Misi Penyelamatan Mitsubishi

Nissan Motor's CEO Carlos Ghosn shakes hands with Mitsubishi Motors Corp.'s President Osamu Masuko at the end of a joint news conference in Tokyo

Kepiawaian Carlos Ghosn dalam melakukan aksi ‘penyelamatan’ di sejumlah perusahaan otomotif telah menjadi legenda tersendiri dalam beberapa dekade terakhir. Kini, pria berjulukLe Cost Killer ini, berpeluang mengulang kembali kisah legendarisnya dalam aksi korporasi Nissan atas Mitsubishi.

Goshn yang kini menduduki jabatan CEO di Nissan dan juga Renault, dikenal memiliki keahlian dalam menangani perusahaan otomotif yang bermasalah dan bisa dibilang nyaris bangkrut.  Kisah heroik pertama pria keturunan Brasil-Lebanon ini muncul pada 1996.

Kala itu, Goshn ditunjuk untuk membawa Renault keluar dari kondisi kritis dan terancam gulung tikar.   Bak memiliki tongkat ajaib, dia hanya butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengubah nasib  perusahaan mobil asal Prancis tersebut.

Salah satu strategi untuk menyelamatkan Renault adalah dengan memotong anggaran hingga 20 miliar franc. Jumlah pemangkasan anggaran yang tak sedikit tersebut membuatnya dicap sebagai sosok yang kontroversial kala itu, sehingga dia mendapat julukan sebagai Le Cost Killer.  Meskipun demikian, pada akhirnya keputusannya itu berbuah manis, Renault terselamatkan.

Setelah berhasil mengangkat Renault dari krisis, tiga tahun kemudian dia kembali ditunjuk untuk menarik keluar mitra baru Renault di Jepang, yakni Nissan yang juga hanya beberapa jengkal dari jurang kebangkrutan.

Nissan yang pada 1999 dibeli sebagian sahamnya oleh Renault terjebak dalam kondisi suram. Pada masa itu, catatan penjualan dan utang Nissan sangat buruk, sehingga tidak diperbolehkan lagi mengajukan utang tambahan.

Lagi-lagi langkah yang terbilang radikal pun diambil oleh Ghosn. Dia memutuskan untuk menghapus 20.000 pekerjaan di Nissan. Dia juga memutuskan untuk menutup assembly plantsperusahaan dan melakukan sejumlah aksi restrukturisasi.

Keputusannya seperti sebelumnya menuai kecaman dari masyarakat Jepang. Namun, perlahan tetapi pasti strateginya menunjukkan hasil bagus. Pada 2003, posisi Nissan berubah drastis, perusahaan itu menjelma menjadi produsen mobil yang paling menguntungkan di dunia.

Kemampuannya dalam melakukan restrukturisasi Nissan, dengan melawan sejumlah budaya kerja warga Jepang perlahan menuai pujian. Warga Negeri Sakura yang awalnya mengecamnya, berbalik memuji kecerdasannya.

Kisah hebat itu pun memberi inspirasi bagi komikus asal Jepang untuk menjadikan Ghosn sebagai salah satu tokoh di komik buatannya. Komik tersebut pun mendapat tanggapan positif dari pasar. Pada 2001, komik yang menceritakan sosok Ghosn berhasil merebut hati 300.000 pembaca.  Kisah Ghosn pun bisa berdiri sama tinggi dengan komik-komik superhero fiksi.

Kini, dengan keputusan Nissan untuk membeli 34% kepemilikan saham Mitsubishi senilai US$2,2 miliar pada tahun ini, Ghosn seolah-olah diminta untuk  turun gunung kembali. Dia diharapkan muncul sebagai pahlawan bagi masyarakat dan industri otomotif Jepang.

Setelah skandal pemalsuan uji emisi yang dilakukan  Mitsubishi sejak 2011 terkuak pada bulan lalu, produsen otomotif terbesar di Negeri Matahari Terbit itu pun harus mengalami kerugian terbesar sepanjang sejarah.

