Mengukur Efektivitas Instagram sebagai Social Commerce

instagram_closetshop_2

Sumber gambar : guides.co

Social commerce tengah menjadi tren di segmen UKM dan pengusaha muda di Indonesia. Mereka pun memilih Instagram sebagai salah satu platform social commerce guna mengembangkan sekaligus mensukseskan bisnis. Seberapa efektif Instagram sebagai Social Commerce?

Belakangan, Instagram tak hanya dimanfaatkan sebagai ajang narsis atau personal branding para penggunanya. Tren yang sedang tumbuh subur di platform media sosial milik Facebook ini adalah fungsi niaga. Tak sedikit pengguna Instagram yang memanfaatkan media sosial ini sebagai ajang untuk menjajakan dagangan mereka, sehingga disebut sebagai Social Commerce.

Merujuk data Instagram, dari lebih 1 dari miliar pengguna aktif Instagram di dunia, setidaknya 25 juta memanfaatkan Instagram sebagai platform untuk mempromosikan bisnis mereka.

Dan Indonesia, menurut Sri Widowati, Country Director Facebook Indonesia, merupakan salah satu komunitas pengguna Instagram terbesar di Asia Pasifik. “Hal ini, karena pengalaman yang ditawarkan Instagram sangat visual, yang notabene sangat digemari oleh masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Yang menarik, penggunaan Instagram tidak hanya memakai media sosial itu untuk mengekspresikan diri dan terhubung dengan hal-hal sesuai dengan minat mereka—dalam hiburan, musik, fesyen, seni, maupun olahraga. Namun, mereka juga menggunakannya untuk mengembangkan bisnis. Hal ini dibuktikan oleh trending-nya tagar #bisnisanakmuda sepanjang 2018 di Indonesia (mention tertinggi).

Studi Instagram bersama Ipsos tentang “Dampak Instagram bagi Bisnis di Indonesia” yang dirilis pada November 2018 menjumpai fakta bahwa 90% pengguna Instagram yang disurvei menggunakan Instagram untuk berkomunikasi tentang bisnis. Sementara itu, 76% pengguna Instagram yang disurvei pernah membeli dari sebuah brand setelah menemukannya di Instagram. Dan, 81% pengguna Instagram yang disurvei saat tertarik dengan sebuah bisnis akan mempelajari bisnis tersebut lebih lanjut melalui Instagram.

Fakta lainnya, 49% yang disurvei mengaku sangat setuju bahwa Instagram lebih penting dibandingkan situs web. “Hal ini menunjukkan bahwa profil bisnis Instagram merupakan medium utama untuk menunjukkan kehadiran mereka secara online.

Sementara itu, 43% responden mengaku menempatkan Instagram sebagai platform paling penting dalam kelanjutan sukses bisnis mereka, 66% sangat setuju bahwa Instagram membantu mereka dalam mencari pelanggan di kota dan negara lain, 60% pemilik atau pendiri bisnis menemukan inspirasi dari usaha lain melalui Instagram.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa konsep Social Commerce sudah menjadi kebutuhan para pelaku bisnis di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh data bahwa 87% UKM (Usaha Kecil Menengah) Indonesia yang disurvei oleh Instagram dan Ipsos mengatakan setuju bahwa penjualan mereka meningkat berkat Instagram. Bahkan, 82% pengusaha muda mengaku sangat setuju bahwa Instagram telah membantu mereka mencapai target usaha. Adapun 63% pengusaha muda setuju bahwa Instagram telah membantu peluncuran dan kesuksesan usaha baru, 74% sangat setuju bahwa usaha mereka berkembang pesat karena akun Instagram mereka, dan 71% setuju bahwa Instagram memberi mereka kekuatan untuk membangun bisnis sesuai keinginan mereka.

Menjawab tren Social Commerce, Instagram menawarkan sejumlah fitur unggulan yang dapat dimanfaatkan oleh pebisnis. Keempat fitur tersebut adalah Explore, Feed, Stories, dan Profile. Menurut Country Director Facebook Indonesia, saat ini ada lebih dari 7 juta pengiklan di seluruh aplikasi keluarga besar Facebook Inc., di mana 2 juta di antara total pengiklan tersebut telah aktif menggunakan Stories.

Belum cukup dengan keempat fitur tersebut, Instagram kembali merilis inovasi barunya berupa layanan Shopping di dalam Stories dan Explore pada September 2018 lalu. Layanan baru tersebut membuktikan bahwa Facebook serius menjadikan Instagram sebagai Social Commerce bagi para pelaku bisnis. Inovasi lainnya yang juga diluncurkan Instagram guna menjawab konsep Social Commerce yang kini tengah tumbuh subur adalah Instagram Direct, dimana di dalamnya dihadirkan tombol integrasi kotak masuk, sehingga memperkecil kemungkinan pesan tidak terbaca, serta tombol Quick Replies. “Inovasi ini kami hadirkan karena lebih dari 150 juta pengguna Instagram melakukan percakapan dengan setidaknya satu profil bisnis di Instagram setiap bulannya. Dan, 1/3 pesan untuk profil bisnis berawal dari Stories. Lebih lanjut, Instagram juga menyediakan beberapa tombol di profil bisnis Instagram yang dapat mendorong pengguna mengambil tindakan seperti telepon, email, atau menunjukkan arah menuju toko bisnis tersebut.

Sejumlah merek yang telah sukses menfaatkan Instagram diantaranya yakni Tokopedia . Tokopedia misalnya, sukses menjalankan festival kejutan belanja untung akhir tahun bertajuk KEBUT pada akhir 2018 lalu. Instagram menjadi salah satu medium utama yang digunakan Tokopedia selama periode kampanye KEBUT berlangsung. Pada kesempatan itu, Tokopedia menggunakan hampir seluruh fitur yang ada di Instagram, mulai dari Feed, Stories dan Instagram Live untuk mengomunikasikan promosi KEBUT setiap hari kepada followers setia mereka.

Ada empat jenis aktivitas yang dijalankan dalam kampanye KEBUT. Pertama, Konten Regular berupa konten inspiratif dan info promo. Kedua, Quiz dalam format tebak harga. Ketiga, Tokopedia Live yang diimplementasikan lewat Geng Kebut Live dan Bedah Promo. Keempat, Influencer Marketing melalui influencer marketing buzz.

