5 Taktik jitu dalam penentuan harga

Dalam artikel ini akan diulas sebuah gambaran tentang tactic pricing yang biasa anda temukan sehari hari, jadi hal ini dapat membantu Anda untuk membuat pilihan yang lebih bijak sebagai seorang customer

Untuk para pengusaha yang kesulitan dengan menentukan sebuah harga, ini akan menjadi panduan yang bagus untuk menghindari sebuah kesalahan dan mencoba ide baru yang akan diterpakan pada bisnis Anda.

Mari kita mulai!

1. “Useless” Pricing

Untuk kasus ini mari kita lihat contoh berikut

taktik pricing

Ada 3 jenis subscription di atas, mana yang Anda pilih?

1. Web-only subscription

2. Print-only subscription

3. Web & Print subcription

Sangat jelas sekali bahwa pilihan ke-2 merupakan sebuah pilihan yang sia-sia. Terbukti dari penawaran yang mereka berikan kepada 100 mahasiswa di MIT. Gambar di bawah menunjukkan perubahan dari tingkat subscription setelah pilihan ke-2 dihilangkan.

tp1

 

Lihat bahwa pilihan pertama menjadi pilihan yang terbaik daripada pilihan ke-3 setelah opsi ke-2 dihapus.

Apa yang terjadi? Sesuai kepercayaan yang ada, kebanyakan orang tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan. Mereka rentan dan membutuhkan banyak informasi tambahan untuk membantu mereka dalam membuat sebuah keputusan.

Jadi pilihan yang “sia-sia” tersebut tidak sia-sia sepenuhnya bukan?

Kesimpulan : Belilah apa yang Anda butuhkan, bukan apa yang Anda pikir merupakan penawaran terbaik.

Untuk entrepreneur, gunakan taktik ini dengan hati-hati. Tetaplah membaca untuk mencari tahu bagaimana taktik ini dapat menjadi bumerang bagi Anda nanti.

 2. Old Classic -9

Pergilah ke supermarket dan Anda akan melihat harga yang berakhir dengan angka 9 dimana-mana. $49 vs $50, semua orang tahu bahwa hal tersebut sebetulnya sama, tidak memilikki perubahan yang berarti. Pastinya semua orang tahu bahwa hal tersebut adalah trik marketing, namun apakah mereka dapat menolak hal tersebut?

Menurut riset yang dilakkukan oleh  Quantitative Marketing and Economics jawabannya adalahtidak. Harga yang berakhir dengan angka 9 memilikki hasil yang sangat baik bahkan terhadap produk yang sama dengan harga yang lebih murah sekalipun.

Menurut buku Priceless yang ditulis oleh William Poundstone menganalisis tentang 8 studi yang berbeda terhadap penggunaan harga yang berakhir dengan angka 9 dan menemukan bahwa kebanyakan mereka memilikki sales yang lebih besar 24% seperti $39 vs $40.

Dalam sebuah eksperimen yang ditujukan kepada pelajar MIT dan University of Chicago , sebuah baju perempuan dijual dengan harga $34, $39, dan $40.

Dan anehnya, harga barang $39 memilikki jumlah sales yang lebih besar, bahkan lebih banyak dari barang yang memilikki harga $34.

Intinya dalam situasi tersebut harga yang berakhir dengan angka 9 dapat mengalahkan harga yang lebih murah.

Kesimpulan : Untuk customer, abaikanlah angka 9!

Untuk entrepreneur abaikanlah angka 9 tergantung kebutuhan anda. Jika anda ragu $49 mengalahkan $49.90

 3. Anchoring

Bagaimana cara menjual sebuah makanan dengan harga $14.90? Jika dibandingkan dengan makanan seharga $29.90

Bagaimana cara menjual packet data mobile seharga $49.90? Jika dibandingkan dengan packet data premium seharga $200 yang kebanyakan orang enggan untuk mendaftar

Hal ini dikenal sebagai “Anchoring”. “Anchoring” mengacu pada kecenderungan manusia untuk terlalu bergantung pada potongan informasi pertama (“Anchor”) yang ditawarkan ketika sedang membuat keputusan.

Faktanya, Anda bisa melihat cara ini di praktikan di mana-mana. Jika Anda pergi ke pub/bar di sekitar Anda, mungkin Anda pernah berpikir apa ada yang pernah memesan minuman dengan harga selangit yang tertera di menu. Jika Anda pergi ke Rolex, jam tangan seharga $2000 akan terlihat murah karena disampingkan dengan jam tangan seharga $10.000. Akan tetapi, jam tangan $2000 tersebut akan terlihat premium jika diletakkan disamping jam seharga $200.

Inilah bagian yang menarik – Jika Anda sudah cukup expert dalam hal pembelian, apakah Anda akan lebih sulit untuk tertipu? Ternyata tidak.

Dalam sebuah riset percobaan penelitian harga, agen properti profesional diminta untuk memperkirakan harga dari sebuah  rumah yang disertakan dengan  informasi dari daftar harga rumah tersebut. Researcher memanipulasi daftar harga tersebut, menggunakan teknik “Anchor” high and low seperti yang telah kita pelajari sebelumnya.

Hasilnya, semua agen properti profesional ternyata terpengaruh oleh daftar harga yang telah dimanipulasi tersebut. Namun, mereka semua membantah gap antar harga dalam price list yang mempengaruhi keputusan penilaian mereka. Mereka mengklaim bahwa fitur properti lah yang mempengaruhi keputusan penilaian mereka.

Kesimpulan: Jangan terkecoh dengan informasi tawaran pertama.

4. Offering 3 Options

Ketika Anda menghadapi berbagai pilihan tawaran harga, Apakah Anda memilih pilihan yang lebih “aman” dengan memilih opsi yang terletak di tengah? Jika ya, rupanya Anda tidak sendirian. Dalam buku berjudul Priceless, William Poundstone mencoba melakukan eksperimen harga dengan beer.

Case #1

tp2

 

 

Gambar di atas adalah pilihan harga di sebuah bar. 80% customers memilih tawaran yang terlihat lebih premium. Jika kita ingin menjangkau lebih banyak customer, apakah menambah varian yang lebih murah merupakan ide yang baik? Mari kita lihat Case #2

Case #2

tp3

Asumsikan jumlah pembelian dalam sehari sama dengan case #1? Apakah ada peningkatan revenue? Anehnya, total revenue justru turun! Kita telah mempelajari “Anchoring” dan “Useless” Pricing dalam artikel ini. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa ketika taktik harga digunakan dengan salah, hal tersebut justru dapat menyebabkan efek negatif.

Case #3

tp4

 

Dalam Case #3, mereka menghapus pilihan bir $1.60 dan menggantinya dengan pilihan bir $3.40. Hasilnya, justru lebih banyak orang memilih Bir premium ($2.50) daripada sebelumnya. Menariknya, selalu ada orang yang bersedia membayar lebih untuk yang terbaik, berapapun harganya.

