Menyiapkan Diri Menyambut Industry 4.0

industry-40-1-638

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu. Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi untuk menghadapi Era Industri 4.0 ini.

#1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

#2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Tapi disisi lain industri 4.0 telah melahirkan para pelaku start up yang menjadi ujung tombak inklusif ekonomi, banyak start up berbasis P2P lending yang telah berhasil menopang sisi finansial UMKM yang selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas pembiayaan dari perbankan, dengan semakin mudahnya akses keuangan yang difasilitasi oleh P2P Lending tersebut diharapkan UMKM  bisa terus meningkatkan bisnisnya. Munculnya market place barang barang khusus telah berhasil mengangkat derajat industri kreatif, start up Qlapa, Du’anyam dan masih banyak lainnya telah mempu mengingkatkan added value produk yang dihasilkan oleh masyarakat bawah ( UMKM) khususnya kerajinan tangan. Start up bidang pertanian telah berhasil memutus mata rantai distribusi sehingga tercipta perdagangan yang lebih fair dari produsen ( petani) ke konsumen.

#3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.
* Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
* Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
* Driverless car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
* Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
* Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Tapi kita tidak perlu khawatir berlebihan, dulu ketika transportasi online hadir di tengah tengah kita, banyak yang berpikir bahwa akan banyak supir yang menjadi pengangguran, tapi apakah hal itu terjadi ? jawabannya adalah tidak, justru dengan adanya transportasi berbasis online mampu menyerap lebih banyak driver, dan meningkatkan bisnis UKM khususnya makanan melalui hadirnya Go Food. Ingat Henry Ford ? berapa banyak orang yang awalnya ketakutan ketika Ford memproduksi mobil, yang terbayang dalam benak mereka dalah para supir delman akan menganggur ? tapi justru dengan dibukanya pabrik mobil oleh Ford, banyak orang yang kemudian diserap dalam proses produksi mobil.

Prerequisite: “Agile Government”
Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “agile government”.

Agile government menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

So mari kita berkolaborasi untuk mengahadapi peralihan industri 4.0 ini, agar visi mulia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pelan tapi pasti akan menjadi kenyataan.

Materi inti diambil dari tulisan Pak Siwo ( Yuswohady.com) dengan judul ” Tantangan Revolusi Industri 4.0″ , yang kemudian disertai beberapa argumen pribadi saya.

Apa yang Diinginkan Pelanggan dari Industri Ritel Selama Ramadan?

Saler

Hiii, pembaca setia kawanpendi, tak terasa ya seminggu lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Secara pendekatan rasional, harusnya kita akan menurun konsumsinya ketika bulan Ramdhan, mengingat harusnya kita hanya makan 2 kali saja yakni saat sahur dan berbuka. Tapi apakah faktanya demikian ? anda pasti punya argumen sendiri.

Pada Bulan Ramadhan sering kali kita jumpai sale/big sale dimana mana, banyak penjual yang ngasih diskon besar besaran agar produk mereka laku keras selama Ramadhan. Di Stasiun TV pun kita akan menjumpai Iklan yang relatif lebih banyak dibanding hari biasa.Sehingga tak terasa membuat kita juga terlena untuk membeli produk produk yang ada.

April lalu, ecommerceIQ melakukan penelitian tentang apa yang masyarakat Indonesia cari sepanjang Ramadan dan juga perilaku belanja mereka sebelum, saat dan setelah Ramadan usai. Berikut adalah hasil penelitian ecommerceIQ dan kira-kira situs ecommerce mana yang menjadi pilihan orang Indonesia.

Hal terpenting tentang Ramadan dalam ritel

Setahun sekali, sekitar 2 miliar umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Tahun Ini Ramadan akan berlangsung pada pertengahan Mei dan berakhir pada pertengahan Juni (perkiraan: 16 Mei – 15 Juni 2018).

Di Asia Tenggara, khususnya di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Malaysia dan Indonesia, keluarga yang tinggal jauh kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idul Fitri bersama setelah sebulan penuh berpuasa. Selain berpuasa setiap hari dari subuh hingga matahari terbenam, ada perilaku lain yang telah membangunkan peritel dan pemain ecommerce serupa.

Idul Fitri merupakan perayaan besar setelah sebulan penuh berpuasa yang mirip sekali dengan budaya Natal di Barat. Apa yang biasanya diasosiasikan dengan hari libur ini? Pemberian hadiah, pakaian baru dan kemeriahan.

Bulan yang baik untuk berkumpul dengan keluarga yang kita sayang ini, merupakan salah satu event shopping terbesar dalam industri ritel – seperti halnya Black Friday dan Cyber Monday di Amerika Utara. Saat yang baik untuk mengamati daya beli penganut muslim.

Profil pembeli di bulan Ramadan

Terlepas dari preferensi belanja online dan offline, mayoritas orang Indonesia akan menghabiskan uang lebih banyak di bulan Ramadan.

Berdasarkan hasil survei ecommerceIQ, rata-rata pembeli di bulan Ramadan adalah perempuan, berumur antara 31 – 40 tahun dengan barang yang biasa dibeli adalah produk fashion dan kebutuhan sehari-hari.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaTHR (Tunjangan Hari Raya) menjadi alasan mengapa pengeluaran menjadi lebih besar di bulan Ramadan. Para pekerja mendapatkan satu bulan gaji tambahan untuk merayakan kemeriahan lebaran bersama keluarga. Tidak mengherankan, semakin banyak penghasilan yang dihasilkan, semakin banyak yang akan mereka belanjakan selama Ramadan.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaHal yang penting dicatat adalah hitungan rumah tangga kelas menengah di Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 23,9 juta dalam 12 tahun mendatang dari 19,6 juta pada 2016Negara ini telah memiliki jumlah kelas menengah terbesar keempat dalam skala global.

Kelas menengah yang berkembang, berarti munculnya karakteristik kelas menengah – lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan, liburan, dan hadiah untuk keluarga. Inilah sebabnya mengapa perusahaan menghabiskan banyak uang untuk membangun kredibilitas sejak awal sebagai brand yang dapat diandalkan dan yang dapat memengaruhi perilaku generasi mendatang. Ini juga yang menjadikan nusantara sebagai pasar yang menarik dan menjanjikan.

