Memahami Perilaku Belanja Online Konsumen Indonesia

e-commerce

Setiap hari makin banyak orang yang mendalami dunia pengalaman berbelanja secara digital.  Keadaan ini utamanya didorong oleh meningkatnya penetrasi internet dari 32% di tahun 2013 menjadi 38% di tahun 2015. Ada peningkatan tajam penggunaan internet sekitar 19% di tahun 2015 dari tahun 2013. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang ingin memanfaatkan momentum ini.

Peningkatan jumlah merek smartphone dengan harga terjangkau dan akses data yang lebih murah membuat teknologi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat umum. Ini mengarah ke peningkatan bertahap dalam belanja online dari 9,4% (2013) menjadi 11,6% (2015), yang melambung sekitar 23%. Meskipun penggunaan e-commerceterbilang masih berada pada tahap awal, tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk menyaksikan perubahan besar dalam industri e-commerce. Data pada grafik 3 mengindikasikan bahwa para peritel online menghabiskan banyak biaya beriklan untuk menarik pengguna baru untuk membeli secara online dan juga menggoda pembeli yang sudah ada untuk menghabiskan uang lebih banyak saat berbelanja online.

 

Namun demikian, tidak semua pembeli berperilaku sama saat mereka berbelanja  online. Cukup adil untuk mengatakan bahwa perilaku belanja online memperlihatkan kemiripan  dengan kurva adopsi teknologi. Di satu sisi ada para inovator yang akan sangat bersemangat dengan adanya peningkatan dan fitur terbaru, sementara yang lainnya akan menolak perubahan. Di sisi lain juga ada jarak antara pengadopsi teknologi awal dengan pelanggan dari pasar pada umumnya.

Mari kita memahami lebih lanjut tentang e-commerce di Indonesia dan hubungannya dengan peluang dan tantangannya untuk para peritel online di Indonesia. Nielsen baru-baru ini melakukan survei terhadap 5000 responden di 5 kota besar di Indonesia untuk memperkirakan besarnya pasar industri e-commerce. Penelitian ini dilakukan pada 3 modul terpisah pada awal tahun ini. Lebih jauh lagi penelitian ini untuk memahami perilaku pembelian para pembelanja online untuk 10 kategori produk (elektronik konsumen,  fashion, travel,  IT & mobile, dan lain-lain). Ini adalah upaya untuk memahami perilaku dan dinamika pembelian dari orang-orang yang melakukan pembelian secara online.

 Memelajari Industri E-Commerce

  • Industri e-commerce di Indonesia diperkirakan akan bernilai lebih dari Rp70 Triliun per tahun.
  • Produk-produk Elektronik Konsumen dan Travel berkontribusi lebih dari 50% dari total nilai pasar.
  • Dalam hal frekuensi pembelian, produk-produk Fashion/Pakaian Olahraga adalah kategori yang paling populer dibeli secara online (68%) diikuti oleh Travel (35%) dan Kosmetik (29%).
  • Lebih dari 20% adalah Exclusive Click Shopper yang langsung membeli onlinetanpa banyak melakukan penelusuran (browsing).
  • Profil pembelanja e-commerce lebih kepada kelompok usia muda (kurang dari 25 tahun).
  • Wanita mendominasi pembelian produk Kosmetik, Perawatan Pribadi dan Bahan Makanan (F&B).
  • Rekomendasi dari keluarga/teman dan situs jaringan sosial pada merupakan pemberi pengaruh utama pada proses pembelian.
  • Sebagian besar pembelanja online melakukan “Pencarian & Perbandingan Produk” serta “Membaca Ulasan Produk” sebelum membeli.
  • Setelah membeli, mereka menciptakan “Word of Mouth” dengan berbagi pengalaman tentang produk pada situs jaringan sosial. Pembayaran melalui internet banking dianggap terpercaya dan aman untuk belanja online

 

Tantangan bagi Industri E-Commerce

Meskipun konsumen melakukan eksplorasi saat belanja online, ada kekhawatiran yang muncul terkait masalah Kepercayaan akan Kondisi barang sama seperti yang ditampilkan di situs. Apakah produknya asli atau palsu? Apakah ada jaminan produk akan diterima  pada saat pemesanan atau pembayaran dilakukan secara online?