Kesimpulan: Waspadalah terhadap opsi yang diletakkan di tengah, mungkin opsi tersebut memang sengaja ditempatkan di tengah untuk meningkatkan penjualan dari item yang ingin mereka jual. Dan untuk para pengusaha, cobalah terapkan cara ini untuk meningkatkan penjualan produk premium.

 

5. Changing Perception

Campaign mana yang dapat membuat Anda lebih tertarik untuk bergabung? “Mari meyumbang $1 setiap hari!” atau “Mari menyumbang $365 setiap tahun!”. Kedua campaign tersebut meminta kita untuk menyumbang dalam jumlah uang yang sama, namun campaign yang pertama lah yang lebih sukses.

Hal ini karena orang membandingkan apa yang dapat dia keluarkan dengan apa yang dapat mereka beli. Sebuah dollar sama dengan secangkir kopi tapi $365 dapat membeli sebuah kopi. Waktu adalah sebuah wujud yang tidak dapat dikelola dengan baik oleh manusia.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menentukan harga sehingga hal tersebut dapat dianggap wajar. Contoh, bagaimana sebuah coca-cola dengan harga $5 dapat masuk akal? Di dalam sebuah bar dengan suasana yang mengasyikkan dimana “biasanya” mereka menjual alcohol.

Alternatif lain yaitu dengan “menciptakan” sebuah “kategorti” baru dengan merubah nama product tersebut misalnya “Kopi” menjadi “Americano”. Menulis nama customer pada gelas kopi. Ubalah segala hal sehingga dapat membuat customer tidak memilikki alasan untuk menolak produk Anda, dengan menghapus segala persepsi dan menciptakan sebuah kategori baru.

Kesimpulan : Fokus kepada apa yang Anda beli jika hal tersebut memang merupakan fokus Anda. Bagi entrepreneur, pahami dan tingkatkan perceived value dari product Anda.

Fakta lainnya :

  •  Orang terbiasa untuk mendownload musik secara gratis. Steve Job meyakinkan mereka untuk membayar. Bagaimana? Dengan menjualnya seharga 99 cent
  • Penjualan meningkat ketika label harga diubah dari $50 menjadi 50
  • 90% customer berjalan berlawanan arah jarum jam di dalam supermarket, sehingga berbelanja lebih banyak dari proses tersebut. Namun tidak ada yang tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi.

 

Sumber : http://www.blueperks.com.sg/5-pricing-tactics-you-always-fall-for/

9 Hal yang Wajib Ada dalam Pitch Deck

2013_08_17 Esnspiral

Coverage of Social Entrepreneur Startup Weekend: Saturday August 17, 2013. Photo by Mark Tantrum | http://www.marktantrum.com

Setelah menemukan ide startup yang cemerlang, Anda mulai melakukan riset. Berapa besar market yang tersedia, siapa kompetitornya dan bagaimana me-monetize bisnis tersebut.

Kemudian Anda mulai membuat produk dan mendapatkan traction. Anda mulai mendapatkan user dan, semoga saja, mendapat customer. Anda juga sudah mencapai product-market-fit dan ingin mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Anda ingin mencari angel investor dan VC untuk mempresentasikan ide Anda. Kemudian seorang investor potensial meminta Anda mengirimkan pitch deck. Tapi Anda tidak tahu apa maksudnya.

Apa itu pitch deck?

Jika Anda berhasil mendapat dana dari investor, atau Anda baru mau fundraise, Anda tidak asing dengan pitch deck dan isinya. Namun, bagi mereka yang baru dalam dunia startup mungkin bertanya-tanya, apa itu pitch deck?

Berdasarkan Improve Presentation, “Sebuah pitch deck merupakan presentasi singkat, seringkali dibuat menggunakan PowerPoint, Keynote atau Prezi, digunakan untuk memberikan gambaran singkat mengenai business plan Anda kepada audience. Biasanya Anda akan menggunakan pitch deck selama online meeting face-to-face dengan investor potensial, customer, partner, dan co-founder.”

Dengan definisi tersebut, kita bisa bilang bahwa pitch deck merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan fundraise. Banyak enterpreneur sukses yang menghabiskan banyak waktu dalam membuat pitch deck yang berisi hal-hal penting dan relevan bagi investor potensial.

Apa yang harus ada dalam pitch deck?

Inilah beberapa bagian dasar yang Anda perlukan dalam sebuah pitch deck:

  • Elevator Pitch

Jangan lupa mencantumkan nama startup Anda, nama Anda atau co-founder lainnya dan informasi kontak yang dapat dihubungi. Jika memungkinkan, tulis penjelasan singkat mengenai apa yang dikerjakan oleh startup Anda supaya investor potensial mendapat gambaran akan potensi dan ukuran market perusahaan Anda.

  • Problem Statement

Ide startup Anda muncul karena suatu alasan. Jelaskan poin tersebut pada investor potensial Anda. Page ini sangat penting untuk mendapatkan pengakuan orang dan membeli produk Anda. Pastikan bahwa investor potensial atau audience lainnya memahami apa yang Anda jual dan value proposition yang ditawarkan. Anda tidak bisa menjelaskan masalah teknis dan operasional di sini, fokus pada solusi yang dimiliki untuk menjawab sebuah permasalahan.

  • Business Model

Di sini Anda perlu menjelaskan bagaimana me-monetize, siapa customer Anda, distribusi channel atau struktur biaya. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran bagaimana bisnis ini berjalan. Pada umumnya, model bisnis yang unik dan belum teruji tidak populer dan terkadang bisa beresiko. iI sini Anda bisa memasukkan nama bisnis yang sudah menggunakan produk atau servis Anda untuk memvalidasi model bisnis.

  • Defensible Technology

Pada bagian ini Anda bisa menjelaskan sedikit teknologi yang digunakan, secret sauce atau magic apapun dibalik produk atau servis Anda. Lebih fokus pada penggunaan skema, diagram, atau flowchart dan hindari teks yang berlebihan.

  • Go-To-Market Plan

Pada halaman ini Anda bisa menjelaskan rencana dalam menjangkau customer dan marketing leverage point Anda. Gunakan halaman ini untuk meyakinkan investor potensial Anda bahwa perusahaan Anda punya rencana efektif yang tidak akan merugikan mereka secara materi.

  • Competitive Landscape in your startup’s space

Jangan pernah mengatakan bahwa perusahaan Anda tidak memiliki kompetitor. Meskipun tidak bersaing secara apple-to-appel, perusahaan Anda pasti punya beberapa perusahaan yang menawarkan value proposition serupa. Pada halaman ini, Anda bisa menampilkan competitive landscape, kekuatan Anda dibandingkan dengan kompetitor.

