Menatap Bisnis di Tahun Politik

ihsg

Pada tahun 2018, kondisi pasar Indonesia mengalami volatilitas akibat dari sentimen negatif global yang  disebabkan oleh kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan isu perang dagang antara AS dan China. Hal tersebut diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2019. Pada tahun 2019 ini juga, Indonesia memasuki tahun politik di mana Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) akan dilangsungkan secara serentak pada 17 April mendatang.

Beberapa pengamat politik pun melontarkan pandangannya masing masing, salah satunya adalah Yunarto Wijaya Executive Director Charta Politika. Menurut beliau kondisi politik Indonesia saat ini masih cukup stabil menjelang pilpres dan pileg serentak  pada April nanti.  Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Pak Burhanudin Muhtadi Direktur Eksekutif Indikator Politiik Indonesia, yang saya temui beberapa waktu yang lalu dalam sebuah sesi sharing. Demikian pula dengan catatan Bank Dunia menilai bahwa pemilihan umum (Pemilu) tidak pengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari sisi perekonomian CEO Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi berpendapat bahwa pada tahun 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif didukung oleh pemulihan daya beli domestik. Pasar modal Indonesia pun mulai bergairah di mana para investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, capital inflow sejak 1-17 Januari 2019 sebesar Rp 14,75 triliun. Dari dana tersebut, paling banyak masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 11,48 triliun dan ke pasar saham sebesar Rp 3,21 triliun. Hingga 18 Januari 2019, kapitalisasi pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 7.338 triliun. Dengan Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG) yang terus naik di awal bulan ini hingga menuju level saat ini 6.448. Namun begitu, kita harus tetap waspada dengan kondisi ekonomi global yang dapat berimbas pada kondisi pasar domestik.

Dibidang E-Commerce nampaknya tak ada sedikit pun rasa khawatir terhadap kondisi ekonomi dan industri pada tahun 2019 mendatang. Pasalnya, beragam riset internal dan eksternal menyebutkan bahwa pasar e-commerce Indonesia masih akan terus tumbuh. Riset Global Consumer Insight Survey 2018: Indonesia Results yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia menyebutkan bahwa optimisme pertumbuhan industri e-commerce amat didukung oleh rasa percaya dari konsumen. Disebutkan bahwa sebanyak 73% responden bersedia menghabiskan uang mereka secara lebih banyak untuk belanja online. Padahal rata-rata responden lain di Asia Tenggara, hanya sebesar 53% yang mau membelanjakan uangnya secara lebih. Selain itu, secara mingguan atau bulanan, frekuensi belanja konsumen Indonesia berada di atas rata-rata konsumen di Asia Tenggara dan global.

Barang-barang fesyen dan sepatu (37%), serta produk kesehatan dan kecantikan (35%) merupakan produk yang paling banyak dibeli oleh konsumen Indonesia ketika berbelanja online. Dalam riset tersebut juga ditemui sebanyak 51% responden yang berencana membeli perlengkapan sehari-hari secara online. Uniknya, sebanyak 62% responden tidak mempermasalahkan fakta bahwa platform e-commerce memantau pola belanja dan pembelian masing-masing konsumen.

Optimisme pun turut dirasakan oleh banyak pemain e-commerce di Indonesia. Pada tahun 2018 saja, banyak pemain yang meraup hasil positif dari beragam aktivitas yang mereka lakukan dalam satu tahun ini.

Fajrin Rasyid, President Bukalapak menilai bahwa industri e-commerce pada tahun 2018 ini berhasil tumbuh dua kali lipat. Ia memperkirakan, industri ini besar kemungkinan akan tumbuh di atas angka 50% pada tahun depan. Tak jauh berbeda, Blibli.com juga meraih hasil positif pada tahun 2018. Menurut Senior Marcom & PR Manager Blibli.com Lani Rahayu, penjualan mereka pada kuartal pertama dan kedua positif berkat bulan Ramadan dan gelaran Piala Dunia. Walaupun sempat melambat pada kuartal ketiga, pasca hari raya Lebaran dan kebutuhan tahun ajaran baru. Namun, kuartal keempat dan sampai awal tahun diprediksi akan mengalami pertumbuhan.

Contoh lain, pada pertengahan tahun, Tokopedia menggelar kampanye Ramadan Ekstra yang turut menorehkan sejarah baru bagi Tokopedia. Dalam satu hari, Tokopedia berhasil mencatatkan nilai transaksi setara dengan akumulasi nilai transaksi sepanjang lima tahun pertama (Agustus 2009 – Juni 2014). Dalam 10 menit pertama saja, Tokopedia berhasil mengalahkan angka transaksi sepanjang tahun pertama Tokopedia berdiri (Agustus 2009 –Juli 2010).

Sumber artikel : Marketeers, Jawapos

sumber gambar : tribunnews

Kelirumologi dan Salah Kaprah Tentang Marketing di Zaman Now

Rural signboard - Forward - Backward

Anda pernah  dengar istilah “kelirumologi’? Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang pianis dan pengusaha jamu asal Semarang bernama Jaya Suprana. Pendiri Museum Rekor dunia Indonesia (MURI) ini pernah membahas seputar pemahaman salah kaprah atau keliru tentang apa saja yang kemudian ia labeli sendiri dengan nama kelirumologi.

Menurut definisi Wikipedia, Kelirumologi diartikan sebagai suatu mashab atau paham mempelajari atau menelaah kekeliruan demi mencari kebenaran. Kelirumologi mencoba meluruskan salah kaprah atau kekeliruan pemahaman yang sudah terlanjur dianggap benar oleh masyarakat luas. Jaya mencontohkan, soal air mineral. Soal air mineral, banyak orang menyamakannya dengan Aqua. Padahal, Aqua itu nama merek. Tapi, mereka menjadikannya sebagai identitas sebuah produk. Di sisi lain, ini bisa dipahami sebagai keberhasilan merek Aqua yang mampu membangun top of mind di kategori air mineral.

Meminjam istilah “kelirumologi” Jaya Suprana, Penulis ingin menyuguhkan beberapa beberapa salah kaprah pemahaman tentang marketing.

#01  Marketing sering disamakan dengan selling.

Banyak orang menyamakan marketing dengan aktivitas menjual. Tak heran, bila ada iklan baris di koran yang menawarkan posisi marketing tak lain adalah posisi penjualan. Tak sedikit juga mengidentikkan para sales promotion girl (SPG) sebagai orang marketing itu sendiri. Padahal, Marketing itu memiliki pemahaman yang jauh lebih luas dan di dalamnya ada yang dinamakan selling. Artinya, marketing tidak dipahami secara sempit dengan sekadar jualan, tapi meliput banyak hal, seperti branding, diferensiasi, positioning, dan sebagainya.

#02  Marketing dipersempit dengan sekadar promosi maupun program sales promo.

Sering kekeliruan kedua ini dikaitkan dengan kekeliruan pertama, yakni jualan. Karena motivasinya jualan, biasanya dengan menempuh segala cara, target jualan harus tercapai. Sayangnya, orang cenderung jatuh pada menghalalkan segala cara, termasuk membohongi pelanggan. Maksudnya, penjual lebih sering overpromise pada pelanggan. Padahal, yang didapatkan pelanggan tidak seperti yang dipromosikan. Yang penting, target jualan tercapai. Praktik inilah yang membuat citra marketing menjadi buruk. Citra marketing diidentikan dengan bujuk rayu atau tipu menipu.

#03 Pelanggan adalah Raja

Banyak merek yang masih memposisikan customer adalah raja. Padahal, pemahaman ini sudah tak berlaku alias tak relevan lagi di era yang serba terkoneksi seperti sekarang ini. Bahkan, masih banyak yang memposisikan pelanggan sebagai target yang tak lain adalah objek semata. Inilah Marketing 1.0 yang berorientasi pada produk. Ketika pelanggan diposisikan sebagai raja, pemasar cenderung “menghalalkan segala cara” agar sang raja itu senang. Akibatnya, pemasar cenderung menjilat asal pelanggan senang.

