Survei: Trend Toko Perkakas di Indonesia

Dengan dibukanya IKEA, survei menunjukan bahwa warga di Jakarta rela menembus macet untuk berbelanja alat rumah tangga.

Dibukanya IKEA di Indonesia menandakan dengan jelas bahwa pasar peralatan rumah tangga yang luas dan terfragmentasi di Indonesia, kini semakin terorganisir. Namun bagaimana pandangan konsumen terhadap toko furnitur yang besar?

gm5

Lamudi, melakukan survei untuk mengukur tanggapan masyarakat mengenai belanja di toko perkakas.

Dari survei yang dilakukan kepada 70 orang ini, sebanyak 87% merasa bahwa toko-toko seperti ini mempunyai dampak yang positif bagi lingkungan mereka.

Walau masyarakat menyukai toko seperti itu, hal menarik juga terlihat dari bagaimana mereka mengunjungi beragam toko yang serupa.

Rata-rata masyarakat telah mengunjungi lebih dari satu toko furnitur besar. ACE Home Center merupakan toko paling populer yang dipilih masyarakat, dengan Courts menjadi yang paling jarang dikunjungi.

Dan meskipun IKEA baru dibuka selama satu bulan, 25% peserta survei mengatakan mereka telah mengunjungi toko tersebut.

Survei juga menunjukan bahwa orang di Jakarta rela menempuh kemacetan untuk mendatangi toko yang mempunyai kualitas produk yang mereka anggap lebih baik.

Keputusan membeli juga biasanya direncanakan sebelumnya dan bukan secara spontan, seperti yang dikatakan oleh 64% peserta survei.

Karena itu, dalam menentukan toko terbaik, sebanyak 54% menentukan berdasarkan kualitas produk dan 36% berdasarkan harga. Hanya 10% yang menjadikan lokasi toko sebagai alasan mereka.

Sementara itu, 57% responden survei merasa ekspektasi harga yang tidak sesuai menjadi alasan mereka tidak melakukan pembelian, meski 71% merasa harga produk tersebut masih masuk akal.

Namun melihat 87% responden yang merasa kualitas produk tersebut cukup baik atau lebih bagus, menandakan bahwa konsumen tidak hanya menilai produk tersebut secara satu dimensi, namun dua dimensi – yaitu kualitas bagus dengan harga yang terjangkau.

Info unik lainnya yang ditemukan dalam survei tersebut adalah sebagian besar (57%) pengunjung toko tersebut bukan datang untuk membeli furnitur. Aksesoris rumah (sprei, handuk, dan lainnya) adalah kategori yang paling populer, diikuti peralatan dapur dan furnitur sebagai produk paling banyak yang mereka beli.

Hal ini masuk akal mengingat sebagian besar dari mereka mengaku hanya menghabiskan kurang dari dua juta per transaksi.

Indonesia sendiri mempunyai industri furnitur yang berkembang karena upah yang kompetitif, ketersediaan pengrajin dan kepemilikan bahan utama – kayu.

ASMINDO (Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia) menaksir bahwa pada tahun 2012 ekspor furnitur sendiri bernilai 32,7 triliun rupiah.

Konsumsi domestik bernilai 8,4 triliun rupiah dan dengan lebih dari 4000 perusahaan yang terlibat membuat pasar ini sangat terpecah.

Seiring dengan naiknya pasar properti, berkembangnya kelas menengah dan sebagai ekonomi terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia masih menjadi incaran utama bagi retail furnitur. Tidak diragukan ini adalah hal yang juga menarik perusahaan seperti IKEA untuk membuka cabangnya di Indonesia.

Sumber : marketing.co.id

Menatap Indonesia pada 2020: Generasi Millenial Kelas Menengah Kota

Memprediksi dan membaca arah Indonesia masa depan sangatlah menarik, dari berbagai data dan analisis, saya memprediksi momentum Indonesia dalam jangka panjang akan sangat ditentukan pada tahun 2020. Bukan saja karena pemilu presiden akan dilakukan pada tahun 2019, tapi estimasi data yang dilakukan dari berbagai sumber menunjukkan tahun 2020 akan menjadi tonggak berbagai perubahan signifikan yang ada di Indonesia.

GM1

 

Secara ekonomi, World Economic Forum tahun 2015 memprediksikan Indonesia di tahun 2020 akan menempati peringkat ke-8 ekonomi dunia, dan dengan pengguna internet mencapai 140 juta, Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020.