  • Team

Bagian ini penting karena kebanyakan investor potensial ingin mengetahui siapa yang akan menjalankan perusahaan, termasuk co-founder Anda dan key person lainnya seperti advisor atau investor sebelumnya. Selain itu, gunakan halaman ini untuk menonjolkan pengalaman, pendidikan, kesuksesan Anda sebelumnya dan jangan takut tim Anda tidak sempurna. Tidak ada startup yang sempurna, yang terpenting adalah apakah Anda mau dan ingin memperbaiki kekurangan dalam tim Anda.

  • Core metrics and financial projections

Manfaatkan halaman ini untuk menyediakan informasi key metrics dari startup Anda. Anda perlu memahami bahwa setiap startup itu unik dan Anda harus menemukan metrics mana yang paling penting dalam keberhasilan perusahaan Anda. Anda juga bisa menampilkan snapshot financial projection selama tiga sampai lima tahun dan perkiraan key metrics Anda. Pastikan bahwa orang-orang memahami inti forecast tersebut.

  • Current status, accomplishments, fundraising timeline and use of funds

Dalam satu slide, jelaskan status terkini untuk produk atau servis Anda, key milestone yang telah dicapai perusahaan, target Anda di akhir round, dan bagaimana Anda mengalokasikan uang dari para investor. Dan juga, jangan lupa untuk mencantumkan jumlah uang yang perlu di fundraise oleh perusahaan Anda.

Menyiapkan deck dengan detail yang mendalam selalu lebih baik karena setiap investor bisa menemukan jawaban dari pertanyaan mereka dalam deck. Selain itu, menggunakan desain yang bagus juga bukan ide yang buruk untuk menyampaikan hal positif dari bisnis Anda. namun, selalu ingat bahwa proses fundraise membutuhkan banyak waktu dan energy, jangan sampai proses ini mengganggu Anda dalam membangun produk atau servis yang bagus, karena pada akhirnya produk atau servis yang baik dengan market size yang layak dan traction akan menarik perhatian investor. Semoga beruntung! Jangan lupa untuk bersenang-senang dalam menjalankan bisnis Anda!

 

sumber ; http://startupbisnis.com/9-hal-yang-wajib-ada-dalam-pitch-deck/

 

APA YANG SEKOLAH BERIKAN UNTUK ANDA

Bagaimana sekolah Anda? Bagus? Bagaimana kuliah Anda? Dapat IPK 4? Sudah lulus? Sekarang mau apa? Apakah cuma Anda yang lulus sekolah/kuliah?

Faktanya adalah Anda bersaing dengan semua orang yang sekolah dan memperebutkan semua peluang/kesempatan yang ada didunia ini. Hampir tidak ada yang peduli dengan nilai/sekolah Anda setelah Anda lulus.

Itulah sebabnya kadang pelajar yang biasa-biasa saja bahkan DO-pun bisa sukses dalam hidupnya. Karena sekolah tidak menentukan masa depan Anda. Terus buat apa kita sekolah? Apa gunanya sekolah? Kembali ke pertanyaan paling dasar yaitu “apa yang sekolah berikan untuk kita?”.

Kita mempelajari suatu fakta, teori, rumus, hafalan, sistem, dan sebagainya yang sebagian besar nantinya akan berakhir dengan 2 keadaan yaitu:

  1. Ilmu tersebut kita lupakan
  2. Kita ingat namun tidak pernah diaplikasikan secara nyata

Tentu ada juga mereka yang menggunakan ilmunya didunia kerja/bisnis. Tetapi hampir 80% semua yang sudah Anda pelajari selama disekolah akan berakhir seperti keadaan no. 1 atau 2.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa diluar negeri ada pelajar yang masih berusia 17 tahun dan sudah sangat sukses dengan aplikasi/software buatannya sendiri, sedangkan beberapa lulusan IT dalam negeri masih saja kesulitan mencari pekerjaan. Seperti ada yang salah, apakah kita terlalu lama membuang-buang waktu di sekolah? Mengapa murid-murid high school (SMA) di luar negeri sudah mempelajari bahkan mempraktekan apa yang para mahasiswa S1 Indonesia pelajari di kampusnya? Ya, karena sistemnya jelas berbeda, diluar negeri mereka sudah dijuruskan (seperti kuliah) sejak SMA, sehingga dari segi ilmu, skill dan pengalaman akan terasa sekali perbedaannya.

Sayangnya tidak banyak yang bisa kita lakukan dengan sistem yang sudah ada sekarang, mengubah sistem pendidikan itu sangat sulit dan mungkin butuh proses puluhan tahun untuk tercapai, tetapi artikel ini bukan berisi tentang keluhan atau menyalahkan siapapun, artikel ini mengajak kita untuk melihat sisi positif dari apa yang sekolah pada umumnya sudah berikan kepada kita semua, khususnya di Indonesia.

Jadi apa yang sudah sekolah berikan untuk kita?

1. Sekolah mengajari kita untuk “mau belajar apapun”

a1

Ini adalah poin yang menurut saya paling penting dari sekolah, yaitu kemauan untuk belajar apapun. Saya percaya bahwa value utama dari sekolah (yang sudah saya jalani) bukanlah soal mempelajari suatu bidang/topik (seperti matematika, sejarah, biologi) melainkan adalah“mempelajari sesuatu” apapun itu walaupun sulit dan kita tidak suka. Pastinya dari belasan bidang studi yang kita pelajari disekolah ada yang menarik dan ada yang tidak menarik (*uhuk* matematika *uhuk*), tetapi kita tetap mempelajarinya karena seperti itu pula hidup ini, tidak semua yang terjadi dalam hidup akan menyenangkan dan kita suka, tetapi tetap kita harus melakukannya. Tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan/pekerjaan yang mereka inginkan, tetapi tetap mereka harus menjalaninya, karena itulah kemauan untuk mempelajari apapun itu sangat-sangat penting.

Hal ini bisa positif dan negatif (tergantung dari sudut pandang Anda), tetapi salah satu kemampuan yang paling berharga dalam hidup ini adalah kemauan untuk mempelajari apapun dan melakukan pekerjaan apapun.

Realitanya adalah banyak hal yang akan tidak kita sukai nantinya di dunia kerja/bisnis, tetapi kita bisa beradaptasi dan perlahan-lahan menyukai apa yang tidak kita sukai pada awalnya. Saya sendiri awalnya tidak suka menulis dan tidak pernah terbayang sedikitpun akan menjadi seorang blogger seperti ini.

2. Sekolah mengajarkan kita untuk bersosialisasi dengan siapapun

ap1

Tentunya hal ini kembali pada karakter masing-masing, namun disekolah kita bebas bergaul dengan siapapun tanpa peduli latar belakang, kedudukan/pangkat, status ekonomi keluarga, dan sebagainya. Semua teman statusnya sama yaitu “pelajar”, tidak ada yang lebih rendah/tinggi posisinya, dia pelajar dan saya pelajar, saat dikelas kita akan bergaul dengan siapa saja yang menjadi teman sekelas kita entah dia cantik/jelek, kaya/miskin, pintar/bodoh, berani/pemalu, selain itu sekolah juga mengajarkan kita untuk bersosialisasi dengan guru, petugas sekolah, organisasi dan lain-lain.

