Good To Great, Good Is The Enemy of Great

good1

Jim Colins adalah adalah salah satu pakar strategi menejemen dunia, beliau adalah mentor sekaligus peneliti di Stanford Graduate School of Bussiness Amerika Serikat. Kali ini saya akan mengulas salah satu bukunya yang laris dan sering kali dijadikan rujukan pelatihan menejemen mengah di beberapa perusahaan, buku ini tidak hanya bagus untuk perusahaan namun juga untuk perkembangan diri agar terus bisa berkembang.

 

Selamat Membaca Kawanpendi,

 

Good to Great karya Jim Collins bukan sekadar buku yang berbicara tentang kemajuan dalam organisasi, namun tentang bagaimana bertumbuh menjadi luar biasa. Sejak di bagian awal buku, Jim Collins menekankan bahwa “good is the enemy of great”. Kata-kata ini akan terus diulang di dalam buku, sehingga pembaca akan terdorong untuk “melepaskan” diri dari bayang-bayang pencapaian yang sudah diraih organisasinya untuk fokus agar terus bertumbuh menjadi luar biasa.

 

Prinsip-prinsip dalam Good to Great adalah sari pati dari riset yang dilakukan secara menyeluruh dan dalam waktu lama. Jim menganalisis perusahaan-perusahaan yang harga sahamnya naik minimal 3 kali lipat lebih banyak dari kenaikan rata-rata nilai saham keseluruhan dalam rentang waktu 15 tahun.

 

Jim juga memisahkan kondisi keseluruhan dari industri dan perusahaan yang diteliti agar bisa membedakan mana yang didorong oleh kemajuan di industri, dan mana yang benar-benar bertumbuh tanpa terpengaruh kondisi industrinya. Ia kemudian menganalisis berbagai faktor dalam perusahaan, mulai dari teknologi, sistem renumerasi, gaya kepemimpinan, strategi merger dan akuisisi perusahaan, serta berbagai variabel lainnya untuk melihat apa yang membuat sebuah perusahaan bisa berubah dari sekadar baik menjadi luar biasa.

 

Hasilnya, Jim Collins menemukan bahwa ada beberapa prinsip yang dapat dilakukan untuk mendorong terciptanya sebuah “flywheel”. Flywheel adalah istilah untuk tindakan yang saling terkait satu sama lain, yang pada akhirnya mendorong momentum perubahan sebuah organisasi menjadi luar biasa.

 

Menurutnya ada 6  hal yang harus diperhatikan jika organisasi anda ingin GREAT, yakni:
1.  “Level 5 leadership .  Hal utama yang membedakan adalah, bahwa para pemimpin level 5 ini mempunyai karakter yang paradoks dalam hal kesederhanaan sebagai individu dan ambisi sebagai seorang professional. Pemimpin level 5 adalah orang yang rendah hati, tidak menonjolkan diri, dan banyak memberikan kredit atas kontribusi pihak lain. Namun di saat yang sama, dia juga mempunyai determinasi, kapasitas, dan ambisi yang kuat sebagai seorang professional.

Apabila diterjemahkan dalam self development poin ini lebih menggambarkan untuk mencadi seorang yang sukses disamping memiliki kecerdasan intelegent (IQ) namun harus memiliki kecerdasan emosional yang baik (Emotional Quotient).

Pada level 1 seperti, komponen kecerdasan emosional yang diperlukan adalah self-awarenessself-regulation, dan motivation. Untuk memberikan kontribusi yang produktif, seorang individu perlu aware dengan kapabilitasnya terlebih dahulu. Menghasilkan sesuatu yang berkualitas hampir selalu menuntut seseorang untuk memakai semua potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin. Namun, tanpa self-awareness, seseorang tidak bisa mengetahui bahwa ia memiliki potensi itu. Maka dengan sendirinya iapun tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Demikian pula tanpa self-regulation yang baik, orang yang bersangkutan akan kesulitan untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas karena ia terpenjara oleh dorongan psikologis dan biologis dalam dirinya dan tidak mampu mengendalikan diri. Apabila ia tidak mampu mengendalikan diri, ia akan sulit mengatasi tekanan, dan cenderung melenceng dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Yang terakhir adalah motivasi. Tanpa motivasi yang kuat seorang individu tidak bisa untuk tetap persisten hingga mencapai apa yang telah ia tetapkan. Mundur di tengah jalan akan menjadi suatu pilihan. Dengan demikian tiga komponen kecerdasan emosional terkait pengelolaan diri ini diperlukan pada level 1.

