Pariwisata Sebagai Mesin Pertumbuhan Baru Ekonomi Indonesia

wi

Akhir akhir ini kita melihat betapa gencarnya pemerintah melalui kementerian Pariwisata menngenjot promosi pariwisata Indonesia yang diperkenalkan dengan tag line ” Wonderfull Indonesia”, ditengah lesunya devisa dari Sektor Pertambangan yang selama ini menjadi unggulan dalam penerimaan Negara, dan juga dengan lesunya ekspor berbasis sumberdaya alam, Pariwisata diharapkan bisa menjadi promotor baru bagi pendapatan Negara, hal ini mengingat potensi wisata Indonesia yang begitu luar biasa baik dari wisata budaya, wisata alam, religi dan lainnya yang tersebar dari Sabang sampai merauke. Nampaknya upaya kemenpar dalam mempromosikan “Wonderfull Indonesia” sudah mulai terlihat, berikut sebuah tulisan yang menggambarkan prospek kedepan pariwisata Indonesia yang ditulis oleh Bpk. Yuswohady.

Selamat menikmati

HARI Sabtu lalu (30/7) saya ada di tengah-tengah para villagepreneur (wirausaha desa) di desa wisata Geopark Ciletuh, Sukabumi.

Bersama teman-teman Bio Farma kami melakukan workshop bersama mereka untuk mengembangkan branding strategy bagi empat produk dan layanan yang tumbuh seiring mulai maraknya Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata utama Sukabumi.

Empat produk dan layanan tersebut adalah Papsi (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan homestay dan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad, batik pakidulan, pengembangan ikan koi mizumi, dan budidaya sidat (unagi).

Produk dan layanan baru yang dirintis para wirausaha desa ini tumbuh menjamur dua tahun terakhir seiring banyaknya wisatawan yang datang ke objek wisata Geopark Ciletuh. Menarik pengakuan Kang Ali, kreator batik pakidulan mengenai powerful-nya dampak ekonomi dari industri pariwisata.

“Sejak banyak wisatawan datang ke sini, banyak bermunculan komunitas-komunitas masyarakat yang mengembangkan beragam produk seperti batik, kerajinan, beras hitam hingga sidat,” ujarnya.

Multiplier Effect

Apa yang diceritakan Kang Ali tersebut dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah multiplier effect. Multiplier effect adalah kegiatan ekonomi yang menggerakkan kegiatan ekonomi lain.

Datangnya wisatawan ke Geopark Ciletuh menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan minuman lokal, dan sebagainya.

Ketika wisatawan tersebut membelanjakan uangnya di suatu desa wisata, uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan wisatawan, uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya.

Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif ke desa wisata tersebut, dia menggerakkan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima ‘tetesan rezeki’ yang dibawa si wisatawan. Tak mengherankan kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran.

Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD inpres.

Pernah suatu kali saya naik taksi di Bali. Dengan bangganya si sopir taksi bilang ke saya, “Di Bali ini pekerjaan gampang, praktis enggak ada pengangguran, hanya orang yang malas keterlaluan saja yang jadi pengangguran”.

Intinya si sopir ingin mengatakan bahwa di daerah yang ekonominya didukung sektor pariwisata seperti Bali, lapangan kerja terbuka luas untuk semua lapisan masyarakat.

Orang yang enggak lulus SD saja dengan modal cas-cis-cus berbahasa Inggris (tanpa ikutan kursus) bisa menjadi pemandu wisata (tour guide) dengan penghasilan lumayan. Potensi industri ini sebagai penyedia lapangan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tak tertandingi oleh industri lain apa pun.

New Growth Engine

Menariknya, industri pariwisata tak hanya powerful sebagai alat pemerataan kemakmuran, tetapi juga berpotensi menjadi mesin baru perekonomian Indonesia pasca-bonanza minyak. Kita tahu komoditas migas sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita di tengah harga minyak dunia yang terus terjun bebas.

Kalau komoditas migas tak mampu lagi, lalu sektor apa lagi yang bisa menggerakkan mesin perekonomian kita? Batu bara sama-sama jatuh. Komoditas pertanian/perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, atau karet setali tiga uang karena harganya yang terus anjlok di tengah pasok dunia yang berlebih.

Begitu pun tekstil dan pakaian jadi yang kian tak kompetitif karena ongkos buruh yang tak lagi murah. Urgensi mengenai perlunya mesin pertumbuhan baru ini tersirat dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah sidang kabinet paripurna Rabu (3/8) saat mengumumkan pemangkasan anggaran.