Penghalang lain adalah tentang berbagi informasi pribadi dan informasi bank dengan pihak ketiga, yang bisa saja mengirimkan email yang tidak diinginkan kepada pelanggan. Tidak lupa juga tantangan yang melekat di setiap negara yang berada dalam fase pertumbuhan  teknologi digital, contohnya kecepatan internet yang lambat. Meskipun untuk membangun kepercayaan pembelanja diperlukan usaha yang terorganisir dan rencana jangka panjang, namun masalah lambatnya kecepatan internet dapat diatasi dengan mengembangkan App/Website yang kompatibel dengan kecepatan internet yang berbeda-beda (misalnya basic HTML & full version).

Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia, mengatakan, “Sangat penting bagi peritel online untuk membangun Kepercayaan, yang dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan pengenalan/kebiasaan mengenai langkah-langkah keamanan dunia maya dan layanan pembayaran yang aman untuk belanja online.”

Melihat ke Depan

Saat ini kemudahan dan kenyamanan dalam membandingkan produk di berbagai situs tetap menjadi dasar dari industri e-commerce. Namun dalam waktu dekat pengalaman belanja keseluruhan dalam kenyamanan menemukan produk, proses pemesanan yang cepat dan layanan pembayaran yang aman akan menjadi kunci untuk menarik para pembelanja untuk melakukan pembelian ulang.

Industri e-commerce di Indonesia dipenuhi oleh bertumbuhnya isu Kepercayaan di antara para pembeli, masalah logistik dan infrastuktur yang masih dalam tahap pengembangan dan sisi kompetitif pasar dimana tidak ada peritel online yang dinyatakan sebagai pemimpin pasar. Namun demikian dengan populasi lebih dari 200 juta dan penggunaan smartphone yang meningkat, Indonesia tampaknya tetap memiliki potensi fundamental pasar e-commerce yang besar.

 

 

 

Sumber : Marlina Elizabeth via Swa.co.id

2017 : Saatnya Curi Start

start

Menjelang akhir Tahun 2016, para marketer sedang sibuk menyusun marketing plan 2017. Merangkum data marketing plan pada 2016 dan melakukan evaluasi atas pencapaian strategi yang telah dijalankan, yang kemudian akan dijadikan pertimbangan dalam penyusunan arah marketing plan tahun depan.

Tahun 2017 adalah tahun curi start. Kenapa? Karena tahun depan ekonomi kita mulai menemukan kembali momentum pertumbuhannya dan di tengah ekonomi yang mulai bertumbuh, siapa cepat ia akan dapat dan menjadi pemenang.

Selama kurun waktu 2010- 2015 secara konsisten pertumbuhan ekonomi kita terus melambat pertumbuhannya, berturut-turut dari 6,8%, 6,4%, 6,2%, 5,8%, 5%, dan 4,8%. Tahun ini diperkirakan akan naik sedikit menjadi 5,1% dan tahun depan kita akan menemukan momentum pertumbuhan kembali di posisi 5,5%. Dengan dorongan suntikan dana tax amnesti dan APBN 2017 yang ekspansif (pemerintah baru saja menarik utang Rp 729 triliun) bukan hal mustahil target pertumbuhan sebesar ini terwujud.

FIX Marketing Plan final Terakhir.cdr

2017: Tahun Come Back
Setidaknya ada tiga indikator utama yang membuat kita optimis tahun depan perekonomian kita menemukan momentum pertumbuhannya kembali.

