Perilaku Millenial Traveler di Asia Tenggara

millennial-travelers-image-for-blog

Kalangan milenial terkenal akan kebiasaan mereka dalam hal berwisata. Bahkan mereka rela menabung hanya untuk berkunjung ke lokasi tertentu dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka.

Kebiasaan traveling ini yang pada akhirnya menumbuhkan peluang baru dalam industri pariwisata. Namun, ada beberapa hal yang harus dipahami ketika mencoba menggarap pasar millenial dalam industri pariwisata.

Menurut Karun Budhraja selaku Vice President Corporate Marketing and Communications Asia Pacific Amadeus setidaknya saat ini jumlah milenial di kawasan Asia Pasifik mencapai 45% dari total populasi. Angka ini diprediksi pada 2020 akan memiliki kekuatan daya beli sebesar US$ 6 triliun.

Ia juga menambahkan ada setidaknya 6 perilaku penting yang harus dipahami dari para traveler milenial ini yakni : Pertama, adalah masalah aspirasi. Ini merupakan tantangan buat brand untuk memahami keinginan mereka bahkan sebelum konsumen tahu bahwa mereka butuh.

Kedua, milenial merupakan generasi yang berlomba-lomba mencari pengalaman. Baik dalam bentuk digital dan konvensional. Sebelum melakukan travelling, milenial ini mencari dan mendapatkan inspirasi dari rekanan terdekat mereka. Setelah itu mereka akan mendengarkan pendapat dari digital reviewers dan platform travel seperti Agoda dan TripAdvisor

Sebanyak 54% milenial di Asia Pasifik tetap terhubung dengan Internet selama liburan. 52% terhubung untuk bisa mengakses peta dan lokasi. 49% terhubung dengan alasan untuk bisa memberikan informasi kepada rekanan bahwa mereka aman selama berlibur.

Milenial ini ingin mendapatkan rekomendasi terkait travelling berdasarkan sumber yang tepat. Data dari Amadeus mencatat sebanyak 31% menyukai promosi dari email, 23% dari media sosial, dab 20% dari travel apps.

Bagi Karun, saat ini milenial bukan soal berkunjung saja. Mereka menekankan pentingnya sebuah pengalaman yang nyata ketika berliburan. Bagi para milenial traveler ini  sesuatu yang nyata atau yang benar-benar dekat dengan jati diri mereka akan menjadi hal yang menarik, ketimbang hal-hal yang terlalu dibuat-buat.

 

 

Sumber : marketeers.com

sumber foto : explormerriam.wordpress.com

Nation Branding: Agenda Bangsa setelah Asian Games Usai

Minggu 2 September 2018, menjadi hari terakhir sekaligus hari  penutupan Asian Games. Sebagai bangsa kita bangga karena telah sukses menyelenggarakan event akbar empat tahunan ini. Kita juga bungah karena prestasi atlet kita mencuat mengharumkan nama bangsa.

Tak hanya itu, Asian Games 2018 betul-betul menjadi pemersatu bangsa ketika kita sejenak melupakan perbedaan kubu politik, suku, agama, golongan, demi kemenangan dan kejayaan Indonesia tercinta.

Namun, setelah menutup “pesta kemenangan” hari ini apakah kemudian semuanya berakhir begitu saja?

Tidak! Justru di sinilah pekerjaan besar harus dimulai. Asian Games haruslah kita jadikan momentum, bahkan batu loncatan, untuk membangun nation brand Indonesia.

Apa itu nation brand? Intinya adalah adalah citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara.

Citra dan reputasi negara ini bisa dilihat dari enam kualitas yaitu: Export (citra produk nasional yang kompetitif), Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment (ketertarikan investor untuk menanam modal), Culture (kekayaan budaya), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Singkatnya, nation branding bertujuan untuk menarik TTI (trader, tourist, investor) dengan menciptakan citra dan reputasi di enam kualitas di atas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak nation brand Indonesia setelah Asian Games berakhir?

Super Junior di Asian Games 2018

#1. Kampanye Nation Branding
Dalam waktu yang tidak lama setelah Asian Games berakhir, Indonesia harus meluncurkan kampanye nation brand sebagai upaya me-leverage kesuksesan dalam mendapatkan eksposur global yang luar biasa.

INASGOC mengonfirmasi bahwa ada sekitar 11 ribu media lokal maupun global meliput Asian Games 2018. Ini merupakan eksposur luar biasa yang hanya bisa kita perolah melalui event akbar (sport mega-event) seperti Asian Games, Olimpiade, atau Piala Dunia. Momentum inilah yang harus kita perpanjang dengan meluncurkan kampanye nation branding untuk menarik TTI datang ke Tanah Air.

Kita harus banyak belajar dari negara tetangga Australia. Australia me-leverage habis-habisan posisinya sebagai tuan rumah Olimpiade Sidney tahun 2000. Event akbar ini kemudian diikuti dengan berbagai kampanye nation branding: “Life a Different Light” (2004-2006); lanjut “A Uniquely Australian Invitation” (2006-2008); kemudian “Come Walkabout” (2008-2009); dan terakhir “There’s Nothing Like Australia” (2010-sekarang).

