Psikologi Konsumen : Gen Z dan pengaruhnya terhadap keputusan Belanja keluarga

Generation-Z-Infographic

Generasi Z sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Hal ini dikarenakan perilaku mereka yang lekat dengan teknologi digital. Bisa dikatakan teknologi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian mereka. Ada yang mengatakan Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1994 sampai tahun 2004.

Mereka lahir dan tumbuh ditengah merebaknya teknologi digital, sehingga ada yang menjuluki mereka sebagai generasi digital native. Generasi digital native bisa menggunakan teknologi digital tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Mereka lebih mengedepankan trial and error ketika menggunakan fitur-fitur teknologi digital.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti generasi X (lahir 1965 – 1980) dan generasi Y lahir lahir (1981 -1995). Dua generasi ini mengalami tahap belajar untuk memahami teknologi digital. Masih ingat, dulu pernah marak kursus komputer untuk “mengajari” dua generasi ini teknologi digital. Bahkan, selembar sertfikat kursus komputer bisa sangat bermanfaat untuk masuk dunia kerja.

Lalu apa yang mesti dicermati pemasar dari Gen Z? Meski masih belia, Gen Z ternyata punya pengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian keluarga. Hal ini sesuai dengan survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) baru-baru ini. Nielsen Indonesia mengkategorikan Gen Z sebagai generasi dengan rentang usia 10 – 19 tahun. Survei CMV dilakukan terhadap lebih dari 17.000 responden usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Hasil survei Nielsen CMV kuartal II 2016, ada dua keputusan pembelian dimana Gen Z punya andil. Sebesar 47% anak-anak(usia10-14tahun) memiliki pengaruh terhadap keputusan untuk berlibur, dan 33% terhadap keputusan untuk membeli produk elektronik. Sementara itu, konsumen remaja (usia 15-19 tahun) memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan untuk berlibur (67%) dan keputusan membeli produk elektronik (62%).

“Lahir pada era digital, Gen Z memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dan bahkan pada usia yang sangat muda mereka sudah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan membeli dalam keluarga. Pemahaman mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam mengonsumsi media akan membuka peluang bagi para pemilik merek dan pemasar untuk dapat membangun hubungan jangka panjang denganmereka,” ujar Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business, Nielsen Indonesia.

Survei tersebut juga menemukan, olahraga menjadi kegiatan paling disukai anak-anak (48%) dan remaja (44%). Kegiatan berikutnya yang paling disukai menonton TV, yaitu 38% pada anak-anak dan 32% pada remaja, dan mendengarkan musik 17% pada anak-anak dan 25% pada remaja. Sebesar 11% anak-anak menyatakan kegiatan yang mereka sukai setelah mendengarkan musik membaca buku. Sementara itu, untuk remaja, kegiatan lain yang lebih disukai setelah mendengarkan musik menjelajah internet (17%).

Temuan diatas menunjukkan Gen Z masih dapat dijangkau media, termasuk media tradisional. Televisi, Internet dan Radio merupakan media utama yang mereka akses .Selain penetrasi TV terrestrial masih yang tertinggi (diatas 95% pada anak-anak dan remaja), penetrasi TV berbayar juga mencapai 10%.

Pola konsumsi internet juga memperlihatkan peningkatan dalam lima tahun terakhir, dimana pada kuartal kedua2016 penetrasi internet pada anak-anak 45%, meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Pada remaja angkanya 81%, meningkat 29% dibandingkan dengan kuartal kedua 2011. Rata-rata remaja menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengakses internet (2 jam 29 menit) dan radio (2 jam 20 menit), sementara anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu dengan 1 jam 37 menit untuk internet dan 1 jam 45 menit untuk radio.

z

Mayoritas Gen Z Menonton Televisi Akhir Pekan

Nielsen TAM (TV Audience Measurement) dilakukan terhadap lebih dari 8,000 responden berusia 5 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassardan Banjarmasin). Hasil pengukuran tersebut tertuang dalam nilai rating, sharedan indeks.

Data Nielsen TAM periode April-Juni 2016, menunjukkan anak-anak dan remaja lebih banyak menonton televisi pada waktu pagi di akhir pekan.  Dalam lima tahun terakhir, Program Serial masih menjadi genre yang paling banyak ditonton Gen Z, namun peningkatan penonton terjadi untuk genre Program Anak dan Hiburan. Tahun ini anak-anak menyukai FTV, terlihat dari tingginya rating yang diperoleh beberapa judul FTV selama periode April-Juni 2016 pada penonton usia 10-14 tahun ini seperti Pangeran di Kandang Bebek yang mendapatkan rating 6,6 dan Mengejar Cinta Dosen Cantik dengan rating 5,8. Penonton remaja lebih memilih tayangan yang beragam tak hanya FTV, tetapi juga program Olahraga dan Hiburan.

Gen Z  Selalu Terhubung dengan Internet

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, akses internet telah menjadi kebutuhan bagi Gen Z. Bila lima tahun lalu Warung Internet (Warnet) menjadi pilihan utama bagi anak-anak (81%) dan remaja (56%) untuk mengakses internet. Di  tahun ini Warnet tergantikan oleh rumah, dimana 49% anak-anak dan 62% remaja mengakses internet dari rumah mereka. Angka tersebut meningkat dari 7% pada anak-anak dan 9% pada remaja. Sebesar 93% anak-anak dan 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkatmobile seperti smartphone atau iPad. Aktifitas yang paling banyak dilakukan Gen Z dengan internet berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, bermain game dan mendengarkan musik.

Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Gen Z

Meskipun Televisi dan Internet menjadi media favorit bagi Gen Z, namun tidak sedikit dari anak-anak dan remaja yang masih mendengarkan radio. Nielsen Radio Measurement (RAM) mengukur perilaku mendengar radio terhadap lebih dari 8,400 responden berusia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Temuan (RAM) kuartal kedua tahun ini menunjukkan tingkat penetrasi Radio pada konsumen Gen Z sebesar 20% lebih, tertinggi di kota Palembang 98%. Dari sisi waktu mendengarkan radio, anak-anak di Surakarta menghabiskan waktu terbanyak dengan rata-rata 159 menit per hari, dan untuk remaja terbanyak di Denpasar dengan rata-rata waktu 155 menit per hari. Mereka lebih banyak mendengarkan radio melalui perangkat mobile – Remaja 39% dan Anak-anak 20%. Lagu Pop Indonesia merupakan genre lagu yang paling disukai remaja (57%) dan Anak-anak (46%).

Temuan lain, Gen Z ternyata pengunjung bioskop yang setia. Di 11 kota yang disurvei Nielsen, rata-rata anak-anak pergi ke bioskop 9 kali dalam satu tahun, dan remaja 11 kali dalam satu tahun. Dengan kata lain, hampir setiap bulan mereka pergi menonton di bioskop.

 

 

sumber ; marketing.co.id

Brand Switching Analysis dalam Industri Ritel Modern

Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket.

ritel1

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 237 juta jiwa dengan total konsumsi sekitar Rp3.600-an triliun merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Ini didukung oleh perilaku berbelanja penduduk Indonesia yang sudah mulai bergeser, dari berbelanja di pasar tradisional menuju ritel modern.

Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi penanaman modal asing (PMA), sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia. Masuknya ritel asing dalam bisnis ini menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hipermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta. Misalnya Carrefour, dalam enam tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta, termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Palembang, dan Makassar.

Semakin maraknya ritel modern tentu saja menimbulkan persaingan sesama ritel modern tersebut. Selain itu, maraknya ritel modern memudahkan konsumen untuk memilih ritel yang disukai dan cocok dengan keinginan konsumen. Sehingga konsumen dengan mudah bisa berganti ritel modern yang dikunjungi, atau tetap loyal dengan satu ritel karena sudah merasa cocok.

Survei Top Brand yang mengukur tiga parameter, yaitu TOM BA, last usage, dan future intention, selain digunakan untuk mengetahui Top Brand Index, bisa juga digunakan untuk mengetahui perilaku switchingkonsumen. Berikut ditampilkan perilaku switching konsumen berdasarkan hasil survei Top Brand 2012, atribut last usage dan future intention, untuk kategori hipermarket, supermarket, dan minimarket.

Berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Carrefour, Hypermart, dan Lotte Mart merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung merek tersebut yang akan berpindah menggunakan merek lain (switching out). Sebaliknya, Giant, Superindo, dan Brastagi, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif.

ritel3ritel4

Bagaimana dengan supermarket? Berdasarkan brand switching analysisdi atas, terlihat bahwa Hero merupakan satu-satunya merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi Hero (switching in) lebih banyak dari pengunjung Hero yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Superindo, Griya, dan Tip-top, net switching ketiga merek tersebut bernilai negatif. Sedangkan ADA diprediksikan stagnan.

Kemudian untuk minimarket, berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Alfamart, Yomart, dan 7-eleven merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka net switching ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung ketiga merek tersebut yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Indomaret dan Alfamidi, net switching kedua merek tersebut bernilai negatif.

