Enam Perangkap Bisnis Di Era Disruptif

5_stages_tech_Disruption-1-1024x640

Bagaimana caranya bertahan di zaman “now” yang begitu dinamis? Sustaining innovation (inovasi berkelanjutan) tak lagi efektif! Untuk bertahan kini yang dibutuhkan adalah disruptive innovation. Apakah itu?

Disruptive innovation ialah inovasi yang tidak sekadar mengubah bentuk, ukuran, dan desain, melainkan inovasi menyeluruh yang mengubah metode, cara kerja, bahkan produk yang tidak lagi relevan. Orang-orang lama yang sudah nyaman dengan masa lalu pasti akan kaget dengan perubahan ini. Karenanya, dibutuhkan para eksekutif yang mampu melakukan self disruption.

Dalam buku berjudul ” Tomorrow is Today” Professor Rhenal Kasali menjelaskan terdapat 6 jebakan utama yang bisa membuat sebuah perusahaan gagal di era disrupsi, ke enam jebakan tersebut yakni :

Pertamasuccess trap atau complacency trap. Ini perangkap paling berbahaya! Perusahaan tidak mampu menangkap sinyal-sinyal perubahan yang terjadi di pasar menjadi terlena dengan pencapaian tinggi yang dihasilkan sehingga merasa bahwa ia akan selalu menjadi juara dengan cara dan pengelolaan manajemen perusahaan yang sama.

Kita diingatkan: sukses adalah perangkap. Kenyamanan juga perangkap. Merasa (paling) hebat, juga perangkap. Sebagai contoh sukses trap ini adalah jatuhnya perusahaan ponsel merk “Nokia”. Seperti yang telah diketahui jika Nokia pernah dan sempat menjadi raja untuk produsen ponsel terbaik selama 14 tahun dengan berbagai terobosan mulai dari ponsel yang tahan banting, tahan lama dan desainnya selalu unik. Salah satu faktor penyebabnya yakni para pemimpin Nokia menilai bahwa Nokia telah berkuasa selama 14 tahun sehingga tak mungkin ada pihak yang menyainginya.

Keduacompetency trap. Perangkap ini hinggap pada perusahaan-perusahaan yang merasa memiliki core competency unggul. Banyak pengusaha yang menganggap dirinya sudah cukup berkopenten. Padahal, zaman selalu berubah dan berkembang. Di luar sana, kompetitor pun terus meningkatkan kompetensi. Jika anda nggak mau belajar hal baru, Anda bisa terjebak dengan kemampuan sendiri.

Seorang futurolog bernama Alvin Toffler menuliskan “The illiterate of the 21st Century will not be those who cannot read or write, but those who cannot learn, unlearn and relearn.“ Sehebat apapun anda, dunia akan terus berubah, dan apabila anda sudah berhenti belajar, dan merasa telah pandai, maka perasaan pandai tersebut akan menjadi alasan bagi anda untuk tidak mempelajari hal-hal baru. Dari titik ini lah maka pelan tapi pasti anda akan disalip oleh para pesaing anda.

Ketigasunk-cost trap. Ini merupakan jebakan dari biaya yang telah dikeluarkan. Oleh para pengambil keputusan yang buruk, perusahaan diputuskan tetap melanjutkan bisnis yang sama meski jelas merugi. Padahal juga, ketelanjuran mengeluarkan biaya atau investasi ini akan menciptakan pengeluaran-pengeluaran (biaya) yang tidak perlu ketika manajemen memutuskan untuk tidak menghentikannya. Kerugian yang makin besar menjadi keniscayaan. Sebagai contohnya adalah seorang pengusaha indekos yang ingin meningkatkan omset. Dia menambah jumlah kamar dengan mengeluarkan biaya yang nggak sedikit. Setelah pembangunan selesai, ternyata ada kesalahan dalam struktur fisik bangunan yang cukup membahayakan sehingga nggak ada peyewa yang tertarik. Bangunan tersebut pun dibiarkan saja tanpa renovasi, karena merasa belum balik modal atas biaya renovasi yang telah ia keluarkan.

