Fintech BUMN, Go Pay dan OVO Siapa yang Menang ?

mobile 5

Pembayaran via mobile phone (ponsel) atau mobile payment semakin banyak digunakan dewasa ini. Cara pembayaran ini menjadi satu tren favorit masyarakat di seluruh dunia, demikian juga dengan di Indonesia. Pada tahun 2020, diprediksi transaksi bisnis pembayaran mobile di Indonesia akan mencapai jumlah yang sangat fantastis, sekitar 459 triliun rupiah.

MDI Ventures  dan Mandiri Sekuritas merilis sebuah laporan bertajuk “Mobile Payments in Indonesia: Race to Big Data Domination”. Secara umum layanan mobile payment Indonesia, dimulai pada tahun 2007 dimotori oleh Telkomsel yang merilis layanan T-Cash, lalu disusul Indosat, dan XL Axiata. Selepas tahun 2012 layanan mobile payment mulai beragam, industri perbankan dan pengembang aplikasi mulai masuk di dalamnya.

Ada sebuah berita yang menarik di harian kontan edisi 4 Februari 2019, berita tersebut bertajuk “ BUMN Bersatu menghadang Go Pay & OVO”.

Dominasi dua platform pembayaran yaitu Gopay dan OVO nampaknya telah berhasil membuat gusar Bank Bank plat merah. Bagaimana tidak gusar, riset terbaru dari Financial Times dan DailySosial bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menunjukkan bahwa Gopay merupakan pemimpin system pembayaran di Indonesia, diikuti oleh OVO, sementara T-Cash yang notabene adalah mobile payment milik BUMN berada di posisi ketiga.

mobile3

Jika dilihat dari tahun kelahiran, tentunya T Cash adalah layanan mobile payment paling lama ada di Indonesia. T Cash Lahir pada Tahun 2007 sementara Gopay yang merupakan pelebaran bisnis Gojek Lahir di 2016 di susul OVO dari Grup Lippo lahir di 2017. Namun tentu usia bukanlah jaminan. Terlebih di era disrupsi, dimana agilty sebuah organisasi bisnis akan sangat menentukan performa kerjanya.

Mobile 2

Dikutip dari cnbcindonesia, BUMN segera meluncurkan LinkAja untuk menantang Go-Pay dan OVO di bisnis mobile payment. LinkAja adalah layanan yang mengintegrasikan dompet digital milik Telkomsel dan beberapa bank BUMN.  LinkAja nantinya akan dikelola PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), fintech milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang berada di bawah Telkomsel dan memiliki produk T-Cash. LinkAja berisi penggabungan dari T-Cash milik Telkomsel, Yap! milik Bank BNI, e-Cash milik Bank Mandiri dan T-Bank dari Bank BRI. T-Cash akan bertransformasi menjadi LinkAja mulai 21 Februari 2019.

Namun bersaing dalam bisnis mobile payment dipastikan tidaklah mudah. Banyak pemain lain yang memilih mundur secara teratur karena tak kuat menghadapi Go-Pay dan OVO yang terus menerapkan strategi bakar duit dengan diskon dan cashback.
Kedua startup ini seolah tak ambil pusing dengan rugi yang terus membengkak asal pengguna meningkat. Pengguna yang meningkat diyakini akan membuat banyak investor yang ngantri untuk masuk. Bagi BUMN, rugi merupakan hal yang tabu. Mendapatkan suntikan modal juga tak akan mudah karena banyak mekanisme yang harus dilalui.

Jadi menurut anda apakah bersatunya Banak Bank BUMN untuk melahirkan linkAja akan benar benar bisa meredam Gopay dan OVO ?

Mari kita lihat, yang jelas bahwa semakin kesini disrupsi akan semakin nyata dalam merubah landscape bisnis yang ada. Disrupt or To Be Disrupted.

Sumber : Diambil dari beberapa sumber

Disrupsi : Apakah Air BnB Mengancam Indutri Hotel ?

Kehadiran AirBnB memberikan warna baru dalam industry perhotelan. Ia memberikan pilihan bagi mereka yang mencari tempat tinggal dengan harga yang terjangkau.

Cara booking hunian di Air BnB ini memang mudah. Bisa dari situsnya atau dari aplikasi ponsel pintar. Tinggal mencari kota yang akan kita singgahi. Kemudian ada saringan seperti harga maksimal per malam, jumlah kamar, hingga ketentuan khusus seperti ada ruang merokok atau tidak.

Pendiri Airbnb bukanlah pemilik properti. Dia hanya jadi perantara untuk sistem sharing economy. Sama saja dengan yang sudah diterapkan di Uber, Grab Bike, atau Gojek. Sebagai perantara, Airbnb memungut upah antara 6 hingga 12 persen dari jumlah yang dibayar tamu, dan 3 persen dari yang diterima tuan rumah.

Secara rata-rata, sekitar 68 persen yang disewakan di Airbnb adalah rumah. Sedangkan kamar privat hanya 30 persen. Sisanya, kurang dari 2 persen adalah kamar untuk ramai-ramai. Ini artinya, “image” Airbnb sudah bergerak lebih maju. Dulu di awal kemunculannya, Airbnb hanya dianggap sebagai Couch Surfing baru. Di mana para pelancong akan menumpang atau menyewa kamar saat berlibur. Namun kini semakin banyak yang menyewa satu rumah.

Ini artinya, mulai ada pergeseran preferensi penginapan. Kini Airbnb sudah bisa berhadap-hadapan dengan hotel. Tanda-tandanya bisa terlihat dari tingkat okupansi dan juga pendapatan Airbnb. Di Kota New York, misalkan. Pada 2010, pendapatan Airbnb hanya 13 juta dolar. Pada 2014 jumlah ini melonjak jadi 319 juta dolar. Tahun lalu, pendapatan Airbnb dari kota Apel Besar ini meningkat jadi 451 juta dolar. New York memang termasuk kota dengan pertumbuhan Airbnb yang paling cepat.

Apakah Air BnB Mengancam Hotel?

Saat ada hal baru, sudah pasti itu akan mengancam sesuatu yang sudah mapan sebelumnya. Dalam hal penginapan, Airbnb sudah pasti akan memengaruhi tingkat okupansi hotel dan industrinya secara keseluruhan.

Sekarang saja, hotel mulai babak belur dengan adanya Airbnb. Menurut lembaga konsultan HVS Consulting & Valuation, industri hotel kehilangan sekitar 450 juta dolar pendapatan langsung setiap tahun gara-gara Airbnb. Antara September 2014 hingga Agustus 2015, ada sekitar 480 ribu kamar hotel yang dipesan. Pemesanan Airbnb di periode yang sama? Sudah mencapai 2,8 juta. Menurut HVS, pada 2018 diperkirakan pemesanan kamar akan mencapai 5 juta.

Masalahnya, hotel adalah industri yang saling terkait dengan industri lain. Pengurangan okupansi hotel, juga akan berdampak berkurangnya pendapatan dari sektor makanan dan minuman yang biasanya disediakan pihak hotel. Sekitar 108 juta dolar pendapatan dari makanan dan minuman (88 juta untuk makanan dan 20 juta untuk minuman) akan hilang karena para pelancong lebih memilih pesan hunian di Airbnb. Belum lagi tips dan berbagai service fee lain.
Airbnb unggul pula perihal ongkos produksi. Semisal angka hunian rendah, pemilik properti juga tidak harus menanggung biaya karyawan. Properti pun bisa disewakan seperti biasa. Properti yang biasanya kosong dan tidak produktif pun kini bisa disewakan dan menghasilkan. Membuat kemungkinan berkembangnya Airbnb sangat terbuka lebar.

Dengan angka pertumbuhan yang cepat, wajar kalau hotel konvensional khawatir. Apalagi menurut CBRE, Airbnb masih akan berjaya dalam masa-masa mendatang. Tentu ini bukan tanpa aral. Airbnb masih bermasalah dengan, antara lain, pencurian barang, pajak, hingga masalah hukum dan perizinan.

Dan lagi, ternyata sewa Airbnb selalu lebih murah ketimbang hotel itu adalah mitos. Sebab menurut CBRE, dari September 2014 hingga September 2015, rata-rata harga sewa kamar Airbnb adalah 148 dolar. Lebih tinggi ketimbang hotel yang rata-ratanya hanya 119 dolar. Harga yang lebih mahal ini karena biasanya properti yang disewakan memiliki fasilitas seperti dapur, mesin cuci, dan juga termasuk sarapan.

Tapi pengaruh Airbnb akan tetap besar, terutama bagi industri hotel. Airbnb paling tidak akan memengaruhi hotel dalam dua hal. Pertama, harga Average Daily Room(ADR) hotel akan turun. Tentu hotel terpaksa menurunkan harga kamar agar tidak kalah saing dengan Airbnb. Hotel juga tidak lagi bisa menaikkan harga seenaknya ketika peak season. Sistem monopoli seperti ini akan berakhir.

Pengaruh kedua akan ada pada pembangunan hotel. Dengan semakin berkembangnya Airbnb, pengusaha akan berpikir ulang untuk membangun hotel baru. Tingkat hunian hotel sekarang sudah mulai terbagi dengan Airbnb. Ditambah dengan semakin kuatnya Airbnb, membangun hotel baru yang butuh model besar tentu bukan pilihan yang bijak.

sumber utama : tirto.co.id

Mengenal “Revenue Stream” dan “Business Model”

business-model-et-business-plan

Sumber gambar : http://www.thebusinessplanshop.com

Mempelajari tentang startup, maka tak akan terlepas dari belajar tentang berjalannya sebuah proses bisnis. Ada beberapa istilah dan konsep bisnis yang perlu dimengerti sebelum terjun lebih dalam, seperti istilah revenue stream, revenue model dan business model. Tiga hal tersebut biasanya akan sering ditanyakan ketika startup dihadapkan pada sebuah presentasi, ntah di hadapan calon rekanan bisnis, investor ataupun dalam kegiatan inkubator.

Secara sederhana revenue stream dapat didefinisikan sebagai sumber utama bisnis dalam mendapatkan pemasukan. Revenue model dapat diartikan sebagai sebuah cara yang ditempuh pelaku bisnis untuk mengelola arus pendapatan, termasuk di dalamnya pengelolaan sumber daya yang diperlukan untuk mengelola pendapatan tersebut. Sedangkan business model merupakan berbagai aspek dalam bisnis yang di dalamnya termasuk revenue stream dan model, serta rincian strategi yang menggambarkan bagaimana proses bisnis perusahaan bisa berjalan berkesinambungan.

Jenis-jenis revenue model dalam startup digital

Seiring dengan makin bervariasinya jenis produk dan layanan yang dihadirkan dalam startup digital, strategi pendapatan keuntungan pun turut berkembang. Ada berbagai macam revenue model yang diterapkan, menyesuaikan tipikal produk/layanan yang dijajakan. Berikut ini adalah beberapa jenis revenue model yang hingga saat ini umum dipilih dan digunakan oleh pelaku startup digital.

Revenue Model Kelebihan Kekurangan
Iklan; Model bisnis ini biasanya diterapkan untuk layanan berbasis web atau aplikasi, menampilkan iklan di tempat strategis di dalam konten layanan yang dihadirkan. Google AdSense menjadi salah satu yang paling populer digunakan di Indonesia.Namun seiring perkembangannya, iklan juga bisa dikelola secara langsung, berhubungan langsung dengan brand tertentu yang ingin mempublikasikan pekerjaan. Penerapan dan pengelolaannya mudah. Cocok untuk model layanan atau aplikasi yang disampaikan secara gratis. Perlu memastikan pengguna layanan atau aplikasi tersebut banyak. Umumnya tidak bisa didapat secara instan, perlu ada proses panjang untuk menghadirkan traksi.
Affiliate; Berafiliasi dengan brand lain juga menjadi yang cukup populer diterapkan di Indonesia. Konsep afiliasi ini biasanya digunakan oleh pengembang konten (web atau aplikasi) yang mempromosikan produk tertentu (biasanya secara native) di dalamnya. Jika dibandingkan dengan iklan, umumnya penawaran yang diberikan lebih menjanjikan, dengan hitungan yang lebih tinggi dan lebih jelas. Seringkali harus memaksakan konten untuk disesuaikan dengan produk dari afiliasi yang ingin digenjot. Perlu proses panjang dan dapat mengorbankan ketertarikan pengguna.
Transaksional; Model ini pada dasarnya sama dengan tata cara jual beli di pasar, sebuah produk atau layanan dibayar langsung oleh konsumen (bayar di muka). Misalnya menjual perangkat lunak dengan mekanisme beli putus. Beberapa konsumen (terutama di tipe konvensional) lebih nyaman karena proses yang sederhana. Produk yang dijual dengan model bisnis seperti ini biasanya sangat banyak persaingannya. Sehingga strategi seperti perang harga biasanya harus dilakukan, sehingga meminimalkan keuntungan.
Layanan Berlangganan; Model ini biasanya diterapkan untuk layanan yang digunakan dalam jangka waktu lama. Umumnya dihitung secara bulanan atau per tahun. Dengan produk yang matang, layanan ini dapat menghadirkan keuntungan yang signifikan. 

 

Sangat bergantung pada basis konsumen yang besar. Membutuhkan inovasi berkelanjutan setiap waktu untuk menciptakan kepercayaan.
Penjualan Online; Sama seperti penjualan transaksional, hanya saja prosesnya dilakukan sepenuhnya di website (online). Dapat diterapkan untuk beragam jenis produk dan layanan, mulai dari yang berbentuk fisik hingga yang berbentuk non-fisik. Untuk beberapa produk yang memerlukan strategi pemasaran langsung (pengguna harus melihat barangnya, seperti rumah, mobil dll). 
Penjualan Tidak Langsung; Model penjualan yang melibatkan agen atau re-seller. Sangat ideal bagi perusahaan untuk melakukan penyebaran produk dan memperbesar jaringan.  Kurang cocok untuk model bisnis digital yang ada saat ini, tantangan di pasar akan banyak pada edukasi konsumen, transformasinya ke affiliate.
Ritel; Proses penjualan produk secara ritel. Misalnya pengembang aplikasi yang menjual DVD aplikasi melalui toko di lokasi fisik. Membantu meningkatkan popularitas brand, karena umumnya bisa menjangkau konsumen secara lebih luas, terutama di negara yang masih dalam tahap transisi digital seperti Indonesia. Tidak cocok untuk startup dengan modal pas-pasan, harus mengucurkan investasi besar. Di Indonesia juga akan terkikis dengan pembajakan.
Memfokuskan Pada Layanan; Memberikan produk secara gratis, tapi harus membayar untuk layanan dan proses kustomisasinya. Misalnya mengembangkan aplikasi tertentu, aplikasinya dijual gratis, tapi instalasi dan hosting-nya harus membayar di perusahaan tersebut. Memberikan banyak ketertarikan, terlebih jika “layanan berbayar” dapat dibaurkan secara rapi. Produk sebagai biaya pemasaran, membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal seiring dengan tantangan mendapatkan traksi.
Freemium; Model bisnis paling populer yang ada saat ini. Memberikan layanan gratis, tapi menyediakan konten/layanan eksklusif untuk pengguna berbayar. Mirip dengan model sebelumnya, cocok untuk layanan digital berupa perangkat lunak. Membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan transaksi dan strategi penyampaian yang kuat.

Jenis-jenis business model dalam startup digital

Tidak semua revenue stream cocok diterapkan untuk startup digital, hal tersebut dikarenakan harus menyesuaikan dengan business model yang digalakkan. Business model juga sangat erat kaitannya dengan tipikal produk/layanan, dan bagaimana bisnis menyampaikan produk/layanan tersebut kepada konsumen. Berikut ini beberapa jenis business model yang saat ini umum diadopsi oleh startup digital.

Marketplace

Tokopedia, Go-Jek, Airbnb, Bukalapak termasuk startup yang menggunakan business model ini. Menghubungkan pemilik produk/layanan dengan konsumen/pengguna. Startup menyediakan layanan untuk menghubungkan dan melancarkan proses transaksi kedua belah pihak.

E-Commerce

Mengacu pada penjualan dan distribusi produk dan layanan secara online. Model e-commerce tidak melulu diterapkan oleh bisnis yang memfokuskan pada jual beli barang secara umum (seperti Amazon), proses e-commerce sendiri dapat diadopsi di berbagai bisnis, seperti Microsoft yang menjual XBOX secara online.

SaaS (Software as a Services)

Model bisnis yang memfokuskan pada penyampaian layanan kepada pelanggan, umumnya berupa perangkat lunak dan dibayarkan secara berlangganan. Produk seperti layanan komputasi awan, CRM atau sistem manajemen keuangan cocok menerapkan model bisnis ini.

Consumer

Model bisnis yang memberikan layanan secara cuma-cuma kepada konsumen, karena fokusnya adalah membangun saluran distribusi yang kuat. Setelah produk digunakan banyak orang, revenue model seperti iklan atau freemium diterapkan. Contohnya seperti SnapChat, layanannya gratis, dan akhirnya mengeluarkan produk kaca mata untuk mendukung penggunaan aplikasinya.

API Model

Beberapa startup di Indonesia bergantung pada layanan API seperti Stripe atau Twilio. Atau kita baru saja mengenal startup baru bernama Prism. Layanannya diintergasikan dengan sistem yang dimiliki oleh perusahaan lain, tak terlihat secara kasat mata, namun memberikan kenyamanan yang berarti.

Data

Model bisnis yang memfokuskan pada pengumpulan data, biasanya akan diolah menjadi analisis untuk kebutuhan tertentu.

Licensing

Startup yang berhasil menelurkan inovasi berupa properti intelektual dapat memberikan perizianan berupa paten, merek dagang, rahasia dagang hingga pengetahuan yang dimiliki. Contohnya seperti apa yang dilakukan Arm Holdings.

Jadi apa  bisnis model startup anda? darimana anda mendapat revenue?

Sumber : dailysosial.id

Memahami Valuasi dari Start Up Unicorn Indonesia

unicorn2

Sumber gambar : sharingvision.com

Unicorn Start Up adalah sebutan bagi barisan start up yang telah memiliki valuasi diatas USD 1M – atau setara dengan Rp 13.5 triliun, sebuah angka valuasi yang cukup masif.

Di Indonesia sendiri sudah ada 4 start up yang masuk kategor UNICORN yakni Tokopedia, Gojek, Traveloka dan terakhir Bukalapak.

Unicorn sendiri memang lebih mengacu pada valuasi start up yang bergerak di ranah digital (internet medium).

Padahal sebenarnya start up juga bisa diberikan pada perusahaan baru yang bergerak di bidang off-line seperti bisnis restoran, bisnis peternakan sapi, bisnis produksi makanan kecil, atau bisnis lainya. Namun memang selama ini sebutan start up sudah telanjur identik dunia digital business.

Seperti yang disebut diatas, jumlah unicorn di Indonesia baru ada 4.

Jumlah uncorn tertinggi ada di Amerika, yakni berjumlah 256; kemudian disusul China (58 companies); India dan Inggris (11 companies).

Jerman dan Jepang hanya punya 6; dan kemudian masing-masing Perancis punya 1, dan Italia punya 1.

Artinya dibanding Perancis dan Italia, Indonesia punya lebih banyak Unicorn – 4 dibanding 1. Perancis dan Italia boleh bangga punya PSG dan Juventus. Namun Indonesia bisa bangga karena punya Tokopedia dan Gojek 🙂 🙂

Mungkin itu juga semacam tanda bahwa anak muda Jakarta tak kalah kreatif dengan anak muda Paris dan Milan.

Sebagai estimasi berikut nilai valuasi 4 unicorn start up Indonesia :

1. Tokopedia – valuasi Rp 50 triliun
2. Gojek – valuasi Rp 40 triliun
3. Traveloka – valuasi Rp 26 triliun
4. Bukapalak – valuasi sekitar Rp 15 triliun

Angka-angka valuasi diatas adalah angka yang sangat masif, untuk sebuah company yang baru berusia seumur jagung. Sebagai gambaran kita bersama, Tokopedia didirikan Tahun 2009, Bukalapak Tahun 2010, Gojek Tahun 2011 dan, Traveloka Tahun 2012.

Pertanyaannya : bagaimana cara valuasi sebuah start up seumur jagung hingga punya nilai triliunan, padahal kebanyakan masih merugi hingga miliaran per bulan?

Sebagai permisalan adalah Gojek. Gojek menghabiskan dana hingga Rp 150 MILYAR per bulan atau 1,8 T per Tahun untuk subsidi tarif ke konsumen dan bonus kepada drivernya. Sehingga kita sebagai pengguna Gojek mendapat harga yang murah.

Sebuah angka subsidi yang amat mencengangkan bukan ?.

Lalu bagaimana bisa valuasi Gojek malah tembus Rp 40 triliun, padahal mereka rugi minimal Rp 1.8 trilun per tahun ( untuk subsidi)?

Lalu, bagaimana pula valuasi Tokopedia bisa tembus Rp 50 triliun, padahal mereka juga masih rugi ratusan miliar per tahun?

Bagaimana angka valuasi yang rada ajaib ini bisa muncul?

Salah satu patokan untuk mengukur valuasi adalah dengan membandingkan profit dengan valuasi (atau profit to valuation ratio).

Mari coba kita bandingkan dengan 2 start up paling sukses di dunia, yakni Facebook dan Alibaba.

Valuasi Facebook saat ini adalah Rp 6700 triliun – sebuah angka yang impresif. Tahun 2017 ini mereka diprediksi akan punya net profit sekitar Rp 200 triliun. Atau rasio valuasinya adalah 33x profit setahun (Rp 6700 triliun / 200 triliun = 33).

Valuasi Alibaba saat ini adalah Rp 6 ribu triliun, dan mereka tahun ini punya net profit Rp 80 triliun. Jadi rasio valuasinya adalah 75x profit setahun (Rp 6 ribu triliun / 80 triliun = 75).

Dua legenda ini, yakni Facebook dan Alibaba adalah acuan sukses bagi sebuah start up. Rasio valuasi mereka masing-masing adalah 33x dan 75x profit tahunan mereka.

Kalau coba diambil titik tengahnya, maka rasio valuasi yang layak dijadikan acuan adalah sekitar 50 x profit setahun.

Dengan acuan angka 50x profit setahun, maka jika valuasi Tokopedia adalah Rp 50 triliun, harusnya mereka kelak bisa dapat net profit Rp 1 triliun per tahun.

Apakah angka profit Rp 1 triliun per tahun kelak akan bisa diraih Tokopedia? Rasanya kok bisa ya.

yang perlu kita ketahui bersama, mereka saat ini sudah punya 2 juta merchant (pedagang online). Artinya untuk mendapatkkan net profit Rp 1 triliun, mereka hanya perlu generate net profit Rp 500 ribu per merchant.

Meraih net profit Rp 500 ribu/tahun (atau Rp 41 ribu/bulan) per merchant adalah sebuah langkah yang kemungkinan bisa diraih oleh Tokopedia. Dengan catatan, mereka bisa menghentikan langkah Shopee yang sangat agresif melakukan serangan.

Bagaimana dengan Gojek? Valuasi mereka saat ini Rp 40 triliun. Dengan rasio 50 kali profit, maka harusnya mereka kelak bisa punya profit Rp 800 milyar per tahun (40 triliun dibagi 50 kali).

Apakah kelak Gojek akan sanggup raih profit Rp 800 milyar per tahun; sementara saat ini malah masih rugi triliunan? Secara matematis, tampaknya masih ada dalam jangkauan.

Hitungannya sederhana, kita asumsikan saat ini driver Gojek ada 300 ribu. Untuk meraih profit Rp 800 milyar, mereka hanya perlu generate net profit Rp 2,6 juta/tahun per driver. Atau net profit sebesar Rp 216 ribu/driver/bulan.

Sebuah angka yang tampaknya bisa diraih meski tidak mudah, gara-gara serbuan masif dari pasukan Grab.

Rasanya masa depan Gojek ada pada Gopay dan Gofood.

Suatu hari nanti Gopay akan menjadi BANK DIGITAL TERBESAR di Indonesia, dengan ratusan ribu “virtual teller” yang merangkap sebagai drivers.

Bank-bank raksasa seperti BCA, BRI dan Mandiri sangat layak cemas dengan kehadiran Gopay.

Disruptive innovation Gopay bisa mengubah secara dramatis lansekap dunia perbankan Indonesia masa depan.

Sementara Tokopedia harusnya bisa pelan-pelan mendapatkan profit; meski kehadiran Shopee dengan free ongkirnya membuat perjalanan masa depan Tokopedia menjadi makin terjal dan melelahkan.

Dengan uraian diatas, maka valuasi start up Unicorn Indonesia yang terkesan gila-gilaan, menjadi lebih masuk akal dan reasonable.

Tantangannya adalah tentu bagaimana mereka bisa pelan-pelan mendapatkan profit. Yang agak menantang memang kehadiran para pesaing dengan modal yang juga besar. Ini yang acap membuat pertarungan menjadi sangat brutal dan berdarah-darah.

Namun modal utama para start up diatas adalah mereka semua sudah punya basis pelanggan online dengan jumlah jutaan. Basis jutaan pelanggan digital ini yang harapannya bisa jadi amunisi untuk melakukan monetisasi atau proses profitisasi dikemudian hari.

Bagaimana dengan start up anda ?

Bolehlah kita ngobrol ngobrol kece.

 

sumber tulisan: strategimanajemen.net