Apakah Bisnis Anda dalam tahap Bunuh Diri ?

closed

Tentunya, Anda tidak akan pernah melakukan apa pun yang menyebabkan bisnis Anda gagal secara sengaja.

Mencari tahu apakah Anda membuat salah satu kesalahan bisnis suicide (bunuh diri bisnis). Apakah Anda membunuh bisnis Anda sendiri?

Ada banyak akronim di dalam dunia bisnis. Beberapa di antaranya masuk akal dan sebagian di antaranya membingungkan yang membuat Anda menggaruk-garuk kepala.

Nah, sudah saatnya untuk menambahkan satu lagi.

Akronim baru ini adalah “SAD”. Akronim ini bisa membantu Anda untuk menentukan apakah Anda atau bisnis Anda memiliki indikator risiko (faktor risiko) atau karakteristik yang dapat menyebabkan kematian pada bisnis Anda.

Di akhir semua bisnis, pada dasarnya orang yang menjalankan perusahaan akan memutuskan apakah ia hidup atau mati. Dan, ketika memutuskan mati, ketika pada kenyataannya tidak, itu berarti Anda, sang pemilik bisnis, telah melakukan bisnis suicide.

Jadi, apakah Anda atau bisnis Anda melakukan bisnis suicide? Mari kita lihat faktor-faktor risiko melalui akronim SAD:

S – Strategy direction (arah strategi) :

Apakah bisnis Anda berada di jalan yang benar – jalan yang memanfaatkan aset bisnis dan sumber daya (dari modal untuk orang) dengan cara terbaik mungkin?

Dapatkah Anda atau siapapun mengambil orang atau aset dan menempatkan mereka dengan cara terbaik untuk mendapatkan pendapatan yang lebih/ imbalan dari mereka?

Sudah terlalu banyak bisnis yang gagal bahkan tidak bisa keluar dari gerbang awal karena mereka gagal merencanakan dengan baik atau gagal untuk mengubah arah bisnis mereka ketika kondisi pasar atau pilihan pelanggan yang berubah menuntut hal itu.

Perencanaan berarti memahami kebutuhan pelanggan Anda dan menyediakan produk atau jasa untuk kebutuhan tersebut sambil memanfaatkan sedikit aset – sumber daya.

kita telah melihat bisnis yang mengatakan tuntutan 50% namun mereka tidak perlu menghabiskan pada kapasitas 100%. Yang hanya pemborosan. Dan, pemborosan ini akan membunuh bisnis Anda.

A – Accounting (akuntasi):

Apakah Anda mengelola arus kas bisnis dengan benar. Ini untuk memastikan bahwa bisnis Anda memiliki perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan dari periode lamban atau resesi masa depan?

Apakah bisnis Anda memiliki modal kerja yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan di masa depan? Apakah pengeluaran uang Anda lebih cepat daripada mengumpulkannya?

Sudah terlalu banyak bisnis yang gagal karena mereka tidak memiliki uang (modal kerja di tangan) untuk melayani para pelanggan. Jika bisnis Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, pesaing Anda akan mengambilnya.

D – Discipline (disiplin):

Apakah Anda, sang pemilik bisnis, melakukan hal yang benar setiap hari? Setiap hari produk harus menyertakan hal-hal seperti pemasaran (marketing harian) atau benar-benar mendengarkan pelanggan untuk mengantisipasi kebutuhan dan keinginannya.

Atau, apakah Anda menghilangkan aset yang diperlukan dari bisnis. Seperti, seperti membuat gaji yang terlalu besar, mengambil uang tunai yang dibutuhkan bisnis? Ketahuilah bahwa akan ada waktu untuk “menjarah” bisnis Anda sendiri.

Sudah terlalu banyak pemilik bisnis yang puas diri dengan bisnis terlalu dini dan mereka “menggerogotinya” dari waktu ke waktu. Atau, mereka berpikir bahwa bisnis mereka seharusnya membayar mereka dengan gaji yang sangat besar dari hari pertama.

