Menatap Bisnis di Tahun Politik

ihsg

Pada tahun 2018, kondisi pasar Indonesia mengalami volatilitas akibat dari sentimen negatif global yang  disebabkan oleh kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan isu perang dagang antara AS dan China. Hal tersebut diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2019. Pada tahun 2019 ini juga, Indonesia memasuki tahun politik di mana Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) akan dilangsungkan secara serentak pada 17 April mendatang.

Beberapa pengamat politik pun melontarkan pandangannya masing masing, salah satunya adalah Yunarto Wijaya Executive Director Charta Politika. Menurut beliau kondisi politik Indonesia saat ini masih cukup stabil menjelang pilpres dan pileg serentak  pada April nanti.  Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Pak Burhanudin Muhtadi Direktur Eksekutif Indikator Politiik Indonesia, yang saya temui beberapa waktu yang lalu dalam sebuah sesi sharing. Demikian pula dengan catatan Bank Dunia menilai bahwa pemilihan umum (Pemilu) tidak pengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari sisi perekonomian CEO Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi berpendapat bahwa pada tahun 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif didukung oleh pemulihan daya beli domestik. Pasar modal Indonesia pun mulai bergairah di mana para investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, capital inflow sejak 1-17 Januari 2019 sebesar Rp 14,75 triliun. Dari dana tersebut, paling banyak masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 11,48 triliun dan ke pasar saham sebesar Rp 3,21 triliun. Hingga 18 Januari 2019, kapitalisasi pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 7.338 triliun. Dengan Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG) yang terus naik di awal bulan ini hingga menuju level saat ini 6.448. Namun begitu, kita harus tetap waspada dengan kondisi ekonomi global yang dapat berimbas pada kondisi pasar domestik.

Dibidang E-Commerce nampaknya tak ada sedikit pun rasa khawatir terhadap kondisi ekonomi dan industri pada tahun 2019 mendatang. Pasalnya, beragam riset internal dan eksternal menyebutkan bahwa pasar e-commerce Indonesia masih akan terus tumbuh. Riset Global Consumer Insight Survey 2018: Indonesia Results yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia menyebutkan bahwa optimisme pertumbuhan industri e-commerce amat didukung oleh rasa percaya dari konsumen. Disebutkan bahwa sebanyak 73% responden bersedia menghabiskan uang mereka secara lebih banyak untuk belanja online. Padahal rata-rata responden lain di Asia Tenggara, hanya sebesar 53% yang mau membelanjakan uangnya secara lebih. Selain itu, secara mingguan atau bulanan, frekuensi belanja konsumen Indonesia berada di atas rata-rata konsumen di Asia Tenggara dan global.

Barang-barang fesyen dan sepatu (37%), serta produk kesehatan dan kecantikan (35%) merupakan produk yang paling banyak dibeli oleh konsumen Indonesia ketika berbelanja online. Dalam riset tersebut juga ditemui sebanyak 51% responden yang berencana membeli perlengkapan sehari-hari secara online. Uniknya, sebanyak 62% responden tidak mempermasalahkan fakta bahwa platform e-commerce memantau pola belanja dan pembelian masing-masing konsumen.

Optimisme pun turut dirasakan oleh banyak pemain e-commerce di Indonesia. Pada tahun 2018 saja, banyak pemain yang meraup hasil positif dari beragam aktivitas yang mereka lakukan dalam satu tahun ini.

Fajrin Rasyid, President Bukalapak menilai bahwa industri e-commerce pada tahun 2018 ini berhasil tumbuh dua kali lipat. Ia memperkirakan, industri ini besar kemungkinan akan tumbuh di atas angka 50% pada tahun depan. Tak jauh berbeda, Blibli.com juga meraih hasil positif pada tahun 2018. Menurut Senior Marcom & PR Manager Blibli.com Lani Rahayu, penjualan mereka pada kuartal pertama dan kedua positif berkat bulan Ramadan dan gelaran Piala Dunia. Walaupun sempat melambat pada kuartal ketiga, pasca hari raya Lebaran dan kebutuhan tahun ajaran baru. Namun, kuartal keempat dan sampai awal tahun diprediksi akan mengalami pertumbuhan.

Contoh lain, pada pertengahan tahun, Tokopedia menggelar kampanye Ramadan Ekstra yang turut menorehkan sejarah baru bagi Tokopedia. Dalam satu hari, Tokopedia berhasil mencatatkan nilai transaksi setara dengan akumulasi nilai transaksi sepanjang lima tahun pertama (Agustus 2009 – Juni 2014). Dalam 10 menit pertama saja, Tokopedia berhasil mengalahkan angka transaksi sepanjang tahun pertama Tokopedia berdiri (Agustus 2009 –Juli 2010).

Sumber artikel : Marketeers, Jawapos

sumber gambar : tribunnews

Welcome The New Normal

New Normal

Tahun 2016 president letter Astra International bertemakan “Bringing Up To The Next Level”, president letter adalah arahan dari pimpinan tertinggi perusahaan Astra dan grupnya untuk merespon kondisi ekonomi global pada waktu itu yang bisa dibilang “cukup mengkhawatirkan”. Pak Prijono Sugiarto sebagai pimpinan tertinggi perusahaan Astra dengan jelas memberikan contoh contoh perusahaan yang dalam waktu singkat benar benar membawa perubahan bagi perekonomian global sebut saja Apple, Google, Facebook, Amazon dan juga Xiaomi yang dalam waktu 5 Tahun sudah bisa menempati posisi 3 besar dunia sebagai produsen handphone. Berlandaskan dengan pengalaman astra yang telah dibangun, beliau ingin menegaskan kembali bahwa kita pasti bisa melalui masa sulit dengan inovasi inovasi yang dilakukan disetiap perusahaan.

Terinspirasi dari hal tersebut, saya mencoba melakukan analisa terhadap kondisi yang ada, dan kira kira apa yang bisa dilakukan, dalam rangka merespon perlambatan ekonomi yang sedang terjadi.

Orang mengira bahwa pertumbuhan ekonomi kita yang ogah beranjak dari angka 5% selama lima tahun terakhir ini adalah bagian dari ritual siklus bisnis (business cycle) dimana siklus “bearish-bullish” akan berulang dengan sendirinya tiap 5-10 tahun seperti sebelum-sebelumnya.

Tak sedikit pengusaha yang mengeluh targetnya tidak tercapai 3-4 tahun terakhir ini mengatakan, “ekonomi memang sedang mati suri, tapi tunggu saja pasti akan membaik dengan sendirinya.” Mereka “wait & see” dan banyak-banyak berdoa agar boom ekonomi segera datang lagi.

Akankah pertumbuhan ekonomi kita akan membaik kembali, comeback ke tingkat 6% seperti di pertengahan tahun 2000-an, atau bahkan di tingkat 7-8% seperti di tahun-tahun sebelum krisis 1998?

New Normal3

 “Irreversible”
Jawabannya barangkali ya kalau kita tidak mengalami “digital tectonic shifting” sejak pertengahan tahun 2000-an: apa yang sekarang dikenal luas dengan istilah populer: disrupsi digital. Sudah mulai banyak sekali yang membicarakan disrupsi digital ini, dan juga banyak pula koleksi buku saya yang membahas apa disrupsi digital dan bagaimana menyikapinya.

Disrupsi digital mulai terasa dampaknya sejak pertengahan tahun 2000-an (Thomas Friedman journalist majalah “New York Times” menyebut tahun pastinya: 2007) dan kini telah betul-betul menemukan critical mass-nya memengaruhi seluruh sendi bisnis dan ekonomi kita.

