Survei: Trend Toko Perkakas di Indonesia

Dengan dibukanya IKEA, survei menunjukan bahwa warga di Jakarta rela menembus macet untuk berbelanja alat rumah tangga.

Dibukanya IKEA di Indonesia menandakan dengan jelas bahwa pasar peralatan rumah tangga yang luas dan terfragmentasi di Indonesia, kini semakin terorganisir. Namun bagaimana pandangan konsumen terhadap toko furnitur yang besar?

gm5

Lamudi, melakukan survei untuk mengukur tanggapan masyarakat mengenai belanja di toko perkakas.

Dari survei yang dilakukan kepada 70 orang ini, sebanyak 87% merasa bahwa toko-toko seperti ini mempunyai dampak yang positif bagi lingkungan mereka.

Walau masyarakat menyukai toko seperti itu, hal menarik juga terlihat dari bagaimana mereka mengunjungi beragam toko yang serupa.

Rata-rata masyarakat telah mengunjungi lebih dari satu toko furnitur besar. ACE Home Center merupakan toko paling populer yang dipilih masyarakat, dengan Courts menjadi yang paling jarang dikunjungi.

Dan meskipun IKEA baru dibuka selama satu bulan, 25% peserta survei mengatakan mereka telah mengunjungi toko tersebut.

Survei juga menunjukan bahwa orang di Jakarta rela menempuh kemacetan untuk mendatangi toko yang mempunyai kualitas produk yang mereka anggap lebih baik.

Keputusan membeli juga biasanya direncanakan sebelumnya dan bukan secara spontan, seperti yang dikatakan oleh 64% peserta survei.

Karena itu, dalam menentukan toko terbaik, sebanyak 54% menentukan berdasarkan kualitas produk dan 36% berdasarkan harga. Hanya 10% yang menjadikan lokasi toko sebagai alasan mereka.

Sementara itu, 57% responden survei merasa ekspektasi harga yang tidak sesuai menjadi alasan mereka tidak melakukan pembelian, meski 71% merasa harga produk tersebut masih masuk akal.

Namun melihat 87% responden yang merasa kualitas produk tersebut cukup baik atau lebih bagus, menandakan bahwa konsumen tidak hanya menilai produk tersebut secara satu dimensi, namun dua dimensi – yaitu kualitas bagus dengan harga yang terjangkau.

Info unik lainnya yang ditemukan dalam survei tersebut adalah sebagian besar (57%) pengunjung toko tersebut bukan datang untuk membeli furnitur. Aksesoris rumah (sprei, handuk, dan lainnya) adalah kategori yang paling populer, diikuti peralatan dapur dan furnitur sebagai produk paling banyak yang mereka beli.

Hal ini masuk akal mengingat sebagian besar dari mereka mengaku hanya menghabiskan kurang dari dua juta per transaksi.

Indonesia sendiri mempunyai industri furnitur yang berkembang karena upah yang kompetitif, ketersediaan pengrajin dan kepemilikan bahan utama – kayu.

ASMINDO (Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia) menaksir bahwa pada tahun 2012 ekspor furnitur sendiri bernilai 32,7 triliun rupiah.

Konsumsi domestik bernilai 8,4 triliun rupiah dan dengan lebih dari 4000 perusahaan yang terlibat membuat pasar ini sangat terpecah.

Seiring dengan naiknya pasar properti, berkembangnya kelas menengah dan sebagai ekonomi terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia masih menjadi incaran utama bagi retail furnitur. Tidak diragukan ini adalah hal yang juga menarik perusahaan seperti IKEA untuk membuka cabangnya di Indonesia.

Sumber : marketing.co.id

Menatap Indonesia pada 2020: Generasi Millenial Kelas Menengah Kota

Memprediksi dan membaca arah Indonesia masa depan sangatlah menarik, dari berbagai data dan analisis, saya memprediksi momentum Indonesia dalam jangka panjang akan sangat ditentukan pada tahun 2020. Bukan saja karena pemilu presiden akan dilakukan pada tahun 2019, tapi estimasi data yang dilakukan dari berbagai sumber menunjukkan tahun 2020 akan menjadi tonggak berbagai perubahan signifikan yang ada di Indonesia.

GM1

 

Secara ekonomi, World Economic Forum tahun 2015 memprediksikan Indonesia di tahun 2020 akan menempati peringkat ke-8 ekonomi dunia, dan dengan pengguna internet mencapai 140 juta, Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020.

Selain itu, Indonesia 2020 juga bisa kita lihat dari berbagai fenomena yang bibitnya sudah bisa kita lihat saat ini. Paling tidak ada tiga fenomena bisa menjelaskan kondisi Indonesia di tahun 2020, yaitu komposisi urban-rural, penduduk kelas menengah, dan komposisi penduduk muda.

Penduduk Urban

Bangsa Indonesia sejak dulu selalu dikenal sebagai bangsa agraris yang mayoritas penduduknya tinggal di desa. Namun, sensus penduduk (SP) yang dilakukan BPS pada tahun 2010 menunjukkan komposisi penduduk yang tinggal di kota semakin tinggi, 49,8% penduduk Indonesia sudah tinggal di kota pada tahun 2010 dan BPS memprediksi di tahun-tahun mendatang komposisi penduduk kota akan semakin meningkat. Perubahan komposisi penduduk kota-desa bukan sekadar perubahan geografis saja, tapi lebih juga merupakan perubahan budaya, nilai-nilai sosial, perilaku, dan pola pikir.

GM2

Masyarakat kota yang kemudian kita sebut masyarakat urban adalah masyarakat terbuka dan cenderung individualis. Mau tidak mau, suka tidak suka, nilai-nilai tradisional pelan tapi pasti akan semakin terpinggirkan oleh budaya urban. Masyarakat urban adalah masyarakat yang digerakkan oleh nilai-nilai ekonomi dan waktu karena itu sifat-sifat komunal juga akan tersisih.

Penduduk Kelas Menengah

Sejak tiga tahun terakhir, kajian tentang kelas menengah Indonesia menghiasi berbagai media dan tajuk berita. Secara jumlah kelas menengah Indonesia memang fantastis, BCG dalam laporannya menyebutkan tahun 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, sementara McKinsey lebih konservatif menyebut kelas menengah Indonesia tahun 2012 berjumlah 45 juta jiwa. Beberapa lembaga domestik bahkan menyebutkan jumlah lebih fantastis, paling tidak 140 juta penduduk Indonesia adalah kelas menengah.

GM3

Mengapa kelas menengah penting? Dalam sejarah di berbagai negara, kelas menengah selalu menjadi motor perubahan terutama terkait dengan aspek ekonomi dan perubahan sosial. Mereka sudah memiliki daya beli yang cukup sehingga menjadi penggerak ekonomi dari sektor konsumsi, mereka juga memiliki gaya hidup di atas kebanyakan orang.

