Tren Pertumbuhan Kelas Menengah Indonesia

midd1

Sepanjang Tahun 2014-2015 memberikan gambaran mengenai perubahan perilaku konsumen kelas menengah secara signifikan, sehingga ini memberikan perkiraan (prediksi) akan seperti apa perilaku kelas menengah di tahun depan. Apabila kita amati, ada banyak peristiwa yang menandakan atau mencerminkan bagaimana perubahan perilaku kelas menengah terjadi selama kurun waktu tersebut. Perubahan perilaku inilah yang nantinya akan mendorong preferensi pembelian pada konsumen kelas menengah dan bagaimana taktik komunikasi pemasaran pada segmen yang sedang hot ini.

Seperti yang diungkapkan oleh Andy Hines dalam bukunya Consumer Shift: How Changing Values are Reshaping the Consumer Landscape (2011) bahwa perubahan nilai-nilai akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Menurutnya, nilai-nilai merupakan focal point yang sangat mempengaruhi keputusan. Contoh sederhananya, apabila konsumen memiliki nilai-nilai kesadaran peduli lingkungan (sustainability awareness), maka ia akan cenderung memilih produk-produk yang dikategorikan ramah lingkungan. Untuk itu, menghadapi tahun 2015, para marketer wajib pasang “alarm” untuk mengindentifikasi perubahan perilaku konsumen sehingga mampu membaca peluang.

Apabila kita petakan perubahan perilaku konsumen kelas menengah di tahun depan, maka akan bisa kita lihat dari tiga karakteristik utama segmen ini yakni buying power, knowledgeability, dan social-connection, sebagaimana yang telah dikaji oleh pakar pemasaran Yuswohady. Tiga hal utama itulah yang bila kita rinci akan seperti pada tabel di bawah ini. Tulisan ini berusaha mengelaborasi perubahan nilai-nilai yang sekiranya akan terjadi selama setahun depan. Mengamati perubahan nilai-nilai pada konsumen kelas menengah akan memberikan informasi berharga bagi marketer untuk merumuskan strategi, taktik, tema dan komunikasi pemasaran secara presisi pada segmen ini.

Picture1

BUYING POWER
Kemampuan daya beli sangat menentukan perilaku dan preferensi pembelian produk. Kelas menengah adalah jenis konsumen yang pendapatannya mulai tinggi dan seleranya semakin beragam, tapi kemampuan daya belinya masih dapat dikatakan terbatas. Meskipun terbatas, oleh karena berwawasan dan dipengruhi oleh nilai-nilai yang dipegangnya, maka mereka menjadi jenis konsumen yang sadar value, global taste, kritis, dan cari aman. Dengan demikian, walaupun daya belinya terbatas, mereka punya preferensi pembelian yang kompleks dan paradoks.

Berdasarkan ukuran Bank Dunia, kelas menengah adalah jenis konsumen yang memiliki daya beliUS$2-20 per hari/kapita. Oleh karena US$2-4 adalah pengeluaran yang relatif masih kecil (middle-low), maka saya mengacu ukuran yang digunakan oleh Center for Middle-Class Consumer Studies(CMCS) yakni US$4-20 per hari /kapita yang dapat dikategorikan kelompok middle-middle dan middle-up. CMCS mendefinisikan daya beli kelas menengah per keluarga sekitar Rp4juta-Rp17juta/per keluarga. Umpamanya, kelas menengah memiliki 4 anggota keluarga dengan pengeluaran US$4/hari (US$1= Rp10.000) per hari /kapita. Maka, total pengeluaran dalam sebulan adalah Rp4.800.000.

Dengan daya beli yang terbatas, kenaikan harga BBM November lalu kemungkinan besar akan sangat berpengaruh terhadap daya beli kelas menengah. Mereka akan pilih-pilih produk yang bisa memberikan manfaat banyak, tapi harga terjangkau. Dengan demikian, keterbatasan daya beli inilah yang mendorong mereka untuk secara pintar dan jeli dalam memilih produk/jasa. Mereka pun sangat sadar tentang value (benefit) dan hati-hati pilih produk finansial alias cari aman (safety player).

Di samping itu, walaupun terbatas, bila kita melihat perilaku konsumsi kelas menengah, mereka memilih berbagai jenis produk yang dikategorikan global taste. Sebagaimana studi yang dilakukan McKinsey di China, ketika masyarakat bertransformasi menjadi kelas menengah, maka mereka akan memilih berbagai jenis produk-produk modern agar terlihat sebagai kelas sosial yang modern. Peralatan rumah tangga mulai diisi oleh berbagai appliance tercanggih keluaran brand nama dengan harga terjangkau. Mereka mulai terbiasa menggunakan AC, mesin cuci, televisi layar datar, pakai smartphone, laptop, dll.

Value-Conscious
Dengan daya beli yang terbatas, kelas menengah sangat sadar pentingnya value. Sebelum membeli produk/jasa tertentu, mereka akan sangat jeli hitung-hitungan value apa yang mereka dapatkan. Dalam hal ini, pengertian value adalah hal yang didapat dengan harga yang dikeluarkan. Dalam bukunya Consumer Value, Horris Holbrook mendefinisikan value sebagai an interactive relativistic preference experience. Interaksi antarsiapa? Subjek (konsumen) dan objek (produk) akan terjadi interaksi jika satu sama lain mendapatkan value. Konsumen akan memilih suatu produk berdasarkan oleh nilai yang didapat. Bila kita petakan, secara umum ada dua jenis value yakni functional danemotional. Kelas menengah berusaha mencari produk yang bisa memberikan kedua jenis value itu.

Apabila melihat karakteristik kelas menengah yang punya keterbatasan daya beli dan preferensi pembelian semakin mengglobal, maka mereka dituntut untuk pintar memilah produk yang diingini. Oleh karena itu, para brand owner harus pandai-pandai memberikan value yang diinginkan oleh konsumen kelas menengah.

Lenovo adalah contoh brand yang sukses di kategori smartphone karena menerapkan strategi jitu: memberikan value yang lebih dengan harga terjangkau. Pasar smartphone yang umumnya didominasi oleh Samsung, Blackberry, Apple, Nokia, kini pangsa pasarnya mulai digerus oleh keberadaan Lenovo. Mengapa Lenovo bisa sukses? Ini tidak lepas dari kecerdasan brand asal negeri bambu itu memberikan pada konsumen kelas menengah. Dengan kemampuan daya beli yang masih terbatas, kelas menengah adalah value-seeker yang akan memilih produk dengan menyediakan fasilitas sama dengan harga terjangkau. Sederhananya, daripada memilih produk Apple dengan harga premium mobile application hampir sama dengan brand lain, mereka secara kritis memilih produk Lenovo dengan harga terjangkau dan fasilitas mobile application hampir sama dengan Apple. Oleh karena itu, market share brand keluaran negeri Paman Sam itu mulai digerogoti oleh Lenovo.

Bila kita melihat data pertumbuhan smartphone di Indonesia yang dirilis oleh International Data Corporation 2013 terlihat bahwa pertumbuhan paling tinggi brand ponsel adalah Lenovo. Brand asal China itu mencatatkan pertumbuhan mencapai 130%, mengalahkan penguasa pasar Samsung. Meskipun penguasaan pasarnya masih kecil yakni 5,8%, tetapi melihat angka pertumbuhan yang menakjubkan bukan tidak mungkin kelak brand ini akan menjadi pesaing utama Samsung dan Apple.

1

Selain produk smartphone, kesadaran value kelas menengah juga terjadi pada kategori produk lain seperti convenience store. Gerai convenience store seperti 7-Eleven, Circle-K, Family Mart, Indomaret Point, dll., sukses luar biasa di wilayah urban karena menyediakan ambience dan imagetak kalah menarik dibandingkan dengan kafe beserta harga jajanan yang terjangkau. Dengan daya beli masih rendah, tapi mereka mencari tempat nongkrong yang memberikan benefit kurang lebih sama dengan kafe-kafe. Gerai-gerai convenience store kemudian jadi incaran baru para anak muda, segmen keluarga, pekerja kantoran, dll., untuk sekadar nongkrong, ngobrol ngalor-ngidul, diskusi pekerjaan, dan sampai pacaran.

Dalam studinya tahun 2012, KPMG menyebutkan tentang potensi convenience store di Indonesia yang sangat tinggi. Kelas menengah adalah target pasar mereka, karena mereka merupakan jenis konsumen yang mencari basic benefit (price, accessibility, convenience) dan advanced benefit (status, brand). Convenience store mampu menggabungkan dua jenis benefit itu, sehingga kini muncul kecenderungan orang suka berbelanja di convenience store ketimbang di toko kelontong, pasar becek, dan lainnya.

7eleven

Risk-Averse
Oleh karena daya beli yang terbatas, kelas menengah juga sangat menghindari risiko. Jenis produk yang dibeli sebisa mungkin memiliki daya tahan lama dan kecil kemungkinan untuk perawatan mahal serta bermanfaat bagi banyak anggota keluarganya. Salah satu konsekuensi sadar risiko ini tercermin dari jenis produk finansial dan investasi yang diambil cenderung aman. Pada tahun 2013, CMCSmelakukan survei mengenai perilaku investasi. Hasilnya, kelas menengah Indonesia tidak berani ambil risiko, melainkan memilih jalan aman berinvestasi. Mereka cenderung memilih investasi emas dan properti yang dinilai low risk daripada jenis investasi deposito, obligasi, saham, dll yang cenderung high-risk (di luar faktor melek produk finansial yang masih rendah).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan CMCS, kelas menengah lebih memilih jenis produk emassebagai pilihan utama berinvestasi yakni dengan prosentase 50,5%. Jenis investasi yang mereka pilih umumnya adalah emas batangan dan perhiasan. Mereka percaya bahwa harga emas itu akan selalu naik, dan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar untuk konsumen. Tidak jauh dari emas,39,8% responden memilih untuk berinvestasi di properti. Dengan jenis investasi rill, mereka percaya akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari harga sebelumnya.

Dengan melihat komposisi 2 terbesar jenis produk investasi konsumen kelas menengah adalah emas dan properti, maka sebenarnya tipe perilaku berinvestasi konsumen kelas menengah ialah “pemain aman” dan kategori “pemula”. Mereka cenderung ingin bermain aman, tanpa ada risiko berarti yang bisa mengurangi nilai atau jumlah aset investasi mereka. Di samping itu, emas dan properti adalah dua jenis produk investasi yang paling sederhana (basic), dan mereka belum memahami jenis produk investasi advanced lainnya, yang tingkat keuntungan dan risikonya fluktuaktif.

Global Taste

Meskipun sebagian besar kelas menengah Indonesia masih didominasi middle-low, tapi selera mereka yang sudah global-minded tidak cukup terpengaruh oleh kemampuan daya beli. Mereka membeli produk-produk yang dinilai bisa mengangkat gengsi. Produk Apple tidak hanya laris di kalangan atas, melainkan juga di segmen menengah.

Produk-produk appliances sekarang laris-manis untuk menunjang gaya hidup mereka yang mengglobal. Seiring naiknya daya beli, kelas menengah kian senang menggunakan berbagai peralatan rumah tangga dengan teknologi kelas dunia. Para ibu rumah tangga mulai bertransformasi menjadiibu rumah tangga modern. Mereka mulai menggunakan produk rumahan canggih seperti mesin cuci, blender, AC, televisi layar datar, wastafel, dispenser, set kitchen, dll. Karena itu, brand-brand ternama seperti Sharp, Samsung, LG, Panasonic, Toshiba, Philips, dll., sukses di kalangan kelas menengah.

Selain itu, suksesnya industri entertainment di Tanah Air menandakan bahwa preferensi konsumsi jenis hiburan di dalam negeri sudah dipengaruhi oleh selera kelas menengah yang kian mengglobal. Mereka mulai akrab dengan Hollywood, K-Pop, Bollywood, British, dll. Mereka terbiasa menonton dan mendengarkan musik kelas dunia. Mengapa? Global entertainment dinilai lebih cool daripadalocal entertainment. Local entertainment seperti kesenian tradisional, sinetron, film asal Indonesia, jarang ditonton karena mereka sudah mengenal global entertainment. Memiliki selera global ini pula yang menyebabkan sering terjadinya perubahan tren dalam selera konsumsi hiburan yang berubah-ubah. Baru saja tahun 2011 Indonesia booming K-Pop, kini sudah menggemari film serial India dan Shaheer Sheikh jadi idola baru para remaja. Mahacinta Show yang menayangkan langsung sejumlah bintang film serial Bollywood di hadapan para penggemarnya di Indonesia pun sukses tayang dua kali digelar di ANTV.

KNOWLEDGEABILITY
Faktor knowledgeability ini sangat berpengaruh kuat pada konsumen kelas menengah. Oleh karena itu, bila kita lihat rincian dari tiga ciri utama kelas menengah, knowledgeability paling banyak fenomenanya. Ini tidak lepas bahwa knowledgeability adalah ciri yang paling dominan dari jenis konsumen ini. Bagi para teoritikus ilmu sosial, lahirnya kelas menengah tidaklah lepas dari bahwa mereka adalah kelas intelegensia (kelas terdidik). Dalam bukunya Patterns of Middle Class Consumption in India and China (2008), Christophe Jaffrelot dan Peter van der Veer mengidentifikasi bahwa terjadinya revolusi kelas menengah di negara-negara berkembang dan terjajah adalah kebangkitan kaum intelegensia, perubahan tatanan hukum dan administrasi yang memungkinkan mereka bekerja di sektor formal (yang didorong tingkat pendidikan semakin tinggi).