Celakanya, pergeseran tektonik yang dihasilkan oleh disrupsi digital ini telah menghasilkan format bisnis-ekonomi yang sama sekali baru dan sedikit kemungkinan bisa dibalik kembali (irreversible). Kini kita mengalami perubahan bisnis-ekonomi yang menetap, menghasilkan sebuah dunia baru yang sudah tidak kompatibel lagi dengan dunia sebelumnya.

Celakanya lagi, format bisnis-ekonomi baru itu memiliki output dan rules of the game yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Pemain yang tak kompatibel akan tenggelam, tergantikan oleh pemain-pemain yang lebih kompatibel.

Jadi singkatnya, kini kita bukannya menghadapi siklus bisnis “bearish-bullish” yang rutin berulang tiap 5-10 tahun, tapi sebuah perubahan menetap dan tak bakal balik kembali (irreversible) menuju sebuah kenormalan baru. “Welcome the new normal.”

Nah dengan berlandaskan analisa tersebut akhirnya saya diundang untuk memberikan sharing, yang kemudian saya beri judul “ Navigating The New Normal”, yang berupa hasil analisa saya, diawali dengan sejarah krisis yang pernah melanda di dunia yakni Tahun 1987, 1998, dan 2008.

Lalu apa “the new normal” itu?

Dalam tulisan kali ini saya membaginya menjadi dua dimensi, yaitu: “Output” dan “Rules of the Game”, hal ini mengacu pada tulisan Pak Yuswohady.

New Output: “More-for-Less Economy”
Kembali ke pertanyaan awal, apakah pertumbuhan ekonomi kita akan kembali ke era sebelum krisis 7-8% atau pertengahan 2000-an 6%? Menurut logika the new normal kemungkinannya kecil. Kenapa?

Disrupsi digital telah menghasilkan ekonomi baru yang saya sabut: “more-for-less economy”. Untuk menjelaskannya saya menggunakan Gojek sebagai contoh. Kenapa layanan Gojek lebih unggul dari ojek pangkalan? Karena Gojek bisa menghasilkan layanan yang “more-for-less” dimana konsumen mendapat benefit yang banyak (more), tapi dengan biaya yang lebih rendah (less).

Benefit-nya (more) berupa: tukang ojek yang lebih terpercaya, kemudahan dan kecepatan mencari ojek via apps, atau kepastian harga. Sementara biayanya (less), berupa tarif yang lebih murah.

Saat ini pemain-pemain ekonomi konvensional sedang tergantikan (tepatnya: “terbilas”) oleh pemain-pemain baru seperti Gojek, Traveloka, atau Tokopedia yang menawarkan konsep value baru “more-for-less” ini. Mereka bakal terbilas, kenapa, karena tak kuat bersaing melawan pemain-pemain baru yang “merusak pasar” dengan extraordinary value ini.

Para pemain konvensional ini masih tertegun-tegun, bagaimana bisa para pemain baru ini memberi benefit 10 kali lipat lebih baik, dengan harga dua atau empat kali lipat lebih murah. Kuncinya adalah digital. Teknologi digitallah yang memungkinkan pemain baru menaikkan benefit 10X dan memangkas biaya 10X pula.

Karena itu Yuswohadi mendefinisikan disrupsi digital secara sederhana sebagai munculnya layanan “more-for-less”. Begitu satu pemain meluncurkan layanan “more-for-less” di dalam suatu industri, maka saat itu pula disrupsi terjadi.

Nah, apa pengaruhnya layanan “more-for-less” di tingkat ekonomi makro? Ketika pengeluaran konsumsi seseorang untuk transportasi sehari-hari berkurang separuhnya karena beralih dari ojek pangkalan ke Gojek, apa pengaruhnya ke GDP (gross domestic product) dan pertumbuhan ekonomi?

Ceteris paribus, tentu saja GDP kita akan mengerut. Ingat sekitar 60% komponen GDP kita datang dari konsumsi rumah tangga. Kalau GDP mengerut maka pertumbuhan ekonomi juga akan lebih rendah. Inilah argumentasinya kenapa ekonomi kita (dan dunia) bakal “flat cenderung turun”.

Tapi apakah pertumbuhan yang “flat cenderung turun” ini menghasilkan output ekonomi yang lebih rendah? Tidak!

Disrupsi digital menghasilkan “super-productive economy” dimana output meningkat 10X dengan penggunaan aset yang 10X lebih kecil. Mengambil contoh Gojek lagi, konsep “sharing economy” memungkinkan Gojek menaikkan output berupa benefit yang jauh lebih besar ke konsumen, sekaligus memangkas biaya-biaya melalui prinsip sharing.

Namun celakanya, output berlipat-lipat yang dihasilkan oleh “more-for-less economy” ini tak sepenuhnya tercatat di dalam GDP konvensional. Apakah kemudahan kita mencari ojek melalui apps tercatat di GDP? Tidak. Apakah kepastian harga yang kita dapatkan dari layanan Gojek tercatat di GDP? Tidak. Itu sebabnya “more-for-less economy” membutuhkan formula perhitungan GDP baru yang lebih relevan.

Di dalam the new normal, pertumbuhan “flat cenderung turun” merupakan keniscayaan, karena kian super-produktifnya ekonomi kita; karena kian super-produktifnya “more-for-less economy”; dan karena super-efisiennya alokasi resources oleh teknologi digital, tentunya dengan bisnis model yang mereka ciptakan.

New Rule of the Game: “Asset-Light Model”
Karena output yang dituntut konsumen adalah produk/layanan yang “more-for-less”, maka pemain yang kompatibel dan survive di the new normal adalah mereka yang mampu menghasilkan produk/layanan yang “more-for-less”.

Untuk mewujudkannya, setiap pemain harus kompatibel dengan rule of the game baru yang disebut “asset-light model”. Dengan menggunakan teknologi digital, pemain harus menggunakan aset sesedikit mungkin untuk menghasilkan output setinggi mungkin.

Mana mungkin kita menghasilkan output setinggi mungkin dengan aset sesedikit mungkin? Nyatanya Gojek bisa. Caranya dengan prinsip sharing. Gojek tak perlu punya overhead yang besar (berupa: motor, pengemudi ojek, bengkel, biaya pemeliharaan motor, asuransi karyawan, dll.) untuk menghasilkan layanan yang 10 kali lipat lebih bagus dari layanan ojek konvensional.

Inilah new rule of the game yang harus dipatuhi oleh setiap pemain agar mereka sukses di kenormalan baru. Di kenormalan baru, hanya mereka yang piawai memanfaatkan “asset-light model” untuk memberikan layanan yang “more-for-less” lah yang akan memenangkan pasar.

Yang tidak siapa bagaimana? Menjadi keniscayaan pula bahwa mereka bakal terbilas oleh pemain-pemain baru yang lebih relevan.

Sumber tulisan :

yuswohady.com, president letter astra 2016.

Digital Vortex : Industri yang terancam

vortex1

 

“Digital Vampire” adalah sebutan untuk makhluk yang menjadi ancaman di era digital. Istilah “Digital vampire” di kemukakan oleh Pak Yuswohady (salah satu pakar branding) untuk menggambarkan sesosok makhluk yang hobinya bergentayangan siap menghisap darah setiap perusahaan besar (incumbent) yang memiliki model bisnis yang tak beres. Indonesia bisa dibilang memimpin industri rintisan (startup) di Asia Tenggara dengan menjadi kolam terbesar bagi 1.705 perusahaan startup digital, dengan berada di posisi keempat negara yang memiliki jumlah startup terbanyak di dunia.

