Enam Fenomena Yang Mewarnai Kehidupan Generation Now

6-Fenomena

Tanpa mengenal generasi, teknologi memang telah mengubah segalanya. Baik Gen X, Y atau Z, mayoritas sudah terkoneksi dengan internet. Teknologi menjadi makanan sehari-hari, mulai dari bangun tidur, di kantor, kongkow, hingga pengantar tidur.

Lantas apa saja fenomena yang mewarnai Generation Now ini? MarkPlus, Inc. melihat ada enam hal yang hidup berdampingan dengan Generation Now. Pertama, WWW. Ini merupakan singkatan dari whatever, wherever, whenever. Teknologi membuat segalanya menjadi instan dan cepat. Mau apa pun, di mana pun, hingga kapan pun, bisa dihadirkan sekarang juga.

Kedua, FOMO atau fear of missing out. Saat ini, Generation Now sangat takut ketinggalan sesuatu. Mulai dari tren fesyen, restoran, ngopi, liburan, dan lainnya. Bahkan, ada beberapa yang menjadi ‘super kepo’ (knowing every particular objects) alias kepengen tahu. Mereka rela stalking kawan, sahabat, artis idamannya agar tidak ketinggalan apa yang sedang happening saat ini.

Ketiga, YOLO alias you only live once. Istilah ini dimunculkan oleh rapper asal Kanada, Drake. Untungnya, hal ini tidak menjalar ke semua generasi. Itu adalah prinsip bahwa hidup hanya sekali sehingga kita harus mencoba hal-hal baru. Sehingga, muncul istilah lebih baik menikmati hal yang seru ketimbang memiliki sesuatu yang keren. Ketimbang membeli mobil atau rumah, kenapa kita tidak berpelesir keliling dunia?

Keempat, Phygital. Ini merupakan gabungan dari physical dan digital. Ini merupakan aktivitas yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, namun kerap tidak kita sadari. Misalnya dalam sebuah konser, ada sebagian orang yang bukan menikmati serunya musik, melainkan sibuk membuat video. Padahal tujuan mereka menghadiri sebuah konser –seharusnya- untuk menikmati musik. Tapi going online dan menunjukkan eksistensi terkadang lebih penting ketimbang alunan musik sang idola.

Kelima, XAAS atau singkatan dari everything (x) as a service. Ini merupakan fenomena bahwa dunia tidak lagi harus memiliki aset untuk menjadi besar. Sebut saja Go-Jek dan AirBnB yang tidak memiliki mobil, motor atau hotel, namun bisa menjadi perusahaan transportasi dan jaringan hotel terbesar.

Keenam, B2ME atau business to me. Di sini, customization dan personalization menjadi hal yang krusial. Ketika bisa menghadirkan personalisasi, maka merek bakal bisa mencuri perhatian para konsumen di tengah serbuan brand.

Keenam fenomena ini hadir dan berdampingan dengan ketiga generasi yang ada, baik X, Y dan Z. Ada yang cepat, tanggap dan mudah terpengaruh, namun ada pula yang tidak bergeming dan memegang komitmen. Ada yang terpancing secara emosional, namun ada pula yang masih bisa berpikir secara rasional.

Sumber : marketeers.com

 

 

Fakta “Basket Size” Belanja Online Orang Indonesia ?

kleiner Einkauf

Sumber gambar : shopio.com

Platform perbandingan e-commerce iPrice menghitung basket size konsumen online Indonesia. Berdasarkan laporan yang dibuat sepanjang tahun 2017 itu, nilai rata-rata pembelanjaan tiap konsumen mencapai US$ 36 atau sekitar Rp 481.000. Perhitungan tersebut berasal dari berbagai macam produk yang dijual di e-commerce, baik fashion maupun elektronik.

Menilik dari kacamata regional, nilai tersebut membuat Indonesia menduduki posisi basket size terendah kedua di Asia Tenggara. Kalau jauh dengan Singapura yang mencapai US$ 91.

Temuan nilai basket size tersebut juga menunjukkan seberapa besar purchasing power konsumen Indonesia saat bertransaksi online. Hal ini tentu berbanding lurus dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara. Dari segi pelaku e-commerce, temuan nilai basket size ini bisa menjadi pandangan untuk menentukan target pasar, harga produk yang dijual, hingga strategi promosi yang digunakan.