Hasilnya, melalui kolaborasi Kelas Kebut Live X Instagram, traffic Tokopedia meningkat. “Kolaborasi ini mampu meningkatkan view hingga 10 kali lipat dibandingkan live pada saat periode regular. Bahkan, dari Kelas Kebut Live, Tokopedia berhasil meningkatkan sales selama Live Show berlangsung.

Ditulis oleh : Dwi Wulandari

Sumber : mix.co.id

6 Tren Teknologi yang akan Merevolusi Industri Perhotelan

Digitalisasi kian merambah ke berbagai lini dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat mungkin tak percaya bahwa di masa depan mereka dapat memesan atau membeli apapun melalui internet hanya dengan beberapa klik menggunakan ponsel pintar mereka.

Industri Perhotelan

Saat ini layanan online banking, pemesanan tiket pesawat, taksi dan makanan, serta layanan seperti kecantikan dan kebugaran bisa dipesan secara mudah melalui aplikasi. Indonesia semakin menjadi pusat teknologi sejalan dengan semakin banyaknya brand dan korporasi yang semakin fokus pada teknologi guna menawarkan berbagai layanan yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan nyaman.

Industri perhotelan merupakan salah satu studi kasus yang diuntungkan dari kehadiran inovasi teknologi. Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)Machine learning, dan Otomatisasi merupakan beberapa inovasi teknologi yang tak hanya merevolusi dari sisi pengalaman konsumen, namun juga mampu memberikan kemudahan dari sisi bisnis. Tentu dengan kecanggihan teknologi tersebut membantu para pemain industri untuk menemukan solusi-solusi potensial bagi para konsumen.

Bagi pemilik hotel, penting untuk terhubung dengan inovasi teknologi terbaru agar tetap dapat berkompetisi dalam industri yang dinamis. Memastikan pengalaman pelanggan yang berkualitas membutuhkan pendekatan menyeluruh, melibatkan banyak aspek operasional dan profesional. Teknologi memainkan peran penting untuk mewujudkan hal ini sekaligus memungkinkan pemilik hotel mengelola tantangan dan operasional sehari-hari melalui platform yang didukung dengan teknologi.

Saat ini, industri perhotelan mungkin belum sepenuhnya menjangkau tahap penerapan inovasi teknologi-teknologi terbaru. Namun cepat atau lambat, setiap perkembangan dan penemuan inovasi teknologi terbaru akan semakin membuat dunia lebih terhubung serta berkembang menjadi lebih personal dengan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi konsumen.

Berikut merupakan enam inovasi teknologi terbaru yang harus diketahui para pemain di industri perhotelan:

  1. Internet of Things(IoT) yang menghubungkan berbagai perangkat melalui internet, telah banyak digunakan oleh hotel-hotel di seluruh dunia. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini seperti mengendalikan lampu hingga suhu ruangan. Hal ini akan berdampak besar pada efektivitas biaya operasional hotel sehari-hari.
  2.  Big Data, penggunaan pengumpulan data berkembang pesat di hampir semua industri. Pada industri perhotelan, hal ini bisa membantu pengelola hotel dalam menawarkan pengalaman menginap yang lebih personal. Misalnya, pengelola hotel dapat membantu menyarankan lokasi wisata yang lebih tepat kepada tamu berdasarkan usia, budget, dan jenis kelamin. Pengelola hotel juga dapat membuat analisis berbasis data untuk tujuan bisnis, seperti mengidentifikasi strategi harga yang lebih baik dan evaluasi performa bisnis.
  3. Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI) merupakan inovasi berikutnya yang siap memberikan dampak bagi industri, termasuk industri perhotelan. Nantinya, pemilik hotel bisa memprediksi momen ketika kamar-kamar terisi penuh melalui analisis AI berdasarkan trencheck in para tamu. Teknologi ini juga bisa menentukan dengan tepat keluhan tamu dan melihatnya dari cabang dan kamar mana keluhan tersebut berasal sehingga bisa langsung ditindaklanjuti.
  4. Augmented reality(AR) untuk pengalaman yang lebih baik. Game mobile berbasis AR memainkan peran penting kala mempromosikan teknologi AR sehingga diketahui oleh banyak orang. Teknologi tersebut saat ini sedang dikembangkan oleh hotel-hotel untuk menghadirkan pengalaman yang terkesan canggih pada para tamunya. Dengan teknologi ini, tamu bisa melakukan tur virtual ke kamar dan sekeliling hotel guna mengetahui fasilitas maupun atraksi yang ditawarkan di sekitar hotel.
  5. Teknologi Pengenalan (Recognition Technology) merupakan salah satu tren teknologi yang sedang  dipelajari penggunaannya dalam industri perhotelan guna menghadirkan autentikasi biometrik yang lebih mulus. Teknologi ini bisa dimanfaatkan para tamu untuk membuka kamar hotel mereka dan melakukan check in/check out menggunakan sidik jari atau pemindaian wajah.
  6. Chatbot untuk menjawab pertanyaan, layanan yang memungkinkan para tamu untuk berinteraksi dengan AI melalui tampilan chat. Melihat banyak orang menghabiskan banyak waktu ketika menggunakan aplikasi obrolan, chatbot menawarkan potensi luar biasa untuk digunakan dengan baik di industri hotel. Chatbot bisa memahami pertanyaan sederhana dan menyediakan jawaban dalam waktu singkat. Dengan mengimplementasikan chatbot, staf hotel bisa fokus pada hal-hal yang lebih kompleks maupun pekerjaan yang lebih urgent.

Dengan bantuan teknologi, para pemain di industri perhotelan bisa mempercepat bisnis mereka, memperluas jangkauannya ke lebih banyak orang, termasuk pasar yang sedang berkembang seperti anak muda maupun para pelancong yang memahami teknologi. Tapi apakah itu artinya industri tak membutuhkan lagi tenaga manusia? saya pribadi meyakini bahwa hal itu tidak akan terjadi.

“Inovasi teknologi memungkinkan hotel dapat tampil beda di mata publik, memenuhi harapan tamu, dan memperluas pasar. Namun teknologi tidak akan pernah menggantikan kehangatan dan personalisasi yang dihadirkan oleh interaksi manusia. Di masa mendatang, meski kita akan melihat lebih banyak kemajuan teknologi, interaksi manusia akan tetap relevan. Karena teknologi memudahkan operasional, staf hotel akan lebih banyak memiliki waktu dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas layanan serta interaksi. Bagaimanapun, bisnis perhotelan sendiri adalah sebuah seni.