Keempatblame trap. Dalam jebakan ini, perusahaan cenderung mencari siapa yang bisa disalahkan (“pesakitan”), dan bukannya membereskan masalahnya dan mengevaluasi diri. Dan yang salah itu, pasti di luar dirinya sendiri. Salah satu contoh adalah perusahaan taksi konvensional yang menuding taksi online sebagai penyebab kemunduran bisnisnya. Mereka lantas berdemo, mencegat taksi-taksi online, bahkan menyuruh penumpangnya untuk turun.

Kelimacannibalization trap. Ini jebakan “serba salah”. Sebuah perusahaan berinovasi dengan menciptakan produk baru, tapi produk barunya secara sarkas menggerus pasar produk existing milik sendiri yang ia ciptakan sebelumnya.

Mari belajar dari kisah kejatuhan Kodak. Di era fotografi film, Kodak mampu memonopoli perdagangan film kamera sebelum akhirnya tergerus oleh sistem digital. Steven Sasson, pria berusia 24 tahun bekerja di Eastman Kodak pada 1973. Dua tahun bekerja di bawah naungan Kodak ia kemudian menemukan cara kerja kamera yang lebih canggih yakni menggunakan sistem digital. Ia melakukan demonstrasi di hadapan para eksekutif perusahaan dengan memperlihatkan cara kerja dari kamera buatannya. Sayangnya Kodak tak tertarik dengan penemuan tersebut, dengan kamera digital tersebut Kodak khawatir bakal mengganggu bisnis kamera konvensionalnya.

Seiring dengan lajunya perkembangan teknologi kamera digital, orang-orang mulai beralih ke sistem yang lebih modern dan meninggalkan sistem kamera film. Kodak kemudian mengalami kebangkrutan pada 2012 lalu. Dan amatis ekitar anda, apakah masih banyak produk dari merk “Kodak” yang digunakan masyarakat ?

Keenamconfirmation trap. Sebuah upaya meminta konfirmasi pihak lain untuk membenarkan sikap atau pilihan bisnisnya. Namun, alih-alih untuk benar-benar menguji kualitas konsep atau produknya, yang terjadi malah lebih karena kurang percaya diri atas keputusan yang diambil. Pihak lain dikonfirmasi untuk memberi “stempel pembenaran” atas kejadian negatif yang menjadi konsekuensinya; omzet yang turun, pabrik yang salah urus, business process yang keliru dan lain-lain.

Sumber : Buku berjudul ” Tomorrow is Today” karya Prof. Rhenald Kasali, ditambah dari beberapa sumber lain.

Dampak Covid : Tren Belanja Konsumen di E-Commerce Selama Ramadhan Berubah.

E-Commerce

Perusahaan e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee memperkirakan, tren berbelanja saat Ramadan tahun ini berubah efek pandemi corona. Jika biasanya pakaian diminati, kini ada empat produk yang penjualannya diprediksi meningkat selama bulan puasa.Keempat kategori produk tersebut yakni terkait kesehatan, keperluan rumah tangga, hobi, serta makanan dan minuman.

Penjualan produk-produk ini bahkan sudah meningkat sebelum Ramadan. “Meningkatnya signifikan,” kata VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak kepada Katadata.co.id, Kamis (16/4).

Khusus produk kesehatan dan perawatan diri, peningkatannya hampir tiga kali lipat sepanjang bulan lalu. Kendati begitu, salah satu unicorn Tanah Air itu mendorong mitra penjual di semua kategori produk untuk menciptakan peluang di tengah pandemi virus corona. “Agar roda perekonomian tetap bergerak,” ujar dia.

Perusahaan juga menghadirkan fitur Al Qur’an digital yang terintegrasi dengan ekosistem Tokopedia Salam. Sejak diluncurkan bulan lalu, jumlah kunjungan pada fitur anyar ini meningkat lebih dari dua kali lipat. Perubahan tren transaksi juga dirasakan oleh Bukalapak. “Kami melihat kenaikan pada produk makanan dan bahan pokok, alat perlengkapan kantor dan pendukung bekerja dari rumah, serta hobi dan koleksi,” ujar Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono.