Bagi merek-merek yang memiliki net switching negatif harus berhati-hati dan berusaha melakukanimprovement agar prediksi tersebut tidak terjadi. Demikian juga dengan merek yang sudah memiliki angka net switching positif, mereka harus mempertahankan atau meningkatkan performance mereka sehingga prediksi dari brand switching analysis tersebut benar-benar terjadi.

 

 

Sumber : Apipudin dalam Marketing.co.id

Consumer 3000 dan Maleolitikum : Pergeseran Kehidupan Mall para kelas Menengah.

mall

Ada suatu fenomena titik balik yang beberapa tahun belakangan ini muncul di kalangan sebagian kecil kelas menengah (C3000): weekend tanpa ke mall. Kelas menengah yang biasa gandrung banyak menghabiskan waktu akhir pekan pergi ke mall (mallism), kini sadar tentang dampak negatif terlalu sering menghabiskan waktu keluarga di mall dan mulai berkampanye tentang pentingnya weekend tanpa ke mall. Kita bisa melihat bentuk kesadaran gerakan kampanye mereka ini dalam bentuk WTM (weekend tanpa ke mall) yang sudah marak di media sosial dan aktivitas liburan yang mereka gelar sendiri. WTM telah menjadi gerakan dan komunitas masyarakat untuk mencari alternatif liburan saat akhir pekan.

Mengapa muncul gerakan dan kampanye WTM ini? Saya menduga hal ini disebabkan oleh sudah saking mendarah-dagingnya jalan-jalan ke mall di setiap akhir pekan pada mayoritas kalangan warga kelas menengah ibu kota ataupun second cities lainnya. Lihatlah mall-mall di berbagai kota hampir tidak pernah sepi dikunjungi oleh kelas menengah. Ketika hari-hari biasa banyak waktu dihabiskan untuk bekerja (orang tua) dan sekolah (anak), maka waktu akhir pekan mereka tumpahkan semua waktunya di mall. Di Jakarta, hampir sehari penuh orang menghabiskan waktu di mall saat akhir pekan, baik dalam satu mall ataupun pindah-pindah ke berbagai mall. Di mall, mereka bisa memilih tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga seperti makan di restoran, belanja kebutuhan sehari-hari, nonton film di bioskop, bermain di arena permainan atau taman, karokean, dll.

Namun, justru terlalu sering menghabiskan waktu di mall, maka sebagian kecil kelas menengah mengambil inisiatif untuk kampanye WTM ini. Adanya WTM, bukan berarti mereka anti terhadap keberadaan mall. WTM ini sebagai upaya meminimalisir waktu akhir pekan yang banyak disibukkan di mall. Selain dinilai terlalu mainstream, liburan ke mall dinilai kurang memberikan dampak positif bagi keluarga, sehingga diperlukan alternatif baru untuk menghabiskan waktu keluarga di akhir pekan. Mall dinilai sudah cukup basi, dan kini pilihannya mereka pergi ke taman rekreasi, pasar becek, perkebunan, area bermain ruang terbuka hijau, dll. Mereka mulai mencari-cari tempat-tempat baru yang mengesankan.

Mallism
Sekitar dua tahun yang lalu, pakar pemasaran Yuswohady pernah menulis tentang fenomena “Mallism”. Mallism adalah sebuah cerminan para “pemuja” mall. Ini merefleksikan bahwa pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup kelas menengah. Tiada hari tanpa pergi ke mall. Belanja, nongkrong, menjamu tamunya, kopdar dengan kerabat, meeting pekerjaan, mengasuh anak, dll., yang semuanya dilakukan di mall. Praktis, hampir semua kegiatan yang dilakukan oleh kelas menengah adalah di mall. Maka, tak heran apabila pergi ke mall sudah mendarah daging dalam aktivitas kelas menengah Indonesia. Karena itu, managing partner dari Inventure itu menyebut era saat ini adalah Maleolitikum.

Oleh karena pergi ke mall telah menjadi bagian gaya hidup, hal ini telah menyebabkan permintaan pembangunan mall tak pernah berhenti dari para pengembang. Kabarnya, Jakarta adalah kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Kini, pertumbuhan jumlah mall di ibu kota mulai dibatasi oleh Pemerintah Daerah. Tetapi, tak kalah siasat, kini para pengembang pun mulai mengincar area-area pinggiran ibu kota atau second cities untuk membangun mall. Mereka sangat agresif tumbuh di daerah-daerah pinggiran seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Saat ini justru di daerah pinggiranlah, sebenarnya para pengembang mendapatkan momentum “euforia konsumsi” pada kelas menengah. Dalam hasil penelitiannya berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s PotentialMcKinsey menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi wilayah second cities akan jauh lebih atraktif dibandingkan Jakarta. Second cities itu antara lain Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, dll. Sebagian besar orang menganggap bahwa Jakarta adalah potret daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi besar dan cepat. Tetapi, melihat data yang diungkapkan McKinsey bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2010 hanya mencapai 5,8%, sementara second cities rata-rata mencapai 6,7%. Prediksi di tahun 2030, second cities akan tumbuh lebih besar dari Jakarta yakni sekitar 9,1%, sementara ibu kota mencapai 5,1%.

Mengapa second cities bisa tumbuh eksplosif? Mengapa pengembang properti sangat bergerak dinamis membangun mall di second cities? Ini tidak lepas dari euforia konsumsi yang terjadi pada kelas menengah pada daerah second cities. Secara evolutif, kebutuhan mereka terhadap konsumsi barang atau layanan kian advance. Untuk itu, para pengembang mall pun sudah ekspansi ke daerah-daerah. Contohnya, dalam beberapa tahun ke depan, di Jogja akan didirikan mall-mall besar dan kelas atas untuk menangkap peluang tingginya gairah konsumsi masyarakat lokal. Rupanya, warga yang tinggal di Jogja kini punya hobi baru euy: jalan-jalan ke mall.

Komplet
Mengapa mall bisa sangat digandrungi oleh kelas menengah Indonesia? Hal ini tidak lepas dari proses evolusi mall yang kian komplet dalam menyediakan kebutuhan kelas menengah. Apa yang dibutuhkan konsumen, hampir semuanya ada di mall. Dalam satu tempat, konsumen bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan: berbelanja dengan diskon menarik, produk yang lengkap (sembako, fesyen, elektronik, buku, dll), fasilitas lengkap nan nyaman (parkir, tempat makan keluarga, mushola, arena bermain anak, konser musik, dll), dan akses lokasi terjangkau. Bisa Anda bayangkan, semua kemudahan ini terletak dalam satu tempat bernama mall, sehingga tak jarang kelas menengah merasa betah menghabiskan waktu akhir pekan di mall daripada tempat lain.

Kini, muncul tren bahwa hampir setiap mall berlomba-lomba menciptakan great customer experience dengan menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang sehingga kelas menengah akan merasa bebas dan nyamanMushola adalah salah satunya. Seperti hasil survei kami tentang kelas menengah muslim bahwa mereka adalah jenis konsumen yang konsumtif sekaligus religius. Melihat karakteristik ini, para pengelola mall berkompetisi membangun mushola yang modern dan nyaman bagi pengunjung, seperti di Mall Kelapa Gading, Senayan City, Pondok Indah Mall, Kota Kasablanca, dll.. Adanya mushola di mall memberikan kenyamanan dan kebebasan para pengunjung untuk bisa bertahan seharian di dalam mall. Mereka bisa menunaikan gaya hidup konsumtif sekaligus tetap melakukan kegiatan berdoa di mushola. Komplet, hehehe…

Namun, seiring dengan kenyamanan menghabiskan waktu berlibur di mall, justru di kalangan sebagian kecil kelas menengah mulai muncul kekhawatiran tentang dampak negatif liburan ke mall. Apa saja dampak negatifnya? Apa yang saya amati dari keluhan mereka adalah anak kian menjadi konsumtif, potensi obesitas pada anak karena sering jajan junk food, pengeluaran keluarga membengkak (besar pasar daripada tiang), anak menjadi kurang kreatif karena main di mal lebih sering virtual, dll. Banyaknya dampak negatif inilah yang mendorong mereka untuk mencari liburan alternatif daripada pergi ke mall.

Titik Balik
Dalam setahun terakhir ini, muncul fenomena ramainya Pasar Santa Jakarta. Pasar Santa adalah pasar rakyat yang kini menjadi tempat nongkrong idola anak-anak muda gaul dan keluarga di daerah Jakarta yang sedang ngetren. Awalnya, pasar ini adalah pasar biasa yang cenderung diisi oleh lapisan masyarakat bawah di daerah Jakarta Selatan, sehingga bentuk desain tidak begitu modern. Pasar ini pun kemudian berubah menjadi tempat nongkrongnya anak-anak gaul. Outlet-outlet didesain dengan modern dan artistik, sehingga terkesan cool dan berkelas. Pasar ini pun kini menjadi alternatif tempat nongkrong dan makan para anak muda ataupun keluarga di akhir pekan. Mereka adalah kelas menengah yang sudah jenuh dan bosan pergi mall, karena mall sudah terlalu mainstream, maka pasar becek yang diubah lebih cool menjadi alternatif tempat nongkrong.

