Meningkatkan Kredibilitas Bisnis Kecil dengan Online Branding

812

Dalam mengelola sebuah bisnis, Anda harus mampu membuat langkah yang cerdas dan brilian, seperti dengan meningkatkan kredibilitas bisnis.

Jangan sampai langkah yang telah Anda ambil justru membuat kemunduran dalam bisnis yang sedang Anda jalankan.

Apalagi, jika Anda sedang mengelola bisnis kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah), dimana tentu persaingan tidak bisa terhindarkan. Hal tersebut kadang tidak bersahabat bagi para pebisnis.

Pelanggan yang hanya melihat pada sebuah nama besar perusahaan, semakin mempersempit gerak bisnis kecil.

Namun jangan kecewa dahulu, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk bersaing dengan yang lain.

Ada tips yang bisa dicoba untuk meningkatkan kredibilitas bisnis atau usaha kecil menengah dalam menghadapi kerasnya persaingan dengan perusahaan besar.

Salah satu cara yang bisa teman-teman maksimalkan adalah dengan menjalankan online branding menggunakan media internet.

Nah, branding juga bisa berpengaruh dalam meningkatkan kredibilitas bisnis kecil Anda sehingga lebih bisa bersaing dalam menggaet pelanggan.

Anda bisa simak cara berikut untuk meningkatkan kredibilitas bisnis kecil Anda.

Buat Website Profesional untuk Meningkatkan Kredibilitas Bisnis

Membangun branding juga sangat penting bagi perusahaan. Nah peran membangun branding juga bisa dilakukan lewat website.

Banyak website yang didesain secara khusus dan memiliki ciri khas tersendiri dari suatu perusahaan atau bisnis.

Branding di sini juga bisa dengan memperkenalkan profil perusahaan Anda melalui website.

Semakin dikenal profil maka akan makin terkenal profil tersebut. Sebuah perusahaan atau organisasi tentu mau jika profilnya dikenal luas.

Untuk itu memilih website sebagai media publikasi profil perusahaan adalah salah satu cara yang inovatif.

meningkatkan kredibilitas bisnis

Selain itu, sebuah bisnis akan mendapatkan kredibilitas dengan memiliki website dan profil yang bagus. Tanpa website, customer potensial akan pergi ke pesaing Anda yang memiliki website.

Website yang profesional sangat membantu branding Anda pada bisnis kecil yang sedang Anda kembangkan.

Desain yang tepat dengan bermaterikan konten yang berbobot, akan membuat bisnis kecil Anda semakin terlihat profesional.

Jika teman-teman tidak atau belum memiliki kemampuan membuat website yang profesional untuk keperluan bisnis, ada banyak jasa web desain yang bagus.

Anda bisa memanfaatkannya tanpa perlu pusing berurusan dengan banyak hal teknis.

Nah, dalam membuat website yang profesional, ada beberapa poin penting yang harus Anda perhatikan seperti di bawah ini :

Buat Customer Service yang Profesional

Ini sangat penting keberadaannya, seorang customer service adalah frontliner yang bisa mempengaruhi cara pandang konsumen.

Ketika Anda mempunyai customer service yang profesional, cakap dan tentunya ramah, maka kesan yang bagus pada bisnis kecil Anda akan langsung tertangkap oleh konsumen.

Namun, jika Anda terpaksa tidak mempunyai seorang customer service, Anda bisa menggunakan voice mail yang ramah dan elegan.

 

Selain Email, Tampilkan Nomor Telepon dan Sosial Media yang Aktif

Komunikasi dalam sebuah bisnis adalah mutlak diperlukan, bahkan bisa jadi komunikasi adalah kunci utama Anda dalam mendapatkan konsumen.

Untuk itu, cantumkan email, nomor telepon atau akun sosial media Anda yang bisa dihubungi setiap saat.

Kemudahan menghubungi Anda sangat bisa membuat konsumen menjadi lebih menganggap bisnis kecil Anda lebih kredibel.

Jangan sampai membuat konsumen menunggu, buatlah mereka senyaman mungkin berkomunikasi dengan bisnis Anda.

Jika mereka sudah nyaman, maka Anda hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mendapatkan tawaran dari mereka.

meningkatkan kredibilitas bisnis

Pasang Alamat Bisnis di Website Dengan Jelas

Hal Ini sangat penting untuk membuat para calon pelanggan merasa lebih yakin.

Karena Anda sedang melakukan branding online, maka memasang alamat bisnis yang benar-benar jelas bisa membuat calon konsumen bisnis Anda semakin percaya akan kredibilitas bisnis Anda.

Anda bisa menulisnya sedetail mungkin, karena biasanya bisnis kecil atau UKM menggunakan rumah sebagai kantor atau tempat bekerja, maka pakai saja alamat rumah Anda tersebut.

Tidak apa-apa, tulis saja alamat lengkap rumah Anda, sampai RT dan RW sekalian juga lebih baik.

meningkatkan kredibilitas bisnis

Maksimalkan Branding melalui Sosial Media

Cara selanjutnya yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kredibilitas bisnis melalui promosi online adalah dengan memaksimalkan sosial media.

Karena saat ini Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar, maka branding melalui media sosial sangatlah disarankan. Karena, hal tersebut bisa meningkatkan keredibilitas bisnis Anda.

Ada banyak sosial media yang bisa digunakan dan memaksimalkannya, seperti Facebook, Twitter, Google Plus, Instagram dan masih banyak lagi yang lainnya.

Melalui sosial media, selain bisa berinteraksi secara langsung dengan calon konsumen, teman-teman juga bisa secara langsung memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada konsumen.

Keakuratan informasi yang diterima konsumen secara cepat, sangat membantu bisnis Anda diterima dan diakui oleh calon konsumen.

Ada beberapa cara memaksimalkan branding melalui sosial media. Salah satunya dengan konten visual.

meningkatkan kredibilitas bisnis

Selain konten visual Anda bisa mengggunakan hashtag untuk branding melalui sosial media Anda.

Branding di sosial media menggunakan Hashtag

Hashtag adalah sebuah fitur yang bermula dari media sosial twitter yang berfungsi untuk membantu penggunanya untuk menemukan sebuah konten yang lebih khusus, spesifik dan tepat sasaran.

Tidak hanya Twitter, kini sosial media lain seperti Facebook dan Instagram juga memakai dan menggunakan hashtag ini.

Cara penggunaannya yang sangat simpel dan efektif menjadi suatu alasan yang kemudian menjadikan fitur hashtag menjadi begitu populer dan banyak diminati pengguna sosial media.

Dengan hanya menambahkan tagar di awal kata kunci yang diinginkan, maka kombinasi hashtag dan kata kunci tersebut akan berubah menjadi sebuah hyperlink secara otomatis . Hal itu untuk menampilkan seluruh informasi dan berita terkait kata kunci yang tersedia di situs media sosial tersebut.

Hashtag adalah sebuah fitur yang bermula dari media sosial twitter yang berfungsi untuk membantu penggunanya untuk menemukan sebuah konten yang lebih khusus, spesifik dan tepat sasaran.

Namun seiring dengan popularitas hashtag di twitter, kini jejaring sosial lain seperti Facebook dan Instagram juga memakainya.

meningkatkan kredibilitas bisnis

Cara penggunaannya yang sangat simpel dan efektif diyakini sebagai suatu alasan yang kemudian menjadikan fitur hashtag menjadi begitu populer dan banyak diminati pengguna media sosial.

Dengan hanya menambahkan tagar di awal kata kunci yang diinginkan maka kombinasi hashtag dan kata kunci tersebut akan berubah menjadi sebuah hyperlink secara otomatis untuk menampilkan seluruh informasi dan berita terkait kata kunci yang tersedia di situs media sosial tersebut.

Kenapa Harus Hashtag?