Inilah Marketing 2.0 yang berorientasi pada customer. Sekarang adalah eranya Marketing 3.0, marketing yang berorientasi pada value dan human spirit. Di sini, pelanggan diposisikan sebagai sahabat yang sejajar dengan perusahaan. Sebagai sahabat, pemasar memperlakukan pelanggan sebaik mungkin yang bisa mengembangkan kehidupan pelanggannya dan bukan asal memenuhi keinginan pelanggan.

#04 Yang penting branding dan kemasan bagus

Ada juga yang bilang, marketing itu tak lain sebagai upaya untuk mengemas produk sebagus dan semenarik mungkin. Memang, kemasan dan branding itu penting. Tapi, perusahaan tak boleh sampai di situ saja. Artinya, perusahaan harus memperhatikan konten. Style memang penting karena ini yang membangkitkan daya tarik bagi konsumen atau yang menentukan ketertarikan orang pada pandangan pertama. Tapi, substance juga tak kalah penting. Apalah arti kemasan dan branding yang bagus kalau tidak disertai dengan konten atau produk yang bagus juga. Kalau tidak diimbangi substance yang bagus, konsumen akan merasa tertipu. Dan, di era internet ini, kalau hal ini terjadi, persoalannya bisa menjadi besar karena isunya akan viral dan ke mana-mana. So, style dan substance harus sama-sama bagus.

#05 Saat Internet berkembang, pemasaran offline mati

Ada yang bilang, derasnya arus digitalisasi ini akan mematikan semua yang berbau tradisional atau offline.  Memang, digitalisasi membuat banyak merek yang dulunya mengunggulkan kekuatan konvensional bisnisnya menjadi guncang atau bahkan tutup. Tapi, keliru kalau online seratus persen akan menggantikan offline. Yang benar adalah integrasi antara online dan offline.

Pemasaran offline dan online harus saling mengisi untuk memenangkan hati pelanggan. Offline dibutuhkan untuk membangun interaksi langsung dan pengalaman pelanggan. Sedangkan online dibutuhkan untuk membangun intimacy dengan mereka.

Kita lihat saja sekarang di mana banyak perusahaan digital seperti e-commerce pun membangun pop up store atau ritel fisik untuk membangun kedekatan dengan pelanggan. Misalnya, Amazon, Zalora, Alibaba, dan sebagainya.

Intinya apa? Intinya adalah saatnya pemasar mengandalkan omnichannel yang mengintegrasikan onlinedan offline. Inilah era Marketing 4.0.

#06 Loyalitas pelanggan itu sekadar repeat buying

Kekeliruan selanjutnya adalah loyalitas. Banyak yang masih memahami tingkat loyalitas tertinggi pelanggan adalah ketika pelanggan itu balik dan terus membeli produk kita. Di era sebelum booming internet, pemahaman itu ada benarnya. Tapi, di era konektivitas ini, customer path sudah berubah, dari 4A menjadi 5A. Dulu, yang dimaksud 4A adalah Aware, Attitude, Act, Act Again. Sekarang berubah menjadi 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.

Intinya apa? Intinya, loyalitas sekarang tidak sebatas membeli produk lagi (repeat buying) tapi advokasi atau seberapa banyak orang merekomendasikan sebuah produk atau merek kepada orang lain.

#07 Keren itu ketika serba teknologi

Di era digital, ada pemahaman latah yang mengatakan yang keren itu ketika semua serba teknologi. Keren ketika semua urusan dengan konsumen diselesaikan dengan mesin atau robot. Bahkan, konektivitas saat ini memampukan relasi kuat machine-to-machine. Namun, jangan salah sangka. Konsumen di era ini justru ingin tetap membutuhkan relasi dan komunikasi yang human-to-human. Buat apa semua serba teknologi kalau ujungnya justru membuat konsumen merasa terasing, bingung, dan merasa tak diperhatikan dan dihormati dalam pelayanan. So, sebaiknya teknologi justru semakin memperkuat relasi human ini kepada konsumen.

 

sumber : marketeers.com

4 Kanal untuk Memperkuat Brand pada Konsumen Milenial

consumer4

Sumber gambar : http://www.behavioralhealthnetworkresources.com

Hasil studi “Tetra Pak Index 2017” tentang Connected Consumer baru saja dirilis pada September ini. Hasilnya, 40% masyarakat Indonesia adalah pengguna aktif social media. Sementara itu, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z. Mereka dikenal sebagai generasi yang lahir di era digital dan smartphone sekaligus belanja online sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Data tersebut menjadi salah satu indikasi sekaligus “Warning” bahwa pemilik sekaligus pengelola merek saat ini menghadapi situasi yang lebih menantang dan kompleks. Oleh karena itu, penting bagi pemilik merek untuk memikirkan strategi yang tepat dalam mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Termasuk, mengambil langkah perubahan dan mengembangkan strategi guna menjangkau konsumen yang saling terhubung secara digital tersebut.

Merek yang ingin terlibat dengan konsumen Generasi milenial ini perlu memahami hal apa yang mampu mendorong mereka untuk membeli. Termasuk, bagaimana menciptakan pengalaman menarik yang bisa dirasakan oleh konsumen yang selalu terhubung, baik secara online maupun offline.

Hasil riset ini juga menunjukkan bagaimana perjalanan konsumen mengalami perubahan sebelum mereka memutuskan melakukan pembelian. Menurut statistik dari Econsultancy , 61% dari pelanggan membaca ulasan online sebelum membuat keputusan pembelian. Dan 63% dari pelanggan lebih mungkin untuk melakukan pembelian dari website yang memiliki ulasan pengguna. Setidaknya ada empat sumber informasi yang dijadikan rujukan bagi konsumen milenial yakni social media, user generated content, super leader, dan packaging atau kemasan. Untuk itu, penting bagi para pemasar untuk mempertimbangkan empat hal agar brand mereka menjadi pemenang di hati consumer Milenial ini. Ke ampat hal tersebut adalah :

#1 Social Media. Saat ini sosial media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Cukup dimaklumi, mengingat pengguna sosial media di Indonesia tercatat terus bertumbuh, jumlahnya sangat tinggi, dan terhitung aktif.

Dibandingkan dengan tahun lalu, menurut temuan “Tetra Pak Index 2017”, pertumbuhan penguna internet di Indonesia mencapai 51% atau sekitar 45 juta pengguna. Kemudian, diikuti dengan pertumbuhan sebesar 34% pengguna aktif di sosial media. Sementara itu, konsumen yang mengakses social media melalui mobile juga meningkat sebesar 39%.

#2 User Generated Content (UGC) adalah konten yang dibuat atau dihasilkan oleh audiens (baik itu customer ataupun bukan) dari sebuah brand itu sendiri. Bentuk bentuk UGC diantaranya bisa berupa testimonial, foto, posting blog, tweet, dan video.

#3 Super Leader adalah istilah yang diberikan terhadap influencer masa kini dengan engagement tinggi, juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penetrasi brand di pasar.

Super Leader merupakan konsumen terhubung yang paling aktif dan berpengaruh secara global karena jumlah followernya yang tergolong besar. Super Leader biasanya adalah pengadopsi paling awal, influencer, dan juga sekaligus sebagai trendsetter.

Super Leader biasanya akan melakukan posting komen dan gambar/foto, dengan tujuan untuk menceritakan pengalaman mereka. Konsumen yang terhubung biasanya akan lebih mempercayai mereka dibandingkan dengan konten marketing yang dibuat oleh perusahaan atau pemilik brand, khususnya menyangkut hal-hal terbaru dan menarik untuk dicoba atau dirasakan.

#4 Kemasan Selain itu, hasil temuan Tetra Pak Index 2017 menunjukkan bahwa kemasan memiliki peran penting untuk menjadi pintu gerbang bagi keterlibatan konsumen yang lebih luas. Sebagai contoh, kode digital yang dicetak pada kemasan dapat meningkatkan transparansi penelusuran suatu produk, yang memungkinkan konsumen untuk mengakses informasi tentang produk hingga ke sumbernya.