Selain pergi ke Pasar Santa, kini juga mulai muncul tren adanya wisata edukasi alam atau outbound untuk kaum dewasa maupun anak-anak di daerah Bogor ataupun Bandung. Wisata edukasi ini bertujuan memperkenalkan keanekaragaman hayati alam pada anak, baik di sawah, sungai, hutan, kebun, dll. Apabila anak bermain di mall dinilai lebih pasif dan konsumtif, maka dengan wisata edukasi ini, anak-anak diharapkan menjadi lebih aktif, bergaul, tahu alam, lebih sehat, dan senang.

Ini adalah fenomena titik balik, di mana kelas menengah telah mengalami kejenuhan untuk pergi menghabiskan waktu di mall saat weekend. Ketika mereka memilih untuk tidak pergi ke mall, maka mereka akan memilih untuk pergi ke tempat yang dinilainya alternatif. Tempat-tempat itu antara lain: taman, car free day, tempat wisata kuliner, gunung, dll.

 

 

Sumber ; iryanah.com

BAGAIMANA CARA PEMBERI PROMO / DISKON MENDAPAT KEUNTUNGAN

 

Siapa sih yang tidak suka diskon? Dapat barang/jasa yang sama dengan harga lebih murah (harga diskon), siapa yang tidak mau?

Seperti yang kita tahu bisnis perdiskonan selalu ada dimana-mana, bisnis A memberi promo inilah, bisnis B memberi diskon sekian % lah, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana bisnis ini (pemberi promo/diskon) bisa mendapat keuntungan kalau mereka mendiskon produknya?

Biasanya mereka yang memberikan promosi/diskon memiliki 2 tujuan utama yaitu:

  • Sebagai sarana marketing yang lebih efisien
  • Meningkatkan penjualan/sales secepat mungkin

Promosi ini bukan hanya sekedar diskon saja, tetapi juga potongan harga dalam bentuk lain seperti give away, buy 1 get 1, dan cashback, lalu keuntungannya dimana? Masalahnya adalah tidak semua yang Anda pikir “diskon” itu benar-benar pure diskon, apapun itu pasti selalu ada tujuan lain yang tersembunyi dibalik promo tersebut.

Inilah cara-cara mereka mendapatkan keuntungan dari Anda:

1. Harga yang sudah di mark up

p2

Ini adalah cara yang paling umum dan paling basi yang biasa kita temukan sehari-hari. Anda pasti sudah sering melihat penawaran promo/diskon yang tinggal 2 minggu lagi, eh ternyata 2 minggu kemudian promonya berlanjut sampai bulan depan, ternyata “diskon” yang mereka berikan hanyalah tipuan angka semata karena harga yang sebenarnya sudah dinaikkan berkali-kali lipat (mark up), tujuannya supaya Anda buru-buru membeli (fake urgency) karena diskon tersebut akan segera berakhir, “seolah” Anda akan rugi jika tidak cepat-cepat membeli produk tersebut.

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah sebuah harga sudah di mark up atau belum?

Cara paling simpel adalah cek secara online harga barang tersebut, karena di online semuanya lebih terbuka termasuk urusan harga. Pastinya setiap bisnis akan memberikan harga terbaik yang bisa mereka tawarkan kepada customer di internet, namun terkadang secara offline mereka (sales person) bisa semena-mena memainkan harga kepada konsumen.

Saya pernah berbelanja di sebuah store dan saat itu salesman mereka berkata harga produk yang ingin saya beli adalah 2 juta (dia bilang sudah diskon 20%), dan saya cek harga resmi di website mereka hanya 1,8 juta, lucunya diskon kok malah lebih mahal.

Memang salah satu cara terbaik membandingkan harga suatu produk adalah dengan mengeceknya secara online, Anda bisa gunakan beberapa website pembanding harga sepertiTelunjuk dan PriceArea untuk melihat harga di pasaran atau bisa juga gunakan marketplace seperti Tokopedia/Bukalapak untuk mencari harga termurah.

2. Mempengaruhi/memanipulasi perilaku konsumsi Anda

p3

Mungkin Anda tidak sadar betapa mudahnya kita dimanipulasi industri/bisnis khususnya oleh pemberi promo dan diskon.

Kita sangat gampang dipengaruhi untuk membuat keputusan-keputusan bodoh seperti membuat kartu kredit yang tidak kita perlukan, menyicil barang-barang yang tidak penting, dan termakan rayuan promosi/diskon yang ada.

Contoh misalnya saya memberi Anda harga 1 juta rupiah untuk salah satu dari ketiga opsi berikut:

  1. Paket perjalanan ke Malaysia + breakfast
  2. Paket perjalanan ke Singapur + breakfast
  3. Paket perjalanan ke Singapur (no breakfast)

Secara tidak langsung Anda akan lebih tertarik pada opsi no. 2 bukan? Mengapa? Karena adanya opsi no. 3 membuat Anda merasa pilihan no. 2 jauh lebih menguntungkan (fake benefit) dan cenderung mengabaikan pilihan no. 1.

Kenyataannya “tipuan opsi” diatas sudah sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti promo-promo yang ada di supermarket atau seperti give away/pemberian hadiah bersyarat dimana Anda harus melakukan “sesuatu” untuk mendapatkan hadiah tersebut.

Memang masyarakat lebih mudah dimanipulasi dengan kata-kata manis seperti “gratis”, “diskon”, “promo”, “give away”, “hadiah” dan semacamnya tanpa mempedulikan konsekuensi yang harus mereka bayar dibalik promosi tersebut.

Memanfaatkan sifat “tidak mau rugi” seseorang terbukti sangat efektif dalam strategi cheap marketing contohnya seperti undian berhadiah yang diadakan untuk menciptakan efek viral yang luar biasa. Terkadang undian tersebut hanyalah permainan orang dalam dimana hadiah yang sebenarnya tidak betul-betul diberikan kepada publik. Tentu tidak semua bisnis seperti itu, ada juga bisnis yang jujur dan betul-betul menepati janjinya, namun perlu diingat bahwa ada kecenderungan seperti ini dalam sebuah bisnis/marketing.

3. Activation

p4

Pernahkah Anda perhatikan situs daily deals seperti Groupon (Disdus), bagaimana merchant bisa mendapat untung jika mereka memberikan harga yang jauh lebih murah (voucher diskon)?

Pertama merchant harus memberikan diskon untuk customer (biasanya 50% atau lebih) dan kemudian profitnya harus dibagi lagi dengan Disdus dimana mereka hanya akan mendapat 20-30% dari keuntungan yang ada.

Dari sisi customer jelas menguntungkan, mereka dapat harga diskon untuk produk/jasa yang sama, Disdus juga untung karena mendapat komisi sekitar 70-80% dari penjualan, yang lebih menjadi sorotan adalah kenapa merchant/penjual mau membanting profit seperti itu?

Jawabannya adalah activation.

Jika kiat lihat situs daily deals kebanyakan menawarkan promo berupa service/jasa dimana merchant sebenarnya tidak terlalu rugi jika jasanya didiskon sebab rata-rata margin profit sebuah bisnis jasa bisa mencapai 70-90%.

Ada juga bisnis yang biaya/cost operasionalnya cenderung sama bahkan disaat tidak ada order sama sekali, contohnya seperti hiburan waterboom, jika dihari tersebut hanya ada 3 konsumen atau 200 konsumen maka biaya operasional yang mereka keluarkan tetap sama, maka dari itu tidak ada ruginya mendiskon harga untuk mendapatkan kuantiti/order yang lebih banyak, toh berapapun konsumennya mereka tetap harus mengeluarkan biaya yang sama.

Selain itu yang paling mahal bagi sebuah bisnis baru adalah bagaimana mengakuisisi seorang customer agar mau memberikan kesempatan kepada mereka, seperti restoran biasanya memberikan diskon untuk membuat customer setidaknya mencicipi makanan mereka, “giving try” inilah yang sebenarnya mahal karena tidak semua bisnis bisa mendapatkan kesempatan untuk dilihat/dicoba oleh customer yang ada.

Jika mereka suka tentu customer akan kembali dan membeli lagi (repeat order) dengan harga yang sudah tidak diskon. Sama seperti langganan sebuah paket hosting, biasanya mereka hanya memberikan promo gila-gilaan saat aktivasi domain/hosting baru, sedangkan harga berikutnya (perpanjangan) berlaku harga normal dan tidak pernah didiskon.

Kuncinya adalah aktivasi. Activation is expensive.

Karena itulah di Disdus sekarang kategori produk seperti gadget dan semacamnya sudah tidak ada, karena jelas merchant sangat rugi jika memberi diskon untuk sebuah produk yang beli putus tanpa kemungkinan repeat order dimasa depan.

