5 Revolusi Ekonomi yang Berdampak pada Bisnis Online di Indonesia

optimis1

Perekonomian Indonesia tengah memasuki masa transisi. Kalangan menengah ingin beralih menuju kelas atas untuk memperoleh kebebasan finansial. Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena mass luxury, di mana barang-barang mewah yang tadinya hanya bisa dibeli oleh kalangan atas kini mampu dimiliki oleh semua orang.

Masyarakat Indonesia kini dilanda optimisme untuk menaikkan perekonomian.

Berdasarkan laporan lembaga riset YouGov pada November-Desember 2015, Indonesia dinobatkan sebagai negara teroptimistis kedua di dunia setelah Tiongkok.

Menurut data tersebut, sebanyak 23 persen masyarakat Indonesia menganggap dunia sedang menuju ke arah yang lebih baik.

optimis

Gaya hidup yang disebut sebagai “tren amfibi” banyak dilakoni oleh masyarakat. Para pelaku “tren amfibi” adalah mereka yang menjalani dua profesi sekaligus, yaitu sebagai pegawai kantoran dan sebagai wirausahawan. Pada jam-jam kerja, mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Ketika jam kerja kantoran berakhir, mereka mengelola bisnis pribadi.

Para pelaku “tren amfibi” ini, menginginkan adanya kebebasan finansial di masa depan. Mereka tidak ingin selamanya bekerja untuk orang lain. Ketika usaha yang mereka rintis ini telah memberikan profit yang baik, mereka akan berhenti dari profesi pegawai kantoran dan menjalankan bisnis secara total.

Salah satu pakar menejemn terkemuka Bpk. Yuswohady berpendapat bahwa fenomena mass luxury dan “tren amfibi” adalah dua sinyal yang mengindikasikan adanya revolusi dalam perekonomian Indonesia. Secara garis besar, revolusi ekonomi ini dikelompokkan ke dalam lima bidang :

1.Revolusi E-preneur

Pesatnya perkembangan industri digital merupakan dampak dari melebarnya penggunaan internet di segala bidang. Bidang ekonomi termasuk ke dalamnya. Kelahiran e-preneur (electronic-preneur) atau wirausahawan online sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis moneter yang melanda beberapa negara berkembang, salah satunya Indonesia, yang mengancam pasar bisnis offline. Dalam bisnis konvensional semacam ini, banyaknya ongkos produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan profit yang diperoleh. Oleh sebab itu, para pelaku bisnis mencari alternatif lain agar dapat menjalankan usaha yang relatif tanpa modal dan mudah untuk dijalankan, yaitu bisnis online.

E-preneur, atau lebih dikenal dengan sebutan netpreneur, memainkan peran yang signifikan dalam bisnis dunia maya semacam itu.

Seorang netpreneur bisa bertindak baik sebagai produsen, pemasok, maupun pedagang sekaligus. Banyaknya “tugas” seorang netpreneur mungkin untuk dijalankan karena semua kegiatan bisnis dilakukan hanya dengan meng-klik. Selama koneksi internet dapat diakses, bisnis bisa dijalankan kapanpun dan di manapun. Inilah yang membuat netpreneur bisa menjalankan banyak fungsi pelaku ekonomi sekaligus.

2. Revolusi Entrepreneur
Masa transisi adalah periode yang sangat berharga untuk berwirausaha. Ini adalah kesempatan emas bagi siapa saja untuk membuka bisnis pribadi. Peluang kesuksesan sebuah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) akan lebih besar pada masa transisi ini. Hal ini terjadi karena jika perekonomian Indonesia telah stabil dan melewati masa transisi, UKM tidak akan mampu bersaing dengan usaha lain yang telah berskala besar.

3. Revolusi Properti
Di masa transisi ini, banyak orang ingin memperoleh kekayaan dalam waktu cepat. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menginvestasikan uang yang dimiliki dalam bentuk properti. Kini, banyak orang “mengoleksi” tanah, rumah, apartemen, dan benda-benda properti lainnya sebagai investasi. Barang properti ini dinilai akan memberikan keuntungan besar di masa depan.

4. Revolusi Amfibi
Banyaknya jumlah “double agent” di kalangan pelaku bisnis menciptakan tren tersendiri di bidang ekonomi. Kalangan ini menjalani dua profesi yang berbeda secara bersamaan, yaitu sebagai karyawan kantor sekaligus sebagai wirausahawan.

5. Revolusi E-commerce
Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 membuat masyarakat Indonesia mencari alternatif lain untuk menjaga kestabilan finansialnya. Salah satunya adalah dengan membangun bisnis pribadi berbasis usaha kecil dan menengah. Ketiadaan modal usaha yang besar menjadi faktor pendorong para wirausahawan ini untuk berkecimpung ke dalam industri e-commerce; sebuah industri yang memungkinkan wirausahawan memasarkan produknya secara efektif dan tanpa biaya lewat jaringan internet (online). Maraknya situs e-commerce memunculkan fenomena transaksi online yang memudahkan netpreneur untuk mencapai target pasarnya.

 

 

 

 

diambil dari berbagai sumber ;

sumber utama ; jarvis-store.com

Zara, Merek Miliaran Euro Tanpa Iklan

zara

Bagi kita yang menyukai dunia fashion pasti sudah tidak asing lagi dengan nama merek zara. Zara merupakan salah satu brand fashion ternama di dunia. Zara didirikan pada tahun 1975 oleh Amancio Ortega. Tahukan anda, bahwa model awal pakaian Zara didapatkan dengan cara mengcopy model pakaian dari tempat armacio bekerja.

Pada intinya visi dan misi zara adalah untuk memuaskan konsumen dengan melakukan inovasi – inovasi pada design pakaiannya dengan tetap memperhatikan lingkungan dalam operasi bisnisnya.

Zara mengklasifikasikan konsumennya menjadi 3 jenis :

  1. Fashion Chaser : Merupakan konsumen yang selalu mengikuti trend fashion terkini dan menginginkan pakaian yang eksklusif. Konsumen jenis ini tidak terlalu perduli terhadap harga dan merupakan jenis konsumen yang paling loyal kepada ZARA.
  2. Opinion Seeker : Merupakan konsumen yang sangat dipengaruhi oleh orang di sekitar mereka termasuk melalui social media dalam memutuskan untuk membeli sesuatu.
  3. Value Buyer : Merupakan jenis konsumen yang paling sensitif terhadap harga, mereka akan membandingkan harga dengan value yang ditawarkan sebelum melakukan pembelian.