Ini juga salah satu hal yang paling penting dalam sekolah yaitu bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungan sekolah/luar.

3. Sekolah adalah tempat yang membahagiakan

ap2

sumber gambar: BuzzFeed.com

Kembali pada perspektif masing-masing individu, tetapi survey menunjukan bahwa pelajar Indonesia adalah yang paling bahagia (no. 1) dari 65 negara lain yang telah di survey pada gambar diatas. Entah itu akurat atau tidak, pastinya ada saja beberapa orang yang merasa tidak bahagia waktu disekolah. Setidaknya bagi saya dulu, sekolah adalah momen-momen yang membahagiakan setiap harinya walaupun terkadang juga membosankan.

School has to be fun. Not stressful. Memang seperti itulah sekolah yang baik yaitu menyenangkan (karena kita melihat sisi positifnya, mari hiraukan masalah skor nilai sejenak).

Cobalah tanya orang-orang kapan masa-masa terindah dalam hidup mereka dan mereka berharap itu bisa terulang kembali. Sebagian besar pasti akan menjawab masa-masa disekolah. Suka atau tidak suka, sekolah setidaknya memberikan Anda secercah kebahagiaan walaupun ada juga beberapa orang yang trauma karena semasa sekolahnya dibully dan sebagainya, tetapi tetap masa-masa sekolah itu menyenangkan 🙂

4. Sekolah mengajarkan kita untuk berpikir

ap3

Value utama dari sekolah adalah melatih kemampuan berpikir, karena pemikiran adalah pendidikan terbaik, maka sekolah juga harus mengutamakan perkembangan proses berpikir para muridnya. Walaupun pada prakteknya mayoritas sekolah isinya hafalan, tetapi ada juga beberapa subjek yang melatih kemampuan berpikir kita seperti matematika, bahasa, termasuk olahraga dan berorganisasi.



Tentu masih banyak lagi manfaat-manfaat yang sekolah berikan untuk hidup kita, terlepas dari berbagai stigma buruk tentang pendidikan didalam negeri, selalu ada kebaikan yang dapat kita petik dari semua keadaan termasuk sistem sekolah kita.

Untuk Anda yang masih sekolah, nikmatilah masa-masa itu karena percaya atau tidak nantinya masa-masa disekolah akan menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidup Anda.

Jadi menurut Anda, apa yang sekolah berikan untuk Anda?

 

 

 

sumber ; solusik.com

Pariwisata Sebagai Mesin Pertumbuhan Baru Ekonomi Indonesia

wi

Akhir akhir ini kita melihat betapa gencarnya pemerintah melalui kementerian Pariwisata menngenjot promosi pariwisata Indonesia yang diperkenalkan dengan tag line ” Wonderfull Indonesia”, ditengah lesunya devisa dari Sektor Pertambangan yang selama ini menjadi unggulan dalam penerimaan Negara, dan juga dengan lesunya ekspor berbasis sumberdaya alam, Pariwisata diharapkan bisa menjadi promotor baru bagi pendapatan Negara, hal ini mengingat potensi wisata Indonesia yang begitu luar biasa baik dari wisata budaya, wisata alam, religi dan lainnya yang tersebar dari Sabang sampai merauke. Nampaknya upaya kemenpar dalam mempromosikan “Wonderfull Indonesia” sudah mulai terlihat, berikut sebuah tulisan yang menggambarkan prospek kedepan pariwisata Indonesia yang ditulis oleh Bpk. Yuswohady.

Selamat menikmati

HARI Sabtu lalu (30/7) saya ada di tengah-tengah para villagepreneur (wirausaha desa) di desa wisata Geopark Ciletuh, Sukabumi.

Bersama teman-teman Bio Farma kami melakukan workshop bersama mereka untuk mengembangkan branding strategy bagi empat produk dan layanan yang tumbuh seiring mulai maraknya Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata utama Sukabumi.

Empat produk dan layanan tersebut adalah Papsi (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan homestay dan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad, batik pakidulan, pengembangan ikan koi mizumi, dan budidaya sidat (unagi).

Produk dan layanan baru yang dirintis para wirausaha desa ini tumbuh menjamur dua tahun terakhir seiring banyaknya wisatawan yang datang ke objek wisata Geopark Ciletuh. Menarik pengakuan Kang Ali, kreator batik pakidulan mengenai powerful-nya dampak ekonomi dari industri pariwisata.

“Sejak banyak wisatawan datang ke sini, banyak bermunculan komunitas-komunitas masyarakat yang mengembangkan beragam produk seperti batik, kerajinan, beras hitam hingga sidat,” ujarnya.

Multiplier Effect

Apa yang diceritakan Kang Ali tersebut dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah multiplier effect. Multiplier effect adalah kegiatan ekonomi yang menggerakkan kegiatan ekonomi lain.

Datangnya wisatawan ke Geopark Ciletuh menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan minuman lokal, dan sebagainya.

Ketika wisatawan tersebut membelanjakan uangnya di suatu desa wisata, uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan wisatawan, uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya.

Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif ke desa wisata tersebut, dia menggerakkan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima ‘tetesan rezeki’ yang dibawa si wisatawan. Tak mengherankan kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran.

Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD inpres.

Pernah suatu kali saya naik taksi di Bali. Dengan bangganya si sopir taksi bilang ke saya, “Di Bali ini pekerjaan gampang, praktis enggak ada pengangguran, hanya orang yang malas keterlaluan saja yang jadi pengangguran”.

Intinya si sopir ingin mengatakan bahwa di daerah yang ekonominya didukung sektor pariwisata seperti Bali, lapangan kerja terbuka luas untuk semua lapisan masyarakat.

Orang yang enggak lulus SD saja dengan modal cas-cis-cus berbahasa Inggris (tanpa ikutan kursus) bisa menjadi pemandu wisata (tour guide) dengan penghasilan lumayan. Potensi industri ini sebagai penyedia lapangan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tak tertandingi oleh industri lain apa pun.

New Growth Engine

Menariknya, industri pariwisata tak hanya powerful sebagai alat pemerataan kemakmuran, tetapi juga berpotensi menjadi mesin baru perekonomian Indonesia pasca-bonanza minyak. Kita tahu komoditas migas sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita di tengah harga minyak dunia yang terus terjun bebas.

Kalau komoditas migas tak mampu lagi, lalu sektor apa lagi yang bisa menggerakkan mesin perekonomian kita? Batu bara sama-sama jatuh. Komoditas pertanian/perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, atau karet setali tiga uang karena harganya yang terus anjlok di tengah pasok dunia yang berlebih.