4. Mereka memang jual rugi (tidak mencari keuntungan)

p5

Tentu tidak semua promo/diskon bertujuan mencari keuntungan, ada juga pemberi diskon yang memang jual rugi karena berbagai alasan seperti:

  • Cuci gudang atau mau ngabisin stok yang tersisa (daripada ga laku)
  • Produk sudah mulai ketinggalan jaman dan harganya semakin menyusut (biasanya produk elektronik seperti smartphone)
  • Promosi gila-gilaan untuk menarik perhatian secepat-cepatnya

Contohnya startup e-commerce di Indonesia yang belakangan ini semakin menggila dalam memberikan diskon, seperti Tokopedia/Bukalapak yang sering memberi diskon/potongan harga untuk penjual dan pembeli, belum lagi ada cashback, free ongkir, dan lain-lain. Tujuannya apa? Untuk menarik perhatian user secepat-cepatnya, karena dalam bisnis ini mendapatkan market/user base adalah segala-galanya.

Ada juga pemberi diskon yang memang ingin jual rugi karena produknya mulai tidak laku, mereka ingin cepat-cepat menghabiskan stok sebelum produknya semakin tidak berharga.



Pada akhirnya hampir semua bisnis yang ada ditujukan untuk mengambil keuntungan dari Anda sebagai konsumen, walaupun sebagian dari mereka terlihat seperti tidak mencari untung, namun potensi kedepannya itu yang masih belum kita ketahui.

Sekarang memang tidak terlihat namun jika nantinya mereka berhasil membangun kerajaan bisnisnya maka kitalah yang akan didominasi sehingga kita tidak bisa lagi hidup tanpa keberadaan mereka.

Intinya adalah apa yang terlihat murah/gratis belum tentu menguntungkan karena pastinya ada harga dalam bentuk lain yang harus Anda bayar entah itu waktu Anda, perhatian Anda, privasi, atau apapun itu.

 

 

Sumber : solusik.com

Survei: Trend Toko Perkakas di Indonesia

Dengan dibukanya IKEA, survei menunjukan bahwa warga di Jakarta rela menembus macet untuk berbelanja alat rumah tangga.

Dibukanya IKEA di Indonesia menandakan dengan jelas bahwa pasar peralatan rumah tangga yang luas dan terfragmentasi di Indonesia, kini semakin terorganisir. Namun bagaimana pandangan konsumen terhadap toko furnitur yang besar?

gm5

Lamudi, melakukan survei untuk mengukur tanggapan masyarakat mengenai belanja di toko perkakas.

Dari survei yang dilakukan kepada 70 orang ini, sebanyak 87% merasa bahwa toko-toko seperti ini mempunyai dampak yang positif bagi lingkungan mereka.

Walau masyarakat menyukai toko seperti itu, hal menarik juga terlihat dari bagaimana mereka mengunjungi beragam toko yang serupa.

Rata-rata masyarakat telah mengunjungi lebih dari satu toko furnitur besar. ACE Home Center merupakan toko paling populer yang dipilih masyarakat, dengan Courts menjadi yang paling jarang dikunjungi.

Dan meskipun IKEA baru dibuka selama satu bulan, 25% peserta survei mengatakan mereka telah mengunjungi toko tersebut.

Survei juga menunjukan bahwa orang di Jakarta rela menempuh kemacetan untuk mendatangi toko yang mempunyai kualitas produk yang mereka anggap lebih baik.

Keputusan membeli juga biasanya direncanakan sebelumnya dan bukan secara spontan, seperti yang dikatakan oleh 64% peserta survei.

Karena itu, dalam menentukan toko terbaik, sebanyak 54% menentukan berdasarkan kualitas produk dan 36% berdasarkan harga. Hanya 10% yang menjadikan lokasi toko sebagai alasan mereka.

Sementara itu, 57% responden survei merasa ekspektasi harga yang tidak sesuai menjadi alasan mereka tidak melakukan pembelian, meski 71% merasa harga produk tersebut masih masuk akal.

Namun melihat 87% responden yang merasa kualitas produk tersebut cukup baik atau lebih bagus, menandakan bahwa konsumen tidak hanya menilai produk tersebut secara satu dimensi, namun dua dimensi – yaitu kualitas bagus dengan harga yang terjangkau.

Info unik lainnya yang ditemukan dalam survei tersebut adalah sebagian besar (57%) pengunjung toko tersebut bukan datang untuk membeli furnitur. Aksesoris rumah (sprei, handuk, dan lainnya) adalah kategori yang paling populer, diikuti peralatan dapur dan furnitur sebagai produk paling banyak yang mereka beli.

Hal ini masuk akal mengingat sebagian besar dari mereka mengaku hanya menghabiskan kurang dari dua juta per transaksi.

Indonesia sendiri mempunyai industri furnitur yang berkembang karena upah yang kompetitif, ketersediaan pengrajin dan kepemilikan bahan utama – kayu.

ASMINDO (Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia) menaksir bahwa pada tahun 2012 ekspor furnitur sendiri bernilai 32,7 triliun rupiah.

Konsumsi domestik bernilai 8,4 triliun rupiah dan dengan lebih dari 4000 perusahaan yang terlibat membuat pasar ini sangat terpecah.

Seiring dengan naiknya pasar properti, berkembangnya kelas menengah dan sebagai ekonomi terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia masih menjadi incaran utama bagi retail furnitur. Tidak diragukan ini adalah hal yang juga menarik perusahaan seperti IKEA untuk membuka cabangnya di Indonesia.

Sumber : marketing.co.id

Menilik Keunikan Service Improvement D’Cost

D-Cost-Seafood

Kiranya tak banyak restoran seafood yang memperhatikan aspek inovasi melalui program promosi untuk menciptakan keunggulan layanan. D’Cost salah satunya. Restoran milik Christian Sia yang berdiri sedari 2006 berhasil tumbuh pesat dan agresif berkat improvement program promosi yang kreatif unik. Saat ini jumlah gerai yang terdaftar di website mereka hampir 80 buah. Gerai umumnya ada di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Sebelum menilik keunikan service improvement D’Cost, patut diketahui jika restoran seafood ini juga memiliki keunggulan operasional dalam menjalankan aktivitas bisnis. Salah satunya adalah kecepatan pelayanan. Selain memiliki kapasitas restoran hingga ratusan kursi dengan ruangan sejuk dan nyaman, D’Cost juga mengembangkan pelayanan otomatis menggunakan kemajuan teknologi komputer.

Awalnya restoran mencatat pesanan makanan pada PDA (personal data assistant). Namun selanjutnya proses operasional berganti, pencatatan pesanan dilakukan dengan komputer tablet. Proses otomatis cukup sederhana, saat pelayan mencatat maka saat itu juga data pesanan terbaca di dapur. Bahkan proses pencatatan pesanan tersebut kini dipercepat melalui kartu-kartu menu yang bisa diakses pelanggan secara langsung.

Setiap kartu menu memiliki barcode spesifik, sehingga memudahkan petugas di konter menandai menu yang dipilih pelanggan sebagai daftar pesanan yang langsung diproses di dapur.

Keunggulan operasional D’Cost menopang konsep-konsep improvement yang berbentuk promosi kreatif, unik. Promosi umumnya terkait potongan harga. Namun bukan sekadar diskon sebagai value yang ditonjolkan, namun terdapat aspek engagement yang secara jeli berhasil dibidik Manajemen D’Cost untuk mempertahankan keunggulan dalam setiap pelayanan.

  1. Promosi diskon umur, diberikan kepada pelanggan berdasarkan umur yang tertera di KTP. Pada periode promosi banyak lansia yang dibawa keluarganya makan di D’Cost demi mendapatkan diskon besar. Semakin berumur, semakin besar diskonnya. Menarik kan?
  2. Promosi diskon gerombolan, diberikan kepada pengunjung paling sedikit dua orang, paling banyak 30. Wow!
  3. Promosi up to you price, pelanggan boleh makan sepuasnya dan bayar sesukan hati. Program biasanya berlaku di gerai baru D’Cost. Umumnya berhasil membuat geger, karena membuat bingung pelanggan dengan pelayanan “nyeleneh”. Misalnya pelanggan hanya membayar Rp 1, untuk berbagai menu menggunakan kartu kredit. Sungguh unik!
  4. Promosi hamil baru bayar, berlaku bagi pengantin yang terbatas anggaran pernikahannya. Mereka boleh memesan paket pernikahan untuk 300 undangan dengan pembayaran saat sudah hamil. Mantab!
  5. Promosi menu untuk fans, berlaku bagi pelanggan yang sudah mengikuti facebook page D’Cost. Pelanggan bisa mendaftar dan memesan di gerai D’Cost tertentu dengan diskon spesial.
  6. Promosi bayar uang dan doa, merupakan program yang diselenggarakan untuk memperingati hari besar keagamaan di Indonesia. Untuk mengikuti promosi ini pelanggan cukup menuliskan doa apa saja di formulir yang tersedia, dan setelah itu dapat membayar makanan dengan uang dan doa.