Temuan lainnya, konsumen Indonesia menjadi pihak yang paling aktif berbelanja online di hari kerja, khususnya pada siang hari. iPrice mencatat dari keseluruhan sampel, puncak pemesanan barang paling populer adalah pada pukul 10.00 hingga 17.00. Selain itu, conversion rate paling tinggi juga terjadi pada hari Rabu, sementara di akhir pekan conversion rate justru turun hingga 30%.

Pada periode kuartal ketiga 2016 hingga kuartal kedua 2017, jumlah pesanan pada pukul 11.00 rata-rata lebih tinggi 69% dibandingkan jam lainnya. e-Commerce pun masih mendapatkan banyak pesanan pada pukul 16.00 yakni saat orang-orang sedang pulang kerja.

Hasil riset tersebut juga tidak kalah jauh dari penelitian perilaku belanja online di Amerika Serikat. Firma CNBC menyatakan bahwa 31,2% konsumen online melakukan transaksi di jam kerja.

Dalam laporan Workarea, di hari Jumat dan Sabtu umumnya konsumen beraktivitas offline. Selanjutnya, pada hari Minggu mereka mulai berselancar kembali untuk mencari produk yang kemudian dimasukkan ke dalam wishlist.  Temuan-temuan ini tentu bisa menjadi referensi para pelaku e-commerce untuk kapan melakukan flash sale ataupun strategi promosi yang menarik konsumen untuk melakukan transaksi.

Sumber : Marketeers.com

 

Mengenal “Revenue Stream” dan “Business Model”

business-model-et-business-plan

Sumber gambar : http://www.thebusinessplanshop.com

Mempelajari tentang startup, maka tak akan terlepas dari belajar tentang berjalannya sebuah proses bisnis. Ada beberapa istilah dan konsep bisnis yang perlu dimengerti sebelum terjun lebih dalam, seperti istilah revenue stream, revenue model dan business model. Tiga hal tersebut biasanya akan sering ditanyakan ketika startup dihadapkan pada sebuah presentasi, ntah di hadapan calon rekanan bisnis, investor ataupun dalam kegiatan inkubator.

Secara sederhana revenue stream dapat didefinisikan sebagai sumber utama bisnis dalam mendapatkan pemasukan. Revenue model dapat diartikan sebagai sebuah cara yang ditempuh pelaku bisnis untuk mengelola arus pendapatan, termasuk di dalamnya pengelolaan sumber daya yang diperlukan untuk mengelola pendapatan tersebut. Sedangkan business model merupakan berbagai aspek dalam bisnis yang di dalamnya termasuk revenue stream dan model, serta rincian strategi yang menggambarkan bagaimana proses bisnis perusahaan bisa berjalan berkesinambungan.

Jenis-jenis revenue model dalam startup digital

Seiring dengan makin bervariasinya jenis produk dan layanan yang dihadirkan dalam startup digital, strategi pendapatan keuntungan pun turut berkembang. Ada berbagai macam revenue model yang diterapkan, menyesuaikan tipikal produk/layanan yang dijajakan. Berikut ini adalah beberapa jenis revenue model yang hingga saat ini umum dipilih dan digunakan oleh pelaku startup digital.