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa fitur hashtag dengan kemampuannya melacak apapun dengan tepat sasaran dan efektif sangat disukai oleh pengguna.

Ada tiga alasan kenapa pengguna media sosial kini sangat gemar menggunakan hashtag di sosial media. Berikut alasannya:

  1. Para pengguna memang menyukai fitur ini karena memudahkan mereka dalam melakukan pencarian.
  2. Penggunaan hashtag yang dapat menghubungkan penggunanya pada topik-topik trendi atau terbaru.
  3. Fitur hashtag yang dapat digunakan secara universal untuk berbagai keperluan seperti bisnis, kesenangan dan kegiatan sosial.

Hashtag Untuk Berbisnis

Satu hal yang sangat menguntungkan terutama bagi pebisnis dari fitur hashtag ini adalah kemampuannya untuk mencari target marketing yang tepat dan juga potensinya membangun membangun sebuah brand bisnis.

Salah satu wujud konkrit penggunaan fitur hashtag pada kegiatan bisnis ini sekarang sangat terlihat pada Instagram.

Di Instagram, fitur hashtag telah cukup banyak digunakan dan diandalkan pebisnis untuk ajang promosi dan mengembangkan strategi marketingnya guna memperoleh konsumen dan pelanggan dengan lebih tertarget dan tepat.

Pada umumnya, hashtag pada bisnis digunakan untuk menghubungkan brand bisnis Anda dengan orang lain melalui hashtag yang sama.

Tentunya hashtag pada bisnis akan jauh lebih efektif karena memberikan informasi yang saling relevan di antara produsen dan konsumen.

Trik Memaksimalkan Brand Dengan Hashtag

Brand bisnis memang merupakan salah satu komponen yang cukup diperhatikan oleh pebisnis.

Nah, dengan fitur hashtag yang ada pada sosial media, kini para pebisnis terutama yang memfokuskan pada dunia online memiliki kesempatan cerah untuk memaksimalkan brand yang dimilikinya.

Untuk membangun sebuah brand dengan hashtag secara maksimal, langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan hashtag yang sifatnya berbeda atau belum pernah digunakan sebelumnya.

Dengan kode hashtag yang unik dan berbeda maka Anda akan terhindar dari persaingan hashtag yang cukup ketat.

Dengan begitu promosi Anda akan dengan mudah untuk dikenali serta cepat direspon calon konsumen dan pelanggan.

Jika Anda masih binggung untuk menentukan kode hashtag yang unik, Anda bisa memanfaatkan situs layanan online gratis seperti hashtag.org atau twubs.com guna mencari kata kunci hashtag yang sekiranya dapat menarik perhatian, unik dan tidak pasaran (tidak umum).

 

Selamat mencoba

 

 

 

sumber :

https://digitalmarketer.id/productivity/meningkatkan-kredibilitas-bisnis-kecil-dengan-online-branding/

Sukses IKEA dan Ceruk Pasar di Bisnis peralatan Rumah Tangga.

alat

Setelah satu tahun membuka toko pertamanya di Indonesia, toko perabotan rumah tangga asal Swedia, IKEA telah mencapai 2,8 juta orang pengujung. Toko yang terletak di Alam Sutera, Tangerang ini tidak hanya dikunjungi oleh pelanggan dari Jabodetabek, melainkan juga dari Bandung, Surabaya, Bali, dan Pulau Sumatra.

Berkaca dari semakin bertambahnya gera IKEA di Indonesia, nampaknya kebutuhan gaya hidup  telah menjadi bagian yang tidak dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik, berpengaruh terhadap daya beli masyarakat untuk memenuhi tren gaya hidup dalam kesehariannya.

Semakin banyaknya brand gaya hidup dari luar negeri yang kini dengan mudahnya ditemukan di pusat perbelanjaan atau bahkan mendirikan gedung/gerainya sendiri di Indonesia menjadi indikasi besar bahwa kehadiran kelas menengah Indonesia dalam kuru waktu beberapa tahun terakhir berdampak pada geliat perekonomian di dalam Negeri, Bukan tanpa sebab, dengan populasi ke-4 terbanyak di dunia dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asean, hingga kuartal ketiga 2016, Indonesia tercatat memiliki pertumbuhan GDP sebesar 5,1%.Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menarik dan dilirik perusahaan asing untuk berinvestasi dan berbisnis.

Pasar ritel di Asean sendiri tergolong beragam, berskala besar dan berkembang secara pesat. Dimana sebagian besar negara-negara di Asean dianggap sebagai pasar menarik yang masih akan terus berkembang. Masyarakat kelas menengah, yang memiliki pendapatan rata-rata lebih tinggi, merupakan konsumen potensial dari pasar ritel dalam jangka panjang.

Dan, pada tahun 2020 diproyeksikan bahwa populasi kelas menengah di Asean akan mencapai 400 juta orang, dimana kelompok ini memainkan peran penting sebagai konsumen potensial di pasar ritel.Berdasarkan penelitian Euromonitor International pada 2015, Indonesia adalah satu di antara lima negara berkembang yang memiliki kelas menengah dengan potensi terkuat di periode 2015 – 2030.

Besarnya jumlah penduduk dan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah menjadi keuntungan tersediri bagi Indonesia hingga didaulat sebagai pasar ritel yang kuat dan terbesar di kawasannya. Bahkan, permintaan pasar domestik Indonesia di industri peralatan rumah tangga diproyeksikan naik 10% pada 2017 mendatang.
Jadi jangan heran apabila brand brand asing seperti IKEA (Swedia), LOTTE mart (Korea), Oppein (China) akan semakin banyak kita temukan di beberapa tahun mendatang. Tantangan kedepan adalah bagaimana pemain Lokal Indonesis bisa menikmati peluang bisnis reatail khusunya di sektor peralatan rumah tangga ini yang diprediksi naik 10% pada Tahun 2017 nanti.

Zara, Merek Miliaran Euro Tanpa Iklan

zara

Bagi kita yang menyukai dunia fashion pasti sudah tidak asing lagi dengan nama merek zara. Zara merupakan salah satu brand fashion ternama di dunia. Zara didirikan pada tahun 1975 oleh Amancio Ortega. Tahukan anda, bahwa model awal pakaian Zara didapatkan dengan cara mengcopy model pakaian dari tempat armacio bekerja.

Pada intinya visi dan misi zara adalah untuk memuaskan konsumen dengan melakukan inovasi – inovasi pada design pakaiannya dengan tetap memperhatikan lingkungan dalam operasi bisnisnya.

Zara mengklasifikasikan konsumennya menjadi 3 jenis :

  1. Fashion Chaser : Merupakan konsumen yang selalu mengikuti trend fashion terkini dan menginginkan pakaian yang eksklusif. Konsumen jenis ini tidak terlalu perduli terhadap harga dan merupakan jenis konsumen yang paling loyal kepada ZARA.
  2. Opinion Seeker : Merupakan konsumen yang sangat dipengaruhi oleh orang di sekitar mereka termasuk melalui social media dalam memutuskan untuk membeli sesuatu.
  3. Value Buyer : Merupakan jenis konsumen yang paling sensitif terhadap harga, mereka akan membandingkan harga dengan value yang ditawarkan sebelum melakukan pembelian.

Zara sejauh ini adalah merek terbesar dalam portofolio Inditex Group dengan penjualan bersih dalam tahun fiskal 2012 sebesar 15,9 miliar Euro.

Salah satu hal yang menarik dari Zara adalah merek ini menjadi populer justru karena kurangnya orisinalitas. Para pelanggan menyerbu gerai Zara untuk membeli kopian desain pakaian berkel as dengan harga yang lebih ramah di kantong. Berikut, beberapa fakta menarik tentang bagaimana Zara selama lebih dari tiga dekade berkembang menjadi merek bernilai miliaran.