Puncak belanja selama Ramadan

Mengingat semakin populernya ecommerce di seluruh wilayah yang mengutamakan mobile first (kecenderungan untuk selalu mengandalkan smartphone), tren apa yang dapat kita identifikasi dalam perilaku pembelian online selama Ramadan seperti perangkat apa yang mereka gunakan untuk belanja dan pada jam berapa?

Begitu matahari terbenam, pengeluaran dimulai. Data dari Ramadan aCommerce pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penelusuran seluler di situs ecommerce mencapai puncaknya pada pukul 04.00 dan 17.00 ketika orang-orang duduk di kemacetan.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaMeskipun rata-rata panjang sesi web lebih panjang di desktop, ada lebih banyak lalu lintas yang berasal dari handphone selama Ramadan membuat mobile UX yang menarik penting untuk mendorong konversi.

Data juga menunjukkan bahwa pria cenderung menjelajah lebih dari wanita, tetapi wanita memiliki rasio konversi yang lebih tinggi. Meskipun para marketing harus menyesuaikan kampanye yang menarik bagi keduanya, mengonversi pria bisa menjadi sedikit lebih sulit.

Pria cenderung mengapresiasi belanja online yang tanpa basa basi dan sederhanakeinginan konsumen Industri Ritel Indonesia dibandingkan pengalaman sosial dan komprehensif. Mereka juga membeli berdasarkan langkah-langkah logis (versus emosional) dan suka melakukan riset sebelum membeli, yang dapat menjelaskan peningkatan aktivitas browsing.

Menjangkau para Ramadan shopper

Berdasarkan survei, channel online terpopuler untuk shopping selama Ramadan adalah Shopee dan Lazada.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaMeskipun para top player telah beralih dari pertanyaan apakah mereka harus memiliki kehadiran online resmi, memiliki shop-in-shop saja tidak cukup mengingat jumlah penjual yang tersedia.

Pertanyaan yang para Brand Manager perlu tanyakan kepada diri mereka sendiri adalah: seberapa baik peringkat produk saya dalam pencarian? Bagaimana pricing strategy yang harus saya lakukan? Bagaimana ulasan produk saya? Seberapa menarik brand presence saya? Seberapa cepat pengiriman barang?

Konsumen di Indonesia berbagi tiga alasan utama yang meyakinkan mereka untuk berbelanja online lebih sering.

  1. Promosi Spesial Ramadan untuk produk yang mereka butuhkan seperti makanan dan fashion.
  2. Opsi pembayaran cash on delivery
  3. Same day delivery tanpa biaya tambahan

Situs yang tidak menampilkan item berharga lebih rendah akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan klik konversi. Orang Indonesia sadar harga dan bahkan dengan THR yang mereka dapatkan, penghematan adalah faktor utama dalam perilaku konsumsi.

Sah-sah saja sebenarnya mencantumkan harga beberapa harga normal dan mencampurnya dengan harga diskon di homepage, harga barang yang lebih rendah harus dibawa ke garis terdepan. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan inventaris.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaLogistik dan pembayaran tetap menjadi tantangan terberat saat ini bagi para pemain ecommerce di Indonesia, karena infrasuktruktur yang belum memadai dan kurangnya pengetahuan mengenai keuangan. Kebanyakan perusahaan pada umumnya mengambil langkah untuk outsource dalam memecahkan dua masalah tersebut untuk pengalaman berbelanja yang lebih efisien.

So, apakah anda sudah menyiapkan strategi untuk menarik para pembeli lebih banyak di Bulan Ramadhan ini ?

Selamat menyambut bulan Ramdhan bagi Anda semua.

 

Sumber ; marketing.co.id

Fakta “Basket Size” Belanja Online Orang Indonesia ?

kleiner Einkauf

Sumber gambar : shopio.com

Platform perbandingan e-commerce iPrice menghitung basket size konsumen online Indonesia. Berdasarkan laporan yang dibuat sepanjang tahun 2017 itu, nilai rata-rata pembelanjaan tiap konsumen mencapai US$ 36 atau sekitar Rp 481.000. Perhitungan tersebut berasal dari berbagai macam produk yang dijual di e-commerce, baik fashion maupun elektronik.

Menilik dari kacamata regional, nilai tersebut membuat Indonesia menduduki posisi basket size terendah kedua di Asia Tenggara. Kalau jauh dengan Singapura yang mencapai US$ 91.

Temuan nilai basket size tersebut juga menunjukkan seberapa besar purchasing power konsumen Indonesia saat bertransaksi online. Hal ini tentu berbanding lurus dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara. Dari segi pelaku e-commerce, temuan nilai basket size ini bisa menjadi pandangan untuk menentukan target pasar, harga produk yang dijual, hingga strategi promosi yang digunakan.

Temuan lainnya, konsumen Indonesia menjadi pihak yang paling aktif berbelanja online di hari kerja, khususnya pada siang hari. iPrice mencatat dari keseluruhan sampel, puncak pemesanan barang paling populer adalah pada pukul 10.00 hingga 17.00. Selain itu, conversion rate paling tinggi juga terjadi pada hari Rabu, sementara di akhir pekan conversion rate justru turun hingga 30%.

Pada periode kuartal ketiga 2016 hingga kuartal kedua 2017, jumlah pesanan pada pukul 11.00 rata-rata lebih tinggi 69% dibandingkan jam lainnya. e-Commerce pun masih mendapatkan banyak pesanan pada pukul 16.00 yakni saat orang-orang sedang pulang kerja.

Hasil riset tersebut juga tidak kalah jauh dari penelitian perilaku belanja online di Amerika Serikat. Firma CNBC menyatakan bahwa 31,2% konsumen online melakukan transaksi di jam kerja.

Dalam laporan Workarea, di hari Jumat dan Sabtu umumnya konsumen beraktivitas offline. Selanjutnya, pada hari Minggu mereka mulai berselancar kembali untuk mencari produk yang kemudian dimasukkan ke dalam wishlist.  Temuan-temuan ini tentu bisa menjadi referensi para pelaku e-commerce untuk kapan melakukan flash sale ataupun strategi promosi yang menarik konsumen untuk melakukan transaksi.

