Leisure Economy Jaman Old Vs Jaman Now

 

selfie

Sumber : tripcanvasindonesia

Melambatnya konsumsi yang sempat ramai pada akhir Tahun 2016 sampai sekarang oleh beberapa pihak disebut sebut sebagai salah satu realitas yang menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia. Beragam hipotesis sampai prediksi-prediksi sederhana pun belakangan muncul. Semuanya berusaha membaca kondisi sebenarnya yang membuat konsumsi masyarakat tumbuh melemah.

Prediksi terkait dengan gaya hidup yang lebih menyukai asupan sehat, makin giat berolahraga, hingga memilih menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya rekreasi, sering disebut sebagai penyebab berkurangnya konsumsi ritel di masyarakat. Bahasa ekonominya, ada shifting yang terjadi, jika sebelumnya orang Indonesia gemar berbelanja, di zaman now orang lebih menggemari leisure economy.

Petumbuhan kelas menengah dan generasi milenial menjadi perhatian tersendiri sebagai penyebab dari perubahan perilaku ke leisure economy. Menurut ekonom Faisal Basri, setidaknya pada tahun ini jumlah kelas menengah nusantara telah mencapai 60% dari total masyarakat.

Berdasarkan laporan survey Nielsen, di Indonesia diketahui bahwa 46% konsumennya lebih royal menghabiskan uangnya untuk kebutuhan yang bersifat gaya hidup maupun pengalaman. Makan di luar rumah, berekreasi, memanjakan diri di salon, hingga berwisata ke destinasi menarik menjadi prioritas dibandingkan membeli barang-barang kebutuhan sekunder.

Leisure Economy “Jaman Old”

Dalam pandangan saya sebagai orang awam, leisure economy “jaman old” ini adalah leisure economy yang digerakkan oleh kelas menengah baru yang sebagian besar dihuni oleh generasi Y, yang mayoritas menjadi keluarga muda di tahun ini. Leisure economy jaman old ini, muncul sebagai bentuk pelampiasan gen Y karena tekanan pekerjaan dan rutinitas yang membosankan. Diakui atau tidak, banyak orang terjebak dalam situasi ekonomi kegentingan waktu (time crunch economy). Ekonomi yang menggambar situasi dimana orang seakan-akan kekurangan waktu. Orang sering dalam situasi keterburu-buruan. Orang yang dikejar-kejar pekerjaan yang semakin menumpuk dan segera diselesaikan sehingga dua puluh empat sehari seakan masih kurang. Banyak dari rekan rekan kerja saya yang harus berangkat jam 5 pagi dan baru sampai rumah baru jam 9 malam, lebih parahnya lagi ada dari mereka yang dirumahpun masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Sebagai bentuk pelampiasan terhadap kepenatan itulah akhirnya banyak dari kalangan kelas menengah ini mengalokasikan budgetnya untuk mengkonsumsi apa apa yang membuatnya senang dan nyaman seperti berwisata, makan di restoran dan sebagainya.

Leisure Economy “jaman now”

Dalam perjalanan saya ke beberapa Kota, khususnya yang di kenal sebagai Kota basis wisata. Cukup sering saya bertanya kepada para driver online yang saya tumpangi. Ada hal hal menarik yang kemudian menjadi pembicaraan kami. Si driver online tersebut bercerita kepada saya bahwa, dia beberapa kali mengantarkan pelancong yang datang ke Malang hanya untuk menikmati apa yang saya sebut dengan “digital tourism”. Digital tourism yang saya maksud disini adalah orang yang berwisata bukan untuk menikmati dan bersantai ditempat wisata yang dimaksud, namun hanya untuk mengambil foto dan di upload ke media social yang menunjukkan bahwa ia telah berkunjung ke wisata tersebut.

Ya inilah keunikan para penikmat leisure economy jaman now. Berbeda dengan leisure economi “jaman old” dimana lebih membutuhkan ketenangan dan menikmati tempat wisata. Generasi leisure conomy “jaman now” lebih membutuhkan pengakuan di media sosial.

Dalam sebuah gelaran pelatihan “Marketing in Disruption” Profesor Rhenald Kasali iseng bertanya kepada para pesertanya : “ Apakah anda pernah selfie dan lalu fotonya anda post di instagram atau facebook ?”.  “Sering” itulah jawaban yang keluar dari mayoritas peserta.

Pertanyaan selanjutnya adalah : “ apa yang anda rasakan bila dalam tempo satu-dua jam kemudian tak ada yang memberi respon berupa “love” atau “like”. Tiba tiba kelas hening, menunjukkan muka para peserta yang gelisah, namun sesaat kemudian mereka menertawakan diri sendiri.

Inilah yang kemudian saya sebut dengan leisure economy “jaman now” atau yang oleh Prof. Rhenald kasali disebut dengan “Esteem Economy”.

Tiap generasi punya needs yang berbeda. Generasi baby boomers dan generasi X membutuhkan “leisure” dalam artian menikmati waktu, harta dan sebagainya, sedangkan  millennials (khususnya gen Z dan sebagian Gen Y) butuh esteem. Mereka mencari share, “like” atau jempol karena difasilitasi medsos. Ini persis dengan yang dilakukan oleh beberapa rumah makan kekinian. Makanannya mungkin biasa saja. Tetapi, tak henti-hentinya pengunjung berdatangan, karena disitu menyediakan tempat foto yang menarik untuk dijadikan background selfie/wefie.

Rasa ingin tampil dan eksis di dunia maya akhirnya mendorong masyarakat untuk mengunjungi berbagai lokasi tertentu yang dianggap mampu menghasilkan foto-foto keren untuk dipajang di akun mereka. Lokasi yang instagramable pun jadi buruan. Plus, demam “My Trip My Advanture” dimana banyak artis yang pakai media sosial, jalan-jalan ke suatu tempat, lalu foto. Akhirnya, para fansnya juga mau ikut jalan-jalan ke situ untuk foto juga.

Dari ulasan saya diatas masuk kategori manakah anda ? Jaman Old atau Jaman Now ? hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s