Welcome The New Normal

New Normal

Tahun 2016 president letter Astra International bertemakan “Bringing Up To The Next Level”, president letter adalah arahan dari pimpinan tertinggi perusahaan Astra dan grupnya untuk merespon kondisi ekonomi global pada waktu itu yang bisa dibilang “cukup mengkhawatirkan”. Pak Prijono Sugiarto sebagai pimpinan tertinggi perusahaan Astra dengan jelas memberikan contoh contoh perusahaan yang dalam waktu singkat benar benar membawa perubahan bagi perekonomian global sebut saja Apple, Google, Facebook, Amazon dan juga Xiaomi yang dalam waktu 5 Tahun sudah bisa menempati posisi 3 besar dunia sebagai produsen handphone. Berlandaskan dengan pengalaman astra yang telah dibangun, beliau ingin menegaskan kembali bahwa kita pasti bisa melalui masa sulit dengan inovasi inovasi yang dilakukan disetiap perusahaan.

Terinspirasi dari hal tersebut, saya mencoba melakukan analisa terhadap kondisi yang ada, dan kira kira apa yang bisa dilakukan, dalam rangka merespon perlambatan ekonomi yang sedang terjadi.

Orang mengira bahwa pertumbuhan ekonomi kita yang ogah beranjak dari angka 5% selama lima tahun terakhir ini adalah bagian dari ritual siklus bisnis (business cycle) dimana siklus “bearish-bullish” akan berulang dengan sendirinya tiap 5-10 tahun seperti sebelum-sebelumnya.

Tak sedikit pengusaha yang mengeluh targetnya tidak tercapai 3-4 tahun terakhir ini mengatakan, “ekonomi memang sedang mati suri, tapi tunggu saja pasti akan membaik dengan sendirinya.” Mereka “wait & see” dan banyak-banyak berdoa agar boom ekonomi segera datang lagi.

Akankah pertumbuhan ekonomi kita akan membaik kembali, comeback ke tingkat 6% seperti di pertengahan tahun 2000-an, atau bahkan di tingkat 7-8% seperti di tahun-tahun sebelum krisis 1998?

New Normal3

 “Irreversible”
Jawabannya barangkali ya kalau kita tidak mengalami “digital tectonic shifting” sejak pertengahan tahun 2000-an: apa yang sekarang dikenal luas dengan istilah populer: disrupsi digital. Sudah mulai banyak sekali yang membicarakan disrupsi digital ini, dan juga banyak pula koleksi buku saya yang membahas apa disrupsi digital dan bagaimana menyikapinya.

Disrupsi digital mulai terasa dampaknya sejak pertengahan tahun 2000-an (Thomas Friedman journalist majalah “New York Times” menyebut tahun pastinya: 2007) dan kini telah betul-betul menemukan critical mass-nya memengaruhi seluruh sendi bisnis dan ekonomi kita.

Celakanya, pergeseran tektonik yang dihasilkan oleh disrupsi digital ini telah menghasilkan format bisnis-ekonomi yang sama sekali baru dan sedikit kemungkinan bisa dibalik kembali (irreversible). Kini kita mengalami perubahan bisnis-ekonomi yang menetap, menghasilkan sebuah dunia baru yang sudah tidak kompatibel lagi dengan dunia sebelumnya.

Celakanya lagi, format bisnis-ekonomi baru itu memiliki output dan rules of the game yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Pemain yang tak kompatibel akan tenggelam, tergantikan oleh pemain-pemain yang lebih kompatibel.

Jadi singkatnya, kini kita bukannya menghadapi siklus bisnis “bearish-bullish” yang rutin berulang tiap 5-10 tahun, tapi sebuah perubahan menetap dan tak bakal balik kembali (irreversible) menuju sebuah kenormalan baru. “Welcome the new normal.”

Nah dengan berlandaskan analisa tersebut akhirnya saya diundang untuk memberikan sharing, yang kemudian saya beri judul “ Navigating The New Normal”, yang berupa hasil analisa saya, diawali dengan sejarah krisis yang pernah melanda di dunia yakni Tahun 1987, 1998, dan 2008.

Lalu apa “the new normal” itu?

Dalam tulisan kali ini saya membaginya menjadi dua dimensi, yaitu: “Output” dan “Rules of the Game”, hal ini mengacu pada tulisan Pak Yuswohady.

New Output: “More-for-Less Economy”
Kembali ke pertanyaan awal, apakah pertumbuhan ekonomi kita akan kembali ke era sebelum krisis 7-8% atau pertengahan 2000-an 6%? Menurut logika the new normal kemungkinannya kecil. Kenapa?

Disrupsi digital telah menghasilkan ekonomi baru yang saya sabut: “more-for-less economy”. Untuk menjelaskannya saya menggunakan Gojek sebagai contoh. Kenapa layanan Gojek lebih unggul dari ojek pangkalan? Karena Gojek bisa menghasilkan layanan yang “more-for-less” dimana konsumen mendapat benefit yang banyak (more), tapi dengan biaya yang lebih rendah (less).