Menurut Menteri, penerimaan pajak kita bakal mengalami tekanan yang sangat berat karena jatuhnya harga komoditas minyak dan gas, batu bara, kelapa sawit, dan pertambangan lainnya. Sementara sektor yang selama ini bisa menjadi andalan seperti konstruksi, perdagangan, dan manufaktur juga tak menggembirakan, pertumbuhannya hanya separuh dari tahun sebelumnya.

Lalu apa calon terbaik mesin pertumbuhan baru itu? Jawabnya adalah sektor pariwisata.

Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Pada 2015 sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% per tahun selama 5 tahun terakhir). Sementara itu perolehan devisa migas 2015 sebesar USD18,9 miliar, merosot tajam hampir 40% dari tahun sebelumnya.

Tren yang saling berseberangan antara dua sektor ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, bisa jadi tiga tahun ke depan sektor migas akan tersalip pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar.

Dengan jejak kinerja yang mengesankan seperti ini, tak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor ini sebagai sektor unggulan perekonomian kita yang menjalankan dua fungsi sekaligus: mesin pertumbuhan dan mesin pemerataan.

Fokus Pariwisata

Anda yang berkecimpung di dunia manajemen pasti mengenal BCG Matrix. Secara sederhana matriks ini digunakan untuk merumuskan strategi portofolio (portfolio strategy) bagi organisasi yang memiliki banyak lini bisnis.

BCG Matrix memberikan panduan mengenai mana-mana portofolio bisnis yang harus dikembangkan dan mana yang tidak.

Ada empat posisi di dalam BCG Matrix:Cash Cow, Star, Question Mark, dan Dog. Cash Cow artinya portofolio bisnisnya telah menghasilkan sehingga harus terus diperah (milking). Star artinya harus diinvest dan dikembangkan karena akan menjadi tulang punggung di masa depan. Question Mark artinya masih tanda tanya mau di-invest atau justru didivest .

Dan terakhir Dog, artinya portofolio bisnis tersebut tak bisa diharapkan lagi sehingga harus di-divest alias ditanggalkan. Nah, dengan menggunakan analogi matriks tersebut, seharusnya secara strategis pemerintahan Jokowi menempatkan sektor pariwisata pada posisi Star mengingat potensi luar biasa yang dimilikinya.

Konsekuensinya, pemerintah harus mendorong habis-habisan sektor ini melalui alokasi sumber daya yang tepat agar sektor ini bisa berkembang sesuai potensinya. Sebaliknya, sektor migas adalah Dog yang memang tak bisa diharapkan lagi, karena itu tak layak diprioritaskan dan mendapatkan alokasi sumber daya secara semestinya.

Dengan portfolio strategy yang tepat, pemerintah akan bisa mengalokasikan sumber dayanya secara tepat dan efektif. Jangan sampai terjadi sektor yang sunset diprioritaskan, sementara sektor yang sunrise justru dihambat. Kalau itu yang terjadi, itu namanya misallocation of resources, mismanagement alias salah urus.

 

sumber : yuswohady.com

Kelas Menengah Muslim dan Konsep Pendidikan Anak

SMPIA-13-lab-2012

Salah satu model pendidikan sekolah yang kini banyak diminati orang tua kelas menengah muslim adalah konsep pendidikan yang menggabungkan antara unsur pendidikan agama dan sains. Di dalam sistem pembelajaran, anak-anak dibekali materi pelajaran agama dan sains yang kuat. Dengan demikian, anak-anak pun memiliki pengetahuan sains modern bagus dan karakter yang kuat berdasarkan agama. Konsep pendidikan ini saya sebut sebagai 2 in 1, di mana dalam satu sistem pendidikan tersebut anak mendapatkan pendidikan sains dan agama secara bersamaan.

Contoh konsep pendidikan 2 in 1 ini adalah Islam bertaraf internasional atau Islamic Boarding School yang saat ini banyak didirkan di berbagai pelosok Tanah Air. Umpanya adalah Sekolah Islam Al-Azhar, Jakarta Islamic School, Madani Islamic School, International Islamic Boarding School, Global Islamic School, dll. Meskipun biaya di sekolah-sekolah tersebut terbilang mahal, tapi para orang tua rela mengeluarkan biaya banyak demi pendidikan anaknya yang lebih baik.