Sumber : marketing.co.id

Mengelola Kebijakan Retur agar Kinerja Tidak Babak Belur

Dalam industri ritel, kerap terjadi permintaan pengembalian barang dari satu pihak di hilir ke pihak di hulu. Pengembalian barang—atau kerap dikenal dengan istilah retur—ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan. Di antaranya yaitu barang tersebut dianggap rusak atau defect, spesifikasi atau jenis barang tidak sesuai dengan pesanan, barang sudah terlalu lama berada (slow moving) di rak toko, dan berbagai kemungkinan lainnya. Barang rusak atau cacat memang sudah semestinya diretur, karena jika dipaksakan untuk diterima oleh pembeli dengan harga normal, hal ini akan memengaruhi kredibilitas pemilik merek barang atau toko ritel. Untuk jenis barang yang tidak sesuai pesanan, biasanya kebijakan retur dari banyak peritel adalah segera menukar barang agar sesuai dengan pesanan; atau jika barang tidak tersedia, ditukar dengan barang sejenis yang harganya setara; atau ada pula yang memberikan pengembalian uang (refund) kepada pembeli.

kebijakan retur

Hal yang menjadi isu kunci terkait kebijakan retur adalah sejauh mana peritel mampu memilah dan memilih retur mana yang genuine, dan retur mana yang dilatarbelakangi motivasi “aji mumpung” oleh sebagian kecil konsumen. Kebijakan retur ini memang harus dikelola dengan baik oleh produsen atau pemilik merek agar kinerja dan citra perusahaan di pasar tetap terjaga. Terlebih lagi dengan maraknya belanja daring lewat berbagai marketplace, tentu kemungkinan terjadinya kasus salah kirim, produk cacat, produk tidak sesuai pesanan, juga semakin besar. Memiliki kebijakan retur menjadi semakin penting.

Di tataran global, nilai retur barang ternyata cukup besar. Dari artikel hasil penelitian James Abbey dkk yang terbit di MIT Sloan Management Review edisi Juli 2018, diperkirakan pada tahun 2017 saja, konsumen melakukan retur barang dengan agregat nilai sebesar US$ 351 miliar. Seandainya nilai tersebut adalah omzet sebuah perusahaan yang mengkhususkan bisnisnya di barang retur, maka perusahaan ini akan berada di peringkat ke-2 dalam list perusahaan Fortune 500, di bawah Walmart yang berada di peringkat pertama.

Dalam penelitiannya, James dkk menggunakan data retur sebuah peritel besar di AS yang memiliki jaringan lebih dari 100 toko fisik plus kanal untuk penjualan daring. Ada lebih dari 1 juta data pelanggan yang dianalisis dengan total 75 juta kali transaksi selama 7 tahun terakhir. Tujuan dari penelitian adalah upaya untuk mengidentifikasi profil pelanggan berdasarkan perilakunya dalam melakukan retur. Identifikasi ini penting untuk meminimalkan potensi fraud atau “penipuan” berkedok retur yang dilakukan pelanggan. Peritel akan mampu memberikan kebijakan retur yang lebih tepat, sesuai dengan tingkat keuntungan yang diberikan pelanggan (customer lifetime profitability) yang meminta retur barang. Pelanggan yang nilai profitabilitasnya negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyalahgunakan atau mencari celah dari kebijakan retur yang diberikan perusahaan. Hasil analisisnya dapat dilihat pada infografik berikut.

KEBIJAKAN RETUR

Pelanggan ritel tersebut dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu pelanggan yang retur murni alias legitimate returners, pelanggan yang tidak pernah meminta retur alias non returners, dan pelanggan yang retur aji mumpung alias abusive returners. Pelanggan retur murni memang rata-rata nilai belanjanya per tahun (sekitar US$5.000) lebih kecil daripada pelanggan retur aji mumpung (sekitar US$14.000). Tetapi, pelanggan retur murni memberi kontribusi laba yang lebih besar (sekitar US$1.400) dibandingkan pelanggan yang tidak pernah retur (hanya sekitar US$220), apalagi dengan pelanggan retur aji mumpung (minus US$1.250, alias merugikan perusahaan). Pelanggan retur murni rata-rata meminta retur setelah 23 hari, sedangkan pelanggan retur aji mumpung meminta retur setelah 59 hari alias 2 bulan sejak pembelian. Berita baiknya, pelanggan yang masuk kategori retur aji mumpung hanya sedikit, hanya 0,4% dari jumlah seluruh pelanggan.

Data ini juga menunjukkan bahwa 48% pelanggan tidak pernah meminta retur. Peritel seharusnya dapat memberikan kesempatan kepada segmen ini untuk berbelanja lebih banyak dengan cara menawarkan kebijakan retur yang lebih fleksibel, karena semakin banyak nilai belanjanya, laba yang disumbangkan juga akan ikut membesar. Memiliki kebijakan retur yang bisa di-customized sesuai karakteristik retur pelanggan adalah bagian dari aplikasi prinsip customer centric. Seperti ungkapan dari Sampson Lee, “Customer centric is to strike the right balance between value for customer and value of customer”.

Ditulis oleh : Asnan Furinto

Sumber : marketing.co.id

Transformasi di Walmart

wall6

Tak ingin kalah dari Amazon, raksasa ritel ini melakukan banyak perubahan. Di tengah transformasi yang digelar, tata kelola perusahaan yang baik tetap diperhatikan.

Selama bertahun-tahun, Walmart terlihat memahami apa yang diinginkan pelanggan. Ia menjadi kekuatan ritel terbesar dunia. Namun, di tengah kenyamanan, angin perubahan berembus kencang. Tiba-tiba datang internet dan dunia digital. Muncul pemain yang bisa menelusuri dan memprediksi apa yang dibutuhkan pelanggan. Terutama, Amazon dan pemain e-commerce. Walmart pun goyang.

Seiring penjualan yang mulai menurun, pemilik Walmart bertindak cepat. Mereka menempatkan Doug McMillon sebagai CEO di tahun 2014. Tugasnya jelas: membawa perusahaan ke masa depan. Lelaki 50 tahun ini pun menangkap tantangan itu sekalipun mengetahui bahwa tugas ini sangat berat karena melakukan transformasi salah satu perusahaan terbesar di Amerika Serikat. Tak sedikit yang menyoroti nasib 4.600 tokonya di seantero AS. Mereka diragukan akan bertahan dari gempuran.