Kelas menengah juga memiliki ciri kaum terdidik, mereka punya cukup bekal keilmuan sehingga artikulasi pemikiran mereka cukup baik. Mereka kritis dan tidak segan-segan mengutarakan opini pribadi terkait isu-isu sosial di sekitar kehidupan mereka.

GM4

Penduduk Muda

Lebih dari 35% penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah penduduk muda yang berusia 15–34 tahun, bahkan di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, penduduk mudanya bisa lebih dari 40%. Mereka ini adalah penduduk yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an, mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Generasi Millennial. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millennial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X yang lahir tahun 1960–1980.

Dibanding generasi sebelumnya, Generasi Millennial memang unik. Hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center misalnya, secara gamblang menjelaskan keunikan Generasi Millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan Generasi Millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet; entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Wajah Indonesia 2020

Wajah Indonesia tahun 2020 akan sangat ditentukan pertemuan tiga entitas di atas yakni kombinasi antara masyarakat urban, kelas menengah, dan Millennial. Merekalah yang akan menjadi pelaku utama sejarah Indonesia di masa mendatang, saya menyebut mereka sebagai “the urban middle-class millennials”.

Prediksi yang dilakukan BPS menunjukkan di tahun 2020 penduduk kota akan mencapai 56,7%, dan tahun 2035 akan mencapai 66,6%! Prediksi BCG menyebutkan jumlah MAC tahun 2020 mencapai 141 juta orang, sementara McKinsey memprediksi kelas menengah Indonesia tahun 2030 mencapai 130 juta orang.

Jumlah Millennial Indonesia tahun 2020 juga rasanya tidak akan berbeda terlalu jauh dari jumlah sekarang, bahkan cenderung konstan di angka 35%. Millennials di tahun 2020 berada pada puncak keemasan kehidupan mereka baik dari sisi kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakatnya.

Lalu, bagaimana ciri dan karakter masyarakat urban middle-class millennials? Setidaknya ada tiga yaitu pertama, confidence; mereka ini adalah orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Kedua, creative; mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Ketiga, connected; yaitu pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Jadi, selamat menyambut kehadiran the urban middle-class millennials!

Hasanuddin Ali, CEO Alvara Strategic Research, Training Dept. Head PERPI

Sumber : marketing.co.id

JANGAN MENIRU ORANG SUKSES

Apa yang salah memangnya dengan meniru orang sukses?

Apakah tidak boleh kita meniru sosok/orang yang kita idolakan?

Bukankah orang sukses dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk kita? Mereka itukan teladan yang baik, contoh keberhasilan dan harus ditiru oleh siapa saja yang ingin sukses seperti mereka.

Ya, Anda benar, tidak ada yang salah dengan meniru orang-orang sukses sebagai panutan dan inspirasi, tetapi kebanyakan orang salah dalam meniru hasil sebagai tujuannya.

  • Orang sukses itu terlihat kaya –> Anda berusaha supaya terlihat kaya (menghabiskan uang yang Anda miliki).
  • Orang sukses itu hidup mewah –> Anda berusaha terlihat bahagia dengan berfoya-foya, jalan-jalan keluar negeri, makan direstoran mahal, menginap dihotel berbintang, beli barang-barang branded (yang sebenarnya juga tidak Anda butuhkan).
  • Orang sukses itu terkenal –> Anda berusaha mengumpulkan followers/like di social media, dan mencari perhatian sana-sini.
  • Bill Gates aja DO sukses –> Anda ikut-ikutan DO dan berharap nasib Anda sama seperti Bill Gates (good luck).
  • Orang sukses itu sibuk –> Anda berusaha terlihat sibuk (melakukan hal-hal yang tidak penting).

Yang jadi masalah utamanya adalah orang-orang sukses tidak meraih kesuksesan sesuai dengan cara yang Anda tiru. Kebanyakan dari kita meniru hasil bukan proses, meniru penampilan mereka bukan jejak/langkah mereka.

Kita sangat ahli dalam menilai hasil, melihat tampilan luar dan memperhatikan keadaan yang sekarang tetapi kita jarang memperhatikan isi, menilai proses/usaha yang orang-orang sukses jalani dan lakukan dimasa lalu sebelum mereka sukses seperti sekarang.

Dan memang seperti itulah cara semua orang menilai, kita sendiri juga dinilai dari hasil akhir (apa yang sudah kita lakukan/berikan untuk orang lain), dan tidak ada yang peduli dengan apa yang ada dipikiran kita sekarang. Atau jika ingin lebih spesifik lagi kita menilai orang lain dari“bagaimana mereka membuat kita merasakan tentang diri kita sendiri”.

We judge others by how they make us feel about ourselves.

Jika seseorang membuat Anda merasa kurang/rendah/inferior maka kita cenderung tidak akan menyukainya atau membencinya.

Jika seseorang membuat Anda merasa lebih/kuat/superior maka kita cenderung menyukainya dan suka berada didekatnya.

Itulah sebabnya artis/publik figur dan orang-orang sukses lainnya disukai karena mereka dapat membuat orang-orang merasa lebih baik hanya karena berada didekatnya, orang-orang suka berada didekat kesuksesan baik itu kekayaan, kepopuleran, kepintaran, ketampanan/kecantikan dan lain-lain.

Kesimpulannya adalah jangan meniru hasil akhir orang-orang sukses, tetapi tirulah prosesnya. Lihatlah masa lalu mereka dan apa yang mereka lakukan, bukan mereka yang sekarang sudah sukses. Janganlah tertipu oleh penampilan semata tetapi perhatikan juga isi, proses seperti apa yang telah mereka jalani selama ini. Dan ingatlah Anda dinilai berdasarkan apa yang sudah Anda lakukan (bukan yang Anda pikir), dan lebih penting lagi Anda dinilai berdasarkan bagaimana Anda membuat orang lain merasakan tentang diri mereka, jadi buatlah orang lain merasa bahagia, lebih kuat, lebih percaya diri dan merasa dicintai. Kita semua dapat memberikan sesuatu untuk orang lain bahkan sesimpel perhatian kita, maka dari itu berikanlah sesuatu untuk orang lain.

  • Share/bagikanlah apa yang sudah Anda pelajari atau Anda ketahui kepada orang lain
  • Hargailah usaha/karya orang lain ketimbang memberikan komentar negatif/spam/trolling
  • Jangan menebar kebencian atau isu negatif baik didunia nyata maupun maya
  • Berikanlah perhatian Anda kepada orang-orang yang membutuhkannya (keluarga/teman/sahabat)
  • Dan yang paling penting buatlah orang lain merasa lebih baik dengan keadaan/dirinya sendiri

Kita bisa memulainya dari mana saja dan siapapun dapat melakukannya. Karena itu berikanlah. Give and you’ll be happy.