Begitu pun tekstil dan pakaian jadi yang kian tak kompetitif karena ongkos buruh yang tak lagi murah. Urgensi mengenai perlunya mesin pertumbuhan baru ini tersirat dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah sidang kabinet paripurna Rabu (3/8) saat mengumumkan pemangkasan anggaran.

Menurut Menteri, penerimaan pajak kita bakal mengalami tekanan yang sangat berat karena jatuhnya harga komoditas minyak dan gas, batu bara, kelapa sawit, dan pertambangan lainnya. Sementara sektor yang selama ini bisa menjadi andalan seperti konstruksi, perdagangan, dan manufaktur juga tak menggembirakan, pertumbuhannya hanya separuh dari tahun sebelumnya.

Lalu apa calon terbaik mesin pertumbuhan baru itu? Jawabnya adalah sektor pariwisata.

Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Pada 2015 sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% per tahun selama 5 tahun terakhir). Sementara itu perolehan devisa migas 2015 sebesar USD18,9 miliar, merosot tajam hampir 40% dari tahun sebelumnya.

Tren yang saling berseberangan antara dua sektor ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, bisa jadi tiga tahun ke depan sektor migas akan tersalip pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar.

Dengan jejak kinerja yang mengesankan seperti ini, tak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor ini sebagai sektor unggulan perekonomian kita yang menjalankan dua fungsi sekaligus: mesin pertumbuhan dan mesin pemerataan.

Fokus Pariwisata

Anda yang berkecimpung di dunia manajemen pasti mengenal BCG Matrix. Secara sederhana matriks ini digunakan untuk merumuskan strategi portofolio (portfolio strategy) bagi organisasi yang memiliki banyak lini bisnis.

BCG Matrix memberikan panduan mengenai mana-mana portofolio bisnis yang harus dikembangkan dan mana yang tidak.

Ada empat posisi di dalam BCG Matrix:Cash Cow, Star, Question Mark, dan Dog. Cash Cow artinya portofolio bisnisnya telah menghasilkan sehingga harus terus diperah (milking). Star artinya harus diinvest dan dikembangkan karena akan menjadi tulang punggung di masa depan. Question Mark artinya masih tanda tanya mau di-invest atau justru didivest .

Dan terakhir Dog, artinya portofolio bisnis tersebut tak bisa diharapkan lagi sehingga harus di-divest alias ditanggalkan. Nah, dengan menggunakan analogi matriks tersebut, seharusnya secara strategis pemerintahan Jokowi menempatkan sektor pariwisata pada posisi Star mengingat potensi luar biasa yang dimilikinya.

Konsekuensinya, pemerintah harus mendorong habis-habisan sektor ini melalui alokasi sumber daya yang tepat agar sektor ini bisa berkembang sesuai potensinya. Sebaliknya, sektor migas adalah Dog yang memang tak bisa diharapkan lagi, karena itu tak layak diprioritaskan dan mendapatkan alokasi sumber daya secara semestinya.

Dengan portfolio strategy yang tepat, pemerintah akan bisa mengalokasikan sumber dayanya secara tepat dan efektif. Jangan sampai terjadi sektor yang sunset diprioritaskan, sementara sektor yang sunrise justru dihambat. Kalau itu yang terjadi, itu namanya misallocation of resources, mismanagement alias salah urus.

 

sumber : yuswohady.com

Kelas Menengah Muslim dan Konsep Pendidikan Anak

SMPIA-13-lab-2012

Salah satu model pendidikan sekolah yang kini banyak diminati orang tua kelas menengah muslim adalah konsep pendidikan yang menggabungkan antara unsur pendidikan agama dan sains. Di dalam sistem pembelajaran, anak-anak dibekali materi pelajaran agama dan sains yang kuat. Dengan demikian, anak-anak pun memiliki pengetahuan sains modern bagus dan karakter yang kuat berdasarkan agama. Konsep pendidikan ini saya sebut sebagai 2 in 1, di mana dalam satu sistem pendidikan tersebut anak mendapatkan pendidikan sains dan agama secara bersamaan.

Contoh konsep pendidikan 2 in 1 ini adalah Islam bertaraf internasional atau Islamic Boarding School yang saat ini banyak didirkan di berbagai pelosok Tanah Air. Umpanya adalah Sekolah Islam Al-Azhar, Jakarta Islamic School, Madani Islamic School, International Islamic Boarding School, Global Islamic School, dll. Meskipun biaya di sekolah-sekolah tersebut terbilang mahal, tapi para orang tua rela mengeluarkan biaya banyak demi pendidikan anaknya yang lebih baik.

Antara Karir dan Anak
Selama ini, kekhawatiran terbesar konsumen kelas menengah muslim dalam hal pendidikan anak adalah kondisi lingkungan yang akan dihadapi putra-putrinya. Perubahan kondisi lingkungan yang semakin terbuka, bebas, kemudahan mengakses internet, dan penyalahgunaan narkoba, mencemaskan mereka terhadap pertumbuhan anak-anaknya.

Ketika menyadari tantangan perubahan lingkungan anak terjadi sangat massif, orang tua justru mengalami kebingungan karena kesibukan mengejar karir sendiri sehingga tidak memiliki waktu untuk dapat secara intens mendampingi sang anak. Untuk itu, orang tua kelas menengah muslim pun mencarikan sekolah untuk anak pada institusi pendidikan sains berkualitas dan mengarahkan mereka pada pendidikan keagamaan sebagai benteng perkembangan moralitas anak. Sekolah-sekolah Islam internasional pun menjadi solusi.

Pendidikan Sains dan Agama
Berdasarkan hasil survei kualitatif yang kami lakukan, kami menemukan bahwa 86% orang tua menilai muatan pendidikan agama di sekolah menjadi preferensi utama dalam memilihkan sekolah untuk anak. Artinya, orang tua sangat mempertimbangkan apakah porsi pendidikan agama di sekolah cukup baik atau tidak. Setelah muatan pendidikan agama, barulah orang tua mempertimbangkan reputasi sekolah (82%), lingkungan sekolah (73%), metode pembelajaran (69%), dll.

Mengapa pendidikan agama penting? Pendidikan agama dinilai sebagai landasan penting bagi pembentukan moralitas atau karakter anak jika dewasa kelak. Para orang tua merasa tidak bisa memberikan pendidikan agama secara langsung kepada anak karena alasan kesibukan pekerjaan atau mengejar karir. Dengan demikian, orang tua pun cenderung memilih cara memasukkan anak ke pengajian di mushola, atau mendatangkan ustadz ke rumah agar anak bisa belajar agama.

