Amygdala Hijack : Cara Melatih Otak Pemenang

Istilah Amygdala Hijack diciptakan oleh Daniel Goleman, sang Bapak Emotional Intelligence. Amygdala adalah bagian otak yang salah satu fungsinya adalah menyimpan memori terkait emosi. Jika di awal evolusi-nya manusia menyentuh api dan terbakar, maka amygdala menyimpan memori ketakutan dan rasa sakit terbakar itu. Jika dulu nenek moyang kita kesakitan karena digigit ular beracun, amygdala menyimpan memori abadi tentang ular dan bahayanya. Otak manusia berfungsi memastikan survival ras-nya dan amygdala memegang peran besar dalam tugas itu.

Nah, di saat otak melihat ada “ancaman” terhadap kita, amygdala akan membajak mekanisme berpikir rasional dan menyiapkan respon super cepat yang hanya terdiri dari tiga pilihan: FlightFightFreeze.

Moto dari amygdala (kalau ada) adalah “it’s better safe than sorry”.

Misalnya kita melihat ular, dan tanpa pikir panjang kita lari terbirit-birit, maka itu termasuk amygdala hijack. Otak rasional kita di by-pass dan memerintahkan tubuh kita langsung lari. Tanpa berpikir, seluruh tubuh kita sudah lari secepat kilat. Otot menegang, jantung memompa lebih kencang, dan kaki terasa sangat ringan. Itu contoh flight response.

Dalam keadaan terdesak, seorang ibu menyelamatkan anaknya dari serangan perampok. Tanpa diperintah, sang ibu mengeluarkan semua tenaga dan jurus untuk melindungi anaknya. Fight response.

Saat mendapatkan berita yang mengagetkan, tubuh kita kaku tidak bergerak. Pikiran kosong, tidak tahu harus berbuat apa. Freeze response.

Lalu apa hubungannya dengan produktivitas kita?

Karena amygdala hijack juga bisa memberikan sinyal palsu.

Kekhawatiran kita akan presentasi di depan Board of Director, bagi amygdala diasosiasikan sebagai “ancaman” terhadap diri kita. Otak rasional kita langsung dibajak dan secepat kilat menyiapkan flight response. Jantung berdegup keras, tubuh dan otot menegang. Perut mules. Pengennya, kita ngga usah presentasi.

Kekhawatiran kita akan ekonomi yan memburuk, membuat amygdala membajak pikiran jernih kita. Langsung freeze mode. Bengong, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Intinya, saat kita melakukan sesuatu tanpa disadari, itu adalah bagian dari amygdala hijack. Ada yang bagus dan tepat (misalnya lari saat melihat ular), ada yang tidak bagus (misalnya “lari” saat diberikan tanggung jawab pekerjaan baru).

Yang kita perlu lakukan adalah mengenal mana stimulus yang benar, mana yang palsu. Karena jika rasional kita terlalu sering dibajak oleh amygdala, saat itulah produktivitas kita hilang!

Menyelamatkan otak rasional dari pembajakan

Berita bagusnya dari semua hal diatas adalah, kita bisa melatih diri kita untuk memahami dan menangani amygdala hijack. Berita buruknya, perlu waktu dan latihan. Terus terang saja, saya termasuk murid yang lambat dalam hal ini.

Beberapa hal yang bisa dilakukan setiap kali  mulai merasa emosi saya ke arah negatif alias berpotensi membentok response negatif pada sistem Amigdala Hijack:

  1. Wait, sit and just breath

Victor Frankl terkenal mengatakan “antara stimulus dan respon, ada sebuah ruang. Dalam ruang itu terletak kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih respon apa yang ingin kita keluarkan.”

Setiap saya mulai merasakan emosi seperti marah, malu, takut, atau khawatir, yang pertama kali saya lakukan adalah memberikan waktu paling tidak 15 detik untuk memahami “apa yang saya pikirkan?”. Sebelum saya mengeluarkan kata apapun atau melakukan tindakan apapun (misalnya menulis komentar di facebook!), saya memberikan kesempatan frontal neo cortex saya (alias si pikiran rasional) untuk memahami kenapa saya ingin melakukan hal itu?

Sambil duduk saya akan memusatkan pikiran pada nafas saya. Breath in; breath outJust breath, like your life depends on it. Pada intinya, berikan jarak, waktu, dan ruang, antara apa yang kita lihat/pikir, dan apa yang kita katakan/lakukan.

2. Perhatikan perubahan pada tubuh

Menurut para pakar emosi, lebih mudah mengamati perubahan emosi dari perubahan pada tubuh kita. Jantung yang mulai berdegup lebih kencang; rahang menegang, tangan mengepal, keringat mengalir atau bulu kuduk berdiri (hehehe…ini kalau lewat tempat gelap). Selain fisik luar, kita juga bisa merasakan perut yang mules, persendian lemas ataupun pikiran yang terasa penuh dan kalut.

Pada intinya, kita harus selalu awas dan menyadari perubahan yang ada. Kita tahu, amygdala sedang membajak pikiran kita…

3. Tandai dan sebutkan emosi yang kita rasakan

Cara yang ketiga dianjurkan oleh Matthew Lieberman, seorang pakar dari UCLA. Ia menyebutnya sebagai affect labelling.

Jika saya merasa sangat marah, setelah step 1 dan 2 diatas, saya harus mengatakan “ Saya sangat marah!”. Kalau saya takut, saya mengucapkan “saya takut.”

Menurut penelitian ilmiah, dengan menandai (labelling) dan mengatakan apa yang kita rasakan, peran amygdala akan berangsur di ambil alih oleh Medial Pre Frontal Cortex (MPFC) yang merupakan pusat keputusan di otak kita. Si rasional.

Permasalahan terbesar dari usaha diatas adalah menyadari bahwa kecepatan amygdala membajak pikiran kita adalah dalam kecepatan nano-detik, sehingga mengatasi emosi bukanlah hal yang mudah. Mau rasional, tapi omongan kasar udah keburu keluar 🙂

Namun mengingat emosi-emosi negatif yang tidak terkontrol bisa menyebabkan kinerja kita menurun dan tidak produktif, saya mendorong diri saya untuk berusaha melakukan tiga hal diatas.

Selain itu ada dua hal yang menyemangati saya.

Pertama, lanjutan dari kutipan Victor Frank diatas (Pak Victor ini belakangan menjadi idola saya. Bukunya Man’s Search for Meaning menjadi pegangan saya di saat galau):

“in our response lies our growth and happiness”.

Kedua, mengatasi emosi negatif bisa membantu saya untuk masuk dalam kondisi in the zone. Kondisi berkarya terbaik karena produktif dan menyenangkan.

Menurut saya, kesulitan melakukan semua hal diatas sepadan. Saya bahkan belum bisa dibilang mengatasi emosi saya dengan baik, tapi sudah mulai melihat ada kemajuan ke arah yang lebih baik. Agak mendingan lah dibanding beberapa tahun lalu.

 

 

tulisan disarikan dari : gedemanggala.com

3 Hal yang Bisa Membuat Anda Bangkrut Total Saat Memasuki Masa Pensiun

Survei yang pernah dilakukan harian Kompas merilis fakta yang amat muram : 90 % karyawan Indonesia secara finansial tidak siap menghadapi masa tua saat pensiun kelak. Gaji yang kurang maknyus, jarang melakukan investasi, dan tabungan yang serba terbatas bisa membuat masa depanmu benar-benar suram. Anda terpuruk dalam nestapa persis saat usia Anda sudah tidak produktif lagi.

Slogannya menjadi amat pahit : saat muda kerja keras banting tulang, lembur dengan gaji pas-pasan; saat tua sakit-sakitan dan sengsara karena nol investasi.

Mari coba kita hitung ulang berapa biaya hidup yang Anda butuhkan saat kelak usia Anda 55 tahun dan masuk masa pensiun.

Okelah, anggap biaya hidup Anda sekarang hanya 5 juta/bulan (acuan hidup standar di Jakarta). Laju inflasi per tahun 6% – ini adalah rata-rata inflasi tahunan kita selama 5 tahun terakhir.