Hal menarik dari Zara internasional terletak pada pengucapan nama mereknya. Mantan suami Mera, Amancio Ortega mulai menjual pakaian tidur melalui toko kecil yang disebut Zorba. Tapi, seperti yang dilaporkan UK Telegraph di tahun 2011, “Pemilik bar sekitar dengan nama yang sama mengajukan protes. Maka digantilah nama menjadi Zara. Ironisnya, Spanyol adalah satu-satunya negara di mana Zara tidak diucapkan ‘Zah-hura’, tetapi ‘Tha-ra’.

Gerai pertama Zara berada di kota Galicia, Spanyol, yang dibuka pada tahun 1975. Kini merek ini memiliki gerai dengan jumlah lokasi 1.800 titik. Termasuk dua gerai di Tunisia, dua gerai di Azerbaijan, 21 gerai di Israel, 44 di Amerika Serikat, 56 gerai di Meksiko, dan 88 gerai di Jepang. E-commerce menjadi faktor pendorong yang besar bagi merek ini dan Rusia menjadi fokus besar di mana retailer meluncurkan sebuah platform baru musim gugur ini.

Zara berkembang dengan sedikit atau bahkan tanpa iklan sama sekali. Iklan bukan bagian dari model bisnisretailer. Harian New York Times musim gugur lalu mengatakan, “Zara bahkan tidak memiliki departemen pemasaran dan merek ini tidak terlibat dalam kampanye yang menyolok seperti yang dilakukan para kompetitornya.”

“Desainer Zara tidak bernama. Beberapa orang akan mengatakan hal ini karena para desainernya cendererung pengopi, alih-alih desainer. Zara dikenal sebagai perusahaan yang malu dengan media. Meskipun dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Ortega Gaona menolak untuk melakukan wawancara dengan media, begitu pula dengan penerusnya Pablo Isla.

Salah satu momen terbesar pemasaran Zara adalah product placement tak berbayar yaitu pada Duchess of Cambridge, sehari setelah ia melangsungkan pernikahan. Menjadi seorang anggota kerajaan membuat Kate Middleton berhati-hati dalam berpakaian. Ia menyukai perpaduan merek high dan low, sebagai bentuk dukungan penampilan “High Street” begitu yang mungkin dikatakan oleh orang-orang Inggris.

Penampilan yang tak terlupakan adalah pada hari setelah pernikahannya dengan Pangeran William yaitu ketika ia keluar menggunakan gaun bermotif cornflower biru, dengan detail lipit dari bahan polyester yang hanya seharga 49,99 poundsterling di Zara.

Gerai Zara mengadopsi kecepatan layaknya perusahaan teknologi. Perusahaan ini mendapatkan desain baru lebih cepat daripada kompetitor pada umumnya. Inventaris segar adalah kunci bagi strategi penjualan Zara, dengan gerai yang memiliki stok desain baru dua kali dalam seminggu. Sangatlah penting untuk mengeluarkan gaya terbaru berdasarkan laporan Wall Street Journal.

Sumber utama: marketing.co.id disesuaikan.

Psikologi Konsumen : Gen Z dan pengaruhnya terhadap keputusan Belanja keluarga

Generation-Z-Infographic

Generasi Z sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Hal ini dikarenakan perilaku mereka yang lekat dengan teknologi digital. Bisa dikatakan teknologi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian mereka. Ada yang mengatakan Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1994 sampai tahun 2004.

Mereka lahir dan tumbuh ditengah merebaknya teknologi digital, sehingga ada yang menjuluki mereka sebagai generasi digital native. Generasi digital native bisa menggunakan teknologi digital tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Mereka lebih mengedepankan trial and error ketika menggunakan fitur-fitur teknologi digital.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti generasi X (lahir 1965 – 1980) dan generasi Y lahir lahir (1981 -1995). Dua generasi ini mengalami tahap belajar untuk memahami teknologi digital. Masih ingat, dulu pernah marak kursus komputer untuk “mengajari” dua generasi ini teknologi digital. Bahkan, selembar sertfikat kursus komputer bisa sangat bermanfaat untuk masuk dunia kerja.

Lalu apa yang mesti dicermati pemasar dari Gen Z? Meski masih belia, Gen Z ternyata punya pengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian keluarga. Hal ini sesuai dengan survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) baru-baru ini. Nielsen Indonesia mengkategorikan Gen Z sebagai generasi dengan rentang usia 10 – 19 tahun. Survei CMV dilakukan terhadap lebih dari 17.000 responden usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Hasil survei Nielsen CMV kuartal II 2016, ada dua keputusan pembelian dimana Gen Z punya andil. Sebesar 47% anak-anak(usia10-14tahun) memiliki pengaruh terhadap keputusan untuk berlibur, dan 33% terhadap keputusan untuk membeli produk elektronik. Sementara itu, konsumen remaja (usia 15-19 tahun) memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan untuk berlibur (67%) dan keputusan membeli produk elektronik (62%).

“Lahir pada era digital, Gen Z memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dan bahkan pada usia yang sangat muda mereka sudah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan membeli dalam keluarga. Pemahaman mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam mengonsumsi media akan membuka peluang bagi para pemilik merek dan pemasar untuk dapat membangun hubungan jangka panjang denganmereka,” ujar Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business, Nielsen Indonesia.

Survei tersebut juga menemukan, olahraga menjadi kegiatan paling disukai anak-anak (48%) dan remaja (44%). Kegiatan berikutnya yang paling disukai menonton TV, yaitu 38% pada anak-anak dan 32% pada remaja, dan mendengarkan musik 17% pada anak-anak dan 25% pada remaja. Sebesar 11% anak-anak menyatakan kegiatan yang mereka sukai setelah mendengarkan musik membaca buku. Sementara itu, untuk remaja, kegiatan lain yang lebih disukai setelah mendengarkan musik menjelajah internet (17%).

Temuan diatas menunjukkan Gen Z masih dapat dijangkau media, termasuk media tradisional. Televisi, Internet dan Radio merupakan media utama yang mereka akses .Selain penetrasi TV terrestrial masih yang tertinggi (diatas 95% pada anak-anak dan remaja), penetrasi TV berbayar juga mencapai 10%.

Pola konsumsi internet juga memperlihatkan peningkatan dalam lima tahun terakhir, dimana pada kuartal kedua2016 penetrasi internet pada anak-anak 45%, meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Pada remaja angkanya 81%, meningkat 29% dibandingkan dengan kuartal kedua 2011. Rata-rata remaja menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengakses internet (2 jam 29 menit) dan radio (2 jam 20 menit), sementara anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu dengan 1 jam 37 menit untuk internet dan 1 jam 45 menit untuk radio.

z

Mayoritas Gen Z Menonton Televisi Akhir Pekan

Nielsen TAM (TV Audience Measurement) dilakukan terhadap lebih dari 8,000 responden berusia 5 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassardan Banjarmasin). Hasil pengukuran tersebut tertuang dalam nilai rating, sharedan indeks.

Data Nielsen TAM periode April-Juni 2016, menunjukkan anak-anak dan remaja lebih banyak menonton televisi pada waktu pagi di akhir pekan.  Dalam lima tahun terakhir, Program Serial masih menjadi genre yang paling banyak ditonton Gen Z, namun peningkatan penonton terjadi untuk genre Program Anak dan Hiburan. Tahun ini anak-anak menyukai FTV, terlihat dari tingginya rating yang diperoleh beberapa judul FTV selama periode April-Juni 2016 pada penonton usia 10-14 tahun ini seperti Pangeran di Kandang Bebek yang mendapatkan rating 6,6 dan Mengejar Cinta Dosen Cantik dengan rating 5,8. Penonton remaja lebih memilih tayangan yang beragam tak hanya FTV, tetapi juga program Olahraga dan Hiburan.