Ketika agama merupakan faktor preferensi utama untuk pendidikan anak, maka memasukkan anak ke sekolah Islam internasional pun menjadi solusi baru. Mengapa? Di sekolah tersebut, anak mendapatkan dua hal sekaligus yaitu agama dan sains. Di samping ilmu agama, kelas menengah muslim yang knowledgeable, merasa bahwa anak pun harus memiliki pengetahuan kelas dunia. Mereka sangat menekankan anak-anaknya untuk jago di bidang sains (Matematika, Fisika, Biologi, Komputer, Bahasa Inggris, Mandarin, Prancis, dll.).

Di sekolah-sekolah Islam internasional itu, anak-anak diajarkan sains dan agama secara kuat. Supaya anak menguasai dunia sains, sekolah-sekolah Islam internasional ini kerap mendatangkan para guru yang memiliki kualitas mengajar bagus (tak jarang orang asing pun sengaja didatangkan untuk mengajar) dan memiliki sarana pengajaran sangat bagus seperti ruang kelas, laboratorium, dll. Sementara itu, supaya anak memiliki pengetahuan agama, anak-anak diajarkan baca-tuli bahasa Arab, baca Al-Quran, ilmu akhlak, ilmu Fiqih, dan praktek ibadah keagamaan sehari-hari.

 

 

Sumber ; iryanah.com

Consumer 3000 dan Maleolitikum : Pergeseran Kehidupan Mall para kelas Menengah.

mall

Ada suatu fenomena titik balik yang beberapa tahun belakangan ini muncul di kalangan sebagian kecil kelas menengah (C3000): weekend tanpa ke mall. Kelas menengah yang biasa gandrung banyak menghabiskan waktu akhir pekan pergi ke mall (mallism), kini sadar tentang dampak negatif terlalu sering menghabiskan waktu keluarga di mall dan mulai berkampanye tentang pentingnya weekend tanpa ke mall. Kita bisa melihat bentuk kesadaran gerakan kampanye mereka ini dalam bentuk WTM (weekend tanpa ke mall) yang sudah marak di media sosial dan aktivitas liburan yang mereka gelar sendiri. WTM telah menjadi gerakan dan komunitas masyarakat untuk mencari alternatif liburan saat akhir pekan.

Mengapa muncul gerakan dan kampanye WTM ini? Saya menduga hal ini disebabkan oleh sudah saking mendarah-dagingnya jalan-jalan ke mall di setiap akhir pekan pada mayoritas kalangan warga kelas menengah ibu kota ataupun second cities lainnya. Lihatlah mall-mall di berbagai kota hampir tidak pernah sepi dikunjungi oleh kelas menengah. Ketika hari-hari biasa banyak waktu dihabiskan untuk bekerja (orang tua) dan sekolah (anak), maka waktu akhir pekan mereka tumpahkan semua waktunya di mall. Di Jakarta, hampir sehari penuh orang menghabiskan waktu di mall saat akhir pekan, baik dalam satu mall ataupun pindah-pindah ke berbagai mall. Di mall, mereka bisa memilih tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga seperti makan di restoran, belanja kebutuhan sehari-hari, nonton film di bioskop, bermain di arena permainan atau taman, karokean, dll.

Namun, justru terlalu sering menghabiskan waktu di mall, maka sebagian kecil kelas menengah mengambil inisiatif untuk kampanye WTM ini. Adanya WTM, bukan berarti mereka anti terhadap keberadaan mall. WTM ini sebagai upaya meminimalisir waktu akhir pekan yang banyak disibukkan di mall. Selain dinilai terlalu mainstream, liburan ke mall dinilai kurang memberikan dampak positif bagi keluarga, sehingga diperlukan alternatif baru untuk menghabiskan waktu keluarga di akhir pekan. Mall dinilai sudah cukup basi, dan kini pilihannya mereka pergi ke taman rekreasi, pasar becek, perkebunan, area bermain ruang terbuka hijau, dll. Mereka mulai mencari-cari tempat-tempat baru yang mengesankan.

Mallism
Sekitar dua tahun yang lalu, pakar pemasaran Yuswohady pernah menulis tentang fenomena “Mallism”. Mallism adalah sebuah cerminan para “pemuja” mall. Ini merefleksikan bahwa pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup kelas menengah. Tiada hari tanpa pergi ke mall. Belanja, nongkrong, menjamu tamunya, kopdar dengan kerabat, meeting pekerjaan, mengasuh anak, dll., yang semuanya dilakukan di mall. Praktis, hampir semua kegiatan yang dilakukan oleh kelas menengah adalah di mall. Maka, tak heran apabila pergi ke mall sudah mendarah daging dalam aktivitas kelas menengah Indonesia. Karena itu, managing partner dari Inventure itu menyebut era saat ini adalah Maleolitikum.

Oleh karena pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup, hal ini telah menyebabkan permintaan pembangunan mall tak pernah berhenti dari para pengembang. Kabarnya, Jakarta adalah kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Kini, pertumbuhan jumlah mall di ibu kota mulai dibatasi oleh Pemerintah Daerah. Tetapi, tak kalah siasat, kini para pengembang pun mulai mengincar area-area pinggiran ibu kota atau second cities untuk membangun mall. Mereka sangat agresif tumbuh di daerah-daerah pinggiran seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Saat ini justru di daerah pinggiranlah, sebenarnya para pengembang mendapatkan momentum “euforia konsumsi” pada kelas menengah. Dalam hasil penelitiannya berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s PotentialMcKinsey menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi wilayah second cities akan jauh lebih atraktif dibandingkan Jakarta. Second cities itu antara lain Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, dll. Sebagian besar orang menganggap bahwa Jakarta adalah potret daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi besar dan cepat. Tetapi, melihat data yang diungkapkan McKinsey bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2010 hanya mencapai 5,8%, sementara second cities rata-rata mencapai 6,7%. Prediksi di tahun 2030, second cities akan tumbuh lebih besar dari Jakarta yakni sekitar 9,1%, sementara ibu kota mencapai 5,1%.

Mengapa second cities bisa tumbuh eksplosif? Mengapa pengembang properti sangat bergerak dinamis membangun mall di second cities? Ini tidak lepas dari euforia konsumsi yang terjadi pada kelas menengah pada daerah second cities. Secara evolutif, kebutuhan mereka terhadap konsumsi barang atau layanan kian advance. Untuk itu, para pengembang mall pun sudah ekspansi ke daerah-daerah. Contohnya, dalam beberapa tahun ke depan, di Jogja akan didirikan mall-mall besar dan kelas atas untuk menangkap peluang tingginya gairah konsumsi masyarakat lokal. Rupanya, warga yang tinggal di Jogja kini punya hobi baru euy: jalan-jalan ke mall.

