TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

7 habits

Sudah hampir 6 tahun lamanya berlalu sejak saya pertama kali membaca pada Tahun 2010 “The 7 Habits of Highly Effective People” yang ditulis Stephen R Covey , saya teringat buku ini direkomendasikan oleh salah satu dosen saya, dan untuk ukuran mahasiswa waktu itu terlalu mahal untuk saya miliki (beli) sehingga saya mencoba menemukan buku ini di perpustakaan pusat Universitas Brawijaya, saya menyelesaikan membaca buku ini dalam 2 minggu, meskipun hanya dengan cara scanning, dan saya ambil poin poin utamanya saja. “The 7 Habits of Highly Effective People”, saya masih ingat bagaimana buku tersebut mengubah cara pandang saya terhadap efektifitas waktu, bagaimana membentuk lingkaran pengaruh baik dari dalam keluar maupun dari luar kedalam, buku ini melatih saya untuk selalu mengembangkan dan membuat tujuan-tujuan saya menjadi kenyataan, saya masih ingat setelah membaca buku ini saya langsung membuat sekitar 12 target dalam sisa waktu kuliah saya yang tinggal 2 Tahun lagi waktu itu. Dengan pendekatan yang disampaikan oleh Mr. Covey, yang kemudian akhirnya saya jabarkan menjadi strategi, meskipun dengan perjuangan yang cukup keras akhirnya dalam 2 Tahun hanya 1 dari 12 target yang telah saya tulis yang sampai saat ini belum juga terwujud, bukan sama sekali tidak terwujud, namun di detik detik terakhir saya memilih ” turn around/berbelok” mengingat saya telah lulus dan harus menyusun target-target yang baru. Saran-saran Mr. Covey dalam bukunya begitu relevan untuk membantu setiap orang meningkatkan kualitas kerja dan menghebatkan pencapaiannya.

Dan berikut saya mengulasnya untuk pengunjung kawanpendi semua, dengan harapan semoga anda bisa termotivasi untuk tetap mewujudkan cita cita dan target yang sudah anda canangkan.

Selamat membaca

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Pikirkan, apakah dengan hanya duduk di kubikel Anda bisa mencetak prestasi dan mencapai sesuatu? Anda takkan kemana-mana jika hanya diam dalam area nyaman Anda. Untuk sukses dalam karir, Anda harus lebih proaktif untuk menentukan apa yang ingin Anda capai, lalu mulai menggambar peta yang akan membantu Anda menyusuri jalan menuju pencapaian tersebut.

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Pikirkan apa yang Anda inginkan. Jika Anda ingin menjadi, katakanlah, Direktur Pemasaran, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan pengalaman seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapainya. Ketika Anda telah memiliki daftarnya, Anda akan membandingkan dengan keadaan saat ini dan melihat gap-gap yang bisa diisi untuk memenuhi kualifikasi seorang Direktur Pemasaran. Selalu mulai dengan bagian paling akhir, sesuatu yang Anda inginkan sebagai hasil akhir. Baru kemudian Anda akan menemukan atau membuat jalan untuk menuju kesana.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan.

Buatlah daftar pekerjaan yang penting untuk dilakukan setiap minggunya, dan lakukan review harian pada daftar tersebut. Selalu utamakan hal-hal yang paling penting untuk dilakukan. Stephen Covey menyebutnya “batu-batu besar”. Bayangkan sebuah ember, dimana Anda akan menempatkan batu-batu kegiatan Anda. Tanpa membuat daftar batu-batu besar, hal-hal yang paling penting, mungkin Anda akan membuat ember tersebut dipenuhi oleh batu-batu kerikil. Masukkan batu-batu besar Anda terlebih dahulu kedalam ember, baru kemudian batu-batu kerikil, hal-hal yang kurang penting. Dengan demikian, pengaturan kerja harian Anda akan lebih efektif.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang

Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Anda mungkin sering mendengar pepatah, “the sum is greater than the parts”. Dalam bisnis, aturan ini sangat berlaku. Saran Stephen Covey untuk memiliki kebiasaan membangun sinergi didasarkan oleh pemahaman bahwa sangat penting untuk bekerja bersama tim dari berbagai latar belakang secara harmonis. Latar belakang yang berbeda akan memberikan ide-ide yang lebih beragam, yang akan membuka jalan bagi solusi yang lebih kreatif dan menguntungkan.

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Kebiasaan mengasah gergaji sangat berguna untuk menjaga kesegaran pikiran dan motivasi Anda. Selain itu, kebiasaan ini akan membantu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan Anda. Stephen Covey menggambarkan kebiasaan ini dengan ilustrasi seseorang yang sedang menggergaji sebatang pohon besar. Berjam-jam ia menggergaji, tanpa ada kemajuan yang berarti. Tapi ia terus saja menggergaji, tanpa berhenti, tanpa hasil, dan tanpa menyadari bahwa gergajinya telah tumpul. Jika saja ia mengambil waktu untuk mengasah gergajinya, tentunya ia akan lebih mudah dan cepat menebang pohon yang sedang ia gergaji. Mengasah gergaji adalah tentang liburan, melakukan hal-hal menyenangkan, mengerjakan hobi, dan semua hal yang membantu Anda mendapatkan kesegaran dan semangat baru dalam melakukan pekerjaan rutin Anda. 

Diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s