Mau Pindah Kuadran demi Meraih Financial Freedom?

kuadran

Setelah tulisan sebelumnya membahas tentang 4 kuadran “Financial Freedom”, maka anda semua tentunya sudah melakukan mapping, termasuk kuadran yang manakah anda ? pada dasarnya setiap manusia menginginkan sebuah kebebasan baik secara finansial dan waktu, dan memang untuk mencapai ini seseorang harus berani mengambil resiko untuk menempuh jalan menjadi pengusaha.

Kini ada tren dikalangan Gen Y dimana  demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar, banyak karyawan yang pindah kuadran merintis usaha sendiri. Demi impian untuk mendapatkan financial freedom dan time flexibility.

Sayangnya, banyak yang melakukannya hanya semata karena nafsu, dan bosan dengan pekerjaannya (plus gaji yang tak seberapa), ditambah dengan ketidaknyamanan yang timbul dari atasan dan atau rekan kerja di perusahaan.

Akibatnya : tak sedikit yang gagal, dan malahan dikejar-kejar debt collector, bahkan ada yang sampai jual motor demi membayar hutang karena bisnisnya gagal. 

Tak ada yang salah memang dengan sebuah kegagalan dalam berbisnis, setidaknya denagan kegalan tersebut kita akan lebih waspada dan lebih perhitungan dalam menjalankan sebuah bisnis plan. Jika anda menganut pendekatannya Om Bob Sadino yang merelakan pekerjaan kantoran yang gajinya cukup “wow”, hanya untuk sekedar memulai bisnis dari “nol”, anda harus pastikan knowledge management anda lebih baik dari beliau. Karena kalau tidak, maka anda akan beresiko untuk “mati konyol”.

Tentu saja tidak salah jika ada banyak orang yang melakukan proses pindah kuadran. Namanya juga usaha.

Namun agar probabilitas keberhasilan proses pindah kuadran ini membesar, setidaknya ada sejumlah hal yang layak dilakoni.

Berbisnislah Pada Area yang Sama/Dekat Dengan Pengalaman Kerja Anda.

Ada banyak kasus dimana seseorang sukses pindah kuadran, karena ia menekuni bisnis yang sama dengan saat ia bekerja sebagai karyawan/manajer.

Begitulah kita melihat, ada mantan manajer kios KFC yang kini sukses besar menjalani usaha jualan fried chicken lokal. Tempo hari ada teman yang dulunya bekerja sebagai manajer di bidang pemasaran digital (digital marketing), sukses saat ia membangun sendiri bisnis di bidang yang sama – jualan jasa konsultasi digital marketing.

Menekuni usaha dimana kita sudah memiliki pengalaman, memberikan keuntungan berupa : tahu peta bisnisnya, paham jalur pemasarannya, dan mungkin juga jaringan supplier yang ada di dalamnya. atau setidaknya anda tidak perlu memulai dari “nol”, khususnya teruntuk anda yang usianya menjelang 40 Tahunan dan atau diatasnya dimana anda harus berpikir pengeluaran untuk pendidikan anak, uang dapur, arisan dsb.

Coba anda amati berapa banyak orang disekitar anda yang berusia diatas 40 Tahun yang terjebak menjadi karyawan, dan dia kemudian baru memulai sebuah bisnis yang benar-benar baru (alias bisnisnya tidak nyambung), kembali memang tidak ada salahnya memulai bisnis, tapi apabila bisnis anda “tidak nyambung” dan anda tak memiliki keilmuan dan atau pengalaman yang cukup, baik dalam hal manajemen bisnis, bussiness plan dan lain sebagainya, saya sangat tidak merekomendasikan anda untuk membuka usaha yang benar-benar baru.

Tips untuk anda yang dalam posisi ini adalah; temukan teman (yang anda percayai) yang memiliki kemampuan bisnis dibidang yang dia kuasai, misal bisnis bengkel dengan saudara atau teman anda yang memiliki kemapuan/ilmu dibidang perbengkelasn, kemudian anda mensupport dana untuk perluasan usaha atau penambahan jasa terkait perbengkelan.

Coba Dulu, Kalau Sukses, Baru Resign dan Teruskan.

Cara kedua ini artinya, bahkan usaha yang mau dirintis itu sudah coba dijalani dulu saat Anda masih menjadi karyawan. Istilahnya menjadi “amphibi” – double kuadran. Bahasa lainnya : moonlighting atau ngobyek.

Cara ini saya kira salah satu pilihan untuk meminimalkan risiko. Di sela-sela kesibukan kerja, kita mungkin bisa mengajak partner untuk mencoba menjalani bisnis yang akan kita tekuni. Jika ada tanda-tanda sukses, kita bisa resign, lalu fokus membesarkan bisnis itu.

Jika gejalanya menunjukkan arah kegagalan, setidaknya kita masih punya penghasilan dari gaji karyawan (tidak sampai harus jual motor demi uang makan buat anak istri).

Tempo hari saya ngobrol dengan seorang kawan. Ia sudah menjadi senior di sebuah perusahaan multinasional. Karirnya mapan dengan gaji yang menjulang. Namun ia bilang akhir tahun ini mau resign.

Kenapa ia akhirnya memutuskan resign? Ternyata teman saya itu selama ini sudah melakukan proses “moonlighting” – memanfaatkan hari Sabtu yang libur untuk memulai bisnisnya – yakni di bidang pelatihan untuk topik yang amat dia kuasai.

Beberapa kali ia menjual training publik di hari Sabtu, dan pesertanya selalu padat. Tiap kali itu pula, ia bisa mendapat keuntungan bersih yang amat memadai. Ia melihat market untuk jasa trainingnya lumayan besar, dan ia terbukti sudah bisa mendapatkannya. Proven business.

Maka, ia memutuskan untuk menekuni usaha di bidang training itu. Karena setelah di uji coba selama beberapa kali, ada tanda-tanda kesuksesan. Apalagi jika ia fokus total mencurahkan waktu untuk membesarkan bisnisnya itu.

Tentu Resign bukan menjadi sebuah keharusan dalam hal ini, terkadang nama besar yang melekat di perusahaan tempat anda bekerja menjadi magnet tersendiri untuk seseorang lebih percaya dengan apa yang menjadi bisnis anda, selain itu teman-teman kerja anda bisa menjadi market yang cukup potensial untuk meningkatkan bisnis anda, atau setidaknya apabila anda mampu mengemasnya dengan baik, maka dalam sebuah manajemen bisnis kita mengenal yang namanya ” early adopter” yang bisa anda gunakan sebagai endorser untuk bisnis anda.

Di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan “MONEY IS A TOOLS TO GET YOUR IDEAL LIFE”. uang hanyalah sebagai alat untuk dapat mencapai kehidupan ideal yang anda maksud, kehidupan ideal disini saya deskripsikan sebagai kehidupan yang bebas, dimana anda bebas mau bekerja berapa jam, kapan saja, anda bisa bercengkrama dengan orang-orang yang anda sayangi, anda bisa berbagi dengan mereka-mereka yang beruntung dan tentu dengan uang tersebut anda mendapat ketenangan lahir dan batin.

Jika yang terjadi adalah sebaliknya yakni “MONEY IS A GOAL” maka anda akan menjadi robot-robot yang demi uang akan menghalalkan segala cara. Anda bisa membeli kasur termahal dan bisa mendesign kamar tidur paling megah, namun anda belum tentu bisa tidur diatasnya dengan nyenyak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s