Gen Z  Selalu Terhubung dengan Internet

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, akses internet telah menjadi kebutuhan bagi Gen Z. Bila lima tahun lalu Warung Internet (Warnet) menjadi pilihan utama bagi anak-anak (81%) dan remaja (56%) untuk mengakses internet. Di  tahun ini Warnet tergantikan oleh rumah, dimana 49% anak-anak dan 62% remaja mengakses internet dari rumah mereka. Angka tersebut meningkat dari 7% pada anak-anak dan 9% pada remaja. Sebesar 93% anak-anak dan 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkatmobile seperti smartphone atau iPad. Aktifitas yang paling banyak dilakukan Gen Z dengan internet berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, bermain game dan mendengarkan musik.

Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Gen Z

Meskipun Televisi dan Internet menjadi media favorit bagi Gen Z, namun tidak sedikit dari anak-anak dan remaja yang masih mendengarkan radio. Nielsen Radio Measurement (RAM) mengukur perilaku mendengar radio terhadap lebih dari 8,400 responden berusia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Temuan (RAM) kuartal kedua tahun ini menunjukkan tingkat penetrasi Radio pada konsumen Gen Z sebesar 20% lebih, tertinggi di kota Palembang 98%. Dari sisi waktu mendengarkan radio, anak-anak di Surakarta menghabiskan waktu terbanyak dengan rata-rata 159 menit per hari, dan untuk remaja terbanyak di Denpasar dengan rata-rata waktu 155 menit per hari. Mereka lebih banyak mendengarkan radio melalui perangkat mobile – Remaja 39% dan Anak-anak 20%. Lagu Pop Indonesia merupakan genre lagu yang paling disukai remaja (57%) dan Anak-anak (46%).

Temuan lain, Gen Z ternyata pengunjung bioskop yang setia. Di 11 kota yang disurvei Nielsen, rata-rata anak-anak pergi ke bioskop 9 kali dalam satu tahun, dan remaja 11 kali dalam satu tahun. Dengan kata lain, hampir setiap bulan mereka pergi menonton di bioskop.

 

 

sumber ; marketing.co.id

Brand Switching Analysis dalam Industri Ritel Modern

Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket.

ritel1

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 237 juta jiwa dengan total konsumsi sekitar Rp3.600-an triliun merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Ini didukung oleh perilaku berbelanja penduduk Indonesia yang sudah mulai bergeser, dari berbelanja di pasar tradisional menuju ritel modern.

Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi penanaman modal asing (PMA), sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia. Masuknya ritel asing dalam bisnis ini menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hipermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta. Misalnya Carrefour, dalam enam tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta, termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Palembang, dan Makassar.

Semakin maraknya ritel modern tentu saja menimbulkan persaingan sesama ritel modern tersebut. Selain itu, maraknya ritel modern memudahkan konsumen untuk memilih ritel yang disukai dan cocok dengan keinginan konsumen. Sehingga konsumen dengan mudah bisa berganti ritel modern yang dikunjungi, atau tetap loyal dengan satu ritel karena sudah merasa cocok.

Survei Top Brand yang mengukur tiga parameter, yaitu TOM BA, last usage, dan future intention, selain digunakan untuk mengetahui Top Brand Index, bisa juga digunakan untuk mengetahui perilaku switchingkonsumen. Berikut ditampilkan perilaku switching konsumen berdasarkan hasil survei Top Brand 2012, atribut last usage dan future intention, untuk kategori hipermarket, supermarket, dan minimarket.

Berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Carrefour, Hypermart, dan Lotte Mart merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung merek tersebut yang akan berpindah menggunakan merek lain (switching out). Sebaliknya, Giant, Superindo, dan Brastagi, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif.

ritel3ritel4

Bagaimana dengan supermarket? Berdasarkan brand switching analysisdi atas, terlihat bahwa Hero merupakan satu-satunya merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi Hero (switching in) lebih banyak dari pengunjung Hero yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Superindo, Griya, dan Tip-top, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif. Sedangkan ADA diprediksikan stagnan.

Kemudian untuk minimarket, berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Alfamart, Yomart, dan 7-eleven merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung ketiga merek tersebut yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Indomaret dan Alfamidi, net switching kedua merek tersebut bernilai negatif.

Bagi merek-merek yang memiliki net switching negatif harus berhati-hati dan berusaha melakukanimprovement agar prediksi tersebut tidak terjadi. Demikian juga dengan merek yang sudah memiliki angka net switching positif, mereka harus mempertahankan atau meningkatkan performance mereka sehingga prediksi dari brand switching analysis tersebut benar-benar terjadi.

 

 

Sumber : Apipudin dalam Marketing.co.id

Consumer 3000 dan Maleolitikum : Pergeseran Kehidupan Mall para kelas Menengah.

mall

Ada suatu fenomena titik balik yang beberapa tahun belakangan ini muncul di kalangan sebagian kecil kelas menengah (C3000): weekend tanpa ke mall. Kelas menengah yang biasa gandrung banyak menghabiskan waktu akhir pekan pergi ke mall (mallism), kini sadar tentang dampak negatif terlalu sering menghabiskan waktu keluarga di mall dan mulai berkampanye tentang pentingnya weekend tanpa ke mall. Kita bisa melihat bentuk kesadaran gerakan kampanye mereka ini dalam bentuk WTM (weekend tanpa ke mall) yang sudah marak di media sosial dan aktivitas liburan yang mereka gelar sendiri. WTM telah menjadi gerakan dan komunitas masyarakat untuk mencari alternatif liburan saat akhir pekan.

Mengapa muncul gerakan dan kampanye WTM ini? Saya menduga hal ini disebabkan oleh sudah saking mendarah-dagingnya jalan-jalan ke mall di setiap akhir pekan pada mayoritas kalangan warga kelas menengah ibu kota ataupun second cities lainnya. Lihatlah mall-mall di berbagai kota hampir tidak pernah sepi dikunjungi oleh kelas menengah. Ketika hari-hari biasa banyak waktu dihabiskan untuk bekerja (orang tua) dan sekolah (anak), maka waktu akhir pekan mereka tumpahkan semua waktunya di mall. Di Jakarta, hampir sehari penuh orang menghabiskan waktu di mall saat akhir pekan, baik dalam satu mall ataupun pindah-pindah ke berbagai mall. Di mall, mereka bisa memilih tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga seperti makan di restoran, belanja kebutuhan sehari-hari, nonton film di bioskop, bermain di arena permainan atau taman, karokean, dll.

Namun, justru terlalu sering menghabiskan waktu di mall, maka sebagian kecil kelas menengah mengambil inisiatif untuk kampanye WTM ini. Adanya WTM, bukan berarti mereka anti terhadap keberadaan mall. WTM ini sebagai upaya meminimalisir waktu akhir pekan yang banyak disibukkan di mall. Selain dinilai terlalu mainstream, liburan ke mall dinilai kurang memberikan dampak positif bagi keluarga, sehingga diperlukan alternatif baru untuk menghabiskan waktu keluarga di akhir pekan. Mall dinilai sudah cukup basi, dan kini pilihannya mereka pergi ke taman rekreasi, pasar becek, perkebunan, area bermain ruang terbuka hijau, dll. Mereka mulai mencari-cari tempat-tempat baru yang mengesankan.

Mallism
Sekitar dua tahun yang lalu, pakar pemasaran Yuswohady pernah menulis tentang fenomena “Mallism”. Mallism adalah sebuah cerminan para “pemuja” mall. Ini merefleksikan bahwa pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup kelas menengah. Tiada hari tanpa pergi ke mall. Belanja, nongkrong, menjamu tamunya, kopdar dengan kerabat, meeting pekerjaan, mengasuh anak, dll., yang semuanya dilakukan di mall. Praktis, hampir semua kegiatan yang dilakukan oleh kelas menengah adalah di mall. Maka, tak heran apabila pergi ke mall sudah mendarah daging dalam aktivitas kelas menengah Indonesia. Karena itu, managing partner dari Inventure itu menyebut era saat ini adalah Maleolitikum.