Untuk menghadapi Amazon dan tetap mempertahankan posisi sebagai peritel terbesar di dunia, McMillon pun membawa Walmart melakukan transformasi besar-besaran. Ada beberapa langkah yang dilakukannya. Namun, secara garis besar perusahaan ini membenahi toko-toko tradisionalnya dan mengembangkan kapabilitas di jalur online serta membangun aset online untuk menghadapi gempuran pemain e-commerce sekaligus memeluk dunia digital itu sendiri. “Kami berubah. Kami beradaptasi,” ujar McMillon.

Di jalur offline (toko tradisional), McMillon melakukan langkah strategis. Dilihat dari sisi kekuatan, kedekatan gerai-gerai Walmart dengan para pembeli membuat perusahaan ini punya kaki untuk menghadapi para pesaingnya di sektor grosir. Sekitar 90% orang Amerika hidup dalam radius 16 mil dari Walmart. Bisnis grosir itu sendiri menjadi arus pemasukan terbesar bagi gerai-gerai Walmart, sekitar 56% dari total penjualan per tahun yang mencapai US$ 500 miliar (Rp 7.250 triliun).

McMillon juga percaya bahwa supercentre seluas 182 ribu m2 merupakan senjata paling efektif untuk melawan Amazon. Memang, belakangan Amazon membeli Whole Foods tahun 2017, tetapi diyakini tidak mudah bagi perusahaan ini untuk mereplikasi kehadiran brick-and-mortar di seluruh dunia, tak terkecuali Walmart di AS.

Akan tetapi, McMillon juga melihat pada banyak segi mereka kalah dibandingkan Amazon. Terutama, di jalun online dan dalam kemampuan membidik kalangan menengah-atas. Dia sadar Walmart ada di belakang Amazon dalam membangun kapabilitas online shipping: Walmart mengoperasikan kurang dari 10 fasilitas e-commerce, berbanding dengan 122 core fulfillment center milik Amazon.

Menghadapi hal demikian, dia menggelar strategi berikut: seraya tetap mempertahankan bisnis grosir dengan meningkatkan kualitas barang grosir yang dijual untuk kalangan yang berpendapatan menengah-bawah, Malmart juga membidik kalangan kelas atas. Caranya?

Mengakuisisi merek kelas atas, termasuk Bonobos dan Modcloth, untuk meningkatkan citra perusahaan di kalangan kaum yang dompetnya lebih tebal. Di luar itu, Walmart juga berinvestasi pada sejumlah merek private label, termasuk Great Value dan produk-produk anggur. Pendek kata, Walmart berupaya menggoda kalangan yang lebih tebal dompetnya untuk belanja lebih banyak pakaian dan perabot rumah tangga.

Langkah-langkah lebih besar dilakukan di jalur online. Untuk mempersempit jurang yang ada dan memperkuat posisi di jalur ini, McMillon mengembangkan langkah yang agresif. Yang menarik, ketimbang berjudi dengan nama Walmart dengan menciptakan marketplace yang setara dengan Amazon dan membangun kompetensi digital dari awal, McMillon lebih memilih melakukan akuisisi agar terjadi percepatan mengejar Amazon.

Maka, gelombang akuisisi pun terjadi. Langkah pertama, membeli Yihaodian, perusahaan e-commerce berbasis di China di tahun 2015, lalu mencaplok Jet.com senilai US$ 3 miliar di tahun 2016. Kemudian, membeli sejumlah merek seperti Bonobos, toko online khusus seperti Moosejaw, Hayneedle, dan Shoebuy. Oktober tahun lalu mereka juga mengambil merek digital Eloquii dan penjual lingerie, Bare Necessities. Perusahaan-perusahaan itu tetap berjalan seperti biasa, tetapi dalam genggaman Walmart.

Dalam konteks akuisisi ini, Walmart bahkan bertindak begitu berani. Ia melompat ke pasar global, mengakuisisi pemain e-commerce India, Flipkart, senilai US$ 16 miliar. Ini adalah deal terbesar Walmart sepanjang sejarah kehidupannya. Akuisisi ini membuat pemain AS ini punya posisi kuat mengambil pasar ritel online India yang tengah berkembang. Pasalnya, Flipkart memiliki ekosistem yang menarik. Di sekitarnya beroperasi Myntra dan Jabong (sebelumnya diakuisisi Flipkart) sebagai specialty fashion, dikombinasikan dengan layanan logistik Ekart serta PhonePe, perusahaan pembiayaan terbesar kedua di India.

Kendati tak menjadikan Walmart merek online, McMillon tak lupa untuk membenahi di sisi dalam. Dia memperbarui laman perusahaan yang dipimpinnya agar terlihat modern. Dia menambah lebih dari 2.000 merek di laman tersebut, yang terentang mulai dari peralatan dapur sampai pakaian luar ruang. Desain ulang ini tidak hanya menolong Walmart menarik pelanggan yang lebih kaya, tetapi juga meyakinkan merek-merek top untuk menjual di laman ini. Salah satunya, Advance Auto Parts, yang membuat halaman khusus di Walmart.com. Untuk menarik minat kalangan kaya ini, Walmart meluncurkan ulang Jet.com, marketplace online yang dibelinya tahun 2016 dari Lore senilai US$ 3,3 miliar.

Langkah penting yang juga dilakukan di jalur digital adalah bekerjasama dengan Google untuk urusan voice-activated shopping dan Microsoft. Khusus dengan Microsoft, untuk melawan Amazon, Walmart menggunakan layanan komputasi awan (Azure dan Microsoft 365) milik perusahaan besutan Bill Gates itu dalam operasionalnya. Selain itu, mereka juga akan bekerja sama dengan Microsoft untuk mengembangkan berbagai proyek yang melibatkan pembelajaran mesin, kecerdasan buatan (AI), serta platform data

Bagi Microsoft sendiri, aliansi ini penting karena Amazon adalah pesaing serius di ranah komputasi awan. CEO Microsoft Satya Nadella bahkan menyebut kerjasama ini sangat strategis bagi keduanya untuk mengalahkan Amazon yang bermain di dua sisi: ritel dan teknologi.

Kerjasama ini memang diprediksi akan menguntungkan, baik bagi Microsoft maupun Walmart. Menariknya, kabar ini muncul hanya selang beberapa waktu setelah beredar kabar Microsoft tengah mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan perusahaan ritel seperti Walmart membuka supermarket tanpa kasir, yang sudah dipraktikkan Amazon lewat Amazon Go.