Antara Karir dan Anak
Selama ini, kekhawatiran terbesar konsumen kelas menengah muslim dalam hal pendidikan anak adalah kondisi lingkungan yang akan dihadapi putra-putrinya. Perubahan kondisi lingkungan yang semakin terbuka, bebas, kemudahan mengakses internet, dan penyalahgunaan narkoba, mencemaskan mereka terhadap pertumbuhan anak-anaknya.

Ketika menyadari tantangan perubahan lingkungan anak terjadi sangat massif, orang tua justru mengalami kebingungan karena kesibukan mengejar karir sendiri sehingga tidak memiliki waktu untuk dapat secara intens mendampingi sang anak. Untuk itu, orang tua kelas menengah muslim pun mencarikan sekolah untuk anak pada institusi pendidikan sains berkualitas dan mengarahkan mereka pada pendidikan keagamaan sebagai benteng perkembangan moralitas anak. Sekolah-sekolah Islam internasional pun menjadi solusi.

Pendidikan Sains dan Agama
Berdasarkan hasil survei kualitatif yang kami lakukan, kami menemukan bahwa 86% orang tua menilai muatan pendidikan agama di sekolah menjadi preferensi utama dalam memilihkan sekolah untuk anak. Artinya, orang tua sangat mempertimbangkan apakah porsi pendidikan agama di sekolah cukup baik atau tidak. Setelah muatan pendidikan agama, barulah orang tua mempertimbangkan reputasi sekolah (82%), lingkungan sekolah (73%), metode pembelajaran (69%), dll.

Mengapa pendidikan agama penting? Pendidikan agama dinilai sebagai landasan penting bagi pembentukan moralitas atau karakter anak jika dewasa kelak. Para orang tua merasa tidak bisa memberikan pendidikan agama secara langsung kepada anak karena alasan kesibukan pekerjaan atau mengejar karir. Dengan demikian, orang tua pun cenderung memilih cara memasukkan anak ke pengajian di mushola, atau mendatangkan ustadz ke rumah agar anak bisa belajar agama.

Ketika agama merupakan faktor preferensi utama untuk pendidikan anak, maka memasukkan anak ke sekolah Islam internasional pun menjadi solusi baru. Mengapa? Di sekolah tersebut, anak mendapatkan dua hal sekaligus yaitu agama dan sains. Di samping ilmu agama, kelas menengah muslim yang knowledgeable, merasa bahwa anak pun harus memiliki pengetahuan kelas dunia. Mereka sangat menekankan anak-anaknya untuk jago di bidang sains (Matematika, Fisika, Biologi, Komputer, Bahasa Inggris, Mandarin, Prancis, dll.).

Di sekolah-sekolah Islam internasional itu, anak-anak diajarkan sains dan agama secara kuat. Supaya anak menguasai dunia sains, sekolah-sekolah Islam internasional ini kerap mendatangkan para guru yang memiliki kualitas mengajar bagus (tak jarang orang asing pun sengaja didatangkan untuk mengajar) dan memiliki sarana pengajaran sangat bagus seperti ruang kelas, laboratorium, dll. Sementara itu, supaya anak memiliki pengetahuan agama, anak-anak diajarkan baca-tuli bahasa Arab, baca Al-Quran, ilmu akhlak, ilmu Fiqih, dan praktek ibadah keagamaan sehari-hari.

 

 

Sumber ; iryanah.com

Consumer 3000 dan Maleolitikum : Pergeseran Kehidupan Mall para kelas Menengah.

mall

Ada suatu fenomena titik balik yang beberapa tahun belakangan ini muncul di kalangan sebagian kecil kelas menengah (C3000): weekend tanpa ke mall. Kelas menengah yang biasa gandrung banyak menghabiskan waktu akhir pekan pergi ke mall (mallism), kini sadar tentang dampak negatif terlalu sering menghabiskan waktu keluarga di mall dan mulai berkampanye tentang pentingnya weekend tanpa ke mall. Kita bisa melihat bentuk kesadaran gerakan kampanye mereka ini dalam bentuk WTM (weekend tanpa ke mall) yang sudah marak di media sosial dan aktivitas liburan yang mereka gelar sendiri. WTM telah menjadi gerakan dan komunitas masyarakat untuk mencari alternatif liburan saat akhir pekan.