Sejatinya, kemasan dapat diubah menjadi platform informasi dua arah, di mana brand dapat menangkap data spesifik dan berharga tentang konsumen mereka. Termasuk, berbagi informasi lebih banyak tentang produk itu sendiri.

 

Sumber :

mix.co.id

digitalmarketer.id

 

 

Internet of Things dan Era Baru Digital Commerce

Teknologi telah mengubah wajah ritel, menggeser kekuatan dari merek ke konsumen yang kini memiliki  lebih banyak informasi dan pilihan. Hal ini telah membuat pasar terguncang, yang memungkinkan pesaing yang lebih bertekad untuk muncul sebagai pemimpin baru.

Pada 2020, digital commerce di Asean diperkirakan akan tumbuh mencapai US$32 miliar. Apa yang mendorong ekspansi eksponensial ini? Demografi memainkan peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ini. Sekitar 50% populasi Asean berusia di bawah 30 tahun, dan memasuki masa belanja perdana mereka. Penggunaan internet serta perangkat mobile yang tinggi dan terus tumbuh tanpa henti, dengan 800 juta koneksi mobile dan 480 juta pengguna internet. Kesejahteraan meningkat, didukung pertumbuhan GDP yang melebihi 5% akan menghasilkan 70 juta rumah tangga menjadi konsumen baru.

Sumber Gambar : Marketing.co.id

Pemerintah di seluruh Asean diproyeksikan menginvestasikan US$200 miliar antara 2015-2020 untuk infrastruktur digital, dan menekan sektor swasta untuk meningkatkan bisnisnya. Antara 2014-2016, perusahaan-perusahaan di Asean menginvestasikan US$3 miliar dalam digital commerce, jumlah ini diperkirakan meningkat lebih dari 3 kali lipat menjadi US$10 miliar untuk 4 tahun ke depan.

Konsumen Asia yang berubah

Kekuatan pendorong dibalik semua perubahan ini adalah konsumen. Seiring kehidupan di wilayah Asia yang semakin sibuk, konsumen ingin menyingkirkan aktivitas yang memakan waktu dan lebih memilih terlibat dengan kegiatan yang paling mereka hargai/penting, misalnya menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dengan teknologi terbaik yang berada di tangan mereka, konsumen mengharapkan pengalaman pelanggan yang lancar baik secara online maupun offline. Hampir 1 dari 4 pembelian online sekarang dilakukan di smartphone, dan pada 2020, 65% dari semua transaksi akan dilakukan secara online.

Jatuhnya penjualan brick-and-mortar juga merupakan bukti bagaimana savvy shopper beralih ke perangkat pintar. Konsumen mencari informasi dan membuat keputusan membeli dengan membaca ulasan dari banyak sumber serta membandingkan harga dari dari seluruh aplikasi atau situs web untuk menemukan penawaran terbaik.

Bentuk ecommerce ini diharapkan dapat berubah pada 2020, seiring berkembangnya teknologi untuk mempersiapkan kita menghadapi tahap berikutnya, dimana konsumen bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan sebelum mereka menginginkannya.

Pada saat itu perkawinan Internet of Things (IoT) dan artificial intelligence akhirnya akan membuat rumah lebih cerdas. Smart refrigerator akan mengotomatisasi seluruh proses belanja saat mereka mengantisipasi dan memberi peringatan ketika stok makanan menipis. Voice assisted akan menyajikan informasi secara prediktif dan membantu menyelesaikan pembelian melalui metode pembayaran tanpa batas.

IoT diperkirakan akan menjadi ‘the next big thing’ karena laporan menunjukkan bahwa penggunaan perangkat IoT setiap tahun semakin meningkat. Berikut beberapa dampak IoT terhadap bisnis digital :

1. Kegiatan berbisnis menjadi semakin cepat: IoT memungkinkan aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan pelanggan lebih menuntut efisiensi. Kalau bisnismu memerlukan pengiriman barang carilah perangkat IoT yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan layanan pengiriman yang lebih cepat.

2. Lebih banyak data yang harus di follow up: Sebagai pebisnis online kamu pasti butuh banyak informasi. Perangkat IoT memungkinkan lebih banyak cara berinteraksi kepada konsumen sehingga lebih banyak data yang dapat dihasilkan dari yang sekarang harus kamu pelajari, ditambah lagi dengan kemudahan akses terhadap data. Perangkat IoT akan dapat merekam pola perilaku konsumen bahkan belajar dari mereka dan memberikan saran.

3. Biaya produksi lebih murah: Barang-barang IoT memiliki karakter dapat beroperasi secara independen, sehingga tidak hanya menghemat energi dan sumber daya, tetapi dalam hal produksi barang toko online kamu bisa memotong sebagian budget.

4. Semakin mudah bekerja jarak jauh: Ketika semua perangkat dapat diatur di bawah satu jaringan, akan lebih mudah mengatur segala sesuatu dari  tempat yang jauh. Kamu bisa melakukan pemantauan jarak jauh (remote monitoring) terhadap karyawanmu.

5. Mengatur perangkat menjadi lebih rumit: Salah satu dampak negatif IoT adalah sulitnya beradaptasi dengan perubahan terhadap perangkat-perangkat kita. Tidak akan mudah mengintegrasikan perangkat IoT dengan teknologi lama dan perlu biaya untuk menjaga semua perangkatmu tetap update dengan software terbaru.

IoT dapat dimanfaatkan untuk menawarkan produk-produk berteknologi cerdas. Sebagian mengira bahwa perangkat IoT hanya sebatas ponsel, laptop, atau tablet. Padahal, ada banyak alat lain yang terhubung internet yang termasuk perangkat IoT. Sekarang sudah ada barang-barang yang mendukung sistem otomatisasi rumah, penghematan energi, atau keamanan seperti kunci rumah yang terhubung dengan sensor, sepeda yang bisa mengatur rute, peralatan masak yang bisa mengukur bahan sendiri, atau kabel yang bisa memonitor daya.

Data firma konsultan manajemen McKinsey & Co. menyebutkan, IoT diprediksi memberikan dampak positif pada perekonomian dunia dengan nilai antara US$ 4-11 triliun per tahun, hingga 2025. Business Insider juga memperkirakan pasar perangkat IoT akan menjadi yang terbesar di dunia. Pada 2019, pasar IoT akan lebih besar dari pasar ponsel cerdas, tablet, PC, connected car, dan wearable digabung menjadi satu.

Jadi, sudah siap berbisnis di era Internet of Things?

Sumber :

Marketing.co.id

Sirclo.com

daily.oktagon.co.id

Scaling-up Start Up

Scaleups

Scaling-up atau membesarkan bisnis setelah sebuah startup mencapai “product-market fit” adalah tantangan terbesar setiap startup dan entrepreneur yang membangunnya.

Asal tahu saja sekitar 74% startup di Silicon Valley gagal karena tak mampu membesarkan diri (premature scaling) alias layu sebelum berkembang. Walaupun tak ada angkanya, saya yakin di Indonesia angkanya lebih memprihatinkan di atas 90%.

Di Indonesia, sebagian besar UKM adalah “perusahan bonsai” karena sepanjang hayatnya kecil melulu nggak pernah kunjung membesar karean tak tahu dan tak mampu melakukan scaling-up. Celakanya, ada sebuah anggapan umum yang kini mulai muncul, bahwa menjadi startup dan UKM itu cool, keren. Perusahaan besar itu nggak keren.

Saya sendiri bilang, menjadi startup atau UKM itu memang cool, tapi kalau kelamaan menjadi UKM, terbonsai terus-terusan nggak kunjung membesar, itu namanya nggak cool lagi. Kebanggaan terbesar seorang entrepreneur UKM ya, kalau UKM yang dibangunnya ter-scaling-up menjadi perusahaan besar.

Komunitas-komunitas UKM yang tumbuh luar biasa di Tanah Air bisa dikatakan hebat hanya jika mereka bisa “meluluskan” UKM-UKM anggotanya ter-scaling-up” menjadi perusahaan besar. Bukannya sebaliknya, menjadi “museum” UKM-UKM bonsai yang stagnan, nggak kunjung membesar.