#2. Diplomasi Global
Afrika Selatan memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Cina memanfaatkan Olimpiade Beijing 2008 untuk menunjukkan bahwa dengan laju pembangunannya yang supercepat, Cina bakal menyalip Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melalui Asian Games Indonesia juga bisa memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan populasi terbesar keempat, Indonesia juga sedang bertransformasi menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

#3. Visi Olahraga 2032
Dengan bekal kesuksesan menyelenggarakan Asian Games Indonesia harus berani think big dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Olimpiade 2020 bakal diadakan di Tokyo, 2024 di Paris, dan 2028 di Los Angeles. Untuk Olimpiade 2032, kini sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk bidding yaitu Jerman, Australia, dan India. IOC bakal menetapkan pemenangnya pada tahun 2025, jadi masih ada waktu tujuh tahun untuk berbenah diri.

Perlu diingat sejak tahun 2000an, negara-negara maju baru BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah sport mega-event seperti Olimpiade dan Piala Dunia sebagai bentuk diplomasi global untuk mengangkat nation brand mereka masuk dalam “club of elite” negara-negara maju.

Kalau betul Indonesia bisa mewujudkan visi ini, maka nation brand Indonesia akan naik kelas sejajar dengan negara-negara maju dunia. Karena perlu diingat, negara yang mampu menyelenggarakan event-event olahraga besar tersebut hanyalah negara-negara maju.

 

Sumber foto: Okezone.com

Sumber artikel : yuswohady.com

Disrupsi : Apakah Air BnB Mengancam Indutri Hotel ?

Kehadiran AirBnB memberikan warna baru dalam industry perhotelan. Ia memberikan pilihan bagi mereka yang mencari tempat tinggal dengan harga yang terjangkau.

Cara booking hunian di Air BnB ini memang mudah. Bisa dari situsnya atau dari aplikasi ponsel pintar. Tinggal mencari kota yang akan kita singgahi. Kemudian ada saringan seperti harga maksimal per malam, jumlah kamar, hingga ketentuan khusus seperti ada ruang merokok atau tidak.

Pendiri Airbnb bukanlah pemilik properti. Dia hanya jadi perantara untuk sistem sharing economy. Sama saja dengan yang sudah diterapkan di Uber, Grab Bike, atau Gojek. Sebagai perantara, Airbnb memungut upah antara 6 hingga 12 persen dari jumlah yang dibayar tamu, dan 3 persen dari yang diterima tuan rumah.

Secara rata-rata, sekitar 68 persen yang disewakan di Airbnb adalah rumah. Sedangkan kamar privat hanya 30 persen. Sisanya, kurang dari 2 persen adalah kamar untuk ramai-ramai. Ini artinya, “image” Airbnb sudah bergerak lebih maju. Dulu di awal kemunculannya, Airbnb hanya dianggap sebagai Couch Surfing baru. Di mana para pelancong akan menumpang atau menyewa kamar saat berlibur. Namun kini semakin banyak yang menyewa satu rumah.

Ini artinya, mulai ada pergeseran preferensi penginapan. Kini Airbnb sudah bisa berhadap-hadapan dengan hotel. Tanda-tandanya bisa terlihat dari tingkat okupansi dan juga pendapatan Airbnb. Di Kota New York, misalkan. Pada 2010, pendapatan Airbnb hanya 13 juta dolar. Pada 2014 jumlah ini melonjak jadi 319 juta dolar. Tahun lalu, pendapatan Airbnb dari kota Apel Besar ini meningkat jadi 451 juta dolar. New York memang termasuk kota dengan pertumbuhan Airbnb yang paling cepat.

Apakah Air BnB Mengancam Hotel?

Saat ada hal baru, sudah pasti itu akan mengancam sesuatu yang sudah mapan sebelumnya. Dalam hal penginapan, Airbnb sudah pasti akan memengaruhi tingkat okupansi hotel dan industrinya secara keseluruhan.

Sekarang saja, hotel mulai babak belur dengan adanya Airbnb. Menurut lembaga konsultan HVS Consulting & Valuation, industri hotel kehilangan sekitar 450 juta dolar pendapatan langsung setiap tahun gara-gara Airbnb. Antara September 2014 hingga Agustus 2015, ada sekitar 480 ribu kamar hotel yang dipesan. Pemesanan Airbnb di periode yang sama? Sudah mencapai 2,8 juta. Menurut HVS, pada 2018 diperkirakan pemesanan kamar akan mencapai 5 juta.

Masalahnya, hotel adalah industri yang saling terkait dengan industri lain. Pengurangan okupansi hotel, juga akan berdampak berkurangnya pendapatan dari sektor makanan dan minuman yang biasanya disediakan pihak hotel. Sekitar 108 juta dolar pendapatan dari makanan dan minuman (88 juta untuk makanan dan 20 juta untuk minuman) akan hilang karena para pelancong lebih memilih pesan hunian di Airbnb. Belum lagi tips dan berbagai service fee lain.
Airbnb unggul pula perihal ongkos produksi. Semisal angka hunian rendah, pemilik properti juga tidak harus menanggung biaya karyawan. Properti pun bisa disewakan seperti biasa. Properti yang biasanya kosong dan tidak produktif pun kini bisa disewakan dan menghasilkan. Membuat kemungkinan berkembangnya Airbnb sangat terbuka lebar.

Dengan angka pertumbuhan yang cepat, wajar kalau hotel konvensional khawatir. Apalagi menurut CBRE, Airbnb masih akan berjaya dalam masa-masa mendatang. Tentu ini bukan tanpa aral. Airbnb masih bermasalah dengan, antara lain, pencurian barang, pajak, hingga masalah hukum dan perizinan.

Dan lagi, ternyata sewa Airbnb selalu lebih murah ketimbang hotel itu adalah mitos. Sebab menurut CBRE, dari September 2014 hingga September 2015, rata-rata harga sewa kamar Airbnb adalah 148 dolar. Lebih tinggi ketimbang hotel yang rata-ratanya hanya 119 dolar. Harga yang lebih mahal ini karena biasanya properti yang disewakan memiliki fasilitas seperti dapur, mesin cuci, dan juga termasuk sarapan.