Dengan biaya hidup saat ini 5 juta, usia Anda sekarang 30 tahun, dan laju inflasi tahunan 6%, maka biaya hidup saat usia Anda 55 tahun sudah naik menjadi Rp 21,5 juta/bulan.

Kenapa naik jadi 21 jutaan? Karena inflasi setahun 6%. Biaya hidup kan memang naik setiap tahun karena inflasi. Kalau dihitung : dengan inflasi 6%/tahun, maka dalam 15 tahun ke depan biaya hidup 5 juta itu akan naik menjadi 21,5 juta/bulan.

Artinya saat usia Anda 55 tahun, dan pensiun, biaya hidup yang Anda butuhkan 21,5 juta/bulan. Ini dengan asumsi biaya hidup Anda sekarang HANYA 5 juta/bulan.

Rata-rata harapan hidup orang Indonesia sekarang adalah 75 tahun. Artinya Anda masih perlu 20 tahun untuk menyiapkan biaya hidup.

Jadi total biaya hidup yang Anda perlukan untuk pensiun dengan nyaman adalah : Rp 21,5 juta/bulan x 12 (bulan) x 20 (tahun) = Rp 5.1 milyar.

Banyak sekali sodara-sodara. Wajar jika mayoritas pekerja Indonesia tidak siap menghadapi masa depan. Dan lalu kebanyakan “lari dari kenyataan”.

Cara paling elegan untuk lari dari kenyataan adalah dengan kalimat seperti ini : “Yah, biarkan hidup mengalir saja mas….”. Ya kalau mengalirnya ke Samudra Atlantik. Keren. Kalau mengalirnya ke Septic Tank ?? Modyar sampean.

Atau kalimat lain yang lebih heorik : “Matematikanya Allah tidak seperti itu mas….”. Kalimat ini hanya punya makna jika yang mengucapkan bergerak mengubah nasib dengan KREATIVITAS dan KOMPETENSI.

Yang fatal adalah jika kalimat indah itu digunakan untuk menutupi ketidakmampuan dirinya untuk mengubah nasib. Untuk menutupi kemalasan dirinya dan lalu berlindung dibalik kalimat yang mulia.

Malaikat yang mencatat amalan manusia mungkin jadi bingung : si Fulan ini bagaimana, menyebut-nyebut nama Tuhan, tapi malas mengubah nasib dan membiarkan dirinya terjebak nestapa dengan gaji yang pas-pasan.

Kenapa si Fulan membiarkan dirinya terjebak kenestapaan saat usianya tua, karena 3 alasan berikut ini. 3 hal yang layak dikenang, saat kita mengucap kalimat : “rezeki selalu punya jalannya sendiri-sendiri”.

Reason # 1 : No Investment. Banyak orang menjadi nyungsep saat tua, karena di saat muda tidak pernah melakukan investasi. Mungkin karena memang penghasilannya pas-pasan sehingga nyaris tidak tersisa untuk investasi.

Atau mungkin hidupnya agak boros : ambil kredit mobil meski gaji tak seberapa. Beli gadget yang paling bagus meski gaji pas-pasan.

Sekarang, saya mau memberi hitungan bedanya investasi saat usia muda dan usia tua.

Misal usia Anda 25 tahun, dan investasi 10 juta, dengan return on investment sebesar 15% per tahun (ini rata-rata hasil investasi di reksadana. Di properti juga sama bahkan lebih besar).

Dengan return 15% per tahun, maka pada saat usia 55 tahun, dana 10 juta yang Anda investasikan di usia 25 tahun itu sudah akan berkembang menjadi Rp 662 juta. Inilah the magic of investment.

Sementara jika Anda investasi 10 juta saat usia 35 tahun, maka hasilnya hanya akan menjadi Rp 166 juta saat usia 55. Dan kalau invest di usia 40, maka hasilnya hanya akan menjadi Rp 81 juta.

Anda lihat sendiri perbedaannya. Betapa jauhnya hasil yang Anda akan dapat saat invest di usia 25, 35 atau 40 tahun. Maka makin muda usia, melakukan investasi, makin bagus.

“Aduh mas….uangnya sudah habis buat beli gadget mas. Ndak ada lagi untuk investasi”.

Lhah bagaimana sampeyan bisa makmur kalo konsumtif kayak gitu.

Reason # 2 : Stuck and No Action. Banyak orang yang nyungsep di saat menjelang tua karena tabungan pas-pasan. Dan kenapa tabungan pas-pasan, mungkin karena penghasilannya belum begitu memadai.

Problemnya : banyak orang yang mungkin merasa stuck dengan pekerjaannya (gaji sedikit, karirnya sembelit) namun tidak berani melakukan action.

Mengeluh ya, namun action-nya nol. Plus sambil terus melamun tapi tetap “tidak bergerak untuk mengubah nasib”.

Tuhan tidak akan mengubah nasibumu, jika Anda tidak bergerak mengubah nasib.

Nasibmu juga akan tetap stagnan, kalau bisanya hanya bilang :”matematikanya Allah tidak seperti itu mas”, namun tidak berani melakukan action terobosan untuk percepatan rezeki yang barokah.

Kenapa tidak bisa action? Mungkin karena kompetensinya abal-abal. Dan kenapa kompetensi nyungsep? Mungkin karena alasan yang ketiga berikut ini.

Reason # 3 : No Learning Resiliency. Banyak orang menjadi stagnan nasibnya karena tidak mau terus mempertajam skills dan kreativitasnya. Ingat, perubahan nasib hanya bisa dipahat saat engkau punya skills dan kreativitas yang cetar membahana.

Problemnya, banyak orang malas mengembangkan dirinya karena terjebak dalam “comfort zone yang penuh dengan kenestapaan”. Maksudnya : lebih banyak asyik membuang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif.

Misal : menghabiskan waktu berjam-jam untuk browsing, main FB, dan chatting di puluhan grup BBM/WA – yang acap isinya sama sekali tidak relevan dengan penguatan skills dalam bidangnmu.

Atau yang lebih kelam : malah sibuk membahas informasi sampah di social media yang kadang sarat dengan emosi dan kebencian. Dan tidak ada korelasinya dengan perubahan nasibmu.

Tanpa sadar, waktu untuk cek smartphone dan notifikasi penuh distraksi itu mungkin banyak merenggut waktu produktifmu untuk belajar.

Solusinya simple : lacak skills yang amat krusial bagi arah hidupmu. Lalu fokus gunakan waktu luangmu untuk belajar peningkatan skills itu. Dan bukan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu.

DEMIKIANLAH, tiga hal yang layak direnungkan demi masa tuamu. Demi masa depanmu.

No investment. Stuck and no action. No learning resiliency. Tiga hal ini yang secara muram bisa membuat masa tua-mu terpelanting sunyi dalam kenestapaan. Dalam perih dan duka.

Pertanyaannya sekarang adalah : action apa yang harus kita lakukan agar nasib dan rezeki kita bisa berubah ke arah yang lebih baik. Sebab ingat : Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, jika orang itu malas melakukan action.

So, actions kunci apa yang harus dijalani untuk melakukan percepatan rezeki secara halal, barokah dan melimpah?

Dan langkah utama apa yang perlu kita lakukan, agar diri kita bisa hidup tenang dan nyaman saat usia kita tua?

Sumber : strategimanajemen.net

Mindset : Pilar Utama untuk Melukis Garis Nasib Kehidupan Anda

rule

Pernahkah anda mendengar Kisah Darmanto ? Ia hanya lulusan SMP. Ia tak punya uang untuk sekolah ke SMA. Selepas SMP ia hanya bekerja sebagai buruh rendahan di sebuah perusahaan percetakan di Jakarta Barat. Ia bosan dengan kemiskinan yang setia menemaninya. Dari komputer di kantornya, ia kemudian sekilas berkenalan dengan dunia internet – sebuah dunia yang ia pikir, mungkin bisa membuatnya terbebas dari kelas buruh rendahan. Kegigihannya untuk mengubah nasib membuat ia tekun belajar secara otodidak. Kala malam tiba, ia menghabiskan waktu di internet dengan tarif termurah. Ia tekun mempraktekkan apa yang telah ia baca. Pelan-pelan ia kemudian bisa membuat web, melakukan programming CSS, hingga mengulik teknik tentang optimasi page rank.