Sumber : Marketeers.com

 

Siap-Siap Ucapkan Selamat Tinggal Pada e-Commerce

juniper-digital-commerce

Teknologi telah mengubah sektor ritel. Kekuatan yang semula berada di tangan brand berpindah ke tangan konsumen. Konsumen saat ini memiliki akses ke berbagai informasi sehingga terpapar pada lebih banyak pilihan.

Pada tahun 2020, digital commerce kawasan ASEAN diperkirakan tumbuh secara eksponensial mencapai US$ 32 miliar dalam tiga tahun ke depan. Demografi memainkan peran utama dalam mendorong pertumbuhan ini. 50% dari populasi ASEAN berusia di bawah 30 tahun, dan memasuki masa potensi kemampuan belanja tertinggi mereka.

Pola hidup di kawasan Asia semakin sibuk, konsumen ingin terbebas dari aktivitas yang memakan waktu sehingga bisa lebih meluangkan waktu untuk sesuatu yang berharga bagi mereka, misalnya, waktu bersama keluarga. Dengan perangkat yang dilengkapi teknologi terbaik saat ini, konsumen menginginkan pengalaman layanan online maupun offline yang lebih baik.

Bentuk e-commerce ini diprediksi akan berubah pada tahun 2020, seiring perkembangan teknologi untuk mempersiapkan kita menghadapi tahap berikutnya dimana konsumen bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan sebelum mereka menginginkannya. Riset dari Accenture menyebutkan bahwa ke depannya, e-commerce akan semakin ketinggalan zaman dan beralih menuju era digital commerce.

e-commerce adalah cara kuno jualan online dengan memasukan produk di platform, sembari menunggu konsumen datang. Sementara digital commerce Anda menggunakan semua fitur teknologi saat ini untuk menjual produk,” ujar Mohammed Sirajudeen, Managing Director & Digital Commerce Lead for APAC, Africa, Middle East & Turkey, Accenture.

Ia juga menambahkan bahwa menghabiskan dana untuk strategi pemasaran saja tidaklah cukup untuk menarik konsumen di Asia Tenggara yang tengah berkembang pesat. Model bisnis ini merupakan paradigma yang sudah jauh tertinggal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

Sirajudeen menjelaskan bahwa saat ini banyak brand yang sudah menggunakan strategi digital commerce, seperti Amazon dengan Amazon Go, dan Oreo menggunakan Oreo Music Box. Ia meyakini bahwa digital commerce memungkinkan brand menghasilkan kebutuhan, mengendalikan rantai pasokan, meningkatkan pengalaman pelanggan dan menyediakan data yang cukup untuk menganalisa agar usaha brand menjadi lebih terarah, efektif dan terpadu.

“Sekarang perusahaan seperti Alibaba dan Amazon banyak berinvestasi pada teknologi digital commerce karena mereka meyakini bahwa teknologi ini adalah masa depan,” ujarnya.

Sementara itu Leonard Nugroho T., Managing Director Technology Consulting, Accenture Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan digital commerce akan relevan pada industri consumer goods. Ia juga menyebutkan pentingnya perpaduan online dan offline channel.

“Dalam konsep omni-channel, brand harus tahu siapa konsumen mereka. Banyak yang bilang mereka tahu dan berapa banyak yang beli. tapi mereka tidak tahu juga yang beli itu siapa, untuk apa, dan dimana,” pungkas Leonard.

 

Sumber : marketeers.com

The Melody of Branding: 8 Tren Marketing di Indonesia

 

jacky-mussry-1

Ajang WOW Brand Festive Day 2018 yang diselenggarakan MarkPlus, Inc., kali ini memang istimewa. Bukan hanya karena memaparkan materi yang berbobot, tapi juga kemasannya sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bisa jadi, bahkan kemasan tersebut merupakan yang pertama di negara ini. Dikemas bak panggung musikal dengan penampilan dari para pakar marketing yang mempresentasikan materi dengan melibatkan instrument musik.

Setidaknya, ada dua pakar yang menggunakan musik sebagai media presentasi, yakni Salvador Lopez, profesor marketing dari ESADE Business School, Barcelona, Spanyol dan Jacky Mussry, Deputy CEO MarkPlus, Inc. Namun, ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Bila Lopez tampil secara solo dengan gitar, maka Jacky hadir lengkap bersama grup band-nya.

Kali ini, yang akan kita kupas adalah pemaparan Jacky Mussry. Judul pemaparannya adalah The Melody of Branding.  Menurutnya, di era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA) brand equity susah dikontrol. Untuk itu, merek harus memiliki senjata untuk tetap bertahan.

“Apa itu senjatanya? Jawabannya adalah Discovery, Adventure, Momentum, dan Outlook (DAMO). Ditambah dengan mengetahui tren marketing yang terjadi di tahun 2018 ini,” katanya di acara WOW Brand Festive Day.

Ia melanjutkan, ada 8 tren marketing di Indonesia dan dampaknya pada merek. Pertama, adalah Digital technology and ioT on marketing practices. Sudah tidak disangsikan lagi digital teknologi dan ioT akan semakin diterapkan di dunia pemasaran. Lihat saja, komputasi awan sudah jamak digunakan. Termasuk pula Artificial Intellegence yang sudah dipakai di mana-mana.

Dan, semua teknologi tersebut akan terhubung dengan komunitas online. Namun, komunitas offline tetap penting. Keduanya saling melengkapi karena sekarang ini customer journey melewati online dan offline. Sehingga, brand harus mampu beradaptasi dengan dua lingkungan tersebut, offline dan online dan selaras dengan customer journey,” tambahnya.

Tren kedua, adalah customer experience (CX) is here to stay. Sekedar produk saja tidak cukup, tapi Now Experience adalah bagian dari produk. Ketika konsumen melakukan pencarian, pembelian, hingga membagikan pengalamannya dengan suatu produk adalah bagian dari produk itu sendiri. Sebagai jawaban adalah menggelar omnichannel agar tercipta CX.

Generasi sekarang boleh disebut sebagai Generation CX yang menuntut right here, right now, dan personalized. Sehinnga, omnichannel itu bisa diartikan sebagai kemudahan diakses kapan saja dan dari mana saja. “Untuk itu brand butuh CX manajemen berbasis digital dan dibangun berdasarkan pemetaan pada customer journey,” jelasnya.