Tapi pengaruh Airbnb akan tetap besar, terutama bagi industri hotel. Airbnb paling tidak akan memengaruhi hotel dalam dua hal. Pertama, harga Average Daily Room(ADR) hotel akan turun. Tentu hotel terpaksa menurunkan harga kamar agar tidak kalah saing dengan Airbnb. Hotel juga tidak lagi bisa menaikkan harga seenaknya ketika peak season. Sistem monopoli seperti ini akan berakhir.

Pengaruh kedua akan ada pada pembangunan hotel. Dengan semakin berkembangnya Airbnb, pengusaha akan berpikir ulang untuk membangun hotel baru. Tingkat hunian hotel sekarang sudah mulai terbagi dengan Airbnb. Ditambah dengan semakin kuatnya Airbnb, membangun hotel baru yang butuh model besar tentu bukan pilihan yang bijak.

sumber utama : tirto.co.id

Ketidaktahuan : Waspadalah jika pengetahuan anda sudah “kadaluarsa”.

Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketika kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet/kadaluarsa dan tak relevan lagi, di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

Unlearn

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan.

Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Karena itu di era disrupsi saat ini “unlearning” itu menjadi sangat penting. Untuk adaptif dan cepat merespons datangnya disrupsi, mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Apa konsekuensinya jika kita merasa tak tahu semua? Dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru akibat datangnya disrupsi maka rasa keingintahuan kita akan begitu menyala-nyala.

Keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengeksplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses melewati disrupsi.

So, ketidaktahuan saja tidak cukup, kita juga perlu keingintahuan.

Untuk sukses melewati disrupsi kita harus memiliki dua mindset sekaligus: ketidaktahuan dan keingintahuan.

Ketidaktahuan memungkinkan kita menjadi agile learner. Sementara keingintahuan memungkinkan kita menjadi fast learner.

Agile learner menjadikan kita begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses melewati disrupsi. Sementara fast learner memungkinkan kita super cepat menemukan formula sukses melewati disrupsi.

 

Sumber : yuswohady.com

Lebaran Zaman Now (1)

Pertama tama saya atas nama pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas khilaf dan dosa baik yang disengaja maupun tidak. Semoga Idul Fitri kali ini membawa semangat silaturrahim yang lebih erat lagi diantara sesama umat manusia.

20180615_052154_0001

Ulasan saya kali ini adalah tentang tren yang terjadi selama idul fitri, yang merupakan hasil riset dari Inventure ( Pak Siwo dkk). Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa mudik sudah menjadi budaya dan kekuatan tersendiri bagi pembangunan ekonomi di Indonesia.

Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur lebaran lebih panjang; cairnya THR bagi PNS dan pensiunan; dan beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat. Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama lebaran mencapai Rp 188 triliun, sementara sirkulasi uang melalui remittance/transfer menurut Pos Indonesia mencapai Rp 3-4 triliun. Sebuah angka yang Fantastis !!!

Lantas tren apa saja yang terjadi selama masa lebaran ( puasa & idul fitri) tahun ini ? Mari kita simak bersama :

#1 Lebaran Adalah Liburan
Momen lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Sholat Ied dan halal-bihalal di kampung hanya memakan waktu setengah hari saja. Lantas sisanya diisi apa dong? Liburan dan kulineran. Yes, waktu libur yang cukup panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeskplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata lebaran. Beberapa destinasi favorit seperti Yogyakarta, Malang dan Bali tercatat mengalami peningkatan wisatawan, Yogyakarta mengalami kenaikan wisatawan sebesar 15% ( detik.com), Bali naik 50% (rri.co.id), dan Malang mengalami kenaikan wisatawan sebesar 30% (malangvoice.com).

#2 Lailatul Obral: The Paradox of Consumption
Setiap menjelang lebaran atau sepuluh hari terakhir ramadhan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late night sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Di bulan suci ramadhan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin di saat lebaran. Saat harus i’tikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral”.

#3 Online Late Nite Sale
Selain mal-mal yang menggelar late night sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce menggelar hal serupa. Antrian panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak, jadi wajar saja kalau website ecommerce sempat down. Tokopedia misalnya menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain untuk membangkitkan nafsu belanja…belanja…belanja!!!

#4 Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran
Bulan ramadhan dan momen mudik lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar brand. Daya beli masyarakat yang cukup tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand. Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun posko-posko yang dibuat oleh brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

toped2

#5 Mudik = Pamer Kesuksesan
Momen lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru hehe… Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka untuk membeli smartphone di saat lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana untuk membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

Selamat ya bagi yang udah bsia membeli mobil baru dan handphone baru

#6 Mudik is Expensive… but It’s a Must
Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transportasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji + THR pun seketika ludes… cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan.

#7 Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs
Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka kota yang identik dengan kemacetan, selama lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantong-kantong mudik di berbagai daerah. Di samping itu sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

599898-1000xauto-jakarta-sepi

Salah satu foto yang sempat viral di medsos, yang menggambarkan lengangnya Jakarta.