Sumber : shiftindonesia.com

Mensiasati Mudik sebagai ajang pamer untuk meningkatkan efektifitas strategi ” Product Branding”

Selamat pagi para pembaca setia kawanpendi semua, selamat merayakan hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan. Taqabbalallahu Minna Waminkum Taqabbal Ya Karim, Mohon maaf lahir batin ya, para readers semua.Ulasan kali ini, masih mengkiblat dari tulisan pak Yuswohady, jagoan marketer kita. Sengaja pada momen lebaran ini, saya tertarik untuk mengulas tentang budaya mudik berlebaran di kampung halaman. Karena begitu kuatnya magnet momen lebaran ini, sampai sampai saya sengaja menginap di Bandara Soekarno Hatta semalam, sambil menunggu flight jam 5 pagi. Dan sengaja saya tidak menggunakan jasa travel sebagaimana perjalanan mudik saya tahun tahun sebelumnya, dan memilih ikut berjibun di bus ekonomi dari terminal Purabaya, dilanjut di terminal Arjojasi di Malang.

Mengamati perilaku para pemudik di kampung, saya sampai kepada kesimpulan bahwa tradisi mudik adalah medium yang pas dan efektif untuk pamer ke anggota keluarga, kerabat, dan seluruh tetangga di kampung.

Kenapa pamer? Karena merantau ke Jakarta telah menjadi simbol kehidupan yang lebih baik: lebih sukses, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih modern, lebih urban (“tidak udik” alias “tidak katrok”), lebih keren. Karena itu ketika mereka kembali ke kampung, simbol-simbol dan atribut-atribut kesuksesan itu harus dipertunjukkan. Syukur alhamdulillah, tradisi mudik memfasilitasi mereka untuk bisa memamerkan kesuksesan.

Tentu saja tak semua perantau menuai kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang justru terpuruk begitu mengadu nasib di Jakarta. Tapi itu tak menjadi masalah. Citra bahwa mereka lebih sukses di Jakarta haruslah habis-habisan ditegakkan. Demi membangun citra sukses ini, kalau perlu mereka ngutang atau “menyekolahkan” sepeda motornya ke Pegadaian.

Ada tiga jenis pamer yang dilakukan para pemudik selama mereka di kampung. Coba kita lihat satu-persatu.

Pamer Kesuksesan
Ukuran kesuksesan di Jakarta biasanya tak jauh dari dua hal, yaitu: pekerjaan yang lebih baik-terhormat-elit dan penghasilan yang lebih tinggi. Menjadi buruh pabrik sepatu di Tengerang tentu saja lebih mending ketimbang berkubang mengerjakan sawah di kampung. Karena itu mereka yang menjadi buruh pabrik bisa memamerkan kehebatan pekerjaan mereka ke kerabat dan tetangga di kampung, walaupun gaji sedikit di atas UMR. Di kalangan pekerja migran, pamer kesuksesan juga bisa diwujudkan dalam bentuk besarnya uang kiriman ke keluarga di kampung. Kirimannya makin besar, maka tentu saja itu indikasi kita makin sukses.

Mereka yang lebih beruntung menjadi pekerja kantoran di Jakarta lebih mudah lagi memamerkan kesuksesannya. Mereka tinggal menyebutkan dirinya bekerja diPerusahaan X, Bank Y, atau Departemen Zyang berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta, bahkan ketika kerabat dan tetangga di kampung tidak menanyakan. Namanya orang kampung, mendengar Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang memang terkenal karena sering muncul di TV dan koran, mereka langsung mengira siapapun yang bekerja di situ pasti orang sukses: kerjanya enak dan gajinya selangit.

Pamer Gaya Hidup
Hidup di Jakarta memang sebuah impian karena kita mendapatkan segala kemewahan hidup yang tidak ada di kampung. Kita bisa merasakan nikmatnya fast food McD atau KFC; belanja supernyaman, supermudah, dan supersejuk di Carrefour; window shopping akhir pekan di mal-mal yang bertabur merek-merek hebat; berlibur ke Dufan, Taman Mini, atau melancong ke Trans Studio di Bandung. Ini semua menjadi sebuah gaya hidup yang kita impikan.

Hidup di Jakarta juga ditandai dengan kehidupan yang selalu sibuk, serba penting, serba terjadwal, serba cepat, serba praktis, serba efisien. Ini berbeda dengan di kampung yang serba lambat dan serba tidak penting. Ini semua, sekali lagi, menjadi gaya hidup  Jakarta yang sudah terlanjur dianggap sebagai model gaya hidup “impian” yang selalu kita dambakan.

Sadar maupun tidak sadar gaya hidup impian ini kita pamerkan kepada kerabat dan tetangga di kampung selama kita mudik. Karena itu tak mengherankan jika tiap tahun pak Fauzie Bowo pusing karena arus orang kampung yang pergi mengadu nasib ke Jakarta kian bertambah dari tahun ke tahun bersamaan dengan kembalinya para pemudik ini ke Jakarta.

Pamer Hedonisme
Jakarta adalah tempat yang ideal bagi tumbuh suburnya hedonisme: berbelanja membabi-buta, berbusana yang selalu mengikuti tren, konsumsi yang berlebihan, unjuk kemewahan, dan sebagainya. Celakanya, hedonisme Jakarta ini dengan sangat pas digambarkan oleh adegan-adegan dalam sinetron kita. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam waktu satu-dua tahun tinggal di Jakarta, penyakit hedonisme Jakarta ini sudah mulai merasuki sanubari tanpa kita bisa menghentikannya.

Selama mudik, hedonisme Jakarta ini kita pamerkan ke kerabat dan tetangga di kampung dalam beragam bentuk. Saat kita mengajak keluarga atau kerabat berbelanja baju di toko  atau pasar. Saat kita membelikan berbagai perlengkapan elektronik untuk bapak-ibu di kampung mulai dari TV flat, lemari es, hingga rice cooker. Saat kita mentraktir mereka makan di warung terbaik di kampung. Hedonisme juga bisa dipamerkan melalui perhiasan yang kita pakai, gadget termutakhir yang kita beli, atau baju glamour yang kita kenakan selama di kampung.

Saya sering mengatakan tugas marketer adalah 80% mengamati perilaku konsumen dan 20% menyusun/mengeksekusi strategi berdasarkan pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut. Apa yang saya uraikan di atas adalah cermin dari anxietydesirepara konsumen mudik kita. Keberhasilan menangkap anxiety-desire ini akan menentukan keberhasilan program lebaran marketing Anda. Lalu apa kaitannya dengan product branding ? Pernahkah anda mengamati pakaian para perantau yang mudik ke kampung halamannya? Pernahkah anda memetakan kemudian mengidentifikasi dan mengklasisfikasi mereka berdasar merk baju, merk tas, tata cara berpakaian, termasuk pada HP yang mereka gunakan?Beberapa variabel yang saya gunakan diatas seringkali mewakili kemampuan beli dan kecenderungan konsumsi para pemudik, dan tentunya dengan variabel tersebut sedikit banyak kita bisa menduga dikalangan komunitas yang seperti apa mereka. Menurut hasil penelitian, generasi Y yang memang sedang merajai struktur demografi penduduk Indonesia ini, lebih cenderung bersifat “community engagement”, ketika ada salah seorang anggota komunitas mereka memperkenalkan sebuah produk dan membuat reviewnya, maka kemungkinan besar anggota lain akan mengikutinya. Bahkan efektifitas kegiatan branding ini lebih tinggi daripada aktifitas iklan. Itulah mengapa kalau anda amati, seringkali iklan di Televisi menampilkan sosok komunitas muda mudi yang sedang menikmati sebuah brand produk. Komunitas inilah yang menjadi sasaran yang tepat, ketika mereka sedang pulang kampung untuk mudik berlebaran tak ada salahnya kita memberinya discount, atau bahkan sampai menggratiskan produk yang sedang kita besut untuk mereka kenakan, dengan harapan produk kita kemudian dikenakan, direview dan kemudian diperkenalkan ke komunitasnya.

Selamat mencoba

Strategi Digitalisasi Marketing Ala Uniqlo

Sekarang ini orang-orang sudah sangat terbiasa dengan adanya dunia digital. Misalnya saat bangun tidur, seseorang langsung mengecek handphonenya mulai dari hal yang sepele misalnya melihat waktu ataupun mengecek pesan, hingga update status.

Dengan pesatnya perkembangan zaman dengan pelbagai kecanggihan di dalamnya, banyak cara untuk memasarkan bisnis secara digital. Salah satunya adalah bisnis dari Uniqlo,  apparel  yang memasarkan produknya melalui aplikasi yang sangat interaktif di dalam smartphone.

Orang-orang di dunia mikro, seperti konsumen dan kompetitor, sangat besar pengaruhnya kepada cara pemasaran Uniqlo secara digital. Uniqlo sudah mampu menganalisa pasar dengan berkembangnya ide kreatif untuk memuat apa yang dibutuhkan oleh pasar saat ini.