Teori kebangkitan kelas intelegensia juga cukup relevan dalam melihat kebangkitan kelas menengah di Indonesia saat ini. Apabila kita rinci, maka berbagai fenomena baru dari karakteristik knowledgeability ini cukup banyak. Ini tidak lepas dari begitu dinamisnya dari karakteristik ini. Karakteristik ini yang mendorong mereka semakin melek terhadap politik, mulai tumbuhnya patriotisme, selera humor makin tinggi, kian sadar lingkungkungan, kesehatan, dan tahu spiritual benefit, dll. Faktor knowledgeability sangat kuat dalam menentukan perilaku dan preferensi pembelian pada konsumen kelas menengah.

Politically Sensitive
Pemilu tahun 2014 memberikan pelajaran penting bagi para marketer bahwa kelas menengah kian sensitif terhadap isu-isu politik. Bila kita lihat sehari-hari, perilaku menggunakan social media mereka sangat aktif dalam merespon berbagai isu publik yang menarik untuk kalangannya. Di sepanjang tahun ini, kita melihat berbagai isu publik menjadi trending topic karena kicauan kelas menengah, seperti hastag #ShameOnYou, #BukanUrusanSaya, dll. Atas fenomena ini, saya menyebutnya sebagai mereka sangat sensitif dalam urusan politik (politically sensitive).

Jenis perilaku ini bisa kita lihat dalam penggunaan social media. Mereka kini sangat aktif mengomentari berbagai isu publik, seperti ekonomi, politik, budaya, religi, hukum, dan lainnya. Mereka merasa memiliki kepedulian terhadap isu itu, sehingga mereka setiap respons atas isu adalah kewajiban. Tak jarang, mereka kerap melakukan perang meme ataupun pendapat terkait isu-isu publik tersebut. Inilah yang menciptakan “kegaduhan” di social media baru-baru ini. Mereka adalah kelas yang mulai merasa melek politik dan sadar hak berpolitik, meskipun mereka sendiri tidak ingin terjun atau masuk ke dalam parpol.

Dengan kian meleknya terhadap politik dan adanya keinginan untuk berpendapat, maka industri portal berita online atau situs informasi tertentu menjadi laris-manis. Kelas menengah kerapmengomentari ataupun menautkan berbagai fenomena yang ada dan dibagikan kepada komunitas atau teman-temannya. Kita lihat bagaimana situs berita Merdeka demikian cepat menjadi rujukan para Netizen. Situs-situs berita yang sudah mapan seperti Detik, Kompas, Tempo, Yahoo, Arrahmah, PKS Piyungan, dll., makin mencengkram penetrasinya. Di tengah kegaduhan politik di social media, industri pemberitaan menikmati ratingnya yang semakin tinggi.

Untuk itu, bagi para pemimpin politik harus mulai melek dengan perilaku kelas menengah seperti ini. Mereka harus siap-siap pasang “alarm” untuk terus mengetahui berbagai perilaku kelas menengah sehari-hari. Apabila pemimpin politik tidak sensitive terhadap perilaku kelas menengah, maka mereka akan menjadi sasaran empuk untuk diserang di social media. Meskipun isu dan perspektif analisa yang dipakai kelas menengah belum tentu tajam, tapi karena power komunitas kelas menengah yang solid menjadi ancaman bagi para politikus yang tidak kelas menengah banget.

Di samping itu, seiring kesadaran berpolitik ini pada kelas menengah, tema-tema advertising para pemilik merek pun mengangkat isu-isu ini. Djarum 76 adalah contoh brand yang kerap mengangkat berbagai isu ini, khususnya perilaku korupsi pada politikus. Dengan gayanya yang satire dan humor, iklan Djarum 76 relatif tinggi tingkat awareness-nya. Contohnya adalah kata “Wani piro?” yang sebenarnya sudah familiar di masyarakat etnis Jawa, tapi kini mulai diasosiasikan dengan Djarum 76. Dengan ciri iklan humor, Bintang Toedjoe juga mengangkat isu politik, seperti profil Jokowi yang sedang naik daun.

Patriotism
Kini, patriotisme menjadi tema baru dalam komunikasi pemasaran. Mengapa? Seiring dengan perubahan nilai-nilai pada konsumen yang semakin peduli terhadap nasib negaranya, maka para brand owner pun dengan sigap menggunakan tema-tema kepatriotan. Sampo Clear telah melakukan tema kampanye untuk patriotisme dalam sepakbola. Begitupula Telkom yang sejak Dirutnya Arief Yahya menggunakan tema nasionalisme dalam menjalankan usahanya dengan mengubah warna logo Telkom itu sendiri dan tema produk anak perusahaannya menggunakan patriotic marketing.

Di tengah-tengah globalisasi, isu nasionalisme memang menjadi sangat sensitif. Di negara-negara maju sekalipun, para brand owner kerap menggunakan tema patriotic marketing dengan memberikan pesan kebanggaan menggunakan produk dalam negeri dibandingkan produk luar negeri. Ini adalah cerminan strategi brand untuk menangkap perubahan nilai-nilai yang terjadi pada konsumen. Konsumen merasa peduli dengan nasib bangsanya. Apabila brand tidak mengikuti perubahan ini, mereka akan menilai bahwa brand tersebut tidak peduli dengan nasib bangsa.

Brand-brand luar seperti Clear (Unilever) sekalipun menggunakan tema nasionalisme untuk menyentuh hati konsumen Indonesia. Mereka pakai program Indonesia Bisa untuk mengajak konsumen mendukung tim nasional sepak bola. Selain Unilever, Telkomsel pun menggunakan patriotic marketing sebagai produk Paling Indonesia. Kata “Paling Indonesia” memiliki dua makna sebagai paling luas jangkauan area sinyalnya dan milik bangsa Indonesia (anak perusahaan Telkom). Kaos Damn I Love Indonesia kini banyak dipakai oleh anak muda. Ini tidak lepas keinginan di kalangan anak muda menonjolkan rasa kepedulian nasionalisme. Produk kaos ini pun laris-manis dijual di berbagai distro dan mal.

Content-Oriented
Dengan tingkat pendidikan yang mulai tinggi, kelas menengah kian sadar pentingnya informasi. Mereka menjadi sangat haus informasi, dan tidak lagi mudah percaya pada iklan atau kampanye advertisi lainnya. Mereka mulai mengandalkan kelengkapan informasi tentang produk tertentu dan informasi. Ini terlihat dari kebiasaan mereka untuk mencari tahun informasi sebelum membeli dan membagikan pengetahuannya di social media terkait pengalaman yang menimpanya. Dengan karakteristik yang demikian, maka pada akhirnya memang tidak mudah untuk bisa mengincar segmen ini.

Apabila suatu brand ingin sukses mengincar segmen ini, maka mulailah menggunakan strategi content creation. Artinya, para pengelola brand harus pintar menciptakan informasi seputar topik value yang diberikan oleh produknya. Ini bisa dilakukan dalam bentuk terbuka atau tertutup. Umumnya, kelas menengah seringkali ingin terlibat atau berpartisipasi dalam proses content creation. Bisa jadi, ini akan menjadi kegiatan pemasaran yang sangat efektif dan impactful.

Dalam bukunya The Dentsu Way (2010), Kotaro Sugiyama dan Tim Andree menyebutkan perubahan perilaku konsumen yang punya kebiasaan mencari informasi sebelum memutuskan membeli dan berbagi informasi atas hasil produk yang sudah digunakannya. Mereka menyebutnya AISAS framework, yang terdiri dari Attention, Interest, Search, Action, dan Share. Kini, setiap produk/jasa haruslah searchable di mata kelas menengah. Ini terlihat dari kebiasaan kelas menengah yang akan mencari informasi produk tertentu sebelum membeli dan senang berbagi informasi dengan peers-nya. Oleh karena itu, para brand owner yang mengincar segmen consumer harus mulai pandai menciptakan informasi yang berharga di mata konsumen dan menyediakan platform untuk saling berbagi cerita.

Saking pentingnya sumber informasi di mata kelas menengah, maka para brand owner pun mulai membuat strategi online marketing supaya mampu menangkap peluang dari perubahan perilaku segmen kelas menengah. TripAdvisor adalah salah satu contoh brand yang menciptakan platform content untuk dibaca oleh para traveler. Bahka, situs traveling ini juga melibatkan partisipasi traveler agar menulis dan memberikan penilaian terhadap content yang dimuat. Dengan demikian, situs travel agent tidak sekadar menyediakan produk traveling saja, melainkan informasi berbagai destinasi wisata, fasilitas wisata (hotel, tempat kuliner, dll), dan rute. Seperti halnya Amazon, yang menyediakan informasi buku secara lengkap dan rating untuk konsumen sebelum beli.

Humorist
Dalam The Book of Laughter and Forgetting (1999), Novelis Cekoslovakia Milan Kundera mengatakan puncak dari intelektualitas tertinggi adalah humor. Artinya, jenis dan selera humor sangat menentukan berada di level mana masyarakat. Bila mereka semakin cerdas, maka selera dan jenis humor yang dipilih pun berkualitas bagus. Sampai saat ini, kualitas humor kita memang terbilang tidak bagus. Ini terlihat dari berbagai acara televisi yang gaya humornya sangat vulgar.

Dengan tingkat pendidikan tinggi, kelas menengah kini menuntut jenis humor yang berkualitas. Ini terlihat dari perilaku social mereka yang mulai aktif membuat meme. Meme ini mencerminkan selera humor dan intelektualitas untuk menyindir terhadap suatu hal tertentu. Banyaknya meme adalah bentuk perilaku humorist pada kelas menengah dan Netizen. Ketika pada Pemilu Presiden 2014, mereka melakukan perang meme untuk mendukung capres pilihannya. Isi dari meme tersebut seringkali kutipan ucapan langsung, data informasi, history, gambar, dll, yang dikemas secara informatif dan jenaka. Mereka sebarkan meme itu melalui social media. Meme pun berlanjut menimpa sejumlah brand. Entah dikerjakan secara otonom oleh masyarakat sendiri ataupun sengaja dibuat tim advertising untuk mendorong awareness dan penjualan.

Maksin adalah contoh aktual yang menjadi bahan pergunjingan para Netizen di social media, sehingga brand awareness merek multivitamin asal Semarang itu melejit luar biasa. Namun, brand owner harus secara jeli dan hati-hati memanfaatkan selera humor kelas menengah ini supaya tidak menjadi backfire dalam black campaign. Contoh mengenai ini adalah Klinik Tongfang yang menjadi bahan olok-olokan di social media.

Spiritual Benefit
Banyak brand-brand sukses mengincar kelas menengah. Mereka melakukan komunikasi pemasaran untuk menawarkan spiritual benefit. Mengapa? Kelas menengah telah memiliki kesadaran beragama yang tinggi, sehingga setiap keputusan pembelian sangat ditentukan oleh spiritual benefit. Dalam bukunya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014), Yuswohady menyebutkan ada tiga jenis value:functional, emotional, dan spiritual, seperti tergambar dalam matriks di bawah ini. Kini, sebagian besar kelas menengah mengejar ke semua jenis value itu.

2

Wardah adalah contoh brand yang mampu memanfaatkan momentum ketika spiritual benefit jadi faktor pertimbangan dalam pembelian kelas menengah Indonesia. Dengan strategi komunikasi pemasaran sebagai kosmetik muslimah dan halal, maka brand awareness dan penjualan brand Wardah melesat tajam. Kini, tidak hanya Wardah saja yang mengincar segmen muslim di kategori produk sama, antara lain Mazaya, Sariayu Hijab, Zoya, Sophie Paris, dll. Saking hotnya segmen muslim, beberapa global brand seperti Ponds, Loreal, Revlon, dll. Salon muslim pun bermunculan seiring tuntutan spiritual benefit seperti Moz5.

Hotnya segmen muslim ini bisa juga kita lihat dari berbagai kategori produk lain seperti perbankan syariah, asuransi, fesyen, hotel, dll. Hotel syariah adalah kategori industri baru, di mana semua jenis layanan hotel mengikuti kaidah-kaidah keislaman, umpamanya Hotel Sofyan. Contoh lainnya adalah mal-mal tempat belanja kini menyediakan fasilitas ibadah sholat yang bagus. Seiring tuntutan kelas menengah muslim, mal-mal besar di Jakarta menyediakan tempat sholat yang bagus, sehingga orang-orang berbelanja pun merasa nyaman karena tanpa harus meninggalkan kewajiban beragama. Ini menciptakan kultur baru: hidup konsumtif tanpa risau meninggalkan ibadah. Misalnya Mal Kelapa Gading, Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Pondok Indah, dll., yang menyediakan mushola dengan fasilitas bagus.

Sustainability Awareness
Kelas menengah makin sadar lingkungan atau keberlangsungan bumi yang ditinggali. Ketika kondisi bumi semakin rusak, mereka pun mulai melirik produk-produk yang dinilai ramah lingkungan. Banyak produk yang mulai mem-positioning-kan brand-nya ramah lingkungan, hasil daur ulang, dan aman digunakan. Tupperware adalah contoh produk yang banyak dipakai karena dinilai ramah lingkungan, karena raw material berbagai produknya terdiri dari recycle bahan-bahan plastik bekas.

Selain produk, para brand owner pun kian sadar untuk menciptakan komunikasi program pemasaran yang mempromosikan produknya ramah lingkungan. Iklan-iklan Chevron kini bermuatkan mengenai kegiatan eksplorasinya yang ramah lingkungan. Meskipun produk-produknya sudah jelas merusak lingkungan, tetapi karena kelas menengah memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, maka mereka pun menggunakan tema kampanye ini agar bisa diterima segmen ini. Begitupun Aqua melakukan kampanye lingkungan yang notabene ingin dipersepsikan sebagai perusahaan ramah lingkungan. Mereka mengampanyekan keseimbangan alam dan membuang botol pada tempatnya agar mudah didaur ulang.