Peningkatan penjualan untuk kategori produk tersebut lebih dari 10%. Pencarian seputar hobi, gim, produk dan alat pendukung bekerja dari rumah, serta keperluan rumah tangga juga melonjak. Hal serupa dialami di platform Shopee. Public Relations Shopee Aditya Maulana Noverdi mengatakan, biasanya produk yang paling diminati saat Ramadan hingga Lebaran yakni busana muslim, fashion wanita, dan kecantikan. Tahun ini, trennya diprediksi berubah menjadi bahan pokok, sabun cuci tangan, dan peralatann medis seperti masker dan sarung tangan.

Riset yang dilakukan oleh iPrice juga menunjukkan perubahan tren minat belanja. iPrice membandingkan pola belanja online pada Februari dan Maret, dengan memanfaatkan data impression dari Google. Metodologi yang digunakan yakni dengan melacak minat belanja online warga Indonesia terhadap sejumlah produk selama masa pandemi. Hasilnya, tren minat pembelian produk kesehatan seperti hand sanitizer melonjak 5.585%. Lalu, minat belanja webcam meningkat 1.572%. Produk hobi seperti gim dan sepeda juga diminati. Lalu, produk makanan dan minuman, dengan minat belanja mie instan Indomie Goreng meningkat 159%. 

Sumber : https://katadata.co.id/berita/2020/04/17/efek-corona-tren-belanja-produk-di-e-commerce-berubah-saat-ramadan

Riset Nielsen : Perubahan perilaku konsumen Indonesia saat pandemi corona, apa saja ?

SURVIVAL3

Penyebaran virus corona (Covid-19) bukan hanya berdampak pada dunia usaha. Pandemi virus ini juga mengubah perilaku masyarakat (konsumen) tanah air.

Dalam studi yang dirilis Rabu (8/4), Nielsen mengatakan sejak diberlakukannya imbauan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19, sekitar 30% konsumen merencanakan untuk lebih sering berbelanja secara daring (online).

Kebijakan ini juga mempengaruhi kepemirsaan televisi yang mencatat peningkatan rating dari 2,6% pada 8 Maret 2020 menjadi 13,6% pada 15 Maret. Peningkatan rating tertinggi terjadi pada segmen pemirsa berusia lebih muda yaitu 5-9 tahun yang meningkat 23 % dan segmen pemirsa usia 15-19 tahun yang meningkat 22%.

Dari sisi konsumsi, sebanyak 49% konsumen menjadi lebih sering memasak di rumah. Tak pelak hal ini mendorong kenaikan pertumbuhan penjualan bahan pokok seperti telur yang naik 26%, daging yang mengalami kenaikan penjualan 19%, permintaan daging unggas naik 25%, serta penjualan buah dan sayur yang meningkat 8%.

Kategori produk seperti bumbu masak dan farmasi menunjukkan pertumbuhan penjualan tertinggi di segmen ritel masing-masing 44% dan 48%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan kategori produk lainnya.

Nielsen juga mengungkapkan, akibat Covid-19 masyarakat Indonesia jadi lebih cenderung berbelanja di pasar modern. “Secara nasional, konsumen kelas atas menjadi lebih banyak berbelanja di hypermarket/supermarket. Sementara tren di wilayah Jakarta dan sekitarnya berbeda, dimana tidak hanya dari kelas atas, tapi konsumen dari kelas menengah dan bawah juga lebih banyak berbelanja di hypermarket/supermarket,” tulis Nielsen, Rabu (8/4).

Akibat penyebaran virus corona, masyarakat Indonesia juga menjadi lebih perhatian terhadap kesehatan dan kebersihan. Sebanyak 44% konsumen mengaku menjadi lebih sering mengkonsumsi produk kesehatan dan 37% lebih sering mengkonsumsi minuman bervitamin. Para pelaku industri vitamin dan obat-obatan menangkap peluang ini dengan menambah anggaran beriklan di televisi.

Belanja iklan vitamin meningkat 14% menjadi lebih dari Rp 90 miliar, sementara belanja iklan obat batuk meningkat 22% menjadi lebih dari Rp 30 miliar.