Zara sejauh ini adalah merek terbesar dalam portofolio Inditex Group dengan penjualan bersih dalam tahun fiskal 2012 sebesar 15,9 miliar Euro.

Salah satu hal yang menarik dari Zara adalah merek ini menjadi populer justru karena kurangnya orisinalitas. Para pelanggan menyerbu gerai Zara untuk membeli kopian desain pakaian berkel as dengan harga yang lebih ramah di kantong. Berikut, beberapa fakta menarik tentang bagaimana Zara selama lebih dari tiga dekade berkembang menjadi merek bernilai miliaran.

Hal menarik dari Zara internasional terletak pada pengucapan nama mereknya. Mantan suami Mera, Amancio Ortega mulai menjual pakaian tidur melalui toko kecil yang disebut Zorba. Tapi, seperti yang dilaporkan UK Telegraph di tahun 2011, “Pemilik bar sekitar dengan nama yang sama mengajukan protes. Maka digantilah nama menjadi Zara. Ironisnya, Spanyol adalah satu-satunya negara di mana Zara tidak diucapkan ‘Zah-hura’, tetapi ‘Tha-ra’.

Gerai pertama Zara berada di kota Galicia, Spanyol, yang dibuka pada tahun 1975. Kini merek ini memiliki gerai dengan jumlah lokasi 1.800 titik. Termasuk dua gerai di Tunisia, dua gerai di Azerbaijan, 21 gerai di Israel, 44 di Amerika Serikat, 56 gerai di Meksiko, dan 88 gerai di Jepang. E-commerce menjadi faktor pendorong yang besar bagi merek ini dan Rusia menjadi fokus besar di mana retailer meluncurkan sebuah platform baru musim gugur ini.

Zara berkembang dengan sedikit atau bahkan tanpa iklan sama sekali. Iklan bukan bagian dari model bisnisretailer. Harian New York Times musim gugur lalu mengatakan, “Zara bahkan tidak memiliki departemen pemasaran dan merek ini tidak terlibat dalam kampanye yang menyolok seperti yang dilakukan para kompetitornya.”

“Desainer Zara tidak bernama. Beberapa orang akan mengatakan hal ini karena para desainernya cendererung pengopi, alih-alih desainer. Zara dikenal sebagai perusahaan yang malu dengan media. Meskipun dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Ortega Gaona menolak untuk melakukan wawancara dengan media, begitu pula dengan penerusnya Pablo Isla.

Salah satu momen terbesar pemasaran Zara adalah product placement tak berbayar yaitu pada Duchess of Cambridge, sehari setelah ia melangsungkan pernikahan. Menjadi seorang anggota kerajaan membuat Kate Middleton berhati-hati dalam berpakaian. Ia menyukai perpaduan merek high dan low, sebagai bentuk dukungan penampilan “High Street” begitu yang mungkin dikatakan oleh orang-orang Inggris.

Penampilan yang tak terlupakan adalah pada hari setelah pernikahannya dengan Pangeran William yaitu ketika ia keluar menggunakan gaun bermotif cornflower biru, dengan detail lipit dari bahan polyester yang hanya seharga 49,99 poundsterling di Zara.

Gerai Zara mengadopsi kecepatan layaknya perusahaan teknologi. Perusahaan ini mendapatkan desain baru lebih cepat daripada kompetitor pada umumnya. Inventaris segar adalah kunci bagi strategi penjualan Zara, dengan gerai yang memiliki stok desain baru dua kali dalam seminggu. Sangatlah penting untuk mengeluarkan gaya terbaru berdasarkan laporan Wall Street Journal.

Sumber utama: marketing.co.id disesuaikan.

Psikologi Konsumen : Gen Z dan pengaruhnya terhadap keputusan Belanja keluarga

Generation-Z-Infographic

Generasi Z sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Hal ini dikarenakan perilaku mereka yang lekat dengan teknologi digital. Bisa dikatakan teknologi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian mereka. Ada yang mengatakan Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1994 sampai tahun 2004.

Mereka lahir dan tumbuh ditengah merebaknya teknologi digital, sehingga ada yang menjuluki mereka sebagai generasi digital native. Generasi digital native bisa menggunakan teknologi digital tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Mereka lebih mengedepankan trial and error ketika menggunakan fitur-fitur teknologi digital.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti generasi X (lahir 1965 – 1980) dan generasi Y lahir lahir (1981 -1995). Dua generasi ini mengalami tahap belajar untuk memahami teknologi digital. Masih ingat, dulu pernah marak kursus komputer untuk “mengajari” dua generasi ini teknologi digital. Bahkan, selembar sertfikat kursus komputer bisa sangat bermanfaat untuk masuk dunia kerja.

Lalu apa yang mesti dicermati pemasar dari Gen Z? Meski masih belia, Gen Z ternyata punya pengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian keluarga. Hal ini sesuai dengan survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) baru-baru ini. Nielsen Indonesia mengkategorikan Gen Z sebagai generasi dengan rentang usia 10 – 19 tahun. Survei CMV dilakukan terhadap lebih dari 17.000 responden usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Hasil survei Nielsen CMV kuartal II 2016, ada dua keputusan pembelian dimana Gen Z punya andil. Sebesar 47% anak-anak(usia10-14tahun) memiliki pengaruh terhadap keputusan untuk berlibur, dan 33% terhadap keputusan untuk membeli produk elektronik. Sementara itu, konsumen remaja (usia 15-19 tahun) memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan untuk berlibur (67%) dan keputusan membeli produk elektronik (62%).

“Lahir pada era digital, Gen Z memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dan bahkan pada usia yang sangat muda mereka sudah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan membeli dalam keluarga. Pemahaman mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam mengonsumsi media akan membuka peluang bagi para pemilik merek dan pemasar untuk dapat membangun hubungan jangka panjang denganmereka,” ujar Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business, Nielsen Indonesia.

Survei tersebut juga menemukan, olahraga menjadi kegiatan paling disukai anak-anak (48%) dan remaja (44%). Kegiatan berikutnya yang paling disukai menonton TV, yaitu 38% pada anak-anak dan 32% pada remaja, dan mendengarkan musik 17% pada anak-anak dan 25% pada remaja. Sebesar 11% anak-anak menyatakan kegiatan yang mereka sukai setelah mendengarkan musik membaca buku. Sementara itu, untuk remaja, kegiatan lain yang lebih disukai setelah mendengarkan musik menjelajah internet (17%).