 

Sumber :

http://www.marketing.co.id/bisnis-suicide-mengingat-kehidupan-bisnis-anda-sendiri/

Hilangkan prinsip “asumsi” pada Riset Pasar dengan Genchi Gembutsu

riset-pemasaran

Riset pasar seringkali dilakukan oleh orang atau badan usaha yang akan mengeluarkan produk terbarunya, entah produk terbaru ini untuk pengembangan varian baru sebagai bagian dari inovasi, ataukah hanya sebagai strategi untuk pesaing atas produk yang telah dikeluarkan oleh pesaing dan lebih parah lagi riset pasar digunakan untuk membuat produk baru untuk “mematikan pesaing”. Satu kunci dalam riset pasar adalah kita harus membuat variabel sebanyak mungkin agar informasi yang dikumpulkan lengkap, sebisa mungkin jauhi asumsi-asumsi yang seringkali membuat kita “sok tau” kondisi konsumen sasaran/ market yang ada.

Pentingnya pemahaman akan konsumen untuk membuat putusan strategis merupakan salah satu prinsip kunci Toyota Production System. Di Toyota istilahnya adalah genchi gembutsu, salah satu frasa terpenting dalam kosakata produksi ramping (lean production) yang kurang lebih berarti “sana lihat sendiri”. Dengan kata lain, untuk membuat putusan bisnis, kita mesti mempunyai pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman sendiri. Jeffrey Liker, yang telah mendokumentasikan Toyota Way secara ekstensif,  menjelaskannya sebagai berikut:

“Dalam wawancara-wawancara saya di Toyota ketika saya menanyakan apa perbedaan Toyota Way dengan pendekatan manajemen lain, jawaban pertama yang paling lazim adalah genchi gembutsu -entah saya berada di divisi manufaktur, pengembangan produk, penjualan, distribusi atau humas. Kecuali anda sudah melihat sendiri, belum tentu anda benar benar memahami suatu persoalan bisnis. anda tidak boleh percaya begitu saja pada pendapat umum atau laporan orang lain.”

Sebagai demonstrasi mari kita lihat pengembangan minivan toyota Sienna model 2004. Di Toyota manajer yang bertanggungjawab atas desandan pengembangan model baru disebut insinyur kepala pemimpin lintas fungsi yang mengawasi seluruh proses dari konsepsi hingga desain. Penanggungjawab Sienna 2004 adalah Yuji Yokoya, yang memiliki sangat sedikit pengalaman di Amerika Utara, pasar utama Sienna. Untuk mencari tahu cara membuat minivan yang lebih unggul Yokoya menjalani misi mencengangkan: perjalanan bermobil melintasi lima puluh negara bagian AS, tiga belas provinsi dan wilayah federal Kanada, serta seluruh daerah Meksiko. Dia membukukan total perjalanan bermobil lebih dari 85.000 kilometer. Di Kota-kota besar dan kecil, Yokoya menyewa Sienna model teranyar dan menyetirnya, juga mengamati dan berbincang dengan konsumen sungguhan. Berdasarkan pegamatan langsung tersebut, Yokoya bisa memlai menguji asumsi-asumsi kritis mengenai apa saja yang diinginkan konsumen Amerika Utara dari sebuah minivan.

Menurut pandangan umum, menjual kepada konsumen perorangan lebih mudah daripada menjual kepada perusahaan karena tingkat keruwetannya jauh lebih rendah. Misalnya saja, kita tidak perlu berhadap-hadapan dengan sekian banyak departemen dan orang yang memainkan beragam peran dalam proses pembelian. Berdasarkan temuan Yokoya, asumsi semacam ini ternyata keliru. “Minivan barangkali adalah milik orangtua, kakek, atau nenek. Namun anak-anaklah yang menguasainya. Anak-anaklah yang menempati dua per tiga bagian belakang kendaraan itu. Anakanak pulalah yang paling kritis dan paling mengapresiasi lingkungan mereka. Pelajaran yang saya petik dari perjalanan saya adalah, Sienna baru mesti
mempunyai daya tarik bagi anak-anak.”

Pengembangan mobil lantas turut dipandu oleh asumsi-asumsi yang telah diidentifikasi dan dicek keabsahaannya. Sebagai contoh, Yokoya menghabiskan sejumlah besar anggaran pengembangan Sienna lebih besar daripada lazimnya, untuk menciptakan fitur-fitur pemberi kenyamanan internal, yang sangat penting untuk perjalanan keluarga jarak jauh.

