Formula A.I.D.A untuk meningkatkan efektifitas penjualan.

copywriting

Menjual dengan tulisan sekilas terdengar mudah. Tetapi hanya menuliskan informasi fitur, harga, manfaat dan proses pembelian sebuah produk atau layanan jasa Anda tidaklah cukup.

Anda membutuhkan Copywriting.

Copywriting adalah teknik atau proses untuk menulis sebuah copy (teks yang digunakan untuk penjualan atau pemasaran).

Kalau anda sudah pernah membuat sales page (atau landing page) sebelumnya, pasti anda sempat berpikir seperti ini:

“Enaknya nulis apa ya…?”

Lalu tiba-tiba otak jadi kosong…

…tangan tidak bergerak sedikitpun di keyboard.

Berjam-jam, bahkan berhari-hari…

Kemudian ketika sudah selesai…ternyata tidak ada yang berminat sama sekali.

Tidak mudah memang menulis copy di sales dan landing page. Berbeda strukturnya sedikit saja bisa berakibat penawaran anda tidak menarik.

Sehingga konversi-nya jadi sangat rendah.

Tapi ada 1 formula rahasia… rahasia yang akan membuat anda dengan mudah menciptakan struktur penulisan copy yang efektif.

Namanya: AIDA.

Apa itu AIDA?

Yang jelas bukan nama penyanyi dangdut hehe…

AIDA adalah singkatan dari:

  1. Attention
  2. Interest
  3. Desire
  4. Action

Dengan menggunakan formula AIDA, anda bisa mengubah sebuah halaman kosong di layar komputer anda menjadi sesuatu yang bisa menarik perhatian sampai membuat orang lain mengambil tindakan.

Itulah mengapa AIDA sering dikaitkan dengan copywriting.

Meskipun identik dengan copywriting, tapi anda juga bisa menggunakan formula ini untuk membuat tulisan apapun supaya menarik.

Seberapa ampuh sih AIDA?

Sangat!

Dalam sebuah landing page yang saya buat dulu, sebelum menerapkan struktur AIDA conversion rate-nya hanya 2.3%. Angka ini sebenarnya tidak jelek-jelek amat mengingat beberapa faktor seperti industri dan harga.

Tapi apa yang terjadi ketika saya ganti sedikit strukturnya sesuai AIDA:

Perbandingan konversi

Konversinya meningkat sebanyak 253% menjadi 8.1%.

Dan peningkatan ini baru akibat mengganti kata dan kalimatnya saja.

Sekarang mari kita bahas satu per satu dari tiap bagian AIDA.

1. Attention

Copy yang kita buat harus mampu segera menangkap perhatian pembaca.

Tahukah anda…menurut sebuah penelitian dari SilverPop yang dilakukan pada tahun 2013, kita harus bisa menangkap perhatian pengunjung dalam waktu 8 detik atau kurang.

Gila kan…

Manusia mengedipkan mata tiap 4 detik.

Artinya kalau kita tidak mampu mendapatkan perhatian dalam 2 kali kedipan mata…maka mereka akan langsung pergi begitu saja.

Artinya kalimat-kalimat yang anda susun selama berhari-hari akan ditentukan dalam 2 kali kedip.

Itulah pentingnya tahapan ini.

Lalu bagaimana cara kita menarik perhatian mereka?

  • Judul/headline
  • Gambar
  • Kalimat-kalimat pembuka

3 elemen itulah yang paling harus anda perhatikan.

Untuk bisa menangkap perhatian mereka ke 3 elemen tersebut, ini tipsnya:

  1. Berikan apa yang buyer persona anda pedulikan terkait bisnis anda
  2. Sajikan solusi dari permasalahan utama dari buyer persona anda
  3. Buat mereka merasa “ah itu gua banget

Kalau anda belum punya/paham tentang buyer persona, silahkan kembali ke bab sebelumnya.

Contohnya kalau saya ingin menjual suplemen penurun berat badan. Buyer persona-nya adalah ibu karir yang belum lama melahirkan.

Ini kalimat yang kira-kira bisa menangkap perhatian calon pembeli:

  1. “Ingin menurunkan berat badan hingga 20 kg dalam sebulan tanpa diet ketat yang menyiksa diri?”
  2. “Kembalikan tubuh langsing anda seperti dulu lagi”
  3. “Tidak punya waktu dan energi untuk olahraga? Sekarang anda juga bisa menurunkan berat badan tanpa perlu merasa lelah di tempat kerja”

Beberapa dari mereka menggunakan headline seperti “aman, tanpa efek samping”, atau “murah”.

