain untuk meningkatkan valuasi bisnisnya.

East Ventures Founder

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menyatakan iklim investasi startup di Indonesia saat ini cukup stabil. Selain memiliki kelas menengah yang cukup besar dan cenderung mudah untuk diakusisi, dukungan besar dari pemerintah terhadap ekonomi digital juga memainkan peran tersendiri.

“Valuasi startup terus meningkat. Hal ini berarti adanya pasokan yang lebih banyak dari permintaan sehingga valuasi meningkat. Pada akhirnya kami tidak hanya berinvestasi, tetapi juga memantau peningkatan valuasi startup,” ungkapnya.

Cuaca menambahkan, pada 2017 lalu analisis internal perusahaannya menunjukkan sebanyak 70 persen pendanaan Seri A bagi startup di Indonesia mengalir dari East Ventures. Membaca data tersebut, pihaknya lalu membentuk dana kelolaan baru bernama EV Growth yang merupakan prusahaan patungan antara East Ventures, SMDV, dan YJ Capital Inc untuk merespons kebutuhan pendanaan di tingkat pertumbuhan, dengan putaran pendanaan pertama senilai Rp2,9 triliun.

Jumlah kesepakatan meningkat, tapi nominal turun

Capital Invested in SEA | Chart

Laporan bertajuk Southeast Asia Tech Investment H1-2019 yang dipublikasikan Cento Ventures menyatakan tren pendanaan perusahaan rintisan, baik di regional Asia Tenggara maupun Indonesia, pada paruh pertama tahun ini sama-sama mengalami penurunan dari tahun lalu.

Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar (sekitar Rp85 triliun) sepanjang paruh pertama 2019, menurun 27 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar (Rp117 triliun). Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta (Rp9,6 triliun), anjlok dari semester pertama tahun lalu yang mencapai US$4 miliar (Rp56 triliun).

Dalam laporannya, Cento Ventures menyebut Indonesia dan Singapura masih menyerap mayoritas investasi perusahaan rintisan yang ada di Asia Tenggara, diikuti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina yang mengalami peningkatan.

 

Sumber Techinasia