Hasilnya mengesankan, mendongkrak pangsa pasar Sienna secara drastis. Angka penjualan model 2004 lebih tinggi 60 persen daripada angka penjualan pada 2003. Tentu saja, produk seperti Sienna adalah contoh klasik inovasi penyokong, keahlian perusahaan perusahaan mapan terbaik macam Toyota. Entrepreneur menghadapi jenis tantangan yang lain karena mereka beroperasi di tengah ketidakpastian yang lebih besar. Sementara perusahaan- perusahaan yang menggarap inovasi penyokong sudah cukup banak tahu tentang siapa dan dimana konsumen mereka sehingga tinggal menggunakan prinsip genchi gembutsu untuk mencari tahu keinginan konsumen, interaksi awal startup dengan calon konsumen semata- mata mengungkapkan asumsi-asumsi mana yang paling membutuhkan uji segera.

 

Sumber utama : shiftindonesia.com

Menilik Keunikan Service Improvement D’Cost

D-Cost-Seafood

Kiranya tak banyak restoran seafood yang memperhatikan aspek inovasi melalui program promosi untuk menciptakan keunggulan layanan. D’Cost salah satunya. Restoran milik Christian Sia yang berdiri sedari 2006 berhasil tumbuh pesat dan agresif berkat improvement program promosi yang kreatif unik. Saat ini jumlah gerai yang terdaftar di website mereka hampir 80 buah. Gerai umumnya ada di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Sebelum menilik keunikan service improvement D’Cost, patut diketahui jika restoran seafood ini juga memiliki keunggulan operasional dalam menjalankan aktivitas bisnis. Salah satunya adalah kecepatan pelayanan. Selain memiliki kapasitas restoran hingga ratusan kursi dengan ruangan sejuk dan nyaman, D’Cost juga mengembangkan pelayanan otomatis menggunakan kemajuan teknologi komputer.

Awalnya restoran mencatat pesanan makanan pada PDA (personal data assistant). Namun selanjutnya proses operasional berganti, pencatatan pesanan dilakukan dengan komputer tablet. Proses otomatis cukup sederhana, saat pelayan mencatat maka saat itu juga data pesanan terbaca di dapur. Bahkan proses pencatatan pesanan tersebut kini dipercepat melalui kartu-kartu menu yang bisa diakses pelanggan secara langsung.

Setiap kartu menu memiliki barcode spesifik, sehingga memudahkan petugas di konter menandai menu yang dipilih pelanggan sebagai daftar pesanan yang langsung diproses di dapur.

Keunggulan operasional D’Cost menopang konsep-konsep improvement yang berbentuk promosi kreatif, unik. Promosi umumnya terkait potongan harga. Namun bukan sekadar diskon sebagai value yang ditonjolkan, namun terdapat aspek engagement yang secara jeli berhasil dibidik Manajemen D’Cost untuk mempertahankan keunggulan dalam setiap pelayanan.

  1. Promosi diskon umur, diberikan kepada pelanggan berdasarkan umur yang tertera di KTP. Pada periode promosi banyak lansia yang dibawa keluarganya makan di D’Cost demi mendapatkan diskon besar. Semakin berumur, semakin besar diskonnya. Menarik kan?
  2. Promosi diskon gerombolan, diberikan kepada pengunjung paling sedikit dua orang, paling banyak 30. Wow!
  3. Promosi up to you price, pelanggan boleh makan sepuasnya dan bayar sesukan hati. Program biasanya berlaku di gerai baru D’Cost. Umumnya berhasil membuat geger, karena membuat bingung pelanggan dengan pelayanan “nyeleneh”. Misalnya pelanggan hanya membayar Rp 1, untuk berbagai menu menggunakan kartu kredit. Sungguh unik!
  4. Promosi hamil baru bayar, berlaku bagi pengantin yang terbatas anggaran pernikahannya. Mereka boleh memesan paket pernikahan untuk 300 undangan dengan pembayaran saat sudah hamil. Mantab!
  5. Promosi menu untuk fans, berlaku bagi pelanggan yang sudah mengikuti facebook page D’Cost. Pelanggan bisa mendaftar dan memesan di gerai D’Cost tertentu dengan diskon spesial.
  6. Promosi bayar uang dan doa, merupakan program yang diselenggarakan untuk memperingati hari besar keagamaan di Indonesia. Untuk mengikuti promosi ini pelanggan cukup menuliskan doa apa saja di formulir yang tersedia, dan setelah itu dapat membayar makanan dengan uang dan doa.