Mengapa muncul gerakan dan kampanye WTM ini? Saya menduga hal ini disebabkan oleh sudah saking mendarah-dagingnya jalan-jalan ke mall di setiap akhir pekan pada mayoritas kalangan warga kelas menengah ibu kota ataupun second cities lainnya. Lihatlah mall-mall di berbagai kota hampir tidak pernah sepi dikunjungi oleh kelas menengah. Ketika hari-hari biasa banyak waktu dihabiskan untuk bekerja (orang tua) dan sekolah (anak), maka waktu akhir pekan mereka tumpahkan semua waktunya di mall. Di Jakarta, hampir sehari penuh orang menghabiskan waktu di mall saat akhir pekan, baik dalam satu mall ataupun pindah-pindah ke berbagai mall. Di mall, mereka bisa memilih tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga seperti makan di restoran, belanja kebutuhan sehari-hari, nonton film di bioskop, bermain di arena permainan atau taman, karokean, dll.

Namun, justru terlalu sering menghabiskan waktu di mall, maka sebagian kecil kelas menengah mengambil inisiatif untuk kampanye WTM ini. Adanya WTM, bukan berarti mereka anti terhadap keberadaan mall. WTM ini sebagai upaya meminimalisir waktu akhir pekan yang banyak disibukkan di mall. Selain dinilai terlalu mainstream, liburan ke mall dinilai kurang memberikan dampak positif bagi keluarga, sehingga diperlukan alternatif baru untuk menghabiskan waktu keluarga di akhir pekan. Mall dinilai sudah cukup basi, dan kini pilihannya mereka pergi ke taman rekreasi, pasar becek, perkebunan, area bermain ruang terbuka hijau, dll. Mereka mulai mencari-cari tempat-tempat baru yang mengesankan.

Mallism
Sekitar dua tahun yang lalu, pakar pemasaran Yuswohady pernah menulis tentang fenomena “Mallism”. Mallism adalah sebuah cerminan para “pemuja” mall. Ini merefleksikan bahwa pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup kelas menengah. Tiada hari tanpa pergi ke mall. Belanja, nongkrong, menjamu tamunya, kopdar dengan kerabat, meeting pekerjaan, mengasuh anak, dll., yang semuanya dilakukan di mall. Praktis, hampir semua kegiatan yang dilakukan oleh kelas menengah adalah di mall. Maka, tak heran apabila pergi ke mall sudah mendarah daging dalam aktivitas kelas menengah Indonesia. Karena itu, managing partner dari Inventure itu menyebut era saat ini adalah Maleolitikum.

Oleh karena pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup, hal ini telah menyebabkan permintaan pembangunan mall tak pernah berhenti dari para pengembang. Kabarnya, Jakarta adalah kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Kini, pertumbuhan jumlah mall di ibu kota mulai dibatasi oleh Pemerintah Daerah. Tetapi, tak kalah siasat, kini para pengembang pun mulai mengincar area-area pinggiran ibu kota atau second cities untuk membangun mall. Mereka sangat agresif tumbuh di daerah-daerah pinggiran seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Saat ini justru di daerah pinggiranlah, sebenarnya para pengembang mendapatkan momentum “euforia konsumsi” pada kelas menengah. Dalam hasil penelitiannya berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s PotentialMcKinsey menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi wilayah second cities akan jauh lebih atraktif dibandingkan Jakarta. Second cities itu antara lain Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, dll. Sebagian besar orang menganggap bahwa Jakarta adalah potret daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi besar dan cepat. Tetapi, melihat data yang diungkapkan McKinsey bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2010 hanya mencapai 5,8%, sementara second cities rata-rata mencapai 6,7%. Prediksi di tahun 2030, second cities akan tumbuh lebih besar dari Jakarta yakni sekitar 9,1%, sementara ibu kota mencapai 5,1%.

Mengapa second cities bisa tumbuh eksplosif? Mengapa pengembang properti sangat bergerak dinamis membangun mall di second cities? Ini tidak lepas dari euforia konsumsi yang terjadi pada kelas menengah pada daerah second cities. Secara evolutif, kebutuhan mereka terhadap konsumsi barang atau layanan kian advance. Untuk itu, para pengembang mall pun sudah ekspansi ke daerah-daerah. Contohnya, dalam beberapa tahun ke depan, di Jogja akan didirikan mall-mall besar dan kelas atas untuk menangkap peluang tingginya gairah konsumsi masyarakat lokal. Rupanya, warga yang tinggal di Jogja kini punya hobi baru euy: jalan-jalan ke mall.