MENGAPA PELAJAR DENGAN NILAI BIASA TERMASUK DROP OUT BISA SUKSES DALAM HIDUPNYA

zuck

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan para miliarder drop out diatas, Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg ketiganya merupakan pengusaha sukses yang sama-sama drop out (DO) dari kampus mereka, namun bukan berarti kita harus DO untuk sukses seperti mereka, yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mereka bisa sukses tanpa gelar/ijazah dan apa yang mereka lakukan setelah DO dari kampus mereka masing-masing.

Pertama-tama sekolah itu penting. Jangan karena setelah Anda membaca artikel ini malah jadinya Anda tidak sekolah, karena disini kita akan membahas beberapa hal yang salah didalam sekolah dan belajar dari mereka yang dapat sukses walaupun mereka tidak lulus atau memiliki nilai biasa-biasa saja disekolah.

Ada banyak 3 hal yang salah dalam sekolah dan perlu kita pahami dengan baik. Tentu 3 hal berikut tidak mewakili semuanya tetapi mari kita pelajari satu-persatu.

1. Sukses di sekolah/kuliah tidak ada hubungannya dengan kesuksesan dalam hidup

Mayoritas dari kita (hanya asumsi) sekolah dengan tujuan “uang”, yang artinya sekolah/kuliah lalu lulus mendapat gelar dan mencari pekerjaan yang lebih baik dengan bayaran yang lebih mahal. Sekolah/kuliah hanya memastikan Anda mendapat “gelar” dan “peluang pekerjaan”yang lebih baik. Artinya jika Anda sekolah/kuliah dengan nilai sebaik apapun tidak menjamin Anda mendapatkan pekerjaan/gaji yang lebih baik dari mereka yang biasa-biasa saja, tentu dengan nilai/IPK yang lebih tinggi mempermudah Anda untuk mencari pekerjaan atau lolos seleksi job interview, tapi peran sekolah hanya sejauh itu dalam karir Anda, sisanya tergantungAnda bagaimana Anda menjalankan pekerjaan dan meningkatkan value Anda sebagai karyawan. Intinya sekolah hanya menjamin Anda mendapatkan “peluang pekerjaan” yang lebih baik (job security), saya bilang “peluang” karena pada kenyataannya tidak semua sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah mereka.

Kita bayangkan ilustrasi berikut:

Di Indonesia jumlah sarjana dari tahun ke tahun terus meningkat, sedangkan kita tahu entrepreneur di Indonesia masih sangat minim. Dengan lapangan pekerjaan yang seadanya dan pertumbuhan sarjana tiap tahunnya, dapat dipastikan akan banyak sekali pengangguran S1 dan lebih banyak lagi pengangguran SMA nantinya. Perusahaan dapat mencari sarjana S1 dengan mudah sedangkan mereka yang sarjana memiliki pilihan yang seadanya. Nantinya mungkin ijazah S1 akan dianggap seperti ijazah SMA, apa arti ijazah S1 jika semua orang punya ijazah S1..?

Kompetisi yang ada juga akan membuat kita semakin sulit untuk sukses karena basicnya kita bersaing dengan “semua orang yang sekolah/kuliah” dan sudah ada jutaan orang yang memiliki ilmu yang sama, jadi berpikirlah bagaimana untuk meningkatkan skill/value Anda atau menjadi unik dari yang lainnya.

2. Sekolah adalah pembunuh kreativitas

Untuk sukses dalam hidup Anda membutuhkan passion/hasrat dalam bekerja, bukan sesuatu yang dipaksakan hanya karena “semua orang melakukannya”. Tentu Anda masih ingat saat sekolah kita mempelajari belasan mata pelajaran yang pada akhirnya menyusut menjadi beberapa subjek saat kita kuliah. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah passion atau bakat Anda ada disana? Bagaimana jika bakat Anda adalah bermain basket, atau menjadi atlit gaming, atau membuat video-video lucu di youtube, atau membuat komentar tentang video game di youtube? Itu semua tidak ada disekolah, Dan pada akhirnya orang-orang menua tanpa memiliki passion terhadap apapun. Mayoritas dari kita masih meremehkan bidang seni/kreatif dan menganggap akan sulit menghasilkan uang dari bidang tersebut. Pada kenyataannya memang tidak semua orang bisa sukses dibidang seni, begitu pula sebaliknya tidak semua orang bisa sukses dibidang akademik/sekolah. Are you an academic or an artist? Or something else..?

3. Sekolah (mayoritas) tidak melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan menghafalKebanyakan sekolah (mungkin saya salah) tidaklah melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan kita menghafal. Contoh:

  • Biologi = Menghafal nama latin dan organ tubuh manusia
  • Fisika = Menghafal teori hukum alam dan rumus-rumus ilmuwan
  • Matematika = Menghafal rumus-rumus kalkulus dan perhitungan dimensi lainnya
  • Geografi = Menghafalkan fakta tentang bumi
  • Sejarah = … (sudah jelas)

Mungkin contoh diatas tidak sepenuhnya benar, ada beberapa kasus yang membutuhkan kemampuan berpikir seperti pemecahan soal kasus matematika dan fisika (menggunakan logika), namun hampir sebagian besar apa yang dipelajari di sekolah/kuliah adalah hafalan. Hanya sedikit mata pelajaran yang betul-betul mengajarkan kita tentang berpikir. Beberapa bidang yang “menurut saya” betul-betul melatih kemampuan berpikir logika/nalar yaitu:

  • Coding/Programming
  • Teknik/Engineering
  • Komunikasi/Language
  • Art/Design


Sekarang mari kita belajar mengapa mereka yang biasa-biasa saja disekolah bahkan DO dapat sukses dalam hidupnya. Tentu tidak semua orang yang biasa-biasa saja/DO itu sukses, begitu pula mereka yang sukses disekolah tidak semuanya berhasil/gagal dalam hidupnya, yang kita perlu pelajari adalah bagaimana bisa orang-orang tersebut sukses walaupun tidak memiliki ijazah atau prestasi apapun disekolah.

Untuk menjadi sukses seperti Bill Gates/Mark Zuckerberg kita perlu mempelajari prosesnya (bukan DO-nya), ada satu pola yang sama dari mereka-mereka yang sukses tanpa memiliki ijazah atau prestasi apapun disekolah yaitu mereka membangun aset sedini mungkin danmenciptakan sesuatu dari aset tersebut.

Membangun aset

Aset yang dimaksud bukanlah uang/properti/ijazah/pekerjaan melainkan skill, passion, daninvestasi diri lainnya. Bill Gates/Mark Zuckerberg bukanlah programmer terbaik di dunia, mereka drop out dari Harvard bukan karena mereka bodoh, tetapi mereka menemukan bidang yang mereka kuasai namun tidak diajarkan disekolah. Mereka menganggap kemampuan/skill mereka sendiri sebagai investasi. Apapun yang mereka pelajari harus berguna untuk kehidupan mereka dan apapun yang mereka lakukan harus memberikan hasil yang lebih baik. Pendidikan formal mungkin bisa meningkatkan rasa aman kita, tetapi cepat atau lambat Anda akan merasa itu semua tidak relevan, skill/kemampuan tetaplah investasi terbaik. Dalam hidup orang tidak akan menanyakan berapa nilai/IPK Anda tetapi apa yang dapat Anda berikan untuk mereka. Value apakah yang dapat Anda berikan untuk orang lain?