#8 Syawalan Digital
Keriuhan bermaafan saat lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama buat teman atau kerabat yang jauh. H-1 lebaran ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan lebaran di WA, Facebook atau Twitter. Dan juga banyak ditemui foto foto dengan pose tangan di depan khas bermaaf maafan, baik pribadi, alumni sekolah dan sebagainya. Nah satu lagi yang mungkin akan nyesek bagi para jomblo, yakni ucapan idul fitri yang ujung kalimatnya ada tulisan….. dan … ( pasangan). Semoga anda yang jomblo segera mendapat jodoh ya guys, yang sholeh/sholihah yang bisa diajak foto bersama lebaran tahun depan.

#9 Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”

Ketertarikan masyarakat akan segala hal berbau digital tampaknya tidak diragukan lagi, termasuk dalam penghimpunan zakat. Membayar zakat kini semakin techy. Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Basnaz juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman. Tahun 2016 jumlah pembayar zakat berbasis digital tercatat sebesar 1%, tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai 12% dan di tahun 2018 ini mengalami kenaikan lagi sebesar 18%.

#10 Lebaran = Fashion War
Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah bawah juga menunggangi tren baju lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

Sementara cukup sekian ulasan dari saya, semoga bermanfaat untuk anda semua.

Menakar Potensi Pasar Muslim di Indonesia : Tren Muslim Zaman Now

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat sebagaimana yang saya temukan di buku yang ditulis Oleh Pak Siwo ( Yuswohady) yang berjudul Marketing to the Middle-Class Muslim dan #GenM ( Generasi Muslim). Persis seperti yang ditulis pada dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Pada bulan Ramadhan kali ini Pak Siwo lagi lagi memunculkan hasil riset terbarunya terkait dengan pasar muslim di Indonesia. Nah untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now, berikut 10 tren perilaku konsumen muslim di Indonesia :

#1. Halal of Things: The Hot Label
Di dunia digital selama ini kita mengenal istilah “Internet of Things” (IoT). Artinya, semua peralatan apapun (TV, lemari es, mobil, hingga wearable devices) nantinya akan membentuk jejaring internet yang terkoneksi satu sama lain. Dengan menggunakan analogi yang sama saya punya istilah baru “Halal of Things” (HoT) yaitu fenomena dimana seluruh produk (terutama yang terkait makanan) akan diberi label halal.

Lemari Es Halal Pertama

Labelisasi halal ini akan berlangsung begitu masif menjelang dan setelah tahun 2019 karena memang UU Jaminan Produk Halal (UU No. 33 Tahun 2014) akan diterapkan di tahun tersebut. Label halal akan menjadi “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen muslim zaman now.

#2. Riding the Conversations
Dengan munculnya fenomena Halal of Things, pemilik brand non-makanan/minuman seperti lemari es, panci, hijab, tisue, lingerie, hingga pembalut wanita, berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Tujuannya untuk menciptakan percakapan: word of mouth dan viral di media sosial yang ujung-ujungnya melesatkan awareness produk. Mereka mencuri perhatian muslim zaman now. Tapi ingat, langkah berani ini bukannya tak membawa risiko, karena bisa menimbulkan kontroversi yang membahayakan brand: “high return, high risk… even high loss!”

#3. Hijrah: The New Way of Life
Hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi mereka, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan kerudung. Mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam . Misalnya, rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya mereka yang bekerja di bank konvensional, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba). Fenomena hijrah ini banyak didorong oleh para selebritas baik dari bintang film, pemain sinetron, hingga penyanyi.

Hijarah - Tidak Bekerja di Bank Konvensional

#4. The Rise of Riba Awareness
Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan muslim zaman now, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech. Go-Pay yang sempat dianggap riba, kini mulai ancang-ancang meluncurkan produk Go-Pay syariah ( Note : beberapa waktu lalu Go Jek sempat melakukan jajak pendapat tentang hal ini).

Kick RIba#5. Umat-nomic: The New Movements
Tahun kemarin saya mengikuti beberapa workshop yang bertemakan “Keuatan Ekonomi Umat”, dan saya sendiri sempat berdiskusi langsung dengan teman teman dari NU dan Muhammadiyah perihal potensi ekonomi umat ini, karena bagi saya dua organisasi islam ini bisa menjadi motor sekaligus akselerator untuk pemberdayaan ekonomi umat.  Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety & desire muslim zaman now. Mereka muncul dengan mengedepankan konsep syariah. Yang di maksud Umat-nomic adalah gerakan ekonomi umat yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Muslim zaman now menyukai geliat gerakan ini karena konsep ekonomi yang dikembangkannya mengacu kepada ajaran Islam dan dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan profesional.

212 Mart

Umat-nomic hadir sebagai alternatif bagi sistem ekonomi kapitalistik yang bersifat menghisap dan menghasilkan ketimpangan kaya-miskin. Contohnya adalah 212 Mart, perusahaan jaringan gerai ritel, yang dikelola dengan sistem baru yang sangat Islami yaitu: amanah (dapat dipercaya), jamaah (bersam-sama/koperasi), dan izzah (kemuliaan). Contoh lain, Bank Wakaf mikro dirancang untuk membantu kelompok segmen bawah-menengah dengan akad yang menguntungkan nasabah.

#6. Soleh-Smart Kids: The New Paradigm of Parenting
Di kalangan mamah-mamah muda muslim zaman now kini muncul pergeseran mindset dan perilaku dimana mereka lebih memilih dan menyukai pendidikan berbasis Islam. Mereka tak hanya menginginkan anak-anak mereka pintar di bidang matematika, fisika, atau mahir berbahasa Inggris, tapi juga ingin anaknya memiliki nilai-nilai dan karakter Islam yang mulia.