Komplet
Mengapa mall bisa sangat digandrungi oleh kelas menengah Indonesia? Hal ini tidak lepas dari proses evolusi mall yang kian komplet dalam menyediakan kebutuhan kelas menengah. Apa yang dibutuhkan konsumen, hampir semuanya ada di mall. Dalam satu tempat, konsumen bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan: berbelanja dengan diskon menarik, produk yang lengkap (sembako, fesyen, elektronik, buku, dll), fasilitas lengkap nan nyaman (parkir, tempat makan keluarga, mushola, arena bermain anak, konser musik, dll), dan akses lokasi terjangkau. Bisa Anda bayangkan, semua kemudahan ini terletak dalam satu tempat bernama mall, sehingga tak jarang kelas menengah merasa betah menghabiskan waktu akhir pekan di mall daripada tempat lain.

Kini, muncul tren bahwa hampir setiap mall berlomba-lomba menciptakan great customer experience dengan menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang sehingga kelas menengah akan merasa bebas dan nyamanMushola adalah salah satunya. Seperti hasil survei kami tentang kelas menengah muslim bahwa mereka adalah jenis konsumen yang konsumtif sekaligus religius. Melihat karakteristik ini, para pengelola mall berkompetisi membangun mushola yang modern dan nyaman bagi pengunjung, seperti di Mall Kelapa Gading, Senayan City, Pondok Indah Mall, Kota Kasablanca, dll.. Adanya mushola di mall memberikan kenyamanan dan kebebasan para pengunjung untuk bisa bertahan seharian di dalam mall. Mereka bisa menunaikan gaya hidup konsumtif sekaligus tetap melakukan kegiatan berdoa di mushola. Komplet, hehehe…

Namun, seiring dengan kenyamanan menghabiskan waktu berlibur di mall, justru di kalangan sebagian kecil kelas menengah mulai muncul kekhawatiran tentang dampak negatif liburan ke mall. Apa saja dampak negatifnya? Apa yang saya amati dari keluhan mereka adalah anak kian menjadi konsumtif, potensi obesitas pada anak karena sering jajan junk food, pengeluaran keluarga membengkak (besar pasar daripada tiang), anak menjadi kurang kreatif karena main di mal lebih sering virtual, dll. Banyaknya dampak negatif inilah yang mendorong mereka untuk mencari liburan alternatif daripada pergi ke mall.

Titik Balik
Dalam setahun terakhir ini, muncul fenomena ramainya Pasar Santa Jakarta. Pasar Santa adalah pasar rakyat yang kini menjadi tempat nongkrong idola anak-anak muda gaul dan keluarga di daerah Jakarta yang sedang ngetren. Awalnya, pasar ini adalah pasar biasa yang cenderung diisi oleh lapisan masyarakat bawah di daerah Jakarta Selatan, sehingga bentuk desain tidak begitu modern. Pasar ini pun kemudian berubah menjadi tempat nongkrongnya anak-anak gaul. Outlet-outlet didesain dengan modern dan artistik, sehingga terkesan cool dan berkelas. Pasar ini pun kini menjadi alternatif tempat nongkrong dan makan para anak muda ataupun keluarga di akhir pekan. Mereka adalah kelas menengah yang sudah jenuh dan bosan pergi mall, karena mall sudah terlalu mainstream, maka pasar becek yang diubah lebih cool menjadi alternatif tempat nongkrong.

Selain pergi ke Pasar Santa, kini juga mulai muncul tren adanya wisata edukasi alam atau outbound untuk kaum dewasa maupun anak-anak di daerah Bogor ataupun Bandung. Wisata edukasi ini bertujuan memperkenalkan keanekaragaman hayati alam pada anak, baik di sawah, sungai, hutan, kebun, dll. Apabila anak bermain di mall dinilai lebih pasif dan konsumtif, maka dengan wisata edukasi ini, anak-anak diharapkan menjadi lebih aktif, bergaul, tahu alam, lebih sehat, dan senang.

Ini adalah fenomena titik balik, di mana kelas menengah telah mengalami kejenuhan untuk pergi menghabiskan waktu di mall saat weekend. Ketika mereka memilih untuk tidak pergi ke mall, maka mereka akan memilih untuk pergi ke tempat yang dinilainya alternatif. Tempat-tempat itu antara lain: taman, car free day, tempat wisata kuliner, gunung, dll.

 

 

Sumber ; iryanah.com

BAGAIMANA CARA PEMBERI PROMO / DISKON MENDAPAT KEUNTUNGAN

 

Siapa sih yang tidak suka diskon? Dapat barang/jasa yang sama dengan harga lebih murah (harga diskon), siapa yang tidak mau?

Seperti yang kita tahu bisnis perdiskonan selalu ada dimana-mana, bisnis A memberi promo inilah, bisnis B memberi diskon sekian % lah, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana bisnis ini (pemberi promo/diskon) bisa mendapat keuntungan kalau mereka mendiskon produknya?

Biasanya mereka yang memberikan promosi/diskon memiliki 2 tujuan utama yaitu:

  • Sebagai sarana marketing yang lebih efisien
  • Meningkatkan penjualan/sales secepat mungkin

Promosi ini bukan hanya sekedar diskon saja, tetapi juga potongan harga dalam bentuk lain seperti give away, buy 1 get 1, dan cashback, lalu keuntungannya dimana? Masalahnya adalah tidak semua yang Anda pikir “diskon” itu benar-benar pure diskon, apapun itu pasti selalu ada tujuan lain yang tersembunyi dibalik promo tersebut.

Inilah cara-cara mereka mendapatkan keuntungan dari Anda:

1. Harga yang sudah di mark up

p2

Ini adalah cara yang paling umum dan paling basi yang biasa kita temukan sehari-hari. Anda pasti sudah sering melihat penawaran promo/diskon yang tinggal 2 minggu lagi, eh ternyata 2 minggu kemudian promonya berlanjut sampai bulan depan, ternyata “diskon” yang mereka berikan hanyalah tipuan angka semata karena harga yang sebenarnya sudah dinaikkan berkali-kali lipat (mark up), tujuannya supaya Anda buru-buru membeli (fake urgency) karena diskon tersebut akan segera berakhir, “seolah” Anda akan rugi jika tidak cepat-cepat membeli produk tersebut.

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah sebuah harga sudah di mark up atau belum?

Cara paling simpel adalah cek secara online harga barang tersebut, karena di online semuanya lebih terbuka termasuk urusan harga. Pastinya setiap bisnis akan memberikan harga terbaik yang bisa mereka tawarkan kepada customer di internet, namun terkadang secara offline mereka (sales person) bisa semena-mena memainkan harga kepada konsumen.

Saya pernah berbelanja di sebuah store dan saat itu salesman mereka berkata harga produk yang ingin saya beli adalah 2 juta (dia bilang sudah diskon 20%), dan saya cek harga resmi di website mereka hanya 1,8 juta, lucunya diskon kok malah lebih mahal.

Memang salah satu cara terbaik membandingkan harga suatu produk adalah dengan mengeceknya secara online, Anda bisa gunakan beberapa website pembanding harga sepertiTelunjuk dan PriceArea untuk melihat harga di pasaran atau bisa juga gunakan marketplace seperti Tokopedia/Bukalapak untuk mencari harga termurah.

