Start Up Unicorn dan Pembangunan Ekonomi Indonesia

unic2

Dalam beberapa bulan yang lalu istilah unicorn tiba tiba menjadi trending topic di jagat dunia maya, istilah yang biasanya terbatas dikalangan para pelaku start up ini tiba-tiba menjadi perbincangan Nasional, setelah kata “unicorn” disebut dalam debat capres bulan Februari 2019 kemarin.

Yang menjadi kegelisahan saya pasca unicorn menjadi trending topic adalah ada beberapa pihak yang kemudian menyampaikan pendapatnya bahwa percuma Indonesia memiliki Unicorn tapi investornya datang dari Negara lain, atau yang sering mereka kumandangkan sebagai “Asing/Aseng”. Bahkan beberapa kali saya memantau diskusi pihak yang pro dan kontra statement ini, yang menurut saya jauh dari kata “bisa diterima” karena tidak menyampaikan data dan fakta yang ada, dan mohon maaf malah cenderung menggunakan emosi belaka.

Unicorn sendiri merupakan istilah yang sangat familiar di dunia perusahaan rintisan atau startup. Istilah unicorn digunakan untuk mendeskripsikan perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar atau sekitar 14 Trilyun rupiah. Di Indonesia kini ada 4 perusahaan start up yang masuk kategori Unicorn yakni Gojek yang bermain di sektor transportasi, Traveloka yang bermain di sektor Online Travel Agent (OTA), dan 2 Unicorn lainnya yang bergerak dibidang market place yakni Bukalapak dan Tokopedia. Kabarnya akan ada satu lagi start up yang segera menyandang status Unicorn Indonesia yakni tiket.com, mari kita semua berdoa semoga mas Gaery dan kawan kawan bisa segera mewujudkannya.

Potensi Besar Pengguna Internet Indonesia

Tingginya pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu daya tarik terbesar mengapa banyak investor tertarik untuk berinvestasi di bisnis digital yang ada di Indonesia. Data yang dilansir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebutkan bahwa terdapat 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat operator tak pernah menurunkan dana Capex (capital expenditure) atau belanja modal, terutama BTS 4G demi bisa bersaing dan memperebutkan pangsa pasar pengguna data. Ditambah pemerintah terus menggenjot infrastruktur dibidang telekomunikasi dengan proyek palapa ringnya. Kolaborasi yang baik antar keduanya, pada akhirnya menambah keyakinan para investor untuk menginvestasikan modalnya di Indonesia.

Mari kita mulai dari GoJek. Tercatat, dua perusahaan investasi papan atas asal AS, Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, menjadi pemilik GoJek sejak 2015. Investor lain adalah Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures, Formation Group, KKR, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets. Sokongan para investor asing pada unicorn pertama Indonesia itu, diperkuat dengan kehadiran Google yang menggelontorkan dana Rp 16 triliun pada akhir 2017. Menyusul kemudian, konglomerat lokal Astra International dengan dana investasi Rp 2 triliun. Selain investor asal AS, sinar terang GoJek juga menarik minat pemodal China. Tiga perusahaan raksasa China, yakni Tencent, JD.com dan Meituan Dianping juga telah turut menjadi pemilik Go-Jek (Republika, februari 2018).

Start up Unicorn selanjutnya adalah Tokopedia. Setelah mendapatkan suntikan dana US$1,1 miliar (sekitar Rp14,7 triliun) dari Grup Alibaba, nama Tokopedia kian melambung. Sejak itu, Tokopedia dikukuhkan sebagai unicorn pasca 8 tahun  berdiri dengan total valuasi diperkirakan  US$1,35 miliar.