Temuan diatas menunjukkan Gen Z masih dapat dijangkau media, termasuk media tradisional. Televisi, Internet dan Radio merupakan media utama yang mereka akses .Selain penetrasi TV terrestrial masih yang tertinggi (diatas 95% pada anak-anak dan remaja), penetrasi TV berbayar juga mencapai 10%.

Pola konsumsi internet juga memperlihatkan peningkatan dalam lima tahun terakhir, dimana pada kuartal kedua2016 penetrasi internet pada anak-anak 45%, meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Pada remaja angkanya 81%, meningkat 29% dibandingkan dengan kuartal kedua 2011. Rata-rata remaja menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengakses internet (2 jam 29 menit) dan radio (2 jam 20 menit), sementara anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu dengan 1 jam 37 menit untuk internet dan 1 jam 45 menit untuk radio.

z

Mayoritas Gen Z Menonton Televisi Akhir Pekan

Nielsen TAM (TV Audience Measurement) dilakukan terhadap lebih dari 8,000 responden berusia 5 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassardan Banjarmasin). Hasil pengukuran tersebut tertuang dalam nilai rating, sharedan indeks.

Data Nielsen TAM periode April-Juni 2016, menunjukkan anak-anak dan remaja lebih banyak menonton televisi pada waktu pagi di akhir pekan.  Dalam lima tahun terakhir, Program Serial masih menjadi genre yang paling banyak ditonton Gen Z, namun peningkatan penonton terjadi untuk genre Program Anak dan Hiburan. Tahun ini anak-anak menyukai FTV, terlihat dari tingginya rating yang diperoleh beberapa judul FTV selama periode April-Juni 2016 pada penonton usia 10-14 tahun ini seperti Pangeran di Kandang Bebek yang mendapatkan rating 6,6 dan Mengejar Cinta Dosen Cantik dengan rating 5,8. Penonton remaja lebih memilih tayangan yang beragam tak hanya FTV, tetapi juga program Olahraga dan Hiburan.

Gen Z  Selalu Terhubung dengan Internet

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, akses internet telah menjadi kebutuhan bagi Gen Z. Bila lima tahun lalu Warung Internet (Warnet) menjadi pilihan utama bagi anak-anak (81%) dan remaja (56%) untuk mengakses internet. Di  tahun ini Warnet tergantikan oleh rumah, dimana 49% anak-anak dan 62% remaja mengakses internet dari rumah mereka. Angka tersebut meningkat dari 7% pada anak-anak dan 9% pada remaja. Sebesar 93% anak-anak dan 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkatmobile seperti smartphone atau iPad. Aktifitas yang paling banyak dilakukan Gen Z dengan internet berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, bermain game dan mendengarkan musik.

Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Gen Z

Meskipun Televisi dan Internet menjadi media favorit bagi Gen Z, namun tidak sedikit dari anak-anak dan remaja yang masih mendengarkan radio. Nielsen Radio Measurement (RAM) mengukur perilaku mendengar radio terhadap lebih dari 8,400 responden berusia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Temuan (RAM) kuartal kedua tahun ini menunjukkan tingkat penetrasi Radio pada konsumen Gen Z sebesar 20% lebih, tertinggi di kota Palembang 98%. Dari sisi waktu mendengarkan radio, anak-anak di Surakarta menghabiskan waktu terbanyak dengan rata-rata 159 menit per hari, dan untuk remaja terbanyak di Denpasar dengan rata-rata waktu 155 menit per hari. Mereka lebih banyak mendengarkan radio melalui perangkat mobile – Remaja 39% dan Anak-anak 20%. Lagu Pop Indonesia merupakan genre lagu yang paling disukai remaja (57%) dan Anak-anak (46%).

Temuan lain, Gen Z ternyata pengunjung bioskop yang setia. Di 11 kota yang disurvei Nielsen, rata-rata anak-anak pergi ke bioskop 9 kali dalam satu tahun, dan remaja 11 kali dalam satu tahun. Dengan kata lain, hampir setiap bulan mereka pergi menonton di bioskop.

 

 

sumber ; marketing.co.id

12 Karakter Unik Konsumen Indonesia

Majalah MARKETING pernah mengulas secara detil tentang 12 Karakter Khas Konsumen Indonesia. Karakter  khas ini memang harus dipahami oleh marketer agar produk yang dijual lebih tepat sasaran. Karakter khas ini juga yang membuat beberapa merek berjaya di luar negeri namun ketika masuk ke pasar Indonesia, merek tersebut tidak sukses.

karakter

 

Adalah Handi Irawan yang pernah mengeluarkan pemikiran tentang 10 Karakter Konsumen di Indonesia, 10 tahun yang lalu. Riset yang banyak dilakukan oleh Handi mengerucutkan sifat-sifat konsumen di Indonesia ke dalam 10 sifat yang khas.

Kesepuluh sifat atau karakter tersebut adalah: memiliki memori yang pendek; tidak memiliki perencanaan; suka berkelompok; tidak adaptif terhadap teknologi; fokus terhadap konteks dibanding konten; menyukai produk luar negeri; religius; suka pamer dan gengsi; dipengaruhi oleh budaya lokal; dan tidak peduli lingkungan.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan masuknya internet dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa karakter mengalami perubahan. Sebagai contoh, dulu konsumen Indonesia banyak yang gaptek(gagap teknologi). Namun dengan penetrasi teknologi yang semakin tinggi di Indonesia, makin banyak pula konsumen Indonesia yang semakin memahami teknologi dengan baik.

Dari hasil pengamatan, observasi, dan wawancara dengan pakar, majalah MARKETING kemudian menyimpulkan bahwa ada 12 karakter yang bisa mewakili karakter konsumen di Indonesia pada umumnya.

1. Religius

Konsumen Indonesia tetaplah konsumen yang religius, sekalipun gerakan sekuler banyak bermunculan di dunia. Sifat religius tersebut tetap bisa bertahan karena kereligiusan konsumen Indonesia bisa mengikuti perkembangan dunia modern sekarang ini. Misalnya dakwah-dakwah dilakukan lewat Youtube. Fenomena jilbab di Indonesia juga menguatkan karakter ini.

2. Suka Bersosialisasi

Senang bersosialisasi mungkin lebih tepat dibandingkan suka berkumpul pada masa sekarang ini. Artinya, sekalipun tidak bertemu, konsumen Indonesia senang bersosialisasi dengan orang lain. Itulah sebabnya media sosial bertumbuh pesat di Indonesia. Demikian pula dengan komunitas-komunitas, dengan cepat bisa terbentuk di Indonesia.