Fenomena yang lagi happening saat ini adalah kemunculan SD Islam Terpadu (SD-IT) yang justru lebih diminati dibanding SD-SD biasa. Di berbagai kota besar/menengah di Tanah Air kini banyak bermunculan sekolah-sekolah (TK-SD-SMP-SMA) berkelas global yang menggabungkan sains dengan pendidikan karakter Islam. Sekolah-sekolah ini sangat diminati oleh orang tua muslim walaupun biayanya selangit .

Mungkin ini adalah bentuk kesadaran mamah mamah dan papah papah muda bahwa menanamkan pendidikan Moral dan spiritual adalah bagian penting dari mempersiapkan anak anak mereka, agar kedepan bisa menjawab tantangan jaman yang ada, yang semakin kompleks dan terbuka ( pengaruh narkoba, kenakalan remaja dll) khususnya di Kota Kota besar.

#7. Lei-Sharia: Muslim-Friendly Leisure
Muslim zaman now adalah juga experience-seeker yang hobi banget melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang saya sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip sharia-friendly. Banyuwangi misalnya mulai memperkenalkan wisata pantai syariah. Kolam renang hotel syariah kini mulai tidak lagi mencampur antara tamu pria dan wanita.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal trip. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, dan lainnya.

Untuk Indonesia, jika kita berbicara tentang daya saing  pariwisata halal (halal tourism) memang masih kalah dengan Malaysia, Singapura, ataupun Thailand. Kontribusi terhadap PDB hanya sekitar 9,6% dan menyumbang devisa sebesar US$ 11,9 miliar, begitu juga peringkat kita di Global Muslim Travel Index (GMTI), masih di bawah Malaysia yang menduduki peringkat 1. Jumlah wisman muslim yang ke Indonesia pada tahun 2015 hanya 2,2 juta.

Namun seiring dengan tren tingginya wisata syariah ini, kita patut berbangga. Pertumbuhan wisatawan muslim di Indonesia diprediksi mencapai 9,1% per tahun, lebih tinggi daripada rata rata global yang hanya 6.3% per tahun, dan pemerintah mentarget 5jt wisatawan muslim Indonesia pada 2019.

Lei-Sharia

#8. Mipster: The New Role Model
Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan bahkan terkenal. Sosok muslim kekinian ini sering disebut “Mipster” atau Muslim Hipster. Mereka adalah sosok muslim zaman now yang memiliki mindset global, toleran, inklusif, digital-savvy, tapi juga tetap soleh dan religius. So, seimbang antara “faith” dan “fun” (2F).

Di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran dengan penampilan yang sangat stylish. Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di media sosial seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana.

Muzamil Hasballah

#9. Sportyjab: The New Hype
Gaya hidup sehat kini semakin menjadi pilihan bagi muslim zaman now. Berolah raga sambil narsis telah menjadi “kewajiban”. Bagi muslimah zaman now, menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab tak serta-merta membatasi aktivitas berolah raga dan aktivitas produktif lainnya. Mereka tetap jogging, nge-gym, zumba, atau berenang mengenakan hijab yang sporty. Yup, sehat dapat, syar’i pun dapat.

Melihat tren ini, Nike sampai mengembangkan lini brand baru untuk hijabers: Pro Hijab. Produk tersebut diperuntukkan bagi hijabers yang aktif berolahraga tapi tetap ingin stylish dengan hijabnya. Tak hanya Nike, brand lokal seperti Specs dan Sporte justru sudah lebih dulu mengeluarkan lini produk yang sama. Sportyjab… the new hype!

SportyJab

#10. Muslizen: the New Digital Lifestyle
Perkembangan dunia digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak bisa lepas dari gaya hidup digital. Hidup mereka sudah tergantung kepada media sosial, apps, wearable device, dan sejenisnya.

Aktivitas kehidupan sehari-hari mereka pun mulai beralih ke digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintech, travelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial seperti: HalalTrip (berlibur), Muslimarket (belanja), IndVes (berinvestasi), Kitabisa.com (sodaqoh), rumah ta’aruf, Paytren dan sebagainya. Termasuk bagi anda pelaku UKM yang butuh tambahan modal ada start up Peer To Peer Lending berbasis syariah yakni investree (investree.id) yang pada awal 2018 kemarin telah berhasil menyalurkan dana sebesar 2,7 Milyar Rupiah.

Mengacu pada beberapa tren di atas, tentunya kita juga harus menyiapkan strategi agar pasar muslim yang sangat potensial ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan bisnis yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selamat memikirkan strategi terbaik untuk meningkatkan bisnis anda.

 

sumber utama tulisan ini adalah yuswohady.com

Tren E-Commerce 2018 yang Perlu Kita Ketahui Untuk Mendongkrak Penjualan

28783960 - indonesia high resolution e-commerce concept

Tahun 2017 menjadi tahun yang penuh dengan gejolak dalam perkembangan e-commerce Indonesia. Mulai dari masuknya investasi Alibaba melalui Lazada dan Tokopedia, meroketnya pertumbuhan pemain baru Shopee dalam memenangkan pasar mobile, dan jumlah transaksi Harbolnas 2017 yang mencapai Rp 4 triliun selama tiga hari.

Momen bombastis yang terjadi di tahun lalu tampak menunjukkan geliat perdagangan online yang semakin panas di Bumi Pertiwi. Tentu gairah ini tidak akan turun begitu saja pada tahun 2018. Justru industri e-commerce bakal semakin menarik berkat hadirnya pemain yang kian kompetitif.

