Zara, Merek Miliaran Euro Tanpa Iklan

zara

Bagi kita yang menyukai dunia fashion pasti sudah tidak asing lagi dengan nama merek zara. Zara merupakan salah satu brand fashion ternama di dunia. Zara didirikan pada tahun 1975 oleh Amancio Ortega. Tahukan anda, bahwa model awal pakaian Zara didapatkan dengan cara mengcopy model pakaian dari tempat armacio bekerja.

Pada intinya visi dan misi zara adalah untuk memuaskan konsumen dengan melakukan inovasi – inovasi pada design pakaiannya dengan tetap memperhatikan lingkungan dalam operasi bisnisnya.

Zara mengklasifikasikan konsumennya menjadi 3 jenis :

  1. Fashion Chaser : Merupakan konsumen yang selalu mengikuti trend fashion terkini dan menginginkan pakaian yang eksklusif. Konsumen jenis ini tidak terlalu perduli terhadap harga dan merupakan jenis konsumen yang paling loyal kepada ZARA.
  2. Opinion Seeker : Merupakan konsumen yang sangat dipengaruhi oleh orang di sekitar mereka termasuk melalui social media dalam memutuskan untuk membeli sesuatu.
  3. Value Buyer : Merupakan jenis konsumen yang paling sensitif terhadap harga, mereka akan membandingkan harga dengan value yang ditawarkan sebelum melakukan pembelian.

Zara sejauh ini adalah merek terbesar dalam portofolio Inditex Group dengan penjualan bersih dalam tahun fiskal 2012 sebesar 15,9 miliar Euro.

Salah satu hal yang menarik dari Zara adalah merek ini menjadi populer justru karena kurangnya orisinalitas. Para pelanggan menyerbu gerai Zara untuk membeli kopian desain pakaian berkel as dengan harga yang lebih ramah di kantong. Berikut, beberapa fakta menarik tentang bagaimana Zara selama lebih dari tiga dekade berkembang menjadi merek bernilai miliaran.

Hal menarik dari Zara internasional terletak pada pengucapan nama mereknya. Mantan suami Mera, Amancio Ortega mulai menjual pakaian tidur melalui toko kecil yang disebut Zorba. Tapi, seperti yang dilaporkan UK Telegraph di tahun 2011, “Pemilik bar sekitar dengan nama yang sama mengajukan protes. Maka digantilah nama menjadi Zara. Ironisnya, Spanyol adalah satu-satunya negara di mana Zara tidak diucapkan ‘Zah-hura’, tetapi ‘Tha-ra’.

Gerai pertama Zara berada di kota Galicia, Spanyol, yang dibuka pada tahun 1975. Kini merek ini memiliki gerai dengan jumlah lokasi 1.800 titik. Termasuk dua gerai di Tunisia, dua gerai di Azerbaijan, 21 gerai di Israel, 44 di Amerika Serikat, 56 gerai di Meksiko, dan 88 gerai di Jepang. E-commerce menjadi faktor pendorong yang besar bagi merek ini dan Rusia menjadi fokus besar di mana retailer meluncurkan sebuah platform baru musim gugur ini.

Zara berkembang dengan sedikit atau bahkan tanpa iklan sama sekali. Iklan bukan bagian dari model bisnisretailer. Harian New York Times musim gugur lalu mengatakan, “Zara bahkan tidak memiliki departemen pemasaran dan merek ini tidak terlibat dalam kampanye yang menyolok seperti yang dilakukan para kompetitornya.”

“Desainer Zara tidak bernama. Beberapa orang akan mengatakan hal ini karena para desainernya cendererung pengopi, alih-alih desainer. Zara dikenal sebagai perusahaan yang malu dengan media. Meskipun dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Ortega Gaona menolak untuk melakukan wawancara dengan media, begitu pula dengan penerusnya Pablo Isla.