Menciptakan sesuatu

Bill Gates membangun Microsoft, Steve Jobs membangun Apple, Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, begitu pula dengan pengusaha-pengusaha drop out lainnya. Dengan menciptakan sesuatu mereka juga meningkatkan aset yang sudah mereka bangun sejak awal. Semua aset yang mereka punya memiliki efek snowball (efek bola salju), ibarat bola salju yang terus bergulir semakin lama akan semakin besar, kebanyakan orang membuat kesalahan dengan menukar waktu yang mereka punya dengan uang (karyawan), yang artinya mereka terjebak selamanya dalam pemikiran menghabiskan waktu untuk mendapatkan uang, tetapi jika Anda menginvestasikan waktu Anda untuk skill/kemampuan/passion dan menciptakan sesuatu/value dari sana maka apa yang Anda ciptakan dapat menghasilkan uang bahkan disaat Anda tidur.

Sebagai contoh apakah ada yang mau membayar Mark Zuckerberg/Bill Gates milyaran dollar sebagai karyawan atau programmer freelance..?

Mereka memulai sedini mungkin, membangun aset saat mereka muda dan menciptakan sesuatu dari aset-aset yang sudah mereka bangun. Mereka tahu bahwa memulai adalah satu-satunya cara supaya mereka tahu rasanya, mereka tidak perlu izin dari orang lain untuk menciptakan sesuatu, dan dengan menciptakan bola salju (snowball) mereka sendiri maka semua aset yang mereka miliki akan semakin besar seiring berjalannya waktu.



Itulah mengapa mereka yang biasa-biasa saja disekolah bahkan drop out dapat sukses luar biasa dalam hidupnya, yang perlu kita pelajari adalah membangun aset sedini mungkin (skill/passion) dan menciptakan sesuatu (build snowball) yang dapat berguna untuk orang lain. Tentunya semua itu tidak semudah kata-kata dalam artikel ini, Anda perlu waktu, modal, koneksi, kerja keras, dan sebagainya.

Kesuksesan bukan tentang nilai/IPK yang kita punya melainkan karakter, pengalaman, kemampuan dan ketekunan yang kita miliki. Kita dapat belajar banyak dari mereka yang sukses walaupun tidak berprestasi selama sekolah, yang harus kita pelajari adalah prosesnya, apa yang membuat mereka bisa seperti sekarang, apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka menghadapi kehidupan diluar sekolah. Beberapa contoh yang sangat bagus untuk kita pelajari seperti:

  • Bill Gates – founder Microsoft
  • Steve Jobs – founder Apple
  • Mark Zuckerberg – founder Facebook
  • Richard Branson – founder Virgin Group
  • David Karp – founder Tumblr
  • Michael Dell – founder Dell

Versi lokal:

  • Bob Sadino – pengusaha sukses yang terkenal dengan gaya celana pendeknya
  • Arief Widhiyasa – CEO Agate Studio

Jangan sampai terinspirasi dengan drop outnya, tetapi proses yang mereka jalani diluar kehidupan sekolah. Kehidupan adalah pendidikan terbaik, bukan tentang sekolah atau nilai atau DO, tetapi kerja keras, passion, komitmen, pengorbanan, pantang menyerah untuk terus belajar dan berusaha.

 

 

Sumber : http://solusik.com/

Menarget Pasar Ibu

* Pasar ibu rumah tangga adalah segmen pasar yang sangat menggiurkan mengingat ukuran dan pertumbuhannya yang fantastis. Tapi harus diingat, tak gampang menggapainya. Dibutuhkan jurus-jurus pemasaran jitu.

Selama ini kita menganggap bahwa Ibu hanyalah sebagai seorang istri yang tugasnya mengurus suami dan anak-anak. Karena itu kemudian ada ungkapan nakal bahwa seorang Ibu hanyalah mengurusi tiga –ur yaitu dapur, sumur dan kasur. Maksudnya, seorang ibu hanyalah mengurusi tetek-bengek urusan rumah tangga, sementara giliran urusan yang besar-besar diputuskan si bapak, termasuk tentu saja keputusan pengeluaran keluarga Tapi apakah memang demikian?

Impian Setiap Pemasar
Barangkali Anda tidak tahu bahwa 80% cek di Amerika ternyata ditandatangani oleh wanita. Barangkali Anda tak tahu bahwa pasar wanita di Amerika yang total jendral berjumlah 141 juta jiwa, telah mencapai US$ 3,7 juta pertahun. Ini berarti merupakan pasar ketiga terbesar di dunia dengan daya beli kolektif melebihi ekonomi Jepang sekalipun. Dan, barangkali Anda juga tidak tahu bahwa di negeri Paman Sam seorang Ibu mengontrol sekitar 80% pengeluaran rumah-tangga atau sekitar US$ 1,6 Triliun alias 16.000 triliun rupiah, sebuah angka yang sangat-sangat besar.

Seorang Ibu tak hanya mengendalikan pembelian anak-anak dan suaminya, lebih jauh lagi ia memicu adanya domino effect dimana ibu mempengaruhi pembelian keluarga lain mulai dari keluarga suami, tante, sepupu dan yang tidak bisa dilupakan tentu keluarga tetangga. Bukankah para ibu paling suka yang namanya ngerumpi mulai dari di arisan hingga di kafe untuk ibu yang lebih modern? Tanpa adanya persetujuan dari Ibu, akan sulit bagi seorang anak untuk membeli produk anda. Ibu tidak hanya memutuskan apa yang ingin mereka beli untuk keperluan pribadi tetapi juga sebagai penentu pembelian keluarga.

Jika seorang Ibu memutuskan untuk tidak berliburan, maka tidak ada seorangpun di keluarga yang akan berlibur. Jika kita tidak bisa memuaskan seorang Ibu maka kita tidak akan bisa menghasilkan penjualan dari mereka. Sepanjang waktu yang ada, seorang Ibu-lah yang akan menetukan apa yang akan dikonsumsi oleh keluarga, dekorasi dalam rumah, hingga tujuan liburan.

Kalau di Amerika ibu rumah tangga demikian powerful, bagaimana dengan di Indonesia? Memang belum ada penelitian yang komprehensif untuk menghitung ukuran pasar ibu rumah tangga, namun data-data berikut barangkali bisa memberikan gambaran kasar. Sekitar 60% Ibu rumah tangga di Jakarta ternyata memiliki 1-2 kartu kredit, 52% berbelanja dengan menggunakan kartu kredit, dan 80% pernah berbelanja ke luar negeri? Para Ibu juga dengan mudah mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah sebulan. Survei secara random terhadap 100 ibu muda menunjukkan mereka memiliki pengeluaran rata-rata rumah tangga per bulan di atas Rp. 10 juta (25%), Rp. 5-10 juta (10%) dan Rp. 2-5 juta (65%).