Baru-baru ini, Unilever pun membuat iklan Project Sunlight dengan menampilkan sosok anak muda perempuan yang peduli terhadap isu lingkungan. Dengan menampilkan Martin Luther King dan Ki Hadjar Dewantara, apabila dahulu perjuangan para pemimpin politik adalah persamaan hak dan demokrasi, kini anak muda harus memperjuangkan lingkungan. Iklan ini terbilang menarik dan bisa menggugah. Mereka sukses dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Health Consciousness
Bisnis tentang preventif kesehatan kian menggiurkan. Mengapa? Kelas menengah semakin merasa penting atau sadar kesehatan. Gaya hidup mereka didorong oleh gaya hidup sehat. Produk makanan-minuman sehat sukses luar biasa. M ereka kian menjauhi berbagai produk makanan-minuman yang mengandung minyak, gula, karbohidrat tinggi, pemanis, dll., terlalu tinggi. Mereka mulai beralih pada produk makanan organik, rendah kalori, minuman rendah gula, dan lainnya. Mereka pun mulai rajin mengonsumsi makanan-minuman berbasis buah-buahan.

Kini, apabila kita perhatikan product display di berbagai ukuran modern retail, akan terlihat banyak buah-buahan yang ditampilkan di pusat perbelanjaan modern kecil hingga besar. Mengapa? Kelas menengah kian sadar mengonsumsi berbagai produk buah-buahan segar seperti jeruk, apel, mangga, anggur, pisang, pepaya, salak, manggis, dan lain-lain. Oleh karena itu, kita melihat makin maraknya modern retail yang menjajakan buah-buahan. Bahkan, ada modern retail yang secara khusus menjual buah-buahan seperti Buah Segar, All Fresh, Total Fresh, Fruit Market, Moena Fresh, Farmer Market, dan lainnya.

Saking tingginya kesadaran mengonsumsi buah-buahan, baik berupa buah langsung maupun menjadi olahan makanan, telah menciptakan demand yang tinggi sehingga impor pada kategori produk ini tidak terhindarkan. Ini terlihat dari data laporan USAID bahwa nilai impor produk holtikultura di Indonesia makin besar setiap tahunnya. Pada tahun 2011, tercatat nilai impor buah-buahan mencapaiUS$800 juta, naik 24% dari tahun 2010. Sementara itu, nilai ekspor buah-buahan dalam negeri ke negara lain adalah US$45 juta. Dengan kata lain, permintaan buah-buahan impor yang tinggi telah menciptakan defisit neraca perdagangan.

Di samping itu, kelas menengah pun mulai mengonsumsi multivitamin, rajin berolahraga, dan rutincek kesehatan. Ini terlihat dari makin banyaknya iklan brand multivitamin di televisi seperti Fatigon, Mastin, Scott Emulsion, Cerebrofit, dll. Dalam hal olahraga, setidaknya kita melihat jenis olahraga urban nan simpel khas kelas menengah sangat digandrungi seperti senam atau lari jogging danmarathon di berbagai taman kota atau jalan utama kota (car free day), gemarnya orang bermain futsalsehingga menjamur tempat penyewaan lapangan olahraga ini, dan kian digemarinya yoga atau belly dance untuk membakar kegemeukan perut.

Program olahraga pun menjadi program yang banyak dipakai dan digunakan oleh brand-brand besar sebagai community activation para konsumennya. Meskipun tidak berkaitan core business-nya, Bank Mandiri membuat program Mandiri Marathon sebagai upaya membangun keintiman atau menggaet nasabah baru untuk menggunakan Bank Mandiri. Program ini cukup sukses luar biasa karena peserta yang mengikuti Mandiri Marathon sangat antusias dan dari berbagai kalangan.

Optimist
Tingkat consumer confidence kelas menengah tinggi. CMCS dan McKinsey melihat tingkat kepercayaan diri terhadap masa depan yang akan dilalui cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei CMCS ditemukan bahwa tingkat kepercayaan diri konsumen dalam menghadapi masa depan sangat tinggi. Artinya, mereka sangat optimis dalam menghadapi masa depan secara lebih baik. Mengapa bisa demikian? Ini tidaklah lepas dari tingkat kepuasaan dan kenyamanan masa sekarang. Umumnya mereka telah merasa puas dengan pencapaian ekonominya di masa sekarang. Dengan merasa puas saat ini, maka mereka pun semakin pede menghadapi masa depan.

Berdasarkan survei yang dilakukan CMCS pada 2013 ditemukan bahwa konsumen kelas menengah menilai kondisi kehidupannya saat ini lebih baik daripada 10 tahun lalu. 63,3% responden mengatakan lebih baik, dan 27,2% merasa lebih baik sekali. Dengan kata lain, mereka menilai bahwa kondisi ekonomi saat ini jauh lebih baik daripada masa lalu. Bahkan, ketika ditanya tingkat kebahagiaan, 64,6konsumen kelas menengah mengatakan bahagia, 18,3% sangat bahagia, dan hanya 10,6% yang mengatakan merasa cukup bahagia.

Di samping itu, mereka memiliki keyakinan akan perbaikan ekonomi di masa mendatang jauh lebih baik daripada saat ini. Hampir sebagian besar konsumen kelas menengah berkeyakinan bahwa ekonomi di masa mendatang lebih baik daripada saat ini. 74,6% mengatakan optimis, 13% sangat optimis, dan yang pesimis hanya 7,7%. Dengan melihat tren optimisme dan kepercayaan diri konsumen kelas menengah Indonesia terhadap kondisi ekonomi di masa depan, maka semakin menguatkan bahwa kesejahteraan dan kebaikan hidup akan diraih. Melihat tingkat consumer confidence yang tinggi ini, kami pun sangat yakin akan dapat menjadi peluang bagus bagi marketer.

SOCIAL CONNECTION
Social connection adalah dimensi baru dalam karakteristik konsumen kelas menengah Indonesia. Ini adalah cerminan mobilitas sosial kelas menengah. Social connection menyebabkan pergaulan kelas menengah kian meluas. Dengan platform teknologi, mereka memiliki pergaulan yang kian meluas, tidak hanya di lingkup keluarga, melainkan juga tingkat nasional dan global. Munculnya kebutuhan koneksi sosial ini tidak lepas dari telah terpenuhinya kebutuhan dasar (basic needs). Berdasarkan teori Hierarchy of Needs Abraham Maslow bahwa tatkala kelas menengah sudah melampaui kebutuhan dasar, maka praktis mereka memerlukan social needs. Social needs ini secara ringkas adalah kebutuhan koneksi sosial seperti cinta, relationship, penghargaan, social status, social image, self-expression, dll.

Dengan majunya perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi, membuat social needs pun kian terealisasi dan booming di Tanah Air, sehingga fenomena social connection kelas menengah pun semakin tinggi. Ini bisa kita lihat bagaimana para ibu mulai banyak berkarir di dunia profesional ataupun bisnis. Jika dahulu mayoritas perempuan hanya mengurusi dapur, sumur dan kasur, kini mereka bisa mengekspresikan diri sebagai wanita karir. Mereka rutin menggunakan mobil pribadi dan alat komunikasi untuk menunjang relationship dan karir. Kalaupun ada yang memilih menjadi ibu rumah tangga, tak jarang kaum hawa menjadi mompreneur dengan cara berjualan online di rumah sekaligus mengasuh dan mendidik anak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa social connection kelas menengah semakin tinggi.

Di samping itu, teknologi komunikasi seperti smartphone, PC tablet, dan laptop memungkinkan mereka terkoneksi sosial secara virtual. Mereka aktif menggunakan Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll., untuk kebutuhan relationship sekaligus mencari penghargaan dari komunitasnya. Social media memungkinkan konsumen kelas menengah untuk bisa bernasis-ria, sehingga mereka pun mendapatkan apresiasi oleh teman-temannya. Ini adalah bentuk kebutuhan baru. Rasanya tidak lengkap apabila mengunjungi suatu destinasi baru tanpa dipamerkan (image-seeker) di social media, sehingga mereka mendapatkan apresiasi. Munculnya fenomena kebutuhan social needs inilah yang mendorong terjadinya revolusi social media di Indonesia.

Terjadinya revolusi social media ini yang menyebabkan banyak brand owner untuk mengembangkan online marketing strategy secara komprehensif agar mampu menciptakan engagement dengan konsumennya ataupun customer community. Beberapa brand secara cemerlang merancang strategi pemasaran online agar bisa membentuk viral marketing secara C2C atau P2P. Dengan cara horizontal marketing ini, maka hal ini diharapkan bisa mendorong brand awareness, customer loyalty, dan berujung pada penjualan produk yang laris.

Meskipun terjadi revolusi social media di Tanah Air, hal ini menciptakan kondisi kontradiksi di kalangan kelas menengah sendiri. Ketika mereka semakin high socially-connected, mereka pun semakin intim dengan lingkungan sosial terkecilnya seperti keluarga. Di tengah semakin pesatnya karir yang dicapai ataupun semakin luas pergaulan kelas menengah, mereka pun kian makin peduli terhadap keluarganya. Inilah yang saya sebut fenomena family-oriented. Preferensi pembelian pada segmen ini kian sangat bergantung pada keluarga.

Bisa kita lihat dalam fenomena sehari-hari ungkapan, “berapapun uang yang harus dikeluarkan, keluarga adalah nomer 1”. Misalnya, demi keluarga bisa berlibur rutin, kelas menengah siap mengeluarkan uang untuk beli mobil. Contoh lainnya adalah anak merupakan prioritas utama di dalam segmen keluarga. Demi anak, mereka mengeluarkan uang banyak untuk kebutuhan senang-senangnya (dibelikan gadget), pendidikan (disekolahkan di institusi ternama), dan liburan (diajak ke berbagai destinasi wisata yang menarik). Dengan demikian, produk-produk yang mengincar segmen keluarga pun sukses luar biasa.

Image-Seeker
Kini, kelas menengah kian sadar image atau pencitraan. Setiap yang mereka beli atau lakukan selalu diperhitungkan dengan image yang akan didapat. Apa yang dimaksud dengan image di sini adalah penerimaan pesan dari kita mengenai keinginan mencitrakan diri. Setiap orang berusaha membangun “citra” dengan serangkaian tindakan yang dilakukan. Dalam konsep kajian postmodern, inilah yang disebut dengan imagologi. Tetapi, secara sederhana, bisa kita pakai terminologi “image-seeker” untuk tindakan-tindakannya.

Umpamanya, dalam lingkungan sosial masyarakat kita, social status merupakan hal penting di mata individu-individu masyarakat. Mereka kerap melihat tindakan orang-orang atas dasar apa yang diperbuat, dikonsumsi, dan apa yang dimiliki. Oleh karena itu, ketika mereka melakukan kegiatan apapun, mengonsumsi apapun, dan memiliki hal tertentu, yang ingin dipamer kepada komunitas terdekatnya. Mereka ingin dipandang sebagaimana yang diinginkannya. Terlebih, dengan platform social media yang kian masif, maka ini turut menentukan image-seeker cepat merajalela. Mereka ingin ngeksis dan narsis di social media.

Mereka menggunakan global brand demi image yang modern dan gaul. Dengan platform social media yang kompleks, mereka kian sadar untuk mencari image di hadapan komunitas atau audience-nya. Setiap kali mengonsumsi dan melakukan apappun, kelas menengah kerap pamer di social media. Kesuksesan para global brand di mata kelas menengah karena mereka mampu mengadopsi gaya hidup kelas menengah yang suka pamer.

Salah satu industri yang menikmati gaya hidup image-seeker kelas menengah adalah kafe, resto, barang elektronik, ataupun kedai junkfood. Ketika daya beli mulai menanjak dan ada keinginan untuk dilihat orang, mereka pun mengonsumsi makanan-minuman atau barang yang dinilai memberikan imej modern dan global. Mengapa industri junkfood mulai melirik second cities? Di tengah euforia gaya hidup konsumtif kelas menengah di berbagai kota, mereka membutuhkan kedai tempat mereka makan-minum sekaligus memberikan imej modern dan gaul. Ini terlihat mengapa pembukaan pertama J.Co di Jogja sangat ramai. Begitupun McDonald, KFC, dan Starbucks diserbu. Selain itu, dari sisi perkakas pun mereka mulai menggantikannya dengan modern appliance dan branded sepertiSamsung, LG, Sharp, Polytron, IKEA, dll. Mereka mulai membeli kulkas, AC, TV layar datar, kitchen set, blender, dll. Mengapa? Mereka tidak ingin tampilan rumahnya terkesan jadul dan tidak modern.

Digitally-Connected
Penetrasi internet dan smartphone kian tinggi. Kelas menengah sudah melek internet dan ngeksis di social media. Banyak brand-brand melakukan kampanye melalui social media. Ini karena dipandang memiliki dampak yang luar biasa dari migrasi besar-besaran masyarakat Indonesia ke internet.

Melihat penetrasi internet di Indonesia kian tinggi. Ini terlihat dari naiknya jumlah populasi pengguna internet dan smartphone user. APJI menyebutkan bahwa pada tahun 2013 jumlah pengguna internet mencapai 71,9 juta jiwa, naik 13% dari tahun sebelumnya yakni 63 juta jiwa. Ini berarti 28% dari total populasi penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Selain populasi pengguna internet yang tinggi, pengguna smartphone pun lebih tinggi. AC Nielsen menyebutkan tahun lalu penetrasi smartphone di Indonesia mencapai 23%, tapi tahun ini situs The Statistics Portal menyebutkan tembus angka 40% dari total populasi Indonesia. Pertumbuhan per tahun pengguna smartphone bisa mencapai 24%.