Menurut Startup Ranking (2017), Indonesia berada di posisi keempat dunia dalam hal jumlah perusahaan rintisan yang berkembang, kalah dari Amerika Serikat yang berada di posisi puncak dengan 28.794 startup, diikuti India (4.713 startup) dan Inggris (2.971 startup). Dan tentu dengan pertumbuhan start up digital ini menjadi sangat wajar apabila potensi munculnya “digital vampire” di Indonesia menjadi cukup besar.

Semua incumbents di seluruh dunia kini paranoid dengan kehadiran digital vampire ini karena mereka begitu massif mendisrupsi industri dan begitu cepat menguasai industri tersebut. Di Tanah Air, kita menyaksikan bagaimana digital vampire seperti Grab dan Uber dalam waktu singkat menggoyahkan dominasi incumbent seperti Blue Bird atau Taxi Express.

Dari sektor perbankan, industri fintech menjadi cukup booming di Indonesia. Kendati nilai transaksinya masih kecil, solusi keuangan yang ditawarkan fintech beririsan langsung dengan jasa keuangan yang ditawarkan perbankan, seperti pembayaran, pinjaman, pendanaan personal, dan aggregator. Menurut data Statista, estimasi nilai industri fintech di Indonesia pada 2017 mencapai US$18,64 miliar. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan nilai transaksi fintech pada 2015 hingga 2021 berada di kisaran 20% per tahun, sementara kredit perbankan dari 2015-2018 hanya tumbuh 8-9% per tahunnya. Tren tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan fintech yang lebih besar daripada perbankan akan membuat pangsa pasar fintech dalam jasa keuangan makin meningkat ke depan.

Transformasi Digital Adalah Suatu Keharusan

Bukan kebetulan jika semua perusahaan itu menggunakan teknologi digital sebagai “senjata” untuk bertarung di era digital ini. Ya, karena seperti dikatakan Marc Andresseen pendiri Netscape mesin pencari pertama, “digital is eating the world”. Intinya, Andreessen ingin mengatakan bahwa software dan teknologi digital telah memporak-porandakan industri konvensional. Apapun perusahaan yang tidak mengadopsi digital akan ditelan pesaing-pesaing digital, yang tak lain adalah perusahaan perangkat lunak (software company).

 

Menurut studi terbaru bertajuk “Workforce Transformation in the Digital Vortex” yang disusun oleh Digital Business Transformation Center (DBT Center), sebuah inisiatif dari IMD dan Cisco, menyatakan bahwa perusahaan yang mengabaikan transformasi digital untuk bisnisnya, akan gagal dalam membangun kapabilitas yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan di era disrupsi digital.

Studi ini juga menemukan bahwa kurang dari 10 persen perusahaan berhasil mencapai level tinggi dalam tiga kapabilitas yang dibutuhkan untuk transformasi bisnis digital: kepekaan tinggi terhadap situasi, pengambil keputusan berdasarkan informasi yang cukup atau informed decision-making, serta eksekusi cepat. Seperti dijelaskan dalam penelitian tersebut, ketiga hal tersebut merupakan kapabilitas dasar yang harus dibangun oleh organisasi untuk dapat bersaing di tengah Pusaran Digital atau Digital Vortex.

Cisco memprediksi bahwa pada tahun 2020 akan ada sekitar 50 miliar benda yang terhubung ke internet dan menghasilkan data dalam jumlah yang sangat besar. Pada kondisi ini, perusahaan harus memastikan bahwa setiap karyawannya telah dibekali dengan kemampuan berkomunikasi dengan cara baru ini maupun menggali insight yang didapat dari pengelolaan data-data tersebut. Dengan demikian, mereka bisa ambil bagian dari peluang besar yang muncul di era digital ini.

Sebuah Peringatan

Beberapa tahun terakhir saya paling getol berburu dan membaca buku-buku mengenai disrupsi digital, termasuk karya dari beberapa tokoh yakni Prof. Rhenald Kasali, Pak Yuswohady, juga Pak Achmad Sugiarto ( Direktur Telkom Sigma). Di samping karena topiknya sedang happening, disrupsi digital merupakan gelombang perubahan yang merombak rule of the game hampir seluruh industri tanpa mengenal ampun. Salah satu buku menarik berjudul Digital Vortex(2016) yang ditulis para pakar dari IMD sebagaimana beberapa hasilnya saya cantumkan di atas.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penggambarannya mengenai proses terjadinya disrupsi digital. Dampak sebuah disrupsi digital terhadap perusahaan dan industri, menurut buku ini, paling mudah digambarkan sebagai sebuah vorteks, karena itu sering disebut vorteks digital (digital vortex).

Vorteks adalah pusaran yang memiliki tenaga dahsyat yang akan menghisap benda apapun yang ada di sekitarnya ke dalam pusat pusaran. Benda-benda yang terhisap ke dalam pusat pusaran ini memiliki kecepatan yang bersifat eksponensial dimana semakin mendekat ke pusat pusaran, kecepatannya mengalami akselerasi yang luar biasa.

Benda-benda yang sudah terperangkap ke dalam pusat pusaran vorteks akan terombang-ambing secara chaotic. Ketika benda-benda tersebut sudah berada di pusat, maka mereka akan saling bertubrukan, tercabik-cabik, terlumat-lumat, dan akhirnya membentuk entitas yang sama sekali lain.

Nah, dalam konteks ini disrupsi digital digambarkan sebagai pusaran hebat yang terjadi di pusat. Sementara perusahaan dan industri yang terdisrupsi digambarkan sebagai benda-benda yang terhisap di pusat pusaran. Begitu perusahaan dan industri sampai di pusat pusaran maka bisnis modelnya akan “tercabik-cabik” dan “terlumat-lumat” dan kemudian membentuk model bisnis baru yang sama sekali lain dengan bentuk awalnya.

Gambar di bawah menggambarkan peta dari berbagai industri yang siap terkena disrupsi. Industri-industri yang dekat dengan pusat pusaran seperti perusahaan teknologi, media dan hiburan, atau ritel adalah industri-industri yang siap dihisap oleh disrupsi digital. Sementara industri-industri yang posisinya lebih jauh dari pusat pusaran seperti farmasi, migas, atau utilitas relatif lebih kecil kemungkinan terkena disrupsi.

vortex

 

Namun apakah perusahaan-perusahaan di posisi terluar akan bisa bersantai-santai karena ancaman disrupsi masih jauh? Rupanya tidak demikian, karena pada akhirnya semua perusahaan akan terkena disrupsi. Ingat, apapun bisnis dan industri Anda, disrupsi digital pasti akan datang menghampiri. Karena itu siap tidak siap Anda harus menyongsongnya.

Sumber gambar: hubforum, IMD-Cisco

Sumber tulisan;

Yuswohady.com

cnbcindonesia.com

Infobanknews.com

Selular.id

 

 

 

Bagaimana Milenial Mendisrupsi Gaya Kerja dan Tempat Kerja?

milenial4

Setelah generasi baby boomer dan generasi X bertahun-tahun menguasai dunia kerja, kini sebuah generasi baru hadir untuk mengubah tatanan kaku bentukan generasi sebelumnya — untuk kehidupan yang lebih baik. Generasi Y — atau yang biasa disebut millennial — adalah kelompok usia produktif yang lahir antara periode 1980 hingga 2000. Di dunia profesional sendiri, millennial terus mengalami peningkatan jumlah yang signifikan — terutama di ranah perusahaan rintisan/startup.