Kemudian, tren ketiga, adalah cashless society keeps on growing. Era cashless ini telah membuat banyak perubahan dalam dunia pemasaran. Sebabnya, ketika brand hidup dengan mengandalkan produk yang lebih baik dari yang lain saja menjadi tidak cukup. Butuh bisnis model baru yang selaras dengan perubahan akibat pesat teknologi.

Bisnis model yang baru ini akan membuat konsumen Anda jatuh cinta untuk kedua kalinya pada merek Anda. Dan, dalam bisnis model baru ini, teknologi menjadi tulang punggungnya. Para startup technology menjadi pemain yang langsung dengan cepat menerapkan metode cashless dalam bisnisnya. Didorong pula oleh munculnya financial technology  (finctech) startup yang menggoyang kehidupan para pemain finansial konvensional.

Berikutnya, keempat, adalah social media influencer younger generation fiercely. Generasi muda dengan media sosial bisa disebut dengan ‘tak terkontrol’ dan ‘tak terhentikan’. Seperti kita ketahui, media sosial telah menjadi salah satu platform marketing. Sehingga, kompetisi pun menjadi tiada batas, di seluruh jagat media sosial.

Bagaimana menghadapinya? Brand harus bisa beradaptasi dengan dunia media sosial yang melahirkan selebgram, key opinion leader (KOL) hingga influencer.  Brand perlu menggandeng mereka untuk memenangkan hati para generasi muda karena mereka juga bagian dari generasi tersebut.

Kelima, adalah Increasing number of young entrepreneurs. Mengapa ini berpengaruh dalam pemasaran? Sebab jumlah para entrepreneur muda ini semakin membesar dan bisa menjadi potensi pasar bila bisa menggaetnya. Para entrepreneur muda ini lahir atau terbentuk dalam inkubasi-inkubasi bisnis yang juga kian menjamur di berbagai wilayah.

Hanya saja perlu dicatat, para entrepreneur muda ini memiliki idealisme. Mereka tidak sekadar berbisnis, tapi juga berupaya sebisa mungkin bisnisnya memiliki dampak sosial. Untuk bisa menggandeng mereka, brand harus semakin transparan dan otentik. Selain itu, para entrepreneur muda ini memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Mereka bekerja dalam senyap untuk memajukan negara.

Tren selanjutnya, keenam adalah halal market is getting bigger. Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar dan jumlahnya terus berkembang. Kelas menengah dari masyarakat Islam pun terus meningkat. Artinya, daya beli umat Islam pun semakin besar. Hal ini membuat pasar halal bisa sangat berkembang.

Lihat saja, belakangan ini sudah muncul produk-produk dan merek yang menyasar langsung umat Islam. Mulai dari makanan, pakaian, hingga perjalanan wisata. Bahkan, kosmetik halal pun sudah ada di negara ini. Dan, di negara-negara lain yang masyarakatnya mayoritas  non-Islam sudah banyak yang menggarap pasar halal ini. Contohnya, Jepang, Singapura, dan lainnya.

Kemudian, ketujuh, adalah tourism and culinary sectoes will continue to progess. Saat ini, destinasi yang diminati bukan saja sebatas indah atau unik, tapi memberikan pengalaman baru. Indonesia mencanangkan kehadiran wisatawan mancanegara hingga 20 juta orang di tahun 2020. Ini bisa menjadi peluang dan tantangan bagi para merek di sini untuk terlibat dalam pengembangan pariwisata.

Terakhir, tak bisa dilewatkan adalah years of political marketing with higher kevel of sophistication. Tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik. Belajar dari pengalaman tahun pilkada DKI ketika masyarakat terbelah dalam dua kubu besar. Tentunya, itu adalah hal yang tidak kita inginkan.

 

Sumber : marketeers.com

Penting untuk Bisnis Anda : 5 Hal yang Menjadi Perhatian Generasi Milenial Sebelum Membeli Produk.

Generasi millennial (usia 18-29 tahun) saat ini tengah menjadi perhatian banyak merek untuk dipilih sebagai segmen konsumen mereka. Selain memiliki masa konsumsi yang lebih panjang, generasi ini dinilai memiliki daya beli yang cukup kuat.

Saat ini millenial menjadi calon konsumen yang paling memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi, sehingga sebagai seorang pebisnis, wajib bagi Anda untuk memahami generasi ini lebih dalam. Berikut adalah 5 hal yang menjadi perhatian para millenial dalam membeli sebuah produk:

1. Rekomendasi dari Teman ataupun Internet

Slide1

Ketika sebuah merek atau perusahaan membuat komunitas online dimana konsumen yang berpikiran sama dapat berbagi pemikirannya tentang produk atau layanan perusahaan, maka millenial lebih cenderung menjadi penggemar dari produk tersebut.

Contohnya adalah iPhone, sadar atau tidak keputusan Anda membeli iPhone pasti sedikit banyak adalah keputusan yang dipengaruhi oleh orang disekitar.

Teman Anda mungkin telah menjadi penggunanya, atau teman Anda telah merekomendasikannya sebelum keputusan pembelian dibuat oleh Anda.

Yang perlu dilakukan selanjutnya:

Tingkatkan percakapan nyata di antara pelanggan Anda dan dorong ulasan publik terhadap produk dan layanan Anda.

Permudah millenial untuk berbagi dengan teman mereka saat mereka memilih merek Anda, dukung dan dorong ulasan eksternal di situs lain, baik oleh pengguna forum blogger atau anonim.

2. Penganggaran Adalah Jalan Hidup

Slide2

Millenial saat ini sangat ketat dengan anggaran yang dimiliki terkait dengan gaya hidup mereka yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

Millenial dapat bersifat konsumtif, namun mereka berusaha untuk bersifat konsumtif dengan cara yang bijak, salah satunya melalui cicilan.

Jika bisnis Anda menawarkan produk atau jasa dalam nominal yang cukup besar, cobalah berinovasi dalam metode pembayaran. Berikan mereka kemudahan dalam metode pembayaran yang tidak memberatkan.