Tingginya populasi pengguna internet dan smartphone membuat para global brand yang bermain di sektor start-up dan perangkat keras jaya-raya di negeri ini. Untuk kategori device, kita bisa melihat intensifnya iklan-iklan pemilik brand smartphone seperti Samsung, LG, Oppo, Xiaumi, Lenovo, Advan, Asus, dan lainnya. Sementara itu, dari sisi start-up, kita lihat intensifnya iklan Line, online shop, online travel agent, konsultasi kesehatan, dll. Ini menandakan bahwa mereka mengincar pasar kelas menengah yang sudah digital native dan online-minded.

Family-Oriented
Keluarga adalah segalanya. Setiap kali membeli suatu produk, mereka sangat memperhatikan kebermanfaatan untuk keluarga. Untuk itu, tidak jarang bahwa setiap faktor pembelian barang sangat ditentukan oleh keluarga.

Kesuksesan pasar mobil MPV dan LCGC di Indonesia tidak lepas dari nilai-nilai family-oriented. Nav Karaoke dan Inul Vista tumbuh pesat di mana-mana karena menjadi alternatif hiburan keluarga.Tropicana Slim membuat tema kehidupan keberlangsungan keluarga agar terhindar dari penyakit diabetes turunan. Energen menampilkan iklan harmonis kehidupan keluarga di pagi hari yang semuanya serba sibuk sehingga cukup memerlukan sarapan instan. Bila kita perhatikan, ada banyak komunikasi iklan yang ditujukan untuk segmen keluarga.

Mengapa bagi para brand owner segmen keluarga penting? Pertama, segmen keluarga adalah segmen yang hot. Segmen ini siap mengeluarkan uang berapapun demi kehidupan keluarga. Kedua, segmen keluarga cenderung bisa dikatakan sangat loyal. Ibu adalah pemegang peranan penting dalam segmen keluarga. Produk toiletries, makanan-minuman, bumbu masak, kendaraan, barang elektronik, dan lainnya.

Kids Are Everything
Dahulu, saya ingat bahwa ibu saya cukup pelit untuk membeli mainan untuk anak-anaknya. Kini, para ibu sangat boros membelanjakan uangnya demi anak. Para ibu masa kini selalu memenuhi jenis mainan yang diinginkan oleh anak. Bahkan, mereka pun kerap memberikan mainan yang belum tentu dibutuhkan anak, tapi diberikan atas dasar rasa sayang. Umpamanya, saat ini kita mulai lumrah melihat perilaku bapak-ibu memberikan pada anak-anaknya untuk menggunakan ponsel pintarataupun tablet PC untuk para anaknya.

Mengapa para orang tua sudah sangat menyayangi anak-anaknya? Hasil studi kualitatif CMCS menemukan bahwa ini tidaklah lepas dari kompensasi kepada anak atas sedikitnya waktu yang diberikan pada buah hatinya. Waktu para orang tua kini banyak dihabiskan di tempat kerja, sementara anak-anak diarahkan menghabiskan waktunya untuk belajar. Terbatasnya waktu untuk bercengkrama dan perubahan gaya hidup membuat orang tua semakin permisif terhadap anak untuk menggunakan tablet PC. Bagi mereka, ini adalah cerminan rasa sayang pada anak.

Rasa sayang pada anak itu juga tercermin dalam pemilihan tempat belajar atau sekolah bagi anak-anaknya. Dewasa ini, banyak sekolah global dan pendidikan yang menjawab kebutuhan para orang tua didirikan. Sekolah internasional ataupun sekolah Islam plus menjadi cerminan betapa para orang tua menginginkan agar anak-anaknya sekolah di tempat terbaik.

Selain itu, asupan gizi untuk anak-anak semakin jauh lebih baik daripada dahulu. Para orang tua sangat memperhatikan bagaimana kebutuhan asupan gizi anak-anak dalam sehari-hari. Ini terlihat dari data semakin tingginya konsumsi gandum, kacang kedelai, susu, daging, yang terjadi pada anak-anak dewasa ini. Dengan memberikan gizi yang baik, mereka berharap anak-anaknya akan tumbuh jauh lebih sehat dan pintar. Untuk itu, mereka tidak akan eman mengeluarkan uang demi kebutuhan anak-anaknya.

The Power of Peers
Teman atau kolega jadi salah satu pendorong penting dalam keputusan pembelian. Kelas menengah kerapkali mengikuti saran dari teman. Teman atau keluarga jadi faktor penting karena dianggap bisa dipercaya. Brand-brand pun kerap memanfaatkan strategi membangun komunitas sebagai channel atau strategi komunikasi pemasaran yang impactful.

Melihat segmen anak muda dan perempuan yang tertinggi dalam struktur demografi Indonesia, kita lihat bagaimana para brand owner melakukan community activation terhadap segmen ini. Beberapa brand seperti makanan-minuman, entertainment, rokok, dan lainnya, adalah contoh brand yang melakukan community activation.

Anak muda adalah jenis konsumen yang sedang labil dalam mencari “meaning of life” atau “jatidiri hidup”. Dalam transformasi mencari makna hidup itu, mereka sangat bergantung pada teman, komunitas ataupun peers. Di tengah mencari role model, teman adalah sumber mirroring perilaku kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, ciri penting hidup anak muda adalah berkelompok dengan teman-temannya. Untuk itu, beberapa segmen yang mengincar anak muda menggunakan community activation anak-anak muda.

Selain anak muda, para mahmud (mamah muda) ibu rumah tangga pun menjadi segmen hot yang sangat bergantung pada peers. Di tengah-tengah kesibukannya mengurus anak, mereka hidup berkelompok untuk mengisi waktu luang bersama para mahmud lainnya. Umumnya, mereka aktif di komunitas arisan, ngobrol ngalor-ngidul di kafe, dan lainnya. Mereka adalah driver bisnis MLM Tupperware, online shop, produk asuransi, dll.

Suksesnya marketing Line di tanah air tidaklah lepas dari peers power. Kini, dengan perangkat teknologi dan social media yang canggih memungkinkan orang untuk bisa reuni dengan teman sekolah. Line sebagai social media tool dan menciptakan iklan kembalinya Rangga ke Tanah Air menghasilkan efektivitas kampanye yang luar biasa.

 

Siap-siap
Konsumen kelas menengah adalah segmen paling menguntungkan saat ini. Data terakhir dari Bank Dunia 2010, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 132 juta jiwa dengan daya beli US$2-20, dan setiap tahun jumlahnya meningkat 9 juta jiwa. Ini adalah pasar besar. Oleh karena itu, pahami dan kenali perilakunya, dan petakan strategi untuk membidiknya. Ke-16 tren di atas adalah salah satu panduan untuk memahami perilaku kelas menengah guna memetakan strategi dalam menghadapi tahun 2015 nanti. Dalam menyambut tahun depan, bersiap-siaplah mengambil peluang dari segmen paling profitable ini.

 

Sumber : http://iryanah.com/indonesia-middle-class-consumer-trends-2015/

Matriks Boston Consulting Group : sebuah pendekatan untuk identifikasi penyertaan modal pada sebuah divisi bisnis

BCG

Matriks BCG secara grafis menunjukkan perbedaan di antara berbagai divisi dalam posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri. Matriks BCG memungkinkan organisasi multidivisi untuk mengelola portofolio bisnisnya dengan mempertimbangkan posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri dari masing-masing divisi relatif terhadap divisi lain dalam organisasi. Posisi pangsa pasar relatif (relative market share) didefinisikan sebagai rasio dari pangsa pasar satu divisi tertentu terhadap pangsa pasar yang dimiliki oleh pesaing terbesar dalam industri tersebut. Pangsa pasar relatif dapat ditentukan menggunakan rumus berikut: Semakin tinggi nilai pangsa pasar suatu perusahaan, semakin besar proporsi pasar yang dikendalikannya. Posisi pangsa pasar relatif diberikan pada sumbu x dari matriks BCG. Titik tengah dari sumbu x biasanya dibuat 0,50 atau sama dengan divisi yang memiliki separuh pangsa pasar dari perusahaan pemimpin dalam industri.Sumbu y menggambarkan tingkat pertumbuhan industri dalam penjualan yang diukur dalam bentuk persentase. Persentase tingkat pertumbuhan pada sumbu y dapat berkisar antara -20 hingga +20 persen, dengan 0,0 sebagai titik tengah. Angka kisaran ini pada sumbu x dan y seringkali digunakan, tetapi angka lainnya dapat dibuat bila dianggap sesuai untuk organisasi tertentu. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan industri (market growth rate) dapat digunakan rumus berikut: Industri dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi menunjukkan ketersediaan pangsa pasar yang meluas, dan terdapat banyak peluang untuk mereguk keuntungan.

  • Matriks Boston Consulting Group (BCG)

Matriks BCG adalah perangkat strategi untuk memberi pedoman pada keputusan alokasi sumber daya berdasarkan pangsa pasar dan pertumbuhan UBS.Matriks BCG merupakan empat kelompok bisnis, yaitu :

  1. Tanda tanya (Question Mark) Divisi dalam kuadran I memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah, tetapi mereka bersaing dalam industri yang bertumbuh pesat. Biasanya kebutuhan kas perusahaan ini tinggi dan pendapatan kasnya rendah. Bisnis ini disebut tanda tanya karena organisasi harus memutuskan apakah akan memperkuat divisi ini dengan menjalankan strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk) atau menjualnya.
  2. Bintang (Star) Bisnis di kuadran II (disebut juga Bintang) mewakili peluang jangka panjang terbaik untuk pertumbuhan dan profitabilitas bagi organisasi. Divisi dengan pangsa pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan industri yang tinggi seharusnya menerima investasi yang besar untuk mempertahankan dan memperkuat posisi dominan mereka. Kategori ini adalah pemimpin pasar namun bukan berarti akan memberikan arus kas positif bagi perusahaan, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk memenangkan pasar dan mengantisipasi para pesaingnya. Integrasi ke depan, ke belakang, dan horizontal, penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan joint venture merupakan strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan divisi ini.
  3. Sapi perah (Cash Cow) Divisi yang berposisi di kuadran III memiliki pangsa pasar relatif yang tinggi tetapi bersaing dalam industri yang pertumbuhannya lambat. Disebut sapi perah karena menghasilkan kas lebih dari yang dibutuhkanya, mereka seringkali diperah untuk membiayai untuk membiayai sektor usaha yang lain. Banyak sapi perah saat ini adalah bintang di masa lalu, divisi sapi perah harus dikelola untuk mempertahankan posisi kuatnya selama mungkin. Pengembangan produk atau diversifikasi konsentrik dapat menjadi strategi yang menarik untuk sapi perah yang kuat. Tetapi, ketika divisi sapi perah menjadi lemah, retrenchment atau divestasi lebih sesuai untuk diterapkan.
  4. Anjing (Dog) Divisi kuadran IV dari organisasi memiliki pangsa pasar relatif yang rendah dan bersaing dalam industri yang pertumbuhannya rendah atau tidak tumbuh. Mereka adalah anjing dalam portofolio perusahaan. Karena posisi internal dan eksternalnya lemah, bisnis ini seringkali dilikuidasi, divestasi atau dipangkas dengan retrenchment. Ketika sebuah divisi menjadi anjing, retrenchment dapat menjadi strategi yang terbaik yang dapat dijalankan karena banyak anjing yang mencuat kembali, setelah pemangkasan biaya dan aset besar-besaran, menjadi bisnis yang mampu bertahan dan menguntungkan.

Kelebihan Matriks BCG

Matriks BCG adalah salah satu alat pembuat keputusan yang paling mudah. Hanya dengan membaca grafiknya, orang akan dapat dengan mudah melihat di posisi manakah perusahaan mereka berada. Matriks ini memusatkan perhatian pada arus kas, karakteristik investasi, dan kebutuhan berbagai divisi organisasi. Divisi dapat berubah dari waktu ke waktu: anjing menjadi tanda tanya, tanda tanya menjadi bintang, bintang menjadi sapi perah, dan sapi perah menjadi anjing. Namun yang jarang terjadi adalah perubahan yang searah jarum jam.

Kelemahan Matriks BCG

Hanya menggunakan dua dimensi yaitu pangsa pasar relative dan tingkat pertumbuhan pasar. Kemungkinan sulit mendapatkan data pangsa pasar maupun tingkat pertumbuhan pasar. Terlalu menyederhanakan banyak bisnis karena memandang semua bisnis sebagai bintang, sapi perah, anjing atau tanda tanya. Dalam metode ini, diasumsikan bahwa setiap unit bisnis tidak tergantung pada unit bisnis lain, padahal dalam beberapa kasus, unit bisnis “anjing” bisa membantu unit bisnis lain untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Matriks ini tidak menggambarkan apakah berbagai divisi atau industri mereka bertumbuh sepanjang waktu, sehingga matriks ini tidak memiliki karakteristik waktu, sehingga terdapat variabel lain yang penting seperti ukuran pasar dan keunggulan kompetitif. Matriks sangat bergantung pada luasnya definisi pasar. Suatu unit bisnis dapat mendominasi pada pasar yang kecil, tetapi memiliki pangsa pasar sangat rendah dalam industri secara keseluruhan. Dalam kasus seperti itu, definisi dari pasar dapat membuat perbedaan antara “anjing” dan “sapi perah”.