Diperkirakan pada tahun 2025, tiga perempat dari seluruh profesi yang ada di dunia akan diisi oleh mereka yang berasal dari generasi millennial.

Sebagai angkatan kerja, milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku kerja yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Beberapa survei menyebutkan bahwa milenial adalah generasi yang hyper-connected oleh adanya internet, minta diperhatikan dan didahulukan (entitled), malas (“lazy generation”) karena dengan digital semuanya menjadi mudah, tidak fokus karena gampang terdistraksi, dan yang menjadi keluhann banyak bos: mereka tidak loyal pada perusahaan.

Pada Mei lalu, Deloitte merilis survei yang dilakukan pada 10.455 milenial yang bekerja sebagai karyawan full-time di 36 negara. Survei tiersebut bertujuan untuk mengetahui kebiasaan milenial dalam bekerja, termasuk loyalitas mereka terhadap perusahaan.
Hasilnya menunjukkan bahwa 43 persen dari generasi milenial berencana untuk meninggalkan pekerjaan mereka saat ini dalam waktu tak lebih dari dua tahun. Hanya 28 persen yang memiliki rencana untuk tetap pada pekerjaannya sekarang, setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Tak heran jika milenial berpotensi mendisrupsi tempat kerja. Maksudnya, ketika budaya, sistem, dan lingkungan kerja di perusahaan tidak bisa mengakomodasi nilai-nilai dan perilaku kerja baru mereka maka perusahaan menjadi tak relevan lagi.

Berikut ini adalah lima tren yang membuat milenial menjadi ancaman serius bagi perusahaan sebagai tempat kerja.

From “Paycheck” to “Passion”
Tentu saja milenial bekerja untuk mencari uang, tapi di atas itu, mereka bekerja untuk mengekspresikan passion dan mengaktualisasikan life purpose. Itu sebabnya bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam hari bagi mereka harus bisa menciptakan makna yang bernilai bagi hidup mereka.

Bekerja tak hanya untuk mendapatkan gaji bulanan atau mengejar karir, tapi juga untuk menghasilkan kontribusi yang bermakna bagi keluarga, masyarakat, negara, bahkan umat manusia.

Karena itu berbeda dengan generasi sebelumnya, bagi milenial bekerja di perusahaan startup yang masih baru dan fresh seperti Traveloka atau Gojek lebih bernilai dibandingkan bekerja di perusahaan besar dan mapan seperti Astra atau Citibank.

Kenapa? Karena bekerja di Traveloka atau Gojek, mereka merasa ikut ambil bagian dan berkontribusi dalam merevolusi industri pariwisata dan transportasi. Bagi mereka bekerja di Traveloka atau Gojek lebih cool.

From “Job” to “Life”
Angkatan kerja milenial mulai menyadari bahwa sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja. Karena porsi terbesar waktu mereka untuk bekerja, maka konsekuensi logisnya tak ada lagi batas demarkasi antara kerja dan hidup. Bekerja adalah bagian inheren dari hidup mereka.

Karena itu perusahaan harus bisa menciptakan tak hanya “work environment” tapi juga “playing environment” dan “living environment” di kantor. Kenapa? Karena milenial menuntuk work-life balance yang lebih manusiawi. Tak heran jika tempat kerja banyak starup kini memiliki format bersuasana rumah (homy) dimana “work, play, live” berjalan seiring.

Kini muncul tren di dunia apa yang disebut “digital nomad lifestyle” atau “workcation” yaitu gaya hidup baru yang menggabungkan bekerja, hidup berpindah-pindah, sekaligus liburan. Bali kini dikenal sebagai salah satu “workcation hub” dunia.

gojek6

From “Satisfaction” to “Growth”
Berbeda dengan generasi sebelumnya, kini angkatan kerja milenial tak hanya menuntut kepuasan kerja (job satisfaction), lebih dari itu mereka mengingkan pengembangan diri (personal growth).

Mereka menuntut tak hanya berbagai paket benefit mulai dari gaji, bonus, kantin gratis, atau lingkungan kerja yang fun. Itu hanya jangka pendek. Yang lebih sustainable, mereka menuntut perusahaan mampu mengembangkan diri mereka dengan terus mendongkrak knowledge, skill, dan attitude.

From “8 to 5” to “Flexibility”
Rumah di Depok, kantor di Sudirman-Thamrin. Karena Lenteng Agung dan Pasar Minggu macet minta ampun, maka untuk sampai di kantor jam 8 maka terpaksa berangkat dari rumah lepas subuh. Bolak-balik rumah-kantor bisa 5-6 jam dihabiskan di jalan.

Ini adalah kondisi yang tidak manusiawi sekaligus tidak produktif. Karena itu milenial menolaknya. Milenial menginginkan fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mulai muncul tren “remote workers”, “flexible worker”, “flexi job”, dan “gig economy”.

Deloitte memperkirakan, saat ini “remote worker” (pekerja yang tak lagi bekerja secara penuh di kantor) sudah mencapai 39% dari total pekerja penuh-waktu, dimana 15% dari angka tersebut bekerja di rumah (home full-timer). Angka ini akan terus bertambah seiring banyaknya milenial yang memasuki angkatan kerja.

Karena itu kini perusahaan mulai menerapkan flexitime (flexible working schedule) atau menginisiasi konsep “satelite office”, konsep kantor di pinggiran kota, sehingga milenial tak perlu ngantor di pusat-pusat kota dan waktu mereka efisien.

From “Boss” to “Coach”
Angkatan kerja milenial tak mau dipimpin oleh pimpinan yang bossy. Ia menuntut pimpinannya berperan sebagai coach. Pola kepemimpinan bergeser dari “command & control” ke “conversations & coaching”.

Ini artinya, si pemimpin harus melakukan engagement yang intens dan terus menerus. Pimpinan harus membimbing dengan intens dan memberikan masukan-masukan saat itu juga (instant feedback).

Bagaimana kalau para bos tak mampu menempatkan dirinya sebagai coach? Dengan enteng para pekerja milenial akan resign. Ingat, mereka adalah tipe pekerja yang tidak loyal, yang begitu mudah menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya.

Sumber : yuswohady.com, id.techinasia.com

Potensi dan Perkembangan Ekonomi Digital di Indonesia

2016_11_22-16_09_33_815484e592756819af7a1590a977f5a6

Menurut Dalle (2016) sejarah ekonomi dunia telah melalui empat era dalam hidup manusia yaitu era masyarakat pertanian, era mesin pasca revolusi industri, era perburuan minyak, dan era kapitalisme korporasi multinasional. Empat gelombang ekonomi sebelumnya berkarakter eksklusif dan hanya bisa dijangkau oleh kelompok elite tertentu. Gelombang ekonomi digital hadir dengan topografi yang landai, inklusif, dan membentangkan ekualitas peluang. Karakteristik ini memiliki konsep kompetisi yang menjadi spirit industri yang dengan mudah terangkat oleh para pelaku startup yang mengutamakan kolaborasi dan sinergi. Karena itu pula ekonomi digital merupakan ‘sharing economy’ yang mengangkat banyak usaha kecil dan menengah untuk memasuki bisnis dunia.