Yang perlu dilakukan selanjutnya:

Ciptakan inovasi cara bayar yang memudahkan, contohnya: Anda dapat bekerja sama dengan bank untuk memberikan cicilan 6 hingga 12 bulan tanpa harus terkena bunga. Biasanya program bunga 0% akan sangat menarik bagi kaum millenial.

3. Menilai dari Semua Sudut

Slide3

Millennial menimbang sebuah produk atau jasa terhadap nilai-nilai mereka sendiri. Dengan demikian, merek yang sejajar dengan penyebab sosial adalah penarik perhatian terbesar.

Contoh bagusnya adalah Toms Shoes, perusahaan alas kaki yang menyumbangkan sepasang sepatu untuk setiap pasang sepatu yang dibeli oleh konsumen.

Tentunya jenis komitmen ini harus tulus agar memiliki efek positif. Atau Starbucks yang mengangkat tema peduli kanker payudara, melalui setiap produk Starbucks pink yang dibeli oleh konsumen.

Nilai-nilai yang diangkat oleh perusahaan ternyata sangat memegang peranan penting dalam mempengaruhi keputusan pembelian millenial.

Generasi ini cenderung tidak ingin membeli jika nilai-nilai yang dianut perusahaan tidak sesuai dengannya.

Yang perlu dilakukan selanjutnya:

Identifikasi nilai perusahaan Anda, sesuaikan dengan millenial dan sejajarkan produk Anda dengan mereka. Carilah cara untuk mendukung kebaikan bersama – baik di komunitas Anda atau di seluruh dunia.

Ciptakan cara yang datang secara otentik dari nilai Anda sendiri. Izinkan pelanggan untuk terlibat dengan usaha ini dan meminta umpan balik dari mereka.

4. Eksposur Konstan terhadap Media Sosial

Slide4

Penelitian menunjukkan bahwa 81 persen Milennial yang ada di Facebook, memiliki rata-rata 250 teman. Mereka juga memeriksa perangkat mobile mereka rata-rata 43 kali sehari.

Dan sementara platform lain juga sedang mengejar ketinggalannya, saat ini ada Twitter yang memberi Millennial sebuah panggung untuk berbagi kepuasan atau ketidakpuasan mereka.

Bahkan Snapchat dan Insta Story, sebuah aplikasi yang dibuat untuk berbagi pesan gambar, telah menjadi cara paling populer ketiga bagi konsumen Millennial untuk saling berhubungan satu sama lain.

Yang perlu dilakukan selanjutnya:

Jangan gunakan media sosial tanpa terlebih dahulu mengidentifikasi tujuan yang dapat membantu Anda mencapainya.

Seperti semua saluran komunikasi, jadilah otentik dan dorong percakapan di media sosial. Bersedialah untuk mencoba bentuk baru media sosial (seperti Snapchat) jika sesuai dengan audiens dan sasaran perusahaan Anda.

5. Inovasi Dengan Tujuan

Slide5

Saat ini Millennial mungkin lebih bersedia untuk mencoba sesuatu yang baru, mereka tidak akan menjadi konsumen setia kecuali barang tersebut memberikan nilai yang sangat penting dalam hidupnya.

Perusahaan yang meluncurkan produk baru demi inovasi tidak ada gunanya. Mereka perlu memastikan bahwa inovasi tersebut benar-benar membuat hidup anak millennial menjadi lebih mudah atau menciptakan lebih banyak kesenangan kepadanya. Hanya hal-hal itulah yang akan membantu Anda mendapatkan loyalitas dari kaum millenial.

Yang perlu dilakukan selanjutnya:

Sebelum berinvestasi dalam fitur atau produk baru yang inovatif, tanyakan apakah itu menambah nilai pada pengalaman pelanggan Anda?

Bila memungkinkan, gunakan inovasi untuk membuat hidup pelanggan Anda lebih mudah, bukan sekedar sesuatu yang mencolok untuk dibicarakan.

Nah, pastikan bisnis Anda menerapkan 5 tips di atas untuk mendapat perhatian millenial secara maksimal. Saat Anda menerapkan kelima tips tersebut, generasi ini tentunya akan mulai mempertimbangkan keputusan pembeliannya lebih lagi.

 

Sumber : koinworks

 

 

Konsumsi Masyarakat Meningkat : Tahun 2018 Saatnya Menguji Peruntungan

Tahun 2017 baru saja dilalui dengan berbagai situasi yang cukup dinamis dan penuh tantangan baik di dunia internasional maupun di Indonesia sendiri. Masalah melemahnya daya beli masyarakat menjadi perbincangan hangat hingga menjelang akhir 2017. Meskipun kemudian analisis dari Middle Class Institute memaparkan analisisnya dengan cukup baik, bahwa ada perubahan tren dari Non Leisure Economy ke Leisure economy, yang intinya dalah masyarakat kita cenderung mengkonsumsi barang/jasa yang menghasilkan experience atau kepuasan untuk mereka. Lantas, Bagaimana dengan kondisi ekonomi di 2018?

Consumption

Sumber : salesforce.com

DBS Group Research memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,3 persen pada 2018. Angka ini lebih tinggi dari prediksi pertumbuhan PDB sebesar 5,1 persen pada 2017.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan kembali pulih pada tahun ini. Sejumlah indikator menunjukkan adanya peningkatan optimisme konsumen yang terlihat dari kenaikan Indeks Kepercayaan Konsumen. Indeks Kepercayaan konsumen (consumer confidence) adalah indikator pandangan konsumen terhadap perekonomian. Indeks kepercayaan konsumen merefleksikan pandangan responden mengenai situasi keuangan mereka, dan perasaan mereka tentang masa depan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, saat ini konsumsi masyarakat di dalam negeri merupakan penyumbang terbesar bagi perekonomian Indonesia. Prosentase konsumsi terhadap total perekonomian mencapai 55% atau jauh lebih besar bila dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah (9%) dan investasi (30%). Karena itu, tingkat pertumbuhan konsumsi seharusnya ditingkatkan, atau paling tidak terjaga untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang sudah ditargetkan sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) telah mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2017 sebesar 126,4. Angka ini lebih tinggi dibandingkan IKK November 2017 yang tercatat sebesar 122,1. Berdasarkan data BI, peningkatan konsumen ini ditopang karena membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Riset Pemasaran Inside ID pada kuartal IV 2017 menunjukkan bahwa dari pendapatan bulanan yang didapatkan responden, rata-rata sebanyak 32% dihabiskan untuk biaya konsumsi kebutuhan pokok bulanan seperti kebutuhan sandang dan pangan. 29% lagi digunakan untuk kebutuhan rutin bulanan seperti biaya telepon, listrik, dan pulsa. Dengan kata lain, meski konsumen di Indonesia memiliki kenaikan pendapatan, namun nampaknya biaya bulanan yang mereka konsumsi juga mengalami peningkatan.

