4 Kanal untuk Memperkuat Brand pada Konsumen Milenial

consumer4

Sumber gambar : http://www.behavioralhealthnetworkresources.com

Hasil studi “Tetra Pak Index 2017” tentang Connected Consumer baru saja dirilis pada September ini. Hasilnya, 40% masyarakat Indonesia adalah pengguna aktif social media. Sementara itu, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z. Mereka dikenal sebagai generasi yang lahir di era digital dan smartphone sekaligus belanja online sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Data tersebut menjadi salah satu indikasi sekaligus “Warning” bahwa pemilik sekaligus pengelola merek saat ini menghadapi situasi yang lebih menantang dan kompleks. Oleh karena itu, penting bagi pemilik merek untuk memikirkan strategi yang tepat dalam mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Termasuk, mengambil langkah perubahan dan mengembangkan strategi guna menjangkau konsumen yang saling terhubung secara digital tersebut.

Merek yang ingin terlibat dengan konsumen Generasi milenial ini perlu memahami hal apa yang mampu mendorong mereka untuk membeli. Termasuk, bagaimana menciptakan pengalaman menarik yang bisa dirasakan oleh konsumen yang selalu terhubung, baik secara online maupun offline.

Hasil riset ini juga menunjukkan bagaimana perjalanan konsumen mengalami perubahan sebelum mereka memutuskan melakukan pembelian. Menurut statistik dari Econsultancy , 61% dari pelanggan membaca ulasan online sebelum membuat keputusan pembelian. Dan 63% dari pelanggan lebih mungkin untuk melakukan pembelian dari website yang memiliki ulasan pengguna. Setidaknya ada empat sumber informasi yang dijadikan rujukan bagi konsumen milenial yakni social media, user generated content, super leader, dan packaging atau kemasan. Untuk itu, penting bagi para pemasar untuk mempertimbangkan empat hal agar brand mereka menjadi pemenang di hati consumer Milenial ini. Ke ampat hal tersebut adalah :

#1 Social Media. Saat ini sosial media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Cukup dimaklumi, mengingat pengguna sosial media di Indonesia tercatat terus bertumbuh, jumlahnya sangat tinggi, dan terhitung aktif.

Dibandingkan dengan tahun lalu, menurut temuan “Tetra Pak Index 2017”, pertumbuhan penguna internet di Indonesia mencapai 51% atau sekitar 45 juta pengguna. Kemudian, diikuti dengan pertumbuhan sebesar 34% pengguna aktif di sosial media. Sementara itu, konsumen yang mengakses social media melalui mobile juga meningkat sebesar 39%.

#2 User Generated Content (UGC) adalah konten yang dibuat atau dihasilkan oleh audiens (baik itu customer ataupun bukan) dari sebuah brand itu sendiri. Bentuk bentuk UGC diantaranya bisa berupa testimonial, foto, posting blog, tweet, dan video.

#3 Super Leader adalah istilah yang diberikan terhadap influencer masa kini dengan engagement tinggi, juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penetrasi brand di pasar.

Super Leader merupakan konsumen terhubung yang paling aktif dan berpengaruh secara global karena jumlah followernya yang tergolong besar. Super Leader biasanya adalah pengadopsi paling awal, influencer, dan juga sekaligus sebagai trendsetter.

Super Leader biasanya akan melakukan posting komen dan gambar/foto, dengan tujuan untuk menceritakan pengalaman mereka. Konsumen yang terhubung biasanya akan lebih mempercayai mereka dibandingkan dengan konten marketing yang dibuat oleh perusahaan atau pemilik brand, khususnya menyangkut hal-hal terbaru dan menarik untuk dicoba atau dirasakan.

#4 Kemasan Selain itu, hasil temuan Tetra Pak Index 2017 menunjukkan bahwa kemasan memiliki peran penting untuk menjadi pintu gerbang bagi keterlibatan konsumen yang lebih luas. Sebagai contoh, kode digital yang dicetak pada kemasan dapat meningkatkan transparansi penelusuran suatu produk, yang memungkinkan konsumen untuk mengakses informasi tentang produk hingga ke sumbernya.

Sejatinya, kemasan dapat diubah menjadi platform informasi dua arah, di mana brand dapat menangkap data spesifik dan berharga tentang konsumen mereka. Termasuk, berbagi informasi lebih banyak tentang produk itu sendiri.

 

Sumber :

mix.co.id

digitalmarketer.id

 

 

Internet of Things dan Era Baru Digital Commerce

Teknologi telah mengubah wajah ritel, menggeser kekuatan dari merek ke konsumen yang kini memiliki  lebih banyak informasi dan pilihan. Hal ini telah membuat pasar terguncang, yang memungkinkan pesaing yang lebih bertekad untuk muncul sebagai pemimpin baru.

Pada 2020, digital commerce di Asean diperkirakan akan tumbuh mencapai US$32 miliar. Apa yang mendorong ekspansi eksponensial ini? Demografi memainkan peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ini. Sekitar 50% populasi Asean berusia di bawah 30 tahun, dan memasuki masa belanja perdana mereka. Penggunaan internet serta perangkat mobile yang tinggi dan terus tumbuh tanpa henti, dengan 800 juta koneksi mobile dan 480 juta pengguna internet. Kesejahteraan meningkat, didukung pertumbuhan GDP yang melebihi 5% akan menghasilkan 70 juta rumah tangga menjadi konsumen baru.