Pertumbuhan ekonomi digital ini terjadi seiring dengan pengguna internet yang semakin meningkat. Menurut catatan Bank Indonesia, pengguna internet Indonesia sudah mencapai 130 juta orang atau 50% dari jumlah penduduk. Dari jumlah ini 124 juta merupakan pengguna internet aktif. Lebih lanjut, data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Februari 2018, menunjukkan, 49,83% masyarakat menggunakan internet 1-3 jam dalam sehari. 29,63 persen masyarakat menggunakan internet 4-7 jam sehari. Dan sebanyak 26,48 persen menggunakan waktunya untuk berinternet lebih dari 7 jam dalam sehari.

Sementara itu katadata menyebutkan proyeksi pertumbuhan pengguna internet rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia.

data pengguna internet

Bank Indonesia (BI) memproyeksi potensi transaksi ekonomi digital Indonesia diperkirakan sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2064 triliun pada 2025 hal ini sejalan dengan hasil riset Mc Kinsey. Salah satu indikator besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia bisa kita lihat dari sektor e-commerce.

Laporan terbaru PPRO, perusahaan layanan pembayaran terkemuka di dunia tentang pembayaran dan perdagangan online tahun 2018, menyatakan Indonesia memiliki pertumbuhan tertinggi mencapai 78% per tahun. Negara lainnya untuk top five pertumbuhan pasar tertinggi adalah Meksiko 59%, Filipina 51%, Kolombia 45%, dan Uni Emirat Arab (UEA) 33%.

Ada ratusan situs belanja online dengan berbagai kelompok produk mulai dari elektronik, pakaian, kesehatan, hingga perjalanan. Beberapa yang populer, seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee, Traveloka, Pegipegi, dan masih banyak lagi. Dari beberapa toko online tersebut, pertumbuhan terbesar terjadi pada tiket pesawat dan hotel dengan pertumbuhan 17,7%; disusul pakaian dan sepatu yang tumbuh 11,9%; kemudian kesehatan dan kecantikan tumbuh 11,2%.

Tingginya minat masyarakat dalam ekonomi digital

Pastinya Anda tidak asing lagi dengan istilah startup digital. Istilah ini memang sering terdengar di tiap obrolan. Sebenarnya, apa itu startup digital? Perusahaan baru yang sedang dikembangkan, begitulah definisi umumnya. Namun manajemen strat up digital ini berbeda dengan manajemen perusahaan rintisan lainnya, dan perbedaan yang paling jelas adalah, start up digital selalu menggunakan internet dan media digital sebagai landasan bisnisnya.

Direktur Digital & Strategic Potfolio PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom), David Bangun memprediksi Startup digital Indonesia akan tumbuh semakin subur tahun ini. Hal itu didorong kian merebaknya gaya hidup digital, baik di kalangan masyarakat urban maupun suburban. Situs startupranking.com menyebutkan, saat ini Indonesia sudah memiliki 1.705 startup digital. Dalam satu tahun terakhir Indonesia mencatat pertumbuhan sekitar 300 startup, dari 1.400-an startup pada 2017. Kondisi itu menempatkan Indonesia pada posisi keempat sebagai negara dengan jumlah startup terbesar di dunia. Berdasarkan data tersebut, Indonesia hanya kalah dari Amerika Serikat yang memiliki 28.789 startup, India 4.711 startup, dan Inggis dengan 2.971 startup. Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan Singapura yang berada di peringkat 15 dengan 508 startup.

Minat investor asing mendanai start up Indonesia Meningkat

Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan paling signifikan dari sisi ekonomi hingga teknologi, Indonesia saat ini menjadi pusat perhatian para investor secara global. Di tahun 2008-2010, ketika startup belum sebanyak tahun ini jumlahnya, masih sedikit jumlah investor asing yang masuk ke Indonesia untuk berinvestasi dan masih didominasi venture capital asal Jepang. Di tahun 2017 ini, VC asal Amerika Serikat dan Tiongkok mulai ramai mengunjungi Indonesia untuk berinvestasi.

Salah satu alasan mengapa saat ini Indonesia tampil lebih unggul mengalahkan Malaysia dan bersanding dengan Singapura adalah besarnya ukuran pasar atau market size. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan smartphone yang makin banyak digunakan masyarakat Indonesia, hingga makin meningkatnya penetrasi internet di Indonesia.

Sejak tahun 2011 Indonesia mulai mengalami perubahan yang cukup signifikan dari sisi teknologi, dengan bermunculannya startup lokal seperti Tokopedia, GO-JEK, hingga Bukalapak. Dinamika tersebut yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan dan perubahan paling cepat.

Kepercayaan investor pada startup di Indonesia terus menerus meningkat. Bahkan peningkatan jumlah investasi yang masuk ke startup asal Indonesia mencapai 68 kali lipat dalam lima tahun di tahun 2016 dengan nilai US$ 1,4 miliar. Bahkan di tahun 2017 nilai tersebut berganda menjadi US$ 3 miliar.

AT Kearney yang menggandeng Google untuk melakukan kajian tentang Indonesia Venture Capital Outlook 2017 mengungkapkan bahwa pertumbuhan yang masif membuat nilai dari startup Indonesia akan mampu melampaui nilai investasi di bidang migas yang mencapai US$ 5 miliar pada tahun 2016.

investment-vs-outlook-2017

Meskipun Amerika Serikat tetap menjadi pusat perhatian startup dunia, Asia tumbuh pesat berkat perkembangan investasi di Tiongkok, India dan Asia Tenggara. Bahkan pertumbuhan investasi si Asia Tenggara merupakan pertumbuhan tercepat di Asia dengan Singapura dan Indonesia sebagai gerbong utama.

Ditulis dari berbagai sumber.

Leisure Economy Jaman Old Vs Jaman Now

 

selfie

Sumber : tripcanvasindonesia

Melambatnya konsumsi yang sempat ramai pada akhir Tahun 2016 sampai sekarang oleh beberapa pihak disebut sebut sebagai salah satu realitas yang menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia. Beragam hipotesis sampai prediksi-prediksi sederhana pun belakangan muncul. Semuanya berusaha membaca kondisi sebenarnya yang membuat konsumsi masyarakat tumbuh melemah.

Prediksi terkait dengan gaya hidup yang lebih menyukai asupan sehat, makin giat berolahraga, hingga memilih menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya rekreasi, sering disebut sebagai penyebab berkurangnya konsumsi ritel di masyarakat. Bahasa ekonominya, ada shifting yang terjadi, jika sebelumnya orang Indonesia gemar berbelanja, di zaman now orang lebih menggemari leisure economy.

Petumbuhan kelas menengah dan generasi milenial menjadi perhatian tersendiri sebagai penyebab dari perubahan perilaku ke leisure economy. Menurut ekonom Faisal Basri, setidaknya pada tahun ini jumlah kelas menengah nusantara telah mencapai 60% dari total masyarakat.

Berdasarkan laporan survey Nielsen, di Indonesia diketahui bahwa 46% konsumennya lebih royal menghabiskan uangnya untuk kebutuhan yang bersifat gaya hidup maupun pengalaman. Makan di luar rumah, berekreasi, memanjakan diri di salon, hingga berwisata ke destinasi menarik menjadi prioritas dibandingkan membeli barang-barang kebutuhan sekunder.