Perkembangan e-commerce seolah sudah tidak terbendung. Semua pemain berlomba-lomba untuk mengambil kue pasar. Tidak heran bila pasar Indonesia begitu menggiurkan. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan bahwa pengguna internet yang berbelanja online di Indonesia mencetak nilai transaksi sebesar Rp 75 triliun sepanjang tahun 2017.

Angka yang fantastis ini berasal dari 24,7 juta konsumen. Padahal, APJII merilis temuan bahwa angka pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta jiwa pada tahun 2017. Betapa besarnya potensi perdagangan online di Indonesia yang bisa diperebutkan peritel online.

Meskipun begitu, memenangkan pasar Indonesia tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Masih banyak tantangan yang masih harus dihadapi oleh pelaku e-commerce sampai saat ini. Mulai dari akses dan kecepatan internet, masalah geografis dan tipografis, hingga metode pembayaran.

Baru-baru ini, situs agregator perbandingan harga e-commerce iPrice meluncurkan riset pertamanya dengan mengumpulkan data lebih dari seribu e-commerce di Asia Tenggara dalam periode Juli 2016 hingga Juni 2017. Riset tersebut berisi temuan-temuan menarik terkait perilaku konsumen Indonesia dalam berbelanja online.

Salah satu temuannya yaitu penggunaan smartphone yang semakin bertambah tiap tahunnya ternyata sejalan dengan peningkatkan trafik mobile terhadap situs toko online. Hal ini ditandai dengan peningkatan kunjungan mobile dengan rata-rata sebesar 19% di Asia Tenggara dalam kurun 12 bulan.

Sementara sampel e-commerce yang beroperasi di Indonesia menunjukkan data bahwa 87% trafik kunjungan mereka berasal dari penggunaan mobile. Temuan ini menunjukkan bahwa mobile menjadi potensi besar dalam meningkatkan kunjungan atau trafik yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilakukan oleh para pemain e-commerce dengan menginvestasikan pengembangan situsnya agar lebih mobile-friendly.

Kendati jumlah trafik dari mobile menyumbang rata-rata 87% dari total trafik, akan tetapi konsumen masih lebih suka melakukan transaksi melalui desktop. Inilah uniknya perilaku konsumen Indonesia dan juga negara-negara berkembang lainnya di Asia Tenggara.

Terdapat istilah conversion rate, yang merujuk pada kunjungan yang berujung pada pembelian. Riset menunjukkan conversion rate kunjungan desktop menembus 200% lebih tinggi dibandingkan conversion rate dari kunjungan mobile. 

Andrew Prasatya, Content Marketing Lead iPrice mengatakan, data tersebut menunjukkan perilaku umum konsumen online Indonesia, yakni melihat-lihat barang melalui mobile atau aplikasi, namun baru belanja lewat komputer atau laptop. “Konsumen lebih suka bertransaksi melalui desktop karena dinilai lebih nyaman, mudah, dan terpercaya,” terang dia.

Layar lebar desktop memang menawarkan ruang yang lebih luas, dapat melihat semua fitur dalam sekali pandang, dan lebih mudah memilih produk yang diinginkan. Hal inilah yang mungkin belum bisa ditawarkan oleh layar mobile yang memiliki keterbatasan ruang untuk menampilkan fitur sebuah situs.

Meski jumlah trafik mobile tidak serta-merta memiliki conversion rate yang tinggi, hal ini juga bisa menjadi referensi kebijakan para pelaku e-commerce. Misalnya, bagi pemain yang baru berkecimpung dalam perdagangan online, mungkin ada baiknya bila fokus para peningkatan trafik terlebih dahulu dengan mengembangkan kualitas situs mobile.

 

Sumber : marketeers.com

Menyiapkan Diri Menyambut Industry 4.0

industry-40-1-638

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu. Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi untuk menghadapi Era Industri 4.0 ini.

#1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

#2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Tapi disisi lain industri 4.0 telah melahirkan para pelaku start up yang menjadi ujung tombak inklusif ekonomi, banyak start up berbasis P2P lending yang telah berhasil menopang sisi finansial UMKM yang selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas pembiayaan dari perbankan, dengan semakin mudahnya akses keuangan yang difasilitasi oleh P2P Lending tersebut diharapkan UMKM  bisa terus meningkatkan bisnisnya. Munculnya market place barang barang khusus telah berhasil mengangkat derajat industri kreatif, start up Qlapa, Du’anyam dan masih banyak lainnya telah mempu mengingkatkan added value produk yang dihasilkan oleh masyarakat bawah ( UMKM) khususnya kerajinan tangan. Start up bidang pertanian telah berhasil memutus mata rantai distribusi sehingga tercipta perdagangan yang lebih fair dari produsen ( petani) ke konsumen.

#3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.
* Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
* Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
* Driverless car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
* Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
* Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Tapi kita tidak perlu khawatir berlebihan, dulu ketika transportasi online hadir di tengah tengah kita, banyak yang berpikir bahwa akan banyak supir yang menjadi pengangguran, tapi apakah hal itu terjadi ? jawabannya adalah tidak, justru dengan adanya transportasi berbasis online mampu menyerap lebih banyak driver, dan meningkatkan bisnis UKM khususnya makanan melalui hadirnya Go Food. Ingat Henry Ford ? berapa banyak orang yang awalnya ketakutan ketika Ford memproduksi mobil, yang terbayang dalam benak mereka dalah para supir delman akan menganggur ? tapi justru dengan dibukanya pabrik mobil oleh Ford, banyak orang yang kemudian diserap dalam proses produksi mobil.

Prerequisite: “Agile Government”
Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “agile government”.

Agile government menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

So mari kita berkolaborasi untuk mengahadapi peralihan industri 4.0 ini, agar visi mulia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pelan tapi pasti akan menjadi kenyataan.

Materi inti diambil dari tulisan Pak Siwo ( Yuswohady.com) dengan judul ” Tantangan Revolusi Industri 4.0″ , yang kemudian disertai beberapa argumen pribadi saya.

Apa yang Diinginkan Pelanggan dari Industri Ritel Selama Ramadan?

Saler

Hiii, pembaca setia kawanpendi, tak terasa ya seminggu lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Secara pendekatan rasional, harusnya kita akan menurun konsumsinya ketika bulan Ramdhan, mengingat harusnya kita hanya makan 2 kali saja yakni saat sahur dan berbuka. Tapi apakah faktanya demikian ? anda pasti punya argumen sendiri.

Pada Bulan Ramadhan sering kali kita jumpai sale/big sale dimana mana, banyak penjual yang ngasih diskon besar besaran agar produk mereka laku keras selama Ramadhan. Di Stasiun TV pun kita akan menjumpai Iklan yang relatif lebih banyak dibanding hari biasa.Sehingga tak terasa membuat kita juga terlena untuk membeli produk produk yang ada.

April lalu, ecommerceIQ melakukan penelitian tentang apa yang masyarakat Indonesia cari sepanjang Ramadan dan juga perilaku belanja mereka sebelum, saat dan setelah Ramadan usai. Berikut adalah hasil penelitian ecommerceIQ dan kira-kira situs ecommerce mana yang menjadi pilihan orang Indonesia.

Hal terpenting tentang Ramadan dalam ritel

Setahun sekali, sekitar 2 miliar umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Tahun Ini Ramadan akan berlangsung pada pertengahan Mei dan berakhir pada pertengahan Juni (perkiraan: 16 Mei – 15 Juni 2018).

Di Asia Tenggara, khususnya di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Malaysia dan Indonesia, keluarga yang tinggal jauh kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idul Fitri bersama setelah sebulan penuh berpuasa. Selain berpuasa setiap hari dari subuh hingga matahari terbenam, ada perilaku lain yang telah membangunkan peritel dan pemain ecommerce serupa.

Idul Fitri merupakan perayaan besar setelah sebulan penuh berpuasa yang mirip sekali dengan budaya Natal di Barat. Apa yang biasanya diasosiasikan dengan hari libur ini? Pemberian hadiah, pakaian baru dan kemeriahan.

Bulan yang baik untuk berkumpul dengan keluarga yang kita sayang ini, merupakan salah satu event shopping terbesar dalam industri ritel – seperti halnya Black Friday dan Cyber Monday di Amerika Utara. Saat yang baik untuk mengamati daya beli penganut muslim.

Profil pembeli di bulan Ramadan

Terlepas dari preferensi belanja online dan offline, mayoritas orang Indonesia akan menghabiskan uang lebih banyak di bulan Ramadan.

Berdasarkan hasil survei ecommerceIQ, rata-rata pembeli di bulan Ramadan adalah perempuan, berumur antara 31 – 40 tahun dengan barang yang biasa dibeli adalah produk fashion dan kebutuhan sehari-hari.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaTHR (Tunjangan Hari Raya) menjadi alasan mengapa pengeluaran menjadi lebih besar di bulan Ramadan. Para pekerja mendapatkan satu bulan gaji tambahan untuk merayakan kemeriahan lebaran bersama keluarga. Tidak mengherankan, semakin banyak penghasilan yang dihasilkan, semakin banyak yang akan mereka belanjakan selama Ramadan.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaHal yang penting dicatat adalah hitungan rumah tangga kelas menengah di Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 23,9 juta dalam 12 tahun mendatang dari 19,6 juta pada 2016Negara ini telah memiliki jumlah kelas menengah terbesar keempat dalam skala global.

Kelas menengah yang berkembang, berarti munculnya karakteristik kelas menengah – lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan, liburan, dan hadiah untuk keluarga. Inilah sebabnya mengapa perusahaan menghabiskan banyak uang untuk membangun kredibilitas sejak awal sebagai brand yang dapat diandalkan dan yang dapat memengaruhi perilaku generasi mendatang. Ini juga yang menjadikan nusantara sebagai pasar yang menarik dan menjanjikan.

Puncak belanja selama Ramadan

Mengingat semakin populernya ecommerce di seluruh wilayah yang mengutamakan mobile first (kecenderungan untuk selalu mengandalkan smartphone), tren apa yang dapat kita identifikasi dalam perilaku pembelian online selama Ramadan seperti perangkat apa yang mereka gunakan untuk belanja dan pada jam berapa?

Begitu matahari terbenam, pengeluaran dimulai. Data dari Ramadan aCommerce pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penelusuran seluler di situs ecommerce mencapai puncaknya pada pukul 04.00 dan 17.00 ketika orang-orang duduk di kemacetan.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaMeskipun rata-rata panjang sesi web lebih panjang di desktop, ada lebih banyak lalu lintas yang berasal dari handphone selama Ramadan membuat mobile UX yang menarik penting untuk mendorong konversi.

Data juga menunjukkan bahwa pria cenderung menjelajah lebih dari wanita, tetapi wanita memiliki rasio konversi yang lebih tinggi. Meskipun para marketing harus menyesuaikan kampanye yang menarik bagi keduanya, mengonversi pria bisa menjadi sedikit lebih sulit.