Revenue Model Kelebihan Kekurangan
Iklan; Model bisnis ini biasanya diterapkan untuk layanan berbasis web atau aplikasi, menampilkan iklan di tempat strategis di dalam konten layanan yang dihadirkan. Google AdSense menjadi salah satu yang paling populer digunakan di Indonesia.Namun seiring perkembangannya, iklan juga bisa dikelola secara langsung, berhubungan langsung dengan brand tertentu yang ingin mempublikasikan pekerjaan. Penerapan dan pengelolaannya mudah. Cocok untuk model layanan atau aplikasi yang disampaikan secara gratis. Perlu memastikan pengguna layanan atau aplikasi tersebut banyak. Umumnya tidak bisa didapat secara instan, perlu ada proses panjang untuk menghadirkan traksi.
Affiliate; Berafiliasi dengan brand lain juga menjadi yang cukup populer diterapkan di Indonesia. Konsep afiliasi ini biasanya digunakan oleh pengembang konten (web atau aplikasi) yang mempromosikan produk tertentu (biasanya secara native) di dalamnya. Jika dibandingkan dengan iklan, umumnya penawaran yang diberikan lebih menjanjikan, dengan hitungan yang lebih tinggi dan lebih jelas. Seringkali harus memaksakan konten untuk disesuaikan dengan produk dari afiliasi yang ingin digenjot. Perlu proses panjang dan dapat mengorbankan ketertarikan pengguna.
Transaksional; Model ini pada dasarnya sama dengan tata cara jual beli di pasar, sebuah produk atau layanan dibayar langsung oleh konsumen (bayar di muka). Misalnya menjual perangkat lunak dengan mekanisme beli putus. Beberapa konsumen (terutama di tipe konvensional) lebih nyaman karena proses yang sederhana. Produk yang dijual dengan model bisnis seperti ini biasanya sangat banyak persaingannya. Sehingga strategi seperti perang harga biasanya harus dilakukan, sehingga meminimalkan keuntungan.
Layanan Berlangganan; Model ini biasanya diterapkan untuk layanan yang digunakan dalam jangka waktu lama. Umumnya dihitung secara bulanan atau per tahun. Dengan produk yang matang, layanan ini dapat menghadirkan keuntungan yang signifikan. 

 

Sangat bergantung pada basis konsumen yang besar. Membutuhkan inovasi berkelanjutan setiap waktu untuk menciptakan kepercayaan.
Penjualan Online; Sama seperti penjualan transaksional, hanya saja prosesnya dilakukan sepenuhnya di website (online). Dapat diterapkan untuk beragam jenis produk dan layanan, mulai dari yang berbentuk fisik hingga yang berbentuk non-fisik. Untuk beberapa produk yang memerlukan strategi pemasaran langsung (pengguna harus melihat barangnya, seperti rumah, mobil dll). 
Penjualan Tidak Langsung; Model penjualan yang melibatkan agen atau re-seller. Sangat ideal bagi perusahaan untuk melakukan penyebaran produk dan memperbesar jaringan.  Kurang cocok untuk model bisnis digital yang ada saat ini, tantangan di pasar akan banyak pada edukasi konsumen, transformasinya ke affiliate.
Ritel; Proses penjualan produk secara ritel. Misalnya pengembang aplikasi yang menjual DVD aplikasi melalui toko di lokasi fisik. Membantu meningkatkan popularitas brand, karena umumnya bisa menjangkau konsumen secara lebih luas, terutama di negara yang masih dalam tahap transisi digital seperti Indonesia. Tidak cocok untuk startup dengan modal pas-pasan, harus mengucurkan investasi besar. Di Indonesia juga akan terkikis dengan pembajakan.
Memfokuskan Pada Layanan; Memberikan produk secara gratis, tapi harus membayar untuk layanan dan proses kustomisasinya. Misalnya mengembangkan aplikasi tertentu, aplikasinya dijual gratis, tapi instalasi dan hosting-nya harus membayar di perusahaan tersebut. Memberikan banyak ketertarikan, terlebih jika “layanan berbayar” dapat dibaurkan secara rapi. Produk sebagai biaya pemasaran, membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal seiring dengan tantangan mendapatkan traksi.
Freemium; Model bisnis paling populer yang ada saat ini. Memberikan layanan gratis, tapi menyediakan konten/layanan eksklusif untuk pengguna berbayar. Mirip dengan model sebelumnya, cocok untuk layanan digital berupa perangkat lunak. Membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan transaksi dan strategi penyampaian yang kuat.

Jenis-jenis business model dalam startup digital

Tidak semua revenue stream cocok diterapkan untuk startup digital, hal tersebut dikarenakan harus menyesuaikan dengan business model yang digalakkan. Business model juga sangat erat kaitannya dengan tipikal produk/layanan, dan bagaimana bisnis menyampaikan produk/layanan tersebut kepada konsumen. Berikut ini beberapa jenis business model yang saat ini umum diadopsi oleh startup digital.

Marketplace

Tokopedia, Go-Jek, Airbnb, Bukalapak termasuk startup yang menggunakan business model ini. Menghubungkan pemilik produk/layanan dengan konsumen/pengguna. Startup menyediakan layanan untuk menghubungkan dan melancarkan proses transaksi kedua belah pihak.

