Digital Vortex : Industri yang terancam

vortex1

 

“Digital Vampire” adalah sebutan untuk makhluk yang menjadi ancaman di era digital. Istilah “Digital vampire” di kemukakan oleh Pak Yuswohady (salah satu pakar branding) untuk menggambarkan sesosok makhluk yang hobinya bergentayangan siap menghisap darah setiap perusahaan besar (incumbent) yang memiliki model bisnis yang tak beres. Indonesia bisa dibilang memimpin industri rintisan (startup) di Asia Tenggara dengan menjadi kolam terbesar bagi 1.705 perusahaan startup digital, dengan berada di posisi keempat negara yang memiliki jumlah startup terbanyak di dunia.

Menurut Startup Ranking (2017), Indonesia berada di posisi keempat dunia dalam hal jumlah perusahaan rintisan yang berkembang, kalah dari Amerika Serikat yang berada di posisi puncak dengan 28.794 startup, diikuti India (4.713 startup) dan Inggris (2.971 startup). Dan tentu dengan pertumbuhan start up digital ini menjadi sangat wajar apabila potensi munculnya “digital vampire” di Indonesia menjadi cukup besar.

Semua incumbents di seluruh dunia kini paranoid dengan kehadiran digital vampire ini karena mereka begitu massif mendisrupsi industri dan begitu cepat menguasai industri tersebut. Di Tanah Air, kita menyaksikan bagaimana digital vampire seperti Grab dan Uber dalam waktu singkat menggoyahkan dominasi incumbent seperti Blue Bird atau Taxi Express.

Dari sektor perbankan, industri fintech menjadi cukup booming di Indonesia. Kendati nilai transaksinya masih kecil, solusi keuangan yang ditawarkan fintech beririsan langsung dengan jasa keuangan yang ditawarkan perbankan, seperti pembayaran, pinjaman, pendanaan personal, dan aggregator. Menurut data Statista, estimasi nilai industri fintech di Indonesia pada 2017 mencapai US$18,64 miliar. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan nilai transaksi fintech pada 2015 hingga 2021 berada di kisaran 20% per tahun, sementara kredit perbankan dari 2015-2018 hanya tumbuh 8-9% per tahunnya. Tren tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan fintech yang lebih besar daripada perbankan akan membuat pangsa pasar fintech dalam jasa keuangan makin meningkat ke depan.

Transformasi Digital Adalah Suatu Keharusan

Bukan kebetulan jika semua perusahaan itu menggunakan teknologi digital sebagai “senjata” untuk bertarung di era digital ini. Ya, karena seperti dikatakan Marc Andresseen pendiri Netscape mesin pencari pertama, “digital is eating the world”. Intinya, Andreessen ingin mengatakan bahwa software dan teknologi digital telah memporak-porandakan industri konvensional. Apapun perusahaan yang tidak mengadopsi digital akan ditelan pesaing-pesaing digital, yang tak lain adalah perusahaan perangkat lunak (software company).

 

Menurut studi terbaru bertajuk “Workforce Transformation in the Digital Vortex” yang disusun oleh Digital Business Transformation Center (DBT Center), sebuah inisiatif dari IMD dan Cisco, menyatakan bahwa perusahaan yang mengabaikan transformasi digital untuk bisnisnya, akan gagal dalam membangun kapabilitas yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan di era disrupsi digital.

Studi ini juga menemukan bahwa kurang dari 10 persen perusahaan berhasil mencapai level tinggi dalam tiga kapabilitas yang dibutuhkan untuk transformasi bisnis digital: kepekaan tinggi terhadap situasi, pengambil keputusan berdasarkan informasi yang cukup atau informed decision-making, serta eksekusi cepat. Seperti dijelaskan dalam penelitian tersebut, ketiga hal tersebut merupakan kapabilitas dasar yang harus dibangun oleh organisasi untuk dapat bersaing di tengah Pusaran Digital atau Digital Vortex.

Cisco memprediksi bahwa pada tahun 2020 akan ada sekitar 50 miliar benda yang terhubung ke internet dan menghasilkan data dalam jumlah yang sangat besar. Pada kondisi ini, perusahaan harus memastikan bahwa setiap karyawannya telah dibekali dengan kemampuan berkomunikasi dengan cara baru ini maupun menggali insight yang didapat dari pengelolaan data-data tersebut. Dengan demikian, mereka bisa ambil bagian dari peluang besar yang muncul di era digital ini.

Sebuah Peringatan

Beberapa tahun terakhir saya paling getol berburu dan membaca buku-buku mengenai disrupsi digital, termasuk karya dari beberapa tokoh yakni Prof. Rhenald Kasali, Pak Yuswohady, juga Pak Achmad Sugiarto ( Direktur Telkom Sigma). Di samping karena topiknya sedang happening, disrupsi digital merupakan gelombang perubahan yang merombak rule of the game hampir seluruh industri tanpa mengenal ampun. Salah satu buku menarik berjudul Digital Vortex(2016) yang ditulis para pakar dari IMD sebagaimana beberapa hasilnya saya cantumkan di atas.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penggambarannya mengenai proses terjadinya disrupsi digital. Dampak sebuah disrupsi digital terhadap perusahaan dan industri, menurut buku ini, paling mudah digambarkan sebagai sebuah vorteks, karena itu sering disebut vorteks digital (digital vortex).

Vorteks adalah pusaran yang memiliki tenaga dahsyat yang akan menghisap benda apapun yang ada di sekitarnya ke dalam pusat pusaran. Benda-benda yang terhisap ke dalam pusat pusaran ini memiliki kecepatan yang bersifat eksponensial dimana semakin mendekat ke pusat pusaran, kecepatannya mengalami akselerasi yang luar biasa.

Benda-benda yang sudah terperangkap ke dalam pusat pusaran vorteks akan terombang-ambing secara chaotic. Ketika benda-benda tersebut sudah berada di pusat, maka mereka akan saling bertubrukan, tercabik-cabik, terlumat-lumat, dan akhirnya membentuk entitas yang sama sekali lain.

Nah, dalam konteks ini disrupsi digital digambarkan sebagai pusaran hebat yang terjadi di pusat. Sementara perusahaan dan industri yang terdisrupsi digambarkan sebagai benda-benda yang terhisap di pusat pusaran. Begitu perusahaan dan industri sampai di pusat pusaran maka bisnis modelnya akan “tercabik-cabik” dan “terlumat-lumat” dan kemudian membentuk model bisnis baru yang sama sekali lain dengan bentuk awalnya.

Gambar di bawah menggambarkan peta dari berbagai industri yang siap terkena disrupsi. Industri-industri yang dekat dengan pusat pusaran seperti perusahaan teknologi, media dan hiburan, atau ritel adalah industri-industri yang siap dihisap oleh disrupsi digital. Sementara industri-industri yang posisinya lebih jauh dari pusat pusaran seperti farmasi, migas, atau utilitas relatif lebih kecil kemungkinan terkena disrupsi.

vortex

 

Namun apakah perusahaan-perusahaan di posisi terluar akan bisa bersantai-santai karena ancaman disrupsi masih jauh? Rupanya tidak demikian, karena pada akhirnya semua perusahaan akan terkena disrupsi. Ingat, apapun bisnis dan industri Anda, disrupsi digital pasti akan datang menghampiri. Karena itu siap tidak siap Anda harus menyongsongnya.

Sumber gambar: hubforum, IMD-Cisco

Sumber tulisan;

Yuswohady.com

cnbcindonesia.com

Infobanknews.com

Selular.id

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s