#1. Ready for Growth: Bottoming-Up.
Indikator ekonomi tahun ini dan proyeksi tahun depan memperlihatkan kondisi membaik (pertumbuhan, inflasi, ekspor-impor, rupiah, konsumsi, dll.) sehingga menjadi landasan bagus bagi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya. Membandingkan indikator tersebut dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya terlihat adanya tren bottoming-up. Di samping itu, secara politik, posisi pemerintahan Jokowi makin kokoh dan kian mendapatkan kepercayaan pasar di ujung tahun kedua pemerintahannya. Ini merupakan modal bagus untuk mendorong perkembangan ekonomi di sisa masa jabatannya.

#1. Economic Packages: Get Momentum. Paket kebijakan ekonomi 1-13 (akan disusul paket ke-14 tentang e-commerce beberapa minggu ke depan) selama ini memang belum dirasakan secara signifikan. Wajar saja karena masih relatif baru. Namun di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, ekonomi kita akan mulai menuai dampak positif dari berbagai paket tersebut. Di tahun 2017 paket ekonomi akan menunjukkan taringnya dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat permintaan, meningkatkan daya saing industri, mengefisienkan distribusi dan rantai pasokan, dan mendorong pertumbuhan sektor UKM.

#2. Tax Amnesty: Prime Mover.

Indonesia menjadi negara tersukses dalam menyelenggarakan program pengampunan pajak. Di tahap 1 yang berakhir akhir September 2016 lalu, total deklarasi (dalam negeri dan luar negeri) dan repatriasi saja telah mencapai Rp 3.600 triliun dengan dana tebusan mencapai Rp 97 triliun. Di samping menguatkan rupiah karena aliran dana masuk (sekarang sedang siap-siap menembus level psikologis Rp 12.000), program ini juga akan mendorong investasi di dalam negeri terutama investasi di bidang infrastruktur. Program pengampunan pajak akan menjadi prime mover pertumbuhan 2017.

Speed Is Everything
Di tengah ekonomi yang bakal menggeliat, maka kecepatan untuk menjadi pemain pertama yang meramaikan pasar merupakan faktor kunci penentu kesuksesan. Belajar dari salah satu pemimpin konglomerasi Indonesia yang berhasil melakukan ekspansi ke Negeri Tirai Bambu Pak Mochtar Riady. Daam bukunya ” Mochtar Riady ; Manusia Ide” beliau bercerita, kala itu hanya beberapa tahun setelah terjadi tragedi Tiananmen tahun 1989, perusahaan-perusahaan asing di Cina beramai-ramai hengkang karena situasi politik yang gawat tak menentu. Dalam kondisi semacam itu praktis semua marketers mengambil langkah wait and see, tak satupun yang berani take dangerous risk untuk masuk pasar Cina

Tapi Pak Mochtar berpikiran lain. “Kalau perusahaan lain tak berani masuk Cina dan saya satu-satunya yang masuk, maka tentu saja saya akan mendapatkan advantages,”. Itulah yang disebut first entrant advantages seperti pengetahuan, pengalaman, dan eksposur sebagai pemain pertama. Tapi di balik keunggulan-keuanggulan itu, tentu saja risiko yang arus ditanggung juga luar biasa besar karena memang kondisi politik Cina kalau itu serba tidak menentu.

Kondisi yang dihadapi Pak Mochtar tersebut mirip dengan apa yang dihadapi para marketers di Indonesia saat ini. Sudah 3-4 tahun ini ekonomi kita mandek: konsumen adem-ayem, permintaan lesu, penjualan melemah, banyak target perusahaan tak tercapai. Dan seperti terurai di depan, tahun depan ekonomi kita bakal menggeliat. Nah, siapa yang bergerak cepat memanfaatkannya bakal mendapatkan first entrant advantages dan merekalah yang bakal meraup sukses besar. Itulah sebabnya saya menyebut tahun depan adalah tahun curi start.