Leisure Economy “Jaman Old”

Dalam pandangan saya sebagai orang awam, leisure economy “jaman old” ini adalah leisure economy yang digerakkan oleh kelas menengah baru yang sebagian besar dihuni oleh generasi Y, yang mayoritas menjadi keluarga muda di tahun ini. Leisure economy jaman old ini, muncul sebagai bentuk pelampiasan gen Y karena tekanan pekerjaan dan rutinitas yang membosankan. Diakui atau tidak, banyak orang terjebak dalam situasi ekonomi kegentingan waktu (time crunch economy). Ekonomi yang menggambar situasi dimana orang seakan-akan kekurangan waktu. Orang sering dalam situasi keterburu-buruan. Orang yang dikejar-kejar pekerjaan yang semakin menumpuk dan segera diselesaikan sehingga dua puluh empat sehari seakan masih kurang. Banyak dari rekan rekan kerja saya yang harus berangkat jam 5 pagi dan baru sampai rumah baru jam 9 malam, lebih parahnya lagi ada dari mereka yang dirumahpun masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Sebagai bentuk pelampiasan terhadap kepenatan itulah akhirnya banyak dari kalangan kelas menengah ini mengalokasikan budgetnya untuk mengkonsumsi apa apa yang membuatnya senang dan nyaman seperti berwisata, makan di restoran dan sebagainya.

Leisure Economy “jaman now”

Dalam perjalanan saya ke beberapa Kota, khususnya yang di kenal sebagai Kota basis wisata. Cukup sering saya bertanya kepada para driver online yang saya tumpangi. Ada hal hal menarik yang kemudian menjadi pembicaraan kami. Si driver online tersebut bercerita kepada saya bahwa, dia beberapa kali mengantarkan pelancong yang datang ke Malang hanya untuk menikmati apa yang saya sebut dengan “digital tourism”. Digital tourism yang saya maksud disini adalah orang yang berwisata bukan untuk menikmati dan bersantai ditempat wisata yang dimaksud, namun hanya untuk mengambil foto dan di upload ke media social yang menunjukkan bahwa ia telah berkunjung ke wisata tersebut.

Ya inilah keunikan para penikmat leisure economy jaman now. Berbeda dengan leisure economi “jaman old” dimana lebih membutuhkan ketenangan dan menikmati tempat wisata. Generasi leisure conomy “jaman now” lebih membutuhkan pengakuan di media sosial.

Dalam sebuah gelaran pelatihan “Marketing in Disruption” Profesor Rhenald Kasali iseng bertanya kepada para pesertanya : “ Apakah anda pernah selfie dan lalu fotonya anda post di instagram atau facebook ?”.  “Sering” itulah jawaban yang keluar dari mayoritas peserta.

Pertanyaan selanjutnya adalah : “ apa yang anda rasakan bila dalam tempo satu-dua jam kemudian tak ada yang memberi respon berupa “love” atau “like”. Tiba tiba kelas hening, menunjukkan muka para peserta yang gelisah, namun sesaat kemudian mereka menertawakan diri sendiri.

Inilah yang kemudian saya sebut dengan leisure economy “jaman now” atau yang oleh Prof. Rhenald kasali disebut dengan “Esteem Economy”.

Tiap generasi punya needs yang berbeda. Generasi baby boomers dan generasi X membutuhkan “leisure” dalam artian menikmati waktu, harta dan sebagainya, sedangkan  millennials (khususnya gen Z dan sebagian Gen Y) butuh esteem. Mereka mencari share, “like” atau jempol karena difasilitasi medsos. Ini persis dengan yang dilakukan oleh beberapa rumah makan kekinian. Makanannya mungkin biasa saja. Tetapi, tak henti-hentinya pengunjung berdatangan, karena disitu menyediakan tempat foto yang menarik untuk dijadikan background selfie/wefie.

Rasa ingin tampil dan eksis di dunia maya akhirnya mendorong masyarakat untuk mengunjungi berbagai lokasi tertentu yang dianggap mampu menghasilkan foto-foto keren untuk dipajang di akun mereka. Lokasi yang instagramable pun jadi buruan. Plus, demam “My Trip My Advanture” dimana banyak artis yang pakai media sosial, jalan-jalan ke suatu tempat, lalu foto. Akhirnya, para fansnya juga mau ikut jalan-jalan ke situ untuk foto juga.

Dari ulasan saya diatas masuk kategori manakah anda ? Jaman Old atau Jaman Now ? hehe

Nation Branding: Agenda Bangsa setelah Asian Games Usai

Minggu 2 September 2018, menjadi hari terakhir sekaligus hari  penutupan Asian Games. Sebagai bangsa kita bangga karena telah sukses menyelenggarakan event akbar empat tahunan ini. Kita juga bungah karena prestasi atlet kita mencuat mengharumkan nama bangsa.

Tak hanya itu, Asian Games 2018 betul-betul menjadi pemersatu bangsa ketika kita sejenak melupakan perbedaan kubu politik, suku, agama, golongan, demi kemenangan dan kejayaan Indonesia tercinta.

Namun, setelah menutup “pesta kemenangan” hari ini apakah kemudian semuanya berakhir begitu saja?

Tidak! Justru di sinilah pekerjaan besar harus dimulai. Asian Games haruslah kita jadikan momentum, bahkan batu loncatan, untuk membangun nation brand Indonesia.

Apa itu nation brand? Intinya adalah adalah citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara.

Citra dan reputasi negara ini bisa dilihat dari enam kualitas yaitu: Export (citra produk nasional yang kompetitif), Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment (ketertarikan investor untuk menanam modal), Culture (kekayaan budaya), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Singkatnya, nation branding bertujuan untuk menarik TTI (trader, tourist, investor) dengan menciptakan citra dan reputasi di enam kualitas di atas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak nation brand Indonesia setelah Asian Games berakhir?

Super Junior di Asian Games 2018

#1. Kampanye Nation Branding
Dalam waktu yang tidak lama setelah Asian Games berakhir, Indonesia harus meluncurkan kampanye nation brand sebagai upaya me-leverage kesuksesan dalam mendapatkan eksposur global yang luar biasa.

INASGOC mengonfirmasi bahwa ada sekitar 11 ribu media lokal maupun global meliput Asian Games 2018. Ini merupakan eksposur luar biasa yang hanya bisa kita perolah melalui event akbar (sport mega-event) seperti Asian Games, Olimpiade, atau Piala Dunia. Momentum inilah yang harus kita perpanjang dengan meluncurkan kampanye nation branding untuk menarik TTI datang ke Tanah Air.

Kita harus banyak belajar dari negara tetangga Australia. Australia me-leverage habis-habisan posisinya sebagai tuan rumah Olimpiade Sidney tahun 2000. Event akbar ini kemudian diikuti dengan berbagai kampanye nation branding: “Life a Different Light” (2004-2006); lanjut “A Uniquely Australian Invitation” (2006-2008); kemudian “Come Walkabout” (2008-2009); dan terakhir “There’s Nothing Like Australia” (2010-sekarang).

#2. Diplomasi Global
Afrika Selatan memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Cina memanfaatkan Olimpiade Beijing 2008 untuk menunjukkan bahwa dengan laju pembangunannya yang supercepat, Cina bakal menyalip Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melalui Asian Games Indonesia juga bisa memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan populasi terbesar keempat, Indonesia juga sedang bertransformasi menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

#3. Visi Olahraga 2032
Dengan bekal kesuksesan menyelenggarakan Asian Games Indonesia harus berani think big dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Olimpiade 2020 bakal diadakan di Tokyo, 2024 di Paris, dan 2028 di Los Angeles. Untuk Olimpiade 2032, kini sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk bidding yaitu Jerman, Australia, dan India. IOC bakal menetapkan pemenangnya pada tahun 2025, jadi masih ada waktu tujuh tahun untuk berbenah diri.