3. Memiliki Pikiran Jangka Pendek

Pikiran jangka pendek masih tetap dimiliki oleh konsumen Indonesia. Sifat tergesa-gesa, ingin cepat, dan instan masih dimiliki oleh konsumen kebanyakan di Indonesia. Itulah sebabnya produk-produk yang memberikan manfaat jangka panjang seperti asuransi membutuhkan waktu lebih panjang dalam mengedukasi konsumen. Berbeda misalnya dengan makanan suplemen atau penambah energi. Dengan iklan jor-joran saja konsumen sudah langsung terpengaruh untuk membelinya.

4. Tidak Terencana

Konsumen Indonesia cenderung masih belum memiliki perencanaan yang baik. Itulah sebabnya tingkatimpulse buying di Indonesia masih tinggi. Artinya konsumen di Indonesia masih membeli produk langsung di supermarket tanpa direncanakan. Demikian pula tingginya penggunaan kartu pra bayar di Indonesia, menunjukkan bahwa orang Indonesia baru membeli pulsa saat butuh saja.

5. Adaptif dengan Teknologi

Jika dahulu orang Indonesia kurang adaptif dengan kehadiran teknologi, kini diyakini bahwa orang Indonesia mulai tergila-gila akan teknologi. Artinya, setiap ada teknologi baru yang hadir, konsumen Indonesia dengan cepat menyerap. Hal tersebut mungkin tidak berlaku bagi generasi tua, namun untuk generasi muda, sifat ini terlihat sekali. Contohnya adalah Pokemon Go, game dengan teknologi baru langsung laris di Indonesia sekalipun belum dirilis.

6. Suka Ikut-ikutan

Konsumen Indonesia masih menjadi konsumen yang senang mengikuti orang lain, alias follower. Mereka senang mencari referensi dari orang lain. Kekuatan selebriti dalam menggerakkan konsumen masih besar karena konsumen Indonesia suka mengidolakan orang lain dan terpengaruh oleh idola tersebut.

7. Kurang Peduli Lingkungan

Konsumen Indonesia masih belum terlalu sadar akan lingkungan, sekalipun kesadaran itu perlahan mulai tumbuh. Kampanye untuk tidak menggunakan kantong plastik saat berbelanja belum bisa dikatakan sukses. Sifat tidak peduli terhadap lingkungan membuat marketer belum banyak yang bisa melakukan pendekatan produk dengan cara ini.

8. Suka Pamer

Selain membeli barang-barang bergengsi, sifat yang tidak mudah hilang di Indonesia adalah senang pamer.Selfie dan narsis adalah kebiasaan banyak konsumen di Indonesia, dimana mereka suka memotret diri sendiri dan memamerkannya di media sosial. Platform media sosial baru selalu menjadi perhatian konsumen di Indonesia sebagai tempat untuk memamerkan eksistensi mereka.

9. Gengsi

Karakter yang satu ini masih belum bisa hilang di Indonesia. Konsumen Indonesia masih senang sesuatu yang berbau gengsi. Ponsel keluaran terbaru selalu laris di Indonesia. Demikian pula mobil-mobil mewah di Indonesia, semakin terlihat banyak di jalanan.

10. Menyukai Produk Luar Negeri

Harus diakui, keinginan mengonsumsi produk luar negeri dibanding merek sendiri masih besar di Indonesia. Namun demikian, gerakan-gerakan untuk semakin mencintai produk lokal bukannya tanpa hasil. Gerakan-gerakan ini semakin intens karena adanya media sosial dan muncul dari bawah. Bandingkan misalnya dengan zaman orde baru ketika kampanye menggunakan produk dalam negeri lebih didorong pemerintah.

11. Kuatnya Budaya Lokal

Sekalipun sudah menjadi konsumen global, sifat-sifat kedaerahan di Indonesia masih belum bisa hilang. Semakin kuatnya otonomi daerah di Indonesia justru membuat setiap daerah kini berupaya menampilkan keunggulan dan kekhasan daerahnya dibandingkan daerah lain.

12. Mementingkan Konteks Dibandingkan Konten

Sifat mementingkan konteks dibandingkan konten masih terlihat sampai sekarang. Orang Indonesia masih tidak suka melihat kandungan obat. Asalkan kemasannya menarik, konsumen Indonesia menganggapnya punya kualitas yang baik. Orang Indonesia juga tidak suka konten yang berat. Itulah sebabnya meme menjadi fenomena yang menarik di Indonesia karena sifatnya ringan dan guyon. Di sisi lain, kekurangingintahuan konsumen terhadap detail konten membuat konsumen Indonesia mudah dipengaruhi. Tidak mengherankanhoax dan berita-berita tidak pasti mudah memengaruhi konsumen di media sosial.

(Majalah Marketing Agustus 2016/marketing.co.id)

Membedah Strategi yang Baik dan yang Buruk dalam sebuah organisasi

good2

Sering kita menemui berbagai slogan ataupun jargon di tubuh organisasi kita, tetapi tetap merasa bingung menentukan arah dan tujuan organisasi. Para pengambil keputusan kerap mengidentikkan berbagai jargon itu sebagai strategi organisasi. Toh, semua itu hanyalah contoh penerapan strategi yang buruk. Dalam buku ini, Richard Rumelt, salah seorang pemikir manajemen strategi ternama, mengungkapkan bahwa strategi organisasi yang baik bukan sekadar slogan ataupun pernyataan visi misi yang muluk. Strategi yang baik merupakan respons yang tepat, spesifik dan menyeluruh atas tantangan yang sedang dihadapi organisasi.

Sebuah contoh strategi yang baik datang dari raksasa inovasi dunia, Apple. Dikisahkan, pada saat yang sama ketika Microsoft meluncurkan Windows 95, Apple ada di tepi jurang kehancuran. CEO Apple saat itu, Gil Amelio, berjuang keras untuk tetap bertahan di tengah gempuran dominasi PC berbasis Windows- Intel. Berbagai usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, hingga akhirnya Steve Jobs kembali mengambil alih pucuk pimpinan Apple. Langkah awal Jobs adalah mengembalikan Apple pada bisnis intinya, komputer personal. Jobs juga melakukan berbagai langkah efisiensi: memangkas 15 model desktop menjadi satu model saja, menghentikan produksi printer, merampingkan distributor, hingga memindahkan proses produksi ke Taiwan. Hasilnya, Jobs berhasil menghemat biaya inventori hingga 80%. Sebuah situs penjualan online produk Apple juga diluncurkan untuk memotong biaya distribusi dan agen (halaman 12).