Sumber Gambar : Marketing.co.id

Pemerintah di seluruh Asean diproyeksikan menginvestasikan US$200 miliar antara 2015-2020 untuk infrastruktur digital, dan menekan sektor swasta untuk meningkatkan bisnisnya. Antara 2014-2016, perusahaan-perusahaan di Asean menginvestasikan US$3 miliar dalam digital commerce, jumlah ini diperkirakan meningkat lebih dari 3 kali lipat menjadi US$10 miliar untuk 4 tahun ke depan.

Konsumen Asia yang berubah

Kekuatan pendorong dibalik semua perubahan ini adalah konsumen. Seiring kehidupan di wilayah Asia yang semakin sibuk, konsumen ingin menyingkirkan aktivitas yang memakan waktu dan lebih memilih terlibat dengan kegiatan yang paling mereka hargai/penting, misalnya menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dengan teknologi terbaik yang berada di tangan mereka, konsumen mengharapkan pengalaman pelanggan yang lancar baik secara online maupun offline. Hampir 1 dari 4 pembelian online sekarang dilakukan di smartphone, dan pada 2020, 65% dari semua transaksi akan dilakukan secara online.

Jatuhnya penjualan brick-and-mortar juga merupakan bukti bagaimana savvy shopper beralih ke perangkat pintar. Konsumen mencari informasi dan membuat keputusan membeli dengan membaca ulasan dari banyak sumber serta membandingkan harga dari dari seluruh aplikasi atau situs web untuk menemukan penawaran terbaik.

Bentuk ecommerce ini diharapkan dapat berubah pada 2020, seiring berkembangnya teknologi untuk mempersiapkan kita menghadapi tahap berikutnya, dimana konsumen bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan sebelum mereka menginginkannya.

Pada saat itu perkawinan Internet of Things (IoT) dan artificial intelligence akhirnya akan membuat rumah lebih cerdas. Smart refrigerator akan mengotomatisasi seluruh proses belanja saat mereka mengantisipasi dan memberi peringatan ketika stok makanan menipis. Voice assisted akan menyajikan informasi secara prediktif dan membantu menyelesaikan pembelian melalui metode pembayaran tanpa batas.

IoT diperkirakan akan menjadi ‘the next big thing’ karena laporan menunjukkan bahwa penggunaan perangkat IoT setiap tahun semakin meningkat. Berikut beberapa dampak IoT terhadap bisnis digital :

1. Kegiatan berbisnis menjadi semakin cepat: IoT memungkinkan aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan pelanggan lebih menuntut efisiensi. Kalau bisnismu memerlukan pengiriman barang carilah perangkat IoT yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan layanan pengiriman yang lebih cepat.

2. Lebih banyak data yang harus di follow up: Sebagai pebisnis online kamu pasti butuh banyak informasi. Perangkat IoT memungkinkan lebih banyak cara berinteraksi kepada konsumen sehingga lebih banyak data yang dapat dihasilkan dari yang sekarang harus kamu pelajari, ditambah lagi dengan kemudahan akses terhadap data. Perangkat IoT akan dapat merekam pola perilaku konsumen bahkan belajar dari mereka dan memberikan saran.

3. Biaya produksi lebih murah: Barang-barang IoT memiliki karakter dapat beroperasi secara independen, sehingga tidak hanya menghemat energi dan sumber daya, tetapi dalam hal produksi barang toko online kamu bisa memotong sebagian budget.

4. Semakin mudah bekerja jarak jauh: Ketika semua perangkat dapat diatur di bawah satu jaringan, akan lebih mudah mengatur segala sesuatu dari  tempat yang jauh. Kamu bisa melakukan pemantauan jarak jauh (remote monitoring) terhadap karyawanmu.

5. Mengatur perangkat menjadi lebih rumit: Salah satu dampak negatif IoT adalah sulitnya beradaptasi dengan perubahan terhadap perangkat-perangkat kita. Tidak akan mudah mengintegrasikan perangkat IoT dengan teknologi lama dan perlu biaya untuk menjaga semua perangkatmu tetap update dengan software terbaru.

IoT dapat dimanfaatkan untuk menawarkan produk-produk berteknologi cerdas. Sebagian mengira bahwa perangkat IoT hanya sebatas ponsel, laptop, atau tablet. Padahal, ada banyak alat lain yang terhubung internet yang termasuk perangkat IoT. Sekarang sudah ada barang-barang yang mendukung sistem otomatisasi rumah, penghematan energi, atau keamanan seperti kunci rumah yang terhubung dengan sensor, sepeda yang bisa mengatur rute, peralatan masak yang bisa mengukur bahan sendiri, atau kabel yang bisa memonitor daya.

Data firma konsultan manajemen McKinsey & Co. menyebutkan, IoT diprediksi memberikan dampak positif pada perekonomian dunia dengan nilai antara US$ 4-11 triliun per tahun, hingga 2025. Business Insider juga memperkirakan pasar perangkat IoT akan menjadi yang terbesar di dunia. Pada 2019, pasar IoT akan lebih besar dari pasar ponsel cerdas, tablet, PC, connected car, dan wearable digabung menjadi satu.

Jadi, sudah siap berbisnis di era Internet of Things?

Sumber :

Marketing.co.id

Sirclo.com

daily.oktagon.co.id