5 Revolusi Ekonomi yang Berdampak pada Bisnis Online di Indonesia

optimis1

Perekonomian Indonesia tengah memasuki masa transisi. Kalangan menengah ingin beralih menuju kelas atas untuk memperoleh kebebasan finansial. Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena mass luxury, di mana barang-barang mewah yang tadinya hanya bisa dibeli oleh kalangan atas kini mampu dimiliki oleh semua orang.

Masyarakat Indonesia kini dilanda optimisme untuk menaikkan perekonomian.

Berdasarkan laporan lembaga riset YouGov pada November-Desember 2015, Indonesia dinobatkan sebagai negara teroptimistis kedua di dunia setelah Tiongkok.

Menurut data tersebut, sebanyak 23 persen masyarakat Indonesia menganggap dunia sedang menuju ke arah yang lebih baik.

optimis

Gaya hidup yang disebut sebagai “tren amfibi” banyak dilakoni oleh masyarakat. Para pelaku “tren amfibi” adalah mereka yang menjalani dua profesi sekaligus, yaitu sebagai pegawai kantoran dan sebagai wirausahawan. Pada jam-jam kerja, mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Ketika jam kerja kantoran berakhir, mereka mengelola bisnis pribadi.

Para pelaku “tren amfibi” ini, menginginkan adanya kebebasan finansial di masa depan. Mereka tidak ingin selamanya bekerja untuk orang lain. Ketika usaha yang mereka rintis ini telah memberikan profit yang baik, mereka akan berhenti dari profesi pegawai kantoran dan menjalankan bisnis secara total.

Salah satu pakar menejemn terkemuka Bpk. Yuswohady berpendapat bahwa fenomena mass luxury dan “tren amfibi” adalah dua sinyal yang mengindikasikan adanya revolusi dalam perekonomian Indonesia. Secara garis besar, revolusi ekonomi ini dikelompokkan ke dalam lima bidang :

1.Revolusi E-preneur

Pesatnya perkembangan industri digital merupakan dampak dari melebarnya penggunaan internet di segala bidang. Bidang ekonomi termasuk ke dalamnya. Kelahiran e-preneur (electronic-preneur) atau wirausahawan online sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis moneter yang melanda beberapa negara berkembang, salah satunya Indonesia, yang mengancam pasar bisnis offline. Dalam bisnis konvensional semacam ini, banyaknya ongkos produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan profit yang diperoleh. Oleh sebab itu, para pelaku bisnis mencari alternatif lain agar dapat menjalankan usaha yang relatif tanpa modal dan mudah untuk dijalankan, yaitu bisnis online.

E-preneur, atau lebih dikenal dengan sebutan netpreneur, memainkan peran yang signifikan dalam bisnis dunia maya semacam itu.

Seorang netpreneur bisa bertindak baik sebagai produsen, pemasok, maupun pedagang sekaligus. Banyaknya “tugas” seorang netpreneur mungkin untuk dijalankan karena semua kegiatan bisnis dilakukan hanya dengan meng-klik. Selama koneksi internet dapat diakses, bisnis bisa dijalankan kapanpun dan di manapun. Inilah yang membuat netpreneur bisa menjalankan banyak fungsi pelaku ekonomi sekaligus.

2. Revolusi Entrepreneur
Masa transisi adalah periode yang sangat berharga untuk berwirausaha. Ini adalah kesempatan emas bagi siapa saja untuk membuka bisnis pribadi. Peluang kesuksesan sebuah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) akan lebih besar pada masa transisi ini. Hal ini terjadi karena jika perekonomian Indonesia telah stabil dan melewati masa transisi, UKM tidak akan mampu bersaing dengan usaha lain yang telah berskala besar.

3. Revolusi Properti
Di masa transisi ini, banyak orang ingin memperoleh kekayaan dalam waktu cepat. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menginvestasikan uang yang dimiliki dalam bentuk properti. Kini, banyak orang “mengoleksi” tanah, rumah, apartemen, dan benda-benda properti lainnya sebagai investasi. Barang properti ini dinilai akan memberikan keuntungan besar di masa depan.

4. Revolusi Amfibi
Banyaknya jumlah “double agent” di kalangan pelaku bisnis menciptakan tren tersendiri di bidang ekonomi. Kalangan ini menjalani dua profesi yang berbeda secara bersamaan, yaitu sebagai karyawan kantor sekaligus sebagai wirausahawan.

5. Revolusi E-commerce
Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 membuat masyarakat Indonesia mencari alternatif lain untuk menjaga kestabilan finansialnya. Salah satunya adalah dengan membangun bisnis pribadi berbasis usaha kecil dan menengah. Ketiadaan modal usaha yang besar menjadi faktor pendorong para wirausahawan ini untuk berkecimpung ke dalam industri e-commerce; sebuah industri yang memungkinkan wirausahawan memasarkan produknya secara efektif dan tanpa biaya lewat jaringan internet (online). Maraknya situs e-commerce memunculkan fenomena transaksi online yang memudahkan netpreneur untuk mencapai target pasarnya.

 

 

 

 

diambil dari berbagai sumber ;

sumber utama ; jarvis-store.com

Sukses dengan Pareto: Prinsip 80 20

pareto

Beberapa konsultan strategi manajemen memberikan panduan untuk perusahaan-perusahaan meraih kesuksesan dengan memanfaatkan hukum Pareto: rasio 80/20 yang pada awalnya tampak tidak logis.

Rasio ini menggambarkan secara kasar bahwa mayoritas hasil (digambarkan sebagai 80 persen meski tidak selalu tepat segitu), didapatkan dari minoritas upaya (sekitar 20 persen) yang dilakukan. Rasio ini bisa juga berbentuk distribusi 80-20 atau 70-30. Intinya adalah sebagian besar akibat dihasilkan oleh sebagian kecil penyebab.

Hukum ini pada awalnya dikemukakan oleh seorang konsultan bisnis: Joseph M. Juran sebagai hukum Pareto setelah menemukan kisah seorang ekonom Itali, Vilfredo Pareto di tahun 1906 mengamati bahwa kira-kira 80 persen tanah di Itali dimiliki oleh sekitar 20 persen penduduk saja.

Prinsip ini memang bukan suatu hukum yang baku, tapi hanya sebagai sebuah kemungkinan teori yang bisa diterapkan untuk efektivitas dan efisiensi. Anehnya, dimana-mana kita akan menemui prinsip ini seakan-akan sudah merupakan suatu hukum alam.

Laporan dari UNDP (bagian dari PBB) mengungkapkan bahwa hanya 20 persen dari seluruh populasi dunia yang merupakan pemegang 83 persen kekayaan total dari seluruh negara.

Tingkat penghasilan dari 20 persen orang-orang terkaya ini mencapai 80 persen pendapatan dunia. 20 persen orang kaya berikutnya hanya mencapai tingkat pendapatan sebesar 11 persen saja. Dari laporan kriminal juga didapatkan 80 % kejahatan dilakukan oleh 20 % penjahat.

Kita bisa melihat di dunia bisnis, 80 persen pendapatan dihasilkan dari 20 persen jenis produk atau penjual yang paling unggul. Sekali lagi, persentasinya mungkin tidak persis tapi untuk penggambaran seberapa banyak hal diperoleh dari suatu hal lain yang lebih sedikit.

Contohnya lagi; 80 persen profit atau laba didapatkan dari 20 persen pelanggan terbesar. Sama juga dengan; 80 % dari keseluruhan komplain atau keluhan diutarakan oleh 20 % pelanggan saja. Dan 80 persen penjualan dihasilkan dari 20 persen jenis produk, atau 80 % penjualan dibukukan oleh 20 % top sales persons.

Logikanya memang segala hal berjalan dengan perhitungan 50:50, seberapa besar hasil tergantung dari seberapa besar usaha. Semakin banyak usahanya, semakin banyak pula hasilnya. Tapi kenyataannya, kita bisa lihat di dalam kehidupan pribadi kita sendiri contohnya; 80 persen kebahagiaan kita didapat dari hanya 20 persen dari kesemua aktivitas yang kita lakukan.

Di dalam suatu perusahaan, 70-80 persen laba dihasilkan oleh 20-30 persen karyawan. Maka dari itu perusahaan harus bisa mengindentifikasi para karyawan kunci ini, lalu meningkatkan keahlian mereka, dan mempertahankannya agar tetap loyal berjuang bersama-sama di perusahaan tersebut.

Seorang tenaga penjual bisa meningkatkan prestasinya dengan memusatkan perhatian pada 20-30 persen calon pembeli yang paling prospektif. Serta melakukan proses penjualan yang paling krusial, seperti menelpon atau presentasi. Lalu meningkatkan kemampuan tersebut dengan training dan membaca buku, sehingga menjadi pakar yang menduduki posisi puncak dalam jajaran wiraniaga.

Peraturan 80-20 ini memberikan suatu pemikiran yang berguna bagi efektivitas dan efisiensi penggunaan waktu serta sumber daya lainnya. Dengan berfokus pada 20 persen area yang benar-benar produktif, kita bisa membuat suatu peningkatan yang signifikan. Agar mangkus dan sangkil. Efektif serta efisien.

Efektivitas dan efisiensi ini juga bisa dicapai dengan suatu inovasi yang membuat 20 persen upaya yang dikerjakan bisa menghasilkan 80 % dari total kinerja. Revolusi dalam produktivitas dimulai dari pemikiran yang kreatif. Manajemen perusahaan perlu memancing banyak ide untuk mendapatkan 20 % ide brilian yang akan membawa hasil yang luar biasa.

Ilmu manajemen sebagai suatu cara dalam merencanakan, mengelola, melaksanakan, mengevaluasi demi suatu tujuan perlu dilakukan dengan tepat dan berdaya guna. Secara efektif dan efisien. Hal ini dilakukan dengan mengutamakan tugas-tugas yang terpenting dan mendelegasikan yang lainnya.

Manajemen pribadi yang baik bisa dilakukan dengan mengelola diri secara optimal. Memanfaatkan waktu dan sumber daya lainnya dengan produktif. Stop membuang-buang waktu melakukan hal-hal yang tidak terlalu berdampak besar. Konsentrasikan diri untuk melakukan hal-hal yang paling bernilai dan bermakna besar.

Sukses dengan memanfaatkan aturan 80/20 berarti memperdalam fokus dengan menciptakan skala prioritas berdasarkan besarnya dampak aktivitasnya. Kesuksesan akan didapat dengan berfokus pada pelaksanaan beberapa kegiatan yang paling utama. Jadi, kuncinya adalah; mengidentifikasi 20 persen yang menghasilkan 80 persen. Dan mempraktekkan prinsip 80% 20% tersebut.

 

 

Sumber :

Hilangkan prinsip “asumsi” pada Riset Pasar dengan Genchi Gembutsu

riset-pemasaran

Riset pasar seringkali dilakukan oleh orang atau badan usaha yang akan mengeluarkan produk terbarunya, entah produk terbaru ini untuk pengembangan varian baru sebagai bagian dari inovasi, ataukah hanya sebagai strategi untuk pesaing atas produk yang telah dikeluarkan oleh pesaing dan lebih parah lagi riset pasar digunakan untuk membuat produk baru untuk “mematikan pesaing”. Satu kunci dalam riset pasar adalah kita harus membuat variabel sebanyak mungkin agar informasi yang dikumpulkan lengkap, sebisa mungkin jauhi asumsi-asumsi yang seringkali membuat kita “sok tau” kondisi konsumen sasaran/ market yang ada.

Pentingnya pemahaman akan konsumen untuk membuat putusan strategis merupakan salah satu prinsip kunci Toyota Production System. Di Toyota istilahnya adalah genchi gembutsu, salah satu frasa terpenting dalam kosakata produksi ramping (lean production) yang kurang lebih berarti “sana lihat sendiri”. Dengan kata lain, untuk membuat putusan bisnis, kita mesti mempunyai pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman sendiri. Jeffrey Liker, yang telah mendokumentasikan Toyota Way secara ekstensif,  menjelaskannya sebagai berikut:

“Dalam wawancara-wawancara saya di Toyota ketika saya menanyakan apa perbedaan Toyota Way dengan pendekatan manajemen lain, jawaban pertama yang paling lazim adalah genchi gembutsu -entah saya berada di divisi manufaktur, pengembangan produk, penjualan, distribusi atau humas. Kecuali anda sudah melihat sendiri, belum tentu anda benar benar memahami suatu persoalan bisnis. anda tidak boleh percaya begitu saja pada pendapat umum atau laporan orang lain.”

Sebagai demonstrasi mari kita lihat pengembangan minivan toyota Sienna model 2004. Di Toyota manajer yang bertanggungjawab atas desandan pengembangan model baru disebut insinyur kepala pemimpin lintas fungsi yang mengawasi seluruh proses dari konsepsi hingga desain. Penanggungjawab Sienna 2004 adalah Yuji Yokoya, yang memiliki sangat sedikit pengalaman di Amerika Utara, pasar utama Sienna. Untuk mencari tahu cara membuat minivan yang lebih unggul Yokoya menjalani misi mencengangkan: perjalanan bermobil melintasi lima puluh negara bagian AS, tiga belas provinsi dan wilayah federal Kanada, serta seluruh daerah Meksiko. Dia membukukan total perjalanan bermobil lebih dari 85.000 kilometer. Di Kota-kota besar dan kecil, Yokoya menyewa Sienna model teranyar dan menyetirnya, juga mengamati dan berbincang dengan konsumen sungguhan. Berdasarkan pegamatan langsung tersebut, Yokoya bisa memlai menguji asumsi-asumsi kritis mengenai apa saja yang diinginkan konsumen Amerika Utara dari sebuah minivan.

Menurut pandangan umum, menjual kepada konsumen perorangan lebih mudah daripada menjual kepada perusahaan karena tingkat keruwetannya jauh lebih rendah. Misalnya saja, kita tidak perlu berhadap-hadapan dengan sekian banyak departemen dan orang yang memainkan beragam peran dalam proses pembelian. Berdasarkan temuan Yokoya, asumsi semacam ini ternyata keliru. “Minivan barangkali adalah milik orangtua, kakek, atau nenek. Namun anak-anaklah yang menguasainya. Anak-anaklah yang menempati dua per tiga bagian belakang kendaraan itu. Anakanak pulalah yang paling kritis dan paling mengapresiasi lingkungan mereka. Pelajaran yang saya petik dari perjalanan saya adalah, Sienna baru mesti
mempunyai daya tarik bagi anak-anak.”

Pengembangan mobil lantas turut dipandu oleh asumsi-asumsi yang telah diidentifikasi dan dicek keabsahaannya. Sebagai contoh, Yokoya menghabiskan sejumlah besar anggaran pengembangan Sienna lebih besar daripada lazimnya, untuk menciptakan fitur-fitur pemberi kenyamanan internal, yang sangat penting untuk perjalanan keluarga jarak jauh.

Hasilnya mengesankan, mendongkrak pangsa pasar Sienna secara drastis. Angka penjualan model 2004 lebih tinggi 60 persen daripada angka penjualan pada 2003. Tentu saja, produk seperti Sienna adalah contoh klasik inovasi penyokong, keahlian perusahaan perusahaan mapan terbaik macam Toyota. Entrepreneur menghadapi jenis tantangan yang lain karena mereka beroperasi di tengah ketidakpastian yang lebih besar. Sementara perusahaan- perusahaan yang menggarap inovasi penyokong sudah cukup banak tahu tentang siapa dan dimana konsumen mereka sehingga tinggal menggunakan prinsip genchi gembutsu untuk mencari tahu keinginan konsumen, interaksi awal startup dengan calon konsumen semata- mata mengungkapkan asumsi-asumsi mana yang paling membutuhkan uji segera.

 

Sumber utama : shiftindonesia.com

Lean Manufacture : Rahasia di Balik Kebesaran Nestle

nestle

Tampaknya “Good Food, Good Life” bukan sekedar slogan bagi Nestle. Terbukti dengan kepeduliannya untuk selalu memberikan jaminan keamanan dan kualitas tinggi dari setiap produk. Itulah yang membuat produk mereka kian dipercaya oleh masyarakat di seluruh dunia.

Sementara dari sisi operasional, Nestle juga memiliki cara tersendiri. Salah satunya adalah praktik-praktik berkesinambungan yang menjadi kunci dari proses operasional mereka. Salah satu yang terlihat jelas adalah bagaimana mereka menjaga keseimbangan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Tujuannya jelas untuk mencegah munculnya dampak negatif di daerah-daerah operasional pabrik mereka.

Berkesinambungan di sini berarti berkelanjutan, artinya melibatkan perspektif jangka panjang, untuk memastikan terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan pada generasi berikutnya.

“Kami percaya bahwa, untuk mencapai kesuksesan bisnis dalam jangka panjang dan menciptakan nilai bagi seluruh pemegang saham kami, maka kami harus menciptakan manfaat tidak hanya bagi para pemegang saham, tetapi juga untuk masyarakat.

Kami menyebutnya ‘Menciptakan Manfaat Bersama’ atau ‘Creating Shared Value,” begitulah yang dinyatakan oleh Nestle.

Di seluruh dunia, Nestle memiliki tiga fokus area utama dalam menciptakan manfaat bersama tersebut, yaitu nutrisi, air, dan pembangunan rural.

Semua perusahaan tentu banyak pula yang memberikan jaminan kualitas pada produknya dan juga menjalankan praktek berkesinambungan seperti yang dilakukan Nestle. Namun, tentu saja ada kekuatan perusahaan ini yang mungkin tak dijalankan oleh banyak perusahaan lain. Lima kekuatan itu antara lain:

1. Produksi Lean

Produksi Lean atau Lean Production adalah pendekatan yang dikembangkan di Jepang yang bertujuan mengeliminasi adanya pembuangan atau waste. Dalam hal ini berarti pemborosan biaya, sumber daya, dan kuantitas yang digunakan dalam satu proses produksi.

Inti pendekatan produksi Lean ini adalah efisiensi waktu, bagaimana satu proses produksi dapat dilakukan dengan waktu seminimal mungkin. Mengurangi elemen yang tak diperlukan untuk mencapai peningkatan efisiensi dan produktivitas. Seperti mengurangi cacat produk yang akan turut mengurangi biaya produksi.

Produksi Lean juga meminimalisir semua sumber daya yang digunakan selama proses produksi berlangsung. Bagaimana menjalankan proses produksi dengan ruang, waktu, mesin, tenaga kerja, dan bahan seefektif dan seefisien mungkin.

Pada Nestle, metode pendekatan Lean ini disebut dengan ‘Keunggulan Berkelanjutan Nestle’ atau ‘Nestle Continuous Excellence’ (NCE).

2. Menghilangkan Limbah

Masih berkaitan dengan Lean Production, segala aktivitas yang mengeluarkan biaya pada setiap tahapan proses produksi tanpa menghasilkan nilai tambah yang berarti merupakan limbah. Limbah dapat terjadi pada setiap bagian dari proses produksi. Di Jepang, limbah ini dikenal dengan istilah muda. Muda dibagi menjadi tujuh area spesifik yakni time, inventory, motion, waiting, over-processing, over-production, dan defect.

Bidang utama dimana limbah tersebut ditemukan, termasuk juga proses penanganan yang berlebih, pemborosan waktu karena menunggu, juga terjadinya cacat produk. Misalnya, kemasan pada produk akhir yang ditangani lebih dari satu kali. Pemborosan waktu karena menunggu termasuk juga mesin yang menganggur dan kendaraan transportasi yang menunggu untuk proses bongkar muat. Cacat produk misalnya label atau kemasan yang rusak, yang mengakibatkan terjadinya proses produksi ulang.

3. Kaizen

Konsep Kaizen lebih kepada membuat perubahan untuk perbaikan yang dilakukan secara terus menerus dan oleh semua orang yang terlibat dalam proses produksi. Kaizen menyiratkan bahwa peningkatan-peningkatan kecil harus terus dibuat, karena banyaknya perbaikan kecil yang dilakukan akan menyebabkan perubahan besar yang berakhir pada penghematan biaya.

Sebelum membangun pabrik baru, Nestle menggunakan berbagai cara untuk melihat dan mengetahui bagaimana pabrik mereka saat ini bisa dibuat lebih efisien dari pabrik terdahulu.

Nestle menggunakan teknik Produksi Lean yang disebut ‘Value Stream Mapping’ (VSM).

Teknik ini menggambarkan detil aliran material dan informasi yang diperlukan untuk membawa produk jadi kepada konsumen akhir. Hasil VSM di Nestle kemudian digunakan untuk merencanakan pembangunan pabrik baru dengan memastikan prosesnya akan berlangsung seefisien mungkin. Komitmen Nestle terhadap lingkungan dan kesinambungan adalah faktor kunci selama proses perencanaan tersebut dilaksanakan.

4. Just In Time

Sesuai dengan namanya, Just In Time (JIT) berfokus pada timing selama proses produksi berlangsung. Seperti yang kita ketahui, proses penyimpanan dan proses menunggu bahan material mengakibatkan meningkatnya biaya produksi. Tak hanya itu, menunggu bahan material juga akan membuang waktu karyawan, dan mengakibatkan tertundanya proses produksi. Metode JIT inilah yang memastikan bahwa bahan material yang dibutuhkan akan sampai tepat pada waktunya dan dalam jumlah yang diperlukan. Just In Time ini terbukti telah membuahkan efisiensi yang mendatangkan keuntungan yang besar bagi Nestle.

Manfaat Lain dari Produksi Lean

Manfaat lainnya adalah dalam hal ketenagakerjaan. Bukan hanya di lokasi-lokasi pabrik lama mereka saja, melainkan juga sebagai dampak pembangunan pabrik di lokasi baru. Ketika membangun pabrik baru, Nestle mempekerjakan karyawan dan memperoleh sumber daya material mereka maksimal hanya sejauh 50 mil dari lokasi pabrik mereka. Hal ini tentu saja memunculkan dampak positif pada perekonomian lokal, juga mengurangi jumlah biaya transportasi yang diperlukan untuk memperoleh bahan baku. Pemanfaatan tenaga kerja lokal pada pabrik baru ini telah meningkatkan jumlah karyawan magang dan tenaga berpengalaman.

Fokus Nestle terhadap dampak lingkungan lebih dari apa yang dibayangkan oleh masyarakat setempat. Mereka membuat sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan yang mengelola air hujan. Sebuah sistem pemulihan energi panas yang inovatif juga telah dirancang untuk mengurangi limbah dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Sistem ini berfungsi mentransfer panas dari pabrik menuju gudang dan kantor.

Kesimpulan: Proses Kesinambungan Adalah Segalanya

Proses kesinambungan dari Nestle di lingkungan sosial merupakan inti dari semua hal yang dibutuhkan oleh perusahaan food and beverages terkemuka di dunia ini. Investasi sebesar 35 juta poundsterling yang mereka berikan di setiap negara dimana pabrik mereka didirikan, menunjukkan pembuktian komitmen mereka.

Dengan bantuan para ahli dalam menerapkan teknik Produksi Lean, Nestle secara kritis mampu melakukan audit pada setiap pabrik mereka untuk menetapkan di area mana pada setiap pabrik yang perlu dilakukan perubahan untuk mencapai perbaikan. Dari hasil pemeriksaan ini kemudian dibuat perencanaan strategis untuk mendesain pabrik baru di lokasi baru, juga menciptakan efisiensi untuk menciptakan keuntungan finansial perusahaan.

Nestle turut berfokus pada manfaat sosial dengan membangun pabrik baru dengan rancangan dan teknologi yang cermat untuk mendapatkan manfaat dari lingkungan setempat. Misalnya, dengan menggunakan bahan baku lokal untuk meningkatkan perekonomian dan menciptakan lapangan kerja baru untuk lingkungan eksternal pabrik.***

 

Sumber : shiftindonesia.com

Saat Reputasi Dikalahkan Sikap Inovatif

Merek elektronik Jepang yang dikenal dengan image kualitasnya mendapat persaingan keras dari elektronik Korea dan Tiongkok. Apakah budaya kerja yang membuat perusahaan Jepang sulit bersaing?

inovasi.jpg

 

Awal tahun ini kita dikejutkan dengan berita ditutupnya pabrik Toshiba di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik yang ditutup ini merupakan pabrik terbesar di Indonesia yang memproduksi televisi. Berita itu tentu menjadi pukulan bagi pemerintah yang tengah berusaha membangun iklim investasi yang kondusif. Di sisi lain, penutupan tersebut berarti akan menciptakan PHK.

Jika mencermati pernyataan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawiyawan, penutupan pabrik Toshiba tidak mencerminkan iklim investasi elektronik di Indonesia. Seperti dikutip dari laman BeritaSatu.com, Putu mengungkapkan tahun ini tren industri elektronik justru meningkat, sehingga investasi kemungkinan akan bertambah. Menurut dia, industri elektronik sangat bergantung pada teknologi dan permintaan yang selalu berubah, sehingga akan memengaruhi produksi.

Putu memberi contoh teknologi walkman yang sudah ditinggalkan, karena ditemukannya inovasi pemutar musik yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Putu mengatakan, perubahan teknologi dan permintaan harus disiasati secara tepat. Industri harus siap akan perubahan itu. Jika tidak, maka akan digilas oleh perubahan.

Kita memang tidak boleh gegabah mengatakan elektronik Jepang tengah memasuki senjakala. Tapi, faktanya produsen elektronik Jepang saat ini menghadapi tekanan persaingan yang begitu dahsyat, terutama dari perusahaan Korea seperti LG dan Samsung.

Salah satu penyebab sulitnya elektronik Jepang bersaing karena budaya kerja perusahaan Jepang yang tidak sesuai lagi dengan era informasi. Herry Tjahjono, Terapis Budaya Perusahaan, dalam artikelnya mengutip konsep Harmonic Culture Error. Ia menjelaskan dalam era digital, kecepatan merupakan kunci penting (Kompas, 10/2/16).

Dia mengatakan raksasa elektronik Jepang seperti Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba, dan Sanyo sulit bersaing karena masih menjunjung budaya kerja konsensus dan harmoni. Budaya kerja ini tidak cocok dengan kondisi persaingan saat ini yang menuntut kecepatan dalam pengambilan keputusan, termasuk peluncuran produk baru.

Ini rupanya yang membuat raksasa elektronik Jepang yang sebelumnya perkasa menjadi kedodoran menghadapi serbuan dari elektronik Korea (Samsung dan LG). “Mereka datang bak predator. Belum lagi serbuan produk elektronik Tiongkok yang menghajar dengan harga murah,” tulis Herry.

Menurut Herry, budaya kerja serba harmonis dan konsensus membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan tentang produk yang akan diluncurkan. Dan ketika rapat usai, produsen lain (Korea dan LG) sudah lebih dulu meluncurkan produknya.

Berani Ambil Risiko

Apa yang disampaikan Herry sesuai dengan fakta di lapangan. Beberapa waktu lalu, MARKETINGmewawancarai Budi Setiawan, Sales Director PT LG Electronics Indonesia. Dia mengatakan salah satu ciri khas perusahaan Korea yakni cepat mengambil keputusan. Ciri khas lain, perusahaan Korea berani mengambil risiko. Jika perusahaan Korea melihat peluang dan tantangan kondisinya fifty-fifty, maka perusahaan Korea akan jalan terus.

Pendapat senada disampaikan Budi P. Kartono, Marketing & Brand Consultant. Menurut dia, kebanyakan perusahaan Jepang yang sudah matang dan berumur biasanya menghadapi “cultural lock-in” yang ditandai dengan sikap hati-hati dan menurunnya kreativitas.

“Sistem ‘senioritas’ di korporasi Jepang juga menghambat generasi muda untuk berkembang dan menghasilkan ide baru,” tutur Budi seperti tertulis dalam surat elektronik yang dikirim ke Redaksi MARKETING.

Saat ini peta persaingan industri elektronik memang sedang mengalami pergeseran, dari Jepang yang dulunya sebagai pemimpin pasar beralih ke Korea. Sedangkan Tiongkok masih membutuhkan waktu untuk merebut pangsa pasar elektronik dari Jepang maupun Korea.

Budi menegaskan, elektronik Jepang masih setia dengan positioning pada mutu/kualitas produk dengan harga kompetitif. Sedangkan Korea lebih memilih positioning pada inovasi dan desain. “Tiongkok mulai meninggalkan image sebagai merek dengan harga murah dan mulai meningkatkan kualitas,” tutur dia.

Korea berhasil menggeser kedudukan Jepang yang memiliki kekuatan brand image dan reputasi baik. Keberhasilan Korea menggeser Jepang karena jeli melihat perubahan dari teknologi analog ke digital. Sony sebenarnya sudah menyadari perubahan ini, namun terlambat melakukan “creative destruction” untuk transisi ke teknologi digital.

Dari sisi inovasi, merek Korea juga lebih unggul dibandingkan merek Jepang. Tahun lalu, Samsung mendaftarkan paten sebanyak 5.072 dan mendapatkan posisi nomor 2 terbanyak di bawah IBM. Sedangkan Toshiba dan Sony di posisi nomor 6 dan 7. “Merek Tiongkok masih belum terlihat di posisi top 10 paten terbanyak. Di industri semi konduktor, Samsung juga memimpin dalam penjualan di posisi nomor 2 dunia setelah Intel dari AS,” jelas Budi.

Selain faktor desain, yang menentukan keberhasilan merek elektronik Korea di Indonesia, tidak bisa dikesampingkan peran demam “Korean Wave” di seluruh dunia. Budaya pop Korea dalam bentuk musik K-Pop, fashion, komik dan kartun, video game, Koreanovela, dan film membuat merek-merek Korea menjadi bagian dari gaya hidup dan terlihat “cool”.

Budi memprediksi seiring meredupnya merek elektronik Jepang, Korea akan memperoleh keuntungan paling besar. Merek-merek Korea akan menikmati peningkatan market share paling besar, sedangkan merek Tiongkok akan mengalami sedikit peningkatan.

Hanya saja dia mengingatkan, untuk berhasil di pasar elektronik, strategi harga murah bukanlah obat mujarab. Menurutnya, strategi harga murah adalah strategi paling buruk bagi organisasi mana pun. Tiongkok sudah mulai menyadari hal ini. Beberapa merek seperti Haier, Huawei, dan Lenovo sudah mengutamakan mutu dan kualitas di atas harga.

“Perusahaan elektronik Haier bahkan sudah menjadi global brand dengan mematok harga premium. Tahun 2010, majalah Fast Company menempatkan Huawei di peringkat ke-5 sebagai perusahaan paling inovatif sedunia,” bebernya.

Tiongkok memang tidak bisa diremehkan lagi. Menurut Gregory C. Chow dalam bukunya Memahami Dahsyatnya Ekonomi China, ada tiga faktor penyebab kebangkitan ekonomi Tiongkok.

Pertama, sumber daya manusia berkualitas tinggi (keterampilan dan etika kerja para buruh serta kecerdasan dan kecerdikan para pengusaha).

Kedua, adanya seperangkat institusi pasar yang berfungsi. Institusi pasar memungkinkan orang-orang yang berbakat untuk memperbaiki diri mereka sendiri dengan bekerja keras, sehingga mereka dapat meningkatkan kekayaan mereka dan meningkatkan kekayaan masyarakat. Ketiga, keberhasilan Tiongkok sebagai negara berkembang dalam mengejar kesenjangan teknologi dengan negara-negara paling maju sekalipun.

 

Sumber :

http://www.marketing.co.id/saat-reputasi-dikalahkan-sikap-inovatif/

 

Matriks Boston Consulting Group : sebuah pendekatan untuk identifikasi penyertaan modal pada sebuah divisi bisnis

BCG

Matriks BCG secara grafis menunjukkan perbedaan di antara berbagai divisi dalam posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri. Matriks BCG memungkinkan organisasi multidivisi untuk mengelola portofolio bisnisnya dengan mempertimbangkan posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri dari masing-masing divisi relatif terhadap divisi lain dalam organisasi. Posisi pangsa pasar relatif (relative market share) didefinisikan sebagai rasio dari pangsa pasar satu divisi tertentu terhadap pangsa pasar yang dimiliki oleh pesaing terbesar dalam industri tersebut. Pangsa pasar relatif dapat ditentukan menggunakan rumus berikut: Semakin tinggi nilai pangsa pasar suatu perusahaan, semakin besar proporsi pasar yang dikendalikannya. Posisi pangsa pasar relatif diberikan pada sumbu x dari matriks BCG. Titik tengah dari sumbu x biasanya dibuat 0,50 atau sama dengan divisi yang memiliki separuh pangsa pasar dari perusahaan pemimpin dalam industri.Sumbu y menggambarkan tingkat pertumbuhan industri dalam penjualan yang diukur dalam bentuk persentase. Persentase tingkat pertumbuhan pada sumbu y dapat berkisar antara -20 hingga +20 persen, dengan 0,0 sebagai titik tengah. Angka kisaran ini pada sumbu x dan y seringkali digunakan, tetapi angka lainnya dapat dibuat bila dianggap sesuai untuk organisasi tertentu. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan industri (market growth rate) dapat digunakan rumus berikut: Industri dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi menunjukkan ketersediaan pangsa pasar yang meluas, dan terdapat banyak peluang untuk mereguk keuntungan.

  • Matriks Boston Consulting Group (BCG)

Matriks BCG adalah perangkat strategi untuk memberi pedoman pada keputusan alokasi sumber daya berdasarkan pangsa pasar dan pertumbuhan UBS.Matriks BCG merupakan empat kelompok bisnis, yaitu :

  1. Tanda tanya (Question Mark) Divisi dalam kuadran I memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah, tetapi mereka bersaing dalam industri yang bertumbuh pesat. Biasanya kebutuhan kas perusahaan ini tinggi dan pendapatan kasnya rendah. Bisnis ini disebut tanda tanya karena organisasi harus memutuskan apakah akan memperkuat divisi ini dengan menjalankan strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk) atau menjualnya.
  2. Bintang (Star) Bisnis di kuadran II (disebut juga Bintang) mewakili peluang jangka panjang terbaik untuk pertumbuhan dan profitabilitas bagi organisasi. Divisi dengan pangsa pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan industri yang tinggi seharusnya menerima investasi yang besar untuk mempertahankan dan memperkuat posisi dominan mereka. Kategori ini adalah pemimpin pasar namun bukan berarti akan memberikan arus kas positif bagi perusahaan, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk memenangkan pasar dan mengantisipasi para pesaingnya. Integrasi ke depan, ke belakang, dan horizontal, penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan joint venture merupakan strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan divisi ini.
  3. Sapi perah (Cash Cow) Divisi yang berposisi di kuadran III memiliki pangsa pasar relatif yang tinggi tetapi bersaing dalam industri yang pertumbuhannya lambat. Disebut sapi perah karena menghasilkan kas lebih dari yang dibutuhkanya, mereka seringkali diperah untuk membiayai untuk membiayai sektor usaha yang lain. Banyak sapi perah saat ini adalah bintang di masa lalu, divisi sapi perah harus dikelola untuk mempertahankan posisi kuatnya selama mungkin. Pengembangan produk atau diversifikasi konsentrik dapat menjadi strategi yang menarik untuk sapi perah yang kuat. Tetapi, ketika divisi sapi perah menjadi lemah, retrenchment atau divestasi lebih sesuai untuk diterapkan.
  4. Anjing (Dog) Divisi kuadran IV dari organisasi memiliki pangsa pasar relatif yang rendah dan bersaing dalam industri yang pertumbuhannya rendah atau tidak tumbuh. Mereka adalah anjing dalam portofolio perusahaan. Karena posisi internal dan eksternalnya lemah, bisnis ini seringkali dilikuidasi, divestasi atau dipangkas dengan retrenchment. Ketika sebuah divisi menjadi anjing, retrenchment dapat menjadi strategi yang terbaik yang dapat dijalankan karena banyak anjing yang mencuat kembali, setelah pemangkasan biaya dan aset besar-besaran, menjadi bisnis yang mampu bertahan dan menguntungkan.

Kelebihan Matriks BCG

Matriks BCG adalah salah satu alat pembuat keputusan yang paling mudah. Hanya dengan membaca grafiknya, orang akan dapat dengan mudah melihat di posisi manakah perusahaan mereka berada. Matriks ini memusatkan perhatian pada arus kas, karakteristik investasi, dan kebutuhan berbagai divisi organisasi. Divisi dapat berubah dari waktu ke waktu: anjing menjadi tanda tanya, tanda tanya menjadi bintang, bintang menjadi sapi perah, dan sapi perah menjadi anjing. Namun yang jarang terjadi adalah perubahan yang searah jarum jam.

Kelemahan Matriks BCG

Hanya menggunakan dua dimensi yaitu pangsa pasar relative dan tingkat pertumbuhan pasar. Kemungkinan sulit mendapatkan data pangsa pasar maupun tingkat pertumbuhan pasar. Terlalu menyederhanakan banyak bisnis karena memandang semua bisnis sebagai bintang, sapi perah, anjing atau tanda tanya. Dalam metode ini, diasumsikan bahwa setiap unit bisnis tidak tergantung pada unit bisnis lain, padahal dalam beberapa kasus, unit bisnis “anjing” bisa membantu unit bisnis lain untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Matriks ini tidak menggambarkan apakah berbagai divisi atau industri mereka bertumbuh sepanjang waktu, sehingga matriks ini tidak memiliki karakteristik waktu, sehingga terdapat variabel lain yang penting seperti ukuran pasar dan keunggulan kompetitif. Matriks sangat bergantung pada luasnya definisi pasar. Suatu unit bisnis dapat mendominasi pada pasar yang kecil, tetapi memiliki pangsa pasar sangat rendah dalam industri secara keseluruhan. Dalam kasus seperti itu, definisi dari pasar dapat membuat perbedaan antara “anjing” dan “sapi perah”.

 

Sumber : http://sarilovely.blogspot.co.id/2010/06/boston-consulting-group-bcg.html

McKinsey 7S Framework : sebuah model manajemen untuk melihat efektifitas sebuah organisasi

Kerangka 7S dari McKinsey atau yang lebih dikenal dengan McKinsey 7S Framework adalah sebuah model manajemen untuk melihat seberapa efektif organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Memang ada beberapa model dan analisa yang dapat digunakan untuk menentukan di posisi mana organisasi kita berada. Baik itu menggunakan analisa eksternal, internal atau pun keduanya. Salah satu model yang diyakini dan bertahan sampai hari ini dengan menggunakan pendekatan internal adalah 7S framework dari McKinsey.

Untuk mencapai kesuksesan manajemen harus memperhatikan tujuh faktor ini agar pelaksanaan strategi dapat berhasil. Memang tidak semua bobot dari 7S ini sama dalam suatu organisasi. Tetapi, bukan berarti jika hal itu kurang penting maka dapat diabaikan. Besar atau kecil, dalam 7S faktornya saling tergantung sehingga jika kita gagal untuk memberikan perhatian yang tepat maka akan mempengaruhi yang lainnya. Selain itu, fokus perusahaan akan mempengaruhi tingkat kepentingan relatif dari setiap faktor 7S ini dari waktu ke waktu.

7S dikembangkan pada awal 1980-an oleh Tom Peters dan Robert Waterman dua orang konsultan yang saat itu bekerja di perusahaan konsultan McKinsey Company. Premis dasar dari model ini adalah bahwa ada tujuh aspek internal dari sebuah organisasi yang perlu diselaraskan jika ingin mencapai kesuksesan.

7S dapat digunakan untuk:
– Meningkatkan kinerja perusahaan.
– Meneliti efek kemungkinan perubahan masa depan terhadap perusahaan.
– Menyelaraskan departemen-departemen dan proses-proses yang digunakan selama merger atau akuisisi.
– Menentukan cara terbaik untuk menerapkan strategi yang akan dijalankan

Dalam 7S ada 7 faktor yang masing-masing saling tergantung yang dikelompokkan menjadi Soft & Hard elements.
Soft Elements lebih sulit dideskripsikan, less tangible dan dipengaruhi budaya, yaitu : Shared Values, Skills, Style, Staff. Hard Elements lebih mudah didefinisikan dan ditentukan dan manajemen dapat langsung mempengaruhinya, yaitu: Strategy, Structure, Systems

Strategy: Rencana yang dirancang untuk mempertahankan dan membangun keunggulan kompetitif dalam persaingan.
Strategi suatu organisasi dimaksudkan agar organisasi dapat memiliki arahan yang jelas dan tegas tentang cara-cara yang dipakainya untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Tanpa strategi yang jelas, setiap organisasi akan berada pada kondisi seperti kapal yang berlayar tanpa pernah tahu ke mana akan berlabuh. Dalam organisasi bisnis, strategi merefleksikan kajian yang akurat tentang lingkungan bisnis, terutama aktivitas saat ini dan akan datang dari para pesaing.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa strategi kita?
– Bagaimana kita akan mencapai tujuan kita?
– Bagaimana cara kita menghadapi tekanan lingkungan kompetisi (competitive pressure)?
– Bagaimana cara kita menangani perubahan permintaan konsumen (changes in customer demands)?
– Bagaimana strategi ‘disesuaikan’ dengan isu lingkungan?

Structure:cara organisasi yang secara sistematis mengatur siapa melapor kepada siapa.
Struktur organisasi sangat berpengaruh dalam kinerja sehari-hari. Struktur dibuat sesuai dengan kebutuhan organisasi yang ada. Struktur yang tepat akan membuat komunikasi menjadi efektif dan keputusan dapat dibuat dengan cepat dan tepat.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Bagaimana perusahaan / tim dibagi?
– Apa saja tingkatannya?
– Bagaimana mengkoordinasikan kegiatan berbagai departemen?
– Bagaimana anggota tim mengatur dan menyesuaikan diri?
– Apakah pengambilan keputusan dan pengendalian terpusat atau desentralisasi?
– Dimana saja jalur komunikasi? Eksplisit dan implisit?

System: prosedur untuk mengatur aktivitas yang dijalankan yang melibatkan anggota organisasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Jika sebuah perusahaan mempunyai sistem yang baik, maka akan sangat memudahkan bagi perusahaan tersebut untuk melakukan operasional sehari-hari. Sistem ini termasuk berbagai hal yang menyangkut perencanaan, implementasi, kontrol dan evaluasi, anggaran, dan penghargaan.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa sistem utama yang menjalankan organisasi?
– Di mana saja letak peran kontrol dalam organisasi? Bagaimana peran kontrol di monitor dan di evaluasi?
– Aturan dan proses apa yang dipergunakan agar tetap on track?

Shared Values: nilai-nilai inti perusahaan yang telah menjadi budaya.
Merupakan suatu guideline bagi para anggota organisasi untuk tumbuh dan berkembang. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Apa nilai-nilai inti perusahaan? (core values)
– Apa saja budaya perusahaan?
– Seberapa kuat nilai-nilai ini diterapkan?

7s

Style: Gaya kepemimpinan yang digunakan.
Style merujuk kepada gaya kepemimpinan yang digunakan dalam organisasi. Gaya manajemen (kepemimpinan) organisasi merupakan hasil perpaduan antara kelima elemen lainnya. Elemen-elemen tersebut menentukan gaya kepemimpinan seperti apakah yang paling tepat agar organisasi dapat mencapai sasaran dan tujuannya secara efektif dan efisien. Kepemimpinan yang tangguh pada semua lini, dan terutama pada jajaran top manajemen, akan memberikan dampak yang dramatis bagi peningkatan kinerja bisnis. Kepemimpinan yang tangguh ini juga diharapkan akan memberikan kontribusi penting bagi tumbuh dan mekarnya budaya organisasi yang berorientasi pada prestasi atau performance-based culture.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Seberapa sering gaya kepemimpinan ini digunakan?
– Seberapa efektif hasilnya?
– Apakah anggota tim menjadi lebih kooperatif atau kompetitif?

Staff: karyawan
Organisasi akan menentukan prasyarat orang-orang seperti apa yang dianggap sesuai dengan keberadaan dan tujuan organisasi. Sebagaimana diketahui, jika tujuan organisasi dan tujuan masing-masing individu di dalamnya tidak searah, maka akan sangat sulit bagi organisasi tersebut untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Spesialisasi apa yang harus ada dalam tim?
– Posisi apa yang harus diisi?
– Apakah ada kesenjangan kompetensi yang dibutuhkan?

Skills: Ketrampilan yang dibutuhkan organisasi.
Ketrampilan setiap individu di dalam organisasi merupakan unsur yang sangat penting bagi keberhasilan organisasi untuk mencapai sasaran dan tujuannya dengan efektif dan efisien. Karena itu, skills merupakan cerminan dari core competence organisasi, karena strategi yang disusun juga merupakan refleksi atas skills yang ada. Esensinya adalah bagaimana sebuah organisasi secara konstan mengembangkan ketrampilan (skills), sikap kerja dan pengetahuan para karyawannya.

Merujuk pada best practice di Asia, setiap perusahaan sebaiknya memberikan training minimal 40 jam (5 hari) setiap tahun kepada setiap karyawannya. Tentu saja pelatihan dan pengembangan skills ini selalu harus juga disertai dengan skema monitoring yang sistematis untuk memastikan bahwa skills itu bisa diaplikasikan untuk melejitkan kinerja bisnis.

Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu mengeksplorasi & memahami situasi Anda dalam hal kerangka 7S.
– Ketrampilan apa yang paling kuat yang dimiliki tim /organisasi?
– Apakah ada kesenjangan keterampilan?
– Apakah karyawan saat ini / anggota tim memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang diberikan?
– Bagaimana kemampuan di monitor dan dan di nilai?

Model 7S ini dapat diaplikasikan untuk menjawab isu efektivitas di hampir semua jenis organisasi. Jika ada sesuatu yang ‘tidak bekerja sebagaimana mestinya’, maka dapat dipastikan ada ketidak konsistenan di antara elemen-elemen 7S yang ada.

 

Sumber  http://quickstart-indonesia.com/

Millennial Trends 2016 : Memetakan karakter konsumsi Gen Y

Generasi milenial (Millennial Generation) adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y, Net Generation, Generation WE, Boomerang Generation, Peter Pan Generation, dan lain-lain. Mereka disebut generasi milenial karena merekalah generasi yang hidup di pergantian milenium. Secara bersamaan di era ini teknologi digital mulai merasuk ke segala sendi kehidupan.

Milenial memiliki nilai-nilai, dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya yaitu Gen-X (lahir tahun 1964 hingga 1980). Beberapa literatur menyebut karakteristik mereka ditandai oleh berbagai nilai-nilai dan perilaku berikut: connected, multitasker, tech-savvy, collaborator/cocreator, social, adventurer, transparent, work-life balance, dan sebagainya. Itu secara umum. Di Indonesia, dengan latar belakang sosial, sejarah, budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda tentu menghasilkan generasi milenial yang berbeda pula dan unik.

Inventure dan Middle Class Institute (MCI) melakukan kajian untuk melihat tren nilai-nilai dan perilaku generasi milenial di Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengahnya. Berikut ini 13 tren yang berhasil diidentifikasi.

Selfie 4

 

1. Millennial Wannabe
Millennial is NOT cohort. It is a lifestyle. Milenial bukanlah sebatas penanda kapan kita lahir, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mengapa bisa begitu? Ya, karena entah kenapa milenial itu kini menjadi sebuah simbol kekerenan. Siapapun, tak peduli Gen-X bahkan Baby Boomers, merasa bangga kalau punya gaya hidup seperti milenial. Milenial bukan masalah umur; bukan masalah muda-tua. Milenial adalah ekspresi dan identitas diri. Karena itu kami perkirakan akan muncul banyak “milenial gadungan” di Indonesia. Secara umur mereka bukanlah masuk golongan milenial, namun tingkahnya, penampilannya, atau konsumsi digitalnya seperti milenial, bahkan (amit-amit jabang bayi hehehe..) melebihi milenial.

2. “Sharing is Cool”
2015 adalah steping stone dimana sharing economy mulai diadopsi konsumen Indonesia, khususnya kaum milenial, secara meluas. Tren ini dipicu oleh sukses Gojek dengan layanan ojek online-nya. Sukses layanan baru ini sekaligus membuka mata dan mengedukasi konsumen milenial Indonesia yang memungkinkan mereka melompat parit (crossing the chasm) menuju pasar mainstream. Di tahun 2016 sharing economy akan diadopsi lebih dalam dan lebih luas di sektor-sektor industri yang lain. Sektor traveling dan leisure (melalui layanan seperti: AirBnB) misalnya, bakal menjadi the next big things di tahun 2016 ini. Budaya konsumsi “share, not own” juga akan kian massif tanah air. Di dunia hiburan misalnya, kini milenial tak lagi perlu punya CD atau DVD untuk mendengarkan musik atau menonton film. Layanan-layanan berbasis cloud seperti iTunes, Netflix, Spotify, SoundCloud, dan JOOX akan kian populer.

3. “How We Consume” Is a New Lifestyle. Tools Matter!!!
Mendengar alunan musik di Spotify atau iTunes lebih keren ketimbang di radio. Nonton film di Netflix lebih keren ketimbang di bioskop atau RCTI. Lari dengan aplikasi Nike+ Running (dengan fitur: GPS, Pace Tracker, Timer, Calories, Pedometer, Music Player dan Jejaring Sosial) lebih keren untuk dipamerkan ketimbang olahraga larinya sendiri. Lagu, film, atau lari tidak penting, yang penting adalah digital tools apa yang mereka gunakan. Bagi milenial digital is awasome, karena itu gaya hidup “the digital of things” haruslah dipamerkan di media sosial. Milenial selalu punya passion luar biasa untuk menjadi yang terdepan (early adopter) dalam arus deras “the digital of things”. Ketika mereka sudah menjadi yang terdepan, maka wajib hukumnya capaian itu dipamerkan di media sosial.

4. The Rise of Instagrampreneur
Kehadiran media sosial terutama Instagram dan menjamurnya lapak-lapak online seperti OLX, Tokopedia, atau Bukalapak telah memberi peluang luar biasa bagi milenial yang cekak modal untuk berbisnis secara online. Yasa Paramita misalnya memulai brand sepatu Men’sRepublic sejak ia kelas 2 SMA hingga kini sekitar 4 tahun telah menuai omset ratusan juta sebulan. Dia cukup mendesain sepatu-sepatunya kemudian menyerahkan produksinya kepada vendor-vendor di Bandung. Tak hanya entreprneur, sekarang juga terdapat tren munculnya apa yang kami sebut amfibi, yaitu para pekerja kantoran yang menjalankan bisnis sampingan berbasis online. Iklan-iklan massif Bukalapak, Tokopedia, atau OLX secara positif mengajak para milenial menjadi digital entrepreneur.

5. Holiday Effect
Masih pekat di ingatan kita, bulan Agustus-November 2015 Indonesia dihantui krisis ekonomi yang ditandai dolar melambung dan PHK di mana-mana. Namun kita kaget luar biasa ketika di akhir tahun jalur pantura macet total selama beberapa hari oleh masyarakat yang liburan akhir tahun ke kampung. Korbannya tidak tanggung-tanggung, seorang Dirjen mengundurkan diri karena tak sanggup memprediksi dan mengatasi kemacetan yang super parah tersebut. Inilah fenomena menarik generasi milenial, bagi mereka liburan dan hiburan adalah kebutuhan super penting. Karena itu liburan tak kenal mas krisis. Dan ketika tiket pesawat dan hotel bisa diperoleh demikian mudah dan murah melalui beragam platform online (Traveloka, Trivago, Agoda, dsb), maka kebutuhan itu pun kian getol mereka manjakan. Millenials are experiencer.

6. Multi-Tribes Netizen
Komunitas online yang dibentuk di media sosial seperti grup di WhatsApp, BBM, Telegram, atau Facebook kian sophisticated. Menariknya, kini seorang milenial bisa ikut dalam belasan bahkan puluhan grup WA atau BBM sekaligus. Sebut saja grup alumni, grup teman-teman kantor, grup pengajian, grup hobi kuliner, grup nebengers, grup project team di kantor, dan lain-lain. Itu sebabnya kami menyebut mereka sebagai: “Multi-Tribes Netizen”. Netizen yang hidup di beragam suku, namun suku-suku ini tak berada di hutan, tapi ada di grup-grup media sosial. Dengan banyak grup yang dimasuki, maka mereka harus memiliki multi-split personality. Mereka harus bisa “bersandiwara” memainkan peran dan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan grup yang dimasuki.

7. Brand Story Matters
Millennials love story. Mereka menyukai cerita yang mengemas sebuah produk atau layanan. Dan ketika sebuah produk dan layanan memiliki cerita yang keren, maka kaum milenial begitu passionate membincangkan dan menyebarkannya ke friends, fans, followers (3Fs). Fenomena ini paling kentara terjadi di bisnis kuliner. Sejak tahun lalu, tiba-tiba kedai kopi artisan seperti Filosofi Kopi, Tanamera, ABCD, atau One Fifteenth Coffee menjadi booming di berbagai kota di tanah air. Konsep food truck seperti Amerigo atau konsep food street seperti OTW di Kelapa Gading tahun lalu begitu happening. Bahkan mal pun kini dikemas dengan brand story yang kuat seperti Aeon di BSD yang sukses mengusung tema Jepang dan memicu word of mouth luar biasa. Kami meyakini inovasi dalam menyuntikkan brand story ke dalam produk dan layanan ini bakal marak di tahun ini.

8. The Birth of Visual Generation (Gen V)
Fenomena lain yang sedang ngetren di kalangan generasi milennial adalah semakin canggihnya tools yang dipakai untuk selfie, seperti penggunaan drone, lensa kamera GoPro, dan sebagainya yang membuat hasil tampilan visual dari foto-foto selfie semakin dramatis, atau penggunaan aplikasi Periscope atau Snapchat untuk video selfie. Jika dulu gaya anak muda yang selfie hanya menampilkan foto muka saja, maka sekarang mereka mulai senang berfoto dengan latar belakang obyek yang keren. Atau supaya lebih terkesan update dan live maka video selfie pun mulai digandrungi. Tiap orang ingin menampilkan authentic selfuntuk meningkatkan personal branding-nya masing-masing. Dia merasa dirinya keren dan pantas untuk memiliki audience-nya masing-masing.

9. Instant Online Buying
Riset perilaku belanja online selalu menempatkan produk gadget, produk elektronik, fesyen, atau buku/majalah sebagai produk yang paling banyak dibeli secara online. Item produk tersebut umumnya dibeli di internet kemudian dikirim melalui jasa kuriri beberapa hari kemudian. Namun kini hal itu mulai berubah, milenial Indonesia mulai menikmati “instant online buying” dimana beli di internet sekarang, lalu beberapa menit atau jam kemudian barang telah diterima. Biangnya tak lain adalah Gojek yang berbekal armada pengojeknya di seluruh pelosok kota mampu mengantarkan pesanan konsumen dengan cepat (lihat layanan seperti Go-Food, Go-Mart, Go-Clean, Go-Glam, Go-Massage). Dengan munculnya layanan baru ini perilaku konsumen milenial bakal berubah, mereka akan mulai membeli barang-barang cepat konsumsi atau cepat pakai seperti makanan-minuman, sayur, buah, bumbu, obat, tukang pijat, dan sebagainya. Alfamart merespons tren ini begitu cepat dengan layanan Alfaonline.

10. “Comment Seeker” Generation
Generasi milenial adalah attention-seeker. Mereka merasa dirinya sebagai sosok bintang yang disorot kamera di jagat media sosial. Karena itu mereka gila dikomentari. Apapun minta dikomentari. Posting status di Facebook minta dikomentari. Foto selfie di Instagram minta dikomentari. Menulis di blog minta dikomentari. Semakin banyak “like” atau komentar yang didapat, maka mereka akan merasa semakin eksis. Komentar positif membuat mereka berbunga-bunga. Sebaliknya, komentar negatif membuat mereka stres, frustasi, bahkan depresi.

11. “Social Media Pressure”
Media sosial adalah media terbuka, siapapun bisa ngomong baik maupun buruk, pujian maupun cercaan. Itu sebabnya bully di media sosial sudah layaknya wabah yang menjalar cepat. Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang tekena bully? Kaum milenial adalah generasi yang sangat peduli dan menganggap serius setiap perkataan dan opini dari friends, fans, dan followers (3F) mereka. Banyak terjadi ABG milenial lebih mendengarkan 3F ketimbang orang tua dan keluarga mereka. Oleh karena itu komentar negatif, kritik, atau bully di media sosial merupakan sumber tekanan psikologis yang berat bagi milenial. Bahkan ada kasus-kasus ekstrim dimana korban bully memilih untuk bunuh diri karena tidak tahan dipermalukan di media sosial. Kesempurnaan diri yang dicitrakan di media sosial seakan menjadi harga mati yang tak boleh dicoreng oleh para haters dan bullyiers. Tuntutan ini membuat mereka selalu resah di jagat media sosial.

12. Circular Economy
Kaum milenial adalah trend-setter. Mereka selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam hal gaya hidup, gadget, atau fesyen. Celakanya, mereka juga cepat bosan dengan gaya hidup dan produk baru yang mereka pakai. Begitu gadget versi baru keluar, maka gadget lama ditinggalkan. Padahal gadget lama tersebut baru dibeli beberapa bulan sebelumnya. Karena mereka smart, maka barang baru yang sudah tidak mereka minati dijual di situs-situs seperti OLX atau eBay. Inilah yang memicu apa yang kami sebut circular economy. Dengan adanya tren circular economy, maka situs-situs marketplace yang mempertemukan pemilik barang bekas (yang masih baru) ini bakal menggeliat di tahun 2016.

13. Two Faces of Click Activism
Secara sekilas kepedulian kaum milenial Indonesia begitu tinggi dengan begitu banyaknya masalah-masalah penting nasional yang mereka respons melalui situs seperti change.org. Heboh kasus “Papa Minta Saham” atau pelarangan layanan ojek online misalnya, direspons cepat oleh para millenial activists dengan melakukan petisi online. Namun apakah betul partisipasi, kepedulian sosial, dan nasionalisme mereka melambung dengan adanya platform petisi seperti itu? Belum tentu. Seperti menonton gelaran sepak bola di GBK, mereka hanya menjadi semacam pemandu sorak yang ingin hanyut dalam euforia dan kehebohan gonjang-ganjing masalah sosial tersebut. Ingat, “becoming a click activist is cool!”

 

 

Sumber : yuswohadi.com

Value Stream Mapping: Step by Step

Sebagai salah satu tool dalam Lean Manufacturing yang efektif, VSM menjadi sarana visual yang bisa memberikan gambaran luas untuk melihat aliran material dan informasi yang dibutuhkan pada saat produk berjalan di seluruh proses bisnis.

Dalam melakukan VSM, kita akan mengikuti proses dari awal sampai akhir dan mengukur apa saja yang terjadi di setiap tahap proses tersebut. Misalnya, dalam memantau proses, kita akan mencatat sumber daya apa saja yang digunakan, jumlah pemakaian sumber daya setiap kali digunakan, dan informasi lainnya.

Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk mendapatkan suatu gambaran utuh berkaitan dengan waktu proses, sehingga dapat diketahui value added dan non value added activity. Sering kali VSM dianalogikan sebagai Big Picture Mapping.

Mengapa harus menggunakan tool VSM dalam proses produksi ataupun proses bisnis lainnya?

Dengan menggunakan VSM ini kita dapat dengan mudah mengetahui waste/muda/pemborosan proses dalam sistem perusahaan, selain itu juga dengan adanya VSM kondisi aktual sekarang, seorang manajer dapat melakukan perbaikan dengan baseline/pijakan dari VSM tersebut, apakah waste sudah hilang atau masih ada. Improvement apa saja untuk mengurangi waste tersebut?

Berikut langkah-langkah dalam membuat Value Stream Mapping:

1. Identifikasi Famili Produk

Apa produk yang dihasilkan oleh sistem yang sekarang Anda atur dan kembangkan? Ban Mobil? Pesawat terbang, jasa, atau makanan. Semuanya harus dikelompokkan dalam satu famili, baik berdasarkan ukuran ataupun berdasarkan pertimbangan yang lainnya. Pengelompokan tersebut dapat dilakukan dengan mudah, caranya lihat kesamaan proses, bentuk dan bahan baku dari produk Anda. Kemudian buat table untuk memudahkan dengan menggunakan penggunaan metrik yang sesuai. Tujuan dari identifikasi ini adalah agar proses mapping fokus pada produk yang memiliki proses yang kurang bagus dan menyederhanakannya sehingga usaha untuk proses mengumpulkan data lebih mudah dan cepat.

2. Kembangkan VSM untuk Kondisi Aktual

Setelah Anda membuat mapping produk, tugas selanjutnya adalah untuk membuat VSM kondisi aktual. Proses ini dilakukan dengan bantuan produk mapping yang sudah dilakukan di atas tadi, maka yang perlu Anda lakukan hanyalah fokus pada yang kritikal dan berdampak besar.

Langkah selanjutnya adalah, lakukan brainstorming dengan pakar dan key person yang bertanggung jawab terhadap proses tersebut mulai dari design produk sampai produk tersebut di tangan konsumen. Dapatkan informasi sebanyak mungkin, buat list yang perlu ditanyakan, biasanya hal tersebut identik dengan pemborosan.

Kemudian, turun ke lapangan dengan melihat proses secara langsung, amati proses secara langsung dengan bekal list yang sudah Anda dapat dari key person tersebut. Selanjutnya, buat koreksi dan fakta di lapangan seperti apa, baik berkaitan dengan waktu, inventori dan item-item yang sekiranya penting seperti jumlah pekerja, waktu tunggu, dll. Buat table untuk memudahkan investigasi lapangan.

Lanjutkan dengan membuat kesepakatan berkaitan dengan simbol yang akan Anda pakai dalam pembuatan VSM. Lakukan pembuatan draft VSM dan pastikan dengan melakukan diskusi kembali dengan key person dan lihat, proses mana saja yang perlu dilakukan tindak lanjut lebih.

3. Menentukan Pemetaan yang Ideal untuk Masa Depan (Future State)

Kondisi aktual sekarang jika Anda sudah melakukan mapping, sekarang saatnya Anda berkreasi sekuat tenaga untuk menciptakan future state. Sebelum menuju future state, Anda harus memahami dulu bagaimana keadaan saat ini (Current state).

Current state map ini adalah gambaran kondisi operasi yang terjadi pada proses saat ini. Current state akan menjadi gambaran besar, dan tidak akan menceritakan detail proses dari setiap proses. Current state map akan menggambarkan seluruh proses awal hingga akhir, sehingga kita memahami proses produksinya dan sumber inisiatif improvement.

Pengamatan Langsung Jalur Produksi

Pembuatan current state map dimulai dengan beberapa hal yang sederhana untuk memahami bagaimana kondisi lapangan berjalan dan sumber inisiatif yang muncul. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengamatan ini, antara lain:

  • Melakukan pengamatan dari ujung awal proses sampai akhir proses
  • Membuat catatan sederhana pada setiap proses dan item kritikal pada masing-masing proses
  • Membawa stopwatch, sehingga anda dapat melakukan recheck cycle time pada proses, random check sebagai konfirmasi terhadap data dan pada spesifik proses yang menurut anda “menarik”
  • Menanyakan langsung atau diskusi singkat di area proses untuk memastikan pemahaman anda pada proses
  • Menggambarkan secara sederhana step by step proses sebagai draft

Lalu, setelah mengidentifikasi current state, Anda bisa memikirkan apa saja yang harus dipertimbangkan dalam membuat future state, sebelum kesana perlu dipahami bahwa future state merupakan kondisi ideal yang ingin dicapai oleh sistem dalam melakukan prosesnya, contohnya seperti lead time produksi yang cepat, misal, currentnya 2 jam/produk,maka future statenya 1 jam/produk.

Selain itu, dalam future state anda juga harus perhatikan KPI perusahaan, seperti capability perusahaan dan pastinya people. Dengan pertimbangan tiga hal di atas harapannya future state yang dibuat merupakan refleksi dari tujuan perusahaan.

4. Develop Improvement dari Current ke Future State

Setelah anda membuat future state, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana anda dan tim membuat sebuah langkah atau program untuk mengubah current menjadi future.

Misalnya, bagaimana membuat lead time lebih cepat dan sesuai dengan future state dapat dilakukan dengan menerapkan cellular manufacturing, mengelompokkan proses yang mempunyai kemiripan untuk mengurangi travel time dan work in process.

Dengan melakukan langkah-langkah di atas, maka ini saatnya Anda menentukan upaya perbaikan apa yang ingin dilakukan.***

 

sumber : http://shiftindonesia.com/value-stream-mapping-step-by-step/

Six Sigma dalam Platform Bisnis Online

Kesuksesan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang marketplace dan e-commerce atau perusahaan teknologi berbasis aplikasi transportasi tak lepas dari enam komponen utama Six Sigma sebagai strategi bisnis.

Mengamati sejumlah kisah sukses perusahaan dengan platform marketplace atau e-commerce, misalnya Tokopedia, Kaskus, ataupun Lazada ditambah kesuksesan perusahaan teknologi berbasis aplikasi seperti Gojek, Uber dan Grabtaxi, nampaknya tak lepas dari sejumlah prinsip utama strategi bisnis Six Sigma.

Marketplace merupakan pasar digital yang menjual beragam produk dari banyak merek yang disediakan oleh berbagai vendor. Bisnis ini laris manis lantaran keuntungan dari jasa pihak ketiga mempertemukan pelanggan dengan vendor.

Layanan jasa pihak ketiga tersebut bersifat open akses karena sebagian besar website marketplace memberi fasilitas kepada vendor yang turut bergabung secara gratis.

Salah satu champion dalam bisnis online di Indonesia adalah Tokopedia. Menurut penuturan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, tingkat kunjungan ke website telah mencapai puluhan juta setiap bulannya. Sekitar 50 persen pembeli Tokopedia berasal dari Jawa dan 19 persen dari DKI Jakarta. Sementara penjual mencapai 55 persen dari luar Jakarta dan 36 persen dari Jakarta.

Tingkat pertumbuhan berhasil dicapai berkat program bebas komisi transaksi untuk vendor ataumerchant yang digagas sedari awal Tokopedia berdiri sekitar 2009 lalu. Hal tersebut mengindikasikan kesuksesan marketplace berbanding lurus dengan kesuksesan paramerchant.

Di sisi lain e-commerce menyelenggarakan operasi bisnisnya melalui pemasaran produk dari merek atau vendor yang sama, sehingga pilihan belanja secara online jangkauannya sangat spesifik.

Namun justru model pemasaran demikian yang membuat toko online seperti Lazada terus menanjak ke puncak suskes. Lazada sengaja membeli produk dari supplier, memasukkannya ke warehouse sebagai stok ataupun untuk tujuan penjualan kepada para pelanggan.

Operasi bisnis demikian memungkinkan Lazada melakukan kontrol aktivitas supplier sekaligus pelanggan meliputi kontrol kualitas produk, distribusi hingga aftersales. Sehingga trust atau tingkat kepercayaan menjadi variabel pokok dalam platform e-commerce terkait kualitas produk dari supplier.

Lain halnya dengan perusahaan seperti Grabtaxi, Gojek dan Uber yang menggunakan operasi bisnis melalui teknologi aplikasi transportasi, menghubungkan penyedia usaha dan pengguna jasa. Secara konseptual perusahaan teknologi aplikasi transportasi berprinsip marketplacedan umumnya terdaftar sebagai perusahaan multiservice, menyediakan banyak jasa. Meski sempat terjadi perdebatan publik tentang perizinan perusahaan teknologi aplikasi transportasi, nyatanya sampai hari ini pelanggan belum menunjukkan penurunan minat.

Marketplace dan e-commerce merupakan dua platform yang berbeda secara signifikan. Perbedaan tersebut meliputi produk yang tersedia, model bisnis, sumber profit, proses pembayaran serta proses pengiriman barang. Meski berbeda, kedua platform bisnis online tersebut berhasil merajai pasar nasional seiring peningkatan pengguna internet dan telepon pintar.

Prinsip utama Six Sigma menurut Peter Pande dalam bukunya “The Six Sigma Way: Team Fieldbook” meliputi enam komponen yang nampaknya inheren dengan operasi bisnis online berplatform marketplace, e-commerce ataupun perusahaan teknologi pengembang aplikasi, antara lain:

1. Mengutamakan Pelanggan

Pelaku bisnis berhasil mendefinisikan ulang pengertian pelanggan yang tak terbatas pada pembeli. Dalam operasi bisnis marketplace dan e-commerce, pelanggan bisa berarti rekan dan tim kerja, pemerintah, dan masyarakat umum pengguna jasa. Keberhasilan memaknai pelanggan berpengaruh kepada prioritas dan skala kebutuhan perusahaan. Bisnis online dan aplikasi berbasis website tidak bisa mengabaikan kenyataan pola konsumsi pelanggan berkontribusi pada kecenderungan produksi perusahaan.

2. Manajemen Berbasis Data dan Fakta

Dalam bisnis online dan aplikasi, basis utama transaksi adalah informasi valid tentang produk berdasarkan data dan fakta bukan sebuah opini atau pendapat tanpa dasar. Kemajuan para pelaku bisnis dunia maya lebih karena berhasil menyampaikan informasi secara tepat tanpa cacat sesuai permintaan konsumen atau pelanggan.

3. Fokus pada Proses, Manajemen dan Perbaikan

Keberhasilan platform marketplace, e-commerce dan perusahaan pengembang teknologi aplikasi, salah satunya karena kemampuan teknis proses bisnis dipadu dengan kemampuan manajerial yang tinggi untuk terus melakukan perbaikan. Pemahaman teknis tentang proses bisnis penting untuk melakukan efesiensi perusahaan, meningkatkan daya saing, meninggalkan pola-pola bisnis konvensional yang usang ditelan zaman.

4. Manajemen yang Proaktif

Ibarat Nahkoda, peran seorang pemimpin perusahaan sangat menentukan arah yang hendak dituju. Melalui tatakelola manajerial yang peka terhadap kebutuhan dan situasi zaman, para pemimpin di bisnis online membuktikan bahwa mereka sampai saat ini berasil melakukan perubahan yang signifikan. Bahkan dalam bisnis aplikasi seperti Gojek, telah teruji membuka lapangan kerja, menyerap angkatan kerja baru dan masyarakat usia produktif lantaran manajemen yang tanggap dengan situasi ekonomi nasional.

5. Kolaborasi Tanpa Batas

Terus membuka peluang kerjasama antartim dan partner baru merupakan kunci kesuksesan bisnis online. Melibatkan banyak pihak dalam proses bisnis berarti meningkatkan arus komunikasi, permintaan produk dan akhirnya meningkatkan transaksi dan akumulasi kapital. Bisnis online bahkan meninggalkan pola klasik merchant melakukan monopoli produk dan harga. Hal demikian dimungkinkan karena sistem pengawasan muncul secara internal dari kedua belah pihak, pelanggan maupun penyedia jasa.

6. Selalu Mengejar Kesempurnaan

Bisnis online dengan beragam platform sarat dengan kemajuan dan pengembangan teknologi. Sebuah perusahaan tidak bisa fanatis dengan satu pendekatan bisnis, namun terus berupaya mengembangkan cara-cara baru operasi bisnis, menghasilkan produk tanpa cacat. Pembaruan dan penyempurnaan teknologi informasi terus dilakukan untuk memaknai pasar dan menciptakan tren dan pola-pola baru produksi-konsumsi masyarakat.

Mengutip ungkapan Bill Gates tentang operasi bisnis yang bertumpu pada penggunaan teknologi, bahwa otomatisasi yang diterapkan pada operasi yang efesien akan memperbesar tingkat efesiensi. Sebaliknya, otomatisasi yang diterapkan pada operasi yang tidak efesien akan mengurangi tingkat efesiensi yang telah dicapai.