Survai yang dilakukan oleh MarkPlus&Co. tahun 2004 di 14 kota besar di Indonesia dengan jumlah reposnden 2000 ibu rumah tangga menunjukkan hasil yang sangat menarik. Ibu ternyata menjadi pengambil keputusan dominan untuk pembelian beragam produk mulai dari peralatan dapur, pakaian anak, obat bebas, sekolah anak, hingga liburan keluarga. Bersama-sama dengan si suami, ibu juga menjadi pengambil keputusan yang penting untuk produk-produk mulai dari rumah, furnitur, asuransi, bank untuk menabung, hingga perlengkapan rumah tangga seperti lemari es, kompor gas, atau TV.

Nilai-Nilai dan Perilaku
Survai dari BSM Media, perusahaan yang mengkhususkan diri pada riset perilaku ibu, menunjukkan, 70% ibu rumah tangga beranggapan perusahaan tidak melakukan komunikasi dan interaksi dengan baik terhadap mereka. Akibatnya gampang ditebak, dana yang mereka habiskan untuk berpromosi dan program pemasaran menjadi mubasir. Apa kira-kira sebabnya? Tak lain karena para pemasar umumnya kurang memahami kebutuhan dan perilaku ibu.

Menarik sekali mengungkap nilai-nilai dan perilaku yang dimiliki oleh ibu rumah tangga di Indonesia, karena dari sinilah kita bisa merujuk orientasi dan keputusan dalam melakukan pembelian. Mengacu ke survai MarkPlus&Co., ternyata ibu di Indonesia sangat menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Apa pesan penting dari temuan ini? Sederhana saja, jangan sekali-sekali Anda sebagai produsen bohong kepada mereka. “Hell hath no fury like a woman scorned,” kata Pujangga Inggris Shakespeare, “tak ada marah sehebat wanita yang dibohongi.”

Selanjutnya, ibu di Indonesia ternyata meletakkan pendidikan, khususnya untuk anak-anaknya, pada prioritas terpenting setelah kejujuran. Karena menjadi prioritas, apa kira-kira implikasinya? Yang jelas ibu cenderung tidak price-sensitive alias berorientasi kualitas kalau sudah memutuskan pendidikan untuk anak-anaknya. “Pendidikan adalah modal utama bagi penerus kami untuk mendapatkan masa depan yang cerah,” kata salah satu responden yang kami temui.

Ketika ditanya apakah aspek terpenting bagi ibu dalam kehidupanya, maka kami menemukan beberpa jawaban yang juga tak kalah menarik. Tiga keinginan tertinggi ternyata adalah masing-masing, “pernikahan yang bahagia,” “memiliki anak,” baru kemudian “memiliki rumah.” Yang menarik, ternyata keinginan untuk “memiliki gaji tinggi,” “memiliki perhiasan yang mahal,” dan “menjadi anggota klub eksekutif” masuk dalam prioritas yang rendah.

Secara lebih umum, beberapa survai di luar negeri menunjukkan bahwa beberapa nilai-nilai berikut ini sangat penting bagi seorang ibu. Yangpertama adalah penghematan waktu. Di mata seorang ibu, penghematan waktu (waktu untuk keluarga, diri sendiri, kerja, dan rumah tangga) adalah hal yang sangat penting. Waktu menjadi begitu herharga sehingga seorang Ibu bersedia untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk menghemat waktu.

Kedua adalah value. Seorang Ibu belum tentu selalu menginginkan produk yang berharga murah saja tetapi mereka berkeinginan untuk membeli produk dengan harga kompetitif yang dapat memberikan pelayanan prima serta pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Kami menyebut ibu rumah tangga adalah smart customer. Kenapa? Karena dalam membeli para Ibu tidak hanya sebatas melihat harga yang murah saja tetapi juga membandingkan kualitas dan manfaat yang didapatkan.

Ketiga adalah kesehatan dan keamanan keluarga. Ibu selalu mengidentifikasi kebutuhan keluarga lebih dari sekedar kepentingan pribadi. Bagi seorang ibu kesehatan setiap anggota keluarga adalah nomor satu, karena itu untuk produk-produk yang mendukung kesehatan keluarga, ibu biasanya tak begitu peka terhadap harga.

Dan terakhir yang tak kalah pentingnya adalah child enrichment alias pengembangan si anak. Seorang Ibu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pintar, sukses dan juga bahagia. Untuk itu sebuah produk harus memiliki 2 selling point yaitu harus dapat menjamin kesehatan/keselamatan anak-anak dan juga dapat membuat mereka tambah cerdas dan bahagia. Jika seorang Ibu membeli mainan yang juga mendidik maka dia akan merasa bahwa telah melakukan sesuatu yang berharga bagi anaknya

“Word of Mom”
Kaum hawa termasuk diantaranya tentu saja ibu, memang diciptakan sebagai mahluk yang doyan bicara dan curhat. Sifat seperti ini rupanya membawa berkah bagi para pemasar. Untuk mengetahui sejauh mana bernilainya kalangan ibu sebagai konsumen, coba anda jalan ke sebuah taman dimana sekelompok ibu saling bercengkerama. Dalam hitungan menit anda akan mendengar para ibu berdiskusi mulai dari kesehatan, makanan, anak, tujuan liburan, sinetron dan telenovela, hingga cerita film-film Bollywood. Belum lagi ngerumpi tentang perlengkapan bayi, kulkas yang baru mereka beli, mobil baru milik tetangga sebelah, hingga isu-isu politik dan perseteruan Saddam vs. Bush.

Mau tahu kekuatan dari hobi ngerumpi dari seorang ibu? Sebuah survai di Inggris menunjukkan bahwa seorang ibu akan merekomendasikan 5 merek kepada ibu-ibu lainnya dalam sebuah diskusi kelompok yang hanya berlangsung 3 menit. Dan rekomendasi tersebut akhirnya diikuti  oleh 2 orang Ibu lainnya. Berarti hanya dalam hitungan 3 menit setiap merek akan memperoleh tambahan 2 konsumen baru.
.
Para Ibu mengontrol dan mengeluarkan sejumlah uang untuk pribadi maupun keluarga, dan sebagai pemasar Anda harus berterima kasih kepada mereka karena seorang Ibu tidak sekedar menghabiskannya tetapi juga senang menceritakan kemana uang mereka dibelanjakan kepada para Ibu lainnya. Proses komunikasi melalui komunitas seperti inilah yang melahirkan istilah “word of mom” atau cerita dari mulut ke mulut. Para ibu senang berbicara, berdiskusi, membandingkan serta berbagi. Jika Anda dikagumi oleh para Ibu, maka yakinlah mereka akan berbagi cerita tentang produk anda. Seorang ibu akan bisa menjadi “papan reklame” bagi merek Anda.