Salah satu momen terbesar pemasaran Zara adalah product placement tak berbayar yaitu pada Duchess of Cambridge, sehari setelah ia melangsungkan pernikahan. Menjadi seorang anggota kerajaan membuat Kate Middleton berhati-hati dalam berpakaian. Ia menyukai perpaduan merek high dan low, sebagai bentuk dukungan penampilan “High Street” begitu yang mungkin dikatakan oleh orang-orang Inggris.

Penampilan yang tak terlupakan adalah pada hari setelah pernikahannya dengan Pangeran William yaitu ketika ia keluar menggunakan gaun bermotif cornflower biru, dengan detail lipit dari bahan polyester yang hanya seharga 49,99 poundsterling di Zara.

Gerai Zara mengadopsi kecepatan layaknya perusahaan teknologi. Perusahaan ini mendapatkan desain baru lebih cepat daripada kompetitor pada umumnya. Inventaris segar adalah kunci bagi strategi penjualan Zara, dengan gerai yang memiliki stok desain baru dua kali dalam seminggu. Sangatlah penting untuk mengeluarkan gaya terbaru berdasarkan laporan Wall Street Journal.

Sumber utama: marketing.co.id disesuaikan.

Psikologi Konsumen : Gen Z dan pengaruhnya terhadap keputusan Belanja keluarga

Generation-Z-Infographic

Generasi Z sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Hal ini dikarenakan perilaku mereka yang lekat dengan teknologi digital. Bisa dikatakan teknologi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian mereka. Ada yang mengatakan Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1994 sampai tahun 2004.

Mereka lahir dan tumbuh ditengah merebaknya teknologi digital, sehingga ada yang menjuluki mereka sebagai generasi digital native. Generasi digital native bisa menggunakan teknologi digital tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Mereka lebih mengedepankan trial and error ketika menggunakan fitur-fitur teknologi digital.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti generasi X (lahir 1965 – 1980) dan generasi Y lahir lahir (1981 -1995). Dua generasi ini mengalami tahap belajar untuk memahami teknologi digital. Masih ingat, dulu pernah marak kursus komputer untuk “mengajari” dua generasi ini teknologi digital. Bahkan, selembar sertfikat kursus komputer bisa sangat bermanfaat untuk masuk dunia kerja.

Lalu apa yang mesti dicermati pemasar dari Gen Z? Meski masih belia, Gen Z ternyata punya pengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian keluarga. Hal ini sesuai dengan survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) baru-baru ini. Nielsen Indonesia mengkategorikan Gen Z sebagai generasi dengan rentang usia 10 – 19 tahun. Survei CMV dilakukan terhadap lebih dari 17.000 responden usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Hasil survei Nielsen CMV kuartal II 2016, ada dua keputusan pembelian dimana Gen Z punya andil. Sebesar 47% anak-anak(usia10-14tahun) memiliki pengaruh terhadap keputusan untuk berlibur, dan 33% terhadap keputusan untuk membeli produk elektronik. Sementara itu, konsumen remaja (usia 15-19 tahun) memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan untuk berlibur (67%) dan keputusan membeli produk elektronik (62%).

“Lahir pada era digital, Gen Z memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dan bahkan pada usia yang sangat muda mereka sudah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan membeli dalam keluarga. Pemahaman mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam mengonsumsi media akan membuka peluang bagi para pemilik merek dan pemasar untuk dapat membangun hubungan jangka panjang denganmereka,” ujar Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business, Nielsen Indonesia.

Survei tersebut juga menemukan, olahraga menjadi kegiatan paling disukai anak-anak (48%) dan remaja (44%). Kegiatan berikutnya yang paling disukai menonton TV, yaitu 38% pada anak-anak dan 32% pada remaja, dan mendengarkan musik 17% pada anak-anak dan 25% pada remaja. Sebesar 11% anak-anak menyatakan kegiatan yang mereka sukai setelah mendengarkan musik membaca buku. Sementara itu, untuk remaja, kegiatan lain yang lebih disukai setelah mendengarkan musik menjelajah internet (17%).

