Konsumsi Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Investasi Startup Asia

Investment-Landscape-in-Asia-TIA-Conference-Featured

Jumlah kelas menengah yang terus mengalami peningkatan menjadi penggerak utama investasi startup di Asia. Gejala tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Vietnam.

Data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan, populasi dunia akan tumbuh hingga 8,2 miliar jiwa pada 2030 nanti, di mana Cina dan India akan menjadi rumah bagi sekitar 66 persen kelas menengah global.

Beberapa ahli memproyeksikan, negara-negara di Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan kelas menengah hingga lebih dari 500 persen hingga 2030, jauh melampaui pertumbuhan kelas menengah di Eropa dan Amerika yang masing-masing hanya 2 dan 5 persen.

Pada 2011, jumlah kelas menengah di Asia telah mencakup seluruh populasi penduduk di Eropa. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,5 miliar kelas menengah di Asia yang menginginkan standar lebih tinggi pada kebutuhan hidupnya, seperti untuk makanan, pariwisata, pendidikan, kesehatan, barang mewah, hingga properti.

Perspektif dari tiga partner perusahaan modal ventura

Kuo-Yi Lim selaku Managing Partner Monk’s Hill Ventures menyatakan populasi kelas menengah menjadi kekuatan ekonomi tersendiri di Asia Tenggara. Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya model bisnis yang bagus bagi startup untuk dapat bertahan di tengah persaingan. Menurutnya, salah satu tanda sebuah startup memiliki model bisnis yang baik adalah menawarkan produk atau layanan yang menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat.

“Indonesia adalah salah satu contoh sukses investasi yang berkembang. Saat ini juga ada peningkatan energi dan aktivitas wirausaha di Vietnam.  Di luar dua negara itu, pasar Asia Tenggara sebenarnya tak terlalu besar,” ujar Lim.

Monk Hill’s Ventures adalah perusahaan modal ventura yang berinvestasi di tahap awal, khususnya post-seed pada startup teknologi di Asia Tenggara. Sejumlah startup yang ada di portfolionya antara lain CekAjaGlintsKulinaWaresix, dan masih banyak lainnya.

read also

Founding Partner Golden Gate Ventures Vinnie Lauria menyatakan, pertambahan populasi kelas menengah mengakibatkan peningkatan konsumsi per kapita. Ia menilai Peningkatan daya beli menjadi salah satu momentum baik bagi startup untuk memasarkan usaha masing-masing.

“Selama lima hingga enam tahun terakhir, negara di Asia juga mengalami perkembangan internet yang cukup pesat. E-commerce mengambil peran yang cukup besar di kawasan ini, tetapi baru menjangkau tiga persen dari total transaksi retail,” ungkap Lauria. “Masih banyak potensi yang bisa kembangkan.”

Lauria menambahkan, biasanya sebuah startup membutuhkan waktu setidaknya 8-10 tahun untuk mencapai kesuksesan. Lokalisasi juga memainkan peranan penting bagi perusahaan teknologi dalam memasarkan produk masing-masing.

Ia menilai penawaran saham ke publik (IPO) belum jadi strategi exit yang populer di antara para pendiri perusahaan teknologi di Asia, khususnya Asia Tenggara. Meski demikian, aksi korporasi seperti akuisisi startup lain yang lebih kecil untuk bergabung ke dalam ekosistem berjalan cukup agresif. Lauria menyebut Gojek sebagai salah satu perusahaan yang aktif mencaplok perusahaan lain untuk meningkatkan valuasi bisnisnya.

East Ventures Founder

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menyatakan iklim investasi startup di Indonesia saat ini cukup stabil. Selain memiliki kelas menengah yang cukup besar dan cenderung mudah untuk diakusisi, dukungan besar dari pemerintah terhadap ekonomi digital juga memainkan peran tersendiri