SALIS APRILIAN: Dari Sense Of Crisis Sampai Filosofi Golf

SALIS APRILIAN: Dari Sense of Crisis Sampai Filosofi Golf

Salis S. Aprilian, Presiden Direktur PT Badak Natural Gas Liquifaction.

Bisnis.com, JAKARTA — Memimpin perusahaan yang tidak mengenal laba dan rugi atau non-profit company tidak menghilangkan kepedulian Salis S. Aprilian, Presiden Direktur PT Badak Natural Gas Liquifaction, terhadap anjloknya harga minyak dunia.

Salis menganggap semua pihak harus memiliki sense of crisis, agar perusahaan yang dipimpinnya dapat terus berkinerja baik. Untuk mengetahui gagasan-gagasannya, Bisnis mewawancarainya belum lama ini.

Berikut petikannya.

Bagaimana awal mula bergabung ke Badak NGL?

Saya bergabung di Badak NGL untuk menggantikan Rachmad Hardadi yang saat ini menjadi Direktur Pengolahan di PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, saya memang banyak di Pertamina dan anak perusahaannya.

Sebelum menjabat sebagai Senior Vice President (SVP) Gas and Power di Direktorat Gas dan Energi Terbarukan Pertamina, saya sempat di Pertamina Hulu Energi.

Kemudian, saya juga sempat memimpin proyek regasifikasi yang mengubah kilang pembuatan LNG di Arun menjadi kilang pengolahan LNG menjadi gas kembali sebelum disalurkan melalui pipa Arun-Belawan.

Latar belakang saya memang banyak di industri hulu migas, mulai dari Pertamina EP, Pertamina EP-Cepu, Pertamina Hulu Energi, dan menjadi SVP Gas and Power di Pertamina, sebelum memimpin proyek regasifikasi, dan akhirnya bergabung di Badak NGL.

Setelah lama bekerja di industri hulu migas, bagaimana perbedaan saat memimpin perusahaan yang bergerak di hilir migas?

Tentu saja perbedaannya ada pada sisi risiko yang dihadapi. Saat di hulu migas, risiko yang kami hadapi adalah risiko bawah tanah yang sama sekali tidak diketahui dan banyak ketidakpastian. Dengan berbagai seismik dan geologis, kami bermain dengan risiko portofolio pada saat mulai mengebor, tidak ada yang tahu apakah berhasil atau tidak.

Perbedaan juga ada pada sisi investasi, di mana industri hulu migas memiliki investasi yang sangat besar. Meski demikian, keuntungan yang didapat juga besar apabila berhasil. Hal itu yang membuat pendapatan Pertamina sekitar 60% sebenarnya dari industri hulu, demikian juga belanjanya yang sebagian besar dihabiskan untuk hulu migas.

Sementara di hilir migas, semuanya kasat mata mulai dari pabrik dan seluruh peralatannya, sehingga ketidakpastiannya sangat minim. Walaupun begitu, keamanan atau safety menjadi hal yang paling utama. Kami sangat peduli dengan safety, karena saat pabrik bermasalah, maka kerugiannya itu sangat besar.

Badak NGL telah puluhan tahun beroperasi, apa tantangan utama Anda saat awal memimpin perusahaan?

Badak NGL memang sudah terkenal sebagai perusahaan pengolahan LNG yang sangat bagus, baik dari sisi safety, reability, dan cost. Tentu tantangan terbesar saya adalah bagaimana mempertahankan itu semua, dan bahkan kalau bisa meningkatkannya.

Di bidang lingkungan, misalnya, Badak NGL selalu mendapatkan Proper Emas. Tentu ini jangan sampai turun, kemudian perusahaan memperoleh Level 8 dalam ISRS8 atau International Sustainablity Rating System Version 8 dari DNV-Norway. ISRS8 ini sudah lima kali kami peroleh, sehingga harus dipertahankan.

Persoalan lingkungan dan safety memang betul-betul harus dijaga dengan penuh konsentrasi dan komitmen, karena saya harus menjaga agar tidak ada kecelakaan kerja. Sudah hampir 78 juta jam kerja kami zero accident. Jadi sudah sejak 2006 tidak ada kecelakaan kerja, dan saya harus pertahankan itu.