Kekuatan strategi Jobs terletak pada kemampuannya merancang seperangkat langkah aksi yang fokus dan terkoordinasi, serta ditujukan langsung pada inti permasalahannya. Jobs tidak merumuskan sebuah visi yang ambisius, ataupun mencanangkan target keuntungan yang harus dicapai. Jobs hanya mendesain ulang proses bisnis Apple sehingga hanya fokus pada lini produk yang lebih ramping.

Di sisi lain, strategi yang buruk bukan semata akibat absennya strategi yang baik. Strategi buruk muncul akibat tidak berfungsinya kepemimpinan, dan pemahaman yang salah dari pemimpin tentang makna strategi. Uniknya, Rumelt pertama kali memperkenalkan istilah bad strategy ini justru pada sebuah seminar mengenai strategi keamanan nasional Amerika Serikat di Washington DC tahun 2007. Seminar itu sendiri diadakan untuk mengevaluasi kualitas strategi keamanan nasional AS yang dirasa semakin menurun pada saat itu.

Rumelt merumuskan bahwa ada empat indikator yang harus diperhatikan untuk mendeteksi strategi yang buruk (bab 3). Indikator pertama, penggunaan bahasa yang muluk, bombastis dan sulit dipahami, sehingga mengesankan sebagai hasil pemikiran yang cerdas. Rumelt mengibaratkan bahasa yang muluk itu sebagai the Sunday words, bahasa yang dibesar-besarkan. Indikator kedua, ketidakmampuan mendefinisikan tantangan yang dihadapi organisasi. Ketika kita tidak dapat mengidentifikasi tantangan, kita tidak dapat melakukan perbaikan ataupun evaluasi strategi. Indikator ketiga, menyamakan strategi dengan tujuan. Strategi bukanlah tujuan organisasi. Banyak strategi buruk yang hanya berupa pernyataan tujuan tanpa rencana penyelesaian masalah. Terakhir, strategi yang buruk ditandai dari kesalahan pemimpin dalam menetapkan tujuan strategi. Tujuan strategi ditentukan oleh pemimpin sebagai sarana mencapai tujuan. Namun, kerap kali tujuan strategi itu gagal mengidentifikasi isu kritis (critical issue) atau bahkan tidak dapat diimplementasikan.

Strategi yang baik memiliki landasan struktur yang disebut sebagai kernel, inti. Strategi kernelini memiliki tiga elemen, yaitu: diagnosis, guiding policy, dan coherent action (bab 5). Diagnosis menjelaskan tantangan yang dihadapi, sehingga diagnosis yang baik mampu menyederhanakan masalah yang kompleks. Guiding policy merupakan pendekatan yang dipilih untuk menyelesaikan masalah yang diidentifikasi di tahapan diagnosis. Terakhir, coherent actionmerupakan langkah yang diambil sebagai implementasi dari guiding policy.

Sebagai contoh, di dalam bisnis, tantangan yang acap dihadapi adalah perubahan dan kompetisi. Langkah pertama adalah mendiagnosis struktur tantangan bisnis. Langkah kedua, menetapkan kebijakan yang dapat menciptakan keunggulan atas kompetitor dalam bisnis. Langkah ketiga, implementasi dan alokasi sumber daya berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mengalahkan kompetitor sekaligus adaptif terhadap perubahan bisnis.

Ada sebuah peryataan yang cukup kontroversial di dalam buku ini. Rumelt berpendapat bahwa untuk merancang strategi yang baik, memiliki pengetahuan manajemen strategi saja tidak cukup (halaman 268). Banyak orang memiliki pengetahuan yang dalam ataupun pengalaman, tetapi gagal dalam merancang strategi. Rumelt berbicara tentang pentingnya memiliki pikiran strategis. Maka, Rumelt mengusulkan tiga kebiasaan yang harus dimiliki untuk memandu pikiran kita ketika merancang strategi. Pertama, kita harus memiliki berbagai alat (tool) untuk mengarahkan perhatian kita. Kedua, kita harus membangun kemampuan untuk terus mempertanyakan dasar asumsi kita. Jika asumsi kita sangat mudah dipatahkan, bisa dipastikan strategi yang kita rancang tidak akan bertahan lama di kompetisi yang sesungguhnya. Ketiga, kebiasaan membuat dan menyimpan berbagai asumsi sehingga bisa terus kita perbaiki.

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk terus mengasah kebiasaan tersebut. Pertama, solusi problem, yakni teknik memindahkan perspektif dari apa yang harus dilakukan menjadi mengapa harus dilakukan. Kedua, create destroy. Teknik ini digunakan untuk menghancurkan ide ataupun asumsi yang kita miliki untuk terus menciptakan ide baru. Ini tidak mudah karena kita cenderung terus terjebak pada asumsi yang kita bangun di dalam pikiran kita. Teknik ini juga berguna bagi kita untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis dan menyeluruh.

Sebagai salah satu pemikir manajemen strategi yang berpengaruh di dunia, Rumelt banyak memberikan pencerahan mengenai konsep strategi yang benar di buku ini. Selain itu, Rumelt juga memberikan berbagai contoh kasus implementasi strategi yang baik dan buruk. Kasus yang dicontohkan pun tidak hanya berkutat di dunia korporasi, tetapi juga menyinggung beberapa strategi pemerintahan, bahkan strategi AS dan sekutunya dalam Perang Teluk pada 1990.

Menurut Rumelt ada 3 Elemen utama dalam membuat strategi yang baik yaitu :

Elemen pertama adalah : good diagnosis. Atau kekuatan analisa untuk mendiagnosa situasi pasar dan juga analisa atas kekuatan sumber daya internal. Mari kita ambil contoh sederhana : misalkan kita memiliki bisnis jualan emas batangan secara online; maka lansekap diagnosis yang akan kita lakukan mungkin mencakup : bagaimana melakukan proses pemasaran; bagaimana cara mendapatkan pasokan emas batangan secara konsisten; bagaimana mendapatkan modal untuk membeli stock emas; serta bagaimana melakukan delivery yang dapat dipercaya (trusted).

Elemen kedua : setelah analisa dan diagnosa dilakukan, maka langkah berikutnya adalah menetapkan guiding policy. Atau semacam garis kebijakan untuk menyusun strategi. Atau juga sejenis panduan untuk menetapkan tindakan strategis guna merespon dengan tepat hasil diagnosis yang telah dilakukan dalam tahapan sebelumnya. Melanjutkan contoh diatas, maka guiding policy yang barangkali bisa dipetakan antara lain : melakukan kombinasi promosi online dan pengembangan reseller; mencari dua atau tiga kerabat/teman dekat untuk menjadi investor; serta membangun hubungan dengan dua atau tiga supplier andal dalam penyediaan emas batangan.