Setelah mengalokasikan untuk biaya rutin dan kebutuhan pokok, rata-rata sebanyak 13% dari pendapatan mereka digunakan untuk membayar kartu kredit maupun cicilan bulanan. Setelah itu, sisanya baru dialokasikan untuk investasi, asuransi, maupun pembelanjaan tersier, seperti berwisata bersama keluarga.

Beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya daya beli masyarakat diantaranya :

Banyak even di tahun 2018. Peningkatan daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh adanya even-even besar yang menjadi sorotan. Di antaranya Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, World Bank/International Monetary Fund (IMF) Annual Meeting di Bali dan pilkada serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia. Ini akan berdampak pada konsumsi masyakarat pada 2018 mendatang.

Kampanye menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari proses pilkada. Gak mungkin kan kandidat, partai atau pendukung pasangan calon gak ngapa-ngapain. Pasti ada aja kegiatannya, nah kegiatan kegiatan ini memerlukan dukungan logistik tentunya, baik itu konsumsi, kaos, maupun sarana dan prasaran yang lain. Demikian juga dengan aggaran belanja KPU, Bawaslu hingga Polri dipastikan naik. Juga dari Pemda. Kalau kita coba flashback, waktu triwulan pertama pada pemilu 2014, pertumbuhan non rumah tangga di atas 20 persen.

Ekspor jasa diperkirakan mengalami peningkatan yang cukup baik di tahun ini, dengan kisaran rata rata kenaikan sebesar 5,1%, khususnya melalui peningkatan sektor pariwisata. Sektor pariwisata menyumbang pendapatan cukup besar, data BPS menyebutkan sektor pariwisata mengalami perumbuhan mencapai 36% YoY ( 2006/2017).

Dari sisi kebijakan pemerintah.  Pada 2018, pemerintah mengalokasikan anggaran belanja sebesar Rp 2.221 triliun. Meski hanya meningkat sekitar 4 persen dari tahun sebelumnya, tapi pemerintah diperkirakan cenderung lebih populis dengan memberikan sejumlah stimulus fiskal untuk menjaga konsumsi kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Anggaran subsidi energi dinaikkan sebesar 5 persen menjadi Rp 94,5 triliun, pemerintah juga menyatakan tidak akan menaikkan tarif listrik pada tahun ini. Selain itu anggaran Program Keluarga Harapan (PKH) yang bisa digunakan warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari juga melonjak. Dari Rp 1,7 triliun yang mencakup 6 juta keluarga sasaran pada 2017, menjadi Rp 20,8 triliun meliputi 10 juta keluarga pada 2018.

Apa peluang yang bisa diambil ?

Meningkatnya konsumsi masyarakat juga diartikan sebagai meningkatnya pengeluaran keluarga. Berdasarkarkan laporan dari McKinsey Global Institute yang bertajuk “The Archipelago Economy : Unleashing Indonesia’s Potential”

Kelas konsumen di Indonesia yang berkembang pesat akan menciptakan pasar baru yang besar, terutama dalam bidang jasa keuangan dan berbagai jasa ritel, seperti,makanan dan minuman. Gelombang baru kelas konsumen di Indonesia merupakan peluang besar, tapi untuk menangkap keseluruhan potensiekonominya, sektor itu perlu meningkatkan produktivitasnya dan memastikan bahwa jasa konsumen tersedia secara luas di seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Telekomunikasi dan Internet pita lebar (broadband Internet) dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong produktivitas dan meningkatkan akses terhadap produk konsumen. Dan kabar baiknya pemerintah sekarang sangat serius dalam mensupport hal ini untuk mewujudkan visi menjadi “ The digital Energy of Asia”.

Berikut adalah beberapa sektor yang akan mengalami pertumbuhan.

MGI

Hal yang perlu kita perhatikan ditengah potensi konsumsi yang meningkat ini adalah pada tahun 2020 generasi milenial akan mendominasi struktur penduduk di Indonesia, inilah kemudian yang oleh para ahli disebut dengan era bonus demografi. Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Dengan gambaran umum diatas yang cukup positif, saya kira ini menjadi awal yang baik bagi setiap orang untuk memulai bisnis, so sudah siapkah anda dengan potensi pasar Indonesia yang besar ini ?.

Akhir kata saya mau mengucapkan selamat mencoba peruntungan anda.

Ditulis dari beberapa sumber diantaranya : yuswohady.com, MGI Report, dll

 

 

Leisure Economy : Kekuatan Baru Konsumsi Generasi Milenial

leisure

Image source : https://id.livearticle.info/leisure/

The Phenomenon
Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City.

Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%.

Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar.

Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita.

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana?

The Consumers
Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country).

Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi.

The Shifting
Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015 (Faisal Basri, 2017, lihat bagan).

Leisure vs Non-Leisure

Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

The drivers
Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#1. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#2. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#3. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#4. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.

“Welcome to the leisure economy.”

 

 

Sumber : Yuswohady

10 Types of Innovation : Strategi Menyerang Pesaing di Era Disrupsi

Dari sekian materi yang disampaikan pada workshop “ 10 Types of Innovation” yang saya ikuti, slide yang paling menarik bagi saya adalah pada poin “Innovation Tactic”. Ditengah kegalauan para incumbent akibat datangnya para pemain baru, dan semakin banyaknya start up yang hadir di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia, metode ini bisa dijadikan oleh para incumbent untuk menghadapi permainan para jawara dibidangnya.