Melalui websitenya, Uniqlo memberikan banyak informasi mengenai produk yang dipasarkan sehingga konsumen selalu up to date terhadap apparel dari Uniqlo. Aplikasi yang Uniqlo suguhkan dapat diunduh secara gratis melalui operatios system apple dan android di mana kedua OS tersebut banyak dipergunakan oleh konsumen saat ini.

Untuk membuat sebuah marketing plan, tentu dibutuhkan analisis pasar yang reliable sebagai dasar. Analisis pasar ini bisa didapat dengan berbagai cara, mulai dari melakukan penelitian sendiri hingga membeli hasil penelitian dari perusahaan yang spesialis di bidang tersebut seperti Nielsen.

Sebagai contoh, Uniqlo melihat bahwa ada kecenderungan konsumen memfoto apparel yang dikenakannya, kemudian menyebarkannya lewat social media. Akhirnya muncullah sebuah program marketing UNIQLOOKS, di mana konsumen bisa memfoto baju Uniqlo miliknya dan mengunggah ke situs atau Facebook Uniqlo. Foto yang memperoleh like paling banyak akan menjadi “Look of the week”.

Melalui analisis yang dilakukan oleh Uniqlo, didapati bahwa ada suatu kebutuhan konsumen yang harus dipenuhi, yaitu kebanyakan remaja melakukan segala aktivitasnya melalui smartphone. Uniqlo melihat ini sebagai kesempatan untuk melakukan digital marketing.

Uniqlo mengetahui bahwa terbangun dengan bunyi alarm yang tidak menyenangkan bisa merusak seluruh hari konsumen. Uniqlo membuat aplikasi alarm dengan lagu yang bisa berubah setiap saat sesuai dengan cuaca saat itu. Hal ini bisa memberikan pemecahan masalah untuk kebutuhan konsumen yang mungkin dianggap kecil, namun bisa berpengaruh pada aktivitas sehari-hari dan bisa juga menjadi wadah marketing bagi Uniqlo.

Kemudian, Uniqlo memiliki cara unik untuk memasarkan merek mereka. Uniqlo sadar saat ini konsumennya sudah sangat erat dengan penggunaan smartphone tipe android dan iOS, sehingga untuk lebih dekat dengan konsumen, Uniqlo membuat berbagai macam aplikasi yang berfungsi untuk meningkatkan awareness brand ke tingkat yang lebih tinggi.

Terdapat tiga aplikasi yang dibuat oleh Uniqlo, yaitu:

I. UNIQLO WAKE UP merupakan aplikasi berupa sosial alarm yang bertujuan membangunkan Anda dari tidur dengan perasaan yang senang. Musik yang digunakan untuk alarm adalah musik yang disesuaikan oleh cuaca dan waktu saat alarm berbunyi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna membagi momen ketika mereka bangun, seperti waktu, cuaca, suhu saat mereka menghentikan alarm, melalui media sosial (facebook, twitter). Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan brand awareness tanpa perlu memberikan spesifikasi produk yang mereka jual.

uniq 1

II. UNIQLO CALENDAR adalah aplikasi berupa kalender digital yang memperlihatkan panorama di 47 prefektur, 140 kota, dan 328 lokasi yang berbeda. Aplikasi ini mengingatkan pengguna bahwa Uniqlo merupakan brand yang berasal Jepang. Aplikasi ini juga menggunakan background musik yang senada dengan gambar yang ditampilkan, sehingga mampu memberikan perasaan menyenangkan.

uniq 2

III. UNIQLOCK merupakan aplikasi jam digital yang menampilkan video model – model yang menggunakan pakaian keluaran terbaru Uniqlo. Selain berguna untuk pengingat waktu, Uniqlo juga ingin mengingatkan pengguna akan produk-produk terbarunya.

uniq3

Selain membuat aplikasi, Uniqlo juga menerapkan strategi pemasarannya melalui media sosial dan website. Sosial media yang digunakan yaitu Facebook dan twitter. Dalam keduanya, Uniqlo memperbarui berita seperti event-event yang diselenggarakan, produk-produk terbarunya serta kuis-kuis berhadiah yang diadakan dalam waktu-waktu tertentu.

Uniqlo tentunya menggunakan beberapa perantara digital  seperti Google, Facebook, dan Twitter. Google merupakan perantara yang umum digunakan baik oleh konsumen maupun produsen sebagai media informasi. Uniqlo menggunakan Google sebagai intermediaries yang sangat ampuh untuk menaruh informasi mengenai produk-produknya.

Selain Google, perantara digital yang digunakan Uniqlo adalah Facebook dan Twitter. Facebook dan Twitter dapat menimbulkan koneksi dua arah antara produsen dan konsumen. Uniqlo menggunakan Facebook untuk melakukan digital marketing seperti UNIQLOOKS. Konsumen dapat mengunggah produk Uniqlo yang sedang digunakannya untuk kemudian di-like oleh pengunjung situs atau laman Facebook Uniqlo. Twitter sendiri dimanfaatkan sebagai sarana intermediaries oleh Uniqlo karena melihat animo masyarakat yang sangat besar dalam pemakaian twitter, khususnya di kalangan anak muda yang merupakan target pasar Uniqlo.

Walaupun hanya sebagai penjual produk apparel, Uniqlo tidak berhenti hanya sampai penjualan maupun pemasaran offline. Uniqlo sangat kreatif dalam pemasaran digital, bahkan beberapa aplikasi yang diluncurkannya sangat kreatif dan belum ada kompetitor yang melakukannya.

Seiring dengan perkembangan era digital, Uniqlo bukannya kalah dalam persaingan namun dapat menjadikan dirinya lebih menonjol dari sebelumnya dan dari kompetitornya. (Jane, Ratri, Irsan – STIE Prasetiya Mulya)

 

Sumber : http://www.marketing.co.id/uniqlo-more-than-apparel-store/

 

 

Beradaptasi dengan “Sharing Economy”

sharing-economy

Sharing economy” tiba-tiba menjadi jargon yang populer sejak demo PPAD yang berakhir rusuh kemarin. Banyak yang berpendapat bahwa kerusuhan tersebut disebabkan pebisnis konvensional (dalam hal ini perusahaan taksi) tidak siap menghadapi perubahan. Utamanya perubahan yang dimaksud adalah hadirnya model bisnis “sharing economy” di industri tersebut lewat startup aplikasionline seperti Uber dan Go-Jek.

 

Pendapat tersebut tidak salah, meskipun belum tentu benar. Mengapa belum tentu benar? Jawabannya ada pada cara kita memaknai “sharing economy” itu sendiri. Per definisi, “sharing economy” dimaknai sebagai kolaborasi dalam konsumsi, dimana pemilik barang (atau jasa) bersedia meminjamkan sisa utilisasi yang masih ada pada barang/jasa tersebut kepada orang lain.

Jika kita terapkan definisi tersebut pada model bisnis Uber dan Go-Jek, maka sekilas akan terlihat fit. Namun, kesesuaian tersebut bisa berubah menjadi pertanyaan jika kita mendapati fakta bahwa: (1) aplikasi tersebut disuntik modal yang besar, dimana ada porsi yang signifikan untuk memberikan subsidi harga kepada konsumen dengan tujuan memindahkan mereka dari menggunakan taksi konvensional; (2) aplikasi tersebut membuat aturan pricing dan profit sharing yang bersifat satu arah, dimana partner (pengemudi) tidak memiliki hak untuk bernegosiasi.

Kedua hal tersebut membuat terminologi “sharing economy” tidak 100% tepat untuk menjelaskan fenomena dan cara kerja aplikasi online yang ada saat ini. Terdapat bagian dari proses bisnis pada aplikasi online tersebut yang kurang mencerminkan semangat berbagi yang melandasi “sharing economy”.

Lalu, mengapa penting bagi kita untuk memaknai “sharing economy” ini dengan lebih tepat?

Ini karena pebisnis konvensional perlu memahami pesaing baru mereka (aplikasi online) tersebut secara lebih baik. Dengan menjadi lebih paham, diharapkan pebisnis konvensional tidak lagi gamang dan lebih bersemangat untuk segera beradaptasi dengan tren baru ini.

Tantangan Adaptasi

Untuk beradaptasi, pebisnis konvensional perlu mengerti bagaimana “sharing economy” bekerja.

Mari kita mulai dengan melihat anatomi aplikasi online yang disebut-sebut menerapkan model bisnis “sharing economy” tersebut. Kita ambil Uber dan Go-Jek sebagai contoh untuk memberikan ilustrasi, meskipun berdasarkan argumen saya di atas, keduanya tidak secara 100% bisa dikatakan sebagai sebuah skema “sharing economy”.

Kekuatan dari model bisnis Uber dan Go-Jek adalah harga yang bisa relatif lebih murah dibanding model bisnis konvensional. Harga murah ini didapatkan dari kombinasi subsidi (dari uang yang ditanamkan venture capital) dan biaya operasi yang rendah (lean operation).

