CARA PINTAR MENGAMBIL RESIKO DAN KEPUTUSAN DALAM USAHA

risk

Orang yang berani mengambil resiko bukanlah orang bodoh yang asal nekat mengambil suatu keputusan. Seringkali mereka yang kita kira berani dalam mengambil sebuah resiko justru sebenarnya sangat berhati-hati dan mengalami rasa takut berkelanjutan dalam dirinya sendiri.

Siapa bilang pengambil resiko itu orang yang berani? Siapa bilang mereka itu nekat? Darimana asumsi seperti ini berasal? Justru kebalikannya mereka itu sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam mengambil resiko yang ada.

Let’s think about it.

Ketika kita mendengar kata “berbisnis”, “entrepreneurship”, “wirausaha”, maka yang muncul pertama kali dibenak kita adalah resiko. Namun apakah betul setiap usaha/bisnis itu selalu beresiko? Apakah benar semua entrepreneur itu mempertaruhkan nasibnya? Apakah mereka betul-betul mengorbankan sesuatu atau bahkan segalanya?

Saat Bill Gates dan Mark Zuckerberg memutuskan cuti/keluar dari Harvard untuk membangun kerajaan Microsoft dan Facebook, mereka memastikan dirinya bisa kembali lagi ke Harvard seandainya usaha mereka tidak berjalan mulus. See? Mereka tidak asal nekat bertindak, mereka bahkan tidak mengorbankan apapun (nothing to lose) selain waktu dan tenaga mereka saat masih muda, mereka punya backup plan jika segala sesuatunya tidak berjalan seindah yang mereka harapkan, sesial-sialnya adalah mereka akan kembali ke kampus dan sedikit terlambat untuk menyelesaikan studi kuliahnya. Apakah ini bisa disebut pengorbanan? Apakah ini nekat?

Bahkan pebisnis dan investor genius seperti Warren Buffett memiliki nasihat-nasihat bijak tentang resiko seperti:

  • Risk comes from not knowing what you’re doing.
  • Never test the depth of river with both the feet.
  • Rule No. 1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No. 1.
  • I don’t look to jump over 7-foot bars, I look around for 1-foot bars that I can step over.

Orang yang sukses dalam bisnis/usaha bukanlah mereka yang sekedar berani mengambil resiko, melainkan mereka yang pintar bermain dengan resiko yang ada.

Faktanya adalah pengambil resiko itu justru adalah orang yang betul-betul takut kehilangan sehingga mereka menemukan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengukur secara teliti dan bermain pintar dengan resiko yang ada.

Mungkin entrepreneur-entrepreneur yang sering Anda lihat itu sekarang sedang mengalami rasa cemas dalam hatinya, khawatir tak berkesudahan memikirkan perkembangan bisnisnya yang cenderung belum pasti, bahkan sebagian lainnya mungkin sudah lelah bermain “fake it till you make it” dan ingin menyerah.

Seni mengambil resiko

Pertama hampir segala sesuatu dalam hidup ini memiliki resiko, bahkan tidak mengambil resikopun juga menjadi bagian dari sebuah resiko (the risk of not taking risk). Karyawan bisa saja dipercat dari pekerjaan yang sudah stabil, pebisnis bisa saja bangkrut, freelancer bisa saja dituntut secara hukum, bahkan bisa saja besok Anda mati kecelakaan, intinya dalam hidup tidak ada yang 100% aman.

Setiap pilihan entah itu beresiko atau tidak pasti memiliki dampak, termasuk saat kita tidak melakukan apapun, karena itu sangat penting bagi kita untuk mengatur semua pilihan yang ada menjadi keputusan yang memberikan hasil terbaik.