Bisa dibilang Traveloka merupakan salah satu perusahaan booking travel besar di Asia tenggara. Walau website ini hanya memiliki 120 pegawai saat ini, menerima sekitar 250.000 pengunjung setiap harinya (dictio, Februari 2018). Traveloka mendapatkan suntikan dari investor-investor besar seperti Expedia, East Ventures, Hillhouse Capital Group, Sequoia Capital dan ecommerce dari Cina, JD. Traveloka sendiri mendapatkan pendanaan dari Expedia sebesar 350 juta dolar atau sekitar 4,6 triliun rupiah sedangkan dari investor lainnya tidak disebutkan berapa jumlah pendanaan yang diberikan. Traveloka bekerja sama dengan Expedia untuk menambah layanan akomodasi online secara internasional.

Unicorn keempat Indonesia yakni, Bukalapak diklaim masuk ke tataran unicorn pada November 2017 lalu. Selain Grup Emtek, pemilik jaringan SCTV, dua perusahaan ventura asal AS, yaitu 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga diketahui menanamkan modal di Bukalapak.

Tingginya minat investasi asing khususnya di bidang ICT adalah bagian dari dampak positif bonus demografi dan massifnya pembangunan jaringan broadband (3G dan 4G) oleh para operator seluler di Indonesia. Kombinasi kedua hal itu, ditambah meningkatnya populasi generasi milenial yang melek teknologi, menjadikan Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia Macan Baru Asia.

Kontributor Forbes Elad Natanson sebagaimana dikutip dari katadata, menyebut Indonesia sebagai ‘macan baru’ di Asia Tenggara dalam artikel terbarunya yang berjudul Indonesia: The New Tiger of Southeast Asia yang dimuat Forbes, pada Selasa, 14 Mei 2019. Hal ini diasebabkan karena pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia cukup pesat. Tiga alasan yang membuat Indonesia bisa menjadi ‘macan baru’ di Asia Tenggara. Pertama, usia penduduk Indonesia relatif muda yakni rata-rata 29 tahun. Sebanyak 60% dari total populasinya berusia di bawah 40 tahun. Kedua, 60% penduduk dewasa di Indonesia memiliki ponsel pintar (smartphone). Ketiga, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Sekitar 95% atau 142 juta dari total 150 juta pengguna di Indonesia mengakses internet lewat ponsel.

Presentation1

Kawasan Asia Tenggara (SEA) digadang-gadang sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi internet paling pesat. Dalam satu dekade terakhir, dinamika bisnis digital di berbagai lanskap memang cukup terasa — berupa kemunculan bisnis baru atau penguatan bisnis yang sudah ada dalam investasi besar-besaran.

Menurut hasil penelitian google dan temasex pada laporan riset bertajuk “e-Conomy SEA 2018”. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan paling cepat dan ukuran pasar paling besar di SEA. Tahun 2018 angkanya mencapai $27 miliar, akan menyumbangkan $100 miliar di tahun 2025 mendatang. Pertumbuhannya ekonomi digital di Indonesia sangat pesat, pasalnya pada tahun 2015 lalu angkanya baru mencapai $8 miliar, artinya tahun ini berhasil tumbuh lebih dari 4x lipat. Untuk tahun ini, Thailand menjadi terbesar kedua di angka $12 miliar.

Kiprah Unicorn Bagi Pengembangan Ekonomi Indonesia

Gojek

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) melakukan survei terkait layanan Go-Food dari Gojek sebagai mitra bisnis yang paling menguntungkan secara omzet. Survei dilakukan di sembilan kota antara lain Balikpapan, Bandung, Jabodetabek, Denpasar, Makassar, Medan, Palembang, Surabaya, Yogyakarta.

Hasil penelitian menunjukkan pada akhir tahun 2018, mitra UMKM Go-Food berkontribusi sebesar Rp 18 triliun kepada perekonomian Indonesia. Sebanyak 55 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet dari sejak mereka gabung Go-Food. Sebanyak 72 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food; dan 93 persen responden UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food.