Kunci bagi perusahaan anda untuk menyasar segmen pasar ibu adalah belajar untuk menempatkan diri Anda sebagai seorang ibu—you have to walk in the shoes of moms. Target utama dari setiap usaha pemasaran Anda haruslah dapat membuat si ibu membicarakan produk anda ke orang lain secara positif. Setiap usaha harus difokuskan untuk memacu para Ibu membicarakan produk anda.

 

Sumber : yuswohady.com

Memaksimalkan Etalase Facebook Page

Bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan denyut jantung perekonomian di Asia Tenggara. Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan setengah atau lebih dari total GDP (Gross Domestic Product) di seluruh kawasan. Di Indonesia, UKM mampu menciptakan lebih dari 95% total lapangan pekerjaan dan berkontribusi sebesar 58% dari GDP.

UKM menggunakan Facebook untuk mengembangkan bisnis mereka selain untuk menjangkau pelanggan mereka yang sekarang, pelanggan sebelumnya maupun pelanggan potensial mereka terutama di mobile. Orang-orang di Asia Tenggara menghabiskan sebagian besar waktu mereka di mobile setiap harinya (orang Malaysia menghabiskan lebih dari tiga jam di mobile, sedangkan orang Thailand menghabiskan hampir tiga jam) dan 1 menit dari 5 menit waktu yang digunakan di mobile dihabiskan untuk mengakses Facebook.

Untuk menjangkau konsumen ini, brand harus terhubung dengan mereka di mobiledan mereka bisa menjangkau sekitar 241 juta orang di Asia Tenggara dengan mudah di Facebook. Mereka adalah 241 juta konsumen potensial yang ingin terhubung dengan bisnis lokal dengan cara yang lebih bermakna. Kami juga melihat bahwa orang berinteraksi dengan bisnis-bisnis yang penting bagi mereka. Di Indonesia sendiri, sebanyak 62% pengguna terhubung   dengan sebuah page UKM.

Pemilik bisnis di Asia Tenggara menggunakan Facebook Page secara efektif untuk meningkatkan basis pelanggan atau customer base mereka, membangun brand dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dea Valencia, seorang pengusaha berusia 21 tahun dari Indonesia, membuat bisnisnya Batik Kultur pada saat ia berusia 16 tahun. Kini, ia telah mempekerjakan sebanyak 66 orang. Ketika ia memulai bisnisnya pertama kali, sebanyak 95% bisnisnya berasal dari profil Facebook pribadinya. Ia menyadari bahwa ini bukanlah sebuah pendekatan yang tepat, ia pun memutuskan untuk mengubah cara kerjanya dari menggunakan profil pribadi untuk menggunakan Page bisnis di tahun 2014. Hasilnya, Dea mengalami peningkatan penjualan sebesar 60%, kenaikan sebesar 70% pada kumpulan pelanggannya dan 125 kali pengembalian untuk iklan yang telah dihabiskan atau ad spend.

Di bawah ini adalah beberapa tips untuk bisnis yang baru saja akan membuka bisnis atau bisnis yang telah membuka etalase online di Facebook, dan ingin memaksimalkan Facebook Page mereka.

  • Membuat Page

Siapa saja yang menggunakan Facebook dapat membuat sebuah Page Bisnis. Kebanyakan bisnis menggunakan logo mereka sebagai foto profil dan ini adalahthumbnail yang akan muncul di News Feed pengguna ketika Anda posting sesuatu. Paling baik adalah untuk tidak senantiasa mengubah gambar Page bisnis Anda. Karena Anda perlu konsisten dalam hal image bisnis Anda agar sekilas pun orang tahu postingtertentu berasal darimana.

Saat Page Anda sudah dibuat, biarkan konsumen potensial Anda mengetahui bahwa Anda adalah brand yang terpercaya dengan melakukan verifikasi untuk Page Andamenggunakan centang abu-abu. Hal ini juga membantu untuk membuat mereka mengetahui seberapa cepat Anda menjawab pertanyaan mereka dengan meng-update rating respon Anda di Page bisnis. Tambahkan call to action atau CTA agar pengguna bisa berbelanja, melakukan pemesanan atau sign up dengan mudah.

  • Fokus pada Konten

Buatlah konten yang mobile-friendly karena mayoritas pengguna di Asia Tenggara kemungkinan besar akan melihatnya. Raih perhatian mereka dan sampaikan pesan Anda dengan cepat khususnya kepada orang yang memiliki rentang perhatian rendah di mobile. Gunakan foto yang menyenangkan atau yang dapat memberikan kejutan untuk konsumen Anda serta video auto-play sehingga bisnis Anda dapat tetap terlihat di News Feed.

Video adalah sebuah cara yang tepat untuk terhubung dengan konsumen Anda melalui visual, suara dan gerakan. Pastikan Anda memancing perhatian mereka di 3 detik pertama. Kami menyebutnya sebagai “audisi 3 detik” – 65% orang yang menonton tiga detik pertama sebuah video akan menonton video tersebut setidaknya hingga sepuluh detik dan 45% lainnya akan melanjutkan untuk menonton video hingga 30 detik.

Dengan video, pastikan Anda mengaktifkan caption atau teks pada video. Sebuah riset internal menemukan bahwa 41% video menjadi tidak berarti tanpa suara dan banyak orang yang menonton video dengan tidak mengaktifkan suara. Sehingga gunakancaption, logo dan produk sehingga pesan Anda dapat diutarakan dengan jelas meskipun tanpa suara.

Jika Anda memiliki konsumen yang hidup di Negara yang berbeda buatlah postingan dalam bahasa mereka dan jadwalkan postingan itu hanya bagi mereka untuk dilihat.

  • Penargetan

Gunakan data CRM Anda saat ini untuk berbicara dengan konsumen Anda di Facebook. Cocokkan dengan email mereka, foto dan berinteraksi dengan mereka menggunakan perangkat pilihan mereka.

Anda juga dapat menggunakan data pihak pertama untuk menarik perhatian konsumen baru. Secara sederhana gunakan data konsumen terbaru Anda dan temukan konsumen sejenis di Facebook yang menggunakan Lookalike Audience.

Menjangkau konsumen baru potensial dengan menggunakan penargetan berdasarkan minat atau penargetan yang berdasarkan lokasi dan demografi. Jangan lupa untuk menargetkan kembali pelanggan  yang tidak menyelesaikan pemesanan (gagal melakukan pembelian) dan mengingatkan mereka kembali akan barang yang mereka tinggalkan di ‘keranjang’ atau basket.