Pria cenderung mengapresiasi belanja online yang tanpa basa basi dan sederhanakeinginan konsumen Industri Ritel Indonesia dibandingkan pengalaman sosial dan komprehensif. Mereka juga membeli berdasarkan langkah-langkah logis (versus emosional) dan suka melakukan riset sebelum membeli, yang dapat menjelaskan peningkatan aktivitas browsing.

Menjangkau para Ramadan shopper

Berdasarkan survei, channel online terpopuler untuk shopping selama Ramadan adalah Shopee dan Lazada.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaMeskipun para top player telah beralih dari pertanyaan apakah mereka harus memiliki kehadiran online resmi, memiliki shop-in-shop saja tidak cukup mengingat jumlah penjual yang tersedia.

Pertanyaan yang para Brand Manager perlu tanyakan kepada diri mereka sendiri adalah: seberapa baik peringkat produk saya dalam pencarian? Bagaimana pricing strategy yang harus saya lakukan? Bagaimana ulasan produk saya? Seberapa menarik brand presence saya? Seberapa cepat pengiriman barang?

Konsumen di Indonesia berbagi tiga alasan utama yang meyakinkan mereka untuk berbelanja online lebih sering.

  1. Promosi Spesial Ramadan untuk produk yang mereka butuhkan seperti makanan dan fashion.
  2. Opsi pembayaran cash on delivery
  3. Same day delivery tanpa biaya tambahan

Situs yang tidak menampilkan item berharga lebih rendah akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan klik konversi. Orang Indonesia sadar harga dan bahkan dengan THR yang mereka dapatkan, penghematan adalah faktor utama dalam perilaku konsumsi.

Sah-sah saja sebenarnya mencantumkan harga beberapa harga normal dan mencampurnya dengan harga diskon di homepage, harga barang yang lebih rendah harus dibawa ke garis terdepan. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan inventaris.

keinginan konsumen Industri Ritel IndonesiaLogistik dan pembayaran tetap menjadi tantangan terberat saat ini bagi para pemain ecommerce di Indonesia, karena infrasuktruktur yang belum memadai dan kurangnya pengetahuan mengenai keuangan. Kebanyakan perusahaan pada umumnya mengambil langkah untuk outsource dalam memecahkan dua masalah tersebut untuk pengalaman berbelanja yang lebih efisien.

So, apakah anda sudah menyiapkan strategi untuk menarik para pembeli lebih banyak di Bulan Ramadhan ini ?

Selamat menyambut bulan Ramdhan bagi Anda semua.

 

Sumber ; marketing.co.id

Enam Fenomena Yang Mewarnai Kehidupan Generation Now

6-Fenomena

Tanpa mengenal generasi, teknologi memang telah mengubah segalanya. Baik Gen X, Y atau Z, mayoritas sudah terkoneksi dengan internet. Teknologi menjadi makanan sehari-hari, mulai dari bangun tidur, di kantor, kongkow, hingga pengantar tidur.

Lantas apa saja fenomena yang mewarnai Generation Now ini? MarkPlus, Inc. melihat ada enam hal yang hidup berdampingan dengan Generation Now. Pertama, WWW. Ini merupakan singkatan dari whatever, wherever, whenever. Teknologi membuat segalanya menjadi instan dan cepat. Mau apa pun, di mana pun, hingga kapan pun, bisa dihadirkan sekarang juga.

Kedua, FOMO atau fear of missing out. Saat ini, Generation Now sangat takut ketinggalan sesuatu. Mulai dari tren fesyen, restoran, ngopi, liburan, dan lainnya. Bahkan, ada beberapa yang menjadi ‘super kepo’ (knowing every particular objects) alias kepengen tahu. Mereka rela stalking kawan, sahabat, artis idamannya agar tidak ketinggalan apa yang sedang happening saat ini.

Ketiga, YOLO alias you only live once. Istilah ini dimunculkan oleh rapper asal Kanada, Drake. Untungnya, hal ini tidak menjalar ke semua generasi. Itu adalah prinsip bahwa hidup hanya sekali sehingga kita harus mencoba hal-hal baru. Sehingga, muncul istilah lebih baik menikmati hal yang seru ketimbang memiliki sesuatu yang keren. Ketimbang membeli mobil atau rumah, kenapa kita tidak berpelesir keliling dunia?

Keempat, Phygital. Ini merupakan gabungan dari physical dan digital. Ini merupakan aktivitas yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, namun kerap tidak kita sadari. Misalnya dalam sebuah konser, ada sebagian orang yang bukan menikmati serunya musik, melainkan sibuk membuat video. Padahal tujuan mereka menghadiri sebuah konser –seharusnya- untuk menikmati musik. Tapi going online dan menunjukkan eksistensi terkadang lebih penting ketimbang alunan musik sang idola.

Kelima, XAAS atau singkatan dari everything (x) as a service. Ini merupakan fenomena bahwa dunia tidak lagi harus memiliki aset untuk menjadi besar. Sebut saja Go-Jek dan AirBnB yang tidak memiliki mobil, motor atau hotel, namun bisa menjadi perusahaan transportasi dan jaringan hotel terbesar.

Keenam, B2ME atau business to me. Di sini, customization dan personalization menjadi hal yang krusial. Ketika bisa menghadirkan personalisasi, maka merek bakal bisa mencuri perhatian para konsumen di tengah serbuan brand.

Keenam fenomena ini hadir dan berdampingan dengan ketiga generasi yang ada, baik X, Y dan Z. Ada yang cepat, tanggap dan mudah terpengaruh, namun ada pula yang tidak bergeming dan memegang komitmen. Ada yang terpancing secara emosional, namun ada pula yang masih bisa berpikir secara rasional.

Sumber : marketeers.com