“Bagi para peritel, situasi saat dapat menciptakan peluang untuk tetap menjalankan bisnis mereka dan pada saat yang sama membantu konsumen mencukupi kebutuhan selama tinggal di rumah,”

Studi Nielsen juga mengatakan bahwa 80% konsumen Indonesia mengakses informasi seputar Covid-19 lewat media sosial, disusul berita televisi (77%), dan mesin pencari online (56%). Ketiga medium ini adalah sumber informasi yang paling banyak diakses oleh konsumen untuk mengetahui perkembangan Covid-19.

 

Sumber : https://nasional.kontan.co.id/news/ini-perubahan-perilaku-konsumen-indonesia-saat-pandemi-corona

SURVIVAL INNOVATION : MEMBALIK KRISIS COVID-19 MENJADI PELUANG

Survival Idea

Banyak orang mengutuk krisis COVID-19 sebagai bencana dahsyat yang menghancurkan bisnis dan ekonomi. Namun sebagian kecil entrepreneur justru melihat peluang luar biasa di balik keganasan COVID-19.

Berikut ini adalah inspirasi survival innovation yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk bisa bertahan hidup bahkan menyalip pesaing di tengah krisis :

#1. “Kopi Seliter” @ Home

Di saat semua orang di rumah, konsumsi produk kuliner rumahan family-size package meningkat. Hal ini dimanfaatkan oleh pemilik coffee shop untuk membuat produk yang bisa dinikmati di rumah bersama keluarga. Pemain lokai seperti Kopi TukuKopi Toko Djawa dan Bahagia Kopi mengeluarkan varian “Kopi Seliter” untuk segmen konsumen yang ingin menikmati kopi di rumah. 

#2. Travelogistics

Perusahaan travel terpuruk dengan pemberlakuan PSBB. Maka perusahaan seperti CititransDaytrans dan Big Bird harus melakukan survival innovation agar tidak gulung tikar dengan beralih fungsi dari mengantar penumpang ke mengantarkan barang.  Layanan kirim paket, same-day delivery, dan jemput paket menjadi unggulan saat ini. Istilah Travelogistic menjadi strategi utama mereka menciptakan revenue stream di tengah amukan wabah.

#3. On-Demand Cleaning Services

Selama wabah permintaan terhadap produk/layanan kesehatan meningkat pesat. Ini merupakan peluang bagi sektor perhotelan dengan melakukan utilisasi aset yang mereka miliki yaitu kompetensi di bidang housekeeping khususnya cleaning services. Maka Hotel Teraskita (by Dafam) dan Hotel Ambhara meluncurkan layanan “on-demand cleaning service” dengan label kebersihan prima “berkelas hotel” ke rumah-rumah. 

#4. Homeleisure Wear

Pembelian produk fesyen kian turun kala masyarakat tidak keluar rumah. Tapi brand fesyen tak kehilangan akal. Mereka mendorong tren “homeleisure wear” walaupun di rumah tapi pakaian tetap fashionable karena bisa dipamerkan via Instagram. Brand global H&M misalnya, membesut campaign #AtHomeWithHM mempromosikan produk fesyen pajama & loose style. Ketika hashtag #OnePajamaForTheWholeCNY booming viral saat tahun baru Cina, Dodococo brand fesyen, menggelar campaign #WorkFromHome dan #PajamaChallenge. 

#5. “Untouchable” Product

Penyebaran virus corona yang cepat membuat semua orang menjadi was-was untuk bersentuhan dengan apapun. Contactless lifestyle akan menjadi new normal. Maka TOTO mengeluarkan produk sanitary yang memungkinkan penggunanya tidak perlu memegang atau menekan tombol apapun ketika menggunakannya. Ditambah dengan fitur ultraviolet yang membuat penggunanya lebih aman terhindar dari bakteri. Inovasi ini merupakan respon terhadap perubahan perilaku konsumen saat wabah merebak. 

#6. “Coronassurance” for Fear Customers

Walaupun daya beli menurun, namun saat ini asuransi kesehatan merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan oleh konsumen. Untuk memproteksi konsumen dari COVID-19, AstraLife mengeluarkan produk asuransi yang memproteksi nasabahnya dari penyakit ancaman COVID-19. Ditambah dengan fitur online yang memungkinkan nasabah membeli asuransi tanpa ke luar rumah, survival innovation ini menjadi penyelemat perusahaan asuransi. 

