Strategi Jangka Panjang LinkAja Menghadapi Persaingan Dompet Digital di Indonesia

 

Peta kondisi persaingan dompet elektronik di Indonesia hingga kini masih menjadi topik hangat yang menarik untuk dibicarakan. Berdasarkan riset konsumen aplikasi pembayaran digital yang dirilis oleh Snapcart bulan Juli 2019 lalu, terdapat empat layanan dompet digital yang saling berebut pasar saat ini, yakni OVOGopayDana, dan LinkAja.

Dari sekian dompet digital tersebut, LinkAja bisa dibilang merupakan layanan yang tidak secara spesifik menggempur segmen konsumsi kelas menengah atas. Apalagi dengan aneka ragam promosi dan maupun klaim terbuka sebagai pengguna dengan pasar terbanyak di Indonesia.

Pantauan Tech in AsiaLinkAja lebih sering bergerak di kawasan perkotaan daerah seperti Banyuwangi, Malang, dan Yogyakarta untuk mengejar fungsi pembayaran sektor yang erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Strategi persebaran adopsi luar kawasan sentral ibukota ini memperlihatkan adanya upaya strategis lain yang tengah dikejar LinkAja.

Berbicara kepada Tech in Asia, Danu Wicaksana selaku CEO LinkAja mengutarakan seperti apa “end game” jangka panjang dari layanan dompet digital mereka. Dan bagaimana pandangannya terhadap persaingan layanan fintech pembayaran dalam kurun waktu setahun terakhir. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh CEO Link aja tersebut :

Hindari persaingan dengan menarget pasar yang berbeda

Sebagai dompet elektronik hasil merger berbagai layanan pembayaran digital BUMN dengan fondasi di atas infrastruktur Tcash (sebelumnya dompet elektronik milik Telkomsel), LinkAja saat ini tengah berupaya menjadi alat pembayaran universal yang sektor agnostik.

Ini artinya, LinkAja dibuat agar tidak terpaku hanya satu atau beberapa ekosistem digital tertentu seperti yang dilakukan ketiga pemain besar lainnya di Indonesia.

Sikap LinkAja sebagai pemain yang berupaya “netral” ke semua ekosistem ini sebelumnya bisa terlihat dari kerja sama strategis antara mereka dengan Gojek untuk rencana ketersediaan opsi pembayaran non tunai LinkAja di layanan transportasi online mereka.

Tidak hanya itu saja, opsi pembayaran menggunakan LinkAja juga bisa ditemukan di e-commerce besar seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Pendekatan universal ini diakui Danu sebagai salah satu value proposition yang dari awal pihaknya telah upayakan supaya dapat menjangkau adopsi pengguna yang lebih luas lagi.

Salah satu hal yang dari awal LinkAja upayakan adalah memahami kekuatan kita dan mencari use case apa yang bisa ditawarkan ke pasar. Kasarnya kita harus tahu target market pasar kita itu siapa.

 Danu Wicaksana, CEO LinkAja

Danu menggambarkan, ketika Tcash merger menjadi LinkAja, posisi pasar saat itu sudah sangat jauh berbeda dibandingkan saat Tcash pertama kali masuk ke pasaran.

“Hal ini mendorong kami untuk mengubah strategi cukup signifikan, karena pemain lain di Indonesia sudah memiliki funding yang cukup kuat di segmen target market yang kami sebut convinience di kawasan perkotaan.”

Kondisi tadi membuat pihak LinkAja tidak berminat untuk head-to-head menghadapi persaingan promo seperti cashback atau sejenisnya.

Hingga di bulan keempat perkembangannya, LinkAja lebih tertarik fokus melebarkan sayap kepada pengadopsian sektor lain seperti pembayaran transportasi umum, kereta, transaksi SPBU, jalan tol, dan beragam layanan lain yang didukung perusahaan BUMN lainnya.

Prioritaskan adopsi di kota tier kedua dan ketiga

Danu berpandangan, di masa mendatang fokus perkembangan dompet digital di Indonesia akan terbagi menjadi dua sektor.

  • Sektor pertama yakni kebutuhan convinience yang saat ini digarap oleh nama-nama besar seperti OVO, Gopay, dan Dana di kota besar.
  • Lalu sektor kedua adalah mass middle market, yaitu jenis dompet digital yang dipakai untuk kebutuhan fundamental sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan dompet digital di sektor pasar kedua tadi, Danu menjelaskan saat ini pihaknya tengah mengupayakan strategi growth yang matang dalam waktu singkat.

Pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Managing Director Berrybenka ini optimis bisa memenuhi tantangan scaling bagi LinkAja dengan berbekal aset dan akses yang dimiliki perusahaan pelat merah lainnya.

Akses ke sejumlah aset BUMN ini menjadi poin kelebihan LinkAja yang turut mendorong fokus pengembangannya di kota-kota tier dua dan tiga Indonesia.

Salah satu akses aset BUMN potensial adalah afiliasi LinkAja dengan Bank Himbara yang menaungi layanan Anjungan Tunai Mandiri ATM Link. Dengan kemiripan nama brand yang dimiliki keduanya, pengguna layanan LinkAja bahkan bisa menarik uang tunai ke mesin ATM Link yang tersebar di berbagai pelosok daerah.

read also

Bidik potensi inklusi keuangan yang lebih massal

Danu mengatakan, rata-rata adopsi penggunaan dompet digital di Indonesia sudah sangat terkonsentrasi di Jabodetabek. Salah satu layanan dompet digital yang namanya tidak disebutkan bahkan adopsi penggunaanya di kawasan Jabodetabek bisa mencapai angka 70 persen.

Temuan inilah yang mendorong pihak LinkAja untuk mencari ceruk adopsi pengguna dompet lain yang lebih luas dengan tidak terkonsentrasi penuh di kawasan perkotaan tier satu seperti Jakarta dan sekitarnya.

Meskipun baru mulai meluncur ke publik pada Juli 2019, pihak LinkAja sudah menargetkan jumlah pengguna sebesar 40 juta orang. Pada bulan Oktober 2019, jumlah pengguna terdaftar di LinkAja diklaim telah menyentuh angka 33 juta orang.

Menurut Danu, target angka demikian besar tadi di satu sisi juga terbantu lewat akses LinkAja di ponsel konvesional melalui layanan USSD bagi pengguna operator Telkomsel. Target adopsi jumlah pengguna awal LinkAja yang demikian besar tadi, menurut Danu selaras dengan misi inklusi keuangan digital yang juga cukup sering digaungkan oleh pemain dompet elektronik lainnya di Indonesia.

Meskipun garis besar inklusi keuangan dompet digital ini kurang lebih sama, namun Danu mengungkapkan bahwa gol akhir dari segmen pasar yang hendak dicapai LinkAja akan lebih masif, semua ini karena peluang konsumen layanan BUMN lain yang akan dipayungi oleh dompet elektronik tersebut.

Untuk persiapan di tahun 2020 mendatang, Danu menambahkan ke depannya ekosistem pengadopsi LinkAja juga akan semakin luas seiring dengan proses masuknya tujuh entitas shareholder baru dari kalangan BUMN seperti AngkasaPura, Taspen, dan lain-lain.

 

Sumber : Techinasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s