Perilaku Millenial Traveler di Asia Tenggara

millennial-travelers-image-for-blog

Kalangan milenial terkenal akan kebiasaan mereka dalam hal berwisata. Bahkan mereka rela menabung hanya untuk berkunjung ke lokasi tertentu dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka.

Kebiasaan traveling ini yang pada akhirnya menumbuhkan peluang baru dalam industri pariwisata. Namun, ada beberapa hal yang harus dipahami ketika mencoba menggarap pasar millenial dalam industri pariwisata.

Menurut Karun Budhraja selaku Vice President Corporate Marketing and Communications Asia Pacific Amadeus setidaknya saat ini jumlah milenial di kawasan Asia Pasifik mencapai 45% dari total populasi. Angka ini diprediksi pada 2020 akan memiliki kekuatan daya beli sebesar US$ 6 triliun.

Ia juga menambahkan ada setidaknya 6 perilaku penting yang harus dipahami dari para traveler milenial ini yakni : Pertama, adalah masalah aspirasi. Ini merupakan tantangan buat brand untuk memahami keinginan mereka bahkan sebelum konsumen tahu bahwa mereka butuh.

Kedua, milenial merupakan generasi yang berlomba-lomba mencari pengalaman. Baik dalam bentuk digital dan konvensional. Sebelum melakukan travelling, milenial ini mencari dan mendapatkan inspirasi dari rekanan terdekat mereka. Setelah itu mereka akan mendengarkan pendapat dari digital reviewers dan platform travel seperti Agoda dan TripAdvisor

Sebanyak 54% milenial di Asia Pasifik tetap terhubung dengan Internet selama liburan. 52% terhubung untuk bisa mengakses peta dan lokasi. 49% terhubung dengan alasan untuk bisa memberikan informasi kepada rekanan bahwa mereka aman selama berlibur.

Milenial ini ingin mendapatkan rekomendasi terkait travelling berdasarkan sumber yang tepat. Data dari Amadeus mencatat sebanyak 31% menyukai promosi dari email, 23% dari media sosial, dab 20% dari travel apps.

Bagi Karun, saat ini milenial bukan soal berkunjung saja. Mereka menekankan pentingnya sebuah pengalaman yang nyata ketika berliburan. Bagi para milenial traveler ini  sesuatu yang nyata atau yang benar-benar dekat dengan jati diri mereka akan menjadi hal yang menarik, ketimbang hal-hal yang terlalu dibuat-buat.

 

 

Sumber : marketeers.com

sumber foto : explormerriam.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s