Oleh karena pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup, hal ini telah menyebabkan permintaan pembangunan mall tak pernah berhenti dari para pengembang. Kabarnya, Jakarta adalah kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Kini, pertumbuhan jumlah mall di ibu kota mulai dibatasi oleh Pemerintah Daerah. Tetapi, tak kalah siasat, kini para pengembang pun mulai mengincar area-area pinggiran ibu kota atau second cities untuk membangun mall. Mereka sangat agresif tumbuh di daerah-daerah pinggiran seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Saat ini justru di daerah pinggiranlah, sebenarnya para pengembang mendapatkan momentum “euforia konsumsi” pada kelas menengah. Dalam hasil penelitiannya berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s PotentialMcKinsey menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi wilayah second cities akan jauh lebih atraktif dibandingkan Jakarta. Second cities itu antara lain Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, dll. Sebagian besar orang menganggap bahwa Jakarta adalah potret daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi besar dan cepat. Tetapi, melihat data yang diungkapkan McKinsey bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2010 hanya mencapai 5,8%, sementara second cities rata-rata mencapai 6,7%. Prediksi di tahun 2030, second cities akan tumbuh lebih besar dari Jakarta yakni sekitar 9,1%, sementara ibu kota mencapai 5,1%.

Mengapa second cities bisa tumbuh eksplosif? Mengapa pengembang properti sangat bergerak dinamis membangun mall di second cities? Ini tidak lepas dari euforia konsumsi yang terjadi pada kelas menengah pada daerah second cities. Secara evolutif, kebutuhan mereka terhadap konsumsi barang atau layanan kian advance. Untuk itu, para pengembang mall pun sudah ekspansi ke daerah-daerah. Contohnya, dalam beberapa tahun ke depan, di Jogja akan didirikan mall-mall besar dan kelas atas untuk menangkap peluang tingginya gairah konsumsi masyarakat lokal. Rupanya, warga yang tinggal di Jogja kini punya hobi baru euy: jalan-jalan ke mall.

Komplet
Mengapa mall bisa sangat digandrungi oleh kelas menengah Indonesia? Hal ini tidak lepas dari proses evolusi mall yang kian komplet dalam menyediakan kebutuhan kelas menengah. Apa yang dibutuhkan konsumen, hampir semuanya ada di mall. Dalam satu tempat, konsumen bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan: berbelanja dengan diskon menarik, produk yang lengkap (sembako, fesyen, elektronik, buku, dll), fasilitas lengkap nan nyaman (parkir, tempat makan keluarga, mushola, arena bermain anak, konser musik, dll), dan akses lokasi terjangkau. Bisa Anda bayangkan, semua kemudahan ini terletak dalam satu tempat bernama mall, sehingga tak jarang kelas menengah merasa betah menghabiskan waktu akhir pekan di mall daripada tempat lain.

Kini, muncul tren bahwa hampir setiap mall berlomba-lomba menciptakan great customer experience dengan menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang sehingga kelas menengah akan merasa bebas dan nyamanMushola adalah salah satunya. Seperti hasil survei kami tentang kelas menengah muslim bahwa mereka adalah jenis konsumen yang konsumtif sekaligus religius. Melihat karakteristik ini, para pengelola mall berkompetisi membangun mushola yang modern dan nyaman bagi pengunjung, seperti di Mall Kelapa Gading, Senayan City, Pondok Indah Mall, Kota Kasablanca, dll.. Adanya mushola di mall memberikan kenyamanan dan kebebasan para pengunjung untuk bisa bertahan seharian di dalam mall. Mereka bisa menunaikan gaya hidup konsumtif sekaligus tetap melakukan kegiatan berdoa di mushola. Komplet, hehehe…

Namun, seiring dengan kenyamanan menghabiskan waktu berlibur di mall, justru di kalangan sebagian kecil kelas menengah mulai muncul kekhawatiran tentang dampak negatif liburan ke mall. Apa saja dampak negatifnya? Apa yang saya amati dari keluhan mereka adalah anak kian menjadi konsumtif, potensi obesitas pada anak karena sering jajan junk food, pengeluaran keluarga membengkak (besar pasar daripada tiang), anak menjadi kurang kreatif karena main di mal lebih sering virtual, dll. Banyaknya dampak negatif inilah yang mendorong mereka untuk mencari liburan alternatif daripada pergi ke mall.

Titik Balik
Dalam setahun terakhir ini, muncul fenomena ramainya Pasar Santa Jakarta. Pasar Santa adalah pasar rakyat yang kini menjadi tempat nongkrong idola anak-anak muda gaul dan keluarga di daerah Jakarta yang sedang ngetren. Awalnya, pasar ini adalah pasar biasa yang cenderung diisi oleh lapisan masyarakat bawah di daerah Jakarta Selatan, sehingga bentuk desain tidak begitu modern. Pasar ini pun kemudian berubah menjadi tempat nongkrongnya anak-anak gaul. Outlet-outlet didesain dengan modern dan artistik, sehingga terkesan cool dan berkelas. Pasar ini pun kini menjadi alternatif tempat nongkrong dan makan para anak muda ataupun keluarga di akhir pekan. Mereka adalah kelas menengah yang sudah jenuh dan bosan pergi mall, karena mall sudah terlalu mainstream, maka pasar becek yang diubah lebih cool menjadi alternatif tempat nongkrong.

Selain pergi ke Pasar Santa, kini juga mulai muncul tren adanya wisata edukasi alam atau outbound untuk kaum dewasa maupun anak-anak di daerah Bogor ataupun Bandung. Wisata edukasi ini bertujuan memperkenalkan keanekaragaman hayati alam pada anak, baik di sawah, sungai, hutan, kebun, dll. Apabila anak bermain di mall dinilai lebih pasif dan konsumtif, maka dengan wisata edukasi ini, anak-anak diharapkan menjadi lebih aktif, bergaul, tahu alam, lebih sehat, dan senang.

Ini adalah fenomena titik balik, di mana kelas menengah telah mengalami kejenuhan untuk pergi menghabiskan waktu di mall saat weekend. Ketika mereka memilih untuk tidak pergi ke mall, maka mereka akan memilih untuk pergi ke tempat yang dinilainya alternatif. Tempat-tempat itu antara lain: taman, car free day, tempat wisata kuliner, gunung, dll.

 

 

Sumber ; iryanah.com

BAGAIMANA CARA PEMBERI PROMO / DISKON MENDAPAT KEUNTUNGAN

 

Siapa sih yang tidak suka diskon? Dapat barang/jasa yang sama dengan harga lebih murah (harga diskon), siapa yang tidak mau?

Seperti yang kita tahu bisnis perdiskonan selalu ada dimana-mana, bisnis A memberi promo inilah, bisnis B memberi diskon sekian % lah, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana bisnis ini (pemberi promo/diskon) bisa mendapat keuntungan kalau mereka mendiskon produknya?

Biasanya mereka yang memberikan promosi/diskon memiliki 2 tujuan utama yaitu:

  • Sebagai sarana marketing yang lebih efisien
  • Meningkatkan penjualan/sales secepat mungkin

Promosi ini bukan hanya sekedar diskon saja, tetapi juga potongan harga dalam bentuk lain seperti give away, buy 1 get 1, dan cashback, lalu keuntungannya dimana? Masalahnya adalah tidak semua yang Anda pikir “diskon” itu benar-benar pure diskon, apapun itu pasti selalu ada tujuan lain yang tersembunyi dibalik promo tersebut.

