Fintech BUMN, Go Pay dan OVO Siapa yang Menang ?

mobile 5

Pembayaran via mobile phone (ponsel) atau mobile payment semakin banyak digunakan dewasa ini. Cara pembayaran ini menjadi satu tren favorit masyarakat di seluruh dunia, demikian juga dengan di Indonesia. Pada tahun 2020, diprediksi transaksi bisnis pembayaran mobile di Indonesia akan mencapai jumlah yang sangat fantastis, sekitar 459 triliun rupiah.

MDI Ventures  dan Mandiri Sekuritas merilis sebuah laporan bertajuk “Mobile Payments in Indonesia: Race to Big Data Domination”. Secara umum layanan mobile payment Indonesia, dimulai pada tahun 2007 dimotori oleh Telkomsel yang merilis layanan T-Cash, lalu disusul Indosat, dan XL Axiata. Selepas tahun 2012 layanan mobile payment mulai beragam, industri perbankan dan pengembang aplikasi mulai masuk di dalamnya.

Ada sebuah berita yang menarik di harian kontan edisi 4 Februari 2019, berita tersebut bertajuk “ BUMN Bersatu menghadang Go Pay & OVO”.

Dominasi dua platform pembayaran yaitu Gopay dan OVO nampaknya telah berhasil membuat gusar Bank Bank plat merah. Bagaimana tidak gusar, riset terbaru dari Financial Times dan DailySosial bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menunjukkan bahwa Gopay merupakan pemimpin system pembayaran di Indonesia, diikuti oleh OVO, sementara T-Cash yang notabene adalah mobile payment milik BUMN berada di posisi ketiga.

mobile3

Jika dilihat dari tahun kelahiran, tentunya T Cash adalah layanan mobile payment paling lama ada di Indonesia. T Cash Lahir pada Tahun 2007 sementara Gopay yang merupakan pelebaran bisnis Gojek Lahir di 2016 di susul OVO dari Grup Lippo lahir di 2017. Namun tentu usia bukanlah jaminan. Terlebih di era disrupsi, dimana agilty sebuah organisasi bisnis akan sangat menentukan performa kerjanya.

Mobile 2

Dikutip dari cnbcindonesia, BUMN segera meluncurkan LinkAja untuk menantang Go-Pay dan OVO di bisnis mobile payment. LinkAja adalah layanan yang mengintegrasikan dompet digital milik Telkomsel dan beberapa bank BUMN.  LinkAja nantinya akan dikelola PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), fintech milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang berada di bawah Telkomsel dan memiliki produk T-Cash. LinkAja berisi penggabungan dari T-Cash milik Telkomsel, Yap! milik Bank BNI, e-Cash milik Bank Mandiri dan T-Bank dari Bank BRI. T-Cash akan bertransformasi menjadi LinkAja mulai 21 Februari 2019.

Namun bersaing dalam bisnis mobile payment dipastikan tidaklah mudah. Banyak pemain lain yang memilih mundur secara teratur karena tak kuat menghadapi Go-Pay dan OVO yang terus menerapkan strategi bakar duit dengan diskon dan cashback.
Kedua startup ini seolah tak ambil pusing dengan rugi yang terus membengkak asal pengguna meningkat. Pengguna yang meningkat diyakini akan membuat banyak investor yang ngantri untuk masuk. Bagi BUMN, rugi merupakan hal yang tabu. Mendapatkan suntikan modal juga tak akan mudah karena banyak mekanisme yang harus dilalui.

Jadi menurut anda apakah bersatunya Banak Bank BUMN untuk melahirkan linkAja akan benar benar bisa meredam Gopay dan OVO ?

Mari kita lihat, yang jelas bahwa semakin kesini disrupsi akan semakin nyata dalam merubah landscape bisnis yang ada. Disrupt or To Be Disrupted.

Sumber : Diambil dari beberapa sumber