Perlu diingat sejak tahun 2000an, negara-negara maju baru BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah sport mega-event seperti Olimpiade dan Piala Dunia sebagai bentuk diplomasi global untuk mengangkat nation brand mereka masuk dalam “club of elite” negara-negara maju.

Kalau betul Indonesia bisa mewujudkan visi ini, maka nation brand Indonesia akan naik kelas sejajar dengan negara-negara maju dunia. Karena perlu diingat, negara yang mampu menyelenggarakan event-event olahraga besar tersebut hanyalah negara-negara maju.

 

Sumber foto: Okezone.com

Sumber artikel : yuswohady.com

Ketidaktahuan : Waspadalah jika pengetahuan anda sudah “kadaluarsa”.

Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketika kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet/kadaluarsa dan tak relevan lagi, di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

Unlearn

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan.

Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Karena itu di era disrupsi saat ini “unlearning” itu menjadi sangat penting. Untuk adaptif dan cepat merespons datangnya disrupsi, mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Apa konsekuensinya jika kita merasa tak tahu semua? Dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru akibat datangnya disrupsi maka rasa keingintahuan kita akan begitu menyala-nyala.

Keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengeksplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses melewati disrupsi.

So, ketidaktahuan saja tidak cukup, kita juga perlu keingintahuan.

Untuk sukses melewati disrupsi kita harus memiliki dua mindset sekaligus: ketidaktahuan dan keingintahuan.

Ketidaktahuan memungkinkan kita menjadi agile learner. Sementara keingintahuan memungkinkan kita menjadi fast learner.

Agile learner menjadikan kita begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses melewati disrupsi. Sementara fast learner memungkinkan kita super cepat menemukan formula sukses melewati disrupsi.

 

Sumber : yuswohady.com

Lebaran Zaman Now (1)

Pertama tama saya atas nama pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas khilaf dan dosa baik yang disengaja maupun tidak. Semoga Idul Fitri kali ini membawa semangat silaturrahim yang lebih erat lagi diantara sesama umat manusia.

20180615_052154_0001

Ulasan saya kali ini adalah tentang tren yang terjadi selama idul fitri, yang merupakan hasil riset dari Inventure ( Pak Siwo dkk). Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa mudik sudah menjadi budaya dan kekuatan tersendiri bagi pembangunan ekonomi di Indonesia.

Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur lebaran lebih panjang; cairnya THR bagi PNS dan pensiunan; dan beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat. Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama lebaran mencapai Rp 188 triliun, sementara sirkulasi uang melalui remittance/transfer menurut Pos Indonesia mencapai Rp 3-4 triliun. Sebuah angka yang Fantastis !!!

Lantas tren apa saja yang terjadi selama masa lebaran ( puasa & idul fitri) tahun ini ? Mari kita simak bersama :

#1 Lebaran Adalah Liburan
Momen lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Sholat Ied dan halal-bihalal di kampung hanya memakan waktu setengah hari saja. Lantas sisanya diisi apa dong? Liburan dan kulineran. Yes, waktu libur yang cukup panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeskplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata lebaran. Beberapa destinasi favorit seperti Yogyakarta, Malang dan Bali tercatat mengalami peningkatan wisatawan, Yogyakarta mengalami kenaikan wisatawan sebesar 15% ( detik.com), Bali naik 50% (rri.co.id), dan Malang mengalami kenaikan wisatawan sebesar 30% (malangvoice.com).

#2 Lailatul Obral: The Paradox of Consumption
Setiap menjelang lebaran atau sepuluh hari terakhir ramadhan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late night sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Di bulan suci ramadhan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin di saat lebaran. Saat harus i’tikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral”.

#3 Online Late Nite Sale
Selain mal-mal yang menggelar late night sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce menggelar hal serupa. Antrian panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak, jadi wajar saja kalau website ecommerce sempat down. Tokopedia misalnya menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain untuk membangkitkan nafsu belanja…belanja…belanja!!!

#4 Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran
Bulan ramadhan dan momen mudik lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar brand. Daya beli masyarakat yang cukup tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand. Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun posko-posko yang dibuat oleh brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

toped2

#5 Mudik = Pamer Kesuksesan
Momen lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru hehe… Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka untuk membeli smartphone di saat lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana untuk membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

Selamat ya bagi yang udah bsia membeli mobil baru dan handphone baru

#6 Mudik is Expensive… but It’s a Must
Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transportasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji + THR pun seketika ludes… cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan.

#7 Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs
Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka kota yang identik dengan kemacetan, selama lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantong-kantong mudik di berbagai daerah. Di samping itu sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

599898-1000xauto-jakarta-sepi

Salah satu foto yang sempat viral di medsos, yang menggambarkan lengangnya Jakarta.

#8 Syawalan Digital
Keriuhan bermaafan saat lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama buat teman atau kerabat yang jauh. H-1 lebaran ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan lebaran di WA, Facebook atau Twitter. Dan juga banyak ditemui foto foto dengan pose tangan di depan khas bermaaf maafan, baik pribadi, alumni sekolah dan sebagainya. Nah satu lagi yang mungkin akan nyesek bagi para jomblo, yakni ucapan idul fitri yang ujung kalimatnya ada tulisan….. dan … ( pasangan). Semoga anda yang jomblo segera mendapat jodoh ya guys, yang sholeh/sholihah yang bisa diajak foto bersama lebaran tahun depan.

#9 Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”

Ketertarikan masyarakat akan segala hal berbau digital tampaknya tidak diragukan lagi, termasuk dalam penghimpunan zakat. Membayar zakat kini semakin techy. Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Basnaz juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman. Tahun 2016 jumlah pembayar zakat berbasis digital tercatat sebesar 1%, tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai 12% dan di tahun 2018 ini mengalami kenaikan lagi sebesar 18%.

#10 Lebaran = Fashion War
Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah bawah juga menunggangi tren baju lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

Sementara cukup sekian ulasan dari saya, semoga bermanfaat untuk anda semua.

Menakar Potensi Pasar Muslim di Indonesia : Tren Muslim Zaman Now

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat sebagaimana yang saya temukan di buku yang ditulis Oleh Pak Siwo ( Yuswohady) yang berjudul Marketing to the Middle-Class Muslim dan #GenM ( Generasi Muslim). Persis seperti yang ditulis pada dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Pada bulan Ramadhan kali ini Pak Siwo lagi lagi memunculkan hasil riset terbarunya terkait dengan pasar muslim di Indonesia. Nah untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now, berikut 10 tren perilaku konsumen muslim di Indonesia :

#1. Halal of Things: The Hot Label
Di dunia digital selama ini kita mengenal istilah “Internet of Things” (IoT). Artinya, semua peralatan apapun (TV, lemari es, mobil, hingga wearable devices) nantinya akan membentuk jejaring internet yang terkoneksi satu sama lain. Dengan menggunakan analogi yang sama saya punya istilah baru “Halal of Things” (HoT) yaitu fenomena dimana seluruh produk (terutama yang terkait makanan) akan diberi label halal.

Lemari Es Halal Pertama

Labelisasi halal ini akan berlangsung begitu masif menjelang dan setelah tahun 2019 karena memang UU Jaminan Produk Halal (UU No. 33 Tahun 2014) akan diterapkan di tahun tersebut. Label halal akan menjadi “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen muslim zaman now.