Inilah cara-cara mereka mendapatkan keuntungan dari Anda:

1. Harga yang sudah di mark up

p2

Ini adalah cara yang paling umum dan paling basi yang biasa kita temukan sehari-hari. Anda pasti sudah sering melihat penawaran promo/diskon yang tinggal 2 minggu lagi, eh ternyata 2 minggu kemudian promonya berlanjut sampai bulan depan, ternyata “diskon” yang mereka berikan hanyalah tipuan angka semata karena harga yang sebenarnya sudah dinaikkan berkali-kali lipat (mark up), tujuannya supaya Anda buru-buru membeli (fake urgency) karena diskon tersebut akan segera berakhir, “seolah” Anda akan rugi jika tidak cepat-cepat membeli produk tersebut.

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah sebuah harga sudah di mark up atau belum?

Cara paling simpel adalah cek secara online harga barang tersebut, karena di online semuanya lebih terbuka termasuk urusan harga. Pastinya setiap bisnis akan memberikan harga terbaik yang bisa mereka tawarkan kepada customer di internet, namun terkadang secara offline mereka (sales person) bisa semena-mena memainkan harga kepada konsumen.

Saya pernah berbelanja di sebuah store dan saat itu salesman mereka berkata harga produk yang ingin saya beli adalah 2 juta (dia bilang sudah diskon 20%), dan saya cek harga resmi di website mereka hanya 1,8 juta, lucunya diskon kok malah lebih mahal.

Memang salah satu cara terbaik membandingkan harga suatu produk adalah dengan mengeceknya secara online, Anda bisa gunakan beberapa website pembanding harga sepertiTelunjuk dan PriceArea untuk melihat harga di pasaran atau bisa juga gunakan marketplace seperti Tokopedia/Bukalapak untuk mencari harga termurah.

2. Mempengaruhi/memanipulasi perilaku konsumsi Anda

p3

Mungkin Anda tidak sadar betapa mudahnya kita dimanipulasi industri/bisnis khususnya oleh pemberi promo dan diskon.

Kita sangat gampang dipengaruhi untuk membuat keputusan-keputusan bodoh seperti membuat kartu kredit yang tidak kita perlukan, menyicil barang-barang yang tidak penting, dan termakan rayuan promosi/diskon yang ada.

Contoh misalnya saya memberi Anda harga 1 juta rupiah untuk salah satu dari ketiga opsi berikut:

  1. Paket perjalanan ke Malaysia + breakfast
  2. Paket perjalanan ke Singapur + breakfast
  3. Paket perjalanan ke Singapur (no breakfast)

Secara tidak langsung Anda akan lebih tertarik pada opsi no. 2 bukan? Mengapa? Karena adanya opsi no. 3 membuat Anda merasa pilihan no. 2 jauh lebih menguntungkan (fake benefit) dan cenderung mengabaikan pilihan no. 1.

Kenyataannya “tipuan opsi” diatas sudah sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti promo-promo yang ada di supermarket atau seperti give away/pemberian hadiah bersyarat dimana Anda harus melakukan “sesuatu” untuk mendapatkan hadiah tersebut.

Memang masyarakat lebih mudah dimanipulasi dengan kata-kata manis seperti “gratis”, “diskon”, “promo”, “give away”, “hadiah” dan semacamnya tanpa mempedulikan konsekuensi yang harus mereka bayar dibalik promosi tersebut.

Memanfaatkan sifat “tidak mau rugi” seseorang terbukti sangat efektif dalam strategi cheap marketing contohnya seperti undian berhadiah yang diadakan untuk menciptakan efek viral yang luar biasa. Terkadang undian tersebut hanyalah permainan orang dalam dimana hadiah yang sebenarnya tidak betul-betul diberikan kepada publik. Tentu tidak semua bisnis seperti itu, ada juga bisnis yang jujur dan betul-betul menepati janjinya, namun perlu diingat bahwa ada kecenderungan seperti ini dalam sebuah bisnis/marketing.

3. Activation

p4

Pernahkah Anda perhatikan situs daily deals seperti Groupon (Disdus), bagaimana merchant bisa mendapat untung jika mereka memberikan harga yang jauh lebih murah (voucher diskon)?

Pertama merchant harus memberikan diskon untuk customer (biasanya 50% atau lebih) dan kemudian profitnya harus dibagi lagi dengan Disdus dimana mereka hanya akan mendapat 20-30% dari keuntungan yang ada.

Dari sisi customer jelas menguntungkan, mereka dapat harga diskon untuk produk/jasa yang sama, Disdus juga untung karena mendapat komisi sekitar 70-80% dari penjualan, yang lebih menjadi sorotan adalah kenapa merchant/penjual mau membanting profit seperti itu?

Jawabannya adalah activation.

Jika kiat lihat situs daily deals kebanyakan menawarkan promo berupa service/jasa dimana merchant sebenarnya tidak terlalu rugi jika jasanya didiskon sebab rata-rata margin profit sebuah bisnis jasa bisa mencapai 70-90%.

Ada juga bisnis yang biaya/cost operasionalnya cenderung sama bahkan disaat tidak ada order sama sekali, contohnya seperti hiburan waterboom, jika dihari tersebut hanya ada 3 konsumen atau 200 konsumen maka biaya operasional yang mereka keluarkan tetap sama, maka dari itu tidak ada ruginya mendiskon harga untuk mendapatkan kuantiti/order yang lebih banyak, toh berapapun konsumennya mereka tetap harus mengeluarkan biaya yang sama.

Selain itu yang paling mahal bagi sebuah bisnis baru adalah bagaimana mengakuisisi seorang customer agar mau memberikan kesempatan kepada mereka, seperti restoran biasanya memberikan diskon untuk membuat customer setidaknya mencicipi makanan mereka, “giving try” inilah yang sebenarnya mahal karena tidak semua bisnis bisa mendapatkan kesempatan untuk dilihat/dicoba oleh customer yang ada.

Jika mereka suka tentu customer akan kembali dan membeli lagi (repeat order) dengan harga yang sudah tidak diskon. Sama seperti langganan sebuah paket hosting, biasanya mereka hanya memberikan promo gila-gilaan saat aktivasi domain/hosting baru, sedangkan harga berikutnya (perpanjangan) berlaku harga normal dan tidak pernah didiskon.

Kuncinya adalah aktivasi. Activation is expensive.

Karena itulah di Disdus sekarang kategori produk seperti gadget dan semacamnya sudah tidak ada, karena jelas merchant sangat rugi jika memberi diskon untuk sebuah produk yang beli putus tanpa kemungkinan repeat order dimasa depan.

4. Mereka memang jual rugi (tidak mencari keuntungan)

p5

Tentu tidak semua promo/diskon bertujuan mencari keuntungan, ada juga pemberi diskon yang memang jual rugi karena berbagai alasan seperti:

  • Cuci gudang atau mau ngabisin stok yang tersisa (daripada ga laku)
  • Produk sudah mulai ketinggalan jaman dan harganya semakin menyusut (biasanya produk elektronik seperti smartphone)
  • Promosi gila-gilaan untuk menarik perhatian secepat-cepatnya

Contohnya startup e-commerce di Indonesia yang belakangan ini semakin menggila dalam memberikan diskon, seperti Tokopedia/Bukalapak yang sering memberi diskon/potongan harga untuk penjual dan pembeli, belum lagi ada cashback, free ongkir, dan lain-lain. Tujuannya apa? Untuk menarik perhatian user secepat-cepatnya, karena dalam bisnis ini mendapatkan market/user base adalah segala-galanya.

Ada juga pemberi diskon yang memang ingin jual rugi karena produknya mulai tidak laku, mereka ingin cepat-cepat menghabiskan stok sebelum produknya semakin tidak berharga.



Pada akhirnya hampir semua bisnis yang ada ditujukan untuk mengambil keuntungan dari Anda sebagai konsumen, walaupun sebagian dari mereka terlihat seperti tidak mencari untung, namun potensi kedepannya itu yang masih belum kita ketahui.

