Konsumsi Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Investasi Startup Asia

Investment-Landscape-in-Asia-TIA-Conference-Featured

Jumlah kelas menengah yang terus mengalami peningkatan menjadi penggerak utama investasi startup di Asia. Gejala tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Vietnam.

Data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan, populasi dunia akan tumbuh hingga 8,2 miliar jiwa pada 2030 nanti, di mana Cina dan India akan menjadi rumah bagi sekitar 66 persen kelas menengah global.

Beberapa ahli memproyeksikan, negara-negara di Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan kelas menengah hingga lebih dari 500 persen hingga 2030, jauh melampaui pertumbuhan kelas menengah di Eropa dan Amerika yang masing-masing hanya 2 dan 5 persen.

Pada 2011, jumlah kelas menengah di Asia telah mencakup seluruh populasi penduduk di Eropa. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,5 miliar kelas menengah di Asia yang menginginkan standar lebih tinggi pada kebutuhan hidupnya, seperti untuk makanan, pariwisata, pendidikan, kesehatan, barang mewah, hingga properti.

Perspektif dari tiga partner perusahaan modal ventura

Kuo-Yi Lim selaku Managing Partner Monk’s Hill Ventures menyatakan populasi kelas menengah menjadi kekuatan ekonomi tersendiri di Asia Tenggara. Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya model bisnis yang bagus bagi startup untuk dapat bertahan di tengah persaingan. Menurutnya, salah satu tanda sebuah startup memiliki model bisnis yang baik adalah menawarkan produk atau layanan yang menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat.

“Indonesia adalah salah satu contoh sukses investasi yang berkembang. Saat ini juga ada peningkatan energi dan aktivitas wirausaha di Vietnam.  Di luar dua negara itu, pasar Asia Tenggara sebenarnya tak terlalu besar,” ujar Lim.

Monk Hill’s Ventures adalah perusahaan modal ventura yang berinvestasi di tahap awal, khususnya post-seed pada startup teknologi di Asia Tenggara. Sejumlah startup yang ada di portfolionya antara lain CekAjaGlintsKulinaWaresix, dan masih banyak lainnya.

read also

Founding Partner Golden Gate Ventures Vinnie Lauria menyatakan, pertambahan populasi kelas menengah mengakibatkan peningkatan konsumsi per kapita. Ia menilai Peningkatan daya beli menjadi salah satu momentum baik bagi startup untuk memasarkan usaha masing-masing.

“Selama lima hingga enam tahun terakhir, negara di Asia juga mengalami perkembangan internet yang cukup pesat. E-commerce mengambil peran yang cukup besar di kawasan ini, tetapi baru menjangkau tiga persen dari total transaksi retail,” ungkap Lauria. “Masih banyak potensi yang bisa kembangkan.”

Lauria menambahkan, biasanya sebuah startup membutuhkan waktu setidaknya 8-10 tahun untuk mencapai kesuksesan. Lokalisasi juga memainkan peranan penting bagi perusahaan teknologi dalam memasarkan produk masing-masing.

Ia menilai penawaran saham ke publik (IPO) belum jadi strategi exit yang populer di antara para pendiri perusahaan teknologi di Asia, khususnya Asia Tenggara. Meski demikian, aksi korporasi seperti akuisisi startup lain yang lebih kecil untuk bergabung ke dalam ekosistem berjalan cukup agresif. Lauria menyebut Gojek sebagai salah satu perusahaan yang aktif mencaplok perusahaan lain untuk meningkatkan valuasi bisnisnya.

East Ventures Founder

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menyatakan iklim investasi startup di Indonesia saat ini cukup stabil. Selain memiliki kelas menengah yang cukup besar dan cenderung mudah untuk diakusisi, dukungan besar dari pemerintah terhadap ekonomi digital juga memainkan peran tersendiri.

“Valuasi startup terus meningkat. Hal ini berarti adanya pasokan yang lebih banyak dari permintaan sehingga valuasi meningkat. Pada akhirnya kami tidak hanya berinvestasi, tetapi juga memantau peningkatan valuasi startup,” ungkapnya.

Cuaca menambahkan, pada 2017 lalu analisis internal perusahaannya menunjukkan sebanyak 70 persen pendanaan Seri A bagi startup di Indonesia mengalir dari East Ventures. Membaca data tersebut, pihaknya lalu membentuk dana kelolaan baru bernama EV Growth yang merupakan prusahaan patungan antara East Ventures, SMDV, dan YJ Capital Inc untuk merespons kebutuhan pendanaan di tingkat pertumbuhan, dengan putaran pendanaan pertama senilai Rp2,9 triliun.

Jumlah kesepakatan meningkat, tapi nominal turun

Capital Invested in SEA | Chart

Laporan bertajuk Southeast Asia Tech Investment H1-2019 yang dipublikasikan Cento Ventures menyatakan tren pendanaan perusahaan rintisan, baik di regional Asia Tenggara maupun Indonesia, pada paruh pertama tahun ini sama-sama mengalami penurunan dari tahun lalu.

Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar (sekitar Rp85 triliun) sepanjang paruh pertama 2019, menurun 27 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar (Rp117 triliun). Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta (Rp9,6 triliun), anjlok dari semester pertama tahun lalu yang mencapai US$4 miliar (Rp56 triliun).

Dalam laporannya, Cento Ventures menyebut Indonesia dan Singapura masih menyerap mayoritas investasi perusahaan rintisan yang ada di Asia Tenggara, diikuti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina yang mengalami peningkatan.

 

Sumber Techinasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s