Dengan seluruh langkah ini, tak mengherankan, McMillon pada Juni lalu, saat pertemuan dengan para pemegang saham, menyebut Walmart sebagai perusahaan teknologi. Ketika dia menyebutkan hal itu, tak sedikit yang menanyakan maksud pernyataan tersebut. Namun bila melihat langkah yang telah dibuat, patutlah hal tersebut dilontarkan. Pasalnya, Walmart telah bermitra dengan dua pemimpin besar dunia teknologi, yakni Microsoft untuk sektor komputasi awan, dan dengan Google untuk urusan voice-activated shopping. Di luar itu, Walmart juga melakukan sejumlah akuisisi dan investasi untuk mendongkrak platform e-commerce-nya.

Memang, transformasi ini masih akan terus berjalan. Akan tetapi, sejauh ini, hasilnya sudah terlihat positif. Rencana itu berjalan dengan baik. Penjualan grosir tumbuh. Penjualan online juga ditaksir tumbuh 40% di tahun 2018.

Menariknya, transformasi ini, seperti dikutip dari laman korporatnya, tetap diupayakan berjalan sesuai dengan rambu tata kelola perusahaan yang baik. Dalam mengawal proses bisnis, Dewan Direksi Walmart mengangkat konsultan eksternal untuk membantu efektivitas dewan direksi. Lalu, salah satu perubahan yang ada: dibuat pemisahan pada Compensation, Nominating and Governance Committee (CNGC) ke dalam dua komite yang bertanggung jawab kepada direktur independen.

Kemudian, mereka juga membuat The Data Governance and Stewardship Lead yang bertugas membuat kebijakan atas data serta prosedur yang menjamin ketersediaan data buat pengembangan bisnis. Tugas ini bersifat lintassektoral, termasuk ke sejumlah wilayah kunci seperti supply chain, merchandising, procurement, bahkan teknologi dan legal.

Kepatuhan pada Good Corporate Governance disadari manajemen Walmart menjadi fondasi agar tetap berjalan pada relnya dalam menghadapi ketatnya persaingan. Termasuk sekarang, ketika tengah melakukan transformasi. (*)

Sumber : Elsi Anismar

www.swa.co.id

Perilaku Millenial Traveler di Asia Tenggara

millennial-travelers-image-for-blog

Kalangan milenial terkenal akan kebiasaan mereka dalam hal berwisata. Bahkan mereka rela menabung hanya untuk berkunjung ke lokasi tertentu dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka.

Kebiasaan traveling ini yang pada akhirnya menumbuhkan peluang baru dalam industri pariwisata. Namun, ada beberapa hal yang harus dipahami ketika mencoba menggarap pasar millenial dalam industri pariwisata.

Menurut Karun Budhraja selaku Vice President Corporate Marketing and Communications Asia Pacific Amadeus setidaknya saat ini jumlah milenial di kawasan Asia Pasifik mencapai 45% dari total populasi. Angka ini diprediksi pada 2020 akan memiliki kekuatan daya beli sebesar US$ 6 triliun.

Ia juga menambahkan ada setidaknya 6 perilaku penting yang harus dipahami dari para traveler milenial ini yakni : Pertama, adalah masalah aspirasi. Ini merupakan tantangan buat brand untuk memahami keinginan mereka bahkan sebelum konsumen tahu bahwa mereka butuh.

Kedua, milenial merupakan generasi yang berlomba-lomba mencari pengalaman. Baik dalam bentuk digital dan konvensional. Sebelum melakukan travelling, milenial ini mencari dan mendapatkan inspirasi dari rekanan terdekat mereka. Setelah itu mereka akan mendengarkan pendapat dari digital reviewers dan platform travel seperti Agoda dan TripAdvisor

Sebanyak 54% milenial di Asia Pasifik tetap terhubung dengan Internet selama liburan. 52% terhubung untuk bisa mengakses peta dan lokasi. 49% terhubung dengan alasan untuk bisa memberikan informasi kepada rekanan bahwa mereka aman selama berlibur.

Milenial ini ingin mendapatkan rekomendasi terkait travelling berdasarkan sumber yang tepat. Data dari Amadeus mencatat sebanyak 31% menyukai promosi dari email, 23% dari media sosial, dab 20% dari travel apps.

Bagi Karun, saat ini milenial bukan soal berkunjung saja. Mereka menekankan pentingnya sebuah pengalaman yang nyata ketika berliburan. Bagi para milenial traveler ini  sesuatu yang nyata atau yang benar-benar dekat dengan jati diri mereka akan menjadi hal yang menarik, ketimbang hal-hal yang terlalu dibuat-buat.

 

 

Sumber : marketeers.com

sumber foto : explormerriam.wordpress.com

Tren E-Commerce 2018 yang Perlu Kita Ketahui Untuk Mendongkrak Penjualan

28783960 - indonesia high resolution e-commerce concept

Tahun 2017 menjadi tahun yang penuh dengan gejolak dalam perkembangan e-commerce Indonesia. Mulai dari masuknya investasi Alibaba melalui Lazada dan Tokopedia, meroketnya pertumbuhan pemain baru Shopee dalam memenangkan pasar mobile, dan jumlah transaksi Harbolnas 2017 yang mencapai Rp 4 triliun selama tiga hari.

Momen bombastis yang terjadi di tahun lalu tampak menunjukkan geliat perdagangan online yang semakin panas di Bumi Pertiwi. Tentu gairah ini tidak akan turun begitu saja pada tahun 2018. Justru industri e-commerce bakal semakin menarik berkat hadirnya pemain yang kian kompetitif.

Perkembangan e-commerce seolah sudah tidak terbendung. Semua pemain berlomba-lomba untuk mengambil kue pasar. Tidak heran bila pasar Indonesia begitu menggiurkan. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan bahwa pengguna internet yang berbelanja online di Indonesia mencetak nilai transaksi sebesar Rp 75 triliun sepanjang tahun 2017.

Angka yang fantastis ini berasal dari 24,7 juta konsumen. Padahal, APJII merilis temuan bahwa angka pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta jiwa pada tahun 2017. Betapa besarnya potensi perdagangan online di Indonesia yang bisa diperebutkan peritel online.

Meskipun begitu, memenangkan pasar Indonesia tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Masih banyak tantangan yang masih harus dihadapi oleh pelaku e-commerce sampai saat ini. Mulai dari akses dan kecepatan internet, masalah geografis dan tipografis, hingga metode pembayaran.