Sekarang memang tidak terlihat namun jika nantinya mereka berhasil membangun kerajaan bisnisnya maka kitalah yang akan didominasi sehingga kita tidak bisa lagi hidup tanpa keberadaan mereka.

Intinya adalah apa yang terlihat murah/gratis belum tentu menguntungkan karena pastinya ada harga dalam bentuk lain yang harus Anda bayar entah itu waktu Anda, perhatian Anda, privasi, atau apapun itu.

 

 

Sumber : solusik.com

Survei: Trend Toko Perkakas di Indonesia

Dengan dibukanya IKEA, survei menunjukan bahwa warga di Jakarta rela menembus macet untuk berbelanja alat rumah tangga.

Dibukanya IKEA di Indonesia menandakan dengan jelas bahwa pasar peralatan rumah tangga yang luas dan terfragmentasi di Indonesia, kini semakin terorganisir. Namun bagaimana pandangan konsumen terhadap toko furnitur yang besar?

gm5

Lamudi, melakukan survei untuk mengukur tanggapan masyarakat mengenai belanja di toko perkakas.

Dari survei yang dilakukan kepada 70 orang ini, sebanyak 87% merasa bahwa toko-toko seperti ini mempunyai dampak yang positif bagi lingkungan mereka.

Walau masyarakat menyukai toko seperti itu, hal menarik juga terlihat dari bagaimana mereka mengunjungi beragam toko yang serupa.

Rata-rata masyarakat telah mengunjungi lebih dari satu toko furnitur besar. ACE Home Center merupakan toko paling populer yang dipilih masyarakat, dengan Courts menjadi yang paling jarang dikunjungi.

Dan meskipun IKEA baru dibuka selama satu bulan, 25% peserta survei mengatakan mereka telah mengunjungi toko tersebut.

Survei juga menunjukan bahwa orang di Jakarta rela menempuh kemacetan untuk mendatangi toko yang mempunyai kualitas produk yang mereka anggap lebih baik.

Keputusan membeli juga biasanya direncanakan sebelumnya dan bukan secara spontan, seperti yang dikatakan oleh 64% peserta survei.

Karena itu, dalam menentukan toko terbaik, sebanyak 54% menentukan berdasarkan kualitas produk dan 36% berdasarkan harga. Hanya 10% yang menjadikan lokasi toko sebagai alasan mereka.

Sementara itu, 57% responden survei merasa ekspektasi harga yang tidak sesuai menjadi alasan mereka tidak melakukan pembelian, meski 71% merasa harga produk tersebut masih masuk akal.

Namun melihat 87% responden yang merasa kualitas produk tersebut cukup baik atau lebih bagus, menandakan bahwa konsumen tidak hanya menilai produk tersebut secara satu dimensi, namun dua dimensi – yaitu kualitas bagus dengan harga yang terjangkau.

Info unik lainnya yang ditemukan dalam survei tersebut adalah sebagian besar (57%) pengunjung toko tersebut bukan datang untuk membeli furnitur. Aksesoris rumah (sprei, handuk, dan lainnya) adalah kategori yang paling populer, diikuti peralatan dapur dan furnitur sebagai produk paling banyak yang mereka beli.

Hal ini masuk akal mengingat sebagian besar dari mereka mengaku hanya menghabiskan kurang dari dua juta per transaksi.

Indonesia sendiri mempunyai industri furnitur yang berkembang karena upah yang kompetitif, ketersediaan pengrajin dan kepemilikan bahan utama – kayu.

ASMINDO (Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia) menaksir bahwa pada tahun 2012 ekspor furnitur sendiri bernilai 32,7 triliun rupiah.

Konsumsi domestik bernilai 8,4 triliun rupiah dan dengan lebih dari 4000 perusahaan yang terlibat membuat pasar ini sangat terpecah.

Seiring dengan naiknya pasar properti, berkembangnya kelas menengah dan sebagai ekonomi terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia masih menjadi incaran utama bagi retail furnitur. Tidak diragukan ini adalah hal yang juga menarik perusahaan seperti IKEA untuk membuka cabangnya di Indonesia.

Sumber : marketing.co.id

Menilik Keunikan Service Improvement D’Cost

D-Cost-Seafood

Kiranya tak banyak restoran seafood yang memperhatikan aspek inovasi melalui program promosi untuk menciptakan keunggulan layanan. D’Cost salah satunya. Restoran milik Christian Sia yang berdiri sedari 2006 berhasil tumbuh pesat dan agresif berkat improvement program promosi yang kreatif unik. Saat ini jumlah gerai yang terdaftar di website mereka hampir 80 buah. Gerai umumnya ada di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Sebelum menilik keunikan service improvement D’Cost, patut diketahui jika restoran seafood ini juga memiliki keunggulan operasional dalam menjalankan aktivitas bisnis. Salah satunya adalah kecepatan pelayanan. Selain memiliki kapasitas restoran hingga ratusan kursi dengan ruangan sejuk dan nyaman, D’Cost juga mengembangkan pelayanan otomatis menggunakan kemajuan teknologi komputer.

Awalnya restoran mencatat pesanan makanan pada PDA (personal data assistant). Namun selanjutnya proses operasional berganti, pencatatan pesanan dilakukan dengan komputer tablet. Proses otomatis cukup sederhana, saat pelayan mencatat maka saat itu juga data pesanan terbaca di dapur. Bahkan proses pencatatan pesanan tersebut kini dipercepat melalui kartu-kartu menu yang bisa diakses pelanggan secara langsung.

Setiap kartu menu memiliki barcode spesifik, sehingga memudahkan petugas di konter menandai menu yang dipilih pelanggan sebagai daftar pesanan yang langsung diproses di dapur.

Keunggulan operasional D’Cost menopang konsep-konsep improvement yang berbentuk promosi kreatif, unik. Promosi umumnya terkait potongan harga. Namun bukan sekadar diskon sebagai value yang ditonjolkan, namun terdapat aspek engagement yang secara jeli berhasil dibidik Manajemen D’Cost untuk mempertahankan keunggulan dalam setiap pelayanan.

  1. Promosi diskon umur, diberikan kepada pelanggan berdasarkan umur yang tertera di KTP. Pada periode promosi banyak lansia yang dibawa keluarganya makan di D’Cost demi mendapatkan diskon besar. Semakin berumur, semakin besar diskonnya. Menarik kan?
  2. Promosi diskon gerombolan, diberikan kepada pengunjung paling sedikit dua orang, paling banyak 30. Wow!
  3. Promosi up to you price, pelanggan boleh makan sepuasnya dan bayar sesukan hati. Program biasanya berlaku di gerai baru D’Cost. Umumnya berhasil membuat geger, karena membuat bingung pelanggan dengan pelayanan “nyeleneh”. Misalnya pelanggan hanya membayar Rp 1, untuk berbagai menu menggunakan kartu kredit. Sungguh unik!
  4. Promosi hamil baru bayar, berlaku bagi pengantin yang terbatas anggaran pernikahannya. Mereka boleh memesan paket pernikahan untuk 300 undangan dengan pembayaran saat sudah hamil. Mantab!
  5. Promosi menu untuk fans, berlaku bagi pelanggan yang sudah mengikuti facebook page D’Cost. Pelanggan bisa mendaftar dan memesan di gerai D’Cost tertentu dengan diskon spesial.
  6. Promosi bayar uang dan doa, merupakan program yang diselenggarakan untuk memperingati hari besar keagamaan di Indonesia. Untuk mengikuti promosi ini pelanggan cukup menuliskan doa apa saja di formulir yang tersedia, dan setelah itu dapat membayar makanan dengan uang dan doa.