Apa rahasia suskes sebuah scaling-up? Ada dua prasarat dasar di tinjau dari sisi internal dan eksternal perusahaan. Pertama secara internal, bisnis yang kita bangun harus memiliki skala ekonomi (projected economies of scale). Kedua secara eksternal, ia harus memiliki pasar yang cukup besar (large addressable market) untuk tumbuh.

Scaling Up

Economies of Scale
Skala ekonomi terjadi jika biaya per-satuan (unit cost) turun jika output perusahaan bertambah besar. Bisnis yang mengalami hal ini disebut bisnis tersebut: scalable.

Contoh gampangnya adalah Toyota vs dokter. Bisnisnya Toyota adalah scalable kenapa? Karena ketika penjualan Toyota mencapai jutaan mobil tiap tahunnya maka ongkos untuk membuat sebuah mobil (cost per-unit) akan turun demikian dramatis.

Sementara untuk dokter, ongkos terbesar untuk memberikan layanan dokter adalah gaji si dokter sendiri. Celakanya, gaji dokter ini tak akan turun ketika pasiennya berkembang dari satu pasien menjadi katakanlah 1000 pasien. Itu artinya layanan dokter tidak scalable. Umumnya professional services seperti dokter, pengacara, konsultan, atau pembicara/motivator tidak scalable atau sulit di-scaling-up.

Pemain-pemain digital seperti Facebook, Amazon, Google, Uber, atau WhatsApp menikmati skala ekonomi yang luar biasa besar karena karakteristik layanan digital yang by-default memang scalable. Untuk membangun sebuah aplikasi digital seperti Facebook atau WhatsApp memang dibutuhkan investasi yang sangat besar. Namun, begitu aplikasi tersebut jadi, maka biaya pemakaian untuk seribu, sejuta, bahkan semiliar pengguna dibutuhkan biaya yang praktis nol.

Addressable Market
Faktor kedua adalah market size. Bisnis Anda tak akan bisa besar jika market size dari industri yang Anda masuki kecil. Karena itu agar bisa scaling-up, Anda harus memastikan bahwa total potensi market size yang bisa diambil (sering disebut Total Addressable Market, TAM) Anda harus sangat besar.

Terkait dengan kejelian melihat TAM ini kita harus banyak belajar dari para pemain disruptor seperti Uber, Airbnb, WhatsApp, Go-Jek, atau Tesla. Kita tahu perusahaan-perusahaan startup ini mampu scaling-up begitu cepat (sering disebut: “growth-hack companies”) dengan memanfaatkan TAM yang begitu besar.

Ambil contoh Uber. Untuk bisa scaling-up secara supe-cepat, Uber melihat pasarnya tak melulu existing market, yaitu pasar layanan taxi. Kalau pasar yang ditarget sebatas layanan taxi maka volumenya kecil, itupun harus berantem dengan incumbent operator taxi yang telah mapan. Namun kalau pasar yang ditarget Uber juga termasuk seluruh pemilik mobil (yang kemudian beralih ke Uber karena berbagai kemudahan dan affordability yang ditawarkan Uber) maka pasarnya akan sangat besar. Inilah yang disebut TAM.

Ambil contoh lain WhatsApp. TAM yang diambil WhatsApp adalah gabungan dari layanan SMS, voice, pengiriman dokumen, layanan komunikasi video, hingga payment. Go-Jek akhir-akhir ini juga meluaskan TAM-nya dengan masuk ke layanan payment dengan Go-pay. Itu sebabnya WhatsApp dan Go-Jek mampu melakukan scaling-up yang sangat cepat karena memang potensi market size yang diambilnya sangat besar.

Raksasa digital seperti Facebook, Google, Amazon Uber, Go-Jek atau WhatsApp awalnya adalah UKM. Dengan kemampuan scaling-up yang luar biasa mereka bertumbuh menjadi raksasa dalam waktu yang singkat. Seperti halnya raksasa-raksa digital tersebut, Anda harus mulai scaling-up untuk startup atau usaha anda.

 

 

 

Sumber; yuswohady.com

Tren Bisnis 2017 : 6 Pertimbangan untuk membangun bisnis sendiri

1. FinTech: Inovasi di Bidang Teknologi Finansial

fintech

Sumber : cube.capital

Ngomongin bisnis pasti nggak bisa jauh-jauh dari dunia finansial. Seiring dengan perkembangan teknologi, bidang finansial pun turut mengalami perkembangan, menjadi lebih praktis dan modern. Tahun 2017 dan setelahnya, para ahli meramalkan penggunaan FinTech alias inovasi finansial dengan teknologi modern, akan semakin meningkat. Soalnya, konsep FinTech ini bertujuan untuk mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial sehingga bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman serta modern. FinTech bisa diaplikasikan dalam berbagai hal seperti proses pembayaran, transfer, jual beli saham, peminjaman uang dan lain sebagainya. Contoh paling mudahnya adalah GO-Pay yang diaplikasikan GO-Jek untuk langsung mentransfer sejumlah uang kepada para driver-nya begitu penumpang selesai diantar.

2. Jangan Remehkan Kekuatan Bersama

crowdfunding

sumber :

Bersyukurlah karena Anda lahir di abad 21, di masa ketika internet sudah menjadi makanan sehari-hari. Kalau dulu modal selalu menjadi isu utama bagi para pemula dalam bisnis, sekarang teknologi dan internet bisa membantu Anda untuk mengumpulkan modal kolektif dari seluruh penjuru dunia. Bahkan, di akhir tahun ini, statistik menyatakan bahwa crowdfunding atau praktik penggalangan dana dari sejumlah besar orang untuk memodali suatu proyek atau usaha yang umumnya dilakukan melalui internettelah berhasil menjadi tren, melampaui venture capital (pemberian modal kepada startup yang potensial dan sedang berkembang).

Penasaran? Coba cek beberapa situs crowdfunding berikut:

  • Modalku.com
  • AyoPeduli.com
  • Crowdtivate.com

3. Semuanya Berujung pada Konten

Content-marketing-statistics-

Sumber : quora.com

Bisnis zaman sekarang memang sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari dunia digital. Seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan internet, konsumen pun cenderung untuk melakukan riset dan review terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk membeli produk dan jasa tertentu. Makanya, sales dan content marketing pun harus dilakukan secara paralel. Goal utama Anda adalah memastikan saat konsumen mencari tahu mengenai produk Anda, mereka bisa memerolehnya dalam beberapa klik saja.

Tentu saja, bentuk konten pun perlu jadi bahan pertimbangan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Forbes, video masih akan menjadi sumber informasi yang paling dicari-cari di tahun 2017 nanti. Bahkan, video dinyatakan sebagai salah satu bentuk informasi yang paling esensial yang harus dimiliki para pebisnis.

4. Embrace the Millenials

millennials-info-graphic-big

http://www.formacionejecutivadf.cl

Millennials atau yang juga dikenal dengan sebutan Gen Y masih akan terus menjadi angkatan kerja produktif sekaligus fokus konsumen Anda sampai beberapa tahun ke depan. Sebagai target market terbesar, millennials memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dari pendahulu mereka, para Gen X. Karena itulah, Anda pun sebaiknya memahami karakteristik mereka sebagai seorang konsumen dan memastikan produk dan jasa yang Anda jual tetap menarik di mata kaum millennials.

Kreativitas, inovasi, cara-cara cepat dan mudah untuk membantu mereka melakukan pekerjaan lebih baik adalah beberapa karakteristik Gen Y. Jadi, saat Anda membuat produk atau jasa tertentu, pastikan produksi Anda mampu memfasilitasi karakteristik-karakteristik ini, ya.