Temuan diatas menunjukkan Gen Z masih dapat dijangkau media, termasuk media tradisional. Televisi, Internet dan Radio merupakan media utama yang mereka akses .Selain penetrasi TV terrestrial masih yang tertinggi (diatas 95% pada anak-anak dan remaja), penetrasi TV berbayar juga mencapai 10%.

Pola konsumsi internet juga memperlihatkan peningkatan dalam lima tahun terakhir, dimana pada kuartal kedua2016 penetrasi internet pada anak-anak 45%, meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Pada remaja angkanya 81%, meningkat 29% dibandingkan dengan kuartal kedua 2011. Rata-rata remaja menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengakses internet (2 jam 29 menit) dan radio (2 jam 20 menit), sementara anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu dengan 1 jam 37 menit untuk internet dan 1 jam 45 menit untuk radio.

z

Mayoritas Gen Z Menonton Televisi Akhir Pekan

Nielsen TAM (TV Audience Measurement) dilakukan terhadap lebih dari 8,000 responden berusia 5 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassardan Banjarmasin). Hasil pengukuran tersebut tertuang dalam nilai rating, sharedan indeks.

Data Nielsen TAM periode April-Juni 2016, menunjukkan anak-anak dan remaja lebih banyak menonton televisi pada waktu pagi di akhir pekan.  Dalam lima tahun terakhir, Program Serial masih menjadi genre yang paling banyak ditonton Gen Z, namun peningkatan penonton terjadi untuk genre Program Anak dan Hiburan. Tahun ini anak-anak menyukai FTV, terlihat dari tingginya rating yang diperoleh beberapa judul FTV selama periode April-Juni 2016 pada penonton usia 10-14 tahun ini seperti Pangeran di Kandang Bebek yang mendapatkan rating 6,6 dan Mengejar Cinta Dosen Cantik dengan rating 5,8. Penonton remaja lebih memilih tayangan yang beragam tak hanya FTV, tetapi juga program Olahraga dan Hiburan.

Gen Z  Selalu Terhubung dengan Internet

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, akses internet telah menjadi kebutuhan bagi Gen Z. Bila lima tahun lalu Warung Internet (Warnet) menjadi pilihan utama bagi anak-anak (81%) dan remaja (56%) untuk mengakses internet. Di  tahun ini Warnet tergantikan oleh rumah, dimana 49% anak-anak dan 62% remaja mengakses internet dari rumah mereka. Angka tersebut meningkat dari 7% pada anak-anak dan 9% pada remaja. Sebesar 93% anak-anak dan 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkatmobile seperti smartphone atau iPad. Aktifitas yang paling banyak dilakukan Gen Z dengan internet berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, bermain game dan mendengarkan musik.

Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Gen Z

Meskipun Televisi dan Internet menjadi media favorit bagi Gen Z, namun tidak sedikit dari anak-anak dan remaja yang masih mendengarkan radio. Nielsen Radio Measurement (RAM) mengukur perilaku mendengar radio terhadap lebih dari 8,400 responden berusia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Temuan (RAM) kuartal kedua tahun ini menunjukkan tingkat penetrasi Radio pada konsumen Gen Z sebesar 20% lebih, tertinggi di kota Palembang 98%. Dari sisi waktu mendengarkan radio, anak-anak di Surakarta menghabiskan waktu terbanyak dengan rata-rata 159 menit per hari, dan untuk remaja terbanyak di Denpasar dengan rata-rata waktu 155 menit per hari. Mereka lebih banyak mendengarkan radio melalui perangkat mobile – Remaja 39% dan Anak-anak 20%. Lagu Pop Indonesia merupakan genre lagu yang paling disukai remaja (57%) dan Anak-anak (46%).

Temuan lain, Gen Z ternyata pengunjung bioskop yang setia. Di 11 kota yang disurvei Nielsen, rata-rata anak-anak pergi ke bioskop 9 kali dalam satu tahun, dan remaja 11 kali dalam satu tahun. Dengan kata lain, hampir setiap bulan mereka pergi menonton di bioskop.

 

 

sumber ; marketing.co.id