Tapi disisi lain apabila para pemain baru tersebut memahami “Innovation Tactic” ini, maka dengan melakukan inovasi di sisi “ Configurasi”, maka ketika dia bisa menghadirkan model bisnis baru di bidang yang sama, ini akan menjadi masalah besar bagi para incumbent.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah bagaimana kehadiran transportasi online mengancam para pebisnis taksi konvensional. Sumber kata data ( katadat.co.id) menyebutkan Bluebird mengalami penurunan pendapatan sebesar 12,36% sepanjang Tahun 2016. Sedangkan Taksi Express mengalami penurunan sebesar 38,43%. Sementara menurut sumber dari tirto (tirto.id) menyebut bahwa tren penurunan di Blue Bird ini masih terjadi di kuartal 1 Tahun 2017 sebesar 10%.

Contoh lainnya adalah kehadiran AirBnB dengan bisnis modelnya telah berhasil mengancam para pemilik hotel. Menurut lembaga konsultan HVS Consulting & Valuation, industri hotel kehilangan sekitar 450 juta dolar pendapatan langsung setiap tahun gara-gara Airbnb. Antara September 2014 hingga Agustus 2015, ada sekitar 480 ribu kamar hotel yang dipesan. Pemesanan Airbnb di periode yang sama? Sudah mencapai 2,8 juta. Menurut HVS, pada 2018 diperkirakan pemesanan kamar akan mencapai 5 juta.

Masalahnya, hotel adalah industri yang saling terkait dengan industri lain. Pengurangan okupansi hotel, juga akan berdampak berkurangnya pendapatan dari sektor makanan dan minuman yang biasanya disediakan pihak hotel. Sekitar 108 juta dolar pendapatan dari makanan dan minuman (88 juta untuk makanan dan 20 juta untuk minuman) akan hilang karena para pelancong lebih memilih pesan hunian di Airbnb. Belum lagi tips dan berbagai service fee lain yang diterima.

Kembali pada konteks Inovasi, disaat para incumbent melakukan Inovasi hanya sebatas Closed Innovation atau Open Innovation yang menurut Prof. Rhenald disebut dengan Sustainable Innovation. Dimana salah satu ciri dari Sustainable Innovation ini yakni perusahaan melakukan inovasi masih sebatas pada Offering dan Experience . Inovasi pada Offering yakni inovasi yang fokus pada product performance dan product system, sementara Inovasi pada Experience berfokus pada beberapa hal diantaranya service, channel dan brand. Disisi lain Taksi Online menghadirkan Innovasi pada sisi “Konfigurasi” yakni Inovasi yang berfokus pada Bisnis Model. Perubahan bisnis model disini diantaranya yakni pada profit model, network, struktur bisnis dan juga proses/value stream.

Yang menjadi masalah adalah Disruption dan Sustainable Innovation ini kalau saya boleh katakan keduanya ini tidak apple to apple, sehingga sangat wajar ketika para incumbent mengalami tantangan yang berat untuk menghadapinya.

Disruption VS Hukum Kekekalan Energi Mekanik

Kalau di pelajaran fisika kita mengenal Hukum Bernoulli, yang kemudian kita terapkan dalam mengukur lubang/kran mana yang dapat memancarakan air terjauh ketika disusun secara vertikal. Demikian juga analogi saya pada Disrupsi dan Innovasi, dengan pendekatan “10 Types of Innovation”, maka masing masing tipe ini dianalogikan sebagai lubang/keran. Dalam 10 Type Innovasi yang dilakukan di sebuah perusahaan, pastinya ada namanya faktor pembatas. Dimana ketika faktor pembatas ini dibiarkan maka akan berdampak negatif bagi perusahaan. Sama halnya dengan kaidah yang berlaku pada produksi pertanian yang di dalamnya berlaku Hukum Minimum Von Leibig. Dimana ketika salah satu unsur pembatas tidak terpenuhi maka unsur lainnya tidak akan berfungsi secara optimal.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para disruptor, mereka menganalisa faktor pembatas yang tidak bisa dimainkan oleh incumbent. Dengan berfokus pada menyerang titik terlemah, maka disruptor bisa menghadirkan permainan yang tidak fair antara bisnis model yang berlaku di disruptor dengan bisnis model yang berlaku di incumbent.

Pelajaran yang dapat diambil dari 10 Types of Innovation ini adalah:

Untuk Incumbent : apa yang menjadi faktor pembatas untuk berinovasi di tempat anda ? temukan itu dan kelola itu sebagai kekuatan baru.

Dan untuk para disruptor : faktor pembatas apa yang menurut anda menjadi titik terlemah para incumbent sehingga kehadiran anda akan menyulitkan pergerakan mereka ?

Judul : 10 Types of Innovation : Strategi Menyerang Pesaing di Era Disrupsi

By : Pendi Setyawan

CARA PINTAR MENGAMBIL RESIKO DAN KEPUTUSAN DALAM USAHA

risk

Orang yang berani mengambil resiko bukanlah orang bodoh yang asal nekat mengambil suatu keputusan. Seringkali mereka yang kita kira berani dalam mengambil sebuah resiko justru sebenarnya sangat berhati-hati dan mengalami rasa takut berkelanjutan dalam dirinya sendiri.

Siapa bilang pengambil resiko itu orang yang berani? Siapa bilang mereka itu nekat? Darimana asumsi seperti ini berasal? Justru kebalikannya mereka itu sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam mengambil resiko yang ada.

Let’s think about it.

Ketika kita mendengar kata “berbisnis”, “entrepreneurship”, “wirausaha”, maka yang muncul pertama kali dibenak kita adalah resiko. Namun apakah betul setiap usaha/bisnis itu selalu beresiko? Apakah benar semua entrepreneur itu mempertaruhkan nasibnya? Apakah mereka betul-betul mengorbankan sesuatu atau bahkan segalanya?

Saat Bill Gates dan Mark Zuckerberg memutuskan cuti/keluar dari Harvard untuk membangun kerajaan Microsoft dan Facebook, mereka memastikan dirinya bisa kembali lagi ke Harvard seandainya usaha mereka tidak berjalan mulus. See? Mereka tidak asal nekat bertindak, mereka bahkan tidak mengorbankan apapun (nothing to lose) selain waktu dan tenaga mereka saat masih muda, mereka punya backup plan jika segala sesuatunya tidak berjalan seindah yang mereka harapkan, sesial-sialnya adalah mereka akan kembali ke kampus dan sedikit terlambat untuk menyelesaikan studi kuliahnya. Apakah ini bisa disebut pengorbanan? Apakah ini nekat?