Badak NGL sendiri merupakan satu-satunya perusahaan dari industri migas yang memperoleh ISRS8, dan di atas kami adalah perusahaan nuklir yang memang membutuhkan keamanan tingkat tinggi.

Tantangan selanjutnya adalah saya harus menjaga keharmonisan tim dan seluruh karyawan Badak NGL, karena sebagian besar pekerja di sana sudah sangat lama. Bahkan, ada yang sejakfresh graduate hingga pensiun kerja di sana. Hal ini berbeda dengan di sektor hulu yang kerap berpindah-pindah sesuai kebutuhan.

Nama besar Badak NGL juga harus terus dipertahankan, karena saat ini sudah menjadi  center of excelent dari pemrosesan LNG di seluruh dunia. Negara-negara seperti Angola, Norwegia, Mozambik, dan Amerika Serikat belajar pengolahan gas menjadi LNG ke Badak NGL.

Banyaknya shale gas yang ditemukan di Amerika Serikat, membuat negara tersebut berupaya mempelajari bisnis pengolahan, agar dapat mengekspornya ke luar negeri.

Harga minyak dunia terus turun dan hal itu berdampak ke industri hulu migas, Apakah perusahaan juga terkena dampak itu?

Tentu saja. Saya baru saja melakukan kunjungan perdana saya ke plant site sebagai Presiden Direktur Badak NGL pada 2014, dan sesampainya di Jakarta harga minyak terus turun sampai saat ini.

Ketika itu, saya berpikir kalau harga minyak dunia terus turun, pemasok gas pasti akan berteriak mengenai cost dan sebagainya. Hal itu saya coba atasi dengan mengeluarkan edaran untuk lebih mengefektifkan biaya, dengan memangkas seluruh biaya yang dapat dipotong.

Beberapa lama kemudian, pemasok gas menanyakan apa yang telah dilakukan Badak NGL untuk menghadapi anjloknya harga minyak dunia, karena mereka juga sudah me-lay off banyak karyawan, perusahaan memang perlu memiliki sense of crisis.

Saya kemudian ceritakan itu semua, dan mendapat apresiasi, karena melakukan hal yang tepat di saat krisis.

Adakah budaya kerja yang ditanamkan di perusahaan?

Kami sebenarnya sudah memiliki nilai yang terus dituangkan ke dalam visi dan misi perusahaan. Kami juga memiliki konsep ‘Sinergy’, yakni safety, health and environment, innovative, professional, integrity and dignity.

Memang ada nilai-nilai yang menjadi pedoman, tetapi yang terpenting bagi saya adalah setiap orang bekerja dengan integritas dan jujur. Artinya, setiap pekerja harus jujur kepada bawahan dan atasannya, seperti saat pelaporan gratifikasi, tidak ada korupsi, kolusi dan nepotisme yang dapat menghilangkan kejujuran dan integritas itu sendiri.

Seperti apa pemimpin yang ideal menurut Anda?

Pemimpin itu adalah panutan atau role model. Sebaik apapun seorang pemimpin dalam berbicara, berorasi dan menyusun konsep, tetapi kalau perbuatannya tidak seperti apa yang diucapkan, maka akan dilupakan oleh anak buahnya.

Role model yang ideal sebagai seorang pemimpin itu memiliki sifat shiddiq, fathonah, amanah,dan tabligh, seperti Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, pemimpin juga harus cerdas dan menguasai apa yang menjadi lingkup kerjanya. Jangan sampai manajer procurement tidak menguasai persoalan pengadaan barang dan jasa, atau manajer SDM tidak memiliki passion dalam mengelola SDM. Itu dapat dilecehkan oleh anak buahnya, makanya ketegasan dan kompetensi itu penting.

Konsep kepemimpinan di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman Ki Hajar Dewantara, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Sebagai pemimpin, kita tetap harus dapat menempatkan diri dan sikap, di mana kita harus memimpin saat di depan, memberikan semangat saat di tengah, dan mendorong kesuksesan tim saat di belakang. Misalnya, dalam suatu proyek, saya harus mendorong tim agar maju, karena bagaimanapun yang paling mengerti teknis itu kan anggota tim. Saat menjadi anggota tim pun saya harus memberikan semangat untuk maju bersama, dan saat di depan saya harus memimpin dengan baik.

