Tren Personalisasi Iklan di Indonesia

personal

Pernahkah anda mengetik keyword tertentu di google, lalu anda akan menjumpai iklan yang mirip dengan apa yang anda cari tadi di media sosial yang anda miliki ? sadar atau tidak search engine telah disetting sedemikian rupa untuk dapat membaca perilaku kita, agar kita mendapat feedback yang lebih personal atas apa yang sedang kita cari.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, perusahaan teknologi berlomba mengadopsi big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memperkirakan, layanan yang dipersonalisasi juga akan menjadi tren di Indonesia. Riset Technavio pada 2017 menyebutkan, nilai pasar dari layanan yang dipersonalisasi secara global akan mencapai US$ 31 miliar atau sekitar Rp 437,1 triliun pada 2021.

Alasannya, platform seperti e-commerce menyajikan beragam produk konsumen. Alhasil, konsumen butuh layanan dan tampilan platform yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu, perusahaan akan melakukan personalisasi layanan guna menggaet konsumen yang lebih banyak lagi. Terlebih hasil riset facebook menyebut mayoritas responden batal berbelanja karena iklan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Studi tersebut bertajuk Zero Friction Future, yang dikerjakan Facebook bersama Boston Consulting Group (BSC) dan Growth for Knowledge (GfK). Berdasarkan riset itu, 94% masyarakat Indonesia menemukan friksi atau hambatan saat berbelanja. Alhasil, 54% di antaranya batal berbelanja. Friksi yang dimaksud, seperti iklan yang tidak relevan dengan keinginan konsumen, kurangnya informasi atau ulasan terkait suatu produk hingga rumitnya proses transaksi. Ketidaktahuan pelaku usaha mengenai keinginan konsumen ini membuat mereka kehilangan pendapatan.

Perusahaan teknologi yang sudah menerapkan personalisasi diantaranya seperti Gojek, Grab, Shopee, Lazada, dan lain lain. Adapun perusahaan pengembang media sosial yang juga melakukan personalisasi atas iklannya yakni Instagram dan Facebook   dengan tujuan iklan lebih tepat sasaran. Karenanya, iklan yang tampil di setiap akun akan berbeda, tergantung kebiasaan masing-masing pengguna.

Riset Deloitte pada 2015 menunjukkan, konsumen bersedia membayar 10-50% lebih banyak untuk produk yang dipersonalisasi. Hasil studi menunjukkan beberapa produk yang diharapkan konsumen untuk disesuaikan dengan kebutuhannya adalah perlengkapan rumah tangga, busana, otomotif, mainan dan gim, kosmetik, makanan dan minuman, dan produk kesehatan. Personalisasi sangat berpengaruh dalam menciptakan pengalaman konsumen yang lebih baik. Strategi ini juga dinilai bisa meningkatkan loyalitas konsumen dan sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis dan penetrasi ke pasar (speed to market). Jadi jangan heran kalau semakin kesini iklan iklan yang kita temui akan semakin personal, karena memang pelaku bisnis ingin menyajikan iklan yang relevan sehingga tingkat ketertarikan untuk membeli sebuah produk meningkat.

sumber : katadata.co.id/ Cindy M Annur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s