Komplet
Mengapa mall bisa sangat digandrungi oleh kelas menengah Indonesia? Hal ini tidak lepas dari proses evolusi mall yang kian komplet dalam menyediakan kebutuhan kelas menengah. Apa yang dibutuhkan konsumen, hampir semuanya ada di mall. Dalam satu tempat, konsumen bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan: berbelanja dengan diskon menarik, produk yang lengkap (sembako, fesyen, elektronik, buku, dll), fasilitas lengkap nan nyaman (parkir, tempat makan keluarga, mushola, arena bermain anak, konser musik, dll), dan akses lokasi terjangkau. Bisa Anda bayangkan, semua kemudahan ini terletak dalam satu tempat bernama mall, sehingga tak jarang kelas menengah merasa betah menghabiskan waktu akhir pekan di mall daripada tempat lain.

Kini, muncul tren bahwa hampir setiap mall berlomba-lomba menciptakan great customer experience dengan menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang sehingga kelas menengah akan merasa bebas dan nyamanMushola adalah salah satunya. Seperti hasil survei kami tentang kelas menengah muslim bahwa mereka adalah jenis konsumen yang konsumtif sekaligus religius. Melihat karakteristik ini, para pengelola mall berkompetisi membangun mushola yang modern dan nyaman bagi pengunjung, seperti di Mall Kelapa Gading, Senayan City, Pondok Indah Mall, Kota Kasablanca, dll.. Adanya mushola di mall memberikan kenyamanan dan kebebasan para pengunjung untuk bisa bertahan seharian di dalam mall. Mereka bisa menunaikan gaya hidup konsumtif sekaligus tetap melakukan kegiatan berdoa di mushola. Komplet, hehehe…

Namun, seiring dengan kenyamanan menghabiskan waktu berlibur di mall, justru di kalangan sebagian kecil kelas menengah mulai muncul kekhawatiran tentang dampak negatif liburan ke mall. Apa saja dampak negatifnya? Apa yang saya amati dari keluhan mereka adalah anak kian menjadi konsumtif, potensi obesitas pada anak karena sering jajan junk food, pengeluaran keluarga membengkak (besar pasar daripada tiang), anak menjadi kurang kreatif karena main di mal lebih sering virtual, dll. Banyaknya dampak negatif inilah yang mendorong mereka untuk mencari liburan alternatif daripada pergi ke mall.

Titik Balik
Dalam setahun terakhir ini, muncul fenomena ramainya Pasar Santa Jakarta. Pasar Santa adalah pasar rakyat yang kini menjadi tempat nongkrong idola anak-anak muda gaul dan keluarga di daerah Jakarta yang sedang ngetren. Awalnya, pasar ini adalah pasar biasa yang cenderung diisi oleh lapisan masyarakat bawah di daerah Jakarta Selatan, sehingga bentuk desain tidak begitu modern. Pasar ini pun kemudian berubah menjadi tempat nongkrongnya anak-anak gaul. Outlet-outlet didesain dengan modern dan artistik, sehingga terkesan cool dan berkelas. Pasar ini pun kini menjadi alternatif tempat nongkrong dan makan para anak muda ataupun keluarga di akhir pekan. Mereka adalah kelas menengah yang sudah jenuh dan bosan pergi mall, karena mall sudah terlalu mainstream, maka pasar becek yang diubah lebih cool menjadi alternatif tempat nongkrong.

Selain pergi ke Pasar Santa, kini juga mulai muncul tren adanya wisata edukasi alam atau outbound untuk kaum dewasa maupun anak-anak di daerah Bogor ataupun Bandung. Wisata edukasi ini bertujuan memperkenalkan keanekaragaman hayati alam pada anak, baik di sawah, sungai, hutan, kebun, dll. Apabila anak bermain di mall dinilai lebih pasif dan konsumtif, maka dengan wisata edukasi ini, anak-anak diharapkan menjadi lebih aktif, bergaul, tahu alam, lebih sehat, dan senang.

Ini adalah fenomena titik balik, di mana kelas menengah telah mengalami kejenuhan untuk pergi menghabiskan waktu di mall saat weekend. Ketika mereka memilih untuk tidak pergi ke mall, maka mereka akan memilih untuk pergi ke tempat yang dinilainya alternatif. Tempat-tempat itu antara lain: taman, car free day, tempat wisata kuliner, gunung, dll.

 

 

Sumber ; iryanah.com