E-Commerce

Mengacu pada penjualan dan distribusi produk dan layanan secara online. Model e-commerce tidak melulu diterapkan oleh bisnis yang memfokuskan pada jual beli barang secara umum (seperti Amazon), proses e-commerce sendiri dapat diadopsi di berbagai bisnis, seperti Microsoft yang menjual XBOX secara online.

SaaS (Software as a Services)

Model bisnis yang memfokuskan pada penyampaian layanan kepada pelanggan, umumnya berupa perangkat lunak dan dibayarkan secara berlangganan. Produk seperti layanan komputasi awan, CRM atau sistem manajemen keuangan cocok menerapkan model bisnis ini.

Consumer

Model bisnis yang memberikan layanan secara cuma-cuma kepada konsumen, karena fokusnya adalah membangun saluran distribusi yang kuat. Setelah produk digunakan banyak orang, revenue model seperti iklan atau freemium diterapkan. Contohnya seperti SnapChat, layanannya gratis, dan akhirnya mengeluarkan produk kaca mata untuk mendukung penggunaan aplikasinya.

API Model

Beberapa startup di Indonesia bergantung pada layanan API seperti Stripe atau Twilio. Atau kita baru saja mengenal startup baru bernama Prism. Layanannya diintergasikan dengan sistem yang dimiliki oleh perusahaan lain, tak terlihat secara kasat mata, namun memberikan kenyamanan yang berarti.

Data

Model bisnis yang memfokuskan pada pengumpulan data, biasanya akan diolah menjadi analisis untuk kebutuhan tertentu.

Licensing

Startup yang berhasil menelurkan inovasi berupa properti intelektual dapat memberikan perizianan berupa paten, merek dagang, rahasia dagang hingga pengetahuan yang dimiliki. Contohnya seperti apa yang dilakukan Arm Holdings.

Jadi apa  bisnis model startup anda? darimana anda mendapat revenue?

Sumber : dailysosial.id

Belajar dari Kekalahan Nokia, BlackBerry dan Uber

20161014nokia

“Kami tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi kami tidak tahu kenapa kami kalah.” Kutipan kalimat itu mungkin gampang Anda tebak dari siapa dan di momen apa diucapkan.

Ya, Jorma Jaakko Ollila, CEO Nokia itu mengatakannya saat konferensi pers mengumumkan Nokia diakuisisi oleh Microsoft. Cerita kekalahan Nokia dalam bisnis telepon genggam menjadi kisah yang cukup sering diulang-ulang. Pelajarannya, Anda tidak perlu melakukan apa-apa untuk jatuh atau bangkrut.

Cerita kegagalan perusahaan besar semacam itu mungkin akan ditambahi dengan kisah BlackBerry yang gagal mengkonversi masa keemasannya menjadi masa depan. Perusahaan Kanada yang dahulu bernama Research In Motion Limited itu dituduh terlalu fokus pada feature produknya dibandingkan dengan konsumen.

Jika Anda berpikir bahwa kekalahan Nokia dan BlackBerry tidak lepas dari kompetitor, mungkin perlu melihat Vertu. Pabrikan dan peritel ponsel mewah yang dibangun Nokia di Inggris itu hidup hampir tanpa pesaing. Tapi toh Vertu gagal juga. Dan untuk kalah, Anda tidak perlu pesaing.

Lalu, ‘mantra’ seorang motivator Denis Waitley itu akan keluar: The real risk is doing nothing.

Nokia bukanlah perusahaan yang tidak mau berubah. Sebaliknya, Nokia yang berdiri sejak 1865 itu telah masuk ke berbagai lini usaha dan sudah menyiapkan smartphone pertamanya pada 1996 dan membangun prototipe layar sentuh di akhir ’90-an.

Perusahaan juga menghabiskan banyak dana untuk penelitian dan pengembangan. Sejumlah analis menyebut, kegegalan Nokia adalah menerjemahkan hasil riset den pengembangannya itu ke dalam produk yang dibutuhkan orang-orang.

Kekuatan merek Nokia pun tidak banyak membantu. Bahkan, ketika perusahaan kemudian meluncurkan smartphone, mereka sudah tertinggal terlalu jauh. Keseombongan merek besar menjadi bumerang yang mematikan.

