Strategi Promosi dengan target Gen Z

genz1

Dear pembaca setia,

Selamat Tahun baru 2017. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menyajikan artikel tentang strategi marketing dengan sasaran Gen Z. Gen Z ini menarik untuk dipelajari, karena Gen Z akan mendominasi dan berpengaruh besar pada struktur konsumen di Indonesia beberapa Tahun mendatang. Gen Z memiliki psikologi tersendiri yang berbeda dengan generasi generasi sebelumnya.

Pada era awal tahun 2000-an dunia disibukkan oleh ulah generasi milenium (mereka yang lahir di awal 80-an) yang memicu perkembangan teknologi informasi. Bagi generasi-generasi sebelumnya, menonton televisi sambil mengganti channel melalui remote adalah cikal-bakal kemalasan. Namun tidak demikian halnya dengan generasi ini.

Meski kecenderungan untuk bergantung pada otomatisasi sangat tinggi namun perlu disadari bahwa itu semua bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dimensi waktu tak lagi dipandang sebelah mata. Satuan menit dan detik merupakan hal yang begitu berarti. Tak jarang melalui otomatisasi yang berhasil diciptakan, para generasi milenium menghabiskan banyak waktu untuk berkarya. Inilah yang sebenarnya memicu pesatnya perkembangan industri kreatif.

Belum selesai dengan urusan generasi milenium, sejak 1994 lahirlah generasi yang dikenal dengan sebutan generasi Z, disingkat gen Z. Mereka lahir di tengah-tengah keberhasilan generasi milenium dalam menempatkan otomatisasi sebagai kebutuhan hidup.

Gadget sudah menjadi piranti wajib yang menemani manusia dalam melalui hari-harinya. Bahkan beberapa alat elektronik, seperti lampu senter dan radio kini telah digantikan oleh gadget. Perubahan-perubahan pun mulai terjadi secara cepat. Kehadiran buku (secara fisik) kini mulai digantikan oleh e-book.

Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan teknologi internet, kini proses pertukaran pengetahuan dapat dilakukan tanpa mengenal batas-batas ruang dan waktu. Sehingga tanpa disadari, gen Z terlahir dalam lingkungan tersebut.

Jika di akhir 90-an pola komunikasi pemasaran lebih diarahkan pada iklan media televisi maka sejak 2010 pilihan jatuh pada internet mulai dari website hingga beberapa aplikasi yang melengkapinya, seperti YouTube, game online dan social media.

Kedekatan gen Z pada internet telah membuka wacana baru dalam dunia marketing. Pola-pola komunikasi konvensional kini mulai ditinggalkan. Meski demikian tidak mudah bagi produsen untuk segera beradaptasi dengan kondisi yang ada. Beberapa produk terlihat ‘dipaksakan’ untuk berkomunikasi dengan gen Z.

Satu bahan refleksi yang tepat adalah koran cetak. Meski mereka berupaya mendekatkan sajian berita pada gen Z, namun ketimpangan masih banyak terlihat. Misalnya pada bagian awal dan utama koran selalu menyajikan berita-berita politik-ekonomi-bisnis dan sosial dari sudut pandang wartawan.

Padahal yang dibutuhkan oleh gen Z adalah opini kaumnya dalam memandang realitas kehidupan. Sarana seperti ini hanya dapat diakomodir oleh social media. Belum lagi tuntutan gen Z untuk memperoleh berita saat diperlukan. Niscaya koran online jualah yang menjadi pilihan mereka.

Untuk mendekatkan diri pada gen Z, para pelaku industri perlu memperhatikan beberapa hal berikut. Pertama, gen Z dikenal menyukai efek ‘personalisasi’. Satu karakteristik utama mereka adalah tidak terlalu suka hal-hal yang umum.

Kata-kata seperti ‘konsumen yang terhormat’ buat mereka adalah suatu hal yang retoris. Sapaan langsung pada nama depan atau nama panggilan membuat peluang kedekatan sangat tinggi. Karenanya perusahaan perlu mencermati informasi yang dipublikasikan pada akun-akun social media mereka.

Efek personalisasi lainnya juga dapat dipicu dari hobi. Gen Z dikenal suka berkumpul bersama komunitasnya. Umumnya kelompok-kelompok ini muncul karena kesamaan hobi. Jika produsen mampu menjalin relasi khusus dengan komunitas-komunitas tersebut maka bukan mustahil para gen Z akan bertumbuh menjadi pelanggan setia produk seumur hidup. Dari merekalah perusahaan dapat memperoleh ide-ide pengembangan produk.

Tak hanya itu, komunitas juga dapat menjadi duta komunikasi pemasaran yang paling efektif. Kedua, jalinlah relasi khusus dengan komunitas gen Z tersebut baik secara offline, seperti melalui event, maupun secara online. Pahamilah bahwa sirkulasi informasi pada generasi ini berjalan 24 jam sehari.

Ibaratnya mereka membuka mata dengan gadget serta mengakhiri hari juga dengan gadget. Karenanya penggunaan sarana social media merupakan hal yang vital dalam membangun konsistensi komunikasi. Ini merupakan peluang emas bagi perusahaan sebab dengan demikian ia dapat ‘menemani’ kehidupan konsumen di setiap detiknya.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa social media tak lagi dapat dipandang sebagai sebuah alat, melainkan sarana yang efektif dalam menjangkau gen Z. Karenanya ini saat yang tepat bagi perusahaan untuk merancang strategi komunikasi pemasaran berbasis internet khususnya social media.

Bagi sebagian kalangan mengirimkan iklan promosi lewat email dinilai efektif. Namun survei yang dilakukan YouTube di pertengahan tahun lalu menunjukkan bahwa 50 % responden menyatakan tak lagi membuka iklan dalam inbox e-mail mereka, apalagi yang mendiami spam. Mereka lebih menyukai testimoni para pengguna produk di social media sebelum mengambil keputusan untuk mengkonsumsi produk.

Terakhir, beberapa riset menyimpulkan bahwa gen Z menyukai hal-hal yang bernilai sosial tinggi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ini saatnya bagi perusahaan untuk memandang aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai investasi pemasaran masa depan. Semakin tinggi konektivitas CSR dengan produk maka semakin harumlah image-nya di mata gen Z. Siapkah kita dengan perubahan ini?

 

 

 

 

Sumber  : Aries Heru Prasetyo – Ketua Program Sarjana PPM School of Management

Memahami Perilaku Belanja Online Konsumen Indonesia

e-commerce

Setiap hari makin banyak orang yang mendalami dunia pengalaman berbelanja secara digital.  Keadaan ini utamanya didorong oleh meningkatnya penetrasi internet dari 32% di tahun 2013 menjadi 38% di tahun 2015. Ada peningkatan tajam penggunaan internet sekitar 19% di tahun 2015 dari tahun 2013. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang ingin memanfaatkan momentum ini.

Peningkatan jumlah merek smartphone dengan harga terjangkau dan akses data yang lebih murah membuat teknologi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat umum. Ini mengarah ke peningkatan bertahap dalam belanja online dari 9,4% (2013) menjadi 11,6% (2015), yang melambung sekitar 23%. Meskipun penggunaan e-commerceterbilang masih berada pada tahap awal, tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk menyaksikan perubahan besar dalam industri e-commerce. Data pada grafik 3 mengindikasikan bahwa para peritel online menghabiskan banyak biaya beriklan untuk menarik pengguna baru untuk membeli secara online dan juga menggoda pembeli yang sudah ada untuk menghabiskan uang lebih banyak saat berbelanja online.

 

Namun demikian, tidak semua pembeli berperilaku sama saat mereka berbelanja  online. Cukup adil untuk mengatakan bahwa perilaku belanja online memperlihatkan kemiripan  dengan kurva adopsi teknologi. Di satu sisi ada para inovator yang akan sangat bersemangat dengan adanya peningkatan dan fitur terbaru, sementara yang lainnya akan menolak perubahan. Di sisi lain juga ada jarak antara pengadopsi teknologi awal dengan pelanggan dari pasar pada umumnya.

Mari kita memahami lebih lanjut tentang e-commerce di Indonesia dan hubungannya dengan peluang dan tantangannya untuk para peritel online di Indonesia. Nielsen baru-baru ini melakukan survei terhadap 5000 responden di 5 kota besar di Indonesia untuk memperkirakan besarnya pasar industri e-commerce. Penelitian ini dilakukan pada 3 modul terpisah pada awal tahun ini. Lebih jauh lagi penelitian ini untuk memahami perilaku pembelian para pembelanja online untuk 10 kategori produk (elektronik konsumen,  fashion, travel,  IT & mobile, dan lain-lain). Ini adalah upaya untuk memahami perilaku dan dinamika pembelian dari orang-orang yang melakukan pembelian secara online.

 Memelajari Industri E-Commerce

  • Industri e-commerce di Indonesia diperkirakan akan bernilai lebih dari Rp70 Triliun per tahun.
  • Produk-produk Elektronik Konsumen dan Travel berkontribusi lebih dari 50% dari total nilai pasar.
  • Dalam hal frekuensi pembelian, produk-produk Fashion/Pakaian Olahraga adalah kategori yang paling populer dibeli secara online (68%) diikuti oleh Travel (35%) dan Kosmetik (29%).
  • Lebih dari 20% adalah Exclusive Click Shopper yang langsung membeli onlinetanpa banyak melakukan penelusuran (browsing).
  • Profil pembelanja e-commerce lebih kepada kelompok usia muda (kurang dari 25 tahun).
  • Wanita mendominasi pembelian produk Kosmetik, Perawatan Pribadi dan Bahan Makanan (F&B).
  • Rekomendasi dari keluarga/teman dan situs jaringan sosial pada merupakan pemberi pengaruh utama pada proses pembelian.
  • Sebagian besar pembelanja online melakukan “Pencarian & Perbandingan Produk” serta “Membaca Ulasan Produk” sebelum membeli.
  • Setelah membeli, mereka menciptakan “Word of Mouth” dengan berbagi pengalaman tentang produk pada situs jaringan sosial. Pembayaran melalui internet banking dianggap terpercaya dan aman untuk belanja online

 

Tantangan bagi Industri E-Commerce

Meskipun konsumen melakukan eksplorasi saat belanja online, ada kekhawatiran yang muncul terkait masalah Kepercayaan akan Kondisi barang sama seperti yang ditampilkan di situs. Apakah produknya asli atau palsu? Apakah ada jaminan produk akan diterima  pada saat pemesanan atau pembayaran dilakukan secara online?

Penghalang lain adalah tentang berbagi informasi pribadi dan informasi bank dengan pihak ketiga, yang bisa saja mengirimkan email yang tidak diinginkan kepada pelanggan. Tidak lupa juga tantangan yang melekat di setiap negara yang berada dalam fase pertumbuhan  teknologi digital, contohnya kecepatan internet yang lambat. Meskipun untuk membangun kepercayaan pembelanja diperlukan usaha yang terorganisir dan rencana jangka panjang, namun masalah lambatnya kecepatan internet dapat diatasi dengan mengembangkan App/Website yang kompatibel dengan kecepatan internet yang berbeda-beda (misalnya basic HTML & full version).

Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia, mengatakan, “Sangat penting bagi peritel online untuk membangun Kepercayaan, yang dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan pengenalan/kebiasaan mengenai langkah-langkah keamanan dunia maya dan layanan pembayaran yang aman untuk belanja online.”

Melihat ke Depan

Saat ini kemudahan dan kenyamanan dalam membandingkan produk di berbagai situs tetap menjadi dasar dari industri e-commerce. Namun dalam waktu dekat pengalaman belanja keseluruhan dalam kenyamanan menemukan produk, proses pemesanan yang cepat dan layanan pembayaran yang aman akan menjadi kunci untuk menarik para pembelanja untuk melakukan pembelian ulang.

Industri e-commerce di Indonesia dipenuhi oleh bertumbuhnya isu Kepercayaan di antara para pembeli, masalah logistik dan infrastuktur yang masih dalam tahap pengembangan dan sisi kompetitif pasar dimana tidak ada peritel online yang dinyatakan sebagai pemimpin pasar. Namun demikian dengan populasi lebih dari 200 juta dan penggunaan smartphone yang meningkat, Indonesia tampaknya tetap memiliki potensi fundamental pasar e-commerce yang besar.

 

 

 

Sumber : Marlina Elizabeth via Swa.co.id

2017 : Saatnya Curi Start

start

Menjelang akhir Tahun 2016, para marketer sedang sibuk menyusun marketing plan 2017. Merangkum data marketing plan pada 2016 dan melakukan evaluasi atas pencapaian strategi yang telah dijalankan, yang kemudian akan dijadikan pertimbangan dalam penyusunan arah marketing plan tahun depan.

Tahun 2017 adalah tahun curi start. Kenapa? Karena tahun depan ekonomi kita mulai menemukan kembali momentum pertumbuhannya dan di tengah ekonomi yang mulai bertumbuh, siapa cepat ia akan dapat dan menjadi pemenang.

Selama kurun waktu 2010- 2015 secara konsisten pertumbuhan ekonomi kita terus melambat pertumbuhannya, berturut-turut dari 6,8%, 6,4%, 6,2%, 5,8%, 5%, dan 4,8%. Tahun ini diperkirakan akan naik sedikit menjadi 5,1% dan tahun depan kita akan menemukan momentum pertumbuhan kembali di posisi 5,5%. Dengan dorongan suntikan dana tax amnesti dan APBN 2017 yang ekspansif (pemerintah baru saja menarik utang Rp 729 triliun) bukan hal mustahil target pertumbuhan sebesar ini terwujud.

FIX Marketing Plan final Terakhir.cdr

2017: Tahun Come Back
Setidaknya ada tiga indikator utama yang membuat kita optimis tahun depan perekonomian kita menemukan momentum pertumbuhannya kembali.

#1. Ready for Growth: Bottoming-Up.
Indikator ekonomi tahun ini dan proyeksi tahun depan memperlihatkan kondisi membaik (pertumbuhan, inflasi, ekspor-impor, rupiah, konsumsi, dll.) sehingga menjadi landasan bagus bagi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya. Membandingkan indikator tersebut dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya terlihat adanya tren bottoming-up. Di samping itu, secara politik, posisi pemerintahan Jokowi makin kokoh dan kian mendapatkan kepercayaan pasar di ujung tahun kedua pemerintahannya. Ini merupakan modal bagus untuk mendorong perkembangan ekonomi di sisa masa jabatannya.

#1. Economic Packages: Get Momentum. Paket kebijakan ekonomi 1-13 (akan disusul paket ke-14 tentang e-commerce beberapa minggu ke depan) selama ini memang belum dirasakan secara signifikan. Wajar saja karena masih relatif baru. Namun di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, ekonomi kita akan mulai menuai dampak positif dari berbagai paket tersebut. Di tahun 2017 paket ekonomi akan menunjukkan taringnya dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat permintaan, meningkatkan daya saing industri, mengefisienkan distribusi dan rantai pasokan, dan mendorong pertumbuhan sektor UKM.

#2. Tax Amnesty: Prime Mover.

Indonesia menjadi negara tersukses dalam menyelenggarakan program pengampunan pajak. Di tahap 1 yang berakhir akhir September 2016 lalu, total deklarasi (dalam negeri dan luar negeri) dan repatriasi saja telah mencapai Rp 3.600 triliun dengan dana tebusan mencapai Rp 97 triliun. Di samping menguatkan rupiah karena aliran dana masuk (sekarang sedang siap-siap menembus level psikologis Rp 12.000), program ini juga akan mendorong investasi di dalam negeri terutama investasi di bidang infrastruktur. Program pengampunan pajak akan menjadi prime mover pertumbuhan 2017.

Speed Is Everything
Di tengah ekonomi yang bakal menggeliat, maka kecepatan untuk menjadi pemain pertama yang meramaikan pasar merupakan faktor kunci penentu kesuksesan. Belajar dari salah satu pemimpin konglomerasi Indonesia yang berhasil melakukan ekspansi ke Negeri Tirai Bambu Pak Mochtar Riady. Daam bukunya ” Mochtar Riady ; Manusia Ide” beliau bercerita, kala itu hanya beberapa tahun setelah terjadi tragedi Tiananmen tahun 1989, perusahaan-perusahaan asing di Cina beramai-ramai hengkang karena situasi politik yang gawat tak menentu. Dalam kondisi semacam itu praktis semua marketers mengambil langkah wait and see, tak satupun yang berani take dangerous risk untuk masuk pasar Cina

Tapi Pak Mochtar berpikiran lain. “Kalau perusahaan lain tak berani masuk Cina dan saya satu-satunya yang masuk, maka tentu saja saya akan mendapatkan advantages,”. Itulah yang disebut first entrant advantages seperti pengetahuan, pengalaman, dan eksposur sebagai pemain pertama. Tapi di balik keunggulan-keuanggulan itu, tentu saja risiko yang arus ditanggung juga luar biasa besar karena memang kondisi politik Cina kalau itu serba tidak menentu.

Kondisi yang dihadapi Pak Mochtar tersebut mirip dengan apa yang dihadapi para marketers di Indonesia saat ini. Sudah 3-4 tahun ini ekonomi kita mandek: konsumen adem-ayem, permintaan lesu, penjualan melemah, banyak target perusahaan tak tercapai. Dan seperti terurai di depan, tahun depan ekonomi kita bakal menggeliat. Nah, siapa yang bergerak cepat memanfaatkannya bakal mendapatkan first entrant advantages dan merekalah yang bakal meraup sukses besar. Itulah sebabnya saya menyebut tahun depan adalah tahun curi start.

5 Strategi Curi Start
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana strategi untuk curi start di tahun 2017? Dalam beberapa minggu terakhir  Inventure pimpinan Pak Yuswohady melakukan kajian dan merumuskan 5 strategi curi start dalam rangka mendapatkan first entrant advantages di tahun 2017.

#1. Be a Trailblazer, Take the Dangerous Risk. Anda harus menjadi pionir di pasar yang telah cukup lama “mati suri”. Kalau bukan Anda lalu siapa lagi? Tanpa ada yang memulai mustahil pasar bisa menggeliat. Strategi market-driven (menunggu maunya pasar) tak bakal mempan lagi. Anda harus mengeluarkan jurus market-driver (menggerakkan pasar) agar pasar bangkit dari kelesuan dan bergairah kembali. Karena itu Anda harus menjadi industry hero dan nasib geliat industri ada di tangan Anda. Karena menjadi yang pertama tentu Anda harus siap dengan segala risiko seberbahaya apapun risiko tersebut. Tapi ingat, “high risk, high return”, begitu bisa menerobos risiko, maka Anda akan berpotensi memimpin pasar, pesaing hanya menjadi followers Anda.

#2. Spark-up the Demand. Pekerjaan tersulit bermain di pasar yang sudah terlanjur lama melemah adalah meletikkan (spark-up) permintaan. Untuk bisa melakukannya, Anda tak boleh memberikan yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Anda harus menciptakan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin ditolak oleh konsumen. Opsinya ada tiga. Pertama, Anda harus menciptakan produk tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary product with extraordinary value. Kedua, Anda harus menciptakan layanan dan pengalaman tak biasa yang bernilai tinggi (fresh & extraordinary service & experiences with extraordinary value). Dan ketiga, Anda harus menciptakan produk biasa tapi dengan harga supermurah (ordinary product with super low customer cost = hyper-value product).

#3. Speed-up Value Innovation. Ketika para pesaing masih wait and see, menunggu situasi kondusif dan banyak berhitung, kecepatan memanfaatkan pasar yang akan menggeliat menjadi senjata paling ampuh bagi Anda. Lakukan inovasi nilai (value innovation) dengan cepat, sebelum pesaing sadar untuk melakukannya. Inovasi nilai berujung pada penciptaan produk dan layanan yang more for less: benefit luar biasa tinggi, harga luar biasa murah. Gojek, IKEA, AirBnB, adalah contoh great value innovator. Untuk menjadi great value innovator, maka digitalisasi bisnis sudah menjadi keniscayaan dan keharusan. Tanpa digitalisasi Anda stuck menjadi pemain medioker.

#4. Create Niche, Twist Industry Rules of the Game. Untuk sukses menghasilkan fresh & extraordinary offering pasti Anda tak bisa langsung menguasai mainstream market. Anda harus memulai dari pasar ceruk (niche) yang unik dan kecil, dan kemudian membesarkannya dan Anda menjadi penguasa tunggal. Jadi pendekatan yang Anda gunakan adalah: menjadi ikan besar di kolam yang kecil, bukannya sebaliknya, menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena itu strategi curi start memang cocok untuk para challenger untuk mencuri pasar dari si market leader. Si challenger harus smart memanfaatkan transisi pasar yang sedang menggeliat untuk mencuri pasar dari si market leader.

#5. Be Stand-Out in the Mind of Customers. Ketika Anda bisa mendayagunakan first entrant advantages dan mampu menghasilkan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin bisa ditolak oleh konsumen, maka secara otomatis posisi brand Anda di benak konsumen akan kokoh. Brand Anda yang stand-out di benak konsumen itu harus “dipatri” sehingga membalik peta persaingan dimana Anda di posisi terdepan. Kalaupun Anda tak menjadi market leader, setidaknya Anda adalah thought leader yang dikagumi konsumen.

Selamat menyongsong tahun cerah 2017.

rujukan ; yuswohady.com

Melakukan Segmentasi dengan Demografi.

segmentasi

Salah satu basis yang seringkali dipakai marketer dalam melakukan segmentasi adalah faktor demografi. Mereka yakin bahwa faktor demografi penting untuk menentukan segmentasi pasar, atau paling tidak untuk mendeskripsikan segmen tertentu. Demografi pada dasarnya adalah klasifikasi atau pengelompokkan yang didasarkan pada peta kependudukan. Jumlah penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin atau gender, pendidikan, tingkat kesejahteraan dan sebagainya, merupakan variabel-variabel demografi yang akan menentukan besarnya pasar, potensi daya beli, dan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar.

Berbicara mengenai segmen kelompok menengah-atas, berarti memilah masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Biasanya, tingkat kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari tingkat pendapatan ataupun tingkat pengeluarannya. Namun kita kerap akan menemui kesulitan bila menanyakan orang tentang berapa besar pendapatan yang diperoleh. Lazimnya dia akan keberatan untuk menjawab berapa besar pendapatannya. Dia lebih mudah mengungkapkan berapa besar pengeluaran rutin sehari-harinya. Oleh karena itu, akan lebih mudah mengetahui tingkat kesejahteraan seseorang dengan melihat dari sisi pengeluarannya.

Umumnya, para peneliti mendefinisikan pengeluaran dalam pengertian yang relatif sama, yaitu pengeluaran rutin untuk barang dan jasa seperti membeli makanan dan minuman, biaya sekolah anak, biaya listrik, gaji pembantu, transportasi, dan lainnya dalam sebulan—tidak termasuk pengeluaran untuk kredit kendaraan atau rumah. Namun yang membedakan adalah basis pengelompokannya. Pengelompokan ini sering juga disebut Social Economy Class (SEC) atau Social Economy Status (SES). Dalam lingkup riset pemasaran, SEC atau SES ini tergambar dalam 5 kelompok, yaitu: SES E, SES D, SES C, SES B. dan SES A. Kita sering menjumpai peneliti-peneliti yang berbeda versi dalam menentukan basis pengelompokan SES.

AC Nielsen misalnya, menentukan seseorang/keluarga masuk kelompok SES A apabila memiliki tingkat pengeluaran per bulan lebih dari Rp 1.750.000. Sedang keluarga yang masuk kategori SES B bila memiliki tingkat pengeluaran antara Rp 1.250.000– 1.750.000. Berdasarkan versi AC Nielsen, banyaknya orang yang masuk kategori kelas menengah-atas ini sekitar 22%  (terdiri dari 10% SES A dan 12% SES B).

Tingkat Pengeluaran di 15 Kota Besar

E D C2 C1 B A1 A2
Kurang dari 400.000 – 600.000 – 800.000 – 1.250.000 1.750.000 lebih dari
400.000 600.000 800.000 1.250.000 1.750.000 2.250.000 2.250.000
13% 21% 19% 25% 12% 6% 4%

Sumber: Nielsen Media Index

Pengelompokkan ini akan berbeda jika melihat versi Badan Pusat Statistik (BPS). Biro riset milik pemerintah ini tidak menggunakan istilah SES A, SES B atau SES C. Dari dulu hingga sekarang cut off yang dijadikan patokan dalam pengelompokan tetap sama, yakni kelompok pengeluaran per kapita per bulan, yang terdiri dari kelompok pengeluaran di atas Rp 500 ribu, kelompok Rp 300.000–499.999, kelompok Rp 200.000–299.999, dan seterusnya. BPS mencatat orang Indonesia yang masuk kategori kelas menengah-atas ada sekitar 15%. Angka ini merupakan hasil sensus penduduk yang mencakup kota dan pedesaan.

Monthly per Capita Expenditure Class (Rp) Urban% Rural% Urban+Rural%
Less than 40.000 0.06 0.03
40.000   –    59.999 0.12 1.47 0.87
60.000   –    79.999 1.57 7.86 5.06
80.000   –    99.999 3.77 14.46 9.71
100.000 –  149.999 19.56 37.99 29.80
150.000 –  199.999 20.45 20.39 20.42
200.000 –  299.999 26.36 12.86 18.86
300.000 –  499.999 19.33 4.01 10.82
500.000 and over 8.83 0.91 4.43
Total 100.00 100.00 100.00

Sumber: BPS

Kalau produk Anda ingin berfokus di kota besar saja, penggolongan dari Frontier mungkin bisa disimak. Biro riset yang melakukan survei rutin setiap tahun di kota-kota besar ini menentukan basis SES yang lebih besar. Untuk SES A, Frontier menentukan pengeluaran keluarga Rp 3 juta ke atas. Sedang SES B adalah keluarga yang berpengeluaran antara Rp 1,8 juta–3 juta. Kemudian SES C adalah kelompok pengeluaran Rp 1 juta–1,8 juta, dan seterusnya. Menurut hasil riset Frontier, banyaknya orang yang masuk kategori kelas menengah-atas ada sekitar 37%. Besarnya angka ini wajar saja karena survei dilakukan di kota-kota besar, yang biaya hidupnya lebih besar daripada kota-kota lainnya.

Tingkat Pengeluaran di Kota-kota Besar

Pengeluaran SES Jumlah
Kurang dari Rp 600.000 SES E 4.20%
Rp   600.000  – Rp 1.000.000 SES D 19.80%
Rp 1.000.000 – Rp 1.800.000 SES C 38.80%
Rp 1.800.001 – Rp 3.000.000 SES B 22.30%
Lebih dari Rp 3.000.000 SES A 15.00%

 

 

sumber : By Ivan Mulyadi (marketing.co.id)

Ambil Bagian dari Industri Ritel yang Tak Pernah Mati

ritel

Ritel boleh jadi adalah salah satu industri yang paling lama berada di muka bumi. Dunia perdagangan sudah terbentuk sejak dulu dan selalu beradaptasi dan berkembang sesuai dengan segala perubahan yang ada. Rasanya setiap perubahan yang terjadi, baik dalam marketing, ekonomi, politik, teknologi, dan lainnya tidak akan mematikan ritel itu sendiri, melainkan hanya mengubah wajah dan menciptakan tren baru di industri ritel itu sendiri.

Tren dalam ritel itu sendiri juga turut dipengaruhi oleh keadaan ekonomi suatu negara, dimana jika ada perbaikan di bidang ekonomi, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan selanjutnya pasti akan menggairahkan industri ritel. Kini masyarakat tengah fokus membangun dan mensejahterakan kaum menengah yang notabene mempunyai jumlah dan daya beli yang cukup besar. Kaum menengah ini juga yang menjadi penentu dalam menggairahkan industri ritel.

Industri ritel dunia, termasuk di Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh dan berkembang. Namun demikian berkembangnya ini diikuti dengan semakin banyak pemain yang menggarap bisnis ini baik dari lokal maupun asing. Tentu saja hal ini akan meningkatkan skala persaingan yang semakin ketat ke depannya. Oleh karena itu, marketer harus memiliki strategi marketing yang tepat guna memenangkan persaingan ini.

Ritel tak pernah mati, melainkan hanya berubah bentuk ke sistem online.Selain itu, salah satu bidang yang juga diperkirakan semakin mendukung perkembangan sektor ritel adalah inovasi berupa e-commerce. Kendati belum semua masyarakat terbiasa dengan cara belanja online, khususnya melalui TV atau Internet, kampanye dan edukasi beberapa pihak tentang belanja secara online mulai membuahkan hasil. Pelan-pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia di beberapa daerah, khususnya di kota-kota besar, sudah menerima dan nyaman dengan gaya belanja ini.

Tentu untuk menjadi yang terbaik di industri ritel, strategi marketing tidak boleh dipandang sebelah mata. Marketing bisa jadi menjadi penentu mampu atau tidaknya suatu pemain untuk bertahan dan berkembang di pasar yang persaingannya kian ketat dan bahkan boleh dibilang sudah jenuh.

Dalam strategi marketing, banyak peritel sudah sadar bahwa positioning itu sangat penting. Mereka harus mempunyai branding yang jelas di benak pelanggan dan bisa dibedakan dengan pemain lain. Banyak peritel berusaha untuk menciptakan keunikannya sendiri dan strateginya pun disesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan di sekitarnya.

Selain positioning, para peritel juga memperhatikan segmentasi. Walaupun untuk sebuah pemain ritel yang sangat besar sekali pun, terasa mustahil untuk bisa memenuhi setiap segmen pasar yang ada. Maka strategi yang diterapkan memang fokus pada segmen pasarnya masing-masing supaya bisa memenuhi segala kebutuhan pelanggan di segmen pasar yang mereka tuju dengan maksimal.

Secara garis besar, dari sudut pandang marketing, tren persaingan di industri ritel akan tetap terpaku pada beberapa hal mendasar. Pertama adalah strategi pricing atau bagaimana peritel menetapkan harga untuk setiap produknya. Harga yang dipatok haruslah sesuai dengan segmen pasar yang dituju. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, faktor harga memegang peranan yang sangat penting dalam industri ritel, dimana strategi perang harga sudah lama tidak bisa dilakukan lagi untuk memenangkan persaingan.

Faktor berikut yang turut menentukan sukses tidaknya suatu peritel yang masih fokus pada brick and mortar, adalah faktor lokasi yang mencerminkan seberapa mudahnya lokasi peritel itu bisa dijangkau oleh para pelanggannya. Bagi peritel, investasi properti (dalam hal ini lokasi) bisa menjadi benefit tersendiri jika diperhitungkan secara serius. Tren pemilihan lokasi yang sejak dulu sudah dilakukan, yaitu dekat dengan pusat aktivitas konsumen dan nyaman untuk dijangkau, akan terus berlaku untuk tahun-tahun ke depan.

Satu faktor lagi yang menjadi penentu, bahkan bisa menciptakan diferensiasi peritel yang satu dengan yang lain adalah faktor pelayanan (service) yang diberikan kepada semua pelanggannya. Faktor layanan ini pun sangat luas dan beragam bentuknya, mulai dari kualitas SDM yang digunakan, sistem tata letak produk, kenyamanan ruang belanja, kelancaran proses di bagian kasir, solusi yang diberikan untuk setiap keluhan yang muncul, product knowledge yang dimiliki oleh setiap pelayan toko, kecepatan dan jaminan untuk pengiriman barang, dan masih banyak lagi.

Sumber : marketing.co.id

5 Taktik jitu dalam penentuan harga

Dalam artikel ini akan diulas sebuah gambaran tentang tactic pricing yang biasa anda temukan sehari hari, jadi hal ini dapat membantu Anda untuk membuat pilihan yang lebih bijak sebagai seorang customer

Untuk para pengusaha yang kesulitan dengan menentukan sebuah harga, ini akan menjadi panduan yang bagus untuk menghindari sebuah kesalahan dan mencoba ide baru yang akan diterpakan pada bisnis Anda.

Mari kita mulai!

1. “Useless” Pricing

Untuk kasus ini mari kita lihat contoh berikut

taktik pricing

Ada 3 jenis subscription di atas, mana yang Anda pilih?

1. Web-only subscription

2. Print-only subscription

3. Web & Print subcription

Sangat jelas sekali bahwa pilihan ke-2 merupakan sebuah pilihan yang sia-sia. Terbukti dari penawaran yang mereka berikan kepada 100 mahasiswa di MIT. Gambar di bawah menunjukkan perubahan dari tingkat subscription setelah pilihan ke-2 dihilangkan.

tp1

 

Lihat bahwa pilihan pertama menjadi pilihan yang terbaik daripada pilihan ke-3 setelah opsi ke-2 dihapus.

Apa yang terjadi? Sesuai kepercayaan yang ada, kebanyakan orang tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan. Mereka rentan dan membutuhkan banyak informasi tambahan untuk membantu mereka dalam membuat sebuah keputusan.

Jadi pilihan yang “sia-sia” tersebut tidak sia-sia sepenuhnya bukan?

Kesimpulan : Belilah apa yang Anda butuhkan, bukan apa yang Anda pikir merupakan penawaran terbaik.

Untuk entrepreneur, gunakan taktik ini dengan hati-hati. Tetaplah membaca untuk mencari tahu bagaimana taktik ini dapat menjadi bumerang bagi Anda nanti.

 2. Old Classic -9

Pergilah ke supermarket dan Anda akan melihat harga yang berakhir dengan angka 9 dimana-mana. $49 vs $50, semua orang tahu bahwa hal tersebut sebetulnya sama, tidak memilikki perubahan yang berarti. Pastinya semua orang tahu bahwa hal tersebut adalah trik marketing, namun apakah mereka dapat menolak hal tersebut?

Menurut riset yang dilakkukan oleh  Quantitative Marketing and Economics jawabannya adalahtidak. Harga yang berakhir dengan angka 9 memilikki hasil yang sangat baik bahkan terhadap produk yang sama dengan harga yang lebih murah sekalipun.

Menurut buku Priceless yang ditulis oleh William Poundstone menganalisis tentang 8 studi yang berbeda terhadap penggunaan harga yang berakhir dengan angka 9 dan menemukan bahwa kebanyakan mereka memilikki sales yang lebih besar 24% seperti $39 vs $40.

Dalam sebuah eksperimen yang ditujukan kepada pelajar MIT dan University of Chicago , sebuah baju perempuan dijual dengan harga $34, $39, dan $40.

Dan anehnya, harga barang $39 memilikki jumlah sales yang lebih besar, bahkan lebih banyak dari barang yang memilikki harga $34.

Intinya dalam situasi tersebut harga yang berakhir dengan angka 9 dapat mengalahkan harga yang lebih murah.

Kesimpulan : Untuk customer, abaikanlah angka 9!

Untuk entrepreneur abaikanlah angka 9 tergantung kebutuhan anda. Jika anda ragu $49 mengalahkan $49.90

 3. Anchoring

Bagaimana cara menjual sebuah makanan dengan harga $14.90? Jika dibandingkan dengan makanan seharga $29.90

Bagaimana cara menjual packet data mobile seharga $49.90? Jika dibandingkan dengan packet data premium seharga $200 yang kebanyakan orang enggan untuk mendaftar

Hal ini dikenal sebagai “Anchoring”. “Anchoring” mengacu pada kecenderungan manusia untuk terlalu bergantung pada potongan informasi pertama (“Anchor”) yang ditawarkan ketika sedang membuat keputusan.

Faktanya, Anda bisa melihat cara ini di praktikan di mana-mana. Jika Anda pergi ke pub/bar di sekitar Anda, mungkin Anda pernah berpikir apa ada yang pernah memesan minuman dengan harga selangit yang tertera di menu. Jika Anda pergi ke Rolex, jam tangan seharga $2000 akan terlihat murah karena disampingkan dengan jam tangan seharga $10.000. Akan tetapi, jam tangan $2000 tersebut akan terlihat premium jika diletakkan disamping jam seharga $200.

Inilah bagian yang menarik – Jika Anda sudah cukup expert dalam hal pembelian, apakah Anda akan lebih sulit untuk tertipu? Ternyata tidak.

Dalam sebuah riset percobaan penelitian harga, agen properti profesional diminta untuk memperkirakan harga dari sebuah  rumah yang disertakan dengan  informasi dari daftar harga rumah tersebut. Researcher memanipulasi daftar harga tersebut, menggunakan teknik “Anchor” high and low seperti yang telah kita pelajari sebelumnya.

Hasilnya, semua agen properti profesional ternyata terpengaruh oleh daftar harga yang telah dimanipulasi tersebut. Namun, mereka semua membantah gap antar harga dalam price list yang mempengaruhi keputusan penilaian mereka. Mereka mengklaim bahwa fitur properti lah yang mempengaruhi keputusan penilaian mereka.

Kesimpulan: Jangan terkecoh dengan informasi tawaran pertama.

4. Offering 3 Options

Ketika Anda menghadapi berbagai pilihan tawaran harga, Apakah Anda memilih pilihan yang lebih “aman” dengan memilih opsi yang terletak di tengah? Jika ya, rupanya Anda tidak sendirian. Dalam buku berjudul Priceless, William Poundstone mencoba melakukan eksperimen harga dengan beer.

Case #1

tp2

 

 

Gambar di atas adalah pilihan harga di sebuah bar. 80% customers memilih tawaran yang terlihat lebih premium. Jika kita ingin menjangkau lebih banyak customer, apakah menambah varian yang lebih murah merupakan ide yang baik? Mari kita lihat Case #2

Case #2

tp3

Asumsikan jumlah pembelian dalam sehari sama dengan case #1? Apakah ada peningkatan revenue? Anehnya, total revenue justru turun! Kita telah mempelajari “Anchoring” dan “Useless” Pricing dalam artikel ini. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa ketika taktik harga digunakan dengan salah, hal tersebut justru dapat menyebabkan efek negatif.

Case #3

tp4

 

Dalam Case #3, mereka menghapus pilihan bir $1.60 dan menggantinya dengan pilihan bir $3.40. Hasilnya, justru lebih banyak orang memilih Bir premium ($2.50) daripada sebelumnya. Menariknya, selalu ada orang yang bersedia membayar lebih untuk yang terbaik, berapapun harganya.

Kesimpulan: Waspadalah terhadap opsi yang diletakkan di tengah, mungkin opsi tersebut memang sengaja ditempatkan di tengah untuk meningkatkan penjualan dari item yang ingin mereka jual. Dan untuk para pengusaha, cobalah terapkan cara ini untuk meningkatkan penjualan produk premium.

 

5. Changing Perception

Campaign mana yang dapat membuat Anda lebih tertarik untuk bergabung? “Mari meyumbang $1 setiap hari!” atau “Mari menyumbang $365 setiap tahun!”. Kedua campaign tersebut meminta kita untuk menyumbang dalam jumlah uang yang sama, namun campaign yang pertama lah yang lebih sukses.

Hal ini karena orang membandingkan apa yang dapat dia keluarkan dengan apa yang dapat mereka beli. Sebuah dollar sama dengan secangkir kopi tapi $365 dapat membeli sebuah kopi. Waktu adalah sebuah wujud yang tidak dapat dikelola dengan baik oleh manusia.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menentukan harga sehingga hal tersebut dapat dianggap wajar. Contoh, bagaimana sebuah coca-cola dengan harga $5 dapat masuk akal? Di dalam sebuah bar dengan suasana yang mengasyikkan dimana “biasanya” mereka menjual alcohol.

Alternatif lain yaitu dengan “menciptakan” sebuah “kategorti” baru dengan merubah nama product tersebut misalnya “Kopi” menjadi “Americano”. Menulis nama customer pada gelas kopi. Ubalah segala hal sehingga dapat membuat customer tidak memilikki alasan untuk menolak produk Anda, dengan menghapus segala persepsi dan menciptakan sebuah kategori baru.

Kesimpulan : Fokus kepada apa yang Anda beli jika hal tersebut memang merupakan fokus Anda. Bagi entrepreneur, pahami dan tingkatkan perceived value dari product Anda.

Fakta lainnya :

  •  Orang terbiasa untuk mendownload musik secara gratis. Steve Job meyakinkan mereka untuk membayar. Bagaimana? Dengan menjualnya seharga 99 cent
  • Penjualan meningkat ketika label harga diubah dari $50 menjadi 50
  • 90% customer berjalan berlawanan arah jarum jam di dalam supermarket, sehingga berbelanja lebih banyak dari proses tersebut. Namun tidak ada yang tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi.

 

Sumber : http://www.blueperks.com.sg/5-pricing-tactics-you-always-fall-for/

9 Hal yang Wajib Ada dalam Pitch Deck

2013_08_17 Esnspiral

Coverage of Social Entrepreneur Startup Weekend: Saturday August 17, 2013. Photo by Mark Tantrum | http://www.marktantrum.com

Setelah menemukan ide startup yang cemerlang, Anda mulai melakukan riset. Berapa besar market yang tersedia, siapa kompetitornya dan bagaimana me-monetize bisnis tersebut.

Kemudian Anda mulai membuat produk dan mendapatkan traction. Anda mulai mendapatkan user dan, semoga saja, mendapat customer. Anda juga sudah mencapai product-market-fit dan ingin mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Anda ingin mencari angel investor dan VC untuk mempresentasikan ide Anda. Kemudian seorang investor potensial meminta Anda mengirimkan pitch deck. Tapi Anda tidak tahu apa maksudnya.

Apa itu pitch deck?

Jika Anda berhasil mendapat dana dari investor, atau Anda baru mau fundraise, Anda tidak asing dengan pitch deck dan isinya. Namun, bagi mereka yang baru dalam dunia startup mungkin bertanya-tanya, apa itu pitch deck?

Berdasarkan Improve Presentation, “Sebuah pitch deck merupakan presentasi singkat, seringkali dibuat menggunakan PowerPoint, Keynote atau Prezi, digunakan untuk memberikan gambaran singkat mengenai business plan Anda kepada audience. Biasanya Anda akan menggunakan pitch deck selama online meeting face-to-face dengan investor potensial, customer, partner, dan co-founder.”

Dengan definisi tersebut, kita bisa bilang bahwa pitch deck merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan fundraise. Banyak enterpreneur sukses yang menghabiskan banyak waktu dalam membuat pitch deck yang berisi hal-hal penting dan relevan bagi investor potensial.

Apa yang harus ada dalam pitch deck?

Inilah beberapa bagian dasar yang Anda perlukan dalam sebuah pitch deck:

  • Elevator Pitch

Jangan lupa mencantumkan nama startup Anda, nama Anda atau co-founder lainnya dan informasi kontak yang dapat dihubungi. Jika memungkinkan, tulis penjelasan singkat mengenai apa yang dikerjakan oleh startup Anda supaya investor potensial mendapat gambaran akan potensi dan ukuran market perusahaan Anda.

  • Problem Statement

Ide startup Anda muncul karena suatu alasan. Jelaskan poin tersebut pada investor potensial Anda. Page ini sangat penting untuk mendapatkan pengakuan orang dan membeli produk Anda. Pastikan bahwa investor potensial atau audience lainnya memahami apa yang Anda jual dan value proposition yang ditawarkan. Anda tidak bisa menjelaskan masalah teknis dan operasional di sini, fokus pada solusi yang dimiliki untuk menjawab sebuah permasalahan.

  • Business Model

Di sini Anda perlu menjelaskan bagaimana me-monetize, siapa customer Anda, distribusi channel atau struktur biaya. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran bagaimana bisnis ini berjalan. Pada umumnya, model bisnis yang unik dan belum teruji tidak populer dan terkadang bisa beresiko. iI sini Anda bisa memasukkan nama bisnis yang sudah menggunakan produk atau servis Anda untuk memvalidasi model bisnis.

  • Defensible Technology

Pada bagian ini Anda bisa menjelaskan sedikit teknologi yang digunakan, secret sauce atau magic apapun dibalik produk atau servis Anda. Lebih fokus pada penggunaan skema, diagram, atau flowchart dan hindari teks yang berlebihan.

  • Go-To-Market Plan

Pada halaman ini Anda bisa menjelaskan rencana dalam menjangkau customer dan marketing leverage point Anda. Gunakan halaman ini untuk meyakinkan investor potensial Anda bahwa perusahaan Anda punya rencana efektif yang tidak akan merugikan mereka secara materi.

  • Competitive Landscape in your startup’s space

Jangan pernah mengatakan bahwa perusahaan Anda tidak memiliki kompetitor. Meskipun tidak bersaing secara apple-to-appel, perusahaan Anda pasti punya beberapa perusahaan yang menawarkan value proposition serupa. Pada halaman ini, Anda bisa menampilkan competitive landscape, kekuatan Anda dibandingkan dengan kompetitor.

  • Team

Bagian ini penting karena kebanyakan investor potensial ingin mengetahui siapa yang akan menjalankan perusahaan, termasuk co-founder Anda dan key person lainnya seperti advisor atau investor sebelumnya. Selain itu, gunakan halaman ini untuk menonjolkan pengalaman, pendidikan, kesuksesan Anda sebelumnya dan jangan takut tim Anda tidak sempurna. Tidak ada startup yang sempurna, yang terpenting adalah apakah Anda mau dan ingin memperbaiki kekurangan dalam tim Anda.

  • Core metrics and financial projections

Manfaatkan halaman ini untuk menyediakan informasi key metrics dari startup Anda. Anda perlu memahami bahwa setiap startup itu unik dan Anda harus menemukan metrics mana yang paling penting dalam keberhasilan perusahaan Anda. Anda juga bisa menampilkan snapshot financial projection selama tiga sampai lima tahun dan perkiraan key metrics Anda. Pastikan bahwa orang-orang memahami inti forecast tersebut.

  • Current status, accomplishments, fundraising timeline and use of funds

Dalam satu slide, jelaskan status terkini untuk produk atau servis Anda, key milestone yang telah dicapai perusahaan, target Anda di akhir round, dan bagaimana Anda mengalokasikan uang dari para investor. Dan juga, jangan lupa untuk mencantumkan jumlah uang yang perlu di fundraise oleh perusahaan Anda.

Menyiapkan deck dengan detail yang mendalam selalu lebih baik karena setiap investor bisa menemukan jawaban dari pertanyaan mereka dalam deck. Selain itu, menggunakan desain yang bagus juga bukan ide yang buruk untuk menyampaikan hal positif dari bisnis Anda. namun, selalu ingat bahwa proses fundraise membutuhkan banyak waktu dan energy, jangan sampai proses ini mengganggu Anda dalam membangun produk atau servis yang bagus, karena pada akhirnya produk atau servis yang baik dengan market size yang layak dan traction akan menarik perhatian investor. Semoga beruntung! Jangan lupa untuk bersenang-senang dalam menjalankan bisnis Anda!

 

sumber ; http://startupbisnis.com/9-hal-yang-wajib-ada-dalam-pitch-deck/

 

Menatap Indonesia pada 2020: Generasi Millenial Kelas Menengah Kota

Memprediksi dan membaca arah Indonesia masa depan sangatlah menarik, dari berbagai data dan analisis, saya memprediksi momentum Indonesia dalam jangka panjang akan sangat ditentukan pada tahun 2020. Bukan saja karena pemilu presiden akan dilakukan pada tahun 2019, tapi estimasi data yang dilakukan dari berbagai sumber menunjukkan tahun 2020 akan menjadi tonggak berbagai perubahan signifikan yang ada di Indonesia.

GM1

 

Secara ekonomi, World Economic Forum tahun 2015 memprediksikan Indonesia di tahun 2020 akan menempati peringkat ke-8 ekonomi dunia, dan dengan pengguna internet mencapai 140 juta, Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020.

Selain itu, Indonesia 2020 juga bisa kita lihat dari berbagai fenomena yang bibitnya sudah bisa kita lihat saat ini. Paling tidak ada tiga fenomena bisa menjelaskan kondisi Indonesia di tahun 2020, yaitu komposisi urban-rural, penduduk kelas menengah, dan komposisi penduduk muda.

Penduduk Urban

Bangsa Indonesia sejak dulu selalu dikenal sebagai bangsa agraris yang mayoritas penduduknya tinggal di desa. Namun, sensus penduduk (SP) yang dilakukan BPS pada tahun 2010 menunjukkan komposisi penduduk yang tinggal di kota semakin tinggi, 49,8% penduduk Indonesia sudah tinggal di kota pada tahun 2010 dan BPS memprediksi di tahun-tahun mendatang komposisi penduduk kota akan semakin meningkat. Perubahan komposisi penduduk kota-desa bukan sekadar perubahan geografis saja, tapi lebih juga merupakan perubahan budaya, nilai-nilai sosial, perilaku, dan pola pikir.

GM2

Masyarakat kota yang kemudian kita sebut masyarakat urban adalah masyarakat terbuka dan cenderung individualis. Mau tidak mau, suka tidak suka, nilai-nilai tradisional pelan tapi pasti akan semakin terpinggirkan oleh budaya urban. Masyarakat urban adalah masyarakat yang digerakkan oleh nilai-nilai ekonomi dan waktu karena itu sifat-sifat komunal juga akan tersisih.

Penduduk Kelas Menengah

Sejak tiga tahun terakhir, kajian tentang kelas menengah Indonesia menghiasi berbagai media dan tajuk berita. Secara jumlah kelas menengah Indonesia memang fantastis, BCG dalam laporannya menyebutkan tahun 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, sementara McKinsey lebih konservatif menyebut kelas menengah Indonesia tahun 2012 berjumlah 45 juta jiwa. Beberapa lembaga domestik bahkan menyebutkan jumlah lebih fantastis, paling tidak 140 juta penduduk Indonesia adalah kelas menengah.

GM3

Mengapa kelas menengah penting? Dalam sejarah di berbagai negara, kelas menengah selalu menjadi motor perubahan terutama terkait dengan aspek ekonomi dan perubahan sosial. Mereka sudah memiliki daya beli yang cukup sehingga menjadi penggerak ekonomi dari sektor konsumsi, mereka juga memiliki gaya hidup di atas kebanyakan orang.

Kelas menengah juga memiliki ciri kaum terdidik, mereka punya cukup bekal keilmuan sehingga artikulasi pemikiran mereka cukup baik. Mereka kritis dan tidak segan-segan mengutarakan opini pribadi terkait isu-isu sosial di sekitar kehidupan mereka.

GM4

Penduduk Muda

Lebih dari 35% penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah penduduk muda yang berusia 15–34 tahun, bahkan di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, penduduk mudanya bisa lebih dari 40%. Mereka ini adalah penduduk yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an, mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Generasi Millennial. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millennial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X yang lahir tahun 1960–1980.

Dibanding generasi sebelumnya, Generasi Millennial memang unik. Hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center misalnya, secara gamblang menjelaskan keunikan Generasi Millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan Generasi Millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet; entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Wajah Indonesia 2020

Wajah Indonesia tahun 2020 akan sangat ditentukan pertemuan tiga entitas di atas yakni kombinasi antara masyarakat urban, kelas menengah, dan Millennial. Merekalah yang akan menjadi pelaku utama sejarah Indonesia di masa mendatang, saya menyebut mereka sebagai “the urban middle-class millennials”.

Prediksi yang dilakukan BPS menunjukkan di tahun 2020 penduduk kota akan mencapai 56,7%, dan tahun 2035 akan mencapai 66,6%! Prediksi BCG menyebutkan jumlah MAC tahun 2020 mencapai 141 juta orang, sementara McKinsey memprediksi kelas menengah Indonesia tahun 2030 mencapai 130 juta orang.

Jumlah Millennial Indonesia tahun 2020 juga rasanya tidak akan berbeda terlalu jauh dari jumlah sekarang, bahkan cenderung konstan di angka 35%. Millennials di tahun 2020 berada pada puncak keemasan kehidupan mereka baik dari sisi kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakatnya.

Lalu, bagaimana ciri dan karakter masyarakat urban middle-class millennials? Setidaknya ada tiga yaitu pertama, confidence; mereka ini adalah orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Kedua, creative; mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Ketiga, connected; yaitu pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Jadi, selamat menyambut kehadiran the urban middle-class millennials!

Hasanuddin Ali, CEO Alvara Strategic Research, Training Dept. Head PERPI

Sumber : marketing.co.id

Menarget Pasar Ibu

* Pasar ibu rumah tangga adalah segmen pasar yang sangat menggiurkan mengingat ukuran dan pertumbuhannya yang fantastis. Tapi harus diingat, tak gampang menggapainya. Dibutuhkan jurus-jurus pemasaran jitu.

Selama ini kita menganggap bahwa Ibu hanyalah sebagai seorang istri yang tugasnya mengurus suami dan anak-anak. Karena itu kemudian ada ungkapan nakal bahwa seorang Ibu hanyalah mengurusi tiga –ur yaitu dapur, sumur dan kasur. Maksudnya, seorang ibu hanyalah mengurusi tetek-bengek urusan rumah tangga, sementara giliran urusan yang besar-besar diputuskan si bapak, termasuk tentu saja keputusan pengeluaran keluarga Tapi apakah memang demikian?

Impian Setiap Pemasar
Barangkali Anda tidak tahu bahwa 80% cek di Amerika ternyata ditandatangani oleh wanita. Barangkali Anda tak tahu bahwa pasar wanita di Amerika yang total jendral berjumlah 141 juta jiwa, telah mencapai US$ 3,7 juta pertahun. Ini berarti merupakan pasar ketiga terbesar di dunia dengan daya beli kolektif melebihi ekonomi Jepang sekalipun. Dan, barangkali Anda juga tidak tahu bahwa di negeri Paman Sam seorang Ibu mengontrol sekitar 80% pengeluaran rumah-tangga atau sekitar US$ 1,6 Triliun alias 16.000 triliun rupiah, sebuah angka yang sangat-sangat besar.

Seorang Ibu tak hanya mengendalikan pembelian anak-anak dan suaminya, lebih jauh lagi ia memicu adanya domino effect dimana ibu mempengaruhi pembelian keluarga lain mulai dari keluarga suami, tante, sepupu dan yang tidak bisa dilupakan tentu keluarga tetangga. Bukankah para ibu paling suka yang namanya ngerumpi mulai dari di arisan hingga di kafe untuk ibu yang lebih modern? Tanpa adanya persetujuan dari Ibu, akan sulit bagi seorang anak untuk membeli produk anda. Ibu tidak hanya memutuskan apa yang ingin mereka beli untuk keperluan pribadi tetapi juga sebagai penentu pembelian keluarga.

Jika seorang Ibu memutuskan untuk tidak berliburan, maka tidak ada seorangpun di keluarga yang akan berlibur. Jika kita tidak bisa memuaskan seorang Ibu maka kita tidak akan bisa menghasilkan penjualan dari mereka. Sepanjang waktu yang ada, seorang Ibu-lah yang akan menetukan apa yang akan dikonsumsi oleh keluarga, dekorasi dalam rumah, hingga tujuan liburan.

Kalau di Amerika ibu rumah tangga demikian powerful, bagaimana dengan di Indonesia? Memang belum ada penelitian yang komprehensif untuk menghitung ukuran pasar ibu rumah tangga, namun data-data berikut barangkali bisa memberikan gambaran kasar. Sekitar 60% Ibu rumah tangga di Jakarta ternyata memiliki 1-2 kartu kredit, 52% berbelanja dengan menggunakan kartu kredit, dan 80% pernah berbelanja ke luar negeri? Para Ibu juga dengan mudah mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah sebulan. Survei secara random terhadap 100 ibu muda menunjukkan mereka memiliki pengeluaran rata-rata rumah tangga per bulan di atas Rp. 10 juta (25%), Rp. 5-10 juta (10%) dan Rp. 2-5 juta (65%).

Survai yang dilakukan oleh MarkPlus&Co. tahun 2004 di 14 kota besar di Indonesia dengan jumlah reposnden 2000 ibu rumah tangga menunjukkan hasil yang sangat menarik. Ibu ternyata menjadi pengambil keputusan dominan untuk pembelian beragam produk mulai dari peralatan dapur, pakaian anak, obat bebas, sekolah anak, hingga liburan keluarga. Bersama-sama dengan si suami, ibu juga menjadi pengambil keputusan yang penting untuk produk-produk mulai dari rumah, furnitur, asuransi, bank untuk menabung, hingga perlengkapan rumah tangga seperti lemari es, kompor gas, atau TV.

Nilai-Nilai dan Perilaku
Survai dari BSM Media, perusahaan yang mengkhususkan diri pada riset perilaku ibu, menunjukkan, 70% ibu rumah tangga beranggapan perusahaan tidak melakukan komunikasi dan interaksi dengan baik terhadap mereka. Akibatnya gampang ditebak, dana yang mereka habiskan untuk berpromosi dan program pemasaran menjadi mubasir. Apa kira-kira sebabnya? Tak lain karena para pemasar umumnya kurang memahami kebutuhan dan perilaku ibu.

Menarik sekali mengungkap nilai-nilai dan perilaku yang dimiliki oleh ibu rumah tangga di Indonesia, karena dari sinilah kita bisa merujuk orientasi dan keputusan dalam melakukan pembelian. Mengacu ke survai MarkPlus&Co., ternyata ibu di Indonesia sangat menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Apa pesan penting dari temuan ini? Sederhana saja, jangan sekali-sekali Anda sebagai produsen bohong kepada mereka. “Hell hath no fury like a woman scorned,” kata Pujangga Inggris Shakespeare, “tak ada marah sehebat wanita yang dibohongi.”

Selanjutnya, ibu di Indonesia ternyata meletakkan pendidikan, khususnya untuk anak-anaknya, pada prioritas terpenting setelah kejujuran. Karena menjadi prioritas, apa kira-kira implikasinya? Yang jelas ibu cenderung tidak price-sensitive alias berorientasi kualitas kalau sudah memutuskan pendidikan untuk anak-anaknya. “Pendidikan adalah modal utama bagi penerus kami untuk mendapatkan masa depan yang cerah,” kata salah satu responden yang kami temui.

Ketika ditanya apakah aspek terpenting bagi ibu dalam kehidupanya, maka kami menemukan beberpa jawaban yang juga tak kalah menarik. Tiga keinginan tertinggi ternyata adalah masing-masing, “pernikahan yang bahagia,” “memiliki anak,” baru kemudian “memiliki rumah.” Yang menarik, ternyata keinginan untuk “memiliki gaji tinggi,” “memiliki perhiasan yang mahal,” dan “menjadi anggota klub eksekutif” masuk dalam prioritas yang rendah.

Secara lebih umum, beberapa survai di luar negeri menunjukkan bahwa beberapa nilai-nilai berikut ini sangat penting bagi seorang ibu. Yangpertama adalah penghematan waktu. Di mata seorang ibu, penghematan waktu (waktu untuk keluarga, diri sendiri, kerja, dan rumah tangga) adalah hal yang sangat penting. Waktu menjadi begitu herharga sehingga seorang Ibu bersedia untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk menghemat waktu.

Kedua adalah value. Seorang Ibu belum tentu selalu menginginkan produk yang berharga murah saja tetapi mereka berkeinginan untuk membeli produk dengan harga kompetitif yang dapat memberikan pelayanan prima serta pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Kami menyebut ibu rumah tangga adalah smart customer. Kenapa? Karena dalam membeli para Ibu tidak hanya sebatas melihat harga yang murah saja tetapi juga membandingkan kualitas dan manfaat yang didapatkan.

Ketiga adalah kesehatan dan keamanan keluarga. Ibu selalu mengidentifikasi kebutuhan keluarga lebih dari sekedar kepentingan pribadi. Bagi seorang ibu kesehatan setiap anggota keluarga adalah nomor satu, karena itu untuk produk-produk yang mendukung kesehatan keluarga, ibu biasanya tak begitu peka terhadap harga.

Dan terakhir yang tak kalah pentingnya adalah child enrichment alias pengembangan si anak. Seorang Ibu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pintar, sukses dan juga bahagia. Untuk itu sebuah produk harus memiliki 2 selling point yaitu harus dapat menjamin kesehatan/keselamatan anak-anak dan juga dapat membuat mereka tambah cerdas dan bahagia. Jika seorang Ibu membeli mainan yang juga mendidik maka dia akan merasa bahwa telah melakukan sesuatu yang berharga bagi anaknya

“Word of Mom”
Kaum hawa termasuk diantaranya tentu saja ibu, memang diciptakan sebagai mahluk yang doyan bicara dan curhat. Sifat seperti ini rupanya membawa berkah bagi para pemasar. Untuk mengetahui sejauh mana bernilainya kalangan ibu sebagai konsumen, coba anda jalan ke sebuah taman dimana sekelompok ibu saling bercengkerama. Dalam hitungan menit anda akan mendengar para ibu berdiskusi mulai dari kesehatan, makanan, anak, tujuan liburan, sinetron dan telenovela, hingga cerita film-film Bollywood. Belum lagi ngerumpi tentang perlengkapan bayi, kulkas yang baru mereka beli, mobil baru milik tetangga sebelah, hingga isu-isu politik dan perseteruan Saddam vs. Bush.

Mau tahu kekuatan dari hobi ngerumpi dari seorang ibu? Sebuah survai di Inggris menunjukkan bahwa seorang ibu akan merekomendasikan 5 merek kepada ibu-ibu lainnya dalam sebuah diskusi kelompok yang hanya berlangsung 3 menit. Dan rekomendasi tersebut akhirnya diikuti  oleh 2 orang Ibu lainnya. Berarti hanya dalam hitungan 3 menit setiap merek akan memperoleh tambahan 2 konsumen baru.
.
Para Ibu mengontrol dan mengeluarkan sejumlah uang untuk pribadi maupun keluarga, dan sebagai pemasar Anda harus berterima kasih kepada mereka karena seorang Ibu tidak sekedar menghabiskannya tetapi juga senang menceritakan kemana uang mereka dibelanjakan kepada para Ibu lainnya. Proses komunikasi melalui komunitas seperti inilah yang melahirkan istilah “word of mom” atau cerita dari mulut ke mulut. Para ibu senang berbicara, berdiskusi, membandingkan serta berbagi. Jika Anda dikagumi oleh para Ibu, maka yakinlah mereka akan berbagi cerita tentang produk anda. Seorang ibu akan bisa menjadi “papan reklame” bagi merek Anda.

Kunci bagi perusahaan anda untuk menyasar segmen pasar ibu adalah belajar untuk menempatkan diri Anda sebagai seorang ibu—you have to walk in the shoes of moms. Target utama dari setiap usaha pemasaran Anda haruslah dapat membuat si ibu membicarakan produk anda ke orang lain secara positif. Setiap usaha harus difokuskan untuk memacu para Ibu membicarakan produk anda.

 

Sumber : yuswohady.com

Memaksimalkan Etalase Facebook Page

Bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan denyut jantung perekonomian di Asia Tenggara. Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan setengah atau lebih dari total GDP (Gross Domestic Product) di seluruh kawasan. Di Indonesia, UKM mampu menciptakan lebih dari 95% total lapangan pekerjaan dan berkontribusi sebesar 58% dari GDP.

UKM menggunakan Facebook untuk mengembangkan bisnis mereka selain untuk menjangkau pelanggan mereka yang sekarang, pelanggan sebelumnya maupun pelanggan potensial mereka terutama di mobile. Orang-orang di Asia Tenggara menghabiskan sebagian besar waktu mereka di mobile setiap harinya (orang Malaysia menghabiskan lebih dari tiga jam di mobile, sedangkan orang Thailand menghabiskan hampir tiga jam) dan 1 menit dari 5 menit waktu yang digunakan di mobile dihabiskan untuk mengakses Facebook.

Untuk menjangkau konsumen ini, brand harus terhubung dengan mereka di mobiledan mereka bisa menjangkau sekitar 241 juta orang di Asia Tenggara dengan mudah di Facebook. Mereka adalah 241 juta konsumen potensial yang ingin terhubung dengan bisnis lokal dengan cara yang lebih bermakna. Kami juga melihat bahwa orang berinteraksi dengan bisnis-bisnis yang penting bagi mereka. Di Indonesia sendiri, sebanyak 62% pengguna terhubung   dengan sebuah page UKM.

Pemilik bisnis di Asia Tenggara menggunakan Facebook Page secara efektif untuk meningkatkan basis pelanggan atau customer base mereka, membangun brand dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dea Valencia, seorang pengusaha berusia 21 tahun dari Indonesia, membuat bisnisnya Batik Kultur pada saat ia berusia 16 tahun. Kini, ia telah mempekerjakan sebanyak 66 orang. Ketika ia memulai bisnisnya pertama kali, sebanyak 95% bisnisnya berasal dari profil Facebook pribadinya. Ia menyadari bahwa ini bukanlah sebuah pendekatan yang tepat, ia pun memutuskan untuk mengubah cara kerjanya dari menggunakan profil pribadi untuk menggunakan Page bisnis di tahun 2014. Hasilnya, Dea mengalami peningkatan penjualan sebesar 60%, kenaikan sebesar 70% pada kumpulan pelanggannya dan 125 kali pengembalian untuk iklan yang telah dihabiskan atau ad spend.

Di bawah ini adalah beberapa tips untuk bisnis yang baru saja akan membuka bisnis atau bisnis yang telah membuka etalase online di Facebook, dan ingin memaksimalkan Facebook Page mereka.

  • Membuat Page

Siapa saja yang menggunakan Facebook dapat membuat sebuah Page Bisnis. Kebanyakan bisnis menggunakan logo mereka sebagai foto profil dan ini adalahthumbnail yang akan muncul di News Feed pengguna ketika Anda posting sesuatu. Paling baik adalah untuk tidak senantiasa mengubah gambar Page bisnis Anda. Karena Anda perlu konsisten dalam hal image bisnis Anda agar sekilas pun orang tahu postingtertentu berasal darimana.

Saat Page Anda sudah dibuat, biarkan konsumen potensial Anda mengetahui bahwa Anda adalah brand yang terpercaya dengan melakukan verifikasi untuk Page Andamenggunakan centang abu-abu. Hal ini juga membantu untuk membuat mereka mengetahui seberapa cepat Anda menjawab pertanyaan mereka dengan meng-update rating respon Anda di Page bisnis. Tambahkan call to action atau CTA agar pengguna bisa berbelanja, melakukan pemesanan atau sign up dengan mudah.

  • Fokus pada Konten

Buatlah konten yang mobile-friendly karena mayoritas pengguna di Asia Tenggara kemungkinan besar akan melihatnya. Raih perhatian mereka dan sampaikan pesan Anda dengan cepat khususnya kepada orang yang memiliki rentang perhatian rendah di mobile. Gunakan foto yang menyenangkan atau yang dapat memberikan kejutan untuk konsumen Anda serta video auto-play sehingga bisnis Anda dapat tetap terlihat di News Feed.

Video adalah sebuah cara yang tepat untuk terhubung dengan konsumen Anda melalui visual, suara dan gerakan. Pastikan Anda memancing perhatian mereka di 3 detik pertama. Kami menyebutnya sebagai “audisi 3 detik” – 65% orang yang menonton tiga detik pertama sebuah video akan menonton video tersebut setidaknya hingga sepuluh detik dan 45% lainnya akan melanjutkan untuk menonton video hingga 30 detik.

Dengan video, pastikan Anda mengaktifkan caption atau teks pada video. Sebuah riset internal menemukan bahwa 41% video menjadi tidak berarti tanpa suara dan banyak orang yang menonton video dengan tidak mengaktifkan suara. Sehingga gunakancaption, logo dan produk sehingga pesan Anda dapat diutarakan dengan jelas meskipun tanpa suara.

Jika Anda memiliki konsumen yang hidup di Negara yang berbeda buatlah postingan dalam bahasa mereka dan jadwalkan postingan itu hanya bagi mereka untuk dilihat.

  • Penargetan

Gunakan data CRM Anda saat ini untuk berbicara dengan konsumen Anda di Facebook. Cocokkan dengan email mereka, foto dan berinteraksi dengan mereka menggunakan perangkat pilihan mereka.

Anda juga dapat menggunakan data pihak pertama untuk menarik perhatian konsumen baru. Secara sederhana gunakan data konsumen terbaru Anda dan temukan konsumen sejenis di Facebook yang menggunakan Lookalike Audience.

Menjangkau konsumen baru potensial dengan menggunakan penargetan berdasarkan minat atau penargetan yang berdasarkan lokasi dan demografi. Jangan lupa untuk menargetkan kembali pelanggan  yang tidak menyelesaikan pemesanan (gagal melakukan pembelian) dan mengingatkan mereka kembali akan barang yang mereka tinggalkan di ‘keranjang’ atau basket.

  • Pengukuran

Sangat penting untuk mengetahui kinerja belanja iklan Anda bekerja dan pada saluran apa yang bisa mendorong pertumbuhan untuk membantu Anda menentukan fokus upaya pemasaran Anda. Lihat Ads Manager untuk mendapatkan lebih dari sekedarengagement dan jumlah fan serta mengukur dampak bisnis seperti penjualan, kesadaran brand termasuk lead yang muncul dari iklan online Anda.

memastikan   menghasilkan engagement yang melebihi jumlah, perhitungan fans dan mengukur pengaruh bisnis selain penjualan, brand awareness dan leads yang dihasilkan dari usaha iklan online. 

  • Pelajari Caranya

Lanskap digital terus menerus berevolusi dan penting bagi Anda untuk turut berevolusi dengannya. Jangan pernah berhenti belajar.  Tingkatkan keterampilan Anda dengankursus online Facebook, belajar dari kisah sukses brand lain dan pahami bagaimanamenggunakan perangkat yang tersedia untuk Anda sebelum mendalami fitur ini dan mencobanya.

Sehingga kini Anda dapat membuka etalase Page online Anda sendiri, jangan malu untuk memberitahu orang mengenai hal hebat yang telah Anda lakukan. Sebarkan informasi tersebut ke orang banyak dan gelar karpet merah bagi orang-orang yang akan masuk melalui pintu.

Oleh: Nadia Tan, Head of SMB, Southeast Asia at Facebook

Sumber : swa.co.id