Hati-hati…

Memang keduanya seperti masuk akal tapi bukan itu yang mampu membuat mereka peduli. Keduanya bukan permasalahan utama mereka, jadi tidak akan bisa menangkap perhatian.

2. Interest

Buat mereka tertarik dengan anda.

Karena anda telah berhasil menangkap perhatian, maka selanjutnya anda akan membuat mereka melanjutkan membaca dan tertarik dengan anda.

Buat mereka sadar dengan besarnya masalah mereka.

Untuk memancing interest, cara terbaiknya adalah dengan menyediakan:

  1. Informasi/fakta
  2. Statistik
  3. Studi kasus
  4. Kondisi idealnya
  5. Alasan

Mari kita gunakan contoh suplemen tadi:

“Dengan menggunakan suplemen [merek], anda akan:

  • …mampu menurunkan berat badan hingga 20kg dalam kurang dari 30 hari
  • …bisa menggunakan lagi baju kesayangan anda yang sudah sempit
  • …makin dicintai suami
  • …tetap punya banyak waktu untuk keluarga dan pekerjaan”

Contoh di atas tidak menggunakan kelima hal tadi.

Anda juga tidak perlu menggunakan semuanya apabila memang tidak mungkin.

3. Desire

Dalam tahap ini anda akan membuat mereka sangat-sangat-sangat menginginkan produk/layanan anda.

Desire mirip dengan interest…

…bedanya, di sini kita akan lebih banyak bermain dengan emosi dan logika.

Caranya:

1. Dengan menyebutkan benefits atau manfaat.

Hati-hati, ada kesalahan yang sering terjadi…keliru antara fitur dan manfaat.

Ada perbedaan besar antara fitur dan manfaat, fitur itu hanya penjelasan dari isi atau komponen yang anda berikan melalui produk/layanan anda.

Sedangkan manfaat adalah keuntungan yang bisa mereka rasakan melalui fitur tadi.

“Mereka tidak peduli dengan anda, mereka hanya peduli dengan dirinya sendiri”.

Mereka tidak peduli dengan fitur, kelebihan, resep, spek, komponen dari produk anda… Mereka hanya peduli dengan bagaimana fitur tersebut bisa bermanfaat bagi mereka.

Ini fitur:

  • 250 mg Ekstrak teh hijau
  • 2,5 mg Vitamin B6
  • 10 mg L-Carnitine

Dan ini manfaat:

  • …diperkaya dengan ekstrak teh hijau serta vitamin B6 yang akan mempercepat metabolisme dan pembakaran lemak meskipun anda sedang duduk di depan komputer
  • …ditambah L-Carnitine untuk melindungi tulang, jantung, ginjal, otak, dan sistem kekebalan tubuh selama proses penurunan berat badan. L-Carnitine juga akan melindungi ibu yang sedang menyusui agar tidak kekurangan nutrisi.

Dalam penjualan produk, fitur memang wajib ada…tetapi fitur tanpa manfaat tidak akan mampu menjual karena sebagian besar pembaca tidak mengerti.

 

2. Dengan memancing emosi negatif dan memberikan solusi

Mereka yang sudah mengikuti tulisan anda sejak tahap attention sampai interest merupakan orang-orang yang punya permasalahan spesifik.

Mereka adalah orang-orang yang frustrasi.

 

Berikut contohnya (untuk produk suplemen):

Waktu anda sangat berharga…anda harus bangun sejak pagi, menyiapkan sarapan kemudian bersiap dan berangkat ke kantor. Belum lagi energi yang terkuras akibat mengurusi keluarga, klien, dan boss anda di kantor…kemudian anda tiba di rumah pukul 7 sore dalam keadaan seperti tisu basah.

Dengan rutinitas seperti ini, olahraga dan diet ketat jadi hal yang mustahil.

Untungnya, suplemen [nama produk] hanya membutuhkan 90 detik dalam sehari. 1 tablet sebelum makan…dan [nama produk] akan membakar lemak sambil anda duduk santai di depan komputer.

Itulah contoh paragraf yang memanfaatkan emosi negatif.

 4. Action

Tahapan yang sederhana, mengajak mereka untuk mengambil tindakan.