Bisnis yang sukses seringkali adalah bisnis yang berada di poisisi berbahaya. Titik kejayaan Nokia menjadi awal ‘kematiannya’ sendiri.

Fokus pada kebesaran nama masa lalu atau terlalu giat meneropong kompetitor juga bisa jadi batu sandungan karena mengalihkan fokus sebenarnya sebuah bisnis, yakni customer. Sejumlah kegagalan bisnis menunjukkan bahwa mereka tidak memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan.

Kegegalan juga dialami Uber dengan angkat kaki dari Asia Tenggara setelah sebelumnya juga tak berkutik di China. Biarpun jadi yang lebih awal di dunia dalam hal ride-sharing, dan ‘ditiru’ Go-Jek dan Grab, tapi Uberlah yang harus angkat tangan.

Di China, Didi Chuxing juga meniru Uber. Kegagalan Uber di Negeri Tirai Bambu bukanlah karena regulasi pemerintah, jika Anda pikir Didi mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Nyatanya, Didi yang bisa menyesuaikan dengan pasar lokallah yang laku.

Sekalipun meniru, Didi melakukan berbegai penyesuaian dan peka terhadap kebutuhan pasar lokal. Rendahnya penetrasi kartu kredit di China diubah jadi ‘pembantai’ Uber yang mengandalkan transaksinya via uang kartu.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa korporasi raksasa yang tidak peka bisa dengan mudah ‘dijatuhkan.’ Tidak oleh regulasi atau persaingan dengan perusahaan besar lainnya, tapi oleh ketidakpekaannya sendiri dalam menangani kebutuhan pelanggan. Jangan berharap banyak pada loyalitas pelanggan, karena itu semu.

sumber : bisnis.com

Memahami Valuasi dari Start Up Unicorn Indonesia

unicorn2

Sumber gambar : sharingvision.com

Unicorn Start Up adalah sebutan bagi barisan start up yang telah memiliki valuasi diatas USD 1M – atau setara dengan Rp 13.5 triliun, sebuah angka valuasi yang cukup masif.

Di Indonesia sendiri sudah ada 4 start up yang masuk kategor UNICORN yakni Tokopedia, Gojek, Traveloka dan terakhir Bukalapak.

Unicorn sendiri memang lebih mengacu pada valuasi start up yang bergerak di ranah digital (internet medium).

Padahal sebenarnya start up juga bisa diberikan pada perusahaan baru yang bergerak di bidang off-line seperti bisnis restoran, bisnis peternakan sapi, bisnis produksi makanan kecil, atau bisnis lainya. Namun memang selama ini sebutan start up sudah telanjur identik dunia digital business.

Seperti yang disebut diatas, jumlah unicorn di Indonesia baru ada 4.

Jumlah uncorn tertinggi ada di Amerika, yakni berjumlah 256; kemudian disusul China (58 companies); India dan Inggris (11 companies).

Jerman dan Jepang hanya punya 6; dan kemudian masing-masing Perancis punya 1, dan Italia punya 1.

Artinya dibanding Perancis dan Italia, Indonesia punya lebih banyak Unicorn – 4 dibanding 1. Perancis dan Italia boleh bangga punya PSG dan Juventus. Namun Indonesia bisa bangga karena punya Tokopedia dan Gojek 🙂 🙂

Mungkin itu juga semacam tanda bahwa anak muda Jakarta tak kalah kreatif dengan anak muda Paris dan Milan.

Sebagai estimasi berikut nilai valuasi 4 unicorn start up Indonesia :

1. Tokopedia – valuasi Rp 50 triliun
2. Gojek – valuasi Rp 40 triliun
3. Traveloka – valuasi Rp 26 triliun
4. Bukapalak – valuasi sekitar Rp 15 triliun

Angka-angka valuasi diatas adalah angka yang sangat masif, untuk sebuah company yang baru berusia seumur jagung. Sebagai gambaran kita bersama, Tokopedia didirikan Tahun 2009, Bukalapak Tahun 2010, Gojek Tahun 2011 dan, Traveloka Tahun 2012.

Pertanyaannya : bagaimana cara valuasi sebuah start up seumur jagung hingga punya nilai triliunan, padahal kebanyakan masih merugi hingga miliaran per bulan?