Elemen terakhir adalah : a set of coherent actions. Strategi tanpa disertai dengan aksi konkrit bukanlah strategi; namun hanyalah omong kosong. Strategi dan implementasi juga bukan dua hal yang layak di-pertentangkan. Strategi yang bagus sudah dengan otomatis juga memuat serangkaian tindakan konkrit yang di-eksekusi dengan jitu.

Buku ini tepat dibaca oleh para pengambil kebijakan di perusahaan dan pemerintahan, serta pengamat manajemen strategi untuk mengevaluasi pemahaman mengenai strategi selama ini.

Penulis : YUDO ANGGORO

Sumber 1 : swa.co.id

Sumber 2 : strategimanajemen.net

Melakukan Segmentasi dengan Demografi.

segmentasi

Salah satu basis yang seringkali dipakai marketer dalam melakukan segmentasi adalah faktor demografi. Mereka yakin bahwa faktor demografi penting untuk menentukan segmentasi pasar, atau paling tidak untuk mendeskripsikan segmen tertentu. Demografi pada dasarnya adalah klasifikasi atau pengelompokkan yang didasarkan pada peta kependudukan. Jumlah penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin atau gender, pendidikan, tingkat kesejahteraan dan sebagainya, merupakan variabel-variabel demografi yang akan menentukan besarnya pasar, potensi daya beli, dan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar.

Berbicara mengenai segmen kelompok menengah-atas, berarti memilah masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Biasanya, tingkat kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari tingkat pendapatan ataupun tingkat pengeluarannya. Namun kita kerap akan menemui kesulitan bila menanyakan orang tentang berapa besar pendapatan yang diperoleh. Lazimnya dia akan keberatan untuk menjawab berapa besar pendapatannya. Dia lebih mudah mengungkapkan berapa besar pengeluaran rutin sehari-harinya. Oleh karena itu, akan lebih mudah mengetahui tingkat kesejahteraan seseorang dengan melihat dari sisi pengeluarannya.

Umumnya, para peneliti mendefinisikan pengeluaran dalam pengertian yang relatif sama, yaitu pengeluaran rutin untuk barang dan jasa seperti membeli makanan dan minuman, biaya sekolah anak, biaya listrik, gaji pembantu, transportasi, dan lainnya dalam sebulan—tidak termasuk pengeluaran untuk kredit kendaraan atau rumah. Namun yang membedakan adalah basis pengelompokannya. Pengelompokan ini sering juga disebut Social Economy Class (SEC) atau Social Economy Status (SES). Dalam lingkup riset pemasaran, SEC atau SES ini tergambar dalam 5 kelompok, yaitu: SES E, SES D, SES C, SES B. dan SES A. Kita sering menjumpai peneliti-peneliti yang berbeda versi dalam menentukan basis pengelompokan SES.

AC Nielsen misalnya, menentukan seseorang/keluarga masuk kelompok SES A apabila memiliki tingkat pengeluaran per bulan lebih dari Rp 1.750.000. Sedang keluarga yang masuk kategori SES B bila memiliki tingkat pengeluaran antara Rp 1.250.000– 1.750.000. Berdasarkan versi AC Nielsen, banyaknya orang yang masuk kategori kelas menengah-atas ini sekitar 22%  (terdiri dari 10% SES A dan 12% SES B).

Tingkat Pengeluaran di 15 Kota Besar

E D C2 C1 B A1 A2
Kurang dari 400.000 – 600.000 – 800.000 – 1.250.000 1.750.000 lebih dari
400.000 600.000 800.000 1.250.000 1.750.000 2.250.000 2.250.000
13% 21% 19% 25% 12% 6% 4%

Sumber: Nielsen Media Index

Pengelompokkan ini akan berbeda jika melihat versi Badan Pusat Statistik (BPS). Biro riset milik pemerintah ini tidak menggunakan istilah SES A, SES B atau SES C. Dari dulu hingga sekarang cut off yang dijadikan patokan dalam pengelompokan tetap sama, yakni kelompok pengeluaran per kapita per bulan, yang terdiri dari kelompok pengeluaran di atas Rp 500 ribu, kelompok Rp 300.000–499.999, kelompok Rp 200.000–299.999, dan seterusnya. BPS mencatat orang Indonesia yang masuk kategori kelas menengah-atas ada sekitar 15%. Angka ini merupakan hasil sensus penduduk yang mencakup kota dan pedesaan.

Monthly per Capita Expenditure Class (Rp) Urban% Rural% Urban+Rural%
Less than 40.000 0.06 0.03
40.000   –    59.999 0.12 1.47 0.87
60.000   –    79.999 1.57 7.86 5.06
80.000   –    99.999 3.77 14.46 9.71
100.000 –  149.999 19.56 37.99 29.80
150.000 –  199.999 20.45 20.39 20.42
200.000 –  299.999 26.36 12.86 18.86
300.000 –  499.999 19.33 4.01 10.82
500.000 and over 8.83 0.91 4.43
Total 100.00 100.00 100.00

Sumber: BPS

Kalau produk Anda ingin berfokus di kota besar saja, penggolongan dari Frontier mungkin bisa disimak. Biro riset yang melakukan survei rutin setiap tahun di kota-kota besar ini menentukan basis SES yang lebih besar. Untuk SES A, Frontier menentukan pengeluaran keluarga Rp 3 juta ke atas. Sedang SES B adalah keluarga yang berpengeluaran antara Rp 1,8 juta–3 juta. Kemudian SES C adalah kelompok pengeluaran Rp 1 juta–1,8 juta, dan seterusnya. Menurut hasil riset Frontier, banyaknya orang yang masuk kategori kelas menengah-atas ada sekitar 37%. Besarnya angka ini wajar saja karena survei dilakukan di kota-kota besar, yang biaya hidupnya lebih besar daripada kota-kota lainnya.

Tingkat Pengeluaran di Kota-kota Besar

Pengeluaran SES Jumlah
Kurang dari Rp 600.000 SES E 4.20%
Rp   600.000  – Rp 1.000.000 SES D 19.80%
Rp 1.000.000 – Rp 1.800.000 SES C 38.80%
Rp 1.800.001 – Rp 3.000.000 SES B 22.30%
Lebih dari Rp 3.000.000 SES A 15.00%

 

 

sumber : By Ivan Mulyadi (marketing.co.id)

Sukses dengan Pareto: Prinsip 80 20

pareto

Beberapa konsultan strategi manajemen memberikan panduan untuk perusahaan-perusahaan meraih kesuksesan dengan memanfaatkan hukum Pareto: rasio 80/20 yang pada awalnya tampak tidak logis.