Enam bulan lalu ia resmi resign dari jabatannya yang ia sandang dengan penuh kepahitan : buruh kelas rendahan dengan upah pas-pasan. Kini ia bekerja secara full time sebagai : an Internet Expert from Randudongkal. Penghasilannya kini jauh lebih banyak dibanding saat ia menjadi buruh rendahan. Bukan hanya itu, ia bisa menjalani usahanya dari desanya yang teduh, dengan biaya hidup yang jauh lebih murah di banding di Jakarta.

Kisah Pak Darmanto yang “hanya” lulusan SMP memberi kita sebuah gambaran sebuah benang merah apa arti semangat mencapai kesuksesan : tentang bagaimana pribadi-pribadi underdog melakukan perubahan garis hidup secara inspiratif. Tentang bagaimana kekuatan mindset positif dalam mendedahkan garis nasib kita di masa mendatang.

Mindset. Pada akhirnya mungkin ini elemen yang akan menjadi penentu keajaiban hidup. Secara lebih eksploratif, kita perlu menapak-tilasi tiga keping elemen yang bisa membuat kekuatan mindset menjadi lebih ampuh perannya dalam membentuk hidup yang mapan nan sejahtera.

Mindset # 1 : Abundance Mindset. Atau mindset keberlimpahan. Inilah sejenis mindset yang selalu dipenuhi dengan “mentalitas keberhasilan”, yang selalu gigih mencari jalan untuk menguak perbaikan nasib meski tantangan yang rumit menggayut di sepanjang jalan.

Mindset keberlimpahan adalah juga sejenis mentalitas yang selalu sarat dengan optimisme, harapan positif, dan keyakinan bahwa di ujung sana ada janji kesuksesan yang layak diperjuangkan.

Darmanto yang buruh lulusan SMP itu mungkin akan tetap selamanya berada dalam jalan yang muram kalau saja ia hanya kuyup dengan mindset negatif. Atau mindset yang selalu melihat keterbatasan, dan bukan peluang. Yang acap fokus pada ketidakmungkinan, dan bukan kemungkinan. Yang hanya berceloteh tentang kekurangan serta aneka keluhan, dan bukan harapan yang menjanjikan jalan kemakmuran.

Mindset positif bukan soal apakah kita lulusan S1, S2 atau hanya SMP. Juga bukan soal apakah kita anak orang mapan atau sekedar anak supir angkot. Mindset positif adalah tentang keyakinan diri bahwa masa depan yang lebih cemerlang niscaya bisa direngkuh.

Sebaliknya, tanpa disadari mindset negatif hanya akan menarik energi negatif di semesta alam raya ini. What you think is what you get. Spiral kehidupan yang sarat dengan kenestapaan mungkin akan selalu bergulir tanpa henti.

Mindset # 2 : Action Oriented. Mindset positif adalah pemicu. Ia akan menjadi kekuatan nyata jika disertai dengan action. Atau action oriented. Dan persis disinilah penyakit yang menghantui begitu banyak orang.

Saya punya teman yang punya rencana bagus untuk memperbaiki nasib hidupnya. Sudah dua tahun ia menggaungkan impian dan rencana itu. Dan minggu lalu ketika saya bertemu dengannya, rencana itu ternyata >>> tetap tinggal rencana. Meski sudah dua tahun berlalu. Sounds familiar?

Oh, saya punya rencana begini. Oh, saya punya angan-angan seperti itu. Pokoknya tahun depan saya harus mulai mewujudkan impian ini. Dan ketika tahun depan menjemput, bilangnya : tahun depannya lagi saja. Begitu seterusnya.

Jutaan orang terkapar nasibnya lantaran mentalitas menunda seperti ini. Mentalitas angan-angan, dan bukan mentalitas aksi.

Iwan yang anak supir angkot itu tidak banyak berwacana. Ia hanya terus melakukan action, yakni belajar tanpa henti tiap malam sambil ditemani lampu petromaks. Darmanto tak punya banyak waktu untuk berangan-angan. Sebab waktu dia sudah habis untuk berdiri berjam-jam di toko buku : membaca puluhan buku tentang internet.

Mindset #3 : Resourcefulness. Saya rasa ini pilar yang paling penting. Makna sederhananya : panjang akal. Atau kegigihan untuk secara mandiri menemukan sumber daya yang diperlukan untuk mengubah nasib.

Sialnya, begitu banyak orang yang memiliki zero resourcefulness. Wah bagaimana caranya ya mas? Aduh, saya ndak tahu harus bagaimana lagi? Pertanyaan-pertanyaan elementer seperti ini acap muncul, dan sungguh itu mencerminkan “kebodohan paling akut” : betapa pendek akalnya.

Saya juga sering dapat email yang isinya kurang lebih seperti ini : saya ingin mengubah nasib mas. Tapi bagaimana caranya ya mas? Apa yang harus saya lakukan?

Ada dua kemungkinan kenapa pertanyaan seperti itu muncul. Yang pertama, orangnya malas mencari jawaban sendiri (dan di era Google seperti sekarang, sebenarnya semua pertanyaan sudah ada jawabannya). Kemungkinan kedua : IQ orang itu dibawah 50.

Meski lulusan SMP, level resourcefulness Darmanto mungkin lebih tinggi dibanding mereka yang mengaku lulusan S1. Tanpa banyak tanya, ia langsung saja membaca puluhan buku tentang internet dan programming. Lalu langsung dipraktekkan sendiri. Juga tanpa banyak tanya. Hasilnya : amazing.

Saya sendiri melihat, resourcefulness adalah elemen paling krusial manakala orang berkeinginan mengubah nasib. Panjang akal. Gigih mencari ilmu secara mandiri meski harus bersusah-payah. Kreatif menemukan sendiri jawaban dan solusinya.

Positive Mindset. Action Oriented. Resourcefulness. Inilah sejatinya tiga elemen esensial untuk melukis garis nasib dan kehidupan kita di masa mendatang.

Tulisan disarikan dari ; strategimanajemen.net

Mau Pindah Kuadran demi Meraih Financial Freedom?

kuadran

Setelah tulisan sebelumnya membahas tentang 4 kuadran “Financial Freedom”, maka anda semua tentunya sudah melakukan mapping, termasuk kuadran yang manakah anda ? pada dasarnya setiap manusia menginginkan sebuah kebebasan baik secara finansial dan waktu, dan memang untuk mencapai ini seseorang harus berani mengambil resiko untuk menempuh jalan menjadi pengusaha.

Kini ada tren dikalangan Gen Y dimana  demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar, banyak karyawan yang pindah kuadran merintis usaha sendiri. Demi impian untuk mendapatkan financial freedom dan time flexibility.

Sayangnya, banyak yang melakukannya hanya semata karena nafsu, dan bosan dengan pekerjaannya (plus gaji yang tak seberapa), ditambah dengan ketidaknyamanan yang timbul dari atasan dan atau rekan kerja di perusahaan.

Akibatnya : tak sedikit yang gagal, dan malahan dikejar-kejar debt collector, bahkan ada yang sampai jual motor demi membayar hutang karena bisnisnya gagal. 

Tak ada yang salah memang dengan sebuah kegagalan dalam berbisnis, setidaknya denagan kegalan tersebut kita akan lebih waspada dan lebih perhitungan dalam menjalankan sebuah bisnis plan. Jika anda menganut pendekatannya Om Bob Sadino yang merelakan pekerjaan kantoran yang gajinya cukup “wow”, hanya untuk sekedar memulai bisnis dari “nol”, anda harus pastikan knowledge management anda lebih baik dari beliau. Karena kalau tidak, maka anda akan beresiko untuk “mati konyol”.

Tentu saja tidak salah jika ada banyak orang yang melakukan proses pindah kuadran. Namanya juga usaha.

Namun agar probabilitas keberhasilan proses pindah kuadran ini membesar, setidaknya ada sejumlah hal yang layak dilakoni.

Berbisnislah Pada Area yang Sama/Dekat Dengan Pengalaman Kerja Anda.