Pada level 2, seorang individu sudah mulai terlibat dalam tim. Di sini dua komponen kecerdasan emosional lainnya, empathy dan social skill, dibutuhkan. Salah satu hal yang dituntut pada level ini adalah kemampuan individu tersebut untuk bekerja secara efektif dengan anggota lain dalam timnya. Tentu ini berbicara mengenai social skill, dan social skillmerupakan kulminasi dari keempat komponen kecerdasan emosional yang lain. Seseorang sudah harus menjadi seorang ahli dalam keempat komponen kecerdasan emosional yang lain.

Pada level 3, seorang individu telah menjadi manajer. Tugasnya disini adalah mengorganisasikan orang-orang yang dipimpinnya dan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Dua komponen kecerdasan emosional terkait pengelolaan hubungan dengan orang lain, yakniempathy dan social skill, menjadi sangat dibutuhkan disini. Selain itu, motivation juga menjadi salah satu komponen yang penting disini karena sebagai seorang manajer, individu bersangkutan perlu mengorkestrasi semua sumber daya yang dimiliki demi pencapaian tujuan organisasi. Tanpa motivasi yang kuat, didukung oleh social skill, jelas upaya individu tersebut akan sia-sia.

Pada level 4, seorang individu menjadi seorang pemimpin yang efektif. Individu tersebut telah menjadi master dalam social skill. Ia membuat orang lain yang dipimpinnya berkomitmen terhadap organisasi dan dengan riang mau mengikutinya dalam upaya meraih visi yang ditetapkan. Ia telah menjadi seorang yang kharismatik, hingga membuat orang lain mau berkomitmen. Membuat seseorang mengikuti anda mungkin masih sedikit lebih gampang ketimbang membuat seseorang berkomitmen kepada anda. Kecerdasan emosional dari orang-orang yang mampu membuat orang lain berkomitmen secara sukarela terhadap mereka dan organisasi yang mereka pimpin tentu tidak perlu diragukan lagi.

Pada akhirnya,  ketika individu mencapai level 5, karakter kepemimpinannya dicirikan oleh kemampuan untuk membangun kejayaan yang bertahan lama dengan kombinasi antara keinginan professional dan kerendah-hatian personal. Pada titik ini, seorang pemimpin memiliki humility. Ia memiliki ketangguhan sekaligus kerendah-hatian. Ketika apa yang dilakukannya berhasil, ia menyanjungi kecerdasan emosional orang lain yang bekerja bersamanya, ketimbang mengambil kredit untuk dirinya sendiri. Ada sikapselfless disini, namun selfless yang positif, tidak mengurangi martabatnya sebagai seorang pemimpin tapi malah sebaliknya. Orang-orang yang mampu melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang memiliki kematangan pada semua komponen kecerdasan emosional. Mereka telah selesai membangun diri mereka, dan mereka hanya berkonsentrasi untuk membangun orang lain dan organisasi yang mereka pimpin.

Pada akhirnya, yang jelas, setiap pemimpin level 5 adalah pemimpin yang efektif. Setiap pemimpin yang efektif, seperti yang Goleman utarakan, hampir pasti memiliki kecerdasan emosional. Dengan demikian tanpa kecerdasan emosional seseorang tidak bisa menjadi seorang pemimpin level 5. Bisa dilihat dalam hirarki 5 level bahwa setiap level kepemimpinan, kecerdasan emosional dengan lima komponennya sangat amat diperlukan. Oleh karena itu, tanpa kematangan kecerdasan emosional, kepemimpinan level 5 tidak bisa terwujud.

 