Sebagai permisalan adalah Gojek. Gojek menghabiskan dana hingga Rp 150 MILYAR per bulan atau 1,8 T per Tahun untuk subsidi tarif ke konsumen dan bonus kepada drivernya. Sehingga kita sebagai pengguna Gojek mendapat harga yang murah.

Sebuah angka subsidi yang amat mencengangkan bukan ?.

Lalu bagaimana bisa valuasi Gojek malah tembus Rp 40 triliun, padahal mereka rugi minimal Rp 1.8 trilun per tahun ( untuk subsidi)?

Lalu, bagaimana pula valuasi Tokopedia bisa tembus Rp 50 triliun, padahal mereka juga masih rugi ratusan miliar per tahun?

Bagaimana angka valuasi yang rada ajaib ini bisa muncul?

Salah satu patokan untuk mengukur valuasi adalah dengan membandingkan profit dengan valuasi (atau profit to valuation ratio).

Mari coba kita bandingkan dengan 2 start up paling sukses di dunia, yakni Facebook dan Alibaba.

Valuasi Facebook saat ini adalah Rp 6700 triliun – sebuah angka yang impresif. Tahun 2017 ini mereka diprediksi akan punya net profit sekitar Rp 200 triliun. Atau rasio valuasinya adalah 33x profit setahun (Rp 6700 triliun / 200 triliun = 33).

Valuasi Alibaba saat ini adalah Rp 6 ribu triliun, dan mereka tahun ini punya net profit Rp 80 triliun. Jadi rasio valuasinya adalah 75x profit setahun (Rp 6 ribu triliun / 80 triliun = 75).

Dua legenda ini, yakni Facebook dan Alibaba adalah acuan sukses bagi sebuah start up. Rasio valuasi mereka masing-masing adalah 33x dan 75x profit tahunan mereka.

Kalau coba diambil titik tengahnya, maka rasio valuasi yang layak dijadikan acuan adalah sekitar 50 x profit setahun.

Dengan acuan angka 50x profit setahun, maka jika valuasi Tokopedia adalah Rp 50 triliun, harusnya mereka kelak bisa dapat net profit Rp 1 triliun per tahun.

Apakah angka profit Rp 1 triliun per tahun kelak akan bisa diraih Tokopedia? Rasanya kok bisa ya.

yang perlu kita ketahui bersama, mereka saat ini sudah punya 2 juta merchant (pedagang online). Artinya untuk mendapatkkan net profit Rp 1 triliun, mereka hanya perlu generate net profit Rp 500 ribu per merchant.

Meraih net profit Rp 500 ribu/tahun (atau Rp 41 ribu/bulan) per merchant adalah sebuah langkah yang kemungkinan bisa diraih oleh Tokopedia. Dengan catatan, mereka bisa menghentikan langkah Shopee yang sangat agresif melakukan serangan.

Bagaimana dengan Gojek? Valuasi mereka saat ini Rp 40 triliun. Dengan rasio 50 kali profit, maka harusnya mereka kelak bisa punya profit Rp 800 milyar per tahun (40 triliun dibagi 50 kali).

Apakah kelak Gojek akan sanggup raih profit Rp 800 milyar per tahun; sementara saat ini malah masih rugi triliunan? Secara matematis, tampaknya masih ada dalam jangkauan.

Hitungannya sederhana, kita asumsikan saat ini driver Gojek ada 300 ribu. Untuk meraih profit Rp 800 milyar, mereka hanya perlu generate net profit Rp 2,6 juta/tahun per driver. Atau net profit sebesar Rp 216 ribu/driver/bulan.

Sebuah angka yang tampaknya bisa diraih meski tidak mudah, gara-gara serbuan masif dari pasukan Grab.

Rasanya masa depan Gojek ada pada Gopay dan Gofood.

Suatu hari nanti Gopay akan menjadi BANK DIGITAL TERBESAR di Indonesia, dengan ratusan ribu “virtual teller” yang merangkap sebagai drivers.

Bank-bank raksasa seperti BCA, BRI dan Mandiri sangat layak cemas dengan kehadiran Gopay.