Sumber : shiftindonesia.com

Mensiasati Mudik sebagai ajang pamer untuk meningkatkan efektifitas strategi ” Product Branding”

Selamat pagi para pembaca setia kawanpendi semua, selamat merayakan hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan. Taqabbalallahu Minna Waminkum Taqabbal Ya Karim, Mohon maaf lahir batin ya, para readers semua.Ulasan kali ini, masih mengkiblat dari tulisan pak Yuswohady, jagoan marketer kita. Sengaja pada momen lebaran ini, saya tertarik untuk mengulas tentang budaya mudik berlebaran di kampung halaman. Karena begitu kuatnya magnet momen lebaran ini, sampai sampai saya sengaja menginap di Bandara Soekarno Hatta semalam, sambil menunggu flight jam 5 pagi. Dan sengaja saya tidak menggunakan jasa travel sebagaimana perjalanan mudik saya tahun tahun sebelumnya, dan memilih ikut berjibun di bus ekonomi dari terminal Purabaya, dilanjut di terminal Arjojasi di Malang.

Mengamati perilaku para pemudik di kampung, saya sampai kepada kesimpulan bahwa tradisi mudik adalah medium yang pas dan efektif untuk pamer ke anggota keluarga, kerabat, dan seluruh tetangga di kampung.

Kenapa pamer? Karena merantau ke Jakarta telah menjadi simbol kehidupan yang lebih baik: lebih sukses, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih modern, lebih urban (“tidak udik” alias “tidak katrok”), lebih keren. Karena itu ketika mereka kembali ke kampung, simbol-simbol dan atribut-atribut kesuksesan itu harus dipertunjukkan. Syukur alhamdulillah, tradisi mudik memfasilitasi mereka untuk bisa memamerkan kesuksesan.

Tentu saja tak semua perantau menuai kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang justru terpuruk begitu mengadu nasib di Jakarta. Tapi itu tak menjadi masalah. Citra bahwa mereka lebih sukses di Jakarta haruslah habis-habisan ditegakkan. Demi membangun citra sukses ini, kalau perlu mereka ngutang atau “menyekolahkan” sepeda motornya ke Pegadaian.

Ada tiga jenis pamer yang dilakukan para pemudik selama mereka di kampung. Coba kita lihat satu-persatu.

Pamer Kesuksesan
Ukuran kesuksesan di Jakarta biasanya tak jauh dari dua hal, yaitu: pekerjaan yang lebih baik-terhormat-elit dan penghasilan yang lebih tinggi. Menjadi buruh pabrik sepatu di Tengerang tentu saja lebih mending ketimbang berkubang mengerjakan sawah di kampung. Karena itu mereka yang menjadi buruh pabrik bisa memamerkan kehebatan pekerjaan mereka ke kerabat dan tetangga di kampung, walaupun gaji sedikit di atas UMR. Di kalangan pekerja migran, pamer kesuksesan juga bisa diwujudkan dalam bentuk besarnya uang kiriman ke keluarga di kampung. Kirimannya makin besar, maka tentu saja itu indikasi kita makin sukses.

Mereka yang lebih beruntung menjadi pekerja kantoran di Jakarta lebih mudah lagi memamerkan kesuksesannya. Mereka tinggal menyebutkan dirinya bekerja diPerusahaan X, Bank Y, atau Departemen Zyang berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta, bahkan ketika kerabat dan tetangga di kampung tidak menanyakan. Namanya orang kampung, mendengar Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang memang terkenal karena sering muncul di TV dan koran, mereka langsung mengira siapapun yang bekerja di situ pasti orang sukses: kerjanya enak dan gajinya selangit.

Pamer Gaya Hidup
Hidup di Jakarta memang sebuah impian karena kita mendapatkan segala kemewahan hidup yang tidak ada di kampung. Kita bisa merasakan nikmatnya fast food McD atau KFC; belanja supernyaman, supermudah, dan supersejuk di Carrefour; window shopping akhir pekan di mal-mal yang bertabur merek-merek hebat; berlibur ke Dufan, Taman Mini, atau melancong ke Trans Studio di Bandung. Ini semua menjadi sebuah gaya hidup yang kita impikan.