5. Bisnis Tidak Lagi Harus Berbentuk Bangunan

3f1de26

sumber : http://www.qrius.com

Kalau dulu bisnis baru akan dianggap “serius” saat memiliki kantor dan karyawan, sekarang tidak lagi. Semakin banyak bisnis yang dibangun hanya dengan bermodalkan laptop. Kantor bisa berada di mana saja, di ruang tamu, garasi atau bahkan kamar tidur. Semakin banyak juga produsen yang menjual barang yang sebenarnya tidak mereka miliki. Pola bisnis seperti Airbnb, Go-Jek, Uber, yang bertujuan untuk menghubungkan para konsumen dengan pemilik jasa (tanpa harus mereka sendiri yang menjadi pemiliknya), aktivitas bisnis dengan model ” sharing economy” ini diprediksi akan semakin berkembang di tahun-tahun ke depan.

Jika Anda masih bermain dengan pola bisnis lama, tidak ada salahnya juga. Pastikan saja bisnis Anda tidak hanya sekadar menjual produk tapi memberikan nilai lebih yang tidak bisa digantikan atau disaingi oleh kompetitor Anda. Misal, jika Anda menjual furniture, Anda bisa memberikan bonus konsultasi gratis design interior kepada para konsumen Anda.

6. Self-Conscious Products

Saat ini, bisnis tidak bisa lagi hanya sekadar memikirkan profit. Konsumen di era sekarang umumnya sudah mengembangkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap produk yang mereka konsumsi. Data menunjukkan, generasi millennials, terutama kaum wanita, cenderung lebih peduli terhadap efek dari produk yang mereka konsumsi terhadap kesehatan serta lingkungan mereka. Mereka bahkan bersedia membayar lebih mahal untuk mengakomodir hal ini. Produk-produk organik, ramah lingkungan dan informasi penting mengenai nutrisi dan kesehatan akan semakin digemari.

Bagaimana, siap membangun bisnis Anda?

 

Sumber rujukan :

http://www.astralife.co.id

Dear Marketer, Pahami Generasi Muda atau ” Mati”

Salah satu resep paten bisnis gagal adalah kaku dengan model bisnis yang lama dan menolak menyadari kedinamisan sekaligus semakin kompleksnya pelanggan.

Perubahan perilaku konsumen generasi muda turut berperan pada tumbangnya media cetak-media cetak ternama di Indonesia, antara lain majalah Kawanku, majalah Chip, koran Sinar Harapan, Koran Tempo edisi Minggu, dan harian Bola. Berbasis data, generasi muda Indonesia lebih sering melihat media internet dibandingkan media cetak. Temuan ini semakin diperparah dengan minat baca dan level literasi Indonesia yang masuk dalam posisi buncit dunia.

Di luar negeri, misal Negeri Paman Sam, karakteristik konsumen generasi Y dan Z turut berkontribusi pada kematian pusat perbelanjaan di seantero Amerika Serikat. Suatu hal yang mungkin tidak terbayangkan mengingat generasi muda AS di era 1970-an dan 1980-an menjadikan pusat perbelanjaan sebagai tempat nongkrong utama. Pusat perbelanjaan didefinisikan “mati” jika tingkat utilitasnya jatuh di bawah 70% dan turun secara terus-menerus. Jika keadaan ini terus berlangsung, diperkirakan 50% dari pusat perbelanjaan di AS bakal menemui ajalnya dalam 15 tahun ke depan.

Dunia terus bergerak dan perilaku konsumen yang lahir dalam periode berbeda, meski dilihat dalam segmentasi usia yang sama, memiliki perilaku berbeda karena pengaruh situasi dan kondisi lingkungan pada masanya. Tidak ada hasil riset perilaku konsumen yang dapat bertahan selamanya, dan karenanya, pembaruan riset perilaku konsumen perlu dilakukan secara terus-menerus. Olehkarenanya setap marketer perlu untuk terus perkembang dan memperbaharui informasi terkait dengan perilaku belanja para pembelinya.

Kini, generasi muda khususnya generasi Y dan Z, secara perlahan tapi pasti mulai mengubah lanskap bisnis dan merombak model bisnis konvensional. Generasi Y di dunia kerja, generasi Y di dunia bisnis, hingga generasi Y saat menjadi konsumen produk menjadi segmentasi konsumen utama mengingat rentang usia produktif yang mereka miliki. Sedangkan generasi Z meski saat ini sebagian di antaranya masih di usia remaja dan belum memiliki penghasilan sendiri, mereka jelas konsumen potensial masa depan.

Maka, memahami karakteristik generasi Y dan Z saat membangun model bisnis dan strategi marketing di era digital adalah keharusan kalau bisnis kita ingin terus melenggang maju.

STP ( Segmentasi, Target, Posisi) Era Digital

muda1

 

Dalam paket kebijakan ekonomi XIV mengenai peta jalan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik, pemerintah memasukkan banyak data terkait internet dan pengguna telepon pintar di Indonesia. Di dalamnya, pemerintah Indonesia menyatakan ada 93.400.000 pengguna internet dan 71.000.000 pengguna telepon pintar di Indonesia.

 

muda2

Dari total pengguna internet dan jumlah pengguna telepon pintar tersebut, IDC Indonesia menemukan bahwa mayoritas pengguna internet di Indonesia berfokus pada komunikasi (antara lain melalui surel), hiburan, dan merambah jejaring sosial. Sedangkan untuk konteks transaksi elektronik, masih ada di peringkat kelima aktivitas daring.

Kemudian saat kita mencoba menilik generasi pengguna internet di Indonesia secara spesifik, misal generasi Z, kita menemukan fakta bahwa TV, internet, dan radio adalah tiga media utama yang dikonsumsi generasi Z (Nielsen Consumer & Media View [CMV] Q2 2016). Lalu, bagaimana dengan konsumsi media cetak? Nielsen menemukan bahwa hanya 9% dari generasi Z yang saat ini masih membaca koran, majalah, atau tabloid dalam bentuk cetak.

Dari potongan data di atas, kita dapat menemukan irisan informasi yang berguna untuk menyusun strategi marketing dalam bentuk segmentasi, target pasar, dan posisi produk yang tepat saat menyasar generasi muda Indonesia.  Kata kunci yang terlihat adalah internet dan berbicara internet, kita wajib melibatkan situs sebagai jendela informasi utama untuk berhubungan dengan generasi Y/milenial (1981–2000) dan generasi Z (2001–…).

Menyusun strategi marketing berarti menyusun strategi dengan orientasi konsumen. Sebagai contoh, kita ingin menyusun strategi marketing sebuah situs (sebut situs YZ) dengan produk utama buku-buku, baik berbentuk cetak, audio, maupun elektronik. Asumsikan situs YZ secara umum menyasar gen Y dan gen Z. Pemasukan terbesar situs YZ selama ini berasal dari gen Y, namun situs YZ ingin bersiap diri  sejak awal untuk menarik perhatian generasi Z, khususnya segmen remaja agar situs YZ memiliki rentang usia konsumen yang panjang.

Segmentasi geografi gen Z. Melakukan segmentasi geografi di era digital sebenarnya serupa dengan masa marketing konvensional, meski eksekusi lapangan relatif berbeda. Karena situs YZ baru memulai rencana pemasaran dengan fokus segmen remaja generasi Z, ada baiknya situs YZ menjaga alokasi anggaran dengan memilih segmentasi wilayah kota-kota besar tempat remaja generasi Z memiliki akses baik terhadap internet. Asumsikan situs YZ hanya memilih Kota Jakarta sebagai uji pasar sebelum merambah ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Segmen demografi gen Z. Setelah memilih Kota Jakarta dalam segmentasi geografi, situs YZ melakukan langkah lanjutan dalam bentuk segmentasi demografi. Situs YZ tidak memandang gender, maka laki-laki dan perempuan masuk dalam segmen demografi yang dipilih. Untuk latar belakang ekonomi, situs YZ memilih segmen remaja generasi Z yang berasal dari kelas menengah dan kelas atas. Pilihan latar belakang ekonomi dilihat antara lain dari pendapatan (misal besaran jajan dari orang tua), tempat akses internet (misal laptop dari rumah yang berlokasi di wilayah Tebet), dan peranti bergerak dengan spesifikasi minimal masuk kategori “pintar”.