#7. Frozen Food Is the New Normal

Permintaan produk frozen food semakin meningkat di kala mereka tak bisa berpergian ke luar rumah. Apalagi emak-emak milenial memang tidak piawai memasak, sehingga mereka memasak yang mudah-mudah (simple cooking). Kondisi ini dimanfaatkan Es teler 77 dan Hokben untuk mengeluarkan varian produk frozen dan “ready to eat” untuk mengantisipasi pelanggan dine-in yang terus merosot. 

#8. WFH = “Work from Hotel”

Staycation akan menjadi new normal pasca COVID-19. Karena itu hotel seperti The Trans di Bandung menawarkan paket staycation dengan konsep “Pay Now, Save More“, bayar sekarang untuk menginap 3 bulan ke depan setelah COVID-19 lewat, dengan diskon yang sangat menarik. Begitu juga hotel-hotel di Bali menawarkan paket “Work from Hotel” dengan bargain price yang tak bisa ditolak konsumen. Sementara aplikasi penyewaan properti Travlio menawarkan “Work from Apartement“.

#9. Beauty On-Demand

Ketika konsumen harus tinggal di rumah dan tak bisa mengunjungi klinik kecantikan untuk mendapatkan treatment, maka beberapa klinik kecantikan melakukan strategi jemput bola menyambangi pelanggan. Salah satunya adalah ERHA yang meluncurkan beberapa layanan mulai dari drive-thru treatment dimana konsumen bisa melakukan suntik vitamin C di mobil, virtual consultation, hingga membeli produk mereka secara online dan dikirim ke rumah.

#10. Resto Experience @ Home

Sektor resto & kafe paling terdampak oleh COVID-19 karena tidak ada konsumen yang dine-in. Karena itu mereka melakukan survival innovation menghadirkan “resto experience” di rumah konsumen. MagalRaa Cha dan Shabu Jin menghadirkan layanan home delivery “BBQ at home”. Mulai dari bahan makanan, condiment, sampai alat masak dan piringnya semua disediakan dan dikirim ke rumah.

#11. Contactless Service

StarbucksMcDonalds dan Gojek meluncurkan layanan contactless services dimana konsumen bisa memesan makanan/minuman tanpa harus banyak melakukan kontak fisik. Mulai dari proses pembayaran cashless, pesanan di pesan dahulu via apps/call, hingga pengantaran bebas kontak di lobi menjadi fitur yang saat ini berguna untuk menjamin konsumen agar tak terpapar virus.

#12. Virtual Music Concert

Pasca wabah COVID-19, mungkin sudah tidak ada lagi konser musik massal di stadion dengan ribuan pengunjung, digantikan oleh virtual music concert. Merespon tren ini, platform digital vidio.com dan Resso berkolaborasi menggelar virtual concert menampilkan Raisa, Ran, dan musisi lokal lainnya. Minggu lalu Global Citizen menggalang dana dengan virtual music concert bertajuk “One World: Together at Home” menampilkan musisi top dunia mulai dari Rolling Stones hingga Billy Eilish.

#13. Virtual Sport

COVID-19 rupanya mendisrupsi aktivitas olahraga. Aktivitas gym dan workout kini tak lagi bisa dilakukan karena masyarakat menghindari kerumunan dan aktivitas bersama-sama. Maka aktivitas olahraga secara virtual pun menjadi pilihan alternatif. Aplikasi Doogether menyediakan banyak pilihan kelas dan sesi olahraga dengan mengandalkan fitur video virtual dimana aktivitas olahraga dilakukan bersama-sama secara online. 

#14. Facebook “Go Gaming”

Ketika orang bosan terus-terusan di rumah, maka mobile gaming langsung booming. Facebook menangkap peluang ini dengan meluncurkan bisnis online gaming-nya. Facebook Gaming merupakan aplikasi besutan Facebook yang diluncurkan April 2020 dimana pengguna bisa bermain berbagai mobile game dengan streaming langsung di aplikasi tersebut. Tak terhindarkan, aplikasi ini akan menjadi pesaing ketat bagi raksasa games seperti XBox, Nintendo, dll.

