Upaya Korporasi Besar Berinovasi dan Tip Agar Startup Bisa Berkolaborasi

Astra Digital

Jika dibandingkan dengan startup, korporasi besar kerap diidentikan sebagai entitas yang sulit menghadirkan inovasi yang cepat. Beberapa hal ini sering kali menjadi alasan dibalik macetnya inovasi-inovasi baru yang lahir dari rahim korporasi.

  • Soal akses birokrasi perusahaan yang rumit,
  • skala produksi yang besar, hingga
  • kendala ketersediaan waktu.

Namun begitu, saat ini sudah banyak korporasi yang mulai berbenah. Beberapa muncul inisiatif baru, baik dari internal maupun yang melibatkan pihak eksternal. Beberapa perusahaan bahkan mulai terbuka dan mengajak startup berkolaborasi demi memenuhi kebutuhan pasar.

Mendorong inovasi internal lewat program akselerator

Inovasi bisa datang dari mana saja. Termasuk dari internal perusahaan. Hal inilah yang diupayakan Coca Cola Amatil Indonesia melalui inisiatif Amatil X pada tahun 2018. Program ini merupakan wadah akselerator khusus bagi karyawan mereka yang memiliki ide inovasi bisnis.

Shark-Tank-Amatil-X-2

Amatil X membantu memfasilitasi karyawan mereka untuk megembangkan ide inovasi. Saat ini Coca Cola Amatil fokus mencari solusi dan inovasi di bidang logistik dan optimalisasi distribusi, analisis ketersediaan produk, dan pengemasan berkelanjutan.

Bisnis besar kata Alix Rimington selaku Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil, cenderung hanya fokus pada pembaruan skala besar. Di sisi lain, pola pikir ala startup memiliki ide kemudian menguji dan mempelajarinya.

“Setelah mempelajari akan diubah lagi jika diperlukan, untuk kemudian kembali diuji dan dipelajari lagi secara terus-menerus,” katanya.

Rimington berharap, inisiasi Amatil X bisa mendorong karyawan lebih kreatif dan berani dalam melahirkan ide pembaruan. Demi menyukseskan ini, Coca-Cola Amatil Indonesia mengundang pakar dari beberapa perusahaan teknologi seperti Gojek dan Tokopedia untuk menjadi mentor.

Selain mempelajari kemampuan teknis untuk kebutuhan riset dan pengembangan, mentor tersebut juga diharap bisa menularkan kultur startup yang identik dengan perubahan dan pengembangan yang cepat.

Yang kami pelajari dari Amatil X di Australia dan Selandia Baru adalah begitu banyak nilai baru yang muncul ketika orang-orang terpapar dengan (ekosistem) startup dan bekerja bersama.

 Alix Rimington, Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil Indonesia

Telkom Indonesia juga menerapkan hal yang sama lewat Amoeba Digital. Program yang dimulai awal 2018 ini menjadi wadah bagi karyawan Telkom yang memiliki ide inovasi digital. Mereka yang terpilih akan dimutasikan ke innovator group, agar bisa fokus mengembangkan dan melakukan validasi ide yang mereka gagas.

Gandeng startup lewat corporate venture capital

Lahirnya banyak startup baru yang menawarkan beragam solusi rupanya juga disambut positif beberapa korporasi besar.

Wesley Harjono, Managing Director Plug and Play Indonesia berpendapat, pola pikir perusahaan besar mulai bergeser. Kini, mereka lebih terbuka untuk mengadopsi inovasi yang dihadirkan oleh startup dibanding memaksakan diri melahirkan inovasi dari tim internal.

“Dibanding memulai semuanya secara internal dari nol, mengadopsi solusi yang sudah dikembangkan startup akan menghemat banyak waktu dan resource (tenaga kerja)”

Hal tersebut diamini oleh Suwandi selaku Head of Business dari Astra Digital Internasional. Sebagai sebuah korporasi raksasa dengan cakupan lini bisnis yang luas, pergerakan mereka dalam mencoba hal baru tidak bisa seleluasa startup.

Hal itu dikarenakan mereka memiliki standar produksi dan operasional yang harus dipenuhi setiap harinya, sehingga tidak ada alokasi waktu dan tenaga yang memadai untuk berinovasi.

Itulah sebabnya Astra mendirikan corporate venture capital (CVC) bernama Astra Digital Internasional. CVC tersebut bertujuan mencari dan memberi pendanaan kepada startup yang bisa bersinergi dengan lini bisnis Astra. Mulai dari sektor otomotif, logistik, layanan finansial, hingga agrikultur.