Apapun tindakan yang anda inginkan — membeli produk, mendaftar, membuat akun, mendownload, mengirim email, menelepon — ungkapkan di bagian ini.

Karena itu bagian ini sering disebut call to action (CTA).

Jangan dilupakan, anda akan sering menemukan istilah tersebut mulai dari sekarang.

Sesuai fungsinya tadi, CTA bisa berupa tombol, nomor telepon, atau alamat email.

Dan disertai harga.. kalau anda menjual sesuatu.

Gabungkan keempatnya

Terakhir, gabungkan keempat bagian dalam formula AIDA tadi secara berurutan mulai dari Attention, Interest, Desire, Action.

Selamat mencoba ….

 

 

sumber : panduanim.com

 

CARA PINTAR MENGAMBIL RESIKO DAN KEPUTUSAN DALAM USAHA

risk

Orang yang berani mengambil resiko bukanlah orang bodoh yang asal nekat mengambil suatu keputusan. Seringkali mereka yang kita kira berani dalam mengambil sebuah resiko justru sebenarnya sangat berhati-hati dan mengalami rasa takut berkelanjutan dalam dirinya sendiri.

Siapa bilang pengambil resiko itu orang yang berani? Siapa bilang mereka itu nekat? Darimana asumsi seperti ini berasal? Justru kebalikannya mereka itu sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam mengambil resiko yang ada.

Let’s think about it.

Ketika kita mendengar kata “berbisnis”, “entrepreneurship”, “wirausaha”, maka yang muncul pertama kali dibenak kita adalah resiko. Namun apakah betul setiap usaha/bisnis itu selalu beresiko? Apakah benar semua entrepreneur itu mempertaruhkan nasibnya? Apakah mereka betul-betul mengorbankan sesuatu atau bahkan segalanya?

Saat Bill Gates dan Mark Zuckerberg memutuskan cuti/keluar dari Harvard untuk membangun kerajaan Microsoft dan Facebook, mereka memastikan dirinya bisa kembali lagi ke Harvard seandainya usaha mereka tidak berjalan mulus. See? Mereka tidak asal nekat bertindak, mereka bahkan tidak mengorbankan apapun (nothing to lose) selain waktu dan tenaga mereka saat masih muda, mereka punya backup plan jika segala sesuatunya tidak berjalan seindah yang mereka harapkan, sesial-sialnya adalah mereka akan kembali ke kampus dan sedikit terlambat untuk menyelesaikan studi kuliahnya. Apakah ini bisa disebut pengorbanan? Apakah ini nekat?

Bahkan pebisnis dan investor genius seperti Warren Buffett memiliki nasihat-nasihat bijak tentang resiko seperti:

  • Risk comes from not knowing what you’re doing.
  • Never test the depth of river with both the feet.
  • Rule No. 1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No. 1.
  • I don’t look to jump over 7-foot bars, I look around for 1-foot bars that I can step over.

Orang yang sukses dalam bisnis/usaha bukanlah mereka yang sekedar berani mengambil resiko, melainkan mereka yang pintar bermain dengan resiko yang ada.

Faktanya adalah pengambil resiko itu justru adalah orang yang betul-betul takut kehilangan sehingga mereka menemukan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengukur secara teliti dan bermain pintar dengan resiko yang ada.

Mungkin entrepreneur-entrepreneur yang sering Anda lihat itu sekarang sedang mengalami rasa cemas dalam hatinya, khawatir tak berkesudahan memikirkan perkembangan bisnisnya yang cenderung belum pasti, bahkan sebagian lainnya mungkin sudah lelah bermain “fake it till you make it” dan ingin menyerah.

Seni mengambil resiko

Pertama hampir segala sesuatu dalam hidup ini memiliki resiko, bahkan tidak mengambil resikopun juga menjadi bagian dari sebuah resiko (the risk of not taking risk). Karyawan bisa saja dipercat dari pekerjaan yang sudah stabil, pebisnis bisa saja bangkrut, freelancer bisa saja dituntut secara hukum, bahkan bisa saja besok Anda mati kecelakaan, intinya dalam hidup tidak ada yang 100% aman.

Setiap pilihan entah itu beresiko atau tidak pasti memiliki dampak, termasuk saat kita tidak melakukan apapun, karena itu sangat penting bagi kita untuk mengatur semua pilihan yang ada menjadi keputusan yang memberikan hasil terbaik.