Ada banyak kasus dimana seseorang sukses pindah kuadran, karena ia menekuni bisnis yang sama dengan saat ia bekerja sebagai karyawan/manajer.

Begitulah kita melihat, ada mantan manajer kios KFC yang kini sukses besar menjalani usaha jualan fried chicken lokal. Tempo hari ada teman yang dulunya bekerja sebagai manajer di bidang pemasaran digital (digital marketing), sukses saat ia membangun sendiri bisnis di bidang yang sama – jualan jasa konsultasi digital marketing.

Menekuni usaha dimana kita sudah memiliki pengalaman, memberikan keuntungan berupa : tahu peta bisnisnya, paham jalur pemasarannya, dan mungkin juga jaringan supplier yang ada di dalamnya. atau setidaknya anda tidak perlu memulai dari “nol”, khususnya teruntuk anda yang usianya menjelang 40 Tahunan dan atau diatasnya dimana anda harus berpikir pengeluaran untuk pendidikan anak, uang dapur, arisan dsb.

Coba anda amati berapa banyak orang disekitar anda yang berusia diatas 40 Tahun yang terjebak menjadi karyawan, dan dia kemudian baru memulai sebuah bisnis yang benar-benar baru (alias bisnisnya tidak nyambung), kembali memang tidak ada salahnya memulai bisnis, tapi apabila bisnis anda “tidak nyambung” dan anda tak memiliki keilmuan dan atau pengalaman yang cukup, baik dalam hal manajemen bisnis, bussiness plan dan lain sebagainya, saya sangat tidak merekomendasikan anda untuk membuka usaha yang benar-benar baru.

Tips untuk anda yang dalam posisi ini adalah; temukan teman (yang anda percayai) yang memiliki kemampuan bisnis dibidang yang dia kuasai, misal bisnis bengkel dengan saudara atau teman anda yang memiliki kemapuan/ilmu dibidang perbengkelasn, kemudian anda mensupport dana untuk perluasan usaha atau penambahan jasa terkait perbengkelan.

Coba Dulu, Kalau Sukses, Baru Resign dan Teruskan.

Cara kedua ini artinya, bahkan usaha yang mau dirintis itu sudah coba dijalani dulu saat Anda masih menjadi karyawan. Istilahnya menjadi “amphibi” – double kuadran. Bahasa lainnya : moonlighting atau ngobyek.

Cara ini saya kira salah satu pilihan untuk meminimalkan risiko. Di sela-sela kesibukan kerja, kita mungkin bisa mengajak partner untuk mencoba menjalani bisnis yang akan kita tekuni. Jika ada tanda-tanda sukses, kita bisa resign, lalu fokus membesarkan bisnis itu.

Jika gejalanya menunjukkan arah kegagalan, setidaknya kita masih punya penghasilan dari gaji karyawan (tidak sampai harus jual motor demi uang makan buat anak istri).

Tempo hari saya ngobrol dengan seorang kawan. Ia sudah menjadi senior di sebuah perusahaan multinasional. Karirnya mapan dengan gaji yang menjulang. Namun ia bilang akhir tahun ini mau resign.

Kenapa ia akhirnya memutuskan resign? Ternyata teman saya itu selama ini sudah melakukan proses “moonlighting” – memanfaatkan hari Sabtu yang libur untuk memulai bisnisnya – yakni di bidang pelatihan untuk topik yang amat dia kuasai.

Beberapa kali ia menjual training publik di hari Sabtu, dan pesertanya selalu padat. Tiap kali itu pula, ia bisa mendapat keuntungan bersih yang amat memadai. Ia melihat market untuk jasa trainingnya lumayan besar, dan ia terbukti sudah bisa mendapatkannya. Proven business.

Maka, ia memutuskan untuk menekuni usaha di bidang training itu. Karena setelah di uji coba selama beberapa kali, ada tanda-tanda kesuksesan. Apalagi jika ia fokus total mencurahkan waktu untuk membesarkan bisnisnya itu.

Tentu Resign bukan menjadi sebuah keharusan dalam hal ini, terkadang nama besar yang melekat di perusahaan tempat anda bekerja menjadi magnet tersendiri untuk seseorang lebih percaya dengan apa yang menjadi bisnis anda, selain itu teman-teman kerja anda bisa menjadi market yang cukup potensial untuk meningkatkan bisnis anda, atau setidaknya apabila anda mampu mengemasnya dengan baik, maka dalam sebuah manajemen bisnis kita mengenal yang namanya ” early adopter” yang bisa anda gunakan sebagai endorser untuk bisnis anda.

Di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan “MONEY IS A TOOLS TO GET YOUR IDEAL LIFE”. uang hanyalah sebagai alat untuk dapat mencapai kehidupan ideal yang anda maksud, kehidupan ideal disini saya deskripsikan sebagai kehidupan yang bebas, dimana anda bebas mau bekerja berapa jam, kapan saja, anda bisa bercengkrama dengan orang-orang yang anda sayangi, anda bisa berbagi dengan mereka-mereka yang beruntung dan tentu dengan uang tersebut anda mendapat ketenangan lahir dan batin.

Jika yang terjadi adalah sebaliknya yakni “MONEY IS A GOAL” maka anda akan menjadi robot-robot yang demi uang akan menghalalkan segala cara. Anda bisa membeli kasur termahal dan bisa mendesign kamar tidur paling megah, namun anda belum tentu bisa tidur diatasnya dengan nyenyak.

 

Mengapa Orang Yahudi Pintar?

brain3

Dr. Stephen Carr Leon. salah satu pakar Neuroscience Lulusan harvard Medical School melakukan sebuah penelitian tentang “mengapa Orang Yahudi memiliki kecenderungan lebih pintar” penelitian yang dilakukan ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Yahudi. Mengapa orang Yahudi rata-rata pintar ? Studi yang telah dilakukan mendapatkan fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi hamil, seorang ibu segera meningkatkan aktivitas membaca, menyanyi dan bermain piano, serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika, mempelajarinya. Bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukan untuk anaknya yang masih di dalam kandungan.

Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyusui bayinya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, kurma, dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Di samping itu, sang ibu diharuskan makan minyak ikan (code oil lever).

Anak-anak selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa, minimal tiga bahasa harus dikuasai, yaitu Hibrani, Arab, dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik, dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar musikus genius di dunia adalah orang Yahudi.

Masa perkembangan anak sampai usia 3 tahun adalah masa kritis atau yang disebut dengan golden age atau golden period. Itu sebabnya orangtua perlu memberikan yang terbaik termasuk dalam hal nutrisi. mengapa masa ini disebut masa penting? Otak manusia mulai terbentuk pada hari ke-8 setelah konsepsi (ketika sel sperma membuahi sel telur). Pertumbuhan ini berlangsung terus bahkan setelah bayi dilahirkan. Sel-sel otak memang tak dapat bertambah lagi setelah lahir, namun akan terus berkembang saat mencapai usia 2 tahun dan berat otak si kecil telah mencapai 75% berat otak dewasa dan pertumbuhan otaknya telah mencapai 90%. Perkembangan pesat ini terjadi sangat singkat dan hanya terjadi sekali seumur hidupnya.

Yahudi dan Rokok

Mengambil sumber dari buku Cat Rambut Orang Yahudi karya Capphy Hakim. di Israel, merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nikotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia, yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok, tetapi juga akan memengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. Walaupun kalau kita perhatikan, penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi! Tetapi, yang merokok bukan orang Yahudi.

Bahkan di paragraf terakhir di buku itu dituliskan bahwa, Khusus tentang rokok, Negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura, para perokok diberlakukan sebagai warga Negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 dollar AS (sebanding dengan 70.000 rupiah), bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen dollar AS (sebanding dengan 7.000 rupiah). Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel bahwa nikotin hanya akan menghasilkan generasi yang “bodoh” dan “dungu”.

Keluarga Yahudi sangat memproteksi anggota keluarganya dari rokok. Bila ada tamu berkunjung ke rumah dan tamunya seorang perokok maka tidak ada asbak disediakan di rumah. Bila tamunya hendak merokok maka dipersilakannya tamunya merokok di luar. Dan sang tuan rumah tidak akan menemani tamunya selama masih merokok. Sebegitu besarnya perhatian masyarakat Yahudi akan besarnya bahaya merokok bagi keluarga mereka.