  • Pengukuran

Sangat penting untuk mengetahui kinerja belanja iklan Anda bekerja dan pada saluran apa yang bisa mendorong pertumbuhan untuk membantu Anda menentukan fokus upaya pemasaran Anda. Lihat Ads Manager untuk mendapatkan lebih dari sekedarengagement dan jumlah fan serta mengukur dampak bisnis seperti penjualan, kesadaran brand termasuk lead yang muncul dari iklan online Anda.

memastikan   menghasilkan engagement yang melebihi jumlah, perhitungan fans dan mengukur pengaruh bisnis selain penjualan, brand awareness dan leads yang dihasilkan dari usaha iklan online. 

  • Pelajari Caranya

Lanskap digital terus menerus berevolusi dan penting bagi Anda untuk turut berevolusi dengannya. Jangan pernah berhenti belajar.  Tingkatkan keterampilan Anda dengankursus online Facebook, belajar dari kisah sukses brand lain dan pahami bagaimanamenggunakan perangkat yang tersedia untuk Anda sebelum mendalami fitur ini dan mencobanya.

Sehingga kini Anda dapat membuka etalase Page online Anda sendiri, jangan malu untuk memberitahu orang mengenai hal hebat yang telah Anda lakukan. Sebarkan informasi tersebut ke orang banyak dan gelar karpet merah bagi orang-orang yang akan masuk melalui pintu.

Oleh: Nadia Tan, Head of SMB, Southeast Asia at Facebook

Sumber : swa.co.id

Business Check Up

Banyak data menunjukkan bahwa perusahaan atau organisasi bisnis mengalami kebangkrutan terbanyak dalam masa 5 tahun pertamanya. Hampir 99% bisnis yang muncul akan hilang dalam 10 tahun berikutnya. Sebuah gambaran yang pesimistis dan menakutkan. Namun, apakah hal ini harus terjadi ? Dan, mengapa semua itu bisa terjadi ? Bagaimanakah usaha kita agar hal ini bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan sama sekali ?

Firsyan Rachmil Deny, Corporate Coach

Semua bisnis pasti memiliki potensi untuk mengalami kebangkrutan, tidak peduli sebaik dan sebesar apapun bisnis tersebut. Ambil  contoh Lehman brothers, sebuah perusahaan investasi yang sangat besar dan telah berumur lebih dari 100 tahun dapat bangkrut hanya dalam 1 malam saja. Namun tanda-tanda kebangkrutan yang ada tentu saja tidak muncul hanya dalam 1 malam. Pasti tanda-tanda tersebut sudah ada jauh sebelum kebangkrutan itu terjadi, dan bahkan mungkin banyak kejadian sudah dirasakan oleh perusahaan tersebut sebagai bentuk tanda pelemahan dan kemunduran. Tulisan di bawah ini dimaksudkan sebagai bahan masukan bagi banyak para pebisnis dan pengusaha dalam menjalankan kegiatan-kegiatan usahanya.

Perusahaan adalah organisasi hidup

Sebuah perusahaan diibaratkan sebagai sebuah tubuh manusia. Banyak dari kehidupan manusia yang merasakan tubuhnya baik-baik saja, namun kemudian tanpa mereka sadari bahwa tanda-tanda penurunan dan kerusakan sudah mulai diderita oleh orang tersebut. Dari penampilan luar, bisa jadi orang tersebut tidak menampakkan hal-hal yang negatif atau hal-hal yang menunjukkan rasa sakit. Namun bukan berarti orang tersebut sehat atau fit secara lahiriah. Ketika kemudian mereka melakukan medical check up, barulah diketahui bahwa mereka menderita banyak hal yang berpotensi menimbulkan sakit atau kerugian pada tubuh mereka (kolesterol tinggi, gula darah tinggi, asam urat, dll).  Ini berarti, orang tersebut membutuhkan apa yang disebut sebagai pemeriksaan kesehatan secara berkala. Agar mereka dapat mengetahui  saat ini dan apa yang perlu dilakukan untuk merespon keadaan tersebut secara terencana agar kualitas kehidupan mereka yang ada saat ini tetap baik atau bahkan dapat ditingkatkan. Demikian pula sebuah perusahaan atau organisasi bisnis. Kebanyakan para pemilik bisnis tidak merasakan kekurangan yang ada. Mereka merasa baik-baik saja. Mereka tahu bahwa ada resiko dalam setiap keputusan bisnis mereka, namun sepanjang bisnis tetap berjalan dengan baik. Mereka tetap akan beranggapan perusahaan masih oke-oke saja. Sampai kemudian mereka terlambat dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi sehingga mengakibatkan terhentinya usaha mereka selama ini.

Belajar dari hal tentang tubuh manusia, maka kita dapat pula menerapkannya dalam kehidupan bisnis kita. Aktivitas tubuh manusia bisa di kelompokkan menjadi 5 sistem besar. Yaitu, sistem otot dan rangka, sistem syaraf, sistem pernafasan, sistem pencernaan dan sistem peredaran darah. Lima sistem ini yang mengatur kualitas kehidupan dan penghidupan manusia. Sekarang mari kita pakai pendekatan ini dalam aktivitas perusahaan kita.

  1. Sistem otot dan rangka.

Dalam ilmu kesehatan, sistem otot dan rangka dibuat untuk menegakkan dan memberikan bentuk dan perlindungan pada tubuh manusia. Sistem ini tergantung pada kesehatan otot dan kekuatan tulang dalam tubuh. Manusia membutuhkan kelenturan dan kekuatan rangka tersebut untuk melindungi organ-organ penting di dalam tubuhnya. Kesamaan dalam sistem ini dalam perusahaan adalah Organisasi dan Struktur. Perusahaan harus memiliki struktur dan organisasi  komando dan perintah. Masing-masing orang harus jelas bagian pertanggung jawabannya sehingga masing-masing orang dalam organisasi itu dapat accountable dan dapat diukur kinerja nya. Sehingga tidak timbul saling tumpang tindih. Ketika terjadi tumpang tindih, maka akan ada resiko sebuah pekerjaan tidak dapat diselesaikan karena tidak ada yangaccountable untuk pekerjaan tersebut. Dalam struktur juga penting bagaimana informasi diteruskan dan keputusan diambil. Dalam struktur juga dapat dibuat sistem dan prosedur yang memungkinkan perusahaan melakukan bagian-bagian tugas secara lebih efisien dan efektif. Pengecekan secara mendalam dalam struktur dan organisasi perusahaan ini dapat menguraikan apa saja yang perlu diperhatikan dan diperbaiki, dimana bottle neck yang menghalangi efisiensi dan efektifitas perusahaan.