Nilai saham Mitsubishi harus jatuh hingga 40% dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, menurut Goldman Sach, perusahaan itu juga harus menghadapi ancaman dari berbagai sisi mulai dari kerugian produksi, denda pemerintah dan kompensasi kepada pelanggan senilai US$3,4 miliar.

Kali ini skala tantangan yang dihadapi Ghosn bisa jadi lebih tinggi lagi.  Pasalnya, selain harus mengentaskan Mitsubishi dari kerugian, dia juga harus membersihkan citra perusahaan yang terlanjur tercoreng.  Meski demikian, analis Goldman Sach Kota Yuzawa menilai pekerjaan rumah Ghosn di Mitsubishi tidaklah seberat ketika dia harus menyelamatkan Nissan dan Renault.

Analisis Yuzawa didasarkan pada kondisi keuangan Mitsubishi.  Perusahaan itu masih memiliki kas bersih hingga 450 miliar yen per 31 Maret 2016 yang berasal dari keuntungan perusahaan sejak tujuh tahun terakhir.  Selain itu, aliansi yang dilakukan dengan Nissan yang cenderung masih mapan, akan mengerek kembali produk dari  Mitsubishi.

Hadiah Besar

Namun, Ghosn tak ingin buru-buru jumawa. Dia menilai tantangan yang akan dihadapinya dalam menyelamatkan Mitsubishi cukup besar. Terlebih, kondisi yang dihadapi oleh Mitsubishi ini berbeda dengan yang dihadapi Renault dan Nissan sebelumnya yakni terkait citra perusahaan.

“Saya tidak berpikir bahwa tantangan yang akan datang jauh lebih sulit daripada apa yang telah kami lihat saat ini. Namun, ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Ada hadiah besar jika kami berhasil, ” kata Ghosn.

Para analis justru menilai pembelian sebagian saham Mitsubishi oleh Nissan akan memunculkan kekuatan baru di dunia otomotif, terlebih terdapat campur tangan dari Ghosn dibalik aksi korporasi ini.

Analis Credit Suisse Masahiro Akita mengatakan, aliansi bisnis Renault, Nissan dan Mitsubishi akan menjadikannya sebagai koalisi bisnis otomotif terbesar keempat di dunia. Pasalnya,ketiga perusahaan dapat melakukan integrasi dalam sejumlah proses produksi kendaraan, sehingga memunculkan efisensi.

“Jika Anda melihat, ada sejumlah peluang bisnis yang dapat dikerjasamakan di aliansi tiga perusahaan ini. Kesepakatan itu bisa memunculkan keputusan yang cukup cerdas,” kata Thomas Glendinning, analis di BMI Research.

Ghosn pun memiliki peluang untuk melebarkan sayap Nissan di Asia Tenggara melalui Mitsubishi, mengikuti jejak Toyota dan Honda. Terlebih Mistubishi telah memiliki pasar tersendiri di kawasan tersebut, dan menjadikannya sebagai target pemasaran utama usai menutup pabrik di Eropa dan AS.

Kini, pasar pun menunggu kebijakan apa yang akan diambil oleh Ghosn dalam beberapa waktu mendatang. Dia mengaku diberi target satu tahun untuk menyelesaikan kesepakatan investasi antara Nissan dan Mitsubishi. Namun dia justru menjanjikan akan menyelesaikannya dalam empat bulan ke depan.

Sejumlah analis memperkirakan, strategi kontroversial akan kembali diambil oleh Ghosn. Analis Advanced Research Koji Endo mengatakan, salah satu langkah ekstrem yang mungkin diambil adalah menutup operasi Mitsubishi di Jepang. Nantinya perusahaan  hanya akan mengandalkan produksi di  Asia Tenggara yang cenderung lebih sehat.

 

 

Sumber : http://koran.bisnis.com/read/20160603/434/554103/misi-penyelamatan-mitsubishi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s