Segmentasi psikografi gen Z. Segmentasi geografi dan demografi yang sudah dilakukan situs YZ membuat besaran pasar semakin menciut sekaligus semakin tajam. Untuk segmentasi psikografi, situs YZ memilih segmen remaja gen Z yang suka membaca (11% berdasarkan temuan Nielsen Consumer & Media View Q2 2016), dengan kegiatan tambahan berupa olahraga, menonton TV, dan mendengarkan musik.

Target segmen gen Z. Berdasarkan segmentasi geografi, demografi, dan psikografi yang sudah dilakukan, maka target segmen gen Z menjadi jelas. Tinggal di Kota Jakarta, laki-laki dan perempuan, berasal dari latar belakang ekonomi kelas menengah dan atas, mengakses internet melalui rumah dan/atau peranti bergerak dengan kategori “pintar”, suka membaca, dan aktivitas-aktivitas khas remaja masa kini, yaitu olahraga, menonton TV, dan mendengarkan musik.

Posisi produk di benak gen Z. Dengan orientasi kuat pada generasi Z segmen remaja, maka situs YZ perlu membuat posisi produk (product positioning) yang baik tanpa mengorbankan gen Y sebagai sumber pendapatan utama perusahaan. Jika product positioning yang lama dipandang tetap relevan, gunakanlah product positioning tersebut dalam materi-materi promosi kepada gen Z. Misal product positioning situs YZ adalah “toko buku era digital”.

Eksekusi Strategi Marketing ke Gen Z

muda5

Sejak 1994 lahirlah generasi yang dikenal dengan sebutan generasi Z, disingkat gen Z. Mereka lahir di tengah-tengah keberhasilan generasi milenium dalam menempatkan otomatisasi sebagai kebutuhan hidup.

Gadget sudah menjadi piranti wajib yang menemani manusia dalam melalui hari-harinya. Bahkan beberapa alat elektronik, seperti lampu senter dan radio kini telah digantikan oleh gadget. Perubahan-perubahan pun mulai terjadi secara cepat. Kehadiran buku (secara fisik) kini mulai digantikan oleh e-book.

Jika di akhir 90-an pola komunikasi pemasaran lebih diarahkan pada iklan media televisi maka sejak 2010 pilihan jatuh pada internet mulai dari website hingga beberapa aplikasi yang melengkapinya, seperti YouTube, game online dan social media.

Kedekatan gen Z pada internet telah membuka wacana baru dalam dunia marketing. Pola-pola komunikasi konvensional kini mulai ditinggalkan. Untuk mendekatkan diri pada gen Z, para pelaku industri perlu memperhatikan beberapa hal berikut. Pertama, gen Z dikenal menyukai efek ‘personalisasi’. Satu karakteristik utama mereka adalah tidak terlalu suka hal-hal yang umum.

Kata-kata seperti ‘konsumen yang terhormat’ buat mereka adalah suatu hal yang retoris. Sapaan langsung pada nama depan atau nama panggilan membuat peluang kedekatan sangat tinggi. Karenanya perusahaan perlu mencermati informasi yang dipublikasikan pada akun-akun social media mereka.

Efek personalisasi lainnya juga dapat dipicu dari hobi. Gen Z dikenal suka berkumpul bersama komunitasnya. Umumnya kelompok-kelompok ini muncul karena kesamaan hobi. Jika produsen mampu menjalin relasi khusus dengan komunitas-komunitas tersebut maka bukan mustahil para gen Z akan bertumbuh menjadi pelanggan setia produk seumur hidup. Dari merekalah perusahaan dapat memperoleh ide-ide pengembangan produk.

Tak hanya itu, komunitas juga dapat menjadi duta komunikasi pemasaran yang paling efektif. Kedua, jalinlah relasi khusus dengan komunitas gen Z tersebut baik secara offline, seperti melalui event, maupun secara online. Pahamilah bahwa sirkulasi informasi pada generasi ini berjalan 24 jam sehari.

Ibaratnya mereka membuka mata dengan gadget serta mengakhiri hari juga dengan gadget. Karenanya penggunaan sarana social media merupakan hal yang vital dalam membangun konsistensi komunikasi. Ini merupakan peluang emas bagi perusahaan sebab dengan demikian ia dapat ‘menemani’ kehidupan konsumen di setiap detiknya.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa social media tak lagi dapat dipandang sebagai sebuah alat, melainkan sarana yang efektif dalam menjangkau gen Z. Karenanya ini saat yang tepat bagi perusahaan untuk merancang strategi komunikasi pemasaran berbasis internet khususnya social media.

Bagi sebagian kalangan mengirimkan iklan promosi lewat email dinilai efektif. Namun survei yang dilakukan YouTube di pertengahan tahun lalu menunjukkan bahwa 50 % responden menyatakan tak lagi membuka iklan dalam inbox e-mail mereka, apalagi yang mendiami spam. Mereka lebih menyukai testimoni para pengguna produk di social media sebelum mengambil keputusan untuk mengkonsumsi produk.

 

 

 

Sumber :

Andika Priyandana ( marketing.co.id)

Aris Heru prasetyo ( bumninsight.co.id)

 

Formula A.I.D.A untuk meningkatkan efektifitas penjualan.

copywriting

Menjual dengan tulisan sekilas terdengar mudah. Tetapi hanya menuliskan informasi fitur, harga, manfaat dan proses pembelian sebuah produk atau layanan jasa Anda tidaklah cukup.

Anda membutuhkan Copywriting.

Copywriting adalah teknik atau proses untuk menulis sebuah copy (teks yang digunakan untuk penjualan atau pemasaran).

Kalau anda sudah pernah membuat sales page (atau landing page) sebelumnya, pasti anda sempat berpikir seperti ini:

“Enaknya nulis apa ya…?”

Lalu tiba-tiba otak jadi kosong…

…tangan tidak bergerak sedikitpun di keyboard.

Berjam-jam, bahkan berhari-hari…

Kemudian ketika sudah selesai…ternyata tidak ada yang berminat sama sekali.

Tidak mudah memang menulis copy di sales dan landing page. Berbeda strukturnya sedikit saja bisa berakibat penawaran anda tidak menarik.

Sehingga konversi-nya jadi sangat rendah.

Tapi ada 1 formula rahasia… rahasia yang akan membuat anda dengan mudah menciptakan struktur penulisan copy yang efektif.

Namanya: AIDA.

Apa itu AIDA?

Yang jelas bukan nama penyanyi dangdut hehe…

AIDA adalah singkatan dari:

  1. Attention
  2. Interest
  3. Desire
  4. Action

Dengan menggunakan formula AIDA, anda bisa mengubah sebuah halaman kosong di layar komputer anda menjadi sesuatu yang bisa menarik perhatian sampai membuat orang lain mengambil tindakan.

Itulah mengapa AIDA sering dikaitkan dengan copywriting.

Meskipun identik dengan copywriting, tapi anda juga bisa menggunakan formula ini untuk membuat tulisan apapun supaya menarik.

Seberapa ampuh sih AIDA?

Sangat!

Dalam sebuah landing page yang saya buat dulu, sebelum menerapkan struktur AIDA conversion rate-nya hanya 2.3%. Angka ini sebenarnya tidak jelek-jelek amat mengingat beberapa faktor seperti industri dan harga.

Tapi apa yang terjadi ketika saya ganti sedikit strukturnya sesuai AIDA:

Perbandingan konversi

Konversinya meningkat sebanyak 253% menjadi 8.1%.

Dan peningkatan ini baru akibat mengganti kata dan kalimatnya saja.

Sekarang mari kita bahas satu per satu dari tiap bagian AIDA.

1. Attention

Copy yang kita buat harus mampu segera menangkap perhatian pembaca.

Tahukah anda…menurut sebuah penelitian dari SilverPop yang dilakukan pada tahun 2013, kita harus bisa menangkap perhatian pengunjung dalam waktu 8 detik atau kurang.

Gila kan…

Manusia mengedipkan mata tiap 4 detik.

Artinya kalau kita tidak mampu mendapatkan perhatian dalam 2 kali kedipan mata…maka mereka akan langsung pergi begitu saja.

Artinya kalimat-kalimat yang anda susun selama berhari-hari akan ditentukan dalam 2 kali kedip.