“Dari sudut pandang korporasi, setiap kita akan berinvestasi, pertanyaan yang ada di kepala kami adalah apakah startup ini nantinya bisa menjadi bagian dari ekosistem Astra,” jelas Suwandi.

Salah satu langkah Astra masuk ke ekosistem startup ketika 2018 lalu menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun ke Gojek Indonesia. Saat itu PT Astra International bersama dengan PT Global Digital Niaga yang menaungi Blibli memimpin pendanaan.

Selain pendanaan, Astra Digital Internasional juga memberikan akses ke startup untuk menguji inovasi mereka dalam ekosistem maupun jaringan pelanggan Astra. Suwandi menilai, kesempatan itu bisa menjadi sarana untuk mematangkan inovasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

edmund carulli | korporasi Salim Group

Langkah serupa juga diambil oleh Salim Group. Sebagai pemain besar di sektor makanan dan retail. CVC yang mereka gagas aktif mencari startup yang bisa menghadirkan inovasi di ekosistem Salim Group dan membawa bisnis mereka berkembang lebih jauh.

Meskipun sudah berhasil menjadi pemimpin pasar di berbagai sektor, Salim Group menyadari peran penting inovasi demi menjaga keberlangsungan bisnis. Selain untuk efisiensi kegiatan operasional, inovasi juga penting agar produk yang dipasarkan tetap relevan dengan pola konsumsi pasar yang terus berubah.

Hal itu yang menjadi acuan utama Salim Group dalam menggandeng startup. Edmund Carulli sebagai Investment Portfolio Manager Salim Group menyatakan, mereka mencari startup yang memiliki inovasi yang matang dan terbukti dibutuhkan pasar, bukan hanya yang tumbuh pesat akibat strategi bakar duit.

Kami lebih tertarik dengan startup dengan sustainable growth, karena inovasi mereka sudah tervalidasi.

 Edmund Carulli, Investment Portfolio Manager Salim Group

Salim Grup juga mendikiran Block71 yang mereka sebut sebagai sebuah innovation factory. Block71 memiliki berbagai peran. Mulai dari pembangun komunitas, akselerator bagi startup, hingga penyedia ruang komunal sebagai wadah bagi para inovator bekerja dan berkolaborasi.

read also

Tip agar startup bisa kolaborasi dengan korporasi besar

Sebagai pihak yang kerap membantu perusahaan merambah inovasi di dunia digital, PT Cyberindo Aditama (CBN Group) membagikan perspektif mereka tentang cara bekerja sama dengan korporasi besar, khususnya di Indonesia

Do not overshoot. Tawarkan inovasi secara bertahap, dengan data serta kalkulasi yang jelas. Jangan tawarkan hal-hal yang tidak mereka butuhkan” kata Dani Sumarsono selaku Presiden CBN Group.

deni sumarsono | korporasi CBN

Dani menegaskan, perubahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan, apalagi jika kasusnya adalah korporasi besar yang telah memiliki kultur dan sistem operasional yang kuat dan kompleks.

Jika dilakukan secara besar-besaran dalam waktu yang bersamaan, bukannya membentuk iklim inovasi malah berpotensi menimbulkan penolakan.

Dani juga melihat, inovasi butuh dukungan kolektif dari seluruh elemen perusahaan, mulai dari jajaran direksi hingga karyawan yang ada di lapangan. Apabila direksi sudah menginstruksikan suatu inovasi namun karyawan belum bersedia mempercayai pembaruan tersebut, Dani mencemaskan kemungkinan besar instruksi tersebut gagal saat dieksekusi.

“Karena memang tidak mudah mengubah cara bekerja seseorang, untuk mengubah kebiasaan. Kuncinya adalah waktu, konsistensi, dan leadership.”

Sementara CEO Kata.ai, Irzan Raditya, merangkum pelajaran penting yang ia dapat dari pengalamannya bekerja sama dengan berbagai korporasi besar menjadi 2R, yaitu:

  • Return of Investment. Sejak awal startup harus menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana perusahaan bisa merasakan manfaat dari inovasi yang ditawarkan.
  • RelationshipIrzan menilai inilah yang cukup menantang karena membangun relationship yang baik membutuhkan waktu, sementara kebanyakan pelaku startup saat ini cenderung ingin melakukan bisnis secara ringkas dan efisien.

Dari dua hal itu, Irzan menyimpulkan tidak bisa ada perubahan radikal yang mendadak di perusahaan berskala besar. Inovasi dan teknologi baru sebaiknya diimplementasikan secara gradual, sambil terus menganalisa masalah apa yang perlu dijadikan prioritas berikutnya.

 

Sumber : techinasia

Diterbitkan oleh Catatanpendi

PEMBELAJAR YANG TAK PERNAH PINTAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: