CARA PINTAR MENGAMBIL RESIKO DAN KEPUTUSAN DALAM USAHA

risk

Orang yang berani mengambil resiko bukanlah orang bodoh yang asal nekat mengambil suatu keputusan. Seringkali mereka yang kita kira berani dalam mengambil sebuah resiko justru sebenarnya sangat berhati-hati dan mengalami rasa takut berkelanjutan dalam dirinya sendiri.

Siapa bilang pengambil resiko itu orang yang berani? Siapa bilang mereka itu nekat? Darimana asumsi seperti ini berasal? Justru kebalikannya mereka itu sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam mengambil resiko yang ada.

Let’s think about it.

Ketika kita mendengar kata “berbisnis”, “entrepreneurship”, “wirausaha”, maka yang muncul pertama kali dibenak kita adalah resiko. Namun apakah betul setiap usaha/bisnis itu selalu beresiko? Apakah benar semua entrepreneur itu mempertaruhkan nasibnya? Apakah mereka betul-betul mengorbankan sesuatu atau bahkan segalanya?

Saat Bill Gates dan Mark Zuckerberg memutuskan cuti/keluar dari Harvard untuk membangun kerajaan Microsoft dan Facebook, mereka memastikan dirinya bisa kembali lagi ke Harvard seandainya usaha mereka tidak berjalan mulus. See? Mereka tidak asal nekat bertindak, mereka bahkan tidak mengorbankan apapun (nothing to lose) selain waktu dan tenaga mereka saat masih muda, mereka punya backup plan jika segala sesuatunya tidak berjalan seindah yang mereka harapkan, sesial-sialnya adalah mereka akan kembali ke kampus dan sedikit terlambat untuk menyelesaikan studi kuliahnya. Apakah ini bisa disebut pengorbanan? Apakah ini nekat?

Bahkan pebisnis dan investor genius seperti Warren Buffett memiliki nasihat-nasihat bijak tentang resiko seperti:

  • Risk comes from not knowing what you’re doing.
  • Never test the depth of river with both the feet.
  • Rule No. 1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No. 1.
  • I don’t look to jump over 7-foot bars, I look around for 1-foot bars that I can step over.

Orang yang sukses dalam bisnis/usaha bukanlah mereka yang sekedar berani mengambil resiko, melainkan mereka yang pintar bermain dengan resiko yang ada.

Faktanya adalah pengambil resiko itu justru adalah orang yang betul-betul takut kehilangan sehingga mereka menemukan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengukur secara teliti dan bermain pintar dengan resiko yang ada.

Mungkin entrepreneur-entrepreneur yang sering Anda lihat itu sekarang sedang mengalami rasa cemas dalam hatinya, khawatir tak berkesudahan memikirkan perkembangan bisnisnya yang cenderung belum pasti, bahkan sebagian lainnya mungkin sudah lelah bermain “fake it till you make it” dan ingin menyerah.

Seni mengambil resiko

Pertama hampir segala sesuatu dalam hidup ini memiliki resiko, bahkan tidak mengambil resikopun juga menjadi bagian dari sebuah resiko (the risk of not taking risk). Karyawan bisa saja dipercat dari pekerjaan yang sudah stabil, pebisnis bisa saja bangkrut, freelancer bisa saja dituntut secara hukum, bahkan bisa saja besok Anda mati kecelakaan, intinya dalam hidup tidak ada yang 100% aman.

Setiap pilihan entah itu beresiko atau tidak pasti memiliki dampak, termasuk saat kita tidak melakukan apapun, karena itu sangat penting bagi kita untuk mengatur semua pilihan yang ada menjadi keputusan yang memberikan hasil terbaik.

Karena konteks kita kali ini adalah bisnis, maka inilah beberapa cara pintar mengambil keputusan atau resiko dalam usaha/berbisnis (note: hal ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari):

1. Buat bisnis yang susah rugi

Menurut saya ada 2 orang jenis pebisnis:

  • Pebisnis yang bisa menghandle kegagalan dan kerugian (biasanya karena sudah punya modal/koneksi/resource yang melimpah sejak awal)
  • Pebisnis yang tidak bisa menghandle kegagalan/kerugian (boleh gagal asal jangan rugi)

Saya termasuk tipe yang kedua (tidak boleh rugi), karena modal/resource saya terbatas dan seandainya (amit-amit) bisnis saya gagal apalagi sampai rugi mungkin saya bisa tidak makan/mati. Karena itu hal yang menjadi prioritas utama saya adalah survive.

Bagaimana kalau gagal? Pastikan setidaknya Anda tidak rugi materi/uang (hanya rugi waktu dan tenaga) sehingga pada akhirnya nothing to lose juga, toh Anda pasti mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama berbisnis.

 

Tidak ada kesempatan kedua jika Anda mati, karena itu pastikan Anda bisa terus bertahan hidup dengan apapun yang sudah ada, jika Anda juga termasuk tipe pebisnis kedua (tidak boleh rugi) maka buatlah bisnis yang susah rugi, artinya walaupun keuntungan/profit yang dihasilkan sangat minim, namun jika bisnis tersebut collapse/bangkrut Anda tidak akan mengalami derita finansial yang parah. Pastikan pula bisnis tersebut bisa terus tumbuh walau sedikit demi sedikit, contoh beberapa bisnis yang sulit rugi itu sebagian besar adalah bisnis online seperti blog, toko online, aplikasi/software, produk/jasa digital, dan apapun yang berbasis online.

2. Buat rencana cadangan/plan b/exit plan/safety net

Never depend on single income, inilah sebab banyak pengusaha punya beberapa bisnis, dalam bisnis segala sesuatu bisa terjadi, uang mudah sekali datang dan pergi, maka dari itu Anda juga harus punya jaring pengaman (safety net) tidak harus berupa bisnis, pekerjaan freelance/kantoran juga bisa menjadi sumber income tambahan, kesempatan mendapatkan income sudah sangat luas dengan adanya teknologi, Anda bisa menjadi driver di Go-jek, atau menjadi seller/penjual di Tokopedia & Bukalapak, atau membuat blog dengan WordPress/Blogspot, atau menjadi freelancer di Projects/Sribulancer, itu semua bisa dikerjakan dengan modal minim bahkan nol.

3. Carilah situasi win-win

Carilah kondisi dimana seandainya semua berjalan tidak sesuai harapan maka Anda tetap nothing to lose. Seandainya bisnis online saya gagal, setidaknya saya bisa jadikan website yang sudah dibuat serta pengalaman yang sudah saya kerjakan sebagai portofolio dalam bekerja. Seandainya produk yang saya buat tidak laku, setidaknya saya bisa gunakan sendiri produk tersebut demi keuntungan/konsumsi diri saya sendiri.

It’s a win-win situation.

Alternatif lainnya jika Anda tidak bisa menemukan situasi win-win adalah never risk more than you can afford to lose. Jangan meresikokan lebih dari yang bisa Anda tanggung. Artinya jika Anda punya modal 10 juta dan ingin berbisnis, pastikan Anda siap menerima resiko kehilangan uang 10 juta tersebut (dan masih bisa survive).

Jangan pernah berhutang/meminjam/menggunakan kredit dan semacamnya untuk usaha, karena faktanya sebagian besar bisnis bangkrut disebabkan oleh terlilit hutang yang terus-menerus menggulung menjadi beban usaha. Saya sendiri selalu menekankan dalam aturan keuangan nomor 1 adalah jangan pernah berhutang, kecuali pilihannya adalah berhutang atau mati.

Selama masih bisa survive maka jangan pernah berhutang APAPUN alasannya, berhutang hanya cocok jika bisnis Anda terbukti bisa memberikan return yang sangat baik (melebihi bunga yang ada), lagipula jauh lebih etis mencari investor ketimbang berhutang dalam berbisnis (menurut saya).

 

 

Sumber : solusik.com

2017 : saatnya menyiapkan mindset eksekusi 2x lebih cepat

mindset-positif

Akhir Tahun seringkali menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi atas ketercapaian target dan resolusi yang telah dibuat. Demikian juga akhir 2016 adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi capaian atas target yang telah dilaksanakan sepanjang Tahun 2016, dan untuk selanjutnya menjadi bahan renungan bagi individu maupun organisasi untuk menetapkan tujuan, target dan strategi di Tahun 2017 mendatang.

Percayakah bahwa tujuan apapun yang ingin Anda raih bisa diselesaikan dalam kurun waktu setengah dari yang Anda harapkan? Ya, Anda bisa mencapai tujuan tersebut 2x lebih cepat jika mindset/pikiran Anda sendiri menginginkannya. Pertanyaannya adalah seberapa ingin Anda mencapai tujuan tersebut?

Banyak orang hanya semangat dipermulaan namun lemah diperjalanan, mereka tidak konsisten dan motivasi itu hilang saat dilanda rasa putus asa. Most people start strong and finish weak.

Bukannya mempercepat pencapaian tujuan, mereka malah memperlambatnya, akhirnya begitu mereka memulai tujuan yang baru mereka akan menundanya kembali.

Apakah Anda orang yang termasuk seperti itu? Hanya semangat diawal, putus asa diperjalanan, dan menyerah pada akhirnya.

Jika iya maka belajarlah beradaptasi dengan mindset-mindset achiever berikut ini:

– Lingkungan

Faktor terpenting nomor satu untuk mengubah kebiasaan dan penundaan Anda adalah lingkungan. Pengaruh lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi kualitas hidup Anda secara langsung. Anda adalah hasil bentukan dari lingkungan yang Anda pilih.

Sebagai manusia kita memiliki kesempatan untuk memilih lingkungan kita sendiri, lingkungan disini bukan hanya sekedar tempat tinggal/keluarga, tetapi juga teman bergaul, bahan tontonan, konten internet yang kita konsumsi, dan juga kepada siapa kita ingin bekerja.

Seseorang dapat dinilai dari siapa 5 teman terdekatnya, apa saja konten yang suka dia konsumsi, apa yang sehari-hari dilakukan, dan masalah apa yang dia pedulikan. Anda memiliki kesempatan untuk memilih itu semua.

Pilih lingkungan yang membawa Anda lebih dekat kepada tujuan Anda. Sistem dan lingkungan adalah faktor paling berpengaruh terhadap pencapaian tujuan Anda, lingkungan yang salah akan memperlambat pencapaian tujuan Anda bahkan menghancurkannya, karena itu pilihlah dengan bijak.

– Adaptasi

Hebatnya manusia adalah tidak peduli seberapa sulit dan mustahil sebuah keadaan, mereka dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri.

Saat mengincar sebuah tujuan kita cenderung memilih sesuatu yang “kita rasa” masih bisa dicapai, sesuatu yang tidak ada diluar jangkauan dan zona nyaman kita. Masalahnya adalah seberapa besar zona nyaman Anda?

Seberapa penting seseorang dapat dinilai dari seberapa besar masalah yang ingin mereka hadapi. Jangan menghindari masalah, targetkan tujuan yang lebih besar lagi, tujuan yang tidak berada diluar zona nyaman bukanlah tujuan yang berarti. Carilah masalah yang lebih besar dan tujuan yang lebih menantang.

Sekarang Anda memang merasa tidak nyaman/terbiasa tetapi ingat sifat alami manusia adalah beradaptasi, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memulainya dari mindset positif terlebih dahulu. Selalu pilih tujuan yang besar dan selanjutnya mulai beradaptasi.

Lucunya adalah jika seseorang memikirkan sebuah tujuan, mereka akan memilih tujuan berdasarkan tindakan-tindakan yang “mau” mereka ambil. Artinya mereka memilih tujuan hidup berdasarkan kenyamanannya sendiri. Kalau kenyamanannya adalah sibuk belajar dan bekerja tentu sangat bagus, namun kenyataannya tidak banyak orang yang nyaman dengan hal-hal seperti itu.

Cara terbaik mencapai sebuah tujuan adalah mulai dari hasil yang ingin Anda raih. Mulai dengan tujuan/hasil yang besar dan darisitu Anda bisa menentukan tindakan atau langkah-langkah realistis yang bisa membawa Anda kesana terlepas dari entah itu nyaman atau tidak (ingat kenyamanan hanya masalah adaptasi).

Anda ingin menghasilkan 100 juta/bulan? Coba pikirkan dikepala Anda apa yang bisa betul-betul membuat Anda mendapatkannya. Berbisniskah? Berinvestasikah? Jika sudah ketemu tujuan tersebut mulailah bertindak, jangan terlalu lama berpikir karena disinilah kebanyakan orang gagal yaitu kebanyakan mikir dan akhirnya malah tidak bertindak.

Mungkin saja Anda gagal dan cuma berhasil mendapatkan penghasilan 30 juta/bulan, cukup bagus bukan? Atau bisa saja Anda malah gagal total dan tidak menghasilkan apa-apa, namun masih lebih baik daripada tidak melakukan apapun bukan?

Berpikirlah bagaimana cara logis untuk mencapainya. Ingat bahwa masalah itu hanyalah pertanyaan yang belum dijawab. Uniknya adalah jika kita lihat bagaimana orang-orang di forum menjawab pertanyaan, mereka sangat pintar dalam memberikan solusi, “tinggal beginilah, tinggal begitulah”, artinya sebenarnya rata-rata dari kita sudah menemukan jawabannya dan tahu apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sayapun yakin Anda sudah tahu apa yang perlu Anda lakukan untuk mencapai tujuan-tujuan Anda.

Tinggal masalah eksekusinya saja yang selalu berantakan dan kurang konsisten. “Mengkhayal seperti itu mungkin gampang, tapi prakteknya kan sulit.”, ya betul karena itu kita akan menggunakan metode yang berikutnya yaitu …

– Paksa diri Anda (force)

Bagaimana kita bisa mencapai tujuan yang ada menjadi 2x lebih cepat? Jawabannya adalah dengan memaksa. Memaksa disini bukan berati negatif memaksakan diri sampai sekarat, melainkan memaksa diri supaya tidak menunda dan mempercepat pencapaian tujuan Anda semaksimal mungkin (push to the limit).

Ingatlah ini: Semakin lama Anda mengeset pencapaian sebuah tujuan maka semakin tidak efisien Anda menggunakan waktu yang ada dan semakin kecil kemungkinan tujuan itu akan tercapai.

Katakan Anda ingin sukses 10 tahun mendatang, percaya atau tidak Anda akan menyia-nyiakan 8 tahun pertama Anda secara gamblang (tanpa arah yang jelas) dan baru mulai serius dengan resolusi Anda di sisa 2 tahun terakhir.

Ada bagusnya saat di sekolah/kuliah dulu terdapat deadline, hal ini memaksa kita untuk fokus pada sebuah tujuan. Deadline akan memaksa Anda menjadi lebih fokus dan termotivasi, terlebih jika ada tujuan yang berarti dibalik usaha tersebut.

Apa hal-hal yang ingin Anda capai dalam 2-3 tahun mendatang? Persingkat waktunya menjadi 2-3x lebih cepat. Putuskan pencapaiannya menjadi 1 tahun dan pikirkan dari sekarang langkah-langkah realistis untuk mencapainya.

Mulai dari sekarang segera ubah kebiasaan (habit) Anda, mulailah terbiasa dengan memaksa (ingat Anda akan beradaptasi dengan hal ini nantinya), dan hal yang harus Anda paksa pertama kali adalah menghancurkan kebiasaan menunda yang ada.

Dalam menghentikan kebiasaan menunda ada istilah “first thing first”. Artinya Anda justru harus melakukan hal-hal yang selalu Anda tunda pertama kali.

Cobalah tanya apa yang seharusnya Anda lakukan dan tidak Anda tunda-tunda lagi? Kemungkinan besar hal itu adalah sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman, catatlah (catat didinding/dimanapun yang bisa selalu Anda lihat), ingat baik-baik, selalu paksa untuk melakukannya pertama kali dan kesampingkan semua hal lainnya.

Daripada terus menghindar jauh lebih baik menghadapinya langsung, jangan pernah menunggu mood/semangat karena Anda pasti akan gagal, paksalah dan terima ketidaknyamanan itu dengan mulai beradaptasi.

Jika Anda merasa kesulitan, paksalah dengan metode lain, misal dengan membuat peraturan sebelum pekerjaan ini selesai maka saya tidak boleh bermain/menggunakan internet (buatlah sebuah sistem untuk betul-betul mendukung hal itu).

– Konsisten

Ditengah perjalanan mencapai tujuan ingatlah untuk selalu menjadi lebih cepat, bukan malah loyo dan kehilangan semangat. Banyak orang yang dalam pencapaian mimpinya malah semakin lambat ditengah-tengah dan yang paling buruk menyerah pada akhirnya.

Justru disaat seperti itu Anda harus semakin cepat (speed up) dan terus memaksa (push harder) menjadi lebih cepat lagi.

Bagaimana caranya supaya terus termotivasi ditengah perjalanan?

Itulah sebabnya kita memiliki kemampuan beradaptasi. Biasakan diri Anda, cintai prosesnya dan nikmati hasil-hasil kecil yang sudah Anda dapat dari perjalanan tersebut. Jika Anda terus berusaha maka Anda akan sadar bahwa Anda menjadi lebih baik. Hasil-hasil kecil tersebut sudah cukup bukan untuk membuat Anda terus maju dan termotivasi?

Contoh saya sendiri awalnya tidak suka ngeblog/menulis, tapi karena belajar banyak hal mulai dari psikologi, bisnis, dan marketing membuat saya berpikir walaupun nantinya tidak menghasilkan apapun, saya tetap mendapat pengalaman (experience) yang sangat berharga.

Dan buktinya saya sudah mendapat projek untuk mengerjakan SEO website beberapa klien, membantu marketing Fanpage berbagai bisnis, dan lain-lain. Sesuatu yang betul-betul tidak mungkin bisa saya dapatkan kalau saya tidak terus belajar dan menulis (ngeblog).



Pada akhirnya pencapaian sebuah tujuan hanyalah masalah cara berpikir (mindset) dan kebiasaan (habit).

Mulailah dengan tujuan yang lebih besar dan masalah yang lebih penting, darisitu urutkan langkah-langkah logis untuk menggapainya.

Tetapkan waktu yang jelas, buat estimasi pencapaian menjadi lebih cepat (potong menjadi setengahnya), dan biasakan diri Anda (adaptasi) untuk memaksa lebih jauh lagi, push forward and push harder to the limit.

Jangan lupa untuk terus konsisten berjuang, nikmati proses dan hasil-hasil kecil yang sudah Anda dapat, dan terakhir syukuri semua yang sudah terjadi karena itulah yang bisa membuat Anda terus termotivasi.

 

Selamat menyongsong Tahun 2017.

#SuccessBeyondYourself

 

sumber : solusik.com

APA YANG SEKOLAH BERIKAN UNTUK ANDA

Bagaimana sekolah Anda? Bagus? Bagaimana kuliah Anda? Dapat IPK 4? Sudah lulus? Sekarang mau apa? Apakah cuma Anda yang lulus sekolah/kuliah?

Faktanya adalah Anda bersaing dengan semua orang yang sekolah dan memperebutkan semua peluang/kesempatan yang ada didunia ini. Hampir tidak ada yang peduli dengan nilai/sekolah Anda setelah Anda lulus.

Itulah sebabnya kadang pelajar yang biasa-biasa saja bahkan DO-pun bisa sukses dalam hidupnya. Karena sekolah tidak menentukan masa depan Anda. Terus buat apa kita sekolah? Apa gunanya sekolah? Kembali ke pertanyaan paling dasar yaitu “apa yang sekolah berikan untuk kita?”.

Kita mempelajari suatu fakta, teori, rumus, hafalan, sistem, dan sebagainya yang sebagian besar nantinya akan berakhir dengan 2 keadaan yaitu:

  1. Ilmu tersebut kita lupakan
  2. Kita ingat namun tidak pernah diaplikasikan secara nyata

Tentu ada juga mereka yang menggunakan ilmunya didunia kerja/bisnis. Tetapi hampir 80% semua yang sudah Anda pelajari selama disekolah akan berakhir seperti keadaan no. 1 atau 2.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa diluar negeri ada pelajar yang masih berusia 17 tahun dan sudah sangat sukses dengan aplikasi/software buatannya sendiri, sedangkan beberapa lulusan IT dalam negeri masih saja kesulitan mencari pekerjaan. Seperti ada yang salah, apakah kita terlalu lama membuang-buang waktu di sekolah? Mengapa murid-murid high school (SMA) di luar negeri sudah mempelajari bahkan mempraktekan apa yang para mahasiswa S1 Indonesia pelajari di kampusnya? Ya, karena sistemnya jelas berbeda, diluar negeri mereka sudah dijuruskan (seperti kuliah) sejak SMA, sehingga dari segi ilmu, skill dan pengalaman akan terasa sekali perbedaannya.

Sayangnya tidak banyak yang bisa kita lakukan dengan sistem yang sudah ada sekarang, mengubah sistem pendidikan itu sangat sulit dan mungkin butuh proses puluhan tahun untuk tercapai, tetapi artikel ini bukan berisi tentang keluhan atau menyalahkan siapapun, artikel ini mengajak kita untuk melihat sisi positif dari apa yang sekolah pada umumnya sudah berikan kepada kita semua, khususnya di Indonesia.

Jadi apa yang sudah sekolah berikan untuk kita?

1. Sekolah mengajari kita untuk “mau belajar apapun”

a1

Ini adalah poin yang menurut saya paling penting dari sekolah, yaitu kemauan untuk belajar apapun. Saya percaya bahwa value utama dari sekolah (yang sudah saya jalani) bukanlah soal mempelajari suatu bidang/topik (seperti matematika, sejarah, biologi) melainkan adalah“mempelajari sesuatu” apapun itu walaupun sulit dan kita tidak suka. Pastinya dari belasan bidang studi yang kita pelajari disekolah ada yang menarik dan ada yang tidak menarik (*uhuk* matematika *uhuk*), tetapi kita tetap mempelajarinya karena seperti itu pula hidup ini, tidak semua yang terjadi dalam hidup akan menyenangkan dan kita suka, tetapi tetap kita harus melakukannya. Tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan/pekerjaan yang mereka inginkan, tetapi tetap mereka harus menjalaninya, karena itulah kemauan untuk mempelajari apapun itu sangat-sangat penting.

Hal ini bisa positif dan negatif (tergantung dari sudut pandang Anda), tetapi salah satu kemampuan yang paling berharga dalam hidup ini adalah kemauan untuk mempelajari apapun dan melakukan pekerjaan apapun.

Realitanya adalah banyak hal yang akan tidak kita sukai nantinya di dunia kerja/bisnis, tetapi kita bisa beradaptasi dan perlahan-lahan menyukai apa yang tidak kita sukai pada awalnya. Saya sendiri awalnya tidak suka menulis dan tidak pernah terbayang sedikitpun akan menjadi seorang blogger seperti ini.

2. Sekolah mengajarkan kita untuk bersosialisasi dengan siapapun

ap1

Tentunya hal ini kembali pada karakter masing-masing, namun disekolah kita bebas bergaul dengan siapapun tanpa peduli latar belakang, kedudukan/pangkat, status ekonomi keluarga, dan sebagainya. Semua teman statusnya sama yaitu “pelajar”, tidak ada yang lebih rendah/tinggi posisinya, dia pelajar dan saya pelajar, saat dikelas kita akan bergaul dengan siapa saja yang menjadi teman sekelas kita entah dia cantik/jelek, kaya/miskin, pintar/bodoh, berani/pemalu, selain itu sekolah juga mengajarkan kita untuk bersosialisasi dengan guru, petugas sekolah, organisasi dan lain-lain.

Ini juga salah satu hal yang paling penting dalam sekolah yaitu bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungan sekolah/luar.

3. Sekolah adalah tempat yang membahagiakan

ap2

sumber gambar: BuzzFeed.com

Kembali pada perspektif masing-masing individu, tetapi survey menunjukan bahwa pelajar Indonesia adalah yang paling bahagia (no. 1) dari 65 negara lain yang telah di survey pada gambar diatas. Entah itu akurat atau tidak, pastinya ada saja beberapa orang yang merasa tidak bahagia waktu disekolah. Setidaknya bagi saya dulu, sekolah adalah momen-momen yang membahagiakan setiap harinya walaupun terkadang juga membosankan.

School has to be fun. Not stressful. Memang seperti itulah sekolah yang baik yaitu menyenangkan (karena kita melihat sisi positifnya, mari hiraukan masalah skor nilai sejenak).

Cobalah tanya orang-orang kapan masa-masa terindah dalam hidup mereka dan mereka berharap itu bisa terulang kembali. Sebagian besar pasti akan menjawab masa-masa disekolah. Suka atau tidak suka, sekolah setidaknya memberikan Anda secercah kebahagiaan walaupun ada juga beberapa orang yang trauma karena semasa sekolahnya dibully dan sebagainya, tetapi tetap masa-masa sekolah itu menyenangkan 🙂

4. Sekolah mengajarkan kita untuk berpikir

ap3

Value utama dari sekolah adalah melatih kemampuan berpikir, karena pemikiran adalah pendidikan terbaik, maka sekolah juga harus mengutamakan perkembangan proses berpikir para muridnya. Walaupun pada prakteknya mayoritas sekolah isinya hafalan, tetapi ada juga beberapa subjek yang melatih kemampuan berpikir kita seperti matematika, bahasa, termasuk olahraga dan berorganisasi.



Tentu masih banyak lagi manfaat-manfaat yang sekolah berikan untuk hidup kita, terlepas dari berbagai stigma buruk tentang pendidikan didalam negeri, selalu ada kebaikan yang dapat kita petik dari semua keadaan termasuk sistem sekolah kita.

Untuk Anda yang masih sekolah, nikmatilah masa-masa itu karena percaya atau tidak nantinya masa-masa disekolah akan menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidup Anda.

Jadi menurut Anda, apa yang sekolah berikan untuk Anda?

 

 

 

sumber ; solusik.com

Kelas Menengah Muslim dan Konsep Pendidikan Anak

SMPIA-13-lab-2012

Salah satu model pendidikan sekolah yang kini banyak diminati orang tua kelas menengah muslim adalah konsep pendidikan yang menggabungkan antara unsur pendidikan agama dan sains. Di dalam sistem pembelajaran, anak-anak dibekali materi pelajaran agama dan sains yang kuat. Dengan demikian, anak-anak pun memiliki pengetahuan sains modern bagus dan karakter yang kuat berdasarkan agama. Konsep pendidikan ini saya sebut sebagai 2 in 1, di mana dalam satu sistem pendidikan tersebut anak mendapatkan pendidikan sains dan agama secara bersamaan.

Contoh konsep pendidikan 2 in 1 ini adalah Islam bertaraf internasional atau Islamic Boarding School yang saat ini banyak didirkan di berbagai pelosok Tanah Air. Umpanya adalah Sekolah Islam Al-Azhar, Jakarta Islamic School, Madani Islamic School, International Islamic Boarding School, Global Islamic School, dll. Meskipun biaya di sekolah-sekolah tersebut terbilang mahal, tapi para orang tua rela mengeluarkan biaya banyak demi pendidikan anaknya yang lebih baik.

Antara Karir dan Anak
Selama ini, kekhawatiran terbesar konsumen kelas menengah muslim dalam hal pendidikan anak adalah kondisi lingkungan yang akan dihadapi putra-putrinya. Perubahan kondisi lingkungan yang semakin terbuka, bebas, kemudahan mengakses internet, dan penyalahgunaan narkoba, mencemaskan mereka terhadap pertumbuhan anak-anaknya.

Ketika menyadari tantangan perubahan lingkungan anak terjadi sangat massif, orang tua justru mengalami kebingungan karena kesibukan mengejar karir sendiri sehingga tidak memiliki waktu untuk dapat secara intens mendampingi sang anak. Untuk itu, orang tua kelas menengah muslim pun mencarikan sekolah untuk anak pada institusi pendidikan sains berkualitas dan mengarahkan mereka pada pendidikan keagamaan sebagai benteng perkembangan moralitas anak. Sekolah-sekolah Islam internasional pun menjadi solusi.

Pendidikan Sains dan Agama
Berdasarkan hasil survei kualitatif yang kami lakukan, kami menemukan bahwa 86% orang tua menilai muatan pendidikan agama di sekolah menjadi preferensi utama dalam memilihkan sekolah untuk anak. Artinya, orang tua sangat mempertimbangkan apakah porsi pendidikan agama di sekolah cukup baik atau tidak. Setelah muatan pendidikan agama, barulah orang tua mempertimbangkan reputasi sekolah (82%), lingkungan sekolah (73%), metode pembelajaran (69%), dll.

Mengapa pendidikan agama penting? Pendidikan agama dinilai sebagai landasan penting bagi pembentukan moralitas atau karakter anak jika dewasa kelak. Para orang tua merasa tidak bisa memberikan pendidikan agama secara langsung kepada anak karena alasan kesibukan pekerjaan atau mengejar karir. Dengan demikian, orang tua pun cenderung memilih cara memasukkan anak ke pengajian di mushola, atau mendatangkan ustadz ke rumah agar anak bisa belajar agama.

Ketika agama merupakan faktor preferensi utama untuk pendidikan anak, maka memasukkan anak ke sekolah Islam internasional pun menjadi solusi baru. Mengapa? Di sekolah tersebut, anak mendapatkan dua hal sekaligus yaitu agama dan sains. Di samping ilmu agama, kelas menengah muslim yang knowledgeable, merasa bahwa anak pun harus memiliki pengetahuan kelas dunia. Mereka sangat menekankan anak-anaknya untuk jago di bidang sains (Matematika, Fisika, Biologi, Komputer, Bahasa Inggris, Mandarin, Prancis, dll.).

Di sekolah-sekolah Islam internasional itu, anak-anak diajarkan sains dan agama secara kuat. Supaya anak menguasai dunia sains, sekolah-sekolah Islam internasional ini kerap mendatangkan para guru yang memiliki kualitas mengajar bagus (tak jarang orang asing pun sengaja didatangkan untuk mengajar) dan memiliki sarana pengajaran sangat bagus seperti ruang kelas, laboratorium, dll. Sementara itu, supaya anak memiliki pengetahuan agama, anak-anak diajarkan baca-tuli bahasa Arab, baca Al-Quran, ilmu akhlak, ilmu Fiqih, dan praktek ibadah keagamaan sehari-hari.

 

 

Sumber ; iryanah.com

JANGAN MENIRU ORANG SUKSES

Apa yang salah memangnya dengan meniru orang sukses?

Apakah tidak boleh kita meniru sosok/orang yang kita idolakan?

Bukankah orang sukses dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk kita? Mereka itukan teladan yang baik, contoh keberhasilan dan harus ditiru oleh siapa saja yang ingin sukses seperti mereka.

Ya, Anda benar, tidak ada yang salah dengan meniru orang-orang sukses sebagai panutan dan inspirasi, tetapi kebanyakan orang salah dalam meniru hasil sebagai tujuannya.

  • Orang sukses itu terlihat kaya –> Anda berusaha supaya terlihat kaya (menghabiskan uang yang Anda miliki).
  • Orang sukses itu hidup mewah –> Anda berusaha terlihat bahagia dengan berfoya-foya, jalan-jalan keluar negeri, makan direstoran mahal, menginap dihotel berbintang, beli barang-barang branded (yang sebenarnya juga tidak Anda butuhkan).
  • Orang sukses itu terkenal –> Anda berusaha mengumpulkan followers/like di social media, dan mencari perhatian sana-sini.
  • Bill Gates aja DO sukses –> Anda ikut-ikutan DO dan berharap nasib Anda sama seperti Bill Gates (good luck).
  • Orang sukses itu sibuk –> Anda berusaha terlihat sibuk (melakukan hal-hal yang tidak penting).

Yang jadi masalah utamanya adalah orang-orang sukses tidak meraih kesuksesan sesuai dengan cara yang Anda tiru. Kebanyakan dari kita meniru hasil bukan proses, meniru penampilan mereka bukan jejak/langkah mereka.

Kita sangat ahli dalam menilai hasil, melihat tampilan luar dan memperhatikan keadaan yang sekarang tetapi kita jarang memperhatikan isi, menilai proses/usaha yang orang-orang sukses jalani dan lakukan dimasa lalu sebelum mereka sukses seperti sekarang.

Dan memang seperti itulah cara semua orang menilai, kita sendiri juga dinilai dari hasil akhir (apa yang sudah kita lakukan/berikan untuk orang lain), dan tidak ada yang peduli dengan apa yang ada dipikiran kita sekarang. Atau jika ingin lebih spesifik lagi kita menilai orang lain dari“bagaimana mereka membuat kita merasakan tentang diri kita sendiri”.

We judge others by how they make us feel about ourselves.

Jika seseorang membuat Anda merasa kurang/rendah/inferior maka kita cenderung tidak akan menyukainya atau membencinya.

Jika seseorang membuat Anda merasa lebih/kuat/superior maka kita cenderung menyukainya dan suka berada didekatnya.

Itulah sebabnya artis/publik figur dan orang-orang sukses lainnya disukai karena mereka dapat membuat orang-orang merasa lebih baik hanya karena berada didekatnya, orang-orang suka berada didekat kesuksesan baik itu kekayaan, kepopuleran, kepintaran, ketampanan/kecantikan dan lain-lain.

Kesimpulannya adalah jangan meniru hasil akhir orang-orang sukses, tetapi tirulah prosesnya. Lihatlah masa lalu mereka dan apa yang mereka lakukan, bukan mereka yang sekarang sudah sukses. Janganlah tertipu oleh penampilan semata tetapi perhatikan juga isi, proses seperti apa yang telah mereka jalani selama ini. Dan ingatlah Anda dinilai berdasarkan apa yang sudah Anda lakukan (bukan yang Anda pikir), dan lebih penting lagi Anda dinilai berdasarkan bagaimana Anda membuat orang lain merasakan tentang diri mereka, jadi buatlah orang lain merasa bahagia, lebih kuat, lebih percaya diri dan merasa dicintai. Kita semua dapat memberikan sesuatu untuk orang lain bahkan sesimpel perhatian kita, maka dari itu berikanlah sesuatu untuk orang lain.

  • Share/bagikanlah apa yang sudah Anda pelajari atau Anda ketahui kepada orang lain
  • Hargailah usaha/karya orang lain ketimbang memberikan komentar negatif/spam/trolling
  • Jangan menebar kebencian atau isu negatif baik didunia nyata maupun maya
  • Berikanlah perhatian Anda kepada orang-orang yang membutuhkannya (keluarga/teman/sahabat)
  • Dan yang paling penting buatlah orang lain merasa lebih baik dengan keadaan/dirinya sendiri

Kita bisa memulainya dari mana saja dan siapapun dapat melakukannya. Karena itu berikanlah. Give and you’ll be happy.

MENGAPA PELAJAR DENGAN NILAI BIASA TERMASUK DROP OUT BISA SUKSES DALAM HIDUPNYA

zuck

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan para miliarder drop out diatas, Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg ketiganya merupakan pengusaha sukses yang sama-sama drop out (DO) dari kampus mereka, namun bukan berarti kita harus DO untuk sukses seperti mereka, yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mereka bisa sukses tanpa gelar/ijazah dan apa yang mereka lakukan setelah DO dari kampus mereka masing-masing.

Pertama-tama sekolah itu penting. Jangan karena setelah Anda membaca artikel ini malah jadinya Anda tidak sekolah, karena disini kita akan membahas beberapa hal yang salah didalam sekolah dan belajar dari mereka yang dapat sukses walaupun mereka tidak lulus atau memiliki nilai biasa-biasa saja disekolah.

Ada banyak 3 hal yang salah dalam sekolah dan perlu kita pahami dengan baik. Tentu 3 hal berikut tidak mewakili semuanya tetapi mari kita pelajari satu-persatu.

1. Sukses di sekolah/kuliah tidak ada hubungannya dengan kesuksesan dalam hidup

Mayoritas dari kita (hanya asumsi) sekolah dengan tujuan “uang”, yang artinya sekolah/kuliah lalu lulus mendapat gelar dan mencari pekerjaan yang lebih baik dengan bayaran yang lebih mahal. Sekolah/kuliah hanya memastikan Anda mendapat “gelar” dan “peluang pekerjaan”yang lebih baik. Artinya jika Anda sekolah/kuliah dengan nilai sebaik apapun tidak menjamin Anda mendapatkan pekerjaan/gaji yang lebih baik dari mereka yang biasa-biasa saja, tentu dengan nilai/IPK yang lebih tinggi mempermudah Anda untuk mencari pekerjaan atau lolos seleksi job interview, tapi peran sekolah hanya sejauh itu dalam karir Anda, sisanya tergantungAnda bagaimana Anda menjalankan pekerjaan dan meningkatkan value Anda sebagai karyawan. Intinya sekolah hanya menjamin Anda mendapatkan “peluang pekerjaan” yang lebih baik (job security), saya bilang “peluang” karena pada kenyataannya tidak semua sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah mereka.

Kita bayangkan ilustrasi berikut:

Di Indonesia jumlah sarjana dari tahun ke tahun terus meningkat, sedangkan kita tahu entrepreneur di Indonesia masih sangat minim. Dengan lapangan pekerjaan yang seadanya dan pertumbuhan sarjana tiap tahunnya, dapat dipastikan akan banyak sekali pengangguran S1 dan lebih banyak lagi pengangguran SMA nantinya. Perusahaan dapat mencari sarjana S1 dengan mudah sedangkan mereka yang sarjana memiliki pilihan yang seadanya. Nantinya mungkin ijazah S1 akan dianggap seperti ijazah SMA, apa arti ijazah S1 jika semua orang punya ijazah S1..?

Kompetisi yang ada juga akan membuat kita semakin sulit untuk sukses karena basicnya kita bersaing dengan “semua orang yang sekolah/kuliah” dan sudah ada jutaan orang yang memiliki ilmu yang sama, jadi berpikirlah bagaimana untuk meningkatkan skill/value Anda atau menjadi unik dari yang lainnya.

2. Sekolah adalah pembunuh kreativitas

Untuk sukses dalam hidup Anda membutuhkan passion/hasrat dalam bekerja, bukan sesuatu yang dipaksakan hanya karena “semua orang melakukannya”. Tentu Anda masih ingat saat sekolah kita mempelajari belasan mata pelajaran yang pada akhirnya menyusut menjadi beberapa subjek saat kita kuliah. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah passion atau bakat Anda ada disana? Bagaimana jika bakat Anda adalah bermain basket, atau menjadi atlit gaming, atau membuat video-video lucu di youtube, atau membuat komentar tentang video game di youtube? Itu semua tidak ada disekolah, Dan pada akhirnya orang-orang menua tanpa memiliki passion terhadap apapun. Mayoritas dari kita masih meremehkan bidang seni/kreatif dan menganggap akan sulit menghasilkan uang dari bidang tersebut. Pada kenyataannya memang tidak semua orang bisa sukses dibidang seni, begitu pula sebaliknya tidak semua orang bisa sukses dibidang akademik/sekolah. Are you an academic or an artist? Or something else..?

3. Sekolah (mayoritas) tidak melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan menghafalKebanyakan sekolah (mungkin saya salah) tidaklah melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan kita menghafal. Contoh:

  • Biologi = Menghafal nama latin dan organ tubuh manusia
  • Fisika = Menghafal teori hukum alam dan rumus-rumus ilmuwan
  • Matematika = Menghafal rumus-rumus kalkulus dan perhitungan dimensi lainnya
  • Geografi = Menghafalkan fakta tentang bumi
  • Sejarah = … (sudah jelas)

Mungkin contoh diatas tidak sepenuhnya benar, ada beberapa kasus yang membutuhkan kemampuan berpikir seperti pemecahan soal kasus matematika dan fisika (menggunakan logika), namun hampir sebagian besar apa yang dipelajari di sekolah/kuliah adalah hafalan. Hanya sedikit mata pelajaran yang betul-betul mengajarkan kita tentang berpikir. Beberapa bidang yang “menurut saya” betul-betul melatih kemampuan berpikir logika/nalar yaitu:

  • Coding/Programming
  • Teknik/Engineering
  • Komunikasi/Language
  • Art/Design


Sekarang mari kita belajar mengapa mereka yang biasa-biasa saja disekolah bahkan DO dapat sukses dalam hidupnya. Tentu tidak semua orang yang biasa-biasa saja/DO itu sukses, begitu pula mereka yang sukses disekolah tidak semuanya berhasil/gagal dalam hidupnya, yang kita perlu pelajari adalah bagaimana bisa orang-orang tersebut sukses walaupun tidak memiliki ijazah atau prestasi apapun disekolah.

Untuk menjadi sukses seperti Bill Gates/Mark Zuckerberg kita perlu mempelajari prosesnya (bukan DO-nya), ada satu pola yang sama dari mereka-mereka yang sukses tanpa memiliki ijazah atau prestasi apapun disekolah yaitu mereka membangun aset sedini mungkin danmenciptakan sesuatu dari aset tersebut.

Membangun aset

Aset yang dimaksud bukanlah uang/properti/ijazah/pekerjaan melainkan skill, passion, daninvestasi diri lainnya. Bill Gates/Mark Zuckerberg bukanlah programmer terbaik di dunia, mereka drop out dari Harvard bukan karena mereka bodoh, tetapi mereka menemukan bidang yang mereka kuasai namun tidak diajarkan disekolah. Mereka menganggap kemampuan/skill mereka sendiri sebagai investasi. Apapun yang mereka pelajari harus berguna untuk kehidupan mereka dan apapun yang mereka lakukan harus memberikan hasil yang lebih baik. Pendidikan formal mungkin bisa meningkatkan rasa aman kita, tetapi cepat atau lambat Anda akan merasa itu semua tidak relevan, skill/kemampuan tetaplah investasi terbaik. Dalam hidup orang tidak akan menanyakan berapa nilai/IPK Anda tetapi apa yang dapat Anda berikan untuk mereka. Value apakah yang dapat Anda berikan untuk orang lain?

Menciptakan sesuatu

Bill Gates membangun Microsoft, Steve Jobs membangun Apple, Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, begitu pula dengan pengusaha-pengusaha drop out lainnya. Dengan menciptakan sesuatu mereka juga meningkatkan aset yang sudah mereka bangun sejak awal. Semua aset yang mereka punya memiliki efek snowball (efek bola salju), ibarat bola salju yang terus bergulir semakin lama akan semakin besar, kebanyakan orang membuat kesalahan dengan menukar waktu yang mereka punya dengan uang (karyawan), yang artinya mereka terjebak selamanya dalam pemikiran menghabiskan waktu untuk mendapatkan uang, tetapi jika Anda menginvestasikan waktu Anda untuk skill/kemampuan/passion dan menciptakan sesuatu/value dari sana maka apa yang Anda ciptakan dapat menghasilkan uang bahkan disaat Anda tidur.

Sebagai contoh apakah ada yang mau membayar Mark Zuckerberg/Bill Gates milyaran dollar sebagai karyawan atau programmer freelance..?

Mereka memulai sedini mungkin, membangun aset saat mereka muda dan menciptakan sesuatu dari aset-aset yang sudah mereka bangun. Mereka tahu bahwa memulai adalah satu-satunya cara supaya mereka tahu rasanya, mereka tidak perlu izin dari orang lain untuk menciptakan sesuatu, dan dengan menciptakan bola salju (snowball) mereka sendiri maka semua aset yang mereka miliki akan semakin besar seiring berjalannya waktu.



Itulah mengapa mereka yang biasa-biasa saja disekolah bahkan drop out dapat sukses luar biasa dalam hidupnya, yang perlu kita pelajari adalah membangun aset sedini mungkin (skill/passion) dan menciptakan sesuatu (build snowball) yang dapat berguna untuk orang lain. Tentunya semua itu tidak semudah kata-kata dalam artikel ini, Anda perlu waktu, modal, koneksi, kerja keras, dan sebagainya.

Kesuksesan bukan tentang nilai/IPK yang kita punya melainkan karakter, pengalaman, kemampuan dan ketekunan yang kita miliki. Kita dapat belajar banyak dari mereka yang sukses walaupun tidak berprestasi selama sekolah, yang harus kita pelajari adalah prosesnya, apa yang membuat mereka bisa seperti sekarang, apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka menghadapi kehidupan diluar sekolah. Beberapa contoh yang sangat bagus untuk kita pelajari seperti:

  • Bill Gates – founder Microsoft
  • Steve Jobs – founder Apple
  • Mark Zuckerberg – founder Facebook
  • Richard Branson – founder Virgin Group
  • David Karp – founder Tumblr
  • Michael Dell – founder Dell

Versi lokal:

  • Bob Sadino – pengusaha sukses yang terkenal dengan gaya celana pendeknya
  • Arief Widhiyasa – CEO Agate Studio

Jangan sampai terinspirasi dengan drop outnya, tetapi proses yang mereka jalani diluar kehidupan sekolah. Kehidupan adalah pendidikan terbaik, bukan tentang sekolah atau nilai atau DO, tetapi kerja keras, passion, komitmen, pengorbanan, pantang menyerah untuk terus belajar dan berusaha.

 

 

Sumber : http://solusik.com/

Mensiasati Mudik sebagai ajang pamer untuk meningkatkan efektifitas strategi ” Product Branding”

Selamat pagi para pembaca setia kawanpendi semua, selamat merayakan hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan. Taqabbalallahu Minna Waminkum Taqabbal Ya Karim, Mohon maaf lahir batin ya, para readers semua.Ulasan kali ini, masih mengkiblat dari tulisan pak Yuswohady, jagoan marketer kita. Sengaja pada momen lebaran ini, saya tertarik untuk mengulas tentang budaya mudik berlebaran di kampung halaman. Karena begitu kuatnya magnet momen lebaran ini, sampai sampai saya sengaja menginap di Bandara Soekarno Hatta semalam, sambil menunggu flight jam 5 pagi. Dan sengaja saya tidak menggunakan jasa travel sebagaimana perjalanan mudik saya tahun tahun sebelumnya, dan memilih ikut berjibun di bus ekonomi dari terminal Purabaya, dilanjut di terminal Arjojasi di Malang.

Mengamati perilaku para pemudik di kampung, saya sampai kepada kesimpulan bahwa tradisi mudik adalah medium yang pas dan efektif untuk pamer ke anggota keluarga, kerabat, dan seluruh tetangga di kampung.

Kenapa pamer? Karena merantau ke Jakarta telah menjadi simbol kehidupan yang lebih baik: lebih sukses, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih modern, lebih urban (“tidak udik” alias “tidak katrok”), lebih keren. Karena itu ketika mereka kembali ke kampung, simbol-simbol dan atribut-atribut kesuksesan itu harus dipertunjukkan. Syukur alhamdulillah, tradisi mudik memfasilitasi mereka untuk bisa memamerkan kesuksesan.

Tentu saja tak semua perantau menuai kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang justru terpuruk begitu mengadu nasib di Jakarta. Tapi itu tak menjadi masalah. Citra bahwa mereka lebih sukses di Jakarta haruslah habis-habisan ditegakkan. Demi membangun citra sukses ini, kalau perlu mereka ngutang atau “menyekolahkan” sepeda motornya ke Pegadaian.

Ada tiga jenis pamer yang dilakukan para pemudik selama mereka di kampung. Coba kita lihat satu-persatu.

Pamer Kesuksesan
Ukuran kesuksesan di Jakarta biasanya tak jauh dari dua hal, yaitu: pekerjaan yang lebih baik-terhormat-elit dan penghasilan yang lebih tinggi. Menjadi buruh pabrik sepatu di Tengerang tentu saja lebih mending ketimbang berkubang mengerjakan sawah di kampung. Karena itu mereka yang menjadi buruh pabrik bisa memamerkan kehebatan pekerjaan mereka ke kerabat dan tetangga di kampung, walaupun gaji sedikit di atas UMR. Di kalangan pekerja migran, pamer kesuksesan juga bisa diwujudkan dalam bentuk besarnya uang kiriman ke keluarga di kampung. Kirimannya makin besar, maka tentu saja itu indikasi kita makin sukses.

Mereka yang lebih beruntung menjadi pekerja kantoran di Jakarta lebih mudah lagi memamerkan kesuksesannya. Mereka tinggal menyebutkan dirinya bekerja diPerusahaan X, Bank Y, atau Departemen Zyang berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta, bahkan ketika kerabat dan tetangga di kampung tidak menanyakan. Namanya orang kampung, mendengar Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang memang terkenal karena sering muncul di TV dan koran, mereka langsung mengira siapapun yang bekerja di situ pasti orang sukses: kerjanya enak dan gajinya selangit.

Pamer Gaya Hidup
Hidup di Jakarta memang sebuah impian karena kita mendapatkan segala kemewahan hidup yang tidak ada di kampung. Kita bisa merasakan nikmatnya fast food McD atau KFC; belanja supernyaman, supermudah, dan supersejuk di Carrefour; window shopping akhir pekan di mal-mal yang bertabur merek-merek hebat; berlibur ke Dufan, Taman Mini, atau melancong ke Trans Studio di Bandung. Ini semua menjadi sebuah gaya hidup yang kita impikan.

Hidup di Jakarta juga ditandai dengan kehidupan yang selalu sibuk, serba penting, serba terjadwal, serba cepat, serba praktis, serba efisien. Ini berbeda dengan di kampung yang serba lambat dan serba tidak penting. Ini semua, sekali lagi, menjadi gaya hidup  Jakarta yang sudah terlanjur dianggap sebagai model gaya hidup “impian” yang selalu kita dambakan.

Sadar maupun tidak sadar gaya hidup impian ini kita pamerkan kepada kerabat dan tetangga di kampung selama kita mudik. Karena itu tak mengherankan jika tiap tahun pak Fauzie Bowo pusing karena arus orang kampung yang pergi mengadu nasib ke Jakarta kian bertambah dari tahun ke tahun bersamaan dengan kembalinya para pemudik ini ke Jakarta.

Pamer Hedonisme
Jakarta adalah tempat yang ideal bagi tumbuh suburnya hedonisme: berbelanja membabi-buta, berbusana yang selalu mengikuti tren, konsumsi yang berlebihan, unjuk kemewahan, dan sebagainya. Celakanya, hedonisme Jakarta ini dengan sangat pas digambarkan oleh adegan-adegan dalam sinetron kita. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam waktu satu-dua tahun tinggal di Jakarta, penyakit hedonisme Jakarta ini sudah mulai merasuki sanubari tanpa kita bisa menghentikannya.