McGill Univeristy merilis sebuah penelitian bahwasanya salah satu efek dari Nicotin ialah ia merangsang terbentuknya “Asetilkoline Palsu” dimana akibat terbentuknya zat ini dapat memhalangi dan mengahambat aliran impuls pada sistem saraf. sehingga dengan terhalanginya impuls ini maka otak manusia menjadi “slow response” alias LOLA alias Loading Lama.

Disunting dari berbagai sumber, sumber utama bisa diakses di

http://www.mengajimakna.com

Sumber Buku : judul “Behavioral and Brain Function”

 

Pelajaran Bisnis Fenomenal dari Sang Legenda Soichiro Honda

HRV re

Siapakah yang tidak mengenal kendaraan merk Honda? Merk kendaraan ini menyesaki padatnya lalu lintas di tanah air. Semua produknya baik berupa mobil dan motor telah membanjiri pasar otomotif dalam negeri.

Faktanya, merk kendaraan legendaris yang diprakarsai oleh mahasiswa yang gagal ini telah menjadi ikon kebanggan otomotif dunia.

Bagaimana kisah dan perjalanan Honda menjadi raksasa otomatif dunia? Dan apa pelajaran bisnis yang bisa kita kenang dari sang legenda dibaliknya. Seorang mahasiswa muda yang drop out bernama Soichiro Honda?

Mahasiswa yang gagal itu adalah Soichiro Honda. Lelaki kelahiran 17 November 1906 ini tidak pernah berkhayal menjadi pengusaha otomotif. Ia hanyalah anak muda dari keluarga miskin. Fisiknya tidak tampan (dan mirip kebanyakan jomblo sekarang), sehingga ia kadang galau dan rendah diri.

Namun minatnya pada dunia mesin telah mengantarkan dirinya pada kesuksesan yang ia sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya.

Ia betah berdiam diri di bengkel ayahnya selama berjam-jam hanya untuk mengamati kegiatan ayahnya memperbaiki mesin rusak. Sang ayah membuka bengkel reparasi mesin pertanian, di dusun Kamyo, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda.

Rupanya “warisan” kecintaan pada mesin dari ayahnya ini telah menjadi passion bagi Soichiro Honda.

Passion – sebuah kata magis yang mungkin ikut melahirkan legenda HONDA. Sama seperti passion Steve Jobs pada desain membuat APPLE menjadi ikon dunia.

Soichiro Honda muda lalu bekerja di Hart Shokai Company – sebuab bengkel otomotif di Jepang. Ia dikenal sebagai pekerja dengan reputasi yang ekselen. Ia selalu menerima order reparasi yang ditolak bengkel lain.

Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga mobil bisa layak berkendara lagi. Tidak jarang ia bekerja hingga larut malam bahkan sampai pagi. Semua itu ia lakukan karena ingin memberikan service yang memuaskan pada pelanggan.

Mungkin juga – sekali lagi – karena ia punya passion terhadap dunia mekanika. Passion acap membuatmu bisa lupa waktu saat bekerja dalam dunia yang Anda cintai dengan sepenuh hati.

Semua pengalaman yang dimilikinya dari bengkel reparasi mendorong ia untuk membuka bengkel sendiri. Kali ini fokusnya adalah Ring Piston. Pada tahun 1938 ia berhasil membuat ring piston hasil besutannya sendiri. Namun sayang, saat diajukan untuk dijual dan diproduksi di Toyota, karyanya ini ditolak karena ianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur dan tidak laku dijual.

Kegagalan yang cukup menyakitkan hatinya. Namun Soichiro muda mungkin punya daya resiliensi yang kokoh – ia segera bangkit dari kegagalan itu dan melacak kenapa produk pistonnya dianggap jelek oleh Toyota.

Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. Ia mendapat predikat mahasiswa gagal.

Mungkin karena ia lebih asyik menekuni dunia nyata untuk menyempurnakan piston-nya. Dan enggan ikut mata kuliah yang tidak relevan dan acap membosankan.

Entah kenapa anak muda visioner seperti punya tradisi memberontak pada bangku kuliah yang beku. Soichiro Honda. Bill Gates. Steve Jobs. Mark Zuckerberg.

Namun berkat kerja kerasnya akhirnya Ring piston buatannya diterima Toyota. Pihak Toyota memberikan kontrak pada Honda untuk mendirikan pabrik. Tapi niatan itu kandas karena Jepang saat itu tengah dilanda perang dan tidak dapat memberikan dana.

Ia pun tidak kehabisan akal, ia kumpulkan sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Kali ini ia fokus untuk memproduksi sepeda motor.

Sepeda motor pertama yang ia rilis – yang menjadi fondasi bagi kejayaan Honda hingga hari ini – adalah Honda Type A pada tahun 1948. Honda Type A ini intinya hanya sebuah sepeda yang dipasang mesin kecil (motorized bicyle). Sepeda motor sederhana Type A kemudian ini dinobatkan oleh negara Jepang sebagai salah satu temuan monumental dalam sejarah otomotif mereka.

Maka jutaan sepeda motor Honda Vario atau Beat yang Anda kendarai saat ini, berutang jejak sejarah pada Honda Type A itu.

Sejak tahun 1964, Honda menjadi perusahaan motor terbesar di dunia, hingga hari ini !! 51 tahun berturut-turut menjadi penguasa motor dunia. Just phenomenal.

Baru pada tahun 1963, Honda membangun perusahaan mobil – yang kemudian juga sukses. Honda Jazz, Honda CRV dan Honda Freed adalah ikon Honda yang memang dikenal selalu punya desain yang lebih stylish dibanding rivalnya, Toyota.

Perhatikan saja. Sejak zaman Honda Civic tahun 80-an, Honda Genio, hingga Honda CRV – produsen mobil ini desainnya selalu indah. Kalau gajimu sudah lebih dari 15 juta/bulan, boleh juga beli Honda HRV yang gambarnya jadi ilustrasi tulisan ini. #uhuk

Sekelumit kisah di atas mendedahkan sebuah pesan bahwa setidaknya ada 4 kekuatan yang mesti kita raih agar memiliki semangat juang seperti Soichiro Honda :

Pertama, Peliharalah passion atau minat dalam diri. Passion atau minat ini akan mengarahkan hidup penuh ambisi dan terus bersemangat karena pekerjaaan yang ditekuni merupakan hal yang disukai.

Seringkali kita terjebak dengan pekerjaan yang kita geluti namun tidak kita sukai. Ini membuat kontribusi menjadi tidak maksimal. Dengan bekerja sesuai dengan passion maka dapat kita lalui hari-hari penuh semangat dan ambisi.

Kedua, Pantang menyerah. Soichiro Honda mulai dari kecil sampai dewasa tidak pernah lepas dari masalah hidup yang menggelayutinya. Apalagi di tengah keterpurukan masa perang dan keadaan ekonomi yang morat-marit ia sanggup bertahan dalam sebuah keyakinan bahwa masa pahit pasti segera berakhir.

Alhasil dengan semangat pantang menyerah Honda menjelma menjadi perusahaan raksasa otomotif yang produknya membanjiri dunia.

Ketiga, Jangan berhenti berinovasi. Konon dengan inovasi Samsung bisa mengalahkan Sony yang telah menjadi raksasa di bidang produk elektronika.

Honda tak ingin mengulangi kesalahan Sony. Tanpa henti, Honda selalu merilis desain motor dan mobil baru yang ciamik.

Dulu Honda motor sempat disalip Yamaha Mio saat skutik pertama lahir. Untung Honda cepat bergerak, dan kini Vario yang menjadi penguasa skutik di dunia.

Tanpa inovasi, mustahil Honda Motor akan jadi no 1 sejak tahun 1964 hingga 2015.

Keempat, Libatkan Sang Maha Pencipta dalam segala aktifitas. Meyakini kehadiran Tuhan dalam segala aktifitas memberikan energi luar biasa bahwa segala rintangan mudah dilalui. Karena Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan telah ditakar dengan kadar kesanggupannya dalam menghadapi rintangan.

Demikianlah empat rahasia kekuatan Honda yang melegenda.

Pelihara passion. Pantang menyerah. Inovasi. Dan senantiasa melibatkan Sang Maha Pencipta dalam segala aktifitas kita.

Kuasai empat elemen itu, maka Anda akan menjadi seorang legenda. Seperti Soichiro Honda.

– See more at: http://strategimanajemen.net/2015/07/13/pelajaran-bisnis-fenomenal-dari-sang-legenda-soichiro-honda/#more-2892

 

Live with Passion

Banyak orang mengeluh mengenai pekerjaan yang mereka lakukan. Dari gaji yang kecil, tugas yang bejibun, pulang larut malam, bos yang galak, rekan kerja yang tidak menyenangkan, dan seribu satu keluhan lainnya. Saya sering bercanda dengan teman-teman saya dan berkata bahwa manusia jaman sekarang hidupnya cuma Sabtu & Minggu. Di antara hari-hari yang lain (Senin – Jumat), hidupnya antara setengah hidup dan setengah mati. Kebanyakan dari mereka yang mendengar pernyataan ini akan tersenyum. Saya tidak tahu apakah karena lucu atau karena mereka termasuk dalam kelompok ini dan menertawakan dirinya sendiri.

monaday

Kalau dicermati lebih lanjut, biasanya pada saat hari berganti Sabtu, orang girang bukan kepalang karena ini adalah hari “pembalasan” atas kerja keras yang dilakukan dari hari Senin sampai Jumat. Saatnya bersenang-senang dan memanjakan diri sendiri. Kesenangan ini terus berlanjut sampai minggu sore. Begitu memasuki minggu malam, biasanya mood sudah mulai berubah ketika memikirkan besok harus berangkat kerja lagi. Puncak dari bad mood ini terjadi pada saat bangun di Senin pagi. Langsung muncul self talk “I HATE MONDAY”. Semangat hidup langsung menguap hilang entah kemana. Ibarat handphoneyang tidak ada signal dan lowbat pula. Di masing-masing kaki serasa ada satu ton pemberat pada saat hendak berangkat kerja. Hatipun idem, sama beratnya. Inilah fenomena orang dewasa ini yang pekerjaannya tidak sesuai dengan passion-nya (baca: bekerja tidak sesuai dengan apa yang disukainya).

Passionate people see the world differently.Ternyata hal ini berbeda dengan orang-orang yang bekerja sesuai dengan passion-nya. Mereka justru tidak sabar menanti datangnya hari Senin. Kenapa demikian? Ternyata mereka bekerja seperti halnya bermain. Ambil contoh begini, bayangkan ketika Anda melakukan hobi yang Anda sukai. Bagaimana perasaan Anda pada saat melakukannya? Apakah ada keluhan? Tentu tidak bukan? Alih-alih, orang sering hanyut dalam keasikan tersendiri pada saat melakukan hobi tersebut. Tidak jarang sampai lupa waktu, lupa makan, lupa minum sampai pada lupa akan orang-orang yang ada di sekitarnya karena menyatu atau berasosiasi dengan apa yang dilakukannya tersebut.

Find your passion. It is something worth to find. Ya benar sekali, luangkan waktu untuk menemukan passion Anda. Jangan sampai kita tidak tahu apa passion kita karena bekerja sesuai passion adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dilakukan. Temukan jawabannya dalam diri sendiri, jangan tanya sama orang lain karena orang lain tidak tahu 100% apa yang Anda sukai. Mereka bukanlah diri Anda dan mereka tidak tahu apa sebenarnya yang Anda inginkan. Passion itu terletak di dalam diri sendiri bukan berada dalam perkataan orang lain. Ambil alih tanggung jawab ini untuk menemukan passion Anda, jangan serahkan pada orang lain karena proses penemuan passion adalah bersifat pribadi. Bagi yang belum menemukan passion, saran saya lakukan proses pencarian ini sekarang dan nikmati prosesnya.

Use your linguistic to search inside your mind. Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara menemukan passion? Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukannya asal Anda mau meluangkan waktu untuk mencarinya. Salah satu cara yang terbaik untuk menemukan passion adalah dengan menggunakan linguistic Anda sendiri dengan bertanya dalam hati: “Apa yang saya sukai dalam hidup ini yang kalau dilakukan tidak terasa melelahkan?”,“Pekerjaan apa yang kalau tidak dibayarpun saya suka melakukannya?”, atau “Hal apa yang kalau dilakukan akan membuat saya terus bersemangat dan bergairah dalam melakukannya?”. Listen to your inner voice and you will get the answer. Dengarkan suara hati Anda dan Anda akan menemukan jawabannya.

The secret is that your job must be in line with your passion. Pekerjaan adalah aktifitas yang paling memakan waktu dalam hidup kita. Kontribusinya bisa memakan 35% sampai 50% dari waktu kita setiap hari dan kadang bisa lebih. Ambil contoh seseorang yang bekerja di kantor. Waktu jam kerja normal adalah delapan jam. Apabila ditambah waktu perjalanan dari rumah ke kantor selama dua dan lembur dua jam maka total waktu yang diluangkan untuk bekerja adalah dua belas jam sehari. Itu artinya lima puluh persen hidup orang tersebut dihabiskan untuk bekerja. Dapatkah Anda bayangkan apabila pekerjaan yang dilakukan itu adalah pekerjaan yang tidak disukai? Tentu sangat tidak menyenangkan bukan? Daripada hidup penuh dengan keluhan lebih baik menggantikannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Confucius pernah berkata “choose a job you love and you will never have to work a day in your life”. Pilihlah sebuah pekerjaan yang Anda cintai dan Anda tidak akan pernah bekerja seharipun dalam hidup Anda.

Tapi yang perlu kita ingat ya Guys, kalau memang kita berada pada kondisi yang mengharuskan kita untuk “Bekerja” dengan kondisi demikian, tetaplah ingat tujuan Anda, ingat melakukan pekerjaan yang sekarang sedang Anda jalani ini adalah bagian dari rencana besar anda untuk meraih kehidupan yang ideal versi Anda.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa”

Semoga bermanfaat dan selamat menikmati proses pencarian passion Anda.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful

TAKE CHANCES WHEN YOU’RE YOUNG SO THAT YOU CAN TELL STORIES WHEN YOU’RE OLD

 

Disadur dan disesuaikan dari :

Sumber : http://www.coachtatang.com/live-with-passion/#more-512

Kenapa Mental Gratisan Bisa Membuatmu Terus Terpuruk dalam Nestapa?

brain reLedakan internet yang terus berlangsung dengan gemuruh ini, ternyata telah membawa berkah tak terkira : begitu banyak konten hiburan, informasi bermakna dan kepingan ilmu pengetahuan yang terserak bisa dinikmati dengan gratis.

FREECONOMICS, begitu sebuah istilah menyebut fenomena tentang jutaan konten digital yang bisa dirayakan dengan free.

Namun hati-hati, memiliki mentalitas gratisan ternyata juga bisa membuat kita terpelanting dalam duka. Kenapa? Mari kita ulas pagi ini, ditengah gerimis yaang terus membasahi tanah kita berpijak.

Dalam contoh yang ekstrem, mentalitas gratisan pelan-pelan menghancurkan rasa penghargaan kita pada karya orang lain yang telah dibuat dengan susah payah.

Dan ini muram, sebab begitu kita kehilangan respek pada karya orang lain – dengan otomatis Anda juga membunuh respek pada karyamu sendiri. Dan kelak ini bisa membawa karma pahit dalam jejak sejarah hidupmu.

Contoh : mentalitas gratisan memburu buku bajakan dalam bentuk PDF. Buku bajakan dalam bentuk PDF menjadi marak karena mentalitas gratisan yang begitu akut merasuk.

Saya suka terkejut melihat orang bertanya, mas buku itu ada PDF (bajakannya) ndak? Dimana downloadnya? Atau bahkan ada juga forum yang isinya saling berbagi ebook/PDF bajakan.

Oh man. Mentalitas gratisan semacam itu tidak akan membuat hidupmu menjadi barokah.

Itu contoh ekstrem tentang mentalitas gratisan yang kelam.

Contoh mentalitas gratisan yang lebih santun mungkin seperti ini : selalu hanya memburu ilmu gratisan. Giliran dibuat premium dan harus bayar, langsung ngomel-ngomel : lhah kok harus bayar.

Memburu ilmu gratisan memang sah-sah saja.

Namun kalau mentalitas gratisan itu yang melulu dipelihara, dan kadang dengan sikap merajuk ingin meminta yang gratisan terus (lalu ngomel-ngomel kalau harus berbayar) – ini sikap hidup yang tak sepenuhnya elok.

Kenapa? Karena menanamkan mentalitas gratisan (meminta yang gratis melulu) pelan-pelan tanpa Anda sadari bisa masuk ke alam bawah sadar Anda, dan lalu bisa menciptakan “nasib gratisan”.

Maksudnya nasib dan rezeki Anda juga akan selevel yang gratisan, murahan, jadi tidak bisa membesar menjadi kelas premium. Mentalitas gratisan bisa membawa kita terus terpuruk dalan nestapa.

Alasan lain tentu karena kita ingat kalimat heorik ini : investasi terbaik dalam hidup itu adalah investasi untuk mempertajam otakmu.

Dengan kata lain, investasi yang memang penting untuk pemekaran otak dan skills kita acap harus ditebus dengan pengeluaran yang premium.

Contoh : misal ada layanan kursus online berupa ratusan video tutorial tentang internet marketing, ilmu pengembangan diri, personal finance dan manajemen bisnis – dengan biaya akses hanya 350an ribu seumur hidup – apa yang akan Anda lakukan? Kalau saya, akan langsung daftar menjadi anggotanya.

Kenapa langsung join? Karena pelajaran tentang ilmu internet marketing, pengembangan diri dan lain-lain itu bisa memberikan impak yang dramatis bagi penajaman otak saya, dan kelak ini bisa memberikan dampak finansial yang amat masif bagi nasib hidup saya.

Sayangnya, banyak orang yang masih mikir mengeluarkan 350an ribu itu. Yang kelam, orang rela mengeluarkan uang segitu setiap bulan untuk bensin dan pulsa, atau bahkan jutaan untuk beli gadget. Namun giliran investasi untuk otak dengan ongkos yang amat terjangkau, masih mikir dua kali.

Atau mungkin karena banyak orang mikir uang 350 ribuan untuk meraih ilmu itu sebagai COST – bukan INVESTMENT.

Mikirnya sayang ah, keluarin ratusan ribu. Iya, karena fokus pikirannya pada biaya sekarang, bukan pada return atau dampak yang bisa dihasilkan dari investasi ratusan ribu itu.

Kalau orang cerdik, mikirnya IMPAK. Dengan hanya ratusan ribu, dia bisa belajar dari ratusan video tutorial yang sangat valuable. Dan dampak ilmu itu bagi peningkatan income dia bisa ratusan kali lipat dibanding investasi yang hanya ratusan ribu rupiah.

Orang dengan mental gratisan fokus pada BIAYA. Orang dengan mentalitas berkelimpahan akan fokus pada IMPACT dan return on investment. Ini filosofi kunci ketika Anda kelak berhadapan dengan produk ilmu premium yang mungkin ditawarkan secara online.

Sebab sering hasilnya seperti ini : Anda spend 0 rupiah demi gratisan, namun hanya menghasilkan percepatan rezeki 1 juta. Atau Anda spend 300 ribu, dan menghasilkan percepatan income 30 juta. Milih mana? Kalau saya, milih yang kedua.

Itulah namanya mentalitas berkelimpahan, bukan mentalitas gratisan. Untuk meraih percepatan rezeki yang masif, kadang kita mesti mengeluarkan investasi yang pas. Bukan terus memburu yang serba gratisan.

Dilatari oleh prinsip itu, saya rekomendasikan agar setidaknya Anda mengalokasikan dana tertentu untuk investasi demi penajaman kapasitas otak dan skills Anda.

Mungkin jumlahnya cukup 100 ribu per bulan (atau 300 ribu per tiga bulan). Sangat kecil bukan. Kalau mau lebih besar, lebih bagus.Lalu belanjakan dana itu untuk membeli buku, ikut seminar atau daftar kursus online dan sebagainya.

 

Sumber ://strategimanajemen.net/2016/02/29/kenapa-mental-gratisan-bisa-membuatmu-terus-terpuruk-dalam-nestapa/#sthash.Zx3TpoIr.dpuf

Brain Drain dan Talent War menyambut MEA

Ulasan ini sangat menarik, seiring dengan sudah diberlakukannya Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), mau tidak mau garis-garis batas Wilayah (ekonomi) akan semakin kabur sehingga yang ada adalah warga Negara ASEAN, hal ini nampaknya sudah dipahami oleh perusahaan perusahaan raksasa di Indonesia seperti Pertamina, Telkom, Semen Indonesia, Bank BCA, Astra International dan sebagainya, sehingga mereka berlomba lomba menghire talent-talent terbaik untuk mensukseskan visi dan misi perusahaan. Leveraging Global talent seolah menjadi “senjata utama” dalam menyambut era bisnis yang semakin terbuka ini, tulisan ini disadur dari situs strategimenejemen.net dan menurut saya sangat relevan dengan kondisi sekarang.

Selamat menikmati.

Empat minggu lalu saya menulis tentang ancaman serbuan manajer asing dari Asean yang menyerbu ke Indonesia, merebut peluang karir dan pekerjaanmu. Tren ini akan terjadi tahun depan, saat kebijakan pasar tenaga kerja bebas Asean mulai berlaku. Skilled labor free flow, begitu nama kerennya.

Namun yang juga bisa terjadi adalah sebaliknya, dan mungkin memberikan dampak yang tak kalah mengerikan : saat ribuan manajer dan putra terbaik sang bumi pertiwi berbondong-bondong pergi ke negeri seberang demi mendapatkan salary yang lebih mak nyus.

Apa yang terjadi jika brain drain itu terjadi? Saat ribuan anak bangsa terbaik pindah ke negeri seberang karena memanfaatkan kebijakan pasar tenaga kerja bebas ASEAN?

BRAIN DRAIN. Ini adalah istilah saat otak-otak terbaik di sebuah bangsa pergi jauh menembus samudera, berangkat ke negeri lain yang menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Brain drain menjadi problem sebab yang pergi ke negeri seberang adalah “best brains” – orang-orang dengan mutu terbaik di negeri itu.

Dan memang biasanya brain drain terjadi karena, negeri yang dituju otak-otak terbaik itu mau menerima mereka dengan senang hati (sebab mereka memang orang dengan mutu original, bukan SDM dengan mutu KW3).

India dan China adalah negara yang sering mengalami brain drain : banyak orang hebat dari dua negara itu yang pergi ke Eropa dan USA, demi masa depan yang lebih baik.

Ribuan best brains itu kemudian membentuk semacam diaspora : jaringan orang-orang terbaik dari negara tertentu yang tersebar di berbagai negara dunia.

Kebijakan pasar tenaga kerja bebas ASEAN membuka peluang besar bagi terbangnya manajer-manajer terbaik negeri ini untuk mengisi beragam posisi manajerial di berbagai negara ASEAN.

Manajer-manajer terbaik negeri ini dalam bidang IT, Financial, Banking, Oil and Gas, Electrical Engineering hingga Supply Chain Management, bisa pelan-pelan melakukan eksodus ke negeri seberang. Gelombang brain drain bisa menyeruak.

Kenapa? Ya karena dengan aturan Skilled Labor Free Flow, perpindahan manajer antar negara ASEAN akan mudah terjadi. Selain itu, jika memang kualifikasi oke, dan perusahaan di negeri seberang mampu memberikan gaji yang jauh lebih gurih, kenapa tidak?

Talent War mungkin berlangsung akan kian keras. Persaingan mendapatkan karyawan dan manajer terbaik tidak hanya dengan sesama perusahaan di dalam negeri – namun juga dengan ratusan perusahaan top di Singapore, Malaysia, Thailand hingga Manila.