Baru-baru ini, situs agregator perbandingan harga e-commerce iPrice meluncurkan riset pertamanya dengan mengumpulkan data lebih dari seribu e-commerce di Asia Tenggara dalam periode Juli 2016 hingga Juni 2017. Riset tersebut berisi temuan-temuan menarik terkait perilaku konsumen Indonesia dalam berbelanja online.

Salah satu temuannya yaitu penggunaan smartphone yang semakin bertambah tiap tahunnya ternyata sejalan dengan peningkatkan trafik mobile terhadap situs toko online. Hal ini ditandai dengan peningkatan kunjungan mobile dengan rata-rata sebesar 19% di Asia Tenggara dalam kurun 12 bulan.

Sementara sampel e-commerce yang beroperasi di Indonesia menunjukkan data bahwa 87% trafik kunjungan mereka berasal dari penggunaan mobile. Temuan ini menunjukkan bahwa mobile menjadi potensi besar dalam meningkatkan kunjungan atau trafik yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilakukan oleh para pemain e-commerce dengan menginvestasikan pengembangan situsnya agar lebih mobile-friendly.

Kendati jumlah trafik dari mobile menyumbang rata-rata 87% dari total trafik, akan tetapi konsumen masih lebih suka melakukan transaksi melalui desktop. Inilah uniknya perilaku konsumen Indonesia dan juga negara-negara berkembang lainnya di Asia Tenggara.

Terdapat istilah conversion rate, yang merujuk pada kunjungan yang berujung pada pembelian. Riset menunjukkan conversion rate kunjungan desktop menembus 200% lebih tinggi dibandingkan conversion rate dari kunjungan mobile. 

Andrew Prasatya, Content Marketing Lead iPrice mengatakan, data tersebut menunjukkan perilaku umum konsumen online Indonesia, yakni melihat-lihat barang melalui mobile atau aplikasi, namun baru belanja lewat komputer atau laptop. “Konsumen lebih suka bertransaksi melalui desktop karena dinilai lebih nyaman, mudah, dan terpercaya,” terang dia.

Layar lebar desktop memang menawarkan ruang yang lebih luas, dapat melihat semua fitur dalam sekali pandang, dan lebih mudah memilih produk yang diinginkan. Hal inilah yang mungkin belum bisa ditawarkan oleh layar mobile yang memiliki keterbatasan ruang untuk menampilkan fitur sebuah situs.

Meski jumlah trafik mobile tidak serta-merta memiliki conversion rate yang tinggi, hal ini juga bisa menjadi referensi kebijakan para pelaku e-commerce. Misalnya, bagi pemain yang baru berkecimpung dalam perdagangan online, mungkin ada baiknya bila fokus para peningkatan trafik terlebih dahulu dengan mengembangkan kualitas situs mobile.

 

Sumber : marketeers.com

Enam Fenomena Yang Mewarnai Kehidupan Generation Now

6-Fenomena

Tanpa mengenal generasi, teknologi memang telah mengubah segalanya. Baik Gen X, Y atau Z, mayoritas sudah terkoneksi dengan internet. Teknologi menjadi makanan sehari-hari, mulai dari bangun tidur, di kantor, kongkow, hingga pengantar tidur.

Lantas apa saja fenomena yang mewarnai Generation Now ini? MarkPlus, Inc. melihat ada enam hal yang hidup berdampingan dengan Generation Now. Pertama, WWW. Ini merupakan singkatan dari whatever, wherever, whenever. Teknologi membuat segalanya menjadi instan dan cepat. Mau apa pun, di mana pun, hingga kapan pun, bisa dihadirkan sekarang juga.

Kedua, FOMO atau fear of missing out. Saat ini, Generation Now sangat takut ketinggalan sesuatu. Mulai dari tren fesyen, restoran, ngopi, liburan, dan lainnya. Bahkan, ada beberapa yang menjadi ‘super kepo’ (knowing every particular objects) alias kepengen tahu. Mereka rela stalking kawan, sahabat, artis idamannya agar tidak ketinggalan apa yang sedang happening saat ini.

Ketiga, YOLO alias you only live once. Istilah ini dimunculkan oleh rapper asal Kanada, Drake. Untungnya, hal ini tidak menjalar ke semua generasi. Itu adalah prinsip bahwa hidup hanya sekali sehingga kita harus mencoba hal-hal baru. Sehingga, muncul istilah lebih baik menikmati hal yang seru ketimbang memiliki sesuatu yang keren. Ketimbang membeli mobil atau rumah, kenapa kita tidak berpelesir keliling dunia?

Keempat, Phygital. Ini merupakan gabungan dari physical dan digital. Ini merupakan aktivitas yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, namun kerap tidak kita sadari. Misalnya dalam sebuah konser, ada sebagian orang yang bukan menikmati serunya musik, melainkan sibuk membuat video. Padahal tujuan mereka menghadiri sebuah konser –seharusnya- untuk menikmati musik. Tapi going online dan menunjukkan eksistensi terkadang lebih penting ketimbang alunan musik sang idola.

Kelima, XAAS atau singkatan dari everything (x) as a service. Ini merupakan fenomena bahwa dunia tidak lagi harus memiliki aset untuk menjadi besar. Sebut saja Go-Jek dan AirBnB yang tidak memiliki mobil, motor atau hotel, namun bisa menjadi perusahaan transportasi dan jaringan hotel terbesar.

Keenam, B2ME atau business to me. Di sini, customization dan personalization menjadi hal yang krusial. Ketika bisa menghadirkan personalisasi, maka merek bakal bisa mencuri perhatian para konsumen di tengah serbuan brand.

Keenam fenomena ini hadir dan berdampingan dengan ketiga generasi yang ada, baik X, Y dan Z. Ada yang cepat, tanggap dan mudah terpengaruh, namun ada pula yang tidak bergeming dan memegang komitmen. Ada yang terpancing secara emosional, namun ada pula yang masih bisa berpikir secara rasional.

Sumber : marketeers.com

 

 

Belajar dari Kekalahan Nokia, BlackBerry dan Uber

20161014nokia

“Kami tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi kami tidak tahu kenapa kami kalah.” Kutipan kalimat itu mungkin gampang Anda tebak dari siapa dan di momen apa diucapkan.

Ya, Jorma Jaakko Ollila, CEO Nokia itu mengatakannya saat konferensi pers mengumumkan Nokia diakuisisi oleh Microsoft. Cerita kekalahan Nokia dalam bisnis telepon genggam menjadi kisah yang cukup sering diulang-ulang. Pelajarannya, Anda tidak perlu melakukan apa-apa untuk jatuh atau bangkrut.