#15. Mall Turns to Hospital

Lippo menyulap Mal Lippo Plaza Mampang menjadi rumah sakit COVID-19 di tengah mal berubah menjadi “rumah hantu” tanpa pengunjung. Sementara bisnis rumah sakit sedang boom karena melonjaknya pasien terjangkit COVID-19. Pivot dari mal ke rumah sakit membutuhkan agilityBlessing in disguise, rupanya COVID-19 “melahirkan” banyak agile company di tanah air. 

 

Sumber ; yuswohady.com

Riset Nielsen : COVID-19 DAN DAMPAKNYA PADA TREN KONSUMSI MEDIA

Mass Media Isometric Concept

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam hal mengkonsumsi media. Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama COVID-19 pada 2 Maret 2020, belum terlihat perubahan yang signifikan pada pola konsumsi media. Namun semakin intensnya pemberitaan membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait COVID-19 melalui berbagai media, tak terkecuali televisi. Hasil pantauan Nielsen Television Audience Measurement (TAM) di 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam  seminggu terakhir, dari rata-rata rating 12 persen di tanggal 11 Maret menjadi 13,8 persen di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV.

Durasi menonton TV pun mengalami lonjakan lebih dari 40 menit, dari rata-rata 4 jam 48 menit di tanggal 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit di tanggal 18 Maret. Penonton dari Kelas Atas (Upper Class) menunjukkan kecenderungan lebih lama menonton televisi sejak 14 Maret dan jumlahnya juga terus meningkat. Peningkatan ini terlihat dari rata-rata rating 11.2 persen di tanggal 11 Maret menjadi 13.7 persen di tanggal 18 Maret.

Maraknya pemberitaan di sejumlah stasiun televisi terkait COVID-19 di sepanjang periode 1-18 Maret berkontribusi kepada kenaikan kepemirsaan program berita. Kepemirsaan televisi terhadap Program Berita naik signifikan (+25%), terutama pada  penonton Kelas Atas. Kenaikan juga terlihat pada Program Anak-anak dan Series.

Kebijakan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang diterapkan sejak pertengahan Maret juga mempengaruhi kepemirsaan televisi. Segmen pemirsa Anak (usia 5-9 tahun) meningkat signifikan, dari rata-rata rating 12 persen menjadi 15.8 persen di tanggal 18 Maret. Bahkan di Jakarta kepemirsaan di segmen ini mencapai rating tertinggi yaitu 16,2 persen.

Pandemi COVID-19 juga telah menyebabkan isu kesehatan dan kebersihan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Laporan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) memperlihatkan bahwa  sepanjang bulan Maret, frekuensi iklan di televisi meningkat secara signifikan untuk beberapa produk yaitu produk pencegah penyakit seperti vitamin dan suplemen, dan penyembuh penyakit seperti obat batuk.

“Sejalan dengan meningkatnya kasus COVID-19, isu kesehatan menjadi perhatian bagi masyarakat. Ini mendorong para pelaku industri khususnya terkait vitamin dan obat-obatan menangkap peluang untuk meningkatkan penjualan  produk mereka, dengan cara menambah spot dan anggaran beriklan baik di media elektronik seperti televisi maupun media digital.” kata Hellen Katherina, Executive Director Media Nielsen (Indonesia).

Di awal Maret kategori Vitamin menayangkan 300 spot iklan perhari, sementara di tanggal 18 Maret iklan kategori produk ini tayang 601 spot perhari dengan total belanja iklan mencapai Rp15.3 Miliar per hari. Hal yang serupa juga terjadi pada kategori Obat Batuk, yang menayangkan kurang dari 50 spot iklan di awal Maret dan meningkat menjadi 180 spot pada 18 Maret dengan total belanja iklan Rp5.6 Miliar per hari.

Selain di televisi, kategori produk Vitamin dan Suplemen juga meningkatkan belanja iklannya di media digital. Berdasarkan pantauan Nielsen di Top 200 situs lokal, kedua kategori produk tersebut menggelontorkan total belanja iklan lebih dari Rp20 Miliar pada minggu kedua bulan Maret, naik signifikan yang hanya Rp6 Miliar di minggu kedua bulan Februari.

 

Sumber : https://www.nielsen.com/id/id/press-releases/2020/covid-19-dan-dampaknya-pada-tren-konsumsi-media/