Bahkan pebisnis dan investor genius seperti Warren Buffett memiliki nasihat-nasihat bijak tentang resiko seperti:

  • Risk comes from not knowing what you’re doing.
  • Never test the depth of river with both the feet.
  • Rule No. 1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No. 1.
  • I don’t look to jump over 7-foot bars, I look around for 1-foot bars that I can step over.

Orang yang sukses dalam bisnis/usaha bukanlah mereka yang sekedar berani mengambil resiko, melainkan mereka yang pintar bermain dengan resiko yang ada.

Faktanya adalah pengambil resiko itu justru adalah orang yang betul-betul takut kehilangan sehingga mereka menemukan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengukur secara teliti dan bermain pintar dengan resiko yang ada.

Mungkin entrepreneur-entrepreneur yang sering Anda lihat itu sekarang sedang mengalami rasa cemas dalam hatinya, khawatir tak berkesudahan memikirkan perkembangan bisnisnya yang cenderung belum pasti, bahkan sebagian lainnya mungkin sudah lelah bermain “fake it till you make it” dan ingin menyerah.

Seni mengambil resiko

Pertama hampir segala sesuatu dalam hidup ini memiliki resiko, bahkan tidak mengambil resikopun juga menjadi bagian dari sebuah resiko (the risk of not taking risk). Karyawan bisa saja dipercat dari pekerjaan yang sudah stabil, pebisnis bisa saja bangkrut, freelancer bisa saja dituntut secara hukum, bahkan bisa saja besok Anda mati kecelakaan, intinya dalam hidup tidak ada yang 100% aman.

Setiap pilihan entah itu beresiko atau tidak pasti memiliki dampak, termasuk saat kita tidak melakukan apapun, karena itu sangat penting bagi kita untuk mengatur semua pilihan yang ada menjadi keputusan yang memberikan hasil terbaik.

Karena konteks kita kali ini adalah bisnis, maka inilah beberapa cara pintar mengambil keputusan atau resiko dalam usaha/berbisnis (note: hal ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari):

1. Buat bisnis yang susah rugi

Menurut saya ada 2 orang jenis pebisnis:

  • Pebisnis yang bisa menghandle kegagalan dan kerugian (biasanya karena sudah punya modal/koneksi/resource yang melimpah sejak awal)
  • Pebisnis yang tidak bisa menghandle kegagalan/kerugian (boleh gagal asal jangan rugi)

Saya termasuk tipe yang kedua (tidak boleh rugi), karena modal/resource saya terbatas dan seandainya (amit-amit) bisnis saya gagal apalagi sampai rugi mungkin saya bisa tidak makan/mati. Karena itu hal yang menjadi prioritas utama saya adalah survive.

Bagaimana kalau gagal? Pastikan setidaknya Anda tidak rugi materi/uang (hanya rugi waktu dan tenaga) sehingga pada akhirnya nothing to lose juga, toh Anda pasti mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama berbisnis.

 

Tidak ada kesempatan kedua jika Anda mati, karena itu pastikan Anda bisa terus bertahan hidup dengan apapun yang sudah ada, jika Anda juga termasuk tipe pebisnis kedua (tidak boleh rugi) maka buatlah bisnis yang susah rugi, artinya walaupun keuntungan/profit yang dihasilkan sangat minim, namun jika bisnis tersebut collapse/bangkrut Anda tidak akan mengalami derita finansial yang parah. Pastikan pula bisnis tersebut bisa terus tumbuh walau sedikit demi sedikit, contoh beberapa bisnis yang sulit rugi itu sebagian besar adalah bisnis online seperti blog, toko online, aplikasi/software, produk/jasa digital, dan apapun yang berbasis online.

2. Buat rencana cadangan/plan b/exit plan/safety net

Never depend on single income, inilah sebab banyak pengusaha punya beberapa bisnis, dalam bisnis segala sesuatu bisa terjadi, uang mudah sekali datang dan pergi, maka dari itu Anda juga harus punya jaring pengaman (safety net) tidak harus berupa bisnis, pekerjaan freelance/kantoran juga bisa menjadi sumber income tambahan, kesempatan mendapatkan income sudah sangat luas dengan adanya teknologi, Anda bisa menjadi driver di Go-jek, atau menjadi seller/penjual di Tokopedia & Bukalapak, atau membuat blog dengan WordPress/Blogspot, atau menjadi freelancer di Projects/Sribulancer, itu semua bisa dikerjakan dengan modal minim bahkan nol.

3. Carilah situasi win-win

Carilah kondisi dimana seandainya semua berjalan tidak sesuai harapan maka Anda tetap nothing to lose. Seandainya bisnis online saya gagal, setidaknya saya bisa jadikan website yang sudah dibuat serta pengalaman yang sudah saya kerjakan sebagai portofolio dalam bekerja. Seandainya produk yang saya buat tidak laku, setidaknya saya bisa gunakan sendiri produk tersebut demi keuntungan/konsumsi diri saya sendiri.

It’s a win-win situation.

Alternatif lainnya jika Anda tidak bisa menemukan situasi win-win adalah never risk more than you can afford to lose. Jangan meresikokan lebih dari yang bisa Anda tanggung. Artinya jika Anda punya modal 10 juta dan ingin berbisnis, pastikan Anda siap menerima resiko kehilangan uang 10 juta tersebut (dan masih bisa survive).

Jangan pernah berhutang/meminjam/menggunakan kredit dan semacamnya untuk usaha, karena faktanya sebagian besar bisnis bangkrut disebabkan oleh terlilit hutang yang terus-menerus menggulung menjadi beban usaha. Saya sendiri selalu menekankan dalam aturan keuangan nomor 1 adalah jangan pernah berhutang, kecuali pilihannya adalah berhutang atau mati.

Selama masih bisa survive maka jangan pernah berhutang APAPUN alasannya, berhutang hanya cocok jika bisnis Anda terbukti bisa memberikan return yang sangat baik (melebihi bunga yang ada), lagipula jauh lebih etis mencari investor ketimbang berhutang dalam berbisnis (menurut saya).

 

 

Sumber : solusik.com