Cerita kegagalan perusahaan besar semacam itu mungkin akan ditambahi dengan kisah BlackBerry yang gagal mengkonversi masa keemasannya menjadi masa depan. Perusahaan Kanada yang dahulu bernama Research In Motion Limited itu dituduh terlalu fokus pada feature produknya dibandingkan dengan konsumen.

Jika Anda berpikir bahwa kekalahan Nokia dan BlackBerry tidak lepas dari kompetitor, mungkin perlu melihat Vertu. Pabrikan dan peritel ponsel mewah yang dibangun Nokia di Inggris itu hidup hampir tanpa pesaing. Tapi toh Vertu gagal juga. Dan untuk kalah, Anda tidak perlu pesaing.

Lalu, ‘mantra’ seorang motivator Denis Waitley itu akan keluar: The real risk is doing nothing.

Nokia bukanlah perusahaan yang tidak mau berubah. Sebaliknya, Nokia yang berdiri sejak 1865 itu telah masuk ke berbagai lini usaha dan sudah menyiapkan smartphone pertamanya pada 1996 dan membangun prototipe layar sentuh di akhir ’90-an.

Perusahaan juga menghabiskan banyak dana untuk penelitian dan pengembangan. Sejumlah analis menyebut, kegegalan Nokia adalah menerjemahkan hasil riset den pengembangannya itu ke dalam produk yang dibutuhkan orang-orang.

Kekuatan merek Nokia pun tidak banyak membantu. Bahkan, ketika perusahaan kemudian meluncurkan smartphone, mereka sudah tertinggal terlalu jauh. Keseombongan merek besar menjadi bumerang yang mematikan.

Bisnis yang sukses seringkali adalah bisnis yang berada di poisisi berbahaya. Titik kejayaan Nokia menjadi awal ‘kematiannya’ sendiri.

Fokus pada kebesaran nama masa lalu atau terlalu giat meneropong kompetitor juga bisa jadi batu sandungan karena mengalihkan fokus sebenarnya sebuah bisnis, yakni customer. Sejumlah kegagalan bisnis menunjukkan bahwa mereka tidak memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan.

Kegegalan juga dialami Uber dengan angkat kaki dari Asia Tenggara setelah sebelumnya juga tak berkutik di China. Biarpun jadi yang lebih awal di dunia dalam hal ride-sharing, dan ‘ditiru’ Go-Jek dan Grab, tapi Uberlah yang harus angkat tangan.

Di China, Didi Chuxing juga meniru Uber. Kegagalan Uber di Negeri Tirai Bambu bukanlah karena regulasi pemerintah, jika Anda pikir Didi mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Nyatanya, Didi yang bisa menyesuaikan dengan pasar lokallah yang laku.

Sekalipun meniru, Didi melakukan berbegai penyesuaian dan peka terhadap kebutuhan pasar lokal. Rendahnya penetrasi kartu kredit di China diubah jadi ‘pembantai’ Uber yang mengandalkan transaksinya via uang kartu.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa korporasi raksasa yang tidak peka bisa dengan mudah ‘dijatuhkan.’ Tidak oleh regulasi atau persaingan dengan perusahaan besar lainnya, tapi oleh ketidakpekaannya sendiri dalam menangani kebutuhan pelanggan. Jangan berharap banyak pada loyalitas pelanggan, karena itu semu.

sumber : bisnis.com

Memahami Perubahan Perilaku Konsumen saat Ramadhan

consumer1

Ramadhan sebentar lagi. Bagaimana persiapan Anda dalam menyambut Ramadhan tahun ini? Sudah siapkah Anda untuk beribadah lebih baik lagi? Tentu saja harus siap, karena kita harus menjadi insan yang lebih baik dari tahun kemarin, bukan malah sebaliknya. Setuju ya??

Bicara soal Ramadhan, tentu saja akan ada pembahasan yang cukup menarik terkait bisnis online. Jika Anda pelaku bisnis online, tentu Anda sedang bersiap- siap untuk memanfaatkan moment ini sebaiknya- baiknya agar bias meraih profit maksimal.

Amati Perubahan Pola Perilaku Konsumen adalah Kunci Penting Pebisnis Online

Pertama- tama, untuk dapat meraup profilt maksimal memanfaatkan moment Ramadhan, tentu kita harus jeli dalam melihat peluang. Kita harus memahami setiap mulai masuk ke bulan Ramadhan, para konsumen ini mengalami perubahan pola perilaku yang berbeda dari bulan- bulan sebelumnya. Perubahan pola perilaku ini meliputi jenis produk yang ingin dibeli, perubahan sikap dalam berbelanja online, waktu berbelanja dan waktu berselancar di dunia maya.
Dengan memahami perubahan pola perilaku ini, kita akan masuk ke celah yang pas untuk membuat produk kita laris manis di moment yang tepat ini. Anda siap? Mari kita kupas tuntas bersama…

1. Di bulan Ramadhan Konsumen akan Lebih Royal dalam Berbelanja
Idealnya sih bulan Ramadhan agar kita berhemat dan dapat merasakan penderitaan orang yang hidupnya lebih kurang beruntung dari kita. Namun fakta di lapangan berbeda dari seharusnya. Baik dalam urusan perut atau yang lainnya, masyarakat Indonesia justru relatif lebih boros dan royal membelanjakan uangnya di bulan Ramadhan. Bukan hanya dalam hal belanja makanan dan minuman saja, masyarakat Indonesia juga menjadi lebih konsumtif untuk pembelian barang- barang lainnya, khususnya produk fashion. Bahkan menurut sebuah study oleh perusahaan consumer, di Ramadhan tahun lalu ( 2015 ), jumlah pembelanjaan fashion online meningkat sebanyak 100% di Indonesia. Wooowww.. amazing bukan?

2. Konsumen Tidak Peka Terhadap Harga di Bulan Ramadhan
Sekali lagi, masyarakat Indonesia ini luar biasa konsumtif di bulan Ramadhan. Jika di bulan biasa mereka bisa jadi hitung- hitungan dan banyak mikir soal harga, maka di bulan Ramadhan konsumen online akan cenderung mengabaikan harga dan memberikan banyak toleransi. Selain karena faktor menerima THR ( Tunjangan Hari Raya ), rupanya masyarakat juga sudah menganggap harga di bulan Ramadhan ini normal- normal saja kalau lebih mahal. Jadi kalau sudah sreg dengan produk tertentu dan ingin beli, konsumen tidak akan berpikir dua kali lagi.