Hidup di Jakarta juga ditandai dengan kehidupan yang selalu sibuk, serba penting, serba terjadwal, serba cepat, serba praktis, serba efisien. Ini berbeda dengan di kampung yang serba lambat dan serba tidak penting. Ini semua, sekali lagi, menjadi gaya hidup  Jakarta yang sudah terlanjur dianggap sebagai model gaya hidup “impian” yang selalu kita dambakan.

Sadar maupun tidak sadar gaya hidup impian ini kita pamerkan kepada kerabat dan tetangga di kampung selama kita mudik. Karena itu tak mengherankan jika tiap tahun pak Fauzie Bowo pusing karena arus orang kampung yang pergi mengadu nasib ke Jakarta kian bertambah dari tahun ke tahun bersamaan dengan kembalinya para pemudik ini ke Jakarta.

Pamer Hedonisme
Jakarta adalah tempat yang ideal bagi tumbuh suburnya hedonisme: berbelanja membabi-buta, berbusana yang selalu mengikuti tren, konsumsi yang berlebihan, unjuk kemewahan, dan sebagainya. Celakanya, hedonisme Jakarta ini dengan sangat pas digambarkan oleh adegan-adegan dalam sinetron kita. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam waktu satu-dua tahun tinggal di Jakarta, penyakit hedonisme Jakarta ini sudah mulai merasuki sanubari tanpa kita bisa menghentikannya.

Selama mudik, hedonisme Jakarta ini kita pamerkan ke kerabat dan tetangga di kampung dalam beragam bentuk. Saat kita mengajak keluarga atau kerabat berbelanja baju di toko  atau pasar. Saat kita membelikan berbagai perlengkapan elektronik untuk bapak-ibu di kampung mulai dari TV flat, lemari es, hingga rice cooker. Saat kita mentraktir mereka makan di warung terbaik di kampung. Hedonisme juga bisa dipamerkan melalui perhiasan yang kita pakai, gadget termutakhir yang kita beli, atau baju glamour yang kita kenakan selama di kampung.

Saya sering mengatakan tugas marketer adalah 80% mengamati perilaku konsumen dan 20% menyusun/mengeksekusi strategi berdasarkan pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut. Apa yang saya uraikan di atas adalah cermin dari anxietydesirepara konsumen mudik kita. Keberhasilan menangkap anxiety-desire ini akan menentukan keberhasilan program lebaran marketing Anda. Lalu apa kaitannya dengan product branding ? Pernahkah anda mengamati pakaian para perantau yang mudik ke kampung halamannya? Pernahkah anda memetakan kemudian mengidentifikasi dan mengklasisfikasi mereka berdasar merk baju, merk tas, tata cara berpakaian, termasuk pada HP yang mereka gunakan?Beberapa variabel yang saya gunakan diatas seringkali mewakili kemampuan beli dan kecenderungan konsumsi para pemudik, dan tentunya dengan variabel tersebut sedikit banyak kita bisa menduga dikalangan komunitas yang seperti apa mereka. Menurut hasil penelitian, generasi Y yang memang sedang merajai struktur demografi penduduk Indonesia ini, lebih cenderung bersifat “community engagement”, ketika ada salah seorang anggota komunitas mereka memperkenalkan sebuah produk dan membuat reviewnya, maka kemungkinan besar anggota lain akan mengikutinya. Bahkan efektifitas kegiatan branding ini lebih tinggi daripada aktifitas iklan. Itulah mengapa kalau anda amati, seringkali iklan di Televisi menampilkan sosok komunitas muda mudi yang sedang menikmati sebuah brand produk. Komunitas inilah yang menjadi sasaran yang tepat, ketika mereka sedang pulang kampung untuk mudik berlebaran tak ada salahnya kita memberinya discount, atau bahkan sampai menggratiskan produk yang sedang kita besut untuk mereka kenakan, dengan harapan produk kita kemudian dikenakan, direview dan kemudian diperkenalkan ke komunitasnya.

Selamat mencoba