Disrupsi : Apakah Air BnB Mengancam Indutri Hotel ?

Kehadiran AirBnB memberikan warna baru dalam industry perhotelan. Ia memberikan pilihan bagi mereka yang mencari tempat tinggal dengan harga yang terjangkau.

Cara booking hunian di Air BnB ini memang mudah. Bisa dari situsnya atau dari aplikasi ponsel pintar. Tinggal mencari kota yang akan kita singgahi. Kemudian ada saringan seperti harga maksimal per malam, jumlah kamar, hingga ketentuan khusus seperti ada ruang merokok atau tidak.

Pendiri Airbnb bukanlah pemilik properti. Dia hanya jadi perantara untuk sistem sharing economy. Sama saja dengan yang sudah diterapkan di Uber, Grab Bike, atau Gojek. Sebagai perantara, Airbnb memungut upah antara 6 hingga 12 persen dari jumlah yang dibayar tamu, dan 3 persen dari yang diterima tuan rumah.

Secara rata-rata, sekitar 68 persen yang disewakan di Airbnb adalah rumah. Sedangkan kamar privat hanya 30 persen. Sisanya, kurang dari 2 persen adalah kamar untuk ramai-ramai. Ini artinya, “image” Airbnb sudah bergerak lebih maju. Dulu di awal kemunculannya, Airbnb hanya dianggap sebagai Couch Surfing baru. Di mana para pelancong akan menumpang atau menyewa kamar saat berlibur. Namun kini semakin banyak yang menyewa satu rumah.

Ini artinya, mulai ada pergeseran preferensi penginapan. Kini Airbnb sudah bisa berhadap-hadapan dengan hotel. Tanda-tandanya bisa terlihat dari tingkat okupansi dan juga pendapatan Airbnb. Di Kota New York, misalkan. Pada 2010, pendapatan Airbnb hanya 13 juta dolar. Pada 2014 jumlah ini melonjak jadi 319 juta dolar. Tahun lalu, pendapatan Airbnb dari kota Apel Besar ini meningkat jadi 451 juta dolar. New York memang termasuk kota dengan pertumbuhan Airbnb yang paling cepat.

Apakah Air BnB Mengancam Hotel?

Saat ada hal baru, sudah pasti itu akan mengancam sesuatu yang sudah mapan sebelumnya. Dalam hal penginapan, Airbnb sudah pasti akan memengaruhi tingkat okupansi hotel dan industrinya secara keseluruhan.

Sekarang saja, hotel mulai babak belur dengan adanya Airbnb. Menurut lembaga konsultan HVS Consulting & Valuation, industri hotel kehilangan sekitar 450 juta dolar pendapatan langsung setiap tahun gara-gara Airbnb. Antara September 2014 hingga Agustus 2015, ada sekitar 480 ribu kamar hotel yang dipesan. Pemesanan Airbnb di periode yang sama? Sudah mencapai 2,8 juta. Menurut HVS, pada 2018 diperkirakan pemesanan kamar akan mencapai 5 juta.

Masalahnya, hotel adalah industri yang saling terkait dengan industri lain. Pengurangan okupansi hotel, juga akan berdampak berkurangnya pendapatan dari sektor makanan dan minuman yang biasanya disediakan pihak hotel. Sekitar 108 juta dolar pendapatan dari makanan dan minuman (88 juta untuk makanan dan 20 juta untuk minuman) akan hilang karena para pelancong lebih memilih pesan hunian di Airbnb. Belum lagi tips dan berbagai service fee lain.
Airbnb unggul pula perihal ongkos produksi. Semisal angka hunian rendah, pemilik properti juga tidak harus menanggung biaya karyawan. Properti pun bisa disewakan seperti biasa. Properti yang biasanya kosong dan tidak produktif pun kini bisa disewakan dan menghasilkan. Membuat kemungkinan berkembangnya Airbnb sangat terbuka lebar.

Dengan angka pertumbuhan yang cepat, wajar kalau hotel konvensional khawatir. Apalagi menurut CBRE, Airbnb masih akan berjaya dalam masa-masa mendatang. Tentu ini bukan tanpa aral. Airbnb masih bermasalah dengan, antara lain, pencurian barang, pajak, hingga masalah hukum dan perizinan.

Dan lagi, ternyata sewa Airbnb selalu lebih murah ketimbang hotel itu adalah mitos. Sebab menurut CBRE, dari September 2014 hingga September 2015, rata-rata harga sewa kamar Airbnb adalah 148 dolar. Lebih tinggi ketimbang hotel yang rata-ratanya hanya 119 dolar. Harga yang lebih mahal ini karena biasanya properti yang disewakan memiliki fasilitas seperti dapur, mesin cuci, dan juga termasuk sarapan.

Tapi pengaruh Airbnb akan tetap besar, terutama bagi industri hotel. Airbnb paling tidak akan memengaruhi hotel dalam dua hal. Pertama, harga Average Daily Room(ADR) hotel akan turun. Tentu hotel terpaksa menurunkan harga kamar agar tidak kalah saing dengan Airbnb. Hotel juga tidak lagi bisa menaikkan harga seenaknya ketika peak season. Sistem monopoli seperti ini akan berakhir.

Pengaruh kedua akan ada pada pembangunan hotel. Dengan semakin berkembangnya Airbnb, pengusaha akan berpikir ulang untuk membangun hotel baru. Tingkat hunian hotel sekarang sudah mulai terbagi dengan Airbnb. Ditambah dengan semakin kuatnya Airbnb, membangun hotel baru yang butuh model besar tentu bukan pilihan yang bijak.

sumber utama : tirto.co.id

Ketidaktahuan : Waspadalah jika pengetahuan anda sudah “kadaluarsa”.

Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketika kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet/kadaluarsa dan tak relevan lagi, di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

Unlearn

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan.

Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Karena itu di era disrupsi saat ini “unlearning” itu menjadi sangat penting. Untuk adaptif dan cepat merespons datangnya disrupsi, mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Apa konsekuensinya jika kita merasa tak tahu semua? Dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru akibat datangnya disrupsi maka rasa keingintahuan kita akan begitu menyala-nyala.

Keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengeksplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses melewati disrupsi.

So, ketidaktahuan saja tidak cukup, kita juga perlu keingintahuan.

Untuk sukses melewati disrupsi kita harus memiliki dua mindset sekaligus: ketidaktahuan dan keingintahuan.

Ketidaktahuan memungkinkan kita menjadi agile learner. Sementara keingintahuan memungkinkan kita menjadi fast learner.

Agile learner menjadikan kita begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses melewati disrupsi. Sementara fast learner memungkinkan kita super cepat menemukan formula sukses melewati disrupsi.

 

Sumber : yuswohady.com