5 Revolusi Ekonomi yang Berdampak pada Bisnis Online di Indonesia

optimis1

Perekonomian Indonesia tengah memasuki masa transisi. Kalangan menengah ingin beralih menuju kelas atas untuk memperoleh kebebasan finansial. Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena mass luxury, di mana barang-barang mewah yang tadinya hanya bisa dibeli oleh kalangan atas kini mampu dimiliki oleh semua orang.

Masyarakat Indonesia kini dilanda optimisme untuk menaikkan perekonomian.

Berdasarkan laporan lembaga riset YouGov pada November-Desember 2015, Indonesia dinobatkan sebagai negara teroptimistis kedua di dunia setelah Tiongkok.

Menurut data tersebut, sebanyak 23 persen masyarakat Indonesia menganggap dunia sedang menuju ke arah yang lebih baik.

optimis

Gaya hidup yang disebut sebagai “tren amfibi” banyak dilakoni oleh masyarakat. Para pelaku “tren amfibi” adalah mereka yang menjalani dua profesi sekaligus, yaitu sebagai pegawai kantoran dan sebagai wirausahawan. Pada jam-jam kerja, mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Ketika jam kerja kantoran berakhir, mereka mengelola bisnis pribadi.

Para pelaku “tren amfibi” ini, menginginkan adanya kebebasan finansial di masa depan. Mereka tidak ingin selamanya bekerja untuk orang lain. Ketika usaha yang mereka rintis ini telah memberikan profit yang baik, mereka akan berhenti dari profesi pegawai kantoran dan menjalankan bisnis secara total.

Salah satu pakar menejemn terkemuka Bpk. Yuswohady berpendapat bahwa fenomena mass luxury dan “tren amfibi” adalah dua sinyal yang mengindikasikan adanya revolusi dalam perekonomian Indonesia. Secara garis besar, revolusi ekonomi ini dikelompokkan ke dalam lima bidang :

1.Revolusi E-preneur

Pesatnya perkembangan industri digital merupakan dampak dari melebarnya penggunaan internet di segala bidang. Bidang ekonomi termasuk ke dalamnya. Kelahiran e-preneur (electronic-preneur) atau wirausahawan online sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis moneter yang melanda beberapa negara berkembang, salah satunya Indonesia, yang mengancam pasar bisnis offline. Dalam bisnis konvensional semacam ini, banyaknya ongkos produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan profit yang diperoleh. Oleh sebab itu, para pelaku bisnis mencari alternatif lain agar dapat menjalankan usaha yang relatif tanpa modal dan mudah untuk dijalankan, yaitu bisnis online.

E-preneur, atau lebih dikenal dengan sebutan netpreneur, memainkan peran yang signifikan dalam bisnis dunia maya semacam itu.

Seorang netpreneur bisa bertindak baik sebagai produsen, pemasok, maupun pedagang sekaligus. Banyaknya “tugas” seorang netpreneur mungkin untuk dijalankan karena semua kegiatan bisnis dilakukan hanya dengan meng-klik. Selama koneksi internet dapat diakses, bisnis bisa dijalankan kapanpun dan di manapun. Inilah yang membuat netpreneur bisa menjalankan banyak fungsi pelaku ekonomi sekaligus.

2. Revolusi Entrepreneur
Masa transisi adalah periode yang sangat berharga untuk berwirausaha. Ini adalah kesempatan emas bagi siapa saja untuk membuka bisnis pribadi. Peluang kesuksesan sebuah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) akan lebih besar pada masa transisi ini. Hal ini terjadi karena jika perekonomian Indonesia telah stabil dan melewati masa transisi, UKM tidak akan mampu bersaing dengan usaha lain yang telah berskala besar.

3. Revolusi Properti
Di masa transisi ini, banyak orang ingin memperoleh kekayaan dalam waktu cepat. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menginvestasikan uang yang dimiliki dalam bentuk properti. Kini, banyak orang “mengoleksi” tanah, rumah, apartemen, dan benda-benda properti lainnya sebagai investasi. Barang properti ini dinilai akan memberikan keuntungan besar di masa depan.

4. Revolusi Amfibi
Banyaknya jumlah “double agent” di kalangan pelaku bisnis menciptakan tren tersendiri di bidang ekonomi. Kalangan ini menjalani dua profesi yang berbeda secara bersamaan, yaitu sebagai karyawan kantor sekaligus sebagai wirausahawan.

5. Revolusi E-commerce
Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 membuat masyarakat Indonesia mencari alternatif lain untuk menjaga kestabilan finansialnya. Salah satunya adalah dengan membangun bisnis pribadi berbasis usaha kecil dan menengah. Ketiadaan modal usaha yang besar menjadi faktor pendorong para wirausahawan ini untuk berkecimpung ke dalam industri e-commerce; sebuah industri yang memungkinkan wirausahawan memasarkan produknya secara efektif dan tanpa biaya lewat jaringan internet (online). Maraknya situs e-commerce memunculkan fenomena transaksi online yang memudahkan netpreneur untuk mencapai target pasarnya.

 

 

 

 

diambil dari berbagai sumber ;

sumber utama ; jarvis-store.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s