Disruptive innovation Gopay bisa mengubah secara dramatis lansekap dunia perbankan Indonesia masa depan.

Sementara Tokopedia harusnya bisa pelan-pelan mendapatkan profit; meski kehadiran Shopee dengan free ongkirnya membuat perjalanan masa depan Tokopedia menjadi makin terjal dan melelahkan.

Dengan uraian diatas, maka valuasi start up Unicorn Indonesia yang terkesan gila-gilaan, menjadi lebih masuk akal dan reasonable.

Tantangannya adalah tentu bagaimana mereka bisa pelan-pelan mendapatkan profit. Yang agak menantang memang kehadiran para pesaing dengan modal yang juga besar. Ini yang acap membuat pertarungan menjadi sangat brutal dan berdarah-darah.

Namun modal utama para start up diatas adalah mereka semua sudah punya basis pelanggan online dengan jumlah jutaan. Basis jutaan pelanggan digital ini yang harapannya bisa jadi amunisi untuk melakukan monetisasi atau proses profitisasi dikemudian hari.

Bagaimana dengan start up anda ?

Bolehlah kita ngobrol ngobrol kece.

 

sumber tulisan: strategimanajemen.net

 

Kelirumologi dan Salah Kaprah Tentang Marketing di Zaman Now

Rural signboard - Forward - Backward

Anda pernah  dengar istilah “kelirumologi’? Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang pianis dan pengusaha jamu asal Semarang bernama Jaya Suprana. Pendiri Museum Rekor dunia Indonesia (MURI) ini pernah membahas seputar pemahaman salah kaprah atau keliru tentang apa saja yang kemudian ia labeli sendiri dengan nama kelirumologi.

Menurut definisi Wikipedia, Kelirumologi diartikan sebagai suatu mashab atau paham mempelajari atau menelaah kekeliruan demi mencari kebenaran. Kelirumologi mencoba meluruskan salah kaprah atau kekeliruan pemahaman yang sudah terlanjur dianggap benar oleh masyarakat luas. Jaya mencontohkan, soal air mineral. Soal air mineral, banyak orang menyamakannya dengan Aqua. Padahal, Aqua itu nama merek. Tapi, mereka menjadikannya sebagai identitas sebuah produk. Di sisi lain, ini bisa dipahami sebagai keberhasilan merek Aqua yang mampu membangun top of mind di kategori air mineral.

Meminjam istilah “kelirumologi” Jaya Suprana, Penulis ingin menyuguhkan beberapa beberapa salah kaprah pemahaman tentang marketing.

#01  Marketing sering disamakan dengan selling.

Banyak orang menyamakan marketing dengan aktivitas menjual. Tak heran, bila ada iklan baris di koran yang menawarkan posisi marketing tak lain adalah posisi penjualan. Tak sedikit juga mengidentikkan para sales promotion girl (SPG) sebagai orang marketing itu sendiri. Padahal, Marketing itu memiliki pemahaman yang jauh lebih luas dan di dalamnya ada yang dinamakan selling. Artinya, marketing tidak dipahami secara sempit dengan sekadar jualan, tapi meliput banyak hal, seperti branding, diferensiasi, positioning, dan sebagainya.

#02  Marketing dipersempit dengan sekadar promosi maupun program sales promo.

Sering kekeliruan kedua ini dikaitkan dengan kekeliruan pertama, yakni jualan. Karena motivasinya jualan, biasanya dengan menempuh segala cara, target jualan harus tercapai. Sayangnya, orang cenderung jatuh pada menghalalkan segala cara, termasuk membohongi pelanggan. Maksudnya, penjual lebih sering overpromise pada pelanggan. Padahal, yang didapatkan pelanggan tidak seperti yang dipromosikan. Yang penting, target jualan tercapai. Praktik inilah yang membuat citra marketing menjadi buruk. Citra marketing diidentikan dengan bujuk rayu atau tipu menipu.

#03 Pelanggan adalah Raja

Banyak merek yang masih memposisikan customer adalah raja. Padahal, pemahaman ini sudah tak berlaku alias tak relevan lagi di era yang serba terkoneksi seperti sekarang ini. Bahkan, masih banyak yang memposisikan pelanggan sebagai target yang tak lain adalah objek semata. Inilah Marketing 1.0 yang berorientasi pada produk. Ketika pelanggan diposisikan sebagai raja, pemasar cenderung “menghalalkan segala cara” agar sang raja itu senang. Akibatnya, pemasar cenderung menjilat asal pelanggan senang.