Itulah pentingnya tahapan ini.

Lalu bagaimana cara kita menarik perhatian mereka?

  • Judul/headline
  • Gambar
  • Kalimat-kalimat pembuka

3 elemen itulah yang paling harus anda perhatikan.

Untuk bisa menangkap perhatian mereka ke 3 elemen tersebut, ini tipsnya:

  1. Berikan apa yang buyer persona anda pedulikan terkait bisnis anda
  2. Sajikan solusi dari permasalahan utama dari buyer persona anda
  3. Buat mereka merasa “ah itu gua banget

Kalau anda belum punya/paham tentang buyer persona, silahkan kembali ke bab sebelumnya.

Contohnya kalau saya ingin menjual suplemen penurun berat badan. Buyer persona-nya adalah ibu karir yang belum lama melahirkan.

Ini kalimat yang kira-kira bisa menangkap perhatian calon pembeli:

  1. “Ingin menurunkan berat badan hingga 20 kg dalam sebulan tanpa diet ketat yang menyiksa diri?”
  2. “Kembalikan tubuh langsing anda seperti dulu lagi”
  3. “Tidak punya waktu dan energi untuk olahraga? Sekarang anda juga bisa menurunkan berat badan tanpa perlu merasa lelah di tempat kerja”

Beberapa dari mereka menggunakan headline seperti “aman, tanpa efek samping”, atau “murah”.

Hati-hati…

Memang keduanya seperti masuk akal tapi bukan itu yang mampu membuat mereka peduli. Keduanya bukan permasalahan utama mereka, jadi tidak akan bisa menangkap perhatian.

2. Interest

Buat mereka tertarik dengan anda.

Karena anda telah berhasil menangkap perhatian, maka selanjutnya anda akan membuat mereka melanjutkan membaca dan tertarik dengan anda.

Buat mereka sadar dengan besarnya masalah mereka.

Untuk memancing interest, cara terbaiknya adalah dengan menyediakan:

  1. Informasi/fakta
  2. Statistik
  3. Studi kasus
  4. Kondisi idealnya
  5. Alasan

Mari kita gunakan contoh suplemen tadi:

“Dengan menggunakan suplemen [merek], anda akan:

  • …mampu menurunkan berat badan hingga 20kg dalam kurang dari 30 hari
  • …bisa menggunakan lagi baju kesayangan anda yang sudah sempit
  • …makin dicintai suami
  • …tetap punya banyak waktu untuk keluarga dan pekerjaan”

Contoh di atas tidak menggunakan kelima hal tadi.

Anda juga tidak perlu menggunakan semuanya apabila memang tidak mungkin.

3. Desire

Dalam tahap ini anda akan membuat mereka sangat-sangat-sangat menginginkan produk/layanan anda.

Desire mirip dengan interest…

…bedanya, di sini kita akan lebih banyak bermain dengan emosi dan logika.

Caranya:

1. Dengan menyebutkan benefits atau manfaat.

Hati-hati, ada kesalahan yang sering terjadi…keliru antara fitur dan manfaat.

Ada perbedaan besar antara fitur dan manfaat, fitur itu hanya penjelasan dari isi atau komponen yang anda berikan melalui produk/layanan anda.

Sedangkan manfaat adalah keuntungan yang bisa mereka rasakan melalui fitur tadi.

“Mereka tidak peduli dengan anda, mereka hanya peduli dengan dirinya sendiri”.

Mereka tidak peduli dengan fitur, kelebihan, resep, spek, komponen dari produk anda… Mereka hanya peduli dengan bagaimana fitur tersebut bisa bermanfaat bagi mereka.

Ini fitur:

  • 250 mg Ekstrak teh hijau
  • 2,5 mg Vitamin B6
  • 10 mg L-Carnitine

Dan ini manfaat:

  • …diperkaya dengan ekstrak teh hijau serta vitamin B6 yang akan mempercepat metabolisme dan pembakaran lemak meskipun anda sedang duduk di depan komputer
  • …ditambah L-Carnitine untuk melindungi tulang, jantung, ginjal, otak, dan sistem kekebalan tubuh selama proses penurunan berat badan. L-Carnitine juga akan melindungi ibu yang sedang menyusui agar tidak kekurangan nutrisi.

Dalam penjualan produk, fitur memang wajib ada…tetapi fitur tanpa manfaat tidak akan mampu menjual karena sebagian besar pembaca tidak mengerti.

 

2. Dengan memancing emosi negatif dan memberikan solusi

Mereka yang sudah mengikuti tulisan anda sejak tahap attention sampai interest merupakan orang-orang yang punya permasalahan spesifik.

Mereka adalah orang-orang yang frustrasi.

 

Berikut contohnya (untuk produk suplemen):

Waktu anda sangat berharga…anda harus bangun sejak pagi, menyiapkan sarapan kemudian bersiap dan berangkat ke kantor. Belum lagi energi yang terkuras akibat mengurusi keluarga, klien, dan boss anda di kantor…kemudian anda tiba di rumah pukul 7 sore dalam keadaan seperti tisu basah.

Dengan rutinitas seperti ini, olahraga dan diet ketat jadi hal yang mustahil.

Untungnya, suplemen [nama produk] hanya membutuhkan 90 detik dalam sehari. 1 tablet sebelum makan…dan [nama produk] akan membakar lemak sambil anda duduk santai di depan komputer.

Itulah contoh paragraf yang memanfaatkan emosi negatif.

 4. Action

Tahapan yang sederhana, mengajak mereka untuk mengambil tindakan.

Apapun tindakan yang anda inginkan — membeli produk, mendaftar, membuat akun, mendownload, mengirim email, menelepon — ungkapkan di bagian ini.

Karena itu bagian ini sering disebut call to action (CTA).

Jangan dilupakan, anda akan sering menemukan istilah tersebut mulai dari sekarang.

Sesuai fungsinya tadi, CTA bisa berupa tombol, nomor telepon, atau alamat email.

Dan disertai harga.. kalau anda menjual sesuatu.

Gabungkan keempatnya

Terakhir, gabungkan keempat bagian dalam formula AIDA tadi secara berurutan mulai dari Attention, Interest, Desire, Action.

Selamat mencoba ….

 

 

sumber : panduanim.com

 

Strategi “Context Marketing” untuk Konsumen Kelas Menengah Indonesia

 context is the King.jpgStudi yang menunjukkan bahwa konsumen Indonesia lebih mementingkan konteks dibandingkan konten bertebaran di mana-mana. Data Badan Pusat Statistik (2012) menyebutkan bahwa 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi dan hanya 17,66% penduduk yang menyukai membaca surat kabar, buku, dan majalah.

Hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (2011) menemukan bahwa indeks membaca rakyat Indonesia hanya 0.001 yang berarti dari 1.000 penduduk, hanya 1 orang yang memiliki minat baca tinggi. Data Ikatan Penerbit Indonesia (2014) menyatakan bahwa jumlah buku terbit di Indonesia hanya sekitar 30.000 judul berbanding 240 juta penduduk Indonesia dengan rasio 1 buku dibaca 3 hingga 5 orang.

Kembali ke kebiasaan penduduk Indonesia menonton televisi, temuan Nielsen (2014) yang senada dengan temuan BPS mengungkap bahwa televisi menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (95%) di kota-kota baik di Jawa dan luar Jawa. Padahal banyak studi menunjukkan bahwa menonton televisi menyebabkan gelombang otak pada kondisi alfa karena dominasi fungsi indra visual dan perasaan. Kondisi alfa biasa berasosiasi dengan kondisi meditasi. Dengan kata lain, otak manusia cenderung mengistirahatkan dirinya saat menonton televisi (Applied Neuro Technology, 2012).

Temuan kebiasaan tinggi masyarakat Indonesia menonton televisi menunjukkan bangsa Indonesia bukan bangsa pembaca, memiliki tingkat pengetahuan lebih rendah secara umum dibandingkan konsumen-konsumen negara maju, dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat kita tidak sekadar mengakses informasi lebih sedikit, mereka juga tidak mencerna dan mengolah informasi lebih dalam. Hal ini antara lain disebabkan sistem pendidikan di keluarga dan di sekolah yang belum biasa mengajarkan cara berpikir kritis (Handi Irawan, 2008).