Apa kegiatan Anda di luar rutinitas keseharian?

Saya bermain golf, tetapi hanya untuk membangun jaringan. Saya pernah menjadi Ketua Petro Golf, sempat menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (Iatmi), dan saat ini menjadi regional director untuk Society of Petroleum Engineers (SPE) Southern Asia Pacific yang juga membawahi Selandia Baru dan Australia.

Saat tidak melakukan itu semua, saya berkumpul dengan keluarga, karena kebetulan dua anak saya sudah bekerja dan satu masih menyelesaikan kuliahnya. Kami biasanya makan di luar atau masak bersama di luar. Sesekali juga kami bermain musik, dan saya juga banyak menulis untuk mengisi waktu luang.

Apa yang Anda pelajari dari golf?

Golf memiliki filosofi yang sangat dalam, karena itu adalah permainan yang melawan diri sendiri. Kalau olah raga lain seperti tinju, bulutangkis, tenis, voli dan lainnya adalah bagaimana kita bisa mengalahkan lawan, golf justru harus bermain dengan diri sendiri.

Saya tidak bisa mengalahkan lawan dengan memukul sekencang-kencangnya, karena permainan akan kacau kalau kita emosi. Golf harus menggunakan strategi yang tepat untuk mengalahkan lawan.

Kita harus menentukan apakah harus mengambil beberapa langkah untuk memasukkan bola ke lubang, atau mau langsung. Ini tentu sering kita hadapi dalam pekerjaan, saat kita harus memilih hal yang mendesak di antara beberapa hal yang penting.

Permainan golf juga dapat mencerminkan cara bekerja seseorang. Apakah itu emosional atau berani mengambil risiko, karena berani mengambil risiko itu kan beda tipis dengan sembrono.

sumber :

http://entrepreneur.bisnis.com/read/20160210/266/517869/salis-aprilian-dari-sense-of-crisis-sampai-filosofi-golf

 

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

7 habits

Sudah hampir 6 tahun lamanya berlalu sejak saya pertama kali membaca pada Tahun 2010 “The 7 Habits of Highly Effective People” yang ditulis Stephen R Covey , saya teringat buku ini direkomendasikan oleh salah satu dosen saya, dan untuk ukuran mahasiswa waktu itu terlalu mahal untuk saya miliki (beli) sehingga saya mencoba menemukan buku ini di perpustakaan pusat Universitas Brawijaya, saya menyelesaikan membaca buku ini dalam 2 minggu, meskipun hanya dengan cara scanning, dan saya ambil poin poin utamanya saja. “The 7 Habits of Highly Effective People”, saya masih ingat bagaimana buku tersebut mengubah cara pandang saya terhadap efektifitas waktu, bagaimana membentuk lingkaran pengaruh baik dari dalam keluar maupun dari luar kedalam, buku ini melatih saya untuk selalu mengembangkan dan membuat tujuan-tujuan saya menjadi kenyataan, saya masih ingat setelah membaca buku ini saya langsung membuat sekitar 12 target dalam sisa waktu kuliah saya yang tinggal 2 Tahun lagi waktu itu. Dengan pendekatan yang disampaikan oleh Mr. Covey, yang kemudian akhirnya saya jabarkan menjadi strategi, meskipun dengan perjuangan yang cukup keras akhirnya dalam 2 Tahun hanya 1 dari 12 target yang telah saya tulis yang sampai saat ini belum juga terwujud, bukan sama sekali tidak terwujud, namun di detik detik terakhir saya memilih ” turn around/berbelok” mengingat saya telah lulus dan harus menyusun target-target yang baru. Saran-saran Mr. Covey dalam bukunya begitu relevan untuk membantu setiap orang meningkatkan kualitas kerja dan menghebatkan pencapaiannya.

Dan berikut saya mengulasnya untuk pengunjung kawanpendi semua, dengan harapan semoga anda bisa termotivasi untuk tetap mewujudkan cita cita dan target yang sudah anda canangkan.

Selamat membaca

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Pikirkan, apakah dengan hanya duduk di kubikel Anda bisa mencetak prestasi dan mencapai sesuatu? Anda takkan kemana-mana jika hanya diam dalam area nyaman Anda. Untuk sukses dalam karir, Anda harus lebih proaktif untuk menentukan apa yang ingin Anda capai, lalu mulai menggambar peta yang akan membantu Anda menyusuri jalan menuju pencapaian tersebut.