Selama mudik, hedonisme Jakarta ini kita pamerkan ke kerabat dan tetangga di kampung dalam beragam bentuk. Saat kita mengajak keluarga atau kerabat berbelanja baju di toko  atau pasar. Saat kita membelikan berbagai perlengkapan elektronik untuk bapak-ibu di kampung mulai dari TV flat, lemari es, hingga rice cooker. Saat kita mentraktir mereka makan di warung terbaik di kampung. Hedonisme juga bisa dipamerkan melalui perhiasan yang kita pakai, gadget termutakhir yang kita beli, atau baju glamour yang kita kenakan selama di kampung.

Saya sering mengatakan tugas marketer adalah 80% mengamati perilaku konsumen dan 20% menyusun/mengeksekusi strategi berdasarkan pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut. Apa yang saya uraikan di atas adalah cermin dari anxietydesirepara konsumen mudik kita. Keberhasilan menangkap anxiety-desire ini akan menentukan keberhasilan program lebaran marketing Anda. Lalu apa kaitannya dengan product branding ? Pernahkah anda mengamati pakaian para perantau yang mudik ke kampung halamannya? Pernahkah anda memetakan kemudian mengidentifikasi dan mengklasisfikasi mereka berdasar merk baju, merk tas, tata cara berpakaian, termasuk pada HP yang mereka gunakan?Beberapa variabel yang saya gunakan diatas seringkali mewakili kemampuan beli dan kecenderungan konsumsi para pemudik, dan tentunya dengan variabel tersebut sedikit banyak kita bisa menduga dikalangan komunitas yang seperti apa mereka. Menurut hasil penelitian, generasi Y yang memang sedang merajai struktur demografi penduduk Indonesia ini, lebih cenderung bersifat “community engagement”, ketika ada salah seorang anggota komunitas mereka memperkenalkan sebuah produk dan membuat reviewnya, maka kemungkinan besar anggota lain akan mengikutinya. Bahkan efektifitas kegiatan branding ini lebih tinggi daripada aktifitas iklan. Itulah mengapa kalau anda amati, seringkali iklan di Televisi menampilkan sosok komunitas muda mudi yang sedang menikmati sebuah brand produk. Komunitas inilah yang menjadi sasaran yang tepat, ketika mereka sedang pulang kampung untuk mudik berlebaran tak ada salahnya kita memberinya discount, atau bahkan sampai menggratiskan produk yang sedang kita besut untuk mereka kenakan, dengan harapan produk kita kemudian dikenakan, direview dan kemudian diperkenalkan ke komunitasnya.

Selamat mencoba

Melayani dengan Komunikasi : pentingnya mengidentifikasi lawan bicara pada proses negosiasi bisnis

customer-communication-management-9-728

Pernahkah Anda membayangkan seperti apa jika ada dua orang yang berbeda karakter, latar belakang, atau bahkan berbeda pola pikir dan pemahaman, terlibat dalam suatu pembicaraan yang tidak connect? Tentu sulit menemukan solusi, dan pelayanan pun menjadi tidak maksimal.

Personil yang terlibat dalam divisi pelayanan pelanggan, contact center, atau semua bagian lain yang terkait dengan pelayanan, sering kali hanya “berbicara” dan bukan “berkomunikasi”. Mereka mementingkan hal-hal teknis, birokrasi, prosedur, dan urutan-urutan lain yang kaku. Ini memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada mereka. Budaya perusahaan dan metode pelatihan kerap menyumbang porsi paling besar atas semua kekakuan ini.

Kedua orang yang membicarakan hal yang sama pun, masih mungkin tidak menemukan solusi atas permasalahan yang ada, apalagi jika disertai dengan semua keterbatasan yang sudah disebutkan di atas.

Berkomunikasi dan berbicara merupakan dua hal yang berbeda. Berbicara adalah sekadar menjawab apa yang ditanyakan oleh orang lain, sesuai dengan prosedur yang sudah ditanamkan. Berbicara tak ubahnya dengan robot, karena robot pun bisa menjawab semua pertanyaan yang sudah diprogramkan pada sirkuitnya.

Berkomunikasi lebih dari berbicara. Berkomunikasi berarti mempunyai empati, pengertian, dan pemahaman atas permasalahan yang ada. Setelah itu, proses komunikasi dilanjutkan pada proses pengambilan keputusan yang harus memikirkan dan mengolah segala pertimbangan yang ada.

Bukan berarti berkomunikasi harus mematahkan sistem dan segala prosedur perusahaan yang sudah dibuat, tapi komunikasi harus mementingkan fleksibilitas dan win-win situation, sehingga semua permasalahan pelanggan bisa diberi solusi yang sesuai dan tidak merugikan perusahaan.

Berkomunikasi juga berarti melibatkan emosi dan empati. Suka atau tidak, setiap pembicaraan yang menyangkut permasalahan dalam pelayanan akan melibatkan setiap faktor emosi dan empati. Jika Empati tidak bisa mengimbangi emosi, yang ada pastilah saling menyalahkan dan saling membela diri.

Tak peduli di mana pun Anda berbicara, baik di depan umum, saat melayani pelanggan, sampai presentasi produk di sebuah perusahaan, Anda sedang menjual diri sendiri sekaligus perusahaan tempat Anda bekerja dengan berkomunikasi. Supaya bisa melayani dan menjual secara baik, Anda harus “berkomunikasi” dan bukan hanya “berbicara”. Ikutilah tips-tips berikut supaya pesan yang disampaikan bisa diserap dengan baik oleh audiens.

Apa yang Hendak Disampaikan

Pikirkan apa hal yang hendak disampaikan dan pilihlah kata-kata yang hendak digunakan. Menit-menit pertama dan terakhir adalah bagian terpenting. Anda harus membuka, menjelaskan, dan menyimpulkan. Agar pesan Anda bisa diserap maksimal, minimalkanlah kata-kata yang digunakan, dan hindari penjelasan yang dirasa panjang lebar atau berbelit-belit.

Sederhanakan

Salah satu kesalahan fatal adalah meremehkan kepintaran pelanggan. Anda tidak bisa menganggap pelanggan adalah orang yang tidak memahami permasalahan. Bisa jadi mereka bahkan sudah tahu solusinya dibanding Anda. Tetapi, jangan juga menganggap bahwa pelanggan sudah tahu atau mengerti benar akan permasalahan dan solusinya. Tugas pelayananlah untuk menyamakan persepsi dan menyederhanakan segala hal semaksimal mungkin.

Berikan Penekanan

Jangan berharap yang Anda sampaikan bisa semuanya diserap oleh pelanggan. Beberapa hal mungkin bisa lewat begitu saja. Walaupun demikian, mereka pasti bisa mengingat tema atau topik utama yang hendak Anda sampaikan, jika Anda memberikan penekanan yang cukup dan tak berlebihan pada penjelasan yang disampaikan.

Cara terbaik menyampaikannya adalah dengan melakukan pengulangan dan menyimpulkan kembali hal-hal yang dianggap penting dan memberi penekanan di situ. Misalnya menekankan apa saja yang harus dilakukan pelanggan, pilihan solusi apa saja yang ditawarkan, kapan dan bagaimana followupakan dilakukan bilamana diperlukan.

Tunjukkan, Jangan Cuma Bicara

Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, Anda bisa melakukan lebih banyak lagi daripada hanya lewat telepon atau channel lain. Kebanyakan dari pelanggan akan lebih tertarik jika penjelasan disertai demonstrasi atau ditunjukkan dengan visual. Itulah sebabnya penjelasan visual lebih mudah diingat dan lebih tahan lama dalam ingatan.

Selain itu gesture, raut muka, atau bahasa tubuh juga harus diperhatikan jika menangani pelayanan secara tatap muka langsung. Empati, emosi, dan simpati bisa ditunjukkan secara lebih efektif dalam situasi ini, sehingga pelanggan bisa mendapatkan image dan impresi yang positif akan pelayanan yang diberikan. Tapi, jangan lupa pula bahwa setiap kesalahan dan kekurangan pelayanan juga semakin mudah terlihat di mata pelanggan.

Libatkan Pelanggan

Sering kali bukan “apa” yang disampaikan, tetapi lebih pada “bagaimana” Anda menyampaikannya. Libatkanlah audiens/pelanggan Anda. Buat mereka tertarik dengan “menarik” mereka lebih dekat dengan topik utama, contohnya dengan lebih sering menggunakan kata “kita” daripada kata “saya”.

Sesekali ajukan pertanyaan kepada pelanggan agar mereka merasa dilibatkan langsung. Dengan menjawab pertanyaan, pelanggan jadi lebih mudah memahami dan mengingat kesimpulan dan solusi atas permasalahan yang ada. Pelanggan bisa turut berpikir, turut mempertimbangkan, bahkan merasa dihormati, jika mereka diberi kesempatan menjawab atau berbicara.