Selain itu, Indonesia 2020 juga bisa kita lihat dari berbagai fenomena yang bibitnya sudah bisa kita lihat saat ini. Paling tidak ada tiga fenomena bisa menjelaskan kondisi Indonesia di tahun 2020, yaitu komposisi urban-rural, penduduk kelas menengah, dan komposisi penduduk muda.

Penduduk Urban

Bangsa Indonesia sejak dulu selalu dikenal sebagai bangsa agraris yang mayoritas penduduknya tinggal di desa. Namun, sensus penduduk (SP) yang dilakukan BPS pada tahun 2010 menunjukkan komposisi penduduk yang tinggal di kota semakin tinggi, 49,8% penduduk Indonesia sudah tinggal di kota pada tahun 2010 dan BPS memprediksi di tahun-tahun mendatang komposisi penduduk kota akan semakin meningkat. Perubahan komposisi penduduk kota-desa bukan sekadar perubahan geografis saja, tapi lebih juga merupakan perubahan budaya, nilai-nilai sosial, perilaku, dan pola pikir.

GM2

Masyarakat kota yang kemudian kita sebut masyarakat urban adalah masyarakat terbuka dan cenderung individualis. Mau tidak mau, suka tidak suka, nilai-nilai tradisional pelan tapi pasti akan semakin terpinggirkan oleh budaya urban. Masyarakat urban adalah masyarakat yang digerakkan oleh nilai-nilai ekonomi dan waktu karena itu sifat-sifat komunal juga akan tersisih.

Penduduk Kelas Menengah

Sejak tiga tahun terakhir, kajian tentang kelas menengah Indonesia menghiasi berbagai media dan tajuk berita. Secara jumlah kelas menengah Indonesia memang fantastis, BCG dalam laporannya menyebutkan tahun 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, sementara McKinsey lebih konservatif menyebut kelas menengah Indonesia tahun 2012 berjumlah 45 juta jiwa. Beberapa lembaga domestik bahkan menyebutkan jumlah lebih fantastis, paling tidak 140 juta penduduk Indonesia adalah kelas menengah.

GM3

Mengapa kelas menengah penting? Dalam sejarah di berbagai negara, kelas menengah selalu menjadi motor perubahan terutama terkait dengan aspek ekonomi dan perubahan sosial. Mereka sudah memiliki daya beli yang cukup sehingga menjadi penggerak ekonomi dari sektor konsumsi, mereka juga memiliki gaya hidup di atas kebanyakan orang.

Kelas menengah juga memiliki ciri kaum terdidik, mereka punya cukup bekal keilmuan sehingga artikulasi pemikiran mereka cukup baik. Mereka kritis dan tidak segan-segan mengutarakan opini pribadi terkait isu-isu sosial di sekitar kehidupan mereka.

GM4

Penduduk Muda

Lebih dari 35% penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah penduduk muda yang berusia 15–34 tahun, bahkan di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, penduduk mudanya bisa lebih dari 40%. Mereka ini adalah penduduk yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an, mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Generasi Millennial. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millennial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X yang lahir tahun 1960–1980.

Dibanding generasi sebelumnya, Generasi Millennial memang unik. Hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center misalnya, secara gamblang menjelaskan keunikan Generasi Millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan Generasi Millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet; entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Wajah Indonesia 2020

Wajah Indonesia tahun 2020 akan sangat ditentukan pertemuan tiga entitas di atas yakni kombinasi antara masyarakat urban, kelas menengah, dan Millennial. Merekalah yang akan menjadi pelaku utama sejarah Indonesia di masa mendatang, saya menyebut mereka sebagai “the urban middle-class millennials”.

Prediksi yang dilakukan BPS menunjukkan di tahun 2020 penduduk kota akan mencapai 56,7%, dan tahun 2035 akan mencapai 66,6%! Prediksi BCG menyebutkan jumlah MAC tahun 2020 mencapai 141 juta orang, sementara McKinsey memprediksi kelas menengah Indonesia tahun 2030 mencapai 130 juta orang.

Jumlah Millennial Indonesia tahun 2020 juga rasanya tidak akan berbeda terlalu jauh dari jumlah sekarang, bahkan cenderung konstan di angka 35%. Millennials di tahun 2020 berada pada puncak keemasan kehidupan mereka baik dari sisi kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakatnya.

Lalu, bagaimana ciri dan karakter masyarakat urban middle-class millennials? Setidaknya ada tiga yaitu pertama, confidence; mereka ini adalah orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Kedua, creative; mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Ketiga, connected; yaitu pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Jadi, selamat menyambut kehadiran the urban middle-class millennials!

Hasanuddin Ali, CEO Alvara Strategic Research, Training Dept. Head PERPI

Sumber : marketing.co.id