Rasio ini menggambarkan secara kasar bahwa mayoritas hasil (digambarkan sebagai 80 persen meski tidak selalu tepat segitu), didapatkan dari minoritas upaya (sekitar 20 persen) yang dilakukan. Rasio ini bisa juga berbentuk distribusi 80-20 atau 70-30. Intinya adalah sebagian besar akibat dihasilkan oleh sebagian kecil penyebab.

Hukum ini pada awalnya dikemukakan oleh seorang konsultan bisnis: Joseph M. Juran sebagai hukum Pareto setelah menemukan kisah seorang ekonom Itali, Vilfredo Pareto di tahun 1906 mengamati bahwa kira-kira 80 persen tanah di Itali dimiliki oleh sekitar 20 persen penduduk saja.

Prinsip ini memang bukan suatu hukum yang baku, tapi hanya sebagai sebuah kemungkinan teori yang bisa diterapkan untuk efektivitas dan efisiensi. Anehnya, dimana-mana kita akan menemui prinsip ini seakan-akan sudah merupakan suatu hukum alam.

Laporan dari UNDP (bagian dari PBB) mengungkapkan bahwa hanya 20 persen dari seluruh populasi dunia yang merupakan pemegang 83 persen kekayaan total dari seluruh negara.

Tingkat penghasilan dari 20 persen orang-orang terkaya ini mencapai 80 persen pendapatan dunia. 20 persen orang kaya berikutnya hanya mencapai tingkat pendapatan sebesar 11 persen saja. Dari laporan kriminal juga didapatkan 80 % kejahatan dilakukan oleh 20 % penjahat.

Kita bisa melihat di dunia bisnis, 80 persen pendapatan dihasilkan dari 20 persen jenis produk atau penjual yang paling unggul. Sekali lagi, persentasinya mungkin tidak persis tapi untuk penggambaran seberapa banyak hal diperoleh dari suatu hal lain yang lebih sedikit.

Contohnya lagi; 80 persen profit atau laba didapatkan dari 20 persen pelanggan terbesar. Sama juga dengan; 80 % dari keseluruhan komplain atau keluhan diutarakan oleh 20 % pelanggan saja. Dan 80 persen penjualan dihasilkan dari 20 persen jenis produk, atau 80 % penjualan dibukukan oleh 20 % top sales persons.

Logikanya memang segala hal berjalan dengan perhitungan 50:50, seberapa besar hasil tergantung dari seberapa besar usaha. Semakin banyak usahanya, semakin banyak pula hasilnya. Tapi kenyataannya, kita bisa lihat di dalam kehidupan pribadi kita sendiri contohnya; 80 persen kebahagiaan kita didapat dari hanya 20 persen dari kesemua aktivitas yang kita lakukan.

Di dalam suatu perusahaan, 70-80 persen laba dihasilkan oleh 20-30 persen karyawan. Maka dari itu perusahaan harus bisa mengindentifikasi para karyawan kunci ini, lalu meningkatkan keahlian mereka, dan mempertahankannya agar tetap loyal berjuang bersama-sama di perusahaan tersebut.

Seorang tenaga penjual bisa meningkatkan prestasinya dengan memusatkan perhatian pada 20-30 persen calon pembeli yang paling prospektif. Serta melakukan proses penjualan yang paling krusial, seperti menelpon atau presentasi. Lalu meningkatkan kemampuan tersebut dengan training dan membaca buku, sehingga menjadi pakar yang menduduki posisi puncak dalam jajaran wiraniaga.

Peraturan 80-20 ini memberikan suatu pemikiran yang berguna bagi efektivitas dan efisiensi penggunaan waktu serta sumber daya lainnya. Dengan berfokus pada 20 persen area yang benar-benar produktif, kita bisa membuat suatu peningkatan yang signifikan. Agar mangkus dan sangkil. Efektif serta efisien.

Efektivitas dan efisiensi ini juga bisa dicapai dengan suatu inovasi yang membuat 20 persen upaya yang dikerjakan bisa menghasilkan 80 % dari total kinerja. Revolusi dalam produktivitas dimulai dari pemikiran yang kreatif. Manajemen perusahaan perlu memancing banyak ide untuk mendapatkan 20 % ide brilian yang akan membawa hasil yang luar biasa.

Ilmu manajemen sebagai suatu cara dalam merencanakan, mengelola, melaksanakan, mengevaluasi demi suatu tujuan perlu dilakukan dengan tepat dan berdaya guna. Secara efektif dan efisien. Hal ini dilakukan dengan mengutamakan tugas-tugas yang terpenting dan mendelegasikan yang lainnya.

Manajemen pribadi yang baik bisa dilakukan dengan mengelola diri secara optimal. Memanfaatkan waktu dan sumber daya lainnya dengan produktif. Stop membuang-buang waktu melakukan hal-hal yang tidak terlalu berdampak besar. Konsentrasikan diri untuk melakukan hal-hal yang paling bernilai dan bermakna besar.

Sukses dengan memanfaatkan aturan 80/20 berarti memperdalam fokus dengan menciptakan skala prioritas berdasarkan besarnya dampak aktivitasnya. Kesuksesan akan didapat dengan berfokus pada pelaksanaan beberapa kegiatan yang paling utama. Jadi, kuncinya adalah; mengidentifikasi 20 persen yang menghasilkan 80 persen. Dan mempraktekkan prinsip 80% 20% tersebut.

 

 

Sumber :

Brand Switching Analysis dalam Industri Ritel Modern

Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket.

ritel1

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 237 juta jiwa dengan total konsumsi sekitar Rp3.600-an triliun merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Ini didukung oleh perilaku berbelanja penduduk Indonesia yang sudah mulai bergeser, dari berbelanja di pasar tradisional menuju ritel modern.

Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi penanaman modal asing (PMA), sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia. Masuknya ritel asing dalam bisnis ini menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hipermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta. Misalnya Carrefour, dalam enam tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta, termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Palembang, dan Makassar.

Semakin maraknya ritel modern tentu saja menimbulkan persaingan sesama ritel modern tersebut. Selain itu, maraknya ritel modern memudahkan konsumen untuk memilih ritel yang disukai dan cocok dengan keinginan konsumen. Sehingga konsumen dengan mudah bisa berganti ritel modern yang dikunjungi, atau tetap loyal dengan satu ritel karena sudah merasa cocok.