Inilah Marketing 2.0 yang berorientasi pada customer. Sekarang adalah eranya Marketing 3.0, marketing yang berorientasi pada value dan human spirit. Di sini, pelanggan diposisikan sebagai sahabat yang sejajar dengan perusahaan. Sebagai sahabat, pemasar memperlakukan pelanggan sebaik mungkin yang bisa mengembangkan kehidupan pelanggannya dan bukan asal memenuhi keinginan pelanggan.

#04 Yang penting branding dan kemasan bagus

Ada juga yang bilang, marketing itu tak lain sebagai upaya untuk mengemas produk sebagus dan semenarik mungkin. Memang, kemasan dan branding itu penting. Tapi, perusahaan tak boleh sampai di situ saja. Artinya, perusahaan harus memperhatikan konten. Style memang penting karena ini yang membangkitkan daya tarik bagi konsumen atau yang menentukan ketertarikan orang pada pandangan pertama. Tapi, substance juga tak kalah penting. Apalah arti kemasan dan branding yang bagus kalau tidak disertai dengan konten atau produk yang bagus juga. Kalau tidak diimbangi substance yang bagus, konsumen akan merasa tertipu. Dan, di era internet ini, kalau hal ini terjadi, persoalannya bisa menjadi besar karena isunya akan viral dan ke mana-mana. So, style dan substance harus sama-sama bagus.

#05 Saat Internet berkembang, pemasaran offline mati

Ada yang bilang, derasnya arus digitalisasi ini akan mematikan semua yang berbau tradisional atau offline.  Memang, digitalisasi membuat banyak merek yang dulunya mengunggulkan kekuatan konvensional bisnisnya menjadi guncang atau bahkan tutup. Tapi, keliru kalau online seratus persen akan menggantikan offline. Yang benar adalah integrasi antara online dan offline.

Pemasaran offline dan online harus saling mengisi untuk memenangkan hati pelanggan. Offline dibutuhkan untuk membangun interaksi langsung dan pengalaman pelanggan. Sedangkan online dibutuhkan untuk membangun intimacy dengan mereka.

Kita lihat saja sekarang di mana banyak perusahaan digital seperti e-commerce pun membangun pop up store atau ritel fisik untuk membangun kedekatan dengan pelanggan. Misalnya, Amazon, Zalora, Alibaba, dan sebagainya.

Intinya apa? Intinya adalah saatnya pemasar mengandalkan omnichannel yang mengintegrasikan onlinedan offline. Inilah era Marketing 4.0.

#06 Loyalitas pelanggan itu sekadar repeat buying

Kekeliruan selanjutnya adalah loyalitas. Banyak yang masih memahami tingkat loyalitas tertinggi pelanggan adalah ketika pelanggan itu balik dan terus membeli produk kita. Di era sebelum booming internet, pemahaman itu ada benarnya. Tapi, di era konektivitas ini, customer path sudah berubah, dari 4A menjadi 5A. Dulu, yang dimaksud 4A adalah Aware, Attitude, Act, Act Again. Sekarang berubah menjadi 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.

Intinya apa? Intinya, loyalitas sekarang tidak sebatas membeli produk lagi (repeat buying) tapi advokasi atau seberapa banyak orang merekomendasikan sebuah produk atau merek kepada orang lain.

#07 Keren itu ketika serba teknologi

Di era digital, ada pemahaman latah yang mengatakan yang keren itu ketika semua serba teknologi. Keren ketika semua urusan dengan konsumen diselesaikan dengan mesin atau robot. Bahkan, konektivitas saat ini memampukan relasi kuat machine-to-machine. Namun, jangan salah sangka. Konsumen di era ini justru ingin tetap membutuhkan relasi dan komunikasi yang human-to-human. Buat apa semua serba teknologi kalau ujungnya justru membuat konsumen merasa terasing, bingung, dan merasa tak diperhatikan dan dihormati dalam pelayanan. So, sebaiknya teknologi justru semakin memperkuat relasi human ini kepada konsumen.

 

sumber : marketeers.com