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Pikirkan apa yang Anda inginkan. Jika Anda ingin menjadi, katakanlah, Direktur Pemasaran, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan pengalaman seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapainya. Ketika Anda telah memiliki daftarnya, Anda akan membandingkan dengan keadaan saat ini dan melihat gap-gap yang bisa diisi untuk memenuhi kualifikasi seorang Direktur Pemasaran. Selalu mulai dengan bagian paling akhir, sesuatu yang Anda inginkan sebagai hasil akhir. Baru kemudian Anda akan menemukan atau membuat jalan untuk menuju kesana.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan.

Buatlah daftar pekerjaan yang penting untuk dilakukan setiap minggunya, dan lakukan review harian pada daftar tersebut. Selalu utamakan hal-hal yang paling penting untuk dilakukan. Stephen Covey menyebutnya “batu-batu besar”. Bayangkan sebuah ember, dimana Anda akan menempatkan batu-batu kegiatan Anda. Tanpa membuat daftar batu-batu besar, hal-hal yang paling penting, mungkin Anda akan membuat ember tersebut dipenuhi oleh batu-batu kerikil. Masukkan batu-batu besar Anda terlebih dahulu kedalam ember, baru kemudian batu-batu kerikil, hal-hal yang kurang penting. Dengan demikian, pengaturan kerja harian Anda akan lebih efektif.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang

Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Anda mungkin sering mendengar pepatah, “the sum is greater than the parts”. Dalam bisnis, aturan ini sangat berlaku. Saran Stephen Covey untuk memiliki kebiasaan membangun sinergi didasarkan oleh pemahaman bahwa sangat penting untuk bekerja bersama tim dari berbagai latar belakang secara harmonis. Latar belakang yang berbeda akan memberikan ide-ide yang lebih beragam, yang akan membuka jalan bagi solusi yang lebih kreatif dan menguntungkan.

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Kebiasaan mengasah gergaji sangat berguna untuk menjaga kesegaran pikiran dan motivasi Anda. Selain itu, kebiasaan ini akan membantu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan Anda. Stephen Covey menggambarkan kebiasaan ini dengan ilustrasi seseorang yang sedang menggergaji sebatang pohon besar. Berjam-jam ia menggergaji, tanpa ada kemajuan yang berarti. Tapi ia terus saja menggergaji, tanpa berhenti, tanpa hasil, dan tanpa menyadari bahwa gergajinya telah tumpul. Jika saja ia mengambil waktu untuk mengasah gergajinya, tentunya ia akan lebih mudah dan cepat menebang pohon yang sedang ia gergaji. Mengasah gergaji adalah tentang liburan, melakukan hal-hal menyenangkan, mengerjakan hobi, dan semua hal yang membantu Anda mendapatkan kesegaran dan semangat baru dalam melakukan pekerjaan rutin Anda. 

Diolah dari berbagai sumber

Psikologi Stress dan 5 Langkah Menanganinya

Kekhawatiran soal uang dapat memicu tekanan mental dan fisik. Utang – salah satu soal keuangan – ternyata memberikan dampak yang kurang baik pada kesehatan mental dan fisik.

“Utang adalah salah satu penyebab stres dalam hidup yang tidak dapat hilang begitu saja,” ujar Kelly McGonigal, psikolog kesehatan dari Stanford University. “Yang bahaya dari utang adalah betapa kronis dan menyerapnya hal itu, Kebanyakan penyebab stres dalam hidup – kecelakaan mobil, perceraian, kematian anggota keluarga – terjadi, kemudian selesai. Tubuh kita didesain untuk merespon keadaan darurat ini, lalu bangkit kembali. Sementara berutang uang dapat menyebabkan Anda berada di posisi tidak dapat keluar.”

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki utang, pada umumnya membutuhkan perawatan kesehatan yang lebih. “Utang tak hanya buruk untuk kesehatan secara keseluruhan: Jumlah yang Anda khawatirkan, tapi pada saat yang sama ada perasaan tak berdaya,” ujar Kelly.