 

Sumber : http://sarilovely.blogspot.co.id/2010/06/boston-consulting-group-bcg.html

McKinsey 7S Framework : sebuah model manajemen untuk melihat efektifitas sebuah organisasi

Kerangka 7S dari McKinsey atau yang lebih dikenal dengan McKinsey 7S Framework adalah sebuah model manajemen untuk melihat seberapa efektif organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Memang ada beberapa model dan analisa yang dapat digunakan untuk menentukan di posisi mana organisasi kita berada. Baik itu menggunakan analisa eksternal, internal atau pun keduanya. Salah satu model yang diyakini dan bertahan sampai hari ini dengan menggunakan pendekatan internal adalah 7S framework dari McKinsey.

Untuk mencapai kesuksesan manajemen harus memperhatikan tujuh faktor ini agar pelaksanaan strategi dapat berhasil. Memang tidak semua bobot dari 7S ini sama dalam suatu organisasi. Tetapi, bukan berarti jika hal itu kurang penting maka dapat diabaikan. Besar atau kecil, dalam 7S faktornya saling tergantung sehingga jika kita gagal untuk memberikan perhatian yang tepat maka akan mempengaruhi yang lainnya. Selain itu, fokus perusahaan akan mempengaruhi tingkat kepentingan relatif dari setiap faktor 7S ini dari waktu ke waktu.

7S dikembangkan pada awal 1980-an oleh Tom Peters dan Robert Waterman dua orang konsultan yang saat itu bekerja di perusahaan konsultan McKinsey Company. Premis dasar dari model ini adalah bahwa ada tujuh aspek internal dari sebuah organisasi yang perlu diselaraskan jika ingin mencapai kesuksesan.

7S dapat digunakan untuk:
– Meningkatkan kinerja perusahaan.
– Meneliti efek kemungkinan perubahan masa depan terhadap perusahaan.
– Menyelaraskan departemen-departemen dan proses-proses yang digunakan selama merger atau akuisisi.
– Menentukan cara terbaik untuk menerapkan strategi yang akan dijalankan

Dalam 7S ada 7 faktor yang masing-masing saling tergantung yang dikelompokkan menjadi Soft & Hard elements.
Soft Elements lebih sulit dideskripsikan, less tangible dan dipengaruhi budaya, yaitu : Shared Values, Skills, Style, Staff. Hard Elements lebih mudah didefinisikan dan ditentukan dan manajemen dapat langsung mempengaruhinya, yaitu: Strategy, Structure, Systems

Strategy: Rencana yang dirancang untuk mempertahankan dan membangun keunggulan kompetitif dalam persaingan.
Strategi suatu organisasi dimaksudkan agar organisasi dapat memiliki arahan yang jelas dan tegas tentang cara-cara yang dipakainya untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Tanpa strategi yang jelas, setiap organisasi akan berada pada kondisi seperti kapal yang berlayar tanpa pernah tahu ke mana akan berlabuh. Dalam organisasi bisnis, strategi merefleksikan kajian yang akurat tentang lingkungan bisnis, terutama aktivitas saat ini dan akan datang dari para pesaing.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa strategi kita?
– Bagaimana kita akan mencapai tujuan kita?
– Bagaimana cara kita menghadapi tekanan lingkungan kompetisi (competitive pressure)?
– Bagaimana cara kita menangani perubahan permintaan konsumen (changes in customer demands)?
– Bagaimana strategi ‘disesuaikan’ dengan isu lingkungan?

Structure:cara organisasi yang secara sistematis mengatur siapa melapor kepada siapa.
Struktur organisasi sangat berpengaruh dalam kinerja sehari-hari. Struktur dibuat sesuai dengan kebutuhan organisasi yang ada. Struktur yang tepat akan membuat komunikasi menjadi efektif dan keputusan dapat dibuat dengan cepat dan tepat.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Bagaimana perusahaan / tim dibagi?
– Apa saja tingkatannya?
– Bagaimana mengkoordinasikan kegiatan berbagai departemen?
– Bagaimana anggota tim mengatur dan menyesuaikan diri?
– Apakah pengambilan keputusan dan pengendalian terpusat atau desentralisasi?
– Dimana saja jalur komunikasi? Eksplisit dan implisit?

System: prosedur untuk mengatur aktivitas yang dijalankan yang melibatkan anggota organisasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Jika sebuah perusahaan mempunyai sistem yang baik, maka akan sangat memudahkan bagi perusahaan tersebut untuk melakukan operasional sehari-hari. Sistem ini termasuk berbagai hal yang menyangkut perencanaan, implementasi, kontrol dan evaluasi, anggaran, dan penghargaan.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa sistem utama yang menjalankan organisasi?
– Di mana saja letak peran kontrol dalam organisasi? Bagaimana peran kontrol di monitor dan di evaluasi?
– Aturan dan proses apa yang dipergunakan agar tetap on track?

Shared Values: nilai-nilai inti perusahaan yang telah menjadi budaya.
Merupakan suatu guideline bagi para anggota organisasi untuk tumbuh dan berkembang. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa nilai-nilai inti perusahaan? (core values)
– Apa saja budaya perusahaan?
– Seberapa kuat nilai-nilai ini diterapkan?

7s

Style: Gaya kepemimpinan yang digunakan.
Style merujuk kepada gaya kepemimpinan yang digunakan dalam organisasi. Gaya manajemen (kepemimpinan) organisasi merupakan hasil perpaduan antara kelima elemen lainnya. Elemen-elemen tersebut menentukan gaya kepemimpinan seperti apakah yang paling tepat agar organisasi dapat mencapai sasaran dan tujuannya secara efektif dan efisien. Kepemimpinan yang tangguh pada semua lini, dan terutama pada jajaran top manajemen, akan memberikan dampak yang dramatis bagi peningkatan kinerja bisnis. Kepemimpinan yang tangguh ini juga diharapkan akan memberikan kontribusi penting bagi tumbuh dan mekarnya budaya organisasi yang berorientasi pada prestasi atau performance-based culture.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Seberapa sering gaya kepemimpinan ini digunakan?
– Seberapa efektif hasilnya?
– Apakah anggota tim menjadi lebih kooperatif atau kompetitif?

Staff: karyawan
Organisasi akan menentukan prasyarat orang-orang seperti apa yang dianggap sesuai dengan keberadaan dan tujuan organisasi. Sebagaimana diketahui, jika tujuan organisasi dan tujuan masing-masing individu di dalamnya tidak searah, maka akan sangat sulit bagi organisasi tersebut untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Spesialisasi apa yang harus ada dalam tim?
– Posisi apa yang harus diisi?
– Apakah ada kesenjangan kompetensi yang dibutuhkan?

Skills: Ketrampilan yang dibutuhkan organisasi.
Ketrampilan setiap individu di dalam organisasi merupakan unsur yang sangat penting bagi keberhasilan organisasi untuk mencapai sasaran dan tujuannya dengan efektif dan efisien. Karena itu, skills merupakan cerminan dari core competence organisasi, karena strategi yang disusun juga merupakan refleksi atas skills yang ada. Esensinya adalah bagaimana sebuah organisasi secara konstan mengembangkan ketrampilan (skills), sikap kerja dan pengetahuan para karyawannya.

Merujuk pada best practice di Asia, setiap perusahaan sebaiknya memberikan training minimal 40 jam (5 hari) setiap tahun kepada setiap karyawannya. Tentu saja pelatihan dan pengembangan skills ini selalu harus juga disertai dengan skema monitoring yang sistematis untuk memastikan bahwa skills itu bisa diaplikasikan untuk melejitkan kinerja bisnis.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Ketrampilan apa yang paling kuat yang dimiliki tim /organisasi?
– Apakah ada kesenjangan keterampilan?
– Apakah karyawan saat ini / anggota tim memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang diberikan?
– Bagaimana kemampuan di monitor dan dan di nilai?

Model 7S ini dapat diaplikasikan untuk menjawab isu efektivitas di hampir semua jenis organisasi. Jika ada sesuatu yang ‘tidak bekerja sebagaimana mestinya’, maka dapat dipastikan ada ketidak konsistenan di antara elemen-elemen 7S yang ada.

 

Sumber  http://quickstart-indonesia.com/

Marketing Plan: the Good, the Bad, the Ugly

Jutaan dokumen marketing plan (MP) telah dibikin oleh para marketer tiap tahunnya. Dari sekian banyak dokumen tersebut ada yang dibikin karena si marketer memang merasa butuh, tapi ada juga yang dibikin karena itu merupakan kewajiban yang diberikan oleh si bos. Ada yang dibikin si marketer setelah mereka ikut seminar/kursus atau membaca sekian banyak buku bertopik “how to write an effective marketing plan”, tapi ada juga yang dibikin secara otodidak, pakai feeling, berdasarkan pengalaman sehari-hari kerja. Ada yang disusun secara formal, tersistem baik, dengan evaluasi terstruktur, tapi ada juga yang dibikin tak berpola dan hangat-hangat tahi ayam.

Dari semua MP yang telah diproduksi itu saya membaginya ke dalam tiga kelompok besar: the good, the bad, the ugly. MP yang bagus, yang buruk, yang jelek.

THE GOOD
Clear Direction. MP yang bagus selalu memberikan arahan yang jelas mengenai apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan di tahun di mana MP tersebut disusun. Ia memberikan arahan yang tegas mengenai mana yang menjadi prioritas dan mana yang  tidak. Di tengah lingkungan bisnis yang hypercompetitive fungsi MP sebagai arahan (strategic guidance) menjadi kian krusial. Kenapa begitu? Karena di dalam lingkungan yang demikian, sukses di pasar semakin menjadi moving target yang uncertain dan sulit ditebak ke mana larinya. Arahan yang harus ada di dalam MP itu antara lain: strategic intent atau inisiatif besar apa yang akan diambil; bisnis apa saja yang bakal dimasuki (“what the business are we in”); segmen mana yang akan menjadi target; bagaimana produk diposisikan; bagaimana sumber daya marketing harus dialokasikan, customer strategy apa yang mau diterapkan; dan sebagainya.

Strong Marketing Background: “Be Fact-Based”. MP yang bagus selalu down-to-earth dan tidak ngoyoworo. Artinya, MP harus mendasarkan diri pada data-data market yang riil, akurat, dan mutakhir. Menurut saya, kesalahan terbesar marketer dalam menyusun MP terletak kepada kemalasan mereka dalam melakukan analisis lingkungan bisnis (4C analysis: change, customer, competitor, company). Kenapa begitu? Karena proses ini melibatkan data dalam jumlah besar, memerlukan analisis yang jeli, dan umumnya sangat membosankan dan melelahkan. Inilah pekerjaan paling membosankan dari penyusunan MP. Celakanya, Anda tak akan bisa menyusun strategi pemasaran tanpa melakukan analisis lingkungan bisnis. Anda tak akan bisa menyusun taktik pemasaran tanpa tahu strategi pesaing, perilaku dan preferensi pelanggan, atau kondisi industri dan pasar.

Executable. Apa yang Anda tulis di dalam MP haruslah bisa dieksekusi di lapangan secara baik. Cirinya MP Anda dapat dieksekusi adalah bahwa target penjualan dan tujuan-tujuan pemasaran yang Anda tetapkan bisa dicapai secara baik. Bagaimana untuk bisa dieksekusi? Kuncinya Apa saja yang Anda rancang di MP Anda haruslah mencerminkan apa yang riil terjadi di pasar. Dalam menetapkan target penjualan misalnya, kalau penentuan target penjualan Anda dilakukan secara presisi dengan melihat berbagai ancaman dan peluang yang ada di pasar, serta melihat kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam organisasi, maka dengan sendirinya angka yang Anda tetapkan juga realistik, tidak mengawang-awang. Begitu pula, kalau strategi, taktik, dan program pemasaran disusun berdasarkan pengamatan yang jeli terhadap gerak pesaing dan kondisi riil pelanggan maka kemungkinan MP tersebut bisa tereksekusi lebih baik menjadi lebih tinggi.

Measurable. “We can not manage something if we can not measure it.” Itu ungkapan ampuh yang perlu ada di setiap MP. Ingat, kunci keberhasilan penyusunan MP terletak pada: Pertama, apakah Anda sudah menetapkan marketing objectives secara benar. Kedua, apakah Anda sudah menditelkan marketing objectives itu ke dalam key performance indicators (KPIs) yang terukur. Dan ketiga, apakah Anda bisa mewujudkan marketing objectives tersebut berdasarkan KPIs yang Anda tetapkan.

THE BAD
Kalau di atas kita bicara yang baik-baik, kini kita bicara kebiasaan marketer yang buruk. Banyak marketer yang menyikapi penyusunan MP sebagai menyusun “dokumen” (“plans document”), bukan menyusun “rencana aktivitas” (“planning activity”). Akibat pola pikir yang keliru ini, begitu MP jadi maka ia kemudian menjadi semacam “kitab suci” yang dikeramatkan, tak pernah disentuh, tak pernah direvisi, tak pernah diadaptasi. MP ini “ngendon” lama di perpustakaan perusahaan, dan baru keluar dari sarangnya saat datang “musim” bikin MP berikutnya, menjelang akhir tahun. Inilah, menurut saya, kesalahan terbesar marketer yang lain.

Mengenai ini, saya jadi ingat kata-kata ampuh, Dwight Eisenhower, salah satu presiden Amerika Serikat, “Plans are nothing, planning is everything”. “Plans” yang dimaksud Eisenhower tak lain, MP yang jadi kitab suci, sementara “Planning” adalah rencana aktivitas yang dieksekusi secara disiplin dan selalu direvisi dan diadaptasi sesuai perubahan situasi lingkungan bisnis.

Saya sering mengatakan bahwa MP adalah “living organism”. Maksudnya, MP haruslah selalu di-review dan diadaptasikan sesuai dengan perubahan yang terjadi di lapangan saat dieksekusi. Seperti halnya living organism, MP haruslah terus “belajar” mengikuti perubahan lingkungan bisnis yang ada. MP sebagai living organism ini menjadi kian relevan ketika kita saat ini mendapati lingkungan bisnis berubah demikian cepat, turbelen, dan tak menentu.