Demikian melayani haruslah dengan berkomunikasi, dan bukan sekadar berbicara. Jam terbang, latihan, dan training sangat diperlukan untuk mengasah kemampuan komunikasi. Plus perusahaan juga harus memberi dukungan dengan menyediakan sistem yang solid namun fleksibel, serta memberi wewenang kepada para pelayan untuk mengambil keputusan terkait solusi atas permasalahan yang ada.

“Berbicara tidaklah sama dengan berkomunikasi.

 

 

Sumber : http://www.marketing.co.id/melayani-dengan-komunikasi/

7 detik yang menentukan dalam Negosiasi Bisnis

Successful negotiations

Setiap kali Anda bertemu dengan orang asing, hal pertama yang Anda lakukan adalah mengobservasi, untuk melihat apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Jika impresi awal terhadap orang tersebut sudah positif, maka kepercayaan Anda pun akan tumbuh dan interaksi Anda dengan orang itu bisa berjalan baik.

Impresi awal (first impression) adalah hal penting yang harus Anda pertimbangkan saat berinteraksi dalam bisnis maupun pelayanan. First impression sepertinya hal kecil, namun bisa memengaruhi keseluruhan interaksi maupun transaksi Anda dengan orang lain. Oleh karenanya dalam pelayanan,first impression harus menjadi sebuah taktik yang perlu dijalankan dengan baik.

Sebagai contoh, ketika pelanggan marah, bagaimana impresi awal yang Anda tunjukkan kepada pelanggan Anda? Menunjukkan muka cemberut justru akan membuat si pelanggan bertambah marah. Demikian pula menunjukkan muka panik akan membuat mereka merasa bahwa Anda tidak menyelesaikan masalah mereka. Sebaliknya jika dihadapi dengan wajah yang senyum dan menenangkan, si pelanggan mungkin akan bersedia menurunkan tensinya dan berinteraksi dengan Anda.

First impression umumnya bersifat nonverbal, seperti penampilan, postur, dan perilaku. Penampilan yang menarik akan menciptakan impresi awal yang menarik. Demikian pula posisi tubuh, kepala, dan tangan Anda, juga bisa membantu menciptakan impresi awal yang positif. Posisi tubuh yang lemas dan posisi berdiri yang malas-malasan membuat impresi awal yang buruk. Demikian pula senyum dan gerakan tubuh kita, bisa membantu menciptakan impresi awal yang positif.

Ada orang-orang yang memang berbakat menciptakan positive first impression. Orang-orang yangextrovert memiliki kesempatan untuk bisa menciptakan impresi awal yang positif. Mereka mudah bergaul, senang tampil, dan bergaya. Namun, first impression itu tidak selalu bisa tercipta secara alamiah. First impression bisa dibangun melalui serangkaian rekayasa yang diciptakan seperti lingkungan yang nyaman, perlengkapan yang canggih, pakaian yang menarik.

Yang pasti, namanya first impression biasanya berlangsung cepat. Ada pendapat yang menyatakan bahwa first impression itu hanya berlangsung 2 detik. Jika Anda tidak berhasil menciptakan impresi awal yang positif dalam dua detik, maka Anda harus bekerja lebih keras lagi. Ada juga yang menyatakan bahwa first impression harus diciptakan dalam 7 detik.

Mengapa 7 detik mungkin karena angka ini dianggap magic number. Ada juga sebuah studi di bidang psikologi yang menunjukkan bahwa rata-rata impresi awal muncul dalam 7 detik. Benar atau tidak studi tersebut, yang jelas first impression harus diciptakan secara cepat, namun tidak dalam satu dua detik. Selain itu, dalam 7 detik sebenarnya Anda memiliki kesempatan untuk menciptakan impresi yang lain, atau memperbaiki impresi di detik-detik awal.

Jadi, masa 7 detik tersebut adalah masa untuk saling mengevaluasi antar pihak, baik mereka yang sedang menciptakan impresi maupun mereka yang menangkap impresi tersebut. Tujuh detik adalah waktu yang cukup untuk “memaafkan” jika terjadi kegagalan dalam men-deliver impresi di detik-detik awal. Demikian pula 7 detik adalah waktu yang cukup untuk melakukan skenario lain jika terjadi kegagalan.

Tentu saja 7 detik menjadi waktu yang teramat singkat jika Anda tidak memiliki persiapan apa-apa. Oleh karenanya, penting melakukan persiapan ketika Anda hendak menjalankan transaksi bisnis maupun pelayanan. Demikian pula evaluasi penting dilakukan untuk bisa menilai apakah pelanggan kita bisa mendapatkan impresi awal yang positif ataukah perlu diperbaiki dengan cara-cara lain. Penampilan, gerak-gerik, senyum, cara berjalan, dan lain-lain adalah komponen-komponen penting yang harus dipersiapkan. Memang keberhasilan pelayanan Anda masih ditentukan banyak hal, tidak sekadar impresi awal. Namun, impresi awal adalah pintu bagi pelanggan untuk bisa memahami siapa Anda sebenarnya. (*)

 

Sumber : http://www.marketing.co.id/7-seconds/

Tentang Kualitas yang Terlupakan dari Seorang Steve Jobs

steve

Dalam sebuah wawancara mantan CEO Apple, Steve Jobs, pada tahun 1990, ia menceritakan pertemuannya dengan seorang Quality Guru, Joseph M Juran. Bagi Jobs, Juran adalah orang yang benar-benar memiliki pemikiran mengesankan tentang kualitas.

Jobs memetik banyak pelajaran darinya dan berbagi tentang apa makna dari sebuah kualitas.

Kualitas = Proses yang Berulang

Lihat berbagai hal secara langsung dengan mata kepala sendiri sebagai proses yang berulang, kemudian mere-engineering proses tersebut. Menurut Jobs, sebagian besar produk berkualitas berhubungan dengan re-engineering, dan membuat proses tersebut menjadi jauh lebih efektif dengan cara menggabungkan, menghilangkan, atau membuat proses yang sudah efektif lebih kuat lagi.

Kualitas = The Ways of Doing Things

Apa yang kita lakukan? Mengapa kita melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan kuncinya.

Jobs mengatakan, “orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan adalah orang-orang yang cerdas. Mereka bukan “udang”.

Jika diberi kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki, mereka akan melakukannya.

Mereka akan meningkatkan proses jika ada mekanisme yang membuat mereka melakukannya,”

Kualitas Produk ≠ Strategi Marketing

Anda tidak akan pernah melihat orang-orang Jepang mengaitkan kualitas dengan strategi marketing mereka. Menurut Jobs, hanya perusahaan-perusahaan Amerika yang melakukan hal tersebut.

Namun, jika Anda bertanya pada orang yang Anda temui di jalan, produk mana yang memiliki reputasi kualitas paling baik, mereka pasti akan menjawab produk Jepang lah yang terbaik. Mengapa? Karena pelanggan tidak menilai kualitas berdasarkan pemasaran atau seberapa banyak produk tersebut memenangkan penghargaan, tetapi berdasarkan pengalaman mereka sendiri menggunakan produk atau jasa tersebut.

“Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memulainya dari produk atau jasa yang kita buat, bukan dari departemen pemasaran,” cetus Jobs

Kualitas ≠ Hanya Sekadar Produk

Meskipun kualitas dimulai dari produk atau jasa yang kita buat, namun bukan berarti hanya sekedar tentang produk atau jasa saja. Kualitas juga berarti memiliki produk atau jasa yang tepat, mengetahui di mana saja pasar Anda, dan memiliki inovasi.

Kualitas Persetujuan Manajemen

Otoritas harus dipegang oleh orang yang melakukan pekerjaan untuk meningkatkan proses mereka sendiri, untuk melatih mereka bagaimana mengukur proses yang mereka lakukan, memahami proses mereka, dan jelas, untuk memperbaiki proses yang mereka lakukan.

“Mereka tidak seharusnya meminta persetujuan untuk sesuatu yang perlu mereka tingkatkan pada proses mereka,” kata Jobs.

Masalah Besarnya: Kita Lupa

We’ve forgotten the basics,” cetus Jobs.

Kita telah melupakan hal-hal yang mendasar. Pembelajaran yang berharga dari orang Jepang adalah bukan karena mereka memiliki intelektual yang lebih tinggi, namun kita lah yang telah berada “di luar jalur” dari yang seharusnya.

 

 

 

Sumber : shiftindonesia.com