Sebagai ilustrasinya, Uber bisa memberikan tarif 30% lebih murah dibandingkan taksi konvensional untuk jarak yang sama. Begitu juga dengan Go-Jek yang tarifnya jauh lebih murah daripada tukang ojek pangkalan.

Selain murah, kekuatan lainnya adalah adanya experience saat menggunakan aplikasi online, yang secara tidak langsung bisa mengubah pola perilaku konsumen. Contoh perubahan tersebut di antaranya; pengguna Uber tidak perlu lagi membawa cash, bisa memprediksi kapan mobil akan datang, menentukan sendiri lokasi penjemputan, dan memonitor jalur yang akan diambil oleh pengemudi.

Konsumen umumnya bersikap positif terhadap experience baru ini, dan kemudian tidak sedikit yang mengadopsinya secara permanen (dan akhirnya meninggalkan taksi konvensional).

Kedua kekuatan ini dimiliki oleh hampir semua aplikasi online yang masuk ke berbagai industri dengan konsep “sharing economy”.

Lalu, bagaimana cara pebisnis konvensional meredam dua kekuatan ini?

Untuk bisa meredam, pebisnis konvensional perlu segera beradaptasi. Masalahnya, tidak mudah bagi pebisnis konvensional untuk segera bertransformasi mengikuti model bisnis baru tersebut karena beberapa faktor berikut:

Pertama, model bisnis “sharing economy” berusaha sedapat mungkin untuk tidak memelihara “asset” dan “inventory”. Aset, misalnya kendaraan, dimiliki oleh tiap-tiap partner (dalam hal ini pengemudi). Dengan demikian, perusahaan startup bisa bergerak secara lebih gesit dan fleksibel dalam merancang strategi pemasarannya.

Hal ini tidak dimiliki oleh pebisnis konvensional. Mereka cenderung memiliki aset yang besar. Misalnya dalam kasus taksi konvensional, kendaraan taksi dimiliki perusahaan dengan jumlah bahkan hingga ribuan unit.

Kedua, menjalankan startup aplikasi online tidak memerlukan jumlah pegawai yang besar. Hal ini karena partner (misal: pengemudi) bersifat independen, bertindak atas dirinya sendiri. Perusahaanstartup hanya perlu memberikan pelatihan dan pembinaan terhadap mereka untuk melakukan standarisasi jasa atau produk.

Ini berbeda dengan pebisnis konvensional yang harus memiliki ratusan bahkan ribuan pegawai. Mereka semua adalah karyawan perusahaan yang harus dikelola dengan hati-hati, diberikan gaji, insentif, asuransi, dan benefit yang jumlahnya terus meningkat seiring dengan lama kerja.

Ketiga, penggunaan aplikasi online bisa mengubah perilaku konsumen. Dengan aplikasi online, mereka bisa menemukan cara baru yang lebih efisien dan efektif bagi konsumen dalam prosesdelivery produk atau jasanya. Bahkan beberapa aplikasi online bisa dikustomisasi untuk memberikanexperience konsumsi yang spesifik bagi tiap user. Misalnya layanan Go Food dari Go-Jek.

Sementara di bisnis konvensional, pola dan perilaku konsumen mereka dibangun dengan caraexperience langsung yang dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan kebiasaan. Karenanya, perusahaan konvensional lebih sulit mengubah perilaku konsumennya dengan cepat.

Ketiga hal tersebut merupakan handicap pebisnis konvensional dalam bersaing melawan startupsharing economy”.

Lalu, bagaimana pebisnis konvensional bisa mengakali handicap ini agar tetap memiliki daya saing?

Pendekatan Adaptasi

Ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan sebuah bisnis konvensional untuk beradaptasi dengan “sharing economy”.

Pertama, pebisnis konvensional perlu beradaptasi dengan “sharing economy” secara kreatif dan inovatif. Berpikirlah selayaknya anak-anak muda yang mendirikan startup aplikasi online. Rekrutlah anak-anak muda yang pintar, kalau perlu yang pernah bekerja di startup aplikasi online, lalu berikan mereka keleluasaan untuk mengembangkan strategi untuk melawan aplikasi online tersebut.

Strategi ini dalam sejarah pernah dilakukan oleh para samurai di Jepang. Sebagaimana digambarkan dalam film Tom Cruise berjudul The Last Samurai, kita bisa melihat saat itu pemerintahan Meiji mencanangkan program agar bangsa Jepang segera beradaptasi dengan teknologi persenjataan baru (senjata api dan senapan mesin).

Hasilnya, Jepang menjadi satu dari sedikit bangsa di Asia yang bisa membendung kolonialisme barat. Mereka cepat mengadopsi strategi peperangan modern dengan senjata api sebagai teknologi disruptif yang merupakan kunci yang mengubah lanskap pertempuran.

Kedua, pebisnis konvensional harus membuat aplikasi online-nya sendiri. Ini untuk mempercepat proses mengadopsi hal-hal positif yang dimiliki oleh aplikasi online milik lawan, terutama terkait efisiensi yang bisa diciptakan dalam interaksi dengan konsumen.

Agar proses adopsi berjalan cepat, pebisnis konvensional perlu mencangkokkan aplikasi onlineversinya sendiri tersebut ke dalam operasional perusahaan. Aplikasi tersebut harus bisa menduplikasiexperience yang sama kepada konsumen dengan experience yang mereka dapatkan dari aplikasionline (misal: Uber).

Ketiga, pebisnis konvensional perlu menemukan cara untuk membuat harganya lebih kompetitif, agar bisa bersaing dengan perusahaan startup online. Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah mengoptimalisasi aset yang dimiliki (misalnya dalam hal ini kendaraan taksi).

Sebagaimana kita ketahui, tingkat okupansi taksi konvensional cukup rendah. Untuk mengurangi rendahnya tingkat okupansi tersebut, taksi konvensional bisa menggunakan aplikasi yang mereka kembangkan sendiri untuk meningkatkan utilisasinya.

Jika tingkat okupansi sudah tinggi, maka skema setoran bisa diubah dengan basis jumlah total tarif yang dibayarkan penumpang hari itu. Skema ini akan lebih fair, baik untuk sopir maupun penumpang, dan berpotensi membuat harga lebih kompetitif.

Itulah tiga pendekatan yang bisa diambil untuk mempercepat proses adaptasi bisnis konvensional terhadap hadirnya “sharing economy”. Kita mahfum bahwa adaptasi ini akan memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Karena itu, mari kita berikan semangat kepada mereka yang ingin berubah!

Harryadin Mahardika

Kepala Program Magister Manajemen Universitas Indonesia (MMUI)

 

Sumber : http://www.marketing.co.id/beradaptasi-dengan-sharing-economy/

Persaingan Merek yang Makin Gaduh dan Kacau : mengenal Lebih dekat Transient Era

Tahun 2016 dan tahun-tahun mendatang diramalkan akan semakin chaos. Persaingan semakin kacau, tidak teratur, dan menciptakan musuh-musuh baru yang tidak terlihat. Kehancuran merek pelan-pelan akan terjadi oleh kehancuran industrinya karena serangan pemain dari industri lain. Hati-hati melangkah jika tidak ingin jatuh!

 

Invasi

Sony, salah satu raksasa bisnis di dunia, pada akhir tahun 2014 mengumumkan rencana perombakan bisnis secara besar-besaran. Perusahaan yang terus merugi dalam beberapa tahun belakangan ini akhirnya melepaskan bisnis personal computer (PC) ke investor lain. Itu artinya merek VAIO akan hilang dari pasaran global dan hanya dijual di Jepang. Sony sendiri akan kembali memperkuat divisi televisinya yang selama satu dekade terus merugi.

Sony memperkuat bisnis televisi melalui anak usahanya agar bisa lebih fleksibel dalam pengambilan keputusan. Walaupun tidak lagi menjual VAIO, Sony tetap mempertahankan mobile business seperti tablet dan smartphone yang masih dianggap bisnis masa depan. Ada ribuan pegawai yang harus di-PHK untuk melakukan restrukturisasi ini, namun Sony berharap bisa menjadi perusahaan yang semakin kompetitif di masa mendatang.

Sony memang harus berbenah setelah babak belur dihajar pesaing. Merek yang menjadi ikon dominasi Jepang di dunia elektronik itu mulai tumbang oleh pesaing-pesaing baru yang lebih agresif dan cepat memahami kebutuhan pasar. Itulah sebabnya Sony harus menjalankan strategi baru agar lebih lincah dan mengikuti selera pasar.

Perubahan yang Makin Acak

Setiap perusahaan memahami bahwa perubahan (change) menjadi faktor eksternal yang memengaruhi gerak perusahaan. Namun, perubahan pada masa kini memiliki kecepatan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Blackberry contohnya, harus kehilangan pasarnya karena konsumen lebih menyukai aplikasi chatting terbaru yang lebih fleksibel untuk berbagai operating system.