THE UGLY
Sisi buruk lain MP adalah adanya kenyataan banyak marketer yang merancang MP begitu rumit dan bertele-tele sehingga anak buahnya, para eksekutor nggak tahu apa maksudnya. MP haruslah sederhana, concise, dan berisi. “It must be simplify the complex things”, bukannya sebaliknya. Secanggih apapun MP yang Anda susun menjadi tak ada gunanya kalau si eksekutor tidak tahu apa maksudnya.

Berkaitan dengan ini saya sering mengatakan MP adalah “alat komunikasi”. Lho kok bisa? Ya, MP adalah alat komunikasi si marketing manager ke para anak buahnya sebagai eksekutor. MP adalah media untuk memindahkan isi otak si marketing manager ke otak anak buahnya. Agar MP terimplementasi secara benar maka ide-ide si marketing manager yang ada di dalam MP harus bisa tertransfer secara utuh ke para anak buahnya, ke para eksekutor di lapangan. Satu lagi, ini menjadi kelemahan banyak marketer dalam menyusun MP.

* Dimuat di Majalah MIX bulan September 2006

 

Sumber : yuswohady.com

L-N-I Marketing : Strategi Sukses Marketing menyambut Lebaran

lebaran.jpg

Lebaran sebentar lagi…. ini adalah salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Afgan dan Andien, yang tentunya akan marak bergema menjelang datangnya momen Hari Raya Idul Fitri.

Apakah dalam minggu-minggu ini anda sudah berkunjung ke pusat-pusat perdagangan/perbelanjaan ?

Pengalaman sedikit dari saya yang beberapa hari kemarin ke pusat perbelanjaan karena harus mengisi kebutuhan logisitik rutin bulanan. Disana sudah mulai ramai terpajang kurma dari berbagai macam merek, kualitas dan harga, selain itu beragam kue dan snack sudah ramai berjajar dan dipajang di depan kasir. Ingatkah anda iklan salah satu sirup di TV ? Sirup M**J**

Iklan iklan khas ini selalu marak menjelang datangnya ramadhan, tidak hanya sirup yang menjadi ciri khas sajian saat berbuka puasa dan atau minuman lebaran yang melejitkan aktifitas promosinya, namun juga pakaian, sandal, dan kue yang seolah menjadi paket yang wajib ketika menyambut lebaran, tak luput dari jasa TV sebagai media iklan yang sejauh ini menjadi media promosi paling di andalkan.

Sebut saja “L-N-I” Marketing, kepanjangan dari “Lebaran-Natal-Imlek” Marketing, untuk menandai strategi marketer dalam memanfaatkan tiga hari raya terbesar di negeri ini: Lebaran, Natal, dan Imlek. Kenapa tiga hari raya itu demikian penting bagi marketer? Ya karena memang di tiga hari raya besar itu “atmosfernya” adalah belanja, belanja, dan belanja. Seperti kita tahu, saat Lebaran  dan Natal/Tahun Baru adalah saat jatuhnya THR. Karena kantong tambah tebal, maka nafsu belanja pun tak bisa ditahan. Karena nafsu besar, maka di hari-hari istimewa ini pun mereka lebih gampang diyakinkan untuk berbelanja membeli produk Anda

Beragam upaya dilakukan marketer mulai dari memberi diskon gedhe-gedhean, merancang bulan promo, memberi hadiah, menggelar sayembara, mengusung pameran, sampai dengan memberi tumpangan mudik berkedok jualan. Coba saja lihat koran-koran di dua minggu masa puasa ini, hampir tiap hari didominasi oleh iklan-iklan promosi Lebaran. Pokoknya tak ada hari tanpa jualan. Inilah yang di dalam ilmu pemasaran sering disebut sebagai “seasonal marketing”

Berikut ini adalah tips-tips praktis saya agar program L-N-I Marketing Anda ampuh menghasilkan omset.

Tips #1: It’s a celebration. Ingat, spirit Lebaran, Natal, dan Imlek adalah perayaan: celebration. Karena itu seringkali konsumen berbelanja bukan karena mereka butuh produk yang dibeli, tapi lebih karena ingin merayakan Lebaran, Natal, dan Imlek. Consumer want to buy because of the “celebration”. Ibu-ibu misalnya, membabi buta berbelanja di saat lebaran lebih karena ingin menyenangkan anak-anak, kakek-nenek, dan segenap handai-taulan di hari yang fitri. Sebagai marketer Anda harus jeli melihat “spirit perayaan” ini. Berdasarkan perilaku beli seperti itu coba Anda rancang program-program “L-N-I” Marketing yang pas.

Tips #2: Not Only Discount! Be Creative! Karena kebanyakan orang membeli di hari Lebaran, Natal, dan Imlek dalam rangka memberikan hadiah dan menyenangkan orang lain, harga bukan menjadi pertimbangan utama bagi konsumen. Karena itu, sesungguhnya program diskon bisa dihindari agar profit Anda tak tergerus lebih dalam. Daripada menggelar diskon, akan lebih efektif jika Anda menciptakan program, “beli satu dapat satu lagi dengan harga separo” atau “beli satu dapat satu gratis sebagai hadiah”, atau bisa juga Anda menyisihkan sebagaian harga yang Anda tawarkan untuk kegiatan amal.

Tips #3: Be emotional. Orang selalu menggunakan kesempatan perayaan Lebaran, Natal, Imlek untuk menyatukan dan mengakrabkan seluruh anggota keluarga. Dalam perayaan lebaran misalnya, dikenal tradisi mudik di mana anggota keluarga yang terpisah-pisah berkumpul dan saling menghapus kangen. Karena itu Lebaran menjadi sebuah momen yang sangat emosional dan punya makna dalam bagi yang merayakannya. Karena latar belakang itu, program-program L-N-I Marketing Anda haruslah dirancang seemosional mungkin hingga menyentuh lubuk hati konsumen Anda yang paling dalam.

Tips #4: ”Timing is the key!!!” Ingat, Lebaran, Natal, dan Imlek berlangsung hanya sekali dalam setahun. Karena itu konsumen tak akan menunda keputusan untuk membeli apa-apa yang diperlukannya di hari raya. Kalau konsumen melihat momentum merupakan faktor yang penting dalam memutuskan pembelian, maka Anda sebagai marketer juga harus memiliki hal yang sama. Jadi ingat: ”Timing is the key!”

Empat tips di atas, adalah sebagian tips yang berguna bagi Anda para marketer dalam menghadapi “tiga bulan emas” Lebaran, Natal, dan Imlek.

Selamat bereksplorasi strategi menyambut Lebaran

Ide tulisan ini dirujuk dan disesuaikan dari tulisan bpk. Yuswohady

http://www.yuswohadi.com

Tentang Kualitas yang Terlupakan dari Seorang Steve Jobs

steve

Dalam sebuah wawancara mantan CEO Apple, Steve Jobs, pada tahun 1990, ia menceritakan pertemuannya dengan seorang Quality Guru, Joseph M Juran. Bagi Jobs, Juran adalah orang yang benar-benar memiliki pemikiran mengesankan tentang kualitas.

Jobs memetik banyak pelajaran darinya dan berbagi tentang apa makna dari sebuah kualitas.

Kualitas = Proses yang Berulang

Lihat berbagai hal secara langsung dengan mata kepala sendiri sebagai proses yang berulang, kemudian mere-engineering proses tersebut. Menurut Jobs, sebagian besar produk berkualitas berhubungan dengan re-engineering, dan membuat proses tersebut menjadi jauh lebih efektif dengan cara menggabungkan, menghilangkan, atau membuat proses yang sudah efektif lebih kuat lagi.

Kualitas = The Ways of Doing Things

Apa yang kita lakukan? Mengapa kita melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan kuncinya.

Jobs mengatakan, “orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan adalah orang-orang yang cerdas. Mereka bukan “udang”.

Jika diberi kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki, mereka akan melakukannya.

Mereka akan meningkatkan proses jika ada mekanisme yang membuat mereka melakukannya,”

Kualitas Produk ≠ Strategi Marketing

Anda tidak akan pernah melihat orang-orang Jepang mengaitkan kualitas dengan strategi marketing mereka. Menurut Jobs, hanya perusahaan-perusahaan Amerika yang melakukan hal tersebut.

Namun, jika Anda bertanya pada orang yang Anda temui di jalan, produk mana yang memiliki reputasi kualitas paling baik, mereka pasti akan menjawab produk Jepang lah yang terbaik. Mengapa? Karena pelanggan tidak menilai kualitas berdasarkan pemasaran atau seberapa banyak produk tersebut memenangkan penghargaan, tetapi berdasarkan pengalaman mereka sendiri menggunakan produk atau jasa tersebut.

“Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memulainya dari produk atau jasa yang kita buat, bukan dari departemen pemasaran,” cetus Jobs

Kualitas ≠ Hanya Sekadar Produk

Meskipun kualitas dimulai dari produk atau jasa yang kita buat, namun bukan berarti hanya sekedar tentang produk atau jasa saja. Kualitas juga berarti memiliki produk atau jasa yang tepat, mengetahui di mana saja pasar Anda, dan memiliki inovasi.

Kualitas Persetujuan Manajemen

Otoritas harus dipegang oleh orang yang melakukan pekerjaan untuk meningkatkan proses mereka sendiri, untuk melatih mereka bagaimana mengukur proses yang mereka lakukan, memahami proses mereka, dan jelas, untuk memperbaiki proses yang mereka lakukan.

“Mereka tidak seharusnya meminta persetujuan untuk sesuatu yang perlu mereka tingkatkan pada proses mereka,” kata Jobs.

Masalah Besarnya: Kita Lupa

We’ve forgotten the basics,” cetus Jobs.

Kita telah melupakan hal-hal yang mendasar. Pembelajaran yang berharga dari orang Jepang adalah bukan karena mereka memiliki intelektual yang lebih tinggi, namun kita lah yang telah berada “di luar jalur” dari yang seharusnya.

 

 

 

Sumber : shiftindonesia.com

Going Middle : Gelombang Eksodus Ekonomi Kelas Menengah, Menyambut 2020

In the shopping mall

Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia”.

Kenapa? Paling besar, karena dengan sekitar 60% atau hampir 150 juta penduduk kita adalah kelas menengah (pengeluaran $2-20/perhari), maka secara ukuran (size) pasar ini paling besar dan prospektif. Juga paling menguntungkan, karena dari sisi profitabilitas, konsumen ini mengkonsumsi produk-produk advanced dan berkualitas dengan marjin keuntungan yang relatif tinggi. Jadi bukan produk ecek-ecek yang asal murah dan bermarjin tipis.

Karena dua alasan inilah kelas menengah merupakan segmen pasar paling menarik (most attractive segment) di Indonesia baik saat ini maupun di masa-masa mendatang. Dengan potensi pasar yang luar biasa, saya meramalkan dalam beberapa tahun ke depan seluruh brand akan bergerak agresif untuk mengincar dan masuk ke segmen ini. Brand yang selama ini menggarap pasar bawah pelan-pelan akan naik kelas masuk ke tengah. Sementara brand yang kini berada di atas, sejauh memungkinkan, akan turun sedikit agar bisa mencicipi manisnya pasar lukratif ini.

Inilah yang saya sebut fenomena “going middle”. Sebuah “gelombang eksodus” brand-brand menuju ke tengah, sebagai bentuk respons dan adaptasi mereka terhadap revolusi perubahan konsumen yang dipicu pertumbuhan kelas menengah.

Migrasi Konsumen
Yang membuat segmen pasar kelas menengah menarik dan semakin menarik di masa-masa mendatang adalah karena adanya “migrasi vertikal” konsumen yang terjadi begitu massif saat ini. Migrasi vertikal ini berlangsung karena meningkatnya kemakmuran dan daya beli masyarakat kita menyusul maraknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Migrasi konsumen ini dominan terjadi dari konsumen kelas bawah (pengeluaran di bawah $2 perhari) menjadi konsumen kelas menengah-bawah (middle-lower, pengeluaran $2-4 perhari).

Harus diingat bahwa saat ini konsumen kelas menengah kita masih didominasi oleh segmen menengah-bawah, dimana hampir 70% dari keseluruhan konsumen kelas menengah ada di sini. Jadi walaupun critical mass konsumen kelas menengah kita sudah terbentuk, namun sesungguhnya pembentukan tersebut masih di tahapan dini (early formation). Saya memperkirakan pasar kelas menengah di Indonesia akan matang dan kian challenging ketika pasar ini didominasi oleh kelompok konsumen berpengeluaran di atas $10 perhari.

Nah, migrasi konsumen ini haruslah direspons oleh brand-brand secara strategis. Brand-brand yang selama ini melayani pasar bawah mau tidak mau harus mulai ancang-ancang untuk meredefinisi posisinya (repositioning) menjadi merek kelas menengah (middle-class brand). Mereka harus mulai “naik kelas” dengan meningkatkan kualitas dan ekuitas merek dengan harapan bisa menangkap konsumen kelas menengah yang memiliki tingkat profitabilitas yang lebih baik.

Moving Up
Walaupun belum banyak brand-brand yang berupaya naik kelas (moving up) untuk menangkap migrasi konsumen di atas, namun beberapa merek sudah coba-coba melakukannya. Ada yang sukses, ada juga yang gagal.Tolak Angin Sido Muncul adalah brand yang menurut saya cukup sukses melakukan moving up walaupun saya yakin itu dilakukan secara natural (baca: entrepreneurial), bukan karena alasan strategis untuk menangkap migrasi konsumen kelas menengah.