Karena konteks kita kali ini adalah bisnis, maka inilah beberapa cara pintar mengambil keputusan atau resiko dalam usaha/berbisnis (note: hal ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari):

1. Buat bisnis yang susah rugi

Menurut saya ada 2 orang jenis pebisnis:

  • Pebisnis yang bisa menghandle kegagalan dan kerugian (biasanya karena sudah punya modal/koneksi/resource yang melimpah sejak awal)
  • Pebisnis yang tidak bisa menghandle kegagalan/kerugian (boleh gagal asal jangan rugi)

Saya termasuk tipe yang kedua (tidak boleh rugi), karena modal/resource saya terbatas dan seandainya (amit-amit) bisnis saya gagal apalagi sampai rugi mungkin saya bisa tidak makan/mati. Karena itu hal yang menjadi prioritas utama saya adalah survive.

Bagaimana kalau gagal? Pastikan setidaknya Anda tidak rugi materi/uang (hanya rugi waktu dan tenaga) sehingga pada akhirnya nothing to lose juga, toh Anda pasti mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama berbisnis.

 

Tidak ada kesempatan kedua jika Anda mati, karena itu pastikan Anda bisa terus bertahan hidup dengan apapun yang sudah ada, jika Anda juga termasuk tipe pebisnis kedua (tidak boleh rugi) maka buatlah bisnis yang susah rugi, artinya walaupun keuntungan/profit yang dihasilkan sangat minim, namun jika bisnis tersebut collapse/bangkrut Anda tidak akan mengalami derita finansial yang parah. Pastikan pula bisnis tersebut bisa terus tumbuh walau sedikit demi sedikit, contoh beberapa bisnis yang sulit rugi itu sebagian besar adalah bisnis online seperti blog, toko online, aplikasi/software, produk/jasa digital, dan apapun yang berbasis online.

2. Buat rencana cadangan/plan b/exit plan/safety net

Never depend on single income, inilah sebab banyak pengusaha punya beberapa bisnis, dalam bisnis segala sesuatu bisa terjadi, uang mudah sekali datang dan pergi, maka dari itu Anda juga harus punya jaring pengaman (safety net) tidak harus berupa bisnis, pekerjaan freelance/kantoran juga bisa menjadi sumber income tambahan, kesempatan mendapatkan income sudah sangat luas dengan adanya teknologi, Anda bisa menjadi driver di Go-jek, atau menjadi seller/penjual di Tokopedia & Bukalapak, atau membuat blog dengan WordPress/Blogspot, atau menjadi freelancer di Projects/Sribulancer, itu semua bisa dikerjakan dengan modal minim bahkan nol.

3. Carilah situasi win-win

Carilah kondisi dimana seandainya semua berjalan tidak sesuai harapan maka Anda tetap nothing to lose. Seandainya bisnis online saya gagal, setidaknya saya bisa jadikan website yang sudah dibuat serta pengalaman yang sudah saya kerjakan sebagai portofolio dalam bekerja. Seandainya produk yang saya buat tidak laku, setidaknya saya bisa gunakan sendiri produk tersebut demi keuntungan/konsumsi diri saya sendiri.

It’s a win-win situation.

Alternatif lainnya jika Anda tidak bisa menemukan situasi win-win adalah never risk more than you can afford to lose. Jangan meresikokan lebih dari yang bisa Anda tanggung. Artinya jika Anda punya modal 10 juta dan ingin berbisnis, pastikan Anda siap menerima resiko kehilangan uang 10 juta tersebut (dan masih bisa survive).

Jangan pernah berhutang/meminjam/menggunakan kredit dan semacamnya untuk usaha, karena faktanya sebagian besar bisnis bangkrut disebabkan oleh terlilit hutang yang terus-menerus menggulung menjadi beban usaha. Saya sendiri selalu menekankan dalam aturan keuangan nomor 1 adalah jangan pernah berhutang, kecuali pilihannya adalah berhutang atau mati.

Selama masih bisa survive maka jangan pernah berhutang APAPUN alasannya, berhutang hanya cocok jika bisnis Anda terbukti bisa memberikan return yang sangat baik (melebihi bunga yang ada), lagipula jauh lebih etis mencari investor ketimbang berhutang dalam berbisnis (menurut saya).

 

 

Sumber : solusik.com