Survei Top Brand yang mengukur tiga parameter, yaitu TOM BA, last usage, dan future intention, selain digunakan untuk mengetahui Top Brand Index, bisa juga digunakan untuk mengetahui perilaku switchingkonsumen. Berikut ditampilkan perilaku switching konsumen berdasarkan hasil survei Top Brand 2012, atribut last usage dan future intention, untuk kategori hipermarket, supermarket, dan minimarket.

Berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Carrefour, Hypermart, dan Lotte Mart merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung merek tersebut yang akan berpindah menggunakan merek lain (switching out). Sebaliknya, Giant, Superindo, dan Brastagi, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif.

ritel3ritel4

Bagaimana dengan supermarket? Berdasarkan brand switching analysisdi atas, terlihat bahwa Hero merupakan satu-satunya merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi Hero (switching in) lebih banyak dari pengunjung Hero yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Superindo, Griya, dan Tip-top, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif. Sedangkan ADA diprediksikan stagnan.

Kemudian untuk minimarket, berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Alfamart, Yomart, dan 7-eleven merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung ketiga merek tersebut yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Indomaret dan Alfamidi, net switching kedua merek tersebut bernilai negatif.

Bagi merek-merek yang memiliki net switching negatif harus berhati-hati dan berusaha melakukanimprovement agar prediksi tersebut tidak terjadi. Demikian juga dengan merek yang sudah memiliki angka net switching positif, mereka harus mempertahankan atau meningkatkan performance mereka sehingga prediksi dari brand switching analysis tersebut benar-benar terjadi.

 

 

Sumber : Apipudin dalam Marketing.co.id

Ambil Bagian dari Industri Ritel yang Tak Pernah Mati

ritel

Ritel boleh jadi adalah salah satu industri yang paling lama berada di muka bumi. Dunia perdagangan sudah terbentuk sejak dulu dan selalu beradaptasi dan berkembang sesuai dengan segala perubahan yang ada. Rasanya setiap perubahan yang terjadi, baik dalam marketing, ekonomi, politik, teknologi, dan lainnya tidak akan mematikan ritel itu sendiri, melainkan hanya mengubah wajah dan menciptakan tren baru di industri ritel itu sendiri.

Tren dalam ritel itu sendiri juga turut dipengaruhi oleh keadaan ekonomi suatu negara, dimana jika ada perbaikan di bidang ekonomi, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan selanjutnya pasti akan menggairahkan industri ritel. Kini masyarakat tengah fokus membangun dan mensejahterakan kaum menengah yang notabene mempunyai jumlah dan daya beli yang cukup besar. Kaum menengah ini juga yang menjadi penentu dalam menggairahkan industri ritel.

Industri ritel dunia, termasuk di Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh dan berkembang. Namun demikian berkembangnya ini diikuti dengan semakin banyak pemain yang menggarap bisnis ini baik dari lokal maupun asing. Tentu saja hal ini akan meningkatkan skala persaingan yang semakin ketat ke depannya. Oleh karena itu, marketer harus memiliki strategi marketing yang tepat guna memenangkan persaingan ini.

Ritel tak pernah mati, melainkan hanya berubah bentuk ke sistem online.Selain itu, salah satu bidang yang juga diperkirakan semakin mendukung perkembangan sektor ritel adalah inovasi berupa e-commerce. Kendati belum semua masyarakat terbiasa dengan cara belanja online, khususnya melalui TV atau Internet, kampanye dan edukasi beberapa pihak tentang belanja secara online mulai membuahkan hasil. Pelan-pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia di beberapa daerah, khususnya di kota-kota besar, sudah menerima dan nyaman dengan gaya belanja ini.

Tentu untuk menjadi yang terbaik di industri ritel, strategi marketing tidak boleh dipandang sebelah mata. Marketing bisa jadi menjadi penentu mampu atau tidaknya suatu pemain untuk bertahan dan berkembang di pasar yang persaingannya kian ketat dan bahkan boleh dibilang sudah jenuh.

Dalam strategi marketing, banyak peritel sudah sadar bahwa positioning itu sangat penting. Mereka harus mempunyai branding yang jelas di benak pelanggan dan bisa dibedakan dengan pemain lain. Banyak peritel berusaha untuk menciptakan keunikannya sendiri dan strateginya pun disesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan di sekitarnya.

Selain positioning, para peritel juga memperhatikan segmentasi. Walaupun untuk sebuah pemain ritel yang sangat besar sekali pun, terasa mustahil untuk bisa memenuhi setiap segmen pasar yang ada. Maka strategi yang diterapkan memang fokus pada segmen pasarnya masing-masing supaya bisa memenuhi segala kebutuhan pelanggan di segmen pasar yang mereka tuju dengan maksimal.

Secara garis besar, dari sudut pandang marketing, tren persaingan di industri ritel akan tetap terpaku pada beberapa hal mendasar. Pertama adalah strategi pricing atau bagaimana peritel menetapkan harga untuk setiap produknya. Harga yang dipatok haruslah sesuai dengan segmen pasar yang dituju. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, faktor harga memegang peranan yang sangat penting dalam industri ritel, dimana strategi perang harga sudah lama tidak bisa dilakukan lagi untuk memenangkan persaingan.

Faktor berikut yang turut menentukan sukses tidaknya suatu peritel yang masih fokus pada brick and mortar, adalah faktor lokasi yang mencerminkan seberapa mudahnya lokasi peritel itu bisa dijangkau oleh para pelanggannya. Bagi peritel, investasi properti (dalam hal ini lokasi) bisa menjadi benefit tersendiri jika diperhitungkan secara serius. Tren pemilihan lokasi yang sejak dulu sudah dilakukan, yaitu dekat dengan pusat aktivitas konsumen dan nyaman untuk dijangkau, akan terus berlaku untuk tahun-tahun ke depan.

Satu faktor lagi yang menjadi penentu, bahkan bisa menciptakan diferensiasi peritel yang satu dengan yang lain adalah faktor pelayanan (service) yang diberikan kepada semua pelanggannya. Faktor layanan ini pun sangat luas dan beragam bentuknya, mulai dari kualitas SDM yang digunakan, sistem tata letak produk, kenyamanan ruang belanja, kelancaran proses di bagian kasir, solusi yang diberikan untuk setiap keluhan yang muncul, product knowledge yang dimiliki oleh setiap pelayan toko, kecepatan dan jaminan untuk pengiriman barang, dan masih banyak lagi.

Sumber : marketing.co.id