Benefit-nya (more) berupa: tukang ojek yang lebih terpercaya, kemudahan dan kecepatan mencari ojek via apps, atau kepastian harga. Sementara biayanya (less), berupa tarif yang lebih murah.

Saat ini pemain-pemain ekonomi konvensional sedang tergantikan (tepatnya: “terbilas”) oleh pemain-pemain baru seperti Gojek, Traveloka, atau Tokopedia yang menawarkan konsep value baru “more-for-less” ini. Mereka bakal terbilas, kenapa, karena tak kuat bersaing melawan pemain-pemain baru yang “merusak pasar” dengan extraordinary value ini.

Para pemain konvensional ini masih tertegun-tegun, bagaimana bisa para pemain baru ini memberi benefit 10 kali lipat lebih baik, dengan harga dua atau empat kali lipat lebih murah. Kuncinya adalah digital. Teknologi digitallah yang memungkinkan pemain baru menaikkan benefit 10X dan memangkas biaya 10X pula.

Karena itu Yuswohadi mendefinisikan disrupsi digital secara sederhana sebagai munculnya layanan “more-for-less”. Begitu satu pemain meluncurkan layanan “more-for-less” di dalam suatu industri, maka saat itu pula disrupsi terjadi.

Nah, apa pengaruhnya layanan “more-for-less” di tingkat ekonomi makro? Ketika pengeluaran konsumsi seseorang untuk transportasi sehari-hari berkurang separuhnya karena beralih dari ojek pangkalan ke Gojek, apa pengaruhnya ke GDP (gross domestic product) dan pertumbuhan ekonomi?

Ceteris paribus, tentu saja GDP kita akan mengerut. Ingat sekitar 60% komponen GDP kita datang dari konsumsi rumah tangga. Kalau GDP mengerut maka pertumbuhan ekonomi juga akan lebih rendah. Inilah argumentasinya kenapa ekonomi kita (dan dunia) bakal “flat cenderung turun”.

Tapi apakah pertumbuhan yang “flat cenderung turun” ini menghasilkan output ekonomi yang lebih rendah? Tidak!

Disrupsi digital menghasilkan “super-productive economy” dimana output meningkat 10X dengan penggunaan aset yang 10X lebih kecil. Mengambil contoh Gojek lagi, konsep “sharing economy” memungkinkan Gojek menaikkan output berupa benefit yang jauh lebih besar ke konsumen, sekaligus memangkas biaya-biaya melalui prinsip sharing.

Namun celakanya, output berlipat-lipat yang dihasilkan oleh “more-for-less economy” ini tak sepenuhnya tercatat di dalam GDP konvensional. Apakah kemudahan kita mencari ojek melalui apps tercatat di GDP? Tidak. Apakah kepastian harga yang kita dapatkan dari layanan Gojek tercatat di GDP? Tidak. Itu sebabnya “more-for-less economy” membutuhkan formula perhitungan GDP baru yang lebih relevan.

Di dalam the new normal, pertumbuhan “flat cenderung turun” merupakan keniscayaan, karena kian super-produktifnya ekonomi kita; karena kian super-produktifnya “more-for-less economy”; dan karena super-efisiennya alokasi resources oleh teknologi digital, tentunya dengan bisnis model yang mereka ciptakan.

New Rule of the Game: “Asset-Light Model”
Karena output yang dituntut konsumen adalah produk/layanan yang “more-for-less”, maka pemain yang kompatibel dan survive di the new normal adalah mereka yang mampu menghasilkan produk/layanan yang “more-for-less”.

Untuk mewujudkannya, setiap pemain harus kompatibel dengan rule of the game baru yang disebut “asset-light model”. Dengan menggunakan teknologi digital, pemain harus menggunakan aset sesedikit mungkin untuk menghasilkan output setinggi mungkin.

Mana mungkin kita menghasilkan output setinggi mungkin dengan aset sesedikit mungkin? Nyatanya Gojek bisa. Caranya dengan prinsip sharing. Gojek tak perlu punya overhead yang besar (berupa: motor, pengemudi ojek, bengkel, biaya pemeliharaan motor, asuransi karyawan, dll.) untuk menghasilkan layanan yang 10 kali lipat lebih bagus dari layanan ojek konvensional.

Inilah new rule of the game yang harus dipatuhi oleh setiap pemain agar mereka sukses di kenormalan baru. Di kenormalan baru, hanya mereka yang piawai memanfaatkan “asset-light model” untuk memberikan layanan yang “more-for-less” lah yang akan memenangkan pasar.

Yang tidak siapa bagaimana? Menjadi keniscayaan pula bahwa mereka bakal terbilas oleh pemain-pemain baru yang lebih relevan.

Sumber tulisan :

yuswohady.com, president letter astra 2016.