Karena konteks kita kali ini adalah bisnis, maka inilah beberapa cara pintar mengambil keputusan atau resiko dalam usaha/berbisnis (note: hal ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari):

1. Buat bisnis yang susah rugi

Menurut saya ada 2 orang jenis pebisnis:

  • Pebisnis yang bisa menghandle kegagalan dan kerugian (biasanya karena sudah punya modal/koneksi/resource yang melimpah sejak awal)
  • Pebisnis yang tidak bisa menghandle kegagalan/kerugian (boleh gagal asal jangan rugi)

Saya termasuk tipe yang kedua (tidak boleh rugi), karena modal/resource saya terbatas dan seandainya (amit-amit) bisnis saya gagal apalagi sampai rugi mungkin saya bisa tidak makan/mati. Karena itu hal yang menjadi prioritas utama saya adalah survive.

Bagaimana kalau gagal? Pastikan setidaknya Anda tidak rugi materi/uang (hanya rugi waktu dan tenaga) sehingga pada akhirnya nothing to lose juga, toh Anda pasti mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama berbisnis.

 

Tidak ada kesempatan kedua jika Anda mati, karena itu pastikan Anda bisa terus bertahan hidup dengan apapun yang sudah ada, jika Anda juga termasuk tipe pebisnis kedua (tidak boleh rugi) maka buatlah bisnis yang susah rugi, artinya walaupun keuntungan/profit yang dihasilkan sangat minim, namun jika bisnis tersebut collapse/bangkrut Anda tidak akan mengalami derita finansial yang parah. Pastikan pula bisnis tersebut bisa terus tumbuh walau sedikit demi sedikit, contoh beberapa bisnis yang sulit rugi itu sebagian besar adalah bisnis online seperti blog, toko online, aplikasi/software, produk/jasa digital, dan apapun yang berbasis online.

2. Buat rencana cadangan/plan b/exit plan/safety net

Never depend on single income, inilah sebab banyak pengusaha punya beberapa bisnis, dalam bisnis segala sesuatu bisa terjadi, uang mudah sekali datang dan pergi, maka dari itu Anda juga harus punya jaring pengaman (safety net) tidak harus berupa bisnis, pekerjaan freelance/kantoran juga bisa menjadi sumber income tambahan, kesempatan mendapatkan income sudah sangat luas dengan adanya teknologi, Anda bisa menjadi driver di Go-jek, atau menjadi seller/penjual di Tokopedia & Bukalapak, atau membuat blog dengan WordPress/Blogspot, atau menjadi freelancer di Projects/Sribulancer, itu semua bisa dikerjakan dengan modal minim bahkan nol.

3. Carilah situasi win-win

Carilah kondisi dimana seandainya semua berjalan tidak sesuai harapan maka Anda tetap nothing to lose. Seandainya bisnis online saya gagal, setidaknya saya bisa jadikan website yang sudah dibuat serta pengalaman yang sudah saya kerjakan sebagai portofolio dalam bekerja. Seandainya produk yang saya buat tidak laku, setidaknya saya bisa gunakan sendiri produk tersebut demi keuntungan/konsumsi diri saya sendiri.

It’s a win-win situation.

Alternatif lainnya jika Anda tidak bisa menemukan situasi win-win adalah never risk more than you can afford to lose. Jangan meresikokan lebih dari yang bisa Anda tanggung. Artinya jika Anda punya modal 10 juta dan ingin berbisnis, pastikan Anda siap menerima resiko kehilangan uang 10 juta tersebut (dan masih bisa survive).

Jangan pernah berhutang/meminjam/menggunakan kredit dan semacamnya untuk usaha, karena faktanya sebagian besar bisnis bangkrut disebabkan oleh terlilit hutang yang terus-menerus menggulung menjadi beban usaha. Saya sendiri selalu menekankan dalam aturan keuangan nomor 1 adalah jangan pernah berhutang, kecuali pilihannya adalah berhutang atau mati.

Selama masih bisa survive maka jangan pernah berhutang APAPUN alasannya, berhutang hanya cocok jika bisnis Anda terbukti bisa memberikan return yang sangat baik (melebihi bunga yang ada), lagipula jauh lebih etis mencari investor ketimbang berhutang dalam berbisnis (menurut saya).

 

 

Sumber : solusik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s