Persaingan di industri televisi tak kalah serunya. Sejak kepemimpinan Sony diambil alih, merek-merek saling bersaing ketat seperti Sharp, LG, dan Samsung. Merek yang memiliki teknologi terdepan dengan cepat bisa mengganggu pola persaingan di industri ini. Selepas teknologi tabung digantikan oleh layar datar, teknologi televisi terus bermunculan seperti LCD, LED, Smart TV, atau Curve.

Di dunia seluler, para operator kini juga bersaing dengan keunggulan yang baru. Setelah teknologi 2G hilang, teknologi seluler terus berkembang dan para pemain berupaya mengadopsi dan menjadi yang terdepan. Lihat saja bagaimana teknologi GPRS, Edge, 3G, 3.5G, HSDPA, dan kini 4G, membuat para pemain harus segera menyesuaikan diri.

Di dunia food and beverages kita bisa melihat bagaimana para pemain produk minuman teh berupaya untuk berinovasi dan menjadi yang terkuat di subkategori produk ini seperti teh hijau, teh susu, teh dari pucuk daun, dan lain-lain. Konsumen seperti dididik untuk menikmati teh jenis baru melalui iklan-iklan yang dibombardir oleh para pemain. Setelah terus mendominasi di minuman teh botol, Sosro pun harus menghadapi para pemain baru dengan berbagai inovasi produk. Ini disebabkan konsumen tidak lagi terpaku bahwa minuman teh dalam kemasan adalah teh dalam botol. Generasi baru konsumen cepat bosan dan terus ingin menikmati teh dalam format baru, baik dalam hal kemasan maupun rasa.

Pesaing yang Tidak Kelihatan

Bergerak cepat pun sebenarnya tidak cukup dilakukan oleh para marketer pada zaman ini. Perubahan yang demikian cepat bukan hanya satu-satunya yang menjadi penyebab terjadinya chaos (kekacauan) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kekacauan inilah yang membuat para pemilik merek sering kali bingung dan kehilangan kepercayaan dalam bersaing.

Kekacauan lain adalah munculnya pesaing-pesaing yang tidak terduga. Jika dahulu para pemain sudah dikotak-kotakkan dengan persaingan di dalam satu product category, maka kini pemain pun harus berhadapan dengan produk di luar arena. Kita sudah mengalami bagaimana PT Pos Indonesia kini harus merombak struktur bisnisnya secara besar-besaran setelah orang-orang tidak lagi berkirim surat. Orang-orang kini lebih suka mengirimkan text, gambar, dan bahkan video melalui smartphone.

Tidak hanya pos, smartphone juga mengancam industri kamera digital. Padahal dekade lalu industri ini membuat industri film berwarna mati. Dua merek besar di industri film berwarna, yakni Fuji dan Kodak, harus mengubah arah bisnis mereka akibat munculnya kamera digital. Kini kamera digital harus terancam oleh keberadaan smartphone yang memiliki teknologi kamera yang terus berkembang.

Hal sama dialami pula oleh banyak tempat rekreasi yang kini terancam oleh mal, yang juga menyediakan tempat bermain dan berbelanja. DVD player kini berhadapan dengan internet yang menyediakan teknologi streaming. Transportasi bus dan kereta kini bersaing dengan penerbangan low cost carrier.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa situasi chaos terjadi tidak hanya di dalam industri dengan munculnya teknologi dan produk yang cepat berganti. Di luar industri, ancaman justru muncul dari industri lain yang berupaya “memakan” industri lainnya supaya bisa survive.

Tempat Bersaing Baru

Chaos yang terjadi juga disebabkan oleh perubahan tempat berkompetisi (competition space). Hal ini terlihat misalnya dengan semakin kaburnya saluran distribusi. Orang membeli pulsa tidak lagi melalui penjualan kartu isi ulang. Orang bisa memperoleh pulsa melalui pembelian lewat SMS, lewat kasir di Indomaret atau Alfamart, melalui internet, dan lain-lain. Produk-produk elektronik kini tidak bersaing di toko elektronik, tetapi di hipermarket dan online store.

Hal yang sama dialami pula oleh pemain department store. Jika dulu Matahari bersaing dengandepartment store lain dengan cara menambah outlet sebanyak-banyaknya, kini lokasi persaingan mulai diramaikan dengan banyaknya fashion online store yang bermunculan. Dengan perubahan tempat berkompetisi ini muncullah pemain-pemain baru yang memiliki keuntungan kompetitif di arena baru tersebut seperti Zalora, Berrybenka, Qoo10, dan lain-lain. Matahari pun mau tidak mau harus berkalkulasi dengan baik antara menambah outlet fisiknya atau membangun bisnis online.

Ranah persaingan yang bergeser di dunia maya tidak hanya terjadi di dunia fashion dan elektronik. Perusahaan transportasi seperti Blue Bird pun kini menghadapi tantangan baru dengan kehadiran Uber Taxi, Gojek, Grab Taxi, dan lain-lain. Kini Blue Bird tidak hanya bersaing di jalan raya, namun bersaing pula di online market. Konsumen kini bisa memesan transportasi taksi maupun ojek lewat aplikasi online. Tidak hanya lebih nyaman dibandingkan menunggu di pinggir jalan, aplikasi online ini juga sangat cepat merespons permintaan konsumen.

Ledakan media menyebabkan zona peperangan tidak lagi memanfaatkan media konvensional. Setiap kali ada media-media baru bermunculan, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Peperangan dalam bidang komunikasi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya iklan hanya membutuhkan pendekatan satu arah, kini media baru membutuhkan pendekatan dua arah. Banyak pemilik merek kini mulai meninggalkan peperangan lewat iklan di televisi. Mereka memilih berperang melalui media sosial karena dianggap lebih personal dan langsung ke pasar sasaran.

Beradaptasi atau Menghindar

Lalu, apa yang harus dihadapi para pemilik merek dan marketer dalam menghadapi kekacauan situasi seperti ini? Merek bisa melakukan strategi dengan cara beradaptasi pada medan perang yang baru. Ini misalnya dilakukan oleh Matahari dengan mencoba masuk ke pasar online melalui MatahariMall.com. Hal yang sama dilakukan oleh Blue Bird dengan masuk ke aplikasi online untuk pemesanan taksi. Walaupun competitive skills dari kedua merek ini belum terlihat di dunia online, keduanya merasa harus memulai dari sekarang sebelum terlambat.

Strategi lain adalah mencoba bergeser ke arena pertarungan yang belum terimbas oleh kekacauan kompetisi. Ini misalnya dilakukan oleh merek Canon. Merek kamera ini sadar bahwa kamerasmartphone mengancam segmen kamera entry level. Berperang di segmen ini membuat Canon akan “dihajar” oleh pemain-pemain di luar merek kamera. Namun untuk kamera-kamera yang high end danprofessional, ceruk pasar terlihat masih memungkinkan bagi Canon untuk bersaing saat ini. Itulah sebabnya Canon kini mencoba mempertahankan segmen pasar ini dan bersaing dengan merek-merek kamera digital lainnya.

Menghindar dari persaingan yang chaos bisa dilakukan dengan value added innovation. Hal ini misalnya dilakukan oleh penyedia jasa travel konvensional seperti Dwidayatour. Penyedia jasa travelini kini tidak lagi berfokus menjual tiket, tetapi menjual paket-paket tur untuk rombongan, bisnis, serta menjadi travel consultant. Ceruk pasar orang yang membutuhkan travel experience rupanya masih punya potensi sehingga penyedia jasa layanan travel ini pun mencoba unggul di pasar ini.

Inovasi memang menjadi bagian terpenting yang tidak boleh lepas dalam situasi chaos. Pemilik merek harus mempunyai tim research & development yang bisa melihat perubahan pasar dan memikirkan inovasi apa yang harus segera dilakukan. Merek seperti Aqua dan Teh Botol Sosro yang tadinya nyaman dengan keunggulan produknya kini harus terus berinovasi untuk membuat produk baru yang bisa memenuhi perkembangan kebutuhan konsumen yang baru. Merek seperti Kereta Api Indonesia (KAI) maupun bus seperti Lorena kini berbenah dengan inovasi produk dan layanan yang baru. Misalnya saja dengan meluncurkan bus untuk kalangan eksekutif dan perusahaan, layanan keanggotaan, paket wisata kereta, dan lain-lain.

Hal lain adalah soal kolaborasi. Dengan persaingan yang semakin chaos, maka merek harus pintar-pintar berkolaborasi dengan banyak pihak untuk bisa bertahan. KAI misalnya harus berkolaborasi dengan Indomaret dan Alfamart untuk bisa memperluas saluran distribusi penjualan tiket. Penyedia layanan seluler harus bekerja sama dengan merek ponsel untuk memperbesar pasar.

Memang, ketika menghadapi situasi yang kacau ini mencari kawan lebih penting dibandingkan menciptakan musuh.

 

Sumber :

http://www.marketing.co.id/persaingan-merek-yang-makin-gaduh-dan-kacau/