2. Mempengaruhi/memanipulasi perilaku konsumsi Anda

p3

Mungkin Anda tidak sadar betapa mudahnya kita dimanipulasi industri/bisnis khususnya oleh pemberi promo dan diskon.

Kita sangat gampang dipengaruhi untuk membuat keputusan-keputusan bodoh seperti membuat kartu kredit yang tidak kita perlukan, menyicil barang-barang yang tidak penting, dan termakan rayuan promosi/diskon yang ada.

Contoh misalnya saya memberi Anda harga 1 juta rupiah untuk salah satu dari ketiga opsi berikut:

  1. Paket perjalanan ke Malaysia + breakfast
  2. Paket perjalanan ke Singapur + breakfast
  3. Paket perjalanan ke Singapur (no breakfast)

Secara tidak langsung Anda akan lebih tertarik pada opsi no. 2 bukan? Mengapa? Karena adanya opsi no. 3 membuat Anda merasa pilihan no. 2 jauh lebih menguntungkan (fake benefit) dan cenderung mengabaikan pilihan no. 1.

Kenyataannya “tipuan opsi” diatas sudah sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti promo-promo yang ada di supermarket atau seperti give away/pemberian hadiah bersyarat dimana Anda harus melakukan “sesuatu” untuk mendapatkan hadiah tersebut.

Memang masyarakat lebih mudah dimanipulasi dengan kata-kata manis seperti “gratis”, “diskon”, “promo”, “give away”, “hadiah” dan semacamnya tanpa mempedulikan konsekuensi yang harus mereka bayar dibalik promosi tersebut.

Memanfaatkan sifat “tidak mau rugi” seseorang terbukti sangat efektif dalam strategi cheap marketing contohnya seperti undian berhadiah yang diadakan untuk menciptakan efek viral yang luar biasa. Terkadang undian tersebut hanyalah permainan orang dalam dimana hadiah yang sebenarnya tidak betul-betul diberikan kepada publik. Tentu tidak semua bisnis seperti itu, ada juga bisnis yang jujur dan betul-betul menepati janjinya, namun perlu diingat bahwa ada kecenderungan seperti ini dalam sebuah bisnis/marketing.

3. Activation

p4

Pernahkah Anda perhatikan situs daily deals seperti Groupon (Disdus), bagaimana merchant bisa mendapat untung jika mereka memberikan harga yang jauh lebih murah (voucher diskon)?

Pertama merchant harus memberikan diskon untuk customer (biasanya 50% atau lebih) dan kemudian profitnya harus dibagi lagi dengan Disdus dimana mereka hanya akan mendapat 20-30% dari keuntungan yang ada.

Dari sisi customer jelas menguntungkan, mereka dapat harga diskon untuk produk/jasa yang sama, Disdus juga untung karena mendapat komisi sekitar 70-80% dari penjualan, yang lebih menjadi sorotan adalah kenapa merchant/penjual mau membanting profit seperti itu?

Jawabannya adalah activation.

Jika kiat lihat situs daily deals kebanyakan menawarkan promo berupa service/jasa dimana merchant sebenarnya tidak terlalu rugi jika jasanya didiskon sebab rata-rata margin profit sebuah bisnis jasa bisa mencapai 70-90%.

Ada juga bisnis yang biaya/cost operasionalnya cenderung sama bahkan disaat tidak ada order sama sekali, contohnya seperti hiburan waterboom, jika dihari tersebut hanya ada 3 konsumen atau 200 konsumen maka biaya operasional yang mereka keluarkan tetap sama, maka dari itu tidak ada ruginya mendiskon harga untuk mendapatkan kuantiti/order yang lebih banyak, toh berapapun konsumennya mereka tetap harus mengeluarkan biaya yang sama.

Selain itu yang paling mahal bagi sebuah bisnis baru adalah bagaimana mengakuisisi seorang customer agar mau memberikan kesempatan kepada mereka, seperti restoran biasanya memberikan diskon untuk membuat customer setidaknya mencicipi makanan mereka, “giving try” inilah yang sebenarnya mahal karena tidak semua bisnis bisa mendapatkan kesempatan untuk dilihat/dicoba oleh customer yang ada.

Jika mereka suka tentu customer akan kembali dan membeli lagi (repeat order) dengan harga yang sudah tidak diskon. Sama seperti langganan sebuah paket hosting, biasanya mereka hanya memberikan promo gila-gilaan saat aktivasi domain/hosting baru, sedangkan harga berikutnya (perpanjangan) berlaku harga normal dan tidak pernah didiskon.

Kuncinya adalah aktivasi. Activation is expensive.

Karena itulah di Disdus sekarang kategori produk seperti gadget dan semacamnya sudah tidak ada, karena jelas merchant sangat rugi jika memberi diskon untuk sebuah produk yang beli putus tanpa kemungkinan repeat order dimasa depan.

4. Mereka memang jual rugi (tidak mencari keuntungan)

p5

Tentu tidak semua promo/diskon bertujuan mencari keuntungan, ada juga pemberi diskon yang memang jual rugi karena berbagai alasan seperti:

  • Cuci gudang atau mau ngabisin stok yang tersisa (daripada ga laku)
  • Produk sudah mulai ketinggalan jaman dan harganya semakin menyusut (biasanya produk elektronik seperti smartphone)
  • Promosi gila-gilaan untuk menarik perhatian secepat-cepatnya

Contohnya startup e-commerce di Indonesia yang belakangan ini semakin menggila dalam memberikan diskon, seperti Tokopedia/Bukalapak yang sering memberi diskon/potongan harga untuk penjual dan pembeli, belum lagi ada cashback, free ongkir, dan lain-lain. Tujuannya apa? Untuk menarik perhatian user secepat-cepatnya, karena dalam bisnis ini mendapatkan market/user base adalah segala-galanya.

Ada juga pemberi diskon yang memang ingin jual rugi karena produknya mulai tidak laku, mereka ingin cepat-cepat menghabiskan stok sebelum produknya semakin tidak berharga.



Pada akhirnya hampir semua bisnis yang ada ditujukan untuk mengambil keuntungan dari Anda sebagai konsumen, walaupun sebagian dari mereka terlihat seperti tidak mencari untung, namun potensi kedepannya itu yang masih belum kita ketahui.

Sekarang memang tidak terlihat namun jika nantinya mereka berhasil membangun kerajaan bisnisnya maka kitalah yang akan didominasi sehingga kita tidak bisa lagi hidup tanpa keberadaan mereka.

Intinya adalah apa yang terlihat murah/gratis belum tentu menguntungkan karena pastinya ada harga dalam bentuk lain yang harus Anda bayar entah itu waktu Anda, perhatian Anda, privasi, atau apapun itu.

 

 

Sumber : solusik.com