Sebagai pebisnis online, ini kesempatan emas untuk Anda. Bukan berarti Anda harus menaikkan harga, bukan… salah strategi namanya. Dengan trend mengabaikan harga seperti ini, produk Anda yang biasanya ditimang- timang karena  cenderung agak mahal berpotensi laris manis. Konsumen Anda mungkin akan membeli produk Anda satu, dua atau tiga, berapa pun harganya. Jadi maksimalkan lah strategi penjualan Anda di bulan Ramadhan ini. Anda bisa mengadakan promo khusus, menyiapkan budget khusus beriklan atau rajin broadcast atau posting produk yang kerap menjadi favorit pelanggan.
3. Waktu Berbelanja Konsumen Online Juga Mengalami Perubahan
Mengingat di bulan Ramadhan, umat Muslim fokus menjalankan ibadah puasa dan Tarawih, maka pola aktifitas online masyarakat pun mengalami perubahan. Beberapa waktu yang potensial untuk konsumen berbelanja antara lain setelah sahur, menjelang maghrib dan setelah shalat  Tarawih selesai. Demikian juga halnya apabila anda sebagai marketer ingin membuat iklan di facebook misalnya, pada jam jam ini Anda harus aktif, karena potensi dilihatnya akan tinggi.

4. Menjelang Lebaran, Pembelian akan Semakin Tinggi
Ketika bulan Ramadhan hampir berakhir, maka penjualan secara online akan semakin mengalami peningkatan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja karena masyarakat sudah menerima THR yang biasanya diberikan sekitar satu minggu atau dua minggu sebelum bulan Ramadhan berakhir.

5. Produk Kuliner, dan Fashion Muslim Waktunya Unjuk Gigi
Daya tarik produk kuliner dan fashion, khususnya busana Muslim-Muslimah semakin menanjak di periode bulan Ramadhan ini. Tidak heran jika semakin mendekati lebaran, maka tingkat penjualan Anda semakin besar, karena kedua hal ini kerap dijadikan sebagai oleh- oleh atau perangkat wajb dalam rangka menyambut Lebaran.

sumber ; marketing.co.id

HARBOLNAS : Cara Jitu Menentukan Harga untuk Meningkatkan Penjualan.

priceing-strategy

Menjelang tutup tahun tren belanja selalu meningkat. Terlebih bagi karyawan swasta yang lagi kebanjiran duit karena bonus akhir Tahun, atau PNS yang dapat gaji ke-13, momen liburan yang membuat semua orang berusaha tampil semenarik mungkin dan banyak faktor lainnya membuat akhir tahun menjadi magnet tersendiri bagi para pelapak untuk memanjakan para pelanggannya.

Pesta Belanja Online (HARBOLNAS) kian populer di Indonesia. Biar gak ketinggalan euforianya berselancarlah saya ke beberapa marketplace yang cukup hits di Negeri kita tercinta. Setelah melihat-lihat harga beberapa barang di beberapa toko online (hanya melihat belum membeli haha), saya mendapat sedikit insight terkait  strategi dalam menentukan harga yang mudah-mudahan bisa menaikkan penjualan anda anda semua yang turut serta memeriahkan HARBOLNAS ini.

Langsung saja ya!

1) Magic of number 9

Segera ganti harga barang dari 100.000 ke 99.000, dan dari 500.000 ke 490.000 (atau 499.000), karena secara psikologis dipersepsikan “lebih murah dari…” di pikiran buyer

2) Lebih dari satu produk mirip/serupa? Bedakan harganya!

Misal kita punya dua barang mirip/serupa (misalnya kaos yang berbeda corak saja) yang mau kita jual seharga sama yaitu 150.000, maka hasil riset menunjukkan, penjualan akan meningkat kalau barang tersebut kita bedakan harganya, misalnya 147.500 dan 152.500. Hal ini karena apabila dihadapkan pada dua pilihan yang sama, buyer akan lebih sulit membuat keputusan (jadi lebih besar kemungkinan batal membeli).

3) Ingin menjual barang mahal? Jual di samping barang yang lebih mahal!

Apakah sepatu senilai 790.000 mahal? Menjadi terkesan murah (dan lebih berpeluang dibeli buyer) jika kita meng-upload juga sepatu keluaran terbaru senilai 1.990.000.

4) Manfaatkan diskon 

Barang senilai 45.000, akan lebih sulit terjual dibandingkan barang senilai “70.000-coret-kini-menjadi-49.000” karena buyer akan terkena efek psikologis “wah lumayan nih mumpung diskon”.

5.) Pilih Strategi Diskon yang tepat.

Hal ini berkaitan dengan reaksi psikologis pembeli ketika melihat label diskon yang dipajang di toko. Jika Anda perhatikan, ada dua jenis penggunaan bahasa dalam pelabelan diskon yang umum berlaku di pasar.

Pertama, penjual menggunakan persentase dalam pelabelan diskon. Misal, “Diskon 50% untuk pembelian produk  kemeja!”

Kedua, penjual menggunakan mata uang dalam pelabelan diskon. “Misal, dapatkan potongan hingga Rp200 ribu untuk produk elektronik!”

Jonah Berger, pakar pemasaran, mengungkapkan jika pemilihan bahasa pelabelan diskon tersebut ternyata memengaruhi  seberapa besar minat pembeli melakukan transaksi. Berdasarkan hasil penelitiannya, produk dengan harga murah, seperti kemeja, buah, makanan, lebih cocok menggunakan bahasa pelabelan diskon yang pertama.

Menurutnya, pembeli kekurangan minat pada penawaran kemeja seharga Rp100 ribu dalam kalimat “Diskon Rp25 ribu” karena menganggap itu merupakan angka yang kecil. Tetapi ketika melihat kalimat “Kemeja diskon 25%” –meski sebenarnya jika dihitung dalam mata uang sama bernilai Rp25 ribu—namun pembeli justru lebih tertarik karena persentase tersebut dimata mereka terlihat memiliki nilai besar.

Sementara untuk produk-produk dengan harga tinggi (diatas Rp500 ribu), penggunaan nilai mata uang pada kalimat diskon malah lebih menarik minat pembeli. Misal, penawaran diskon untuk sebuah laptop seharga Rp4juta dengan kalimat “Potongan harga sebesar Rp500 ribu”

 

Selamat Mencoba

 

 

 

 

 

 

 

Diambil dari berbagai sumber