  1. Sistem syaraf.

Syaraf adalah organ yang berpusat di otak dan tulang belakang yang berfungsi untuk mengatur semua pergerakan yang ada dalam tubuh manusia. Sebuah tangan mendapat perintah digerakkan dilakukan melalui fungsi syarafnya. Ketika fungsi syaraf ini mati atau mengalami kerusakan, maka gerakan yang ada atau operasi yang ada menjadi rusak dan tidak dapat dikendalikan. Akibatnya akan menjadi lumpuh atau tidak terkontrol. Dalam organisasi sistem ini ada dalam LEADER. Leader ada karena organisasi membutuhkan kontrol. Ketika leader tidak melakukan kontrol atau merusak kontrol tersebut, maka banyak tugas dan fungsi akan mengalami gangguan. Karena itu penting sekali leader dan leadership ada dalam organisasi. Kebanyakan organisasi-organisasi besar yang mapan mengalami banyak kesulitan dalam bidang ini. Mereka membutuhkan leader yang visioner sekaligus yang membumi, yang mampu mengayomi dan memotivasi bawahannya. Sehingga organisasi berjalan dengan cepat, sigap namun tetap dalam koridor resiko yang dapat dikelola. Ketika sistem saraf ini tidak berjalan – leader dan leadership ini tidak berjalan sesuai harapan, maka akan terjadi saling sabotase, saling menutupi dan merusak yang kerusakannya sangat besar dan berskala luas. Pemeriksaan secara mendalam akan sistem ini, dapat menuntun perusahaan untuk menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan porsi yang ada, dan bagaimana mendapatkan sistem yang terbuka dan efisien.

  1. Sistem pernafasan.

Menurut Jeffrey W.Hayzlett dalam bukunya The Mirror Test, sebuah organisasi dapat disebut hidup dan berjalan baik jika organisasi itu masih bernafas. Apa maskudnya ? Si Jeffrey mengatakan bahwa organisasi yang bernafas adalah organisasi yang dalam kegiatannya menghasilkan uang dan bertumbuh kembang. Yaitu, perusahaan yang memilki jumlah pelanggan yang cukup dan menguntungkan. Organisasi itu memiliki cara bagaimana mendapatkan pelanggan yang tepat, dan bagaimana mereka mempertahankan pelanggan yang tepat itu secara tepat. Pelanggan adalah udara bagi organisasi bisnis. Ketika udara tidak ada, atau jumlahnya dikit, atau mengalami pencemaran sehingga organ pernafasan menjadi berat dalam aktivitasnya. Maka organisasi itu akan mengalami kemunduran, kesusahan dan kerusakan. Akibatnya, jika tidak segera dilakukan antisipasi dan perbaikan, maka kebangkrutan akan terjadi. Penelitian yang mendalam akan sistem ini, dan kondisi udara yang ada saat ini, dan bagaimana untuk merespon keadaan itu. Akan sangat membantu organisasi dalam menjaga tubuh dan fungsi di dalam organisasi tersebut dalam jangka panjang.

 

  1. Sistem pencernaan.

Sistem pencernaan digunakan oleh tubuh untuk memproses segala bentuk input makanan dan minuman yang masuk yang kemudian akan diproses dan dicerna untuk mendapatkan value yang lebih besar yang berguna bagi hidup dan kehidupan tubuh manusia. Sistem ini dalam organisasi diwakili oleh TEAM work. Sistem pencernaan yang bagus tergantung dari kinerja dari alat-alat pencernaan dan keadaan input yang dimasukkan dalam sistem tersebut. Keadaan alat-alat dalam sistem ini memegang peranan vital. Karena sistem pencernaan ini tidak hanya bagaimana mendapatkanoutput yang berkualitas, tapi juga bagaimana membuang efek samping dari proses yang ada. Bagaimana respon yang dilakukan dalam mengatur residu dari semua aktivitas pencernaan ini? Kegagalan dalam mengatasi residu ini juga dapat berakibat fatal dalam tubuh manusia. Begitu juga dalam organisasi, ketika team tidak dapat mengantisipasi efek negatif dan residu yang dihasilkan oleh sebuah proses kegiatan atau project, maka bisa dipastikan residu ini akan mempengaruhi keadaan seluruh team dan bahkan seluruh organisasi. Team perlu berkomunikasi dengan intens sehingga diperoleh kerja sama yang solid. Banyaknya kegagalan dalam team disebaban oleh diabaikannya pengelolaan team ini. Selain itu penting juga untuk menjaga vitalitas team, motivasi dan keunggulan team. Sistem reward dan punishment perlu ditetapkan secara fair dan adil. Sehingga organisasi dapat yakin bahwa team akan menghasilkan output terbaiknya dan dapat mengelola efek buruk dan negatif (resiko) setiap kegiatan yang ada.

  1. Sistem peredaran darah.

Dalam tubuh manusia. Darah lah yang membawa dan mendistribusikan udara dan sari makanan kepada seluruh unit-unit yang membutuhkan di dalam tubuh manusia, sekaligus mengkompensasi dan membersihkan sisa-sisa residu yang ada di dalam tubuh manusia. Sistem ini juga merupakan sistem pertahanan terhadap kehadiran penyakit. Dan merupakan early warning system dalam menghadapi bahaya yang mengancam dalam tubuh manusia. Kekurangan dan kegagalan dalam peredaran darah ini mengakibatkan kerusakan yang banyak di seluruh organ vital tubuh. Dalam organisasi,  sistem ini diwakili oleh  cash flow. Sepanjang peredaran darah masih dapat dijaga suhu, kecepatan dan kekentalan dan tekanan darahnya maka manusia tersebut masih dalam keadaan normal. Sama seperti perusahaan, sepanjang cash flow nya masih berjalan normal, tingkat, waktu dan besarannya maka perusahaan masih akan berjalan normal. Jika sebaliknya, maka perusahaan akan mengalami kegagalan bayar sehingga mengakibatkan runtuhnya reputasi dan kegagalan manajemen. Pentingnyacash flow  ini karena bahasanya bisnis adalah  keuangan. Output dari kerumitan  keuangan dalam organisasi atau perusahaan adalah penciptaan capital dan cash flow. Ketika organisasi tidak bijaksana dalam mengatur cash flow nya maka cepat atau lambat perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Manajemen cash flow  ini penting untuk mengatur dan menjamin semua fungsi dalam organisasi tetap berjalan normal. Namun ketika cash flow  mengalami kendala, maka banyak sekali hal dalam organisasi yang mengalami gangguan dan stagnasi karena tidak ada pembiayaan nya.

Demikian kira-kira bentuk kesamaan organisasi bisnis kita dengan organisasi hidup seperti manusia. Bahwa penting untuk memperlakukan organisasi layaknya seperti sebuah organisasi hidup, yang membutuhkan pengecekan secara berkala apa yang terjadi secara mendalam daripada apa yang sekedar tampak di luar. “Looking good is no measurement of health”. Dengan pengecekan ini, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah penting untuk melakukan penyesuaian dan merespon keadaan yang ada sehingga dalam jangka panjang perusahan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengelola perubahan yang ada.  Semoga informasi ini berguna bagi para penggiat bisnis dan pengambil keputusan dalam organisasi. Segera lakukan bisnis cek up untuk organisasi anda.

Oleh: Firsyan Rachmil Deny, Corporate  Coach

 

Sumber : swa.co.id