Peningkatan klasifikasi omzet usaha ini menunjukkan UMKM yang bergabung dengan Go-Food mengalami perluasan pasar dan naik kelas, seperti dari mikro ke kecil dari kecil ke menengah. Dengan UMKM yang naik kelas dan usahanya membesar, maka mereka bisa menyerap tenaga kerja dan menyumbang lebih banyak kepada ekonomi daerah atau nasional (Republika, April 2019)

Tokopedia

William Tanuwijaya sang CEO Tokopedia menyampaikan bahwa melalui tokopedia ia telah membantu lebih dari 2,6 juta masyarakat Indonesia untuk memulai dan mengembangkan bisnis secara online. Menariknya, 70% di antara mereka adalah pebisnis baru. Hingga saat ini, Tokopedia telah memiliki jangkauan wilayah sebanyak 93 persen kecamatan di seluruh Indonesia. Tokopedia memiliki beberapa pencapaian signifikan sepanjang tahun 2018. Beberapa pencapaian itu seperti Gross Merchandise Value (GMV). GMV Tokopedia disebut-sebut meningkat pesat hingga 4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya (Merdeka, jan 2019). Memasuki tahun ke-10, Tokopedia akan mengembangkan ekosistemnya menjadi infrastructure-as-a-service (IaaS) dimana teknologi logistik, fulfillment, pembayaran, dan layanan keuangan kami akan memberdayakan perdagangan, baik online maupun offline. Dengan evolusi ini, diharapkan akan mempercepat pencapaian misi dalam pemerataan ekonomi secara digital.

Sementara itu Bukalapak yang juga pemain market place telah menggandeng 700 ribu pelaku usaha mandiri di Indonesia. Diman jumlah pelapak yang bergabung dengan  Bukalapak mencapai 4 juta. Sedangkan jumlah pengguna sudah mencapai 50 juta orang. Saat ini, Bukalapak mencatat GMV perusahaan e-commerce ini tembus Rp 4 triliun per bulan (Katadata, Januari 2019).

Pada Mei 2019 lalu Bukalapak secara resmi meluncurkan fitur BukaGlobal untuk konsumen di Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan Brunei Darrusalam. Fitur ini memungkinkan para penjual di platform Bukalapak dapat menjual barang mereka kepada konsumen di 5 negara tersebut. Dengan adanya fitur BukaGlobal ini diharapkan dapat mendongkrak ekspor produk Indonesia ke Luar Negeri.

Traveloka

Kementerian Pariwisata Indonesia saat ini sedang menggalakkan sepuluh destinasi prioritas baru, yang diharapkan dapat menjadi destinasi pilihan layaknya Pulau Bali yang mampu menyedot banyak turis baik Domestik maupun International.

Bank Indonesia (BI) menegaskan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah kelapa sawit yakni dengan menyumbang devisa sebesar Rp. 246 Trilyun (cnbcindonesia, 2019). Lebih lanjut Perry selaku gubernur BI menyampaikan perolehan devisa dari industri pariwisata nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebab industri pariwisata memiliki klasifikasi bisnis yang beragam, mulai dari transportasi, resort, hotel, restoran hingga UMKM. Sehingga akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Traveloka telah secara resmi bergabung sebagai co-branding Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata. Kolaborasi ini akan mengoptimalkan informasi pariwisata lengkap dengan program Hot Deals-nya. Dengan berbagai macam kemudahan yang dimiliki oleh traveloka, diharapkan akan semakin meningkatkan minat wisatawan untuk berwisata di Indonesia. Secara kapasitas, platform Traveloka merupakan sistem yang besar. Dirilis sejak 2012, Traveloka telah beroperasi pada 6 negara. Selain Indonesia dan Singapura, ada juga Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Aplikasi Traveloka juga sudah diunduh lebih dari 40 Juta pengguna. Selain itu, Traveloka juga menjalin kerjasama dengan lebih dari 100 maskapai low-cost dengan 200 ribu rute di Asia Pasifik dan Eropa. Traveloka juga memiliki banyak inventori akomodasi, seperti hotel, apartemen, guest house, homestay, resor, dan vila yang tentunya akan mempermudah wisatawan untuk menikmati liburan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s