Seperti produk jamu lainnya, Tolak Angin Sido Muncul adalah brand yang awalnya memiliki posisi di bawah. Irwan Hidayat si entreprenerial leader pemilik Sido Muncul tahu betul tidak enaknya mengelola brand bawah dengan profitabilitas yang super tipis. Karena itu strategi utama yang ia terapkan ke Tolak Angin adalah mendongkrak ekuitas mereknya sehingga naik kelas sekaligus mengangkat derajat jamu di kalangan konsumen Indonesia. Kita tentu kenal dengan tagline: “Orang Pintar Minum Tolak Angin” yang menjadi senjata pamungkas Tolak Angin untuk naik kelas.

Upaya bertahun-tahun Tolak Angin ini membuahkan hasil. Kini ia memiliki brand positioning yang cukup kokoh di pasar yang lebih tinggi. Dan di antara para pesaingnya, Tolak Angin adalah yang paling siap menggarap pasar konsumen kelas menengah yang lukratif.

Moving Down
Lalu bagaimana dengan brand yang sudah bertengger di atas? Memang cukup pelik bagi brand yang sudah berada di atas untuk turun (moving down) ke pasar yang lebih bawah. Namun karena alasan strategis berupa potensi pasar yang luar biasa, maka brand-brand harus mempertimbangkan pilihan ini. Catatannya cuma satu: jangan sampai aksi moving down itu merusak ekuitas merek secara keseluruhan. Biasanya ini dilakukan dengan turun sedikit di bawah segmen pasar yang selama ini menjadi domainnya.

Strategi moving down ini dilakukan terutama untuk merespons terjadinya tren “mass luxury”, yaitu munculnya kategori-kategori produk yang dulunya mewah namun seiring meningkatnya daya beli konsumen kini menjadi produk massal dan terjangkau oleh konsumen kelas menengah. Pasar dari mass luxury ini begitu besar potensinya, sehingga kalau brand-brand yang selama ini berada di atas tidak menangkapnya, maka dengan cekatan potensi pasar yang luar biasa itu akan diambil oleh brand-brand di posisi menengah-atas (middle-up segments).

Di industri perbankan misalnya, brand-brand atas di kategori wealth management, kartu kredit, atau reksadana misalnya, harusnya mulai melirik pasar yang lebih bawah agar pasar menggiurkan di segment ini bisa ditangkap. Itu sebabnya dulu private banking hanya melayani konsumen dengan portofolio di atas Rp.1-2 miliar, namun kini mulai merambah konsumen di atas Rp.250 juta. Di otomotif brand-brand juga harus mulai serius menggarap pasar lukratif di kisaran Rp.500 juta. Di ritel, saya melihat Starbucks misalnya, begitu agresif memposisikan diri sebagai mass luxury brand dengan menawarkan paket-paket value for money dan ekspansif membangun jaringan gerai.

Early-Moving Advantage
Di depan sudah saya bilang bahwa pembentukan pasar kelas menengah di Indonesia masih berada di tahapan dini. Kalau kenyataannya begitu, maka pesannya cuma satu, yaitu bahwa kondisi ini merupakan peluang luar biasa bagi Anda para marketer. Anda akan mendapatkan early-moving advantage jika Anda agresif melakukan moving up atau moving down, sementara pemain lain tidak. Ingat, early-moving advantage seringkali menjadi faktor penentu Anda untuk mendominasi pasar.

So tunggu apa lagi. Sigaplah pelajari pasar. Lalu lakukan aksi moving up kalau brand Anda di bawah atau moving down kalau brand Anda di atas. Lalu kunci posisi saing brand Anda dengan early-moving advantage yang Anda ciptakan. Dan setelah itu Anda pun siap menjadi merek kelas menengah dan mendominasi pasar. Going middle… and be a great middle-class brand!!!

 

 

 

Sumber : yuswohady.com

Millennial Trends 2016 : Memetakan karakter konsumsi Gen Y

Generasi milenial (Millennial Generation) adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y, Net Generation, Generation WE, Boomerang Generation, Peter Pan Generation, dan lain-lain. Mereka disebut generasi milenial karena merekalah generasi yang hidup di pergantian milenium. Secara bersamaan di era ini teknologi digital mulai merasuk ke segala sendi kehidupan.

Milenial memiliki nilai-nilai, dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya yaitu Gen-X (lahir tahun 1964 hingga 1980). Beberapa literatur menyebut karakteristik mereka ditandai oleh berbagai nilai-nilai dan perilaku berikut: connected, multitasker, tech-savvy, collaborator/cocreator, social, adventurer, transparent, work-life balance, dan sebagainya. Itu secara umum. Di Indonesia, dengan latar belakang sosial, sejarah, budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda tentu menghasilkan generasi milenial yang berbeda pula dan unik.

Inventure dan Middle Class Institute (MCI) melakukan kajian untuk melihat tren nilai-nilai dan perilaku generasi milenial di Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengahnya. Berikut ini 13 tren yang berhasil diidentifikasi.

Selfie 4

 

1. Millennial Wannabe
Millennial is NOT cohort. It is a lifestyle. Milenial bukanlah sebatas penanda kapan kita lahir, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mengapa bisa begitu? Ya, karena entah kenapa milenial itu kini menjadi sebuah simbol kekerenan. Siapapun, tak peduli Gen-X bahkan Baby Boomers, merasa bangga kalau punya gaya hidup seperti milenial. Milenial bukan masalah umur; bukan masalah muda-tua. Milenial adalah ekspresi dan identitas diri. Karena itu kami perkirakan akan muncul banyak “milenial gadungan” di Indonesia. Secara umur mereka bukanlah masuk golongan milenial, namun tingkahnya, penampilannya, atau konsumsi digitalnya seperti milenial, bahkan (amit-amit jabang bayi hehehe..) melebihi milenial.

2. “Sharing is Cool”
2015 adalah steping stone dimana sharing economy mulai diadopsi konsumen Indonesia, khususnya kaum milenial, secara meluas. Tren ini dipicu oleh sukses Gojek dengan layanan ojek online-nya. Sukses layanan baru ini sekaligus membuka mata dan mengedukasi konsumen milenial Indonesia yang memungkinkan mereka melompat parit (crossing the chasm) menuju pasar mainstream. Di tahun 2016 sharing economy akan diadopsi lebih dalam dan lebih luas di sektor-sektor industri yang lain. Sektor traveling dan leisure (melalui layanan seperti: AirBnB) misalnya, bakal menjadi the next big things di tahun 2016 ini. Budaya konsumsi “share, not own” juga akan kian massif tanah air. Di dunia hiburan misalnya, kini milenial tak lagi perlu punya CD atau DVD untuk mendengarkan musik atau menonton film. Layanan-layanan berbasis cloud seperti iTunes, Netflix, Spotify, SoundCloud, dan JOOX akan kian populer.

3. “How We Consume” Is a New Lifestyle. Tools Matter!!!
Mendengar alunan musik di Spotify atau iTunes lebih keren ketimbang di radio. Nonton film di Netflix lebih keren ketimbang di bioskop atau RCTI. Lari dengan aplikasi Nike+ Running (dengan fitur: GPS, Pace Tracker, Timer, Calories, Pedometer, Music Player dan Jejaring Sosial) lebih keren untuk dipamerkan ketimbang olahraga larinya sendiri. Lagu, film, atau lari tidak penting, yang penting adalah digital tools apa yang mereka gunakan. Bagi milenial digital is awasome, karena itu gaya hidup “the digital of things” haruslah dipamerkan di media sosial. Milenial selalu punya passion luar biasa untuk menjadi yang terdepan (early adopter) dalam arus deras “the digital of things”. Ketika mereka sudah menjadi yang terdepan, maka wajib hukumnya capaian itu dipamerkan di media sosial.

4. The Rise of Instagrampreneur
Kehadiran media sosial terutama Instagram dan menjamurnya lapak-lapak online seperti OLX, Tokopedia, atau Bukalapak telah memberi peluang luar biasa bagi milenial yang cekak modal untuk berbisnis secara online. Yasa Paramita misalnya memulai brand sepatu Men’sRepublic sejak ia kelas 2 SMA hingga kini sekitar 4 tahun telah menuai omset ratusan juta sebulan. Dia cukup mendesain sepatu-sepatunya kemudian menyerahkan produksinya kepada vendor-vendor di Bandung. Tak hanya entreprneur, sekarang juga terdapat tren munculnya apa yang kami sebut amfibi, yaitu para pekerja kantoran yang menjalankan bisnis sampingan berbasis online. Iklan-iklan massif Bukalapak, Tokopedia, atau OLX secara positif mengajak para milenial menjadi digital entrepreneur.

5. Holiday Effect
Masih pekat di ingatan kita, bulan Agustus-November 2015 Indonesia dihantui krisis ekonomi yang ditandai dolar melambung dan PHK di mana-mana. Namun kita kaget luar biasa ketika di akhir tahun jalur pantura macet total selama beberapa hari oleh masyarakat yang liburan akhir tahun ke kampung. Korbannya tidak tanggung-tanggung, seorang Dirjen mengundurkan diri karena tak sanggup memprediksi dan mengatasi kemacetan yang super parah tersebut. Inilah fenomena menarik generasi milenial, bagi mereka liburan dan hiburan adalah kebutuhan super penting. Karena itu liburan tak kenal mas krisis. Dan ketika tiket pesawat dan hotel bisa diperoleh demikian mudah dan murah melalui beragam platform online (Traveloka, Trivago, Agoda, dsb), maka kebutuhan itu pun kian getol mereka manjakan. Millenials are experiencer.

6. Multi-Tribes Netizen
Komunitas online yang dibentuk di media sosial seperti grup di WhatsApp, BBM, Telegram, atau Facebook kian sophisticated. Menariknya, kini seorang milenial bisa ikut dalam belasan bahkan puluhan grup WA atau BBM sekaligus. Sebut saja grup alumni, grup teman-teman kantor, grup pengajian, grup hobi kuliner, grup nebengers, grup project team di kantor, dan lain-lain. Itu sebabnya kami menyebut mereka sebagai: “Multi-Tribes Netizen”. Netizen yang hidup di beragam suku, namun suku-suku ini tak berada di hutan, tapi ada di grup-grup media sosial. Dengan banyak grup yang dimasuki, maka mereka harus memiliki multi-split personality. Mereka harus bisa “bersandiwara” memainkan peran dan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan grup yang dimasuki.

7. Brand Story Matters
Millennials love story. Mereka menyukai cerita yang mengemas sebuah produk atau layanan. Dan ketika sebuah produk dan layanan memiliki cerita yang keren, maka kaum milenial begitu passionate membincangkan dan menyebarkannya ke friends, fans, followers (3Fs). Fenomena ini paling kentara terjadi di bisnis kuliner. Sejak tahun lalu, tiba-tiba kedai kopi artisan seperti Filosofi Kopi, Tanamera, ABCD, atau One Fifteenth Coffee menjadi booming di berbagai kota di tanah air. Konsep food truck seperti Amerigo atau konsep food street seperti OTW di Kelapa Gading tahun lalu begitu happening. Bahkan mal pun kini dikemas dengan brand story yang kuat seperti Aeon di BSD yang sukses mengusung tema Jepang dan memicu word of mouth luar biasa. Kami meyakini inovasi dalam menyuntikkan brand story ke dalam produk dan layanan ini bakal marak di tahun ini.

8. The Birth of Visual Generation (Gen V)
Fenomena lain yang sedang ngetren di kalangan generasi milennial adalah semakin canggihnya tools yang dipakai untuk selfie, seperti penggunaan drone, lensa kamera GoPro, dan sebagainya yang membuat hasil tampilan visual dari foto-foto selfie semakin dramatis, atau penggunaan aplikasi Periscope atau Snapchat untuk video selfie. Jika dulu gaya anak muda yang selfie hanya menampilkan foto muka saja, maka sekarang mereka mulai senang berfoto dengan latar belakang obyek yang keren. Atau supaya lebih terkesan update dan live maka video selfie pun mulai digandrungi. Tiap orang ingin menampilkan authentic selfuntuk meningkatkan personal branding-nya masing-masing. Dia merasa dirinya keren dan pantas untuk memiliki audience-nya masing-masing.

9. Instant Online Buying
Riset perilaku belanja online selalu menempatkan produk gadget, produk elektronik, fesyen, atau buku/majalah sebagai produk yang paling banyak dibeli secara online. Item produk tersebut umumnya dibeli di internet kemudian dikirim melalui jasa kuriri beberapa hari kemudian. Namun kini hal itu mulai berubah, milenial Indonesia mulai menikmati “instant online buying” dimana beli di internet sekarang, lalu beberapa menit atau jam kemudian barang telah diterima. Biangnya tak lain adalah Gojek yang berbekal armada pengojeknya di seluruh pelosok kota mampu mengantarkan pesanan konsumen dengan cepat (lihat layanan seperti Go-Food, Go-Mart, Go-Clean, Go-Glam, Go-Massage). Dengan munculnya layanan baru ini perilaku konsumen milenial bakal berubah, mereka akan mulai membeli barang-barang cepat konsumsi atau cepat pakai seperti makanan-minuman, sayur, buah, bumbu, obat, tukang pijat, dan sebagainya. Alfamart merespons tren ini begitu cepat dengan layanan Alfaonline.

10. “Comment Seeker” Generation
Generasi milenial adalah attention-seeker. Mereka merasa dirinya sebagai sosok bintang yang disorot kamera di jagat media sosial. Karena itu mereka gila dikomentari. Apapun minta dikomentari. Posting status di Facebook minta dikomentari. Foto selfie di Instagram minta dikomentari. Menulis di blog minta dikomentari. Semakin banyak “like” atau komentar yang didapat, maka mereka akan merasa semakin eksis. Komentar positif membuat mereka berbunga-bunga. Sebaliknya, komentar negatif membuat mereka stres, frustasi, bahkan depresi.