5 Strategi Curi Start
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana strategi untuk curi start di tahun 2017? Dalam beberapa minggu terakhir  Inventure pimpinan Pak Yuswohady melakukan kajian dan merumuskan 5 strategi curi start dalam rangka mendapatkan first entrant advantages di tahun 2017.

#1. Be a Trailblazer, Take the Dangerous Risk. Anda harus menjadi pionir di pasar yang telah cukup lama “mati suri”. Kalau bukan Anda lalu siapa lagi? Tanpa ada yang memulai mustahil pasar bisa menggeliat. Strategi market-driven (menunggu maunya pasar) tak bakal mempan lagi. Anda harus mengeluarkan jurus market-driver (menggerakkan pasar) agar pasar bangkit dari kelesuan dan bergairah kembali. Karena itu Anda harus menjadi industry hero dan nasib geliat industri ada di tangan Anda. Karena menjadi yang pertama tentu Anda harus siap dengan segala risiko seberbahaya apapun risiko tersebut. Tapi ingat, “high risk, high return”, begitu bisa menerobos risiko, maka Anda akan berpotensi memimpin pasar, pesaing hanya menjadi followers Anda.

#2. Spark-up the Demand. Pekerjaan tersulit bermain di pasar yang sudah terlanjur lama melemah adalah meletikkan (spark-up) permintaan. Untuk bisa melakukannya, Anda tak boleh memberikan yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Anda harus menciptakan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin ditolak oleh konsumen. Opsinya ada tiga. Pertama, Anda harus menciptakan produk tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary product with extraordinary value. Kedua, Anda harus menciptakan layanan dan pengalaman tak biasa yang bernilai tinggi (fresh & extraordinary service & experiences with extraordinary value). Dan ketiga, Anda harus menciptakan produk biasa tapi dengan harga supermurah (ordinary product with super low customer cost = hyper-value product).

#3. Speed-up Value Innovation. Ketika para pesaing masih wait and see, menunggu situasi kondusif dan banyak berhitung, kecepatan memanfaatkan pasar yang akan menggeliat menjadi senjata paling ampuh bagi Anda. Lakukan inovasi nilai (value innovation) dengan cepat, sebelum pesaing sadar untuk melakukannya. Inovasi nilai berujung pada penciptaan produk dan layanan yang more for less: benefit luar biasa tinggi, harga luar biasa murah. Gojek, IKEA, AirBnB, adalah contoh great value innovator. Untuk menjadi great value innovator, maka digitalisasi bisnis sudah menjadi keniscayaan dan keharusan. Tanpa digitalisasi Anda stuck menjadi pemain medioker.

#4. Create Niche, Twist Industry Rules of the Game. Untuk sukses menghasilkan fresh & extraordinary offering pasti Anda tak bisa langsung menguasai mainstream market. Anda harus memulai dari pasar ceruk (niche) yang unik dan kecil, dan kemudian membesarkannya dan Anda menjadi penguasa tunggal. Jadi pendekatan yang Anda gunakan adalah: menjadi ikan besar di kolam yang kecil, bukannya sebaliknya, menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena itu strategi curi start memang cocok untuk para challenger untuk mencuri pasar dari si market leader. Si challenger harus smart memanfaatkan transisi pasar yang sedang menggeliat untuk mencuri pasar dari si market leader.

#5. Be Stand-Out in the Mind of Customers. Ketika Anda bisa mendayagunakan first entrant advantages dan mampu menghasilkan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin bisa ditolak oleh konsumen, maka secara otomatis posisi brand Anda di benak konsumen akan kokoh. Brand Anda yang stand-out di benak konsumen itu harus “dipatri” sehingga membalik peta persaingan dimana Anda di posisi terdepan. Kalaupun Anda tak menjadi market leader, setidaknya Anda adalah thought leader yang dikagumi konsumen.

Selamat menyongsong tahun cerah 2017.

rujukan ; yuswohady.com