Namun kunci secara emosional, psikologis dan perilaku tentang bagaimana Anda mengambil keputusan finansial menunjukan ada cara yang sehat untuk mengatur dan menghabiskan uang. Yang ternyata juga mampu mengurangi secara signifikan rasa stres yang Anda alami.

Mempunyai pemahaman yang benar tentang uang. Menurut David Krueger, seorang pelatih keuangan dan mantan psikiater di Houston, Texas, kebanyakan dari kita menggunakan uang “mengatakan” siapa kita. “Anda memberikan uang makna untuk diri Anda, dan menggunakan uang setiap hari untuk menceritakan tentang diri Anda, misalnya soal kebebasan, kekuasaan, dan bukti kesuksesan atau sebagai jalan menuju kesempatan.” Identifikasikan hubungan Anda dengan uang, lalu gali lebih dalam apa saja nilai dari uang. Tanyakan kepada diri Anda: kenapa barang bermerek yang mahal begitu penting bagi imej saya? Mengapa memiliki uang sangat penting sampai-sampai saya harus bekerja sampai tengah malam? Hati-hati dengan jawaban Anda, dan tuliskan di selembar kertas jwaban tersebut. Hal ini akan membantu Anda memiliki pemikiran yang tepat tentang uang, di mana tahap awal adalah mengambil alih kembali kendali bagaimana Anda menghabiskannya. “Begitu pikiran Anda tepat, baru Anda dapat membuat sebuah rencana untuk menyelesaikan permasalahan,” tegas David.

Mengenali bahwa utang menciptakan kebebasan semu. “Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orang yang stres justru ingin mengambil lebih banyak utang untuk merasa berkuasa,” ujar Kelly. Jadi, sekalipun Anda telah menghabiskan limit kartu kredit, misalnya, Anda bakal merasakan kebebasan ketika berhasil menaikan limit kartu kredit tersebut, atau justru mendapatkan kartu kredit baru. Ini berkaitan dengan persepsi jangka pendek dan jangka panjang. “Memang benar Anda menambah utang, namun anda justru merasa memiliki sumber daya yang tersedia untuk Anda, dan pemikiran itu melegakan beberapa orang,” kata Kelly. Hati-hati dengan ilusi jangka pendek ini, dan pertimbangkan biaya di jangka panjang ketika meningkatkan limit kartu kredit, menambah kartu baru, bahkan membeli sesuatu dengan kredit.

Ciptakan “otot pengendalian diri”. Roy Baumeister, seorang spikolog sosial di Florida State University, baru-baru ini mempelajari disiplin mental dengan menggelar penelitian dan menunjukan bahwa kita harus memiliki energi yang kuat untuk mengendalikan diri. Dengan kata lain, kemampuan Anda untuk menahan keinginan berbelanja lama kelamaan bisa kelelahan. Namun anda tetap bisa memberikan dorongan. “Catat semua pengeluaran harian dengan menuliskan semuanya, dan pikirkan benar-benar angka yang menjadi hasil akhir,” ujar Kelly. “dengan melakukan hal tersebut dapat secara efektif melatih, dan dengan demikian memperkuat otot pengendalian diri Anda.”

Jangan berbelanja saat sedang ‘down’. Sebuah penelitian yang dimuat pada Journal of Experimental Social Psychology, menunjukkan bahwa kita senang berbelanja barang-baranag yang dapat menaikkan status, dan membeli barang mahal dengan kredit, terutama saat ego kita terancam – hal ini bisa disebabkan berbagai hal, dari melihat berita buruk di teve, sampai tidak mendapatkan promosi dalam pekerjaan. “Penjelasan ekonomi – bahwa orang membeli barang-barang mahal karena ingin mendapatkan sinyal positif tentang diri mereka terhadap orang lain – masih belum lengkap,” ujar penulis penelitian tersebut, Niro Sivanathan, asisten profesor perilaku berorganisasi di London Business School. Walau demikian, penelitian Niro menunjukkan tindakan membeli tiket mahal adalah untuk membuat si pembeli merasa nyaman. Namun, penulis juga menemukan obatnya: Ketika partisipan merefleksikan nilai-nilai yang nmenurut mereka penting, seperti hubungan kekeluargaan, kesehatan, dan eksistensi diri, keinginan untuk membeli barang-barang bagus menurun.