11. “Social Media Pressure”
Media sosial adalah media terbuka, siapapun bisa ngomong baik maupun buruk, pujian maupun cercaan. Itu sebabnya bully di media sosial sudah layaknya wabah yang menjalar cepat. Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang tekena bully? Kaum milenial adalah generasi yang sangat peduli dan menganggap serius setiap perkataan dan opini dari friends, fans, dan followers (3F) mereka. Banyak terjadi ABG milenial lebih mendengarkan 3F ketimbang orang tua dan keluarga mereka. Oleh karena itu komentar negatif, kritik, atau bully di media sosial merupakan sumber tekanan psikologis yang berat bagi milenial. Bahkan ada kasus-kasus ekstrim dimana korban bully memilih untuk bunuh diri karena tidak tahan dipermalukan di media sosial. Kesempurnaan diri yang dicitrakan di media sosial seakan menjadi harga mati yang tak boleh dicoreng oleh para haters dan bullyiers. Tuntutan ini membuat mereka selalu resah di jagat media sosial.

12. Circular Economy
Kaum milenial adalah trend-setter. Mereka selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam hal gaya hidup, gadget, atau fesyen. Celakanya, mereka juga cepat bosan dengan gaya hidup dan produk baru yang mereka pakai. Begitu gadget versi baru keluar, maka gadget lama ditinggalkan. Padahal gadget lama tersebut baru dibeli beberapa bulan sebelumnya. Karena mereka smart, maka barang baru yang sudah tidak mereka minati dijual di situs-situs seperti OLX atau eBay. Inilah yang memicu apa yang kami sebut circular economy. Dengan adanya tren circular economy, maka situs-situs marketplace yang mempertemukan pemilik barang bekas (yang masih baru) ini bakal menggeliat di tahun 2016.

13. Two Faces of Click Activism
Secara sekilas kepedulian kaum milenial Indonesia begitu tinggi dengan begitu banyaknya masalah-masalah penting nasional yang mereka respons melalui situs seperti change.org. Heboh kasus “Papa Minta Saham” atau pelarangan layanan ojek online misalnya, direspons cepat oleh para millenial activists dengan melakukan petisi online. Namun apakah betul partisipasi, kepedulian sosial, dan nasionalisme mereka melambung dengan adanya platform petisi seperti itu? Belum tentu. Seperti menonton gelaran sepak bola di GBK, mereka hanya menjadi semacam pemandu sorak yang ingin hanyut dalam euforia dan kehebohan gonjang-ganjing masalah sosial tersebut. Ingat, “becoming a click activist is cool!”

 

 

Sumber : yuswohadi.com

Rahasia Kedai Kopi Starbucks Hingga Mampu Mendunia

Kopi merupakan minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji kopi yang dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi bubuk. Kopi memiliki ragam jenis, mulai dari arabika hingga robusta.

Dari kopi yang dijual di angkringan dengan harga merakyat, hingga kopi yang dijual di kedai kopi dengan harga jauh lebih mahal. Minum kopi di kedai kopi kini sudah menjadi gaya hidup bagi kaum urban.

Kedai Kopi Starbucks

Bagaimana tidak, kini minum kopi bukan sekadar kegiatan minum, melainkan untuk membeli sebuah tempat nyaman untuk keperluan bisnis atau sekadar mengobrol. Starbucks menjadi salah satu pemain kedai kopi asal Amerika Serikat yang termasuk terkenal di Indonesia.

Kedai kopi terbesar di dunia ini memiliki lebih dari 20 ribu kedai di 65 negara. Di Indonesia sendiri, kedai Starbucks pertama muncul pada 2002 di Plaza Indonesia. Pada akhir 2014, Starbucks sudah memiliki 200 kedai di beberapa kota besar.

Dalam bisnis, Starbucks menyediakan minuman panas dan dingin, makanan dan camilan, serta barang-barang lain seperti gelas dan tumbler. Selain itu, divisi hiburan Starbucks dan merek Hear Music juga memasarkan buku, musik dan film.

Ada pula beberapa produk Starbucks yang bersifat musiman atau spesifik pada lokasi kedai berada. Es krim dan kopi dalam bentuk kemasan juga menjadi diversifkasi produk Starbucks.

Starbucks sendiri berawal dari kedai kopi kecil di Seattle, AS. Seiring perkambangan pesat, Starbucks kini menjadi perusahaan besar dengan nilai aset mencapai US$77 miliar (Rp 1.017 triliun).

Howard Schultz merupakan CEO dibalik kesuksesan Starbucks. Pria dari keluarga sederhana ini mengaku tak pernah bermimpi menjadi salah satu pemain di industri kopi global. Namun kini, kekayaannya hampir mencapai US$2,3 miliar (Rp 30,3 triliun).

Dalam bukunya, Howard Schultz mengatakan, “Jauh lebih baik menjadi spesialis kopi daripada menjadi karyawan biasa di perusahaan nuklir”.

Terdapat tiga strategi yang membuat Starbucks mampu menjadi pemain besar di industri kopi yang sudah mendunia.

Hi Touch

Bila perusahaan lain lebih mengedepankan teknologi, Starbucks lebih mengembangkan hi touch atau seni menyentuh sisi humanis konsumen. Dalam melayani konsumen, para barista Starbucks akan berinteraksi dengan tidak berdasarkan hafalan.

Selain itu, dalam cangkir kopi yang diberikan, konsumen akan mendapati nama dan ucapan penyemangat yang memang menjadi salah satu pendekatan hi touch.

Ritual Pemasaran

Banyak kedai kopi yang menggunakan mesin otomatis agar lebih praktis dan mengurangi biaya. Padahal, proses pembuatan menjadi faktor yang memengaruhi kenikmatan secangkir kopi.

Karenanya, Starbucks tetap menggunakan mesin semi otomatis. Keterampilan para barista dalam menyajikan kopi inilah yang membuat secangkir kopi di kedai kopi ini layak dihargai lebih mahal.

Fokus Kebutuhan alternatif

Starbucks4

Dalam menciptakan kebutuhan pasar, Starbucks menciptakan kebutuhan alternatif. Misalnya, sering kali kita jumpai para executive melakukan rapat atau para pekerja lepas mengerjakan pekerjaannya di Starbucks sambil memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis.

 

Sumber : swa.co.id

Crazy Valuation dan Misteri Cash Flow dari Tokopedia, Bukalapak dan Gojek

Bukalapak dan Gojek mungkin tiga online start up yang paling banyak dibicarakan dalam 3 tahun terkakhir, dalam jagat e-commerce tanah air.

Tiga start up itu digadang-gadang bisa menjadi ikon digital economy masa depan Indonesia.

Namun Tokopedia, Bukalapak dan Gojek juga mengabarkan pelajaran amat berharga tentang valuasi dan cash flow.

Dan tiba-tiba kita ingat papatah indah ini : profit is queen, cash flow is king.

Tokopedia mungkin yang paling moncer. Dua kali Toped mendapatkan pendanaan dari venture capital, masing-masing senilai sekitar 1 triliun. Jadi total sudah 2 triliun disuntikkan sebaga pendanaan.

Jika dana 2 triliun itu dikonversikan menjadi 50% saham, maka valuasi total Tokopedia menjadi sekitar Rp 4 triliun. Jumlah yang fenomenal untuk sebuah start up yang masih muda usianya.

Venture capital kita tahu adalah sekelompok pemodal yang rajin invest ke start up potensial. Harapannya, mereka bisa mendapatkan profit, jika kelak start up di go public dengan valuasi yang lebih fenomenal.

Di Indonesia sekarang ada sekitar 30-an venture capital. Ada yang lokal seperti grup Djarum yang invest ke Bli Bli serta Kaskus; dan Idesource yang tahun lalu invest 300 milyar ke Bhinneka.com.

Ada juga yang asing seperti East Ventures dan Softbank yang invest ke Tokopedia.

Valuasi Tokopedia yang sekitar Rp 4 triliun artinya mendekati julukan sebagai “UNICORN”.

Unicorn adalah sebutan bagi start up yang nilai valuasinya tembus Rp 10 triliun. Diharapkan Tokopedia dan Bukalapak atau Gojek menjadi start up pioner Indonesia yang menjadi Unicorn.

Dua minggu lalu, Bukalapak juga mendapatkan pendanaan baru senilai Rp 500 milyar yang dikonversikan menjadi 35 % saham. Informasi ini tidak terbuka untuk media, saya mendapatkan dari sumber yang layak dipercaya. Artinya, valuasi Bukalapak senilai 1,5 triliun. Amazing.

Intinya baik Tokopedia, Bukalapak atau Gojek sudah mendapatkan guyuran dana dari venture capital sebesar ratusan milyar bahkan triliunan. Semuanya dengan valuasi yang rasanya fantastik untuk ukuran bisnis tradisional.

Nah, sekarang berapa cash flow mereka? Minus atau positif? Cash flow, kita tahu, ukuran yang lebih simpel dan powerful untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan. Cash flow is king.

Aturannya sederhana : jika uang masuk lebih besar daripada pengeluaran, Anda oke. Sebaliknya, jika pengeluaran lebih gede daripada pengeluaran, ya Anda defisit. Kalau kelamaan defisitnya, ya kolaps. Semaput.

Model bisnis Bukalapak hanya mendapatkan pemasukan dari semacam iklan para member-nya. Dan juga selisih uang yang dibayarkan oleh pembeli – nilianya hanya ribuan rupiah. Dari informasi yang ada, maka estimasi pemasukan Bukalapak dengan model bisnis seperti ini hanya Rp 1 milyar per bulan.

Pengeluarannya? Dengan karyawan 150 orang dan biaya iklan yang gencar, estimasi pengeluarannya bisa tembus Rp 2 – 3 milyar per bulan. Artinya desifit 1- 2 milyaran per bulan. Dari mana defisit ini ditutup? Ya dari uang investor tadi.

Tokopedia mendapatkan pemasukan dari fee premium member (Gold merchant) dan juga iklan para membernya. Pemasukan Toped mungkin lebih besar daripada Bukalapak, namun biaya pasti juga lebih besar. Lihat saja iklannya ada dimana-mana. Budgetnya pasti puluhan milyar.

Dengan kata lain, posisi keuangan Toped sekarang juga masih minus. Cashflow-nya belum positif. Angka kasar defisitnya bisa 2 – 4 milyar per bulan.

Baik Toped dan Bukalapak sama sekali tidak mengenakan biaya transaksi para penjualnya. Jadi berapapun besarnya transaksi ini, maka tidak ada dampak signifikan bagi pemasukan mereka berdua.

Kasus Gojek juga sama. Pemasukan masih lebih sedikit dibanding pengeluaran. Alias defisit. Maka mereka sekarang juga agak megap-megap, memburu pendanaan baru. Sebab pendanaan lama, uangnya sudah habis dibakar di jalanan.

Burning rate. Ini istilah kecepatan start up dalam “membakar” dana investor. Harapannya, dengan jor-joran membuang uang untuk iklan dan ekspansi, maka pertumbuhan akan melesat. Pertumbuhan dalam aspek pelanggan, nilai transaksi, atau pangsa pasar.

Jadi prinsipnya : growth, growth, growth. Meski prinsip ini harus menghabiskan ratusan milyar. Growth dianggap lebih magis daparipada sekedar profit.

Harapannya, dengan growth yang super fantastik, kelak pembakaran uang saat ini akan impas, dan berganti menjadi profit.

Namun harus hati-hati juga. Terlalu agresif membakar uang, maka bekal dana investor keburu habis, sebelum profit datang. Gojek sudah menunjukkan gejala ini.

Jalan Gojek memang terjal, sebab mereka berhadapan dengan Grab Bike yang sialnya, juga punya amunisi modal yang masif. Grab Bike dari Malaysia dengan pendanaan triliunan juga. Dan mereka siap perang.

Toped dan Bukalapak, sebentar lagi akan menghadapi jalan terjal juga. Lazada Indonesia sudah dicaplok raksasa Alibaba, dengan modal uang yang tak punya lagi nomer seri.

Valuasi Tokopedia dan Bukalapak yang tembus triliunan, berasumsi bahwa pertumbuhan pemasukan mereka bisa tembus 20 kali lipat (atau 2000 persen) dalam 3 tahun ke depan. Pemasukan ya, bukan jumlah transaksi dan jumlah merchant yang bergabung.

Apakah bisa pemasukan cash flow mereka melesat 20 kali lipat dalam 3 tahun ke depan? Mudah-mudahan bisa. Sebab hanya dengan itu, maka valuasi mereka menjadi masuk akal dan justified.

Jika tidak bisa, investor bisa terjebak dalam “financial exuberance trap” – jebakan karena dipicu oleh euforia dan optimisme berlebihan terhadap nilai masa depan.

Jebakan ini sama dengan ketika orang kesurupan batu akik atau bunga anthurium. Cuma bedanya, kali ini obyeknya adalah Toped, Bukalapak dan Gojek.

Financial exuberance trap bisa menimpa siapa saja : entah Anda spekulan saham, venture capitals yang berkantor di London, atau pedagang batu akik di pinggiran jalan.

Sebab “irasionalitas finansial” itu tidak kenal kasta, latar pendidikan atau golongan sosial. Semua orang bisa terjebak dalam kebodohan kolektif saat terjebak dalam keserakahan finansial.

– See more at: http://strategimanajemen.net/2016/05/16/crazy-valuation-dan-misteri-cash-flow-dari-tokopedia-bukalapak-dan-gojek/#sthash.HRoRV6Ba.dpuf