  1. First who, then what“. Perlunya merekrut orang-orang terbaik dalam bidangnya masing-masing. Dengan modal ini, barulah sebuah organisasi memutuskan tujuan apa yang ingin dicapai, sesuai dengan rekomendasi dan kesepakatan tim yang solid ini. Hal ini membuat semua orang dalam organisasi dapat berkontribusi maksimal. Jika organisasi memutuskan kebalikannya (first what, then who), maka organisasi akan bergantung pada 1-2 orang yang “jenius” saja, dan anggota tim yang lain hanya berfokus membantu tanpa berbuat lebih jauh. Seringkali kita menyebutnya dengan The Right Man On the Right Place On The Right Time, tentunya untuk membentuk tim yang hebat kita harus mencari sosok soaok yang tepat, setiap kali kesalahan kita dalam menentukan tim harus kita bayar mahal karena ketidakefektifan yang muncul karena komposisi tim yang salah. Dalam Bukunya Flourence Littaeur memetakan bagaimana cara membentuk tim berdasakan karakternya yang dibagi menjadi karakter sanguin, koleris, melankolis dan plegmatis, terkait dengan ini akan saya ulas lebih lanjut dalm tulisan khusus ya guys. Intinya adalah apabila anda ingin membentuk tim yang sukses maka anda harus mengelilingi diri anda dengan orang orang hebat, dan ini tentunya perlu proses seleksi yang lama, bahkan sedari sekolah anda sudah harus memapping teman-teman yang akan anda jadikan bagian dari tim anda.
  2. “Confront the brutal fact”berarti sebuah organisasi harus mempunyai budaya keterbukaan dalam hal komunikasi. Keterbukaan ini bukan dalam semangat ingin menjatuhkan, namun dalam semangat perbaikan. Pemimpin mendorong keterbukaan dengan lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada jawaban. Sedangkan para staf di level bawah dan menengah mendorong keterbukaan. Di antaranya dengan menganalisis kondisi perusahaan secara jujur, melihat kesalahan secara apa adanya tanpa ditutupi, atau apapun dalam kaitannya dengan keterbukaan untuk menerima fakta secara apa adanya
  3. “Hedgehog concept” adalah analisis organisasi yang didasarkan atas 3 pertanyaan besar: 1) aktivitas apa yang paling menarik bagi organisasi untuk dilakukan?  2) aktivitas apa yang bisa dilakukan organisasi dengan lebih baik dibandingkan pesaing? 3) aktivitas apa yang paling menguntungkan secara ekonomi bagi organisasi? Siapa yang melaksanakan aktifitas ini?

Diangkat dari esai populer filsuf Isaiah Berlin, “The Foxes and The Hedgehogs”, dengan konsep ini Collins hendak menggambarkan temuannya bahwa perusahaan-perusahaan yang bertransformasi dari biasa menjadi hebat adalah perusahaan-perusahaan yang fokus, tidak mengejar banyak hal secara bersamaan, dan memiliki konsep yang jelas dan sederhana yang dipakai menjadi acuan dalam mengambil keputusan-keputusan strategis. Menurut Collins, setiap perusahaan yang berjaya (great companies) tidak mencari keuntungan atau pertumbuhan dengan cara melakukan berbagai macam praktek bisnis yang berbeda untuk berbagai macam carian manfaat. Kejayaan tidak akan pernah berhasil didapatkan dengan cara itu. Justru, perusahaan yang berjaya adalah perusahaan yang menemukan dan memahami satu jalan terbaik, yang kemudian dikonsepkan secara sederhana dalam menjalankan bisnis mereka, dan dipegang secara konsisten

  1.  “A culture of disciplineadalah pentingnya perusahaan mempunyai sebuah sistem kerja yang bisa menjamin budaya kerja tanpa adanya pengawasan, sehingga pertumbuhan bisa terus dialami. Disipline adalah satau satu sifat yang disepakati bersama dalam peretmuan best CEO di Silicon Valley pada awal Tahun 2000-an, apabila pingin detailnya materi sufi corporate ini ada di training ESQ Pak. Ari Ginanjar Guys. Intinya seseorang yang tak memiliki disiplin yang tinggi, dia tak akan pernah meraih kesuksesannya.
  2. “Technology accelerator”adalah pentingnya perusahaan mengaplikasi kemajuan teknologi sebagai alat untuk mempercepat pertumbuhan, bukan sebagai fokus dari pertumbuhan. Segala kemajuan yang bisa mempercepat gerak perusahaan, perlu diadaptasi. Sebaliknya, teknologi yang tidak relevan terhadap pertumbuhan perusahaan tidak perlu diadaptasi. Ini dilakukan agar perusahaan tetap efisien dalam pengeluaran sumber daya uang dan waktu. Kawan pendi semua, kita sudah memasuki era yang disebut dengan “ The World is Already Flat” dimana semua orang di belahan bumi manapun sudah bisa terkoneksi dengan teknologi internet, dalam kondisi sekarang, bukan jamannya lagi orang menggunakan komunikasi sebatas sms, sudah bermunculan media yang lain WA, Line, dsb, bahkan untuk sekedar sharing ilmu seringkali kita menyebutnya dengan kuliah online. Sangat tidak mungkin apabila dijaman ini kita akan memnagkan persaingan apabila kita termasuk dalam kategori orang yang “gaptek”, so tambah terus ya kemampuan di bidang teknologinya.

 

Demikian guys tulisan hari ini, hehe..waktunya kembali bekerja
SUCCESS BEYOND YOURSELF”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s