Berdasarkan data yang ada, bukan hal mengejutkan jika kualitas program televisi kita masih rendah, kualitas berita secara umum cenderung dangkal, dan bahkan buku-buku yang beredar lebih dominan buku yang ringan dibaca walau tidak menjadikan seseorang lebih pandai dan lebih berpengetahuan. Dapat dipahami jika masyarakat Indonesia mudah tersulut amarah cuma karena gosip dan intens berkasak-kusuk di jejaring sosial hanya dengan membaca judul artikel tanpa membaca isi. Kenyataannya masyarakat Indonesia jauh lebih mengutamakan sampul daripada isi.

Strategi Marketing yang Perlu Dilakukan

Paparan data dan uraian yang sudah disampaikan memiliki dampak signifikan terhadap para marketer Indonesia. Pertama, para marketer Indonesia perlu memahami bahwa kekuatan persepsi sangat dominan di benak masyarakat Indonesia. Hasil survei Frontier Consulting Group terhadap ratusan merek selama lebih dari 10 tahun menunjukkan hal ini. Kesenjangan antara kualitas aktual dan kualitas persepsi bisa lebih lebar dibandingkan dengan negara maju, misalnya Amerika Serikat.

sampul

Konsumen Indonesia secara umum memiliki pengetahuan produk lebih rendah dibandingkan dengan konsumen negara maju. Karenanya, dapat dimafhumi jika produk yang biasa saja namun dipersiapkan dengan pencitraan yang baik dapat menjadi produk yang bagus. Sebaliknya, produk dengan kualitas baik namun disampaikan dengan konteks yang tidak tepat, belum tentu konsumen Indonesia mempersepsikan produk tersebut sebagai produk berkualitas.

Kedua, pengaruh komunikasi dalam menciptakan tren, gaya hidup, dan ekuitas merek relatif kuat di Indonesia. Sebagai contoh, seseorang dapat menjadi selebriti secara instan, misal dalam waktu satu tahun dan bahkan kurang, sepanjang dia rutin tampil dalam acara berating tinggi. Popularitas tersebut dapat diraih meski individu tersebut minim kualitas pribadi, antara lain dari sisi pendidikan dan kapasitas intelektual.

Maka, saat berkomunikasi dengan konsumen Indonesia secara umum, sampaikan pesan sederhana. Memberikan pesan kompleks menyulitkan konsumen Indonesia untuk mengolah informasi. Utamakan juga konten-konten visual disertai pesan emosi yang kuat karena konsumen Indonesia jarang membaca.

Ketiga, ciptakan nilai-nilai yang bersifat emosional. Gengsi adalah kebutuhan emosional paling laku untuk masyarakat Indonesia, khususnya segmentasi premium. Membeli ponsel Rp10 juta, mengendarai mobil Rp1 miliar, dan membeli kudapan ringan Rp20.000 pun dilakukan demi meraih perhatian banyak orang.

Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan konteks jauh lebih diutamakan dibandingkan dengan kualitas riil. Sementara masyarakat menengah bawah Indonesia membutuhkan nilai-nilai emosional seperti perasaan dihargai, dianggap sebagai pahlawan, dan diterima oleh kelompoknya.

Keempat, sentuhan manusia masih menjadi hal krusial bagi konsumen Indonesia. Karenanya, pembicaraan melalui kontak telepon dengan manusia betulan masih menjadi primadona konsumen Indonesia. Berhubungan secara langsung dengan petugas pelayanan pelanggan atau staf perusahaan lebih memberikan rasa percaya bagi konsumen. Konsumen Indonesia cenderung tidak puas jika dilayani mesin.

 

sumber : marketing.co.id

3 Cara Terbaik Berinteraksi dengan Gen Z

generation-z-journey

Belum lama ini Kantar Millward Brown menerbitkan sebuah studi dengan judul  AdReaction: Engaging Gen X, Y and Z. 

Studi ini menganalisis pola konsumsi media, sikap terhadap iklan dan tanggapan terhadap hasil kreatif yang didasarkan pada survei atas lebih dari 23.000 konsumen di 39 negara, termasuk Indonesia.

Studi AdReaction ini menemukan temuan-temuan penting bagi marketer Indonesia meliputi:

  • Gen Z adalah generasi mobile-first, dimana 80% dari mereka menghabiskan lebih dari 1 jam sehari pada perangkat ponsel mereka. Meski demikian, Gen Y masih menjadi pengguna ponsel yang paling avid dengan 91% menghabiskan lebih dari 1 jam sehari pada ponsel mereka dan hanya 70% untuk Gen X.
  • Gen Z memiliki tingkat konsumsi tradisional seperti media TV, radio dan cetak jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi lainnya. Gen Z hanya menonton TV selama 1 jam setiap hari (57%), sedangkan Gen Y (75%) dan Gen X (83%).
  • Gen Z memiliki sifat lebih tidak sabar, mereka memilih video dengan durasi pendek di bawah 10 detik dibandingkan generasi lainnya. Menariknya, dibandingkan dengan kebiasaan global, di Indonesia baik Gen X dan Gen Y bersedia menonton sedikit lebih lama – sampai 20 detik. Sementara Gen X senang menonton lebih lama lagi.
  • Di Indonesia format seperti tutorial, ulasan pakar dan branded event memiliki angka kesukaan tertinggi di antara 3 generasi. Gen Y lebih terbuka untuk selebriti konten, Gen X lebih positif terhadap informasi mengenai merek yang lugas dan native content. Dan, Gen Z memiliki tanggapan yang rendah untuk kedua format ini.

Secara global jumlah penduduk Gen Z sekitar 2 miliar – terhadap hasil kreatif yang didasarkan pada survei terhadap lebih dari 23.000 konsumen di 39 negara.

Tumbuh dengan teknologi digital, generasi Z sulit untuk terpengaruh iklan dan mengharapkan hal yang lebih dari marketers dalam hal komunikasi.

Berikut beberapa temuan kunci penting bagi merek di Indonesia untuk berinteraksi dengan Gen Z:

Hormati ruang online mereka

Dalam dunia digital, Gen Z lebih positif terhadap video mobile yang bersifat imbalan dan “skip-able pre-rolls” dibandingkan generasi lainnya. Namun, mereka sangat terganggu dengan format iklan invasif seperti non -skippable pre-roll dan pop-up.

Gunakan pendekatan kreatif yang tepat

Karakteristik kreatif tertinggi yang dapat membuat Gen Z memiliki tanggapan positif terhadap iklan adalah ketika merek mampu menceritakan cerita yang menarik (62%), menggunakan humor (62%), dan menggunakan musik yang bagus (49%).

Namun, pada dasarnya Gen Z lebih sulit diyakinkan dibandingkan generasi lainnya, dimana mereka memiliki skor lebih tinggi di semua faktor. Sehingga, penggunaan atribut ini sendiri tidak menjadi jaminan keberhasilan.

Menjadi lebih sosial

Gen Z adalah pengguna platform sosial yang lebih signifikan. Bukan hanya dalam hal waktu, tetapi juga jumlah platform yang mereka kunjungi, seperti Facebook, YouTube, Instagram, Twitter dan Snapchat.

Kelvin Gin, Country Head of Kantar Millward Brown Indonesia mengatakan, di Indonesia Gen Z adalah generasi yang akan datang pasca millennials. Mereka akan menjadi sangat relevan bagi marketeres dalam beberapa kategori.

Penerimaan mereka terhadap iklan berbeda dibanding generasi lainnya, dimana mereka telah tumbuh dalam dunia mobile-first, dunia dengan pilihan yang tidak terbatas yang membuat mereka sulit dipengaruhi dibandingkan dengan generasi lainnya.

Sudah mulai kebayang kan, strategi marketing seperti apa yang akan anda gunakan dalam menghadapi Gen Z ini ?

Semoga bermanfaat

 

 

 

sumber : marketing.co.id