Saya membayangkan, pelan-pelan kondisi ini akan membentuk semacam “standar gaji ASEAN” untuk beberapa posisi yang diburu banyak perusahaan. Mau tidak mau perusahaan di Indonesia dipaksa menaikkan standar gaji manajer di tanah air, demi mempertahankan best talents mereka agar tidak kabur ke negara seberang.

Faktor itu yang pada akhirnya akan mempercepat proses kenaikan dramatis standar gaji manajer di Indonesia (selaras dengan artikel saya beberapa minggu lalu dengan judul : “Kenapa Gaji Manajer Sekarang dengan Mudah Tembus Rp 45 Juta per Bulan“).

Lalu apa implikasinya bagi Anda?

Simpel. Kalau Anda punya kecakapan bahasa Inggris yang bagus, disertai dengan kompetensi yang unik dan berkelas (kelas dunia maksudnya, bukan kelas KW3), maka Anda bisa juga dengan mudah mendapatkan pekerjaan di Singapore, Malaysia, Bangkok atau Manila. Tentu dengan gaji standar ASEAN (dan bayarannya memakai dolar).

Fenomena brain drain mungkin gejala yang tak terelakkan dalam era pasar bebas tenaga kerja ASEAN dan dalam era yang kian mengglobal.

Dan mungkin kamu, iya kamu – kelas terdidik dan pembaca blog yang cerdas – akan ikut menjadi aktor kunci dari gelombang brain drain itu. Siapa bisa menduga.

Mungkin kelak Anda bisa mendapatkan karir yang bagus di Singapore dengan gaji dolar, dengan tanggung jawab mencakup seluruh pasar ASIA.

Maka suatu ketika Anda bisa seperti ini : sarapan senin pagi di Jakarta sambil membaca blog strategi + manajemen, lalu makan siang di Singapore, dan makan malam di kabin pesawat Airbus A350 dalam penerbangan menuju Osaka, Jepang.

Selamat menjadi Manajer Global, teman. Selamat berkarya menaklukkan Asia dan Dunia.

– See more at: http://strategimanajemen.net/2014/11/10/brain-drain-saat-manajer-manajer-terbaik-indonesia-terbang-ke-negeri-seberang/#sthash.X6IBHTG7.dpuf

Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita

Mungkin Anda sudah sering mendengar ucapan Marc Prensky, penulis buku Digital Game-Based Learning, bahwa kehadiran teknologi digital membuat dunia pendidikan terbelah dalam dua kelompok besar, digital immigrants dan digital natives.

Apa itu? 

Digital immigrants, sesuai istilahnya, adalah kaum pendatang di era digital. Mereka ini generasi yang lebih tua, lahir sebelum berkembangnya teknologi komputer, internet, apalagi smartphone. Kalau dalam dunia pendidikan, mereka inilah yang sekarang menjadi dosen atau guru. Sementara itu, digital natives adalah anak-anak muda yang lahir setelah era internet.

Sejak kecil sudah melek teknologi, seperti internet, komputer, ponsel atau smartphone, animasi, aplikasi dan berbagai produk digital lainnya. Kita sering menyebut mereka dengan istilah generasi Y dan millenials. Mereka inilah yang sekarang menjadi murid di sekolah-sekolah, atau mahasiswa di kampus-kampus.

Jejak Digital 

Kalau dari pendekatan teknologi, membedakan keduanya mudah sekali. Berikan pada kelompok digital natives ini smartphone. Sebentar saja, tanpa perlu diajari, mereka sudah tahu bagaimana cara mengoperasikannya tanpa perlu membaca buku manualnya. Mereka akan dengan cepat menemukan di mana games tersimpan. Sementara itu, kelompok digital immigrants lain lagi. Mereka setengah mati mencoba memahami cara memakai smartphone .

Mereka membaca buku manualnya, dan tak kunjung mengerti. Lalu, mulailah mereka ini merepotkan koleganya dengan sejumlah pertanyaan. Jika tak kunjung mengerti juga, mereka akan berteriak memanggil anaknya, bertanya ini itu, sehingga membuat anakanak sebal. ”Masak begitu saja nggak ngerti ,” gerutu sang anak. Beberapa di antara kelompok digital immigrants ini ada yang mencoba habis-habisan beradaptasi di lingkungan digital.

Namun, tetap saja mereka meninggalkan jejak di manamana yang bisa dengan mudah kita temukan. Contohnya, meski sudah mengirimkan email ke koleganya, kelompok digital immigrants ini selalu mengingatkan dengan menelepon, mengirim SMS atau WhatsApp, ”Sudah cek email yang saya kirim?” Kalau yang lebih parah, ia selalu mencetak email dari koleganya. Lalu membaca dan mengoreksinya di atas kertas. Baru setelah itu membalas email tersebut.

Belajar Mesti Menyenangkan 

Paparan teknologi digital membuat struktur otak anak-anak muda kita berubah. Anda tahu di dunia digital, informasi mengalir dari mana-mana dan melimpah ruah. Semuanya cukup dengan mengklik Google. Maka sejak kecil, otak anak-anak kita sudah terbiasa menerima input yang melimpah.

Di kampus, saya sering memberi mereka assignment dengan memberi kata kunci, lalu membiarkan mahasiswa berselancar dan memberikan interpretasi dari apa yang mereka temukan dalam hitungan menit, dan diperkaya rekan-rekan lainnya. Kuliah menjadi lebih hidup, lebih fun ketimbang dosen sendirian presentasi dan mereka menyimak.

Garry Small, seorang pakar saraf dari University of California, Los Angeles, menemukan, anak-anak yang otaknya banyak menerima input secara digital ini secara kognitif bisa menjadi superior. Maksudnya bisa lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan. Itu karena mereka didukung oleh banyaknya informasi yang masuk dalam otak dan pandai mengklasifikasikannya.

Kondisi semacam ini membuat struktur otak mereka berubah menjadi multitasking . Mereka bisa belajar sambil menonton TV, mendengarkan musik, men-Tweet, chatting, atau berselancar di dunia maya. Itulah suasana belajar yang menyenangkan. Dan, bagi mereka, belajar mestinya menyenangkan. Apalagi sejak kecil, mereka sudah dibesarkan dengan cara belajar yang menyenangkan.

Mereka belajar sambil menonton acara TV, seperti Sesame Street, Teletubbies, atau Dora The Explorer. Kondisi semacam inilah yang kadang kurang dipahami oleh kalangan digital immigrants, para guru atau dosen. Mereka tidak percaya kalau anak-anak bisa belajar sambil nonton TV, mendengarkan musik atau chatting dengan smartphone. Bagi kelompok digital immigrants ini, belajar mestinya bukan seperti itu.

Belajar mesti fokus, serius dan sering kali mereka buat suasananya menjadi tidak menyenangkan. Anda familier bukan dengan istilah guru galak atau dosen killer. Mengapa mereka bisa begitu galak atau killer ? Para guru atau dosen, yang kebanyakan dari kelompok digital immigrants, itu rupanya ingin menerapkan metode belajar seperti yang dulu mereka alami.

Mereka marah- marah karena ketika tengah menjelaskan di depan kelas, mahasiswanya sibuk dengan gadget -nya atau online dengan laptop-nya. Oleh karena jengkel, dia pun membuat aturan: saat kuliah, tak boleh membuka gadget, tidak boleh online. Padahal di kampusnya tersedia akses Wifi. Akibatnya suasana belajar pun jadi berubah. Para siswa tersiksa.

Belajar pun menjadi tak menyenangkan lagi. Apalagi kerap bahasa guru-murid atau dosen-mahasiswa tidak nyambung. Guru atau dosen tidak tahu bahasa slang yang biasa dipakai oleh anak didiknya. Kondisi tidak nyambung semacam inilah yang membuat saya prihatin. Lalu, harus bagaimana dong? Menurut saya, kita tak bisa lagi memaksa anakanak kita belajar dengan cara lama.

Kasihan mereka. Apalagi struktur otaknya juga sudah berubah. Maka, para digital immigrants itulah yang harus menyesuaikan diri dengan cara belajar mereka. Jangan dibalik! Ayo berubah. Tak sulit kok!

 

Sumber : http://www.rumahperubahan.co.id/blog/2016/03/24/dua-generasi-di-dunia-pendidikan-kita-koran-sindo/