Sumber : shiftindonesia.com

Mensiasati Mudik sebagai ajang pamer untuk meningkatkan efektifitas strategi ” Product Branding”

Selamat pagi para pembaca setia kawanpendi semua, selamat merayakan hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan. Taqabbalallahu Minna Waminkum Taqabbal Ya Karim, Mohon maaf lahir batin ya, para readers semua.Ulasan kali ini, masih mengkiblat dari tulisan pak Yuswohady, jagoan marketer kita. Sengaja pada momen lebaran ini, saya tertarik untuk mengulas tentang budaya mudik berlebaran di kampung halaman. Karena begitu kuatnya magnet momen lebaran ini, sampai sampai saya sengaja menginap di Bandara Soekarno Hatta semalam, sambil menunggu flight jam 5 pagi. Dan sengaja saya tidak menggunakan jasa travel sebagaimana perjalanan mudik saya tahun tahun sebelumnya, dan memilih ikut berjibun di bus ekonomi dari terminal Purabaya, dilanjut di terminal Arjojasi di Malang.

Mengamati perilaku para pemudik di kampung, saya sampai kepada kesimpulan bahwa tradisi mudik adalah medium yang pas dan efektif untuk pamer ke anggota keluarga, kerabat, dan seluruh tetangga di kampung.

Kenapa pamer? Karena merantau ke Jakarta telah menjadi simbol kehidupan yang lebih baik: lebih sukses, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih modern, lebih urban (“tidak udik” alias “tidak katrok”), lebih keren. Karena itu ketika mereka kembali ke kampung, simbol-simbol dan atribut-atribut kesuksesan itu harus dipertunjukkan. Syukur alhamdulillah, tradisi mudik memfasilitasi mereka untuk bisa memamerkan kesuksesan.

Tentu saja tak semua perantau menuai kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang justru terpuruk begitu mengadu nasib di Jakarta. Tapi itu tak menjadi masalah. Citra bahwa mereka lebih sukses di Jakarta haruslah habis-habisan ditegakkan. Demi membangun citra sukses ini, kalau perlu mereka ngutang atau “menyekolahkan” sepeda motornya ke Pegadaian.

Ada tiga jenis pamer yang dilakukan para pemudik selama mereka di kampung. Coba kita lihat satu-persatu.

Pamer Kesuksesan
Ukuran kesuksesan di Jakarta biasanya tak jauh dari dua hal, yaitu: pekerjaan yang lebih baik-terhormat-elit dan penghasilan yang lebih tinggi. Menjadi buruh pabrik sepatu di Tengerang tentu saja lebih mending ketimbang berkubang mengerjakan sawah di kampung. Karena itu mereka yang menjadi buruh pabrik bisa memamerkan kehebatan pekerjaan mereka ke kerabat dan tetangga di kampung, walaupun gaji sedikit di atas UMR. Di kalangan pekerja migran, pamer kesuksesan juga bisa diwujudkan dalam bentuk besarnya uang kiriman ke keluarga di kampung. Kirimannya makin besar, maka tentu saja itu indikasi kita makin sukses.

Mereka yang lebih beruntung menjadi pekerja kantoran di Jakarta lebih mudah lagi memamerkan kesuksesannya. Mereka tinggal menyebutkan dirinya bekerja diPerusahaan X, Bank Y, atau Departemen Zyang berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta, bahkan ketika kerabat dan tetangga di kampung tidak menanyakan. Namanya orang kampung, mendengar Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang memang terkenal karena sering muncul di TV dan koran, mereka langsung mengira siapapun yang bekerja di situ pasti orang sukses: kerjanya enak dan gajinya selangit.

Pamer Gaya Hidup
Hidup di Jakarta memang sebuah impian karena kita mendapatkan segala kemewahan hidup yang tidak ada di kampung. Kita bisa merasakan nikmatnya fast food McD atau KFC; belanja supernyaman, supermudah, dan supersejuk di Carrefour; window shopping akhir pekan di mal-mal yang bertabur merek-merek hebat; berlibur ke Dufan, Taman Mini, atau melancong ke Trans Studio di Bandung. Ini semua menjadi sebuah gaya hidup yang kita impikan.

Hidup di Jakarta juga ditandai dengan kehidupan yang selalu sibuk, serba penting, serba terjadwal, serba cepat, serba praktis, serba efisien. Ini berbeda dengan di kampung yang serba lambat dan serba tidak penting. Ini semua, sekali lagi, menjadi gaya hidup  Jakarta yang sudah terlanjur dianggap sebagai model gaya hidup “impian” yang selalu kita dambakan.

Sadar maupun tidak sadar gaya hidup impian ini kita pamerkan kepada kerabat dan tetangga di kampung selama kita mudik. Karena itu tak mengherankan jika tiap tahun pak Fauzie Bowo pusing karena arus orang kampung yang pergi mengadu nasib ke Jakarta kian bertambah dari tahun ke tahun bersamaan dengan kembalinya para pemudik ini ke Jakarta.

Pamer Hedonisme
Jakarta adalah tempat yang ideal bagi tumbuh suburnya hedonisme: berbelanja membabi-buta, berbusana yang selalu mengikuti tren, konsumsi yang berlebihan, unjuk kemewahan, dan sebagainya. Celakanya, hedonisme Jakarta ini dengan sangat pas digambarkan oleh adegan-adegan dalam sinetron kita. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam waktu satu-dua tahun tinggal di Jakarta, penyakit hedonisme Jakarta ini sudah mulai merasuki sanubari tanpa kita bisa menghentikannya.

Selama mudik, hedonisme Jakarta ini kita pamerkan ke kerabat dan tetangga di kampung dalam beragam bentuk. Saat kita mengajak keluarga atau kerabat berbelanja baju di toko  atau pasar. Saat kita membelikan berbagai perlengkapan elektronik untuk bapak-ibu di kampung mulai dari TV flat, lemari es, hingga rice cooker. Saat kita mentraktir mereka makan di warung terbaik di kampung. Hedonisme juga bisa dipamerkan melalui perhiasan yang kita pakai, gadget termutakhir yang kita beli, atau baju glamour yang kita kenakan selama di kampung.

Saya sering mengatakan tugas marketer adalah 80% mengamati perilaku konsumen dan 20% menyusun/mengeksekusi strategi berdasarkan pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut. Apa yang saya uraikan di atas adalah cermin dari anxietydesirepara konsumen mudik kita. Keberhasilan menangkap anxiety-desire ini akan menentukan keberhasilan program lebaran marketing Anda. Lalu apa kaitannya dengan product branding ? Pernahkah anda mengamati pakaian para perantau yang mudik ke kampung halamannya? Pernahkah anda memetakan kemudian mengidentifikasi dan mengklasisfikasi mereka berdasar merk baju, merk tas, tata cara berpakaian, termasuk pada HP yang mereka gunakan?Beberapa variabel yang saya gunakan diatas seringkali mewakili kemampuan beli dan kecenderungan konsumsi para pemudik, dan tentunya dengan variabel tersebut sedikit banyak kita bisa menduga dikalangan komunitas yang seperti apa mereka. Menurut hasil penelitian, generasi Y yang memang sedang merajai struktur demografi penduduk Indonesia ini, lebih cenderung bersifat “community engagement”, ketika ada salah seorang anggota komunitas mereka memperkenalkan sebuah produk dan membuat reviewnya, maka kemungkinan besar anggota lain akan mengikutinya. Bahkan efektifitas kegiatan branding ini lebih tinggi daripada aktifitas iklan. Itulah mengapa kalau anda amati, seringkali iklan di Televisi menampilkan sosok komunitas muda mudi yang sedang menikmati sebuah brand produk. Komunitas inilah yang menjadi sasaran yang tepat, ketika mereka sedang pulang kampung untuk mudik berlebaran tak ada salahnya kita memberinya discount, atau bahkan sampai menggratiskan produk yang sedang kita besut untuk mereka kenakan, dengan harapan produk kita kemudian dikenakan, direview dan kemudian diperkenalkan ke komunitasnya.

Selamat mencoba