#2. Riding the Conversations
Dengan munculnya fenomena Halal of Things, pemilik brand non-makanan/minuman seperti lemari es, panci, hijab, tisue, lingerie, hingga pembalut wanita, berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Tujuannya untuk menciptakan percakapan: word of mouth dan viral di media sosial yang ujung-ujungnya melesatkan awareness produk. Mereka mencuri perhatian muslim zaman now. Tapi ingat, langkah berani ini bukannya tak membawa risiko, karena bisa menimbulkan kontroversi yang membahayakan brand: “high return, high risk… even high loss!”

#3. Hijrah: The New Way of Life
Hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi mereka, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan kerudung. Mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam . Misalnya, rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya mereka yang bekerja di bank konvensional, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba). Fenomena hijrah ini banyak didorong oleh para selebritas baik dari bintang film, pemain sinetron, hingga penyanyi.

Hijarah - Tidak Bekerja di Bank Konvensional

#4. The Rise of Riba Awareness
Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan muslim zaman now, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech. Go-Pay yang sempat dianggap riba, kini mulai ancang-ancang meluncurkan produk Go-Pay syariah ( Note : beberapa waktu lalu Go Jek sempat melakukan jajak pendapat tentang hal ini).

Kick RIba#5. Umat-nomic: The New Movements
Tahun kemarin saya mengikuti beberapa workshop yang bertemakan “Keuatan Ekonomi Umat”, dan saya sendiri sempat berdiskusi langsung dengan teman teman dari NU dan Muhammadiyah perihal potensi ekonomi umat ini, karena bagi saya dua organisasi islam ini bisa menjadi motor sekaligus akselerator untuk pemberdayaan ekonomi umat.  Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety & desire muslim zaman now. Mereka muncul dengan mengedepankan konsep syariah. Yang di maksud Umat-nomic adalah gerakan ekonomi umat yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Muslim zaman now menyukai geliat gerakan ini karena konsep ekonomi yang dikembangkannya mengacu kepada ajaran Islam dan dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan profesional.

212 Mart

Umat-nomic hadir sebagai alternatif bagi sistem ekonomi kapitalistik yang bersifat menghisap dan menghasilkan ketimpangan kaya-miskin. Contohnya adalah 212 Mart, perusahaan jaringan gerai ritel, yang dikelola dengan sistem baru yang sangat Islami yaitu: amanah (dapat dipercaya), jamaah (bersam-sama/koperasi), dan izzah (kemuliaan). Contoh lain, Bank Wakaf mikro dirancang untuk membantu kelompok segmen bawah-menengah dengan akad yang menguntungkan nasabah.

#6. Soleh-Smart Kids: The New Paradigm of Parenting
Di kalangan mamah-mamah muda muslim zaman now kini muncul pergeseran mindset dan perilaku dimana mereka lebih memilih dan menyukai pendidikan berbasis Islam. Mereka tak hanya menginginkan anak-anak mereka pintar di bidang matematika, fisika, atau mahir berbahasa Inggris, tapi juga ingin anaknya memiliki nilai-nilai dan karakter Islam yang mulia.

Fenomena yang lagi happening saat ini adalah kemunculan SD Islam Terpadu (SD-IT) yang justru lebih diminati dibanding SD-SD biasa. Di berbagai kota besar/menengah di Tanah Air kini banyak bermunculan sekolah-sekolah (TK-SD-SMP-SMA) berkelas global yang menggabungkan sains dengan pendidikan karakter Islam. Sekolah-sekolah ini sangat diminati oleh orang tua muslim walaupun biayanya selangit .

Mungkin ini adalah bentuk kesadaran mamah mamah dan papah papah muda bahwa menanamkan pendidikan Moral dan spiritual adalah bagian penting dari mempersiapkan anak anak mereka, agar kedepan bisa menjawab tantangan jaman yang ada, yang semakin kompleks dan terbuka ( pengaruh narkoba, kenakalan remaja dll) khususnya di Kota Kota besar.

#7. Lei-Sharia: Muslim-Friendly Leisure
Muslim zaman now adalah juga experience-seeker yang hobi banget melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang saya sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip sharia-friendly. Banyuwangi misalnya mulai memperkenalkan wisata pantai syariah. Kolam renang hotel syariah kini mulai tidak lagi mencampur antara tamu pria dan wanita.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal trip. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, dan lainnya.

Untuk Indonesia, jika kita berbicara tentang daya saing  pariwisata halal (halal tourism) memang masih kalah dengan Malaysia, Singapura, ataupun Thailand. Kontribusi terhadap PDB hanya sekitar 9,6% dan menyumbang devisa sebesar US$ 11,9 miliar, begitu juga peringkat kita di Global Muslim Travel Index (GMTI), masih di bawah Malaysia yang menduduki peringkat 1. Jumlah wisman muslim yang ke Indonesia pada tahun 2015 hanya 2,2 juta.

Namun seiring dengan tren tingginya wisata syariah ini, kita patut berbangga. Pertumbuhan wisatawan muslim di Indonesia diprediksi mencapai 9,1% per tahun, lebih tinggi daripada rata rata global yang hanya 6.3% per tahun, dan pemerintah mentarget 5jt wisatawan muslim Indonesia pada 2019.

Lei-Sharia

#8. Mipster: The New Role Model
Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan bahkan terkenal. Sosok muslim kekinian ini sering disebut “Mipster” atau Muslim Hipster. Mereka adalah sosok muslim zaman now yang memiliki mindset global, toleran, inklusif, digital-savvy, tapi juga tetap soleh dan religius. So, seimbang antara “faith” dan “fun” (2F).

Di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran dengan penampilan yang sangat stylish. Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di media sosial seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana.

Muzamil Hasballah

#9. Sportyjab: The New Hype
Gaya hidup sehat kini semakin menjadi pilihan bagi muslim zaman now. Berolah raga sambil narsis telah menjadi “kewajiban”. Bagi muslimah zaman now, menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab tak serta-merta membatasi aktivitas berolah raga dan aktivitas produktif lainnya. Mereka tetap jogging, nge-gym, zumba, atau berenang mengenakan hijab yang sporty. Yup, sehat dapat, syar’i pun dapat.

Melihat tren ini, Nike sampai mengembangkan lini brand baru untuk hijabers: Pro Hijab. Produk tersebut diperuntukkan bagi hijabers yang aktif berolahraga tapi tetap ingin stylish dengan hijabnya. Tak hanya Nike, brand lokal seperti Specs dan Sporte justru sudah lebih dulu mengeluarkan lini produk yang sama. Sportyjab… the new hype!

SportyJab

#10. Muslizen: the New Digital Lifestyle
Perkembangan dunia digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak bisa lepas dari gaya hidup digital. Hidup mereka sudah tergantung kepada media sosial, apps, wearable device, dan sejenisnya.

Aktivitas kehidupan sehari-hari mereka pun mulai beralih ke digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintech, travelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial seperti: HalalTrip (berlibur), Muslimarket (belanja), IndVes (berinvestasi), Kitabisa.com (sodaqoh), rumah ta’aruf, Paytren dan sebagainya. Termasuk bagi anda pelaku UKM yang butuh tambahan modal ada start up Peer To Peer Lending berbasis syariah yakni investree (investree.id) yang pada awal 2018 kemarin telah berhasil menyalurkan dana sebesar 2,7 Milyar Rupiah.

Mengacu pada beberapa tren di atas, tentunya kita juga harus menyiapkan strategi agar pasar muslim yang sangat potensial ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan bisnis yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selamat memikirkan strategi terbaik untuk meningkatkan bisnis anda.

 

sumber utama tulisan ini adalah yuswohady.com