Hati-hati dengan sikap masa bodoh. Istilah lain dari sikap ini adalah “violation response”, dan intinya ini adalah kecenderungan untuk berbelanja lebih banyak untuk membuat seseorang merasa lebih baik karena berutang. “Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin Anda kewalahan, semakin anda merasa berbelanja dapat membuat perasaan lebih baik,” ujar Kelly. Tentu saja ini adalah lingkaran setan, karena penyesalan sesudah belanja menyebabkan stres. “Itu sebabnya sangat penting untuk memperhatikan respon Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan keuangan Anda. Bila Anda lebih memperhatikan dorongan emosional, maka Anda akan dapat menahan diri untuk membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak Anda perlukan.

Sumber : http://www.readersdigest.co.id/perencanaan-keuangan/5+cara+cerdas+redakan+stres+karena+utang

5 Hal yang Perusahaan Perlu Lakukan Saat Kondisi Ekonomi Lagi Lesu

gedhe2

Dear Pembaca setia, selamat memasuki bulan Februari yang masih penuh dengan “tantangan”, kali ini ulasan saya datang dari Pak Gedhe manggala, beliau adalah praktisi lean six sigma dan permodelan inovasi lainya, semoga pengalaman dan insight dari beliau bisa membuat kita tetap bisa Berkarya terbaik dalam kondisi krisis sekalipun.

Selamat membaca kawan.

Saya ingin sharing sedikit tentang pengalaman saya di tahun 2008-2010. Tapi sebelumnya saya ingin mengutip kata-kata cadas ini:

” It’s hard to beat a person who never gives up!”

 

Ceritanya tahun 2007 dunia (dimulai dari negara Amerika) mengalami krisis finansial. Saat itu saya memegang posisi sebagai Product Leader dari Credit Card Portfolio di GE Money. Tahun 2008, proses budgeting dimulai dari sebuah email dari CFO global headquarter dengan subyek “Tsunami is coming…“. Isi pesannya, budget dipangkas 50% namun bisnis dianjurkan untuk menjaga profitability. Team kami mulai teriak-teriak kekurangan dana dan makin sering berdebat panas dengan bagian Finance 🙂

Tahun 2009 saya dan beberapa kolega mulai mendapat info dan dilibatkan dalam proses M&A (merger & acquistion) dengan pesan tetap merahasiakan proses dan juga menjaga bisnis “as is”. Karena kata bos saya pak CEO, “we don’t know where it ends“. Bisa dijual atau bisa juga ngga jadi. Jadi tugas para leader waktu itu adalah menjaga bisnis dan spirit para karyawan. Bagaimanapun karyawan juga sudah mulai mendengar rumor-rumor, sehingga suasana penuh denganuncertainty. Saat itu saya sangat beruntung karena mempunyai leader yang selalu memberikan insight baru, team yang sangat kompak dan mendukung.

I did not know many things, tapi tim dan kolega saya semua bersatu mengeluarkan semua daya kami. Bahkan sebagian besar dari kami bertekad untuk menjad “the last man standing“. Walaupun seringkali perasaan campur aduk dan akhirnya sering saling tukar gosip juga..:’)

In retrospect, berkaitan dengan industri yang sedang lesu di beberapa sektor saat ini, ini 5 hal yang menurut saya bisa dilakukan semua perusahaan:

Saatnya menantang orang-orang paling cemerlang di perusahaan anda untuk melihat sesuatu di luar kebiasaan. Hal-hal yang pada saat sibuk tidak bisa dilakukan. Dengan bantuan tim dari GE Global, kami bisa menemukan 20%customer yang menyumbang hampir 60% profitability dari portfolio kami. Sebuah temuan besar karena sangat membantu menjaga profitability di saat kita harus memangkas budget.

 

Tim kami menemukan banyak merchandise yang (sempat terlupakan namun bisa digunakan untuk hadiah kepada frontliner) saat melakukan housekeeping di gudang. Jadi kami bisa membuat marketing campaign menggunakan tanpa biaya karena banyak merchandise (yang tidak pernah kami tahu ada) di gudang.
Bagaimana dengan warehouse dan inventory perusahaan anda? Jika anda punya banyak waktu sekarang, saatnya melihat-lihat “harta karun” disana 🙂

 

Saat kita sedang berlari kencang dengan penuh kesibukan mencapai target, SOP dan standar kerja sering terlupakan. Saat aktivitas menurun, ini saat yang luar biasa untuk meminta setiap orang mendokumentasikan atau mengupdate SOP atau membuat checklist terkait pekerjaan masing-masing

Salah satu pengalaman yang luar biasa berharga di saat kami sedang mengalami penurunan bisnis adalah mampu menggunakan waktu itu untuk berkolaborasi lintas fungsi. Dengan bantuan Direktur Marketing yang mempunyai pengalaman dalam modelling serta tim dari kantor pusat yang jago analytics, tim Marketing berkolaborasi dengan Risk Management dan Finance team untuk membuatmodelling dan segmentasi berdasarkan aktivitas marketing, memasukkan unsur performance resiko serta unsur profitability.
Tim Marketing juga bekerja sama dengan Sales dan Operation mencoba memahami customer dari sisi behavior, data serta praktek di lapangan agar kami bisa lebih tepat sasaran dalam menawarkan promosi.

Bagaimana dengan anda?

Sumber : https://www.linkedin.com/pulse/5-hal-yang-perusahaan-perlu-lakukan-di-saat-ekonomi-lesu-manggala?trk=hp-feed-article-title-publish

Empat Sosok Konsumen Muslim

moslem

Empat Sosok Konsumen Muslim

Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia berubah sangat cepat dan fundamental. Semakin meningkatnya kemakmuran mereka sebagai akibat keberhasilan pembangunan selama ini justru mendorong mereka semakin religius dan spiritual. “Makin makmur, makin pintar, makin religius.” Kalimat ini sangat pas menggambarkan pergeseran itu.

Coba saja lihat beberapa fenomena menarik berikut. Dulu orang tak begitu peduli dengan makanan halal, kini mereka menjadi sangat peduli. Survei kami misalnya, mendapati 95 persen konsumen kosmetik mengecek label halal saat membeli produk. Dulu kaum muslim kita juga tak begitu konsern dengan praktek riba dalam berbank, kini mereka mulai peduli untuk menghindari riba. Buktinya bank syariah tumbuh hingga mencapai 40 persen pertahunnya. Begitu pula kaum wanita muslim kini semakin konsern untuk menutup auratnya, terbukti dengan munculnya fenomena revolusi hijab.

Setelah melakukan survei kualitatif, saya berhasil memetakan profil konsumen kelas menengah muslim Indonesia. Saya membagi mereka ke dalam empat sosok seperti tergambar pada matriks, yaitu: Apathist, Conformist, Rationalist, dan Universalist.

Apathis: “Emang Gue Pikirin?” Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan seringkali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Di samping itu, konsumen ini memiliki kepatuhan dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang juga rendah. Konsumen tipe ini umumnya tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai produk-produk berlabel Islam atau menawarkan value proposition yang Islami. Karena itu mereka tak begitu peduli apakah suatu produk bermuatan nilai-nilai keislaman ataupun tidak.

Rationalist: “Gue Dapat Apa?” Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, open-minded, dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang lebih rendah. Segmen ini sangat kritis dan pragmatis dalam melakukan pemilihan produk berdasarkan parameter kemanfaatannya. Namun dalam memutuskan pembelian, mereka cenderung mengesampingkan aspek-aspek ketaatan pada nilai-nilai Islam. Bagi mereka label Islam, value proposition syariah, atau kehalalan bukanlah menjadi konsideran penting dalam mengambil keputusan pembelian.

Conformist: “Pokoknya Harus Islam” Sosok ini adalah tipe konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Karena keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional, sosok konsumen ini cenderung kurang membuka diri (less open-minded, less inclusive) terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat. Untuk mempermudah pengambilan keputusan, mereka memilih produk-produk yang berlabel Islam atau yang di-“endorsed” oleh otoritas Islam atau tokoh Islam panutan.

Universalist: “Islami Itu Lebih Penting” Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan/wawasan luas, pola pikir global, dan melek teknologi; namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain. Singkatnya mereka adalah sosok yang toleran, open-minded, dan inkulsif terhadap nilai-nilai di luar Islam.

Melihat perubahan-perubahan besar yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim kita, pertanyaan besar kemudian muncul di kalangan pemasar: Bagaimana mereka harus merespons? Apa saja strategi dan taktik ampuh yang harus dijalankan? Untuk menjawabnya buku ini mencoba menyusun enam prinsip-prinsip generik yang bisa digunakan sebagai panduan bagi mereka untuk menggarap pasar lukratif ini. Kami menyebutnya sebagai: “The Six Principles of Marketing to the Middle Class Moslem“.

#1. The Principle of Customer:

Customers become more religious. They begin to search for spiritual value

Inilah menariknya konsumen muslim Indonesia. Semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology-savvy. justru mereka semakin religius. Mereka semakin mencari manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Yaitu produk-produk yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Ini berbeda dengan di dunia Barat misalnya, dimana ketika mereka beranjak maju, masyaraktnya justru semakin sekuler bahkan banyak yang tak memercayai lagi keberadaan Tuhan.

#2 The Principle of Competition:

Competition is about building brand persona. Connect your brand to the customer’s heart

Empat sosok yang mewakili potret kelas menengah muslim di atas memiliki impian, aspirasi, nilai-nilai, dan perilakunya masing-masing. Berdasarkan pemahaman mengenai karakteristik konsumen di masing-masing sosok, Anda akan tahu persis bagaimana memperlakukan mereka. Anda juga harus membangun personifikasi berdasarkan karakteristik dari masing-masing sosok tersebut, kemudian menciptakan koneksi emosional bahkan spiritual dengan mereka. Inilah yang kami sebut sebagai brand persona.

#3 The Principle of Positioning

Be an inclusive brand. Be a Universal Icon

Untuk mengambil hati kelas menengah muslim, merek Anda harus ramah-bersahabat, merangkul semua (tak hanya eksklusif sebatas kalangan muslim); open-minded alias terbuka dan berlapang dada terhadap informasi, ide, pikiran, aliran, atau pengaruh dari manapun dan siapapun; toleran terhadap perbedaan, dan selalu berpikiran positifdengan landasan kekuatan cinta. Itu semua harus Anda wujudkan dengan satu tujuan dalam rangka menghasilkan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh stakeholders. Singkatnya, your brand must be an inclusive brand.

#4 The Principle of Differentiation

Build authenticity through commitment and passion. Create your own DNA.

Untuk membangun diferensiasi yang kokoh dan tak sulit ditiru oleh pesaing, maka merek Anda harus menjadi authentic brand. Anda tak cukup sekedar menempelkan label halal pada kemasan dan produk Anda. Untuk menjadi authentic brand, merek Anda harus menempatkan ketaatan kepada nilai-nilai luhur keislaman yang bersifat universal sebagai “reason for being” Anda . Untuk menjadi authentic brandmereka Anda harus menempatkan upaya-upaya mewujudkan kebaikan universal (universal goodness) sebagai “what the business are we in” Anda. Intinya, untuk menjadi authentic brand Anda harus menciptakan DNA sebagai merek Islami.

#5 The Principle of Value:

Offer unique unversal value. Balance your product and spiritual benefits

Ketika konsumen semakin menuntut manfaat spiritual dari sebuah produk, maka kami melihat bahwa nilai tertinggi bagi konsumen akan terwujud jika produsen mampu menghasilkan apa yang kami sebut sebagai nilai universal (universal value), yaitu gabungan antara manfaat produk (yang terdiri dari manfaat fungsional dan manfaat emosional) dan manfaat spiritual yang kemudian dibagi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh konsumen. Untuk sukses Anda harus membangun bauran manfaat fungsional, emosional, dan spiritual yang unik untuk mengunci persaingan.

#6 Principle of Engagement:

Connect your customers to each other. Build a community of messengers

Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan (shared purpose) yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Karena by default kaum muslim adalah sebuah komunitas, maka pendekatan pemasaran yang paling ampuh untuk menggarap pasar ini adalah dengan menggunakan pendakatan komunitas (community marketing) dengan mengoneksikan satu konsumen dengan konsumen lain di dalam komunitas.

Sumber : http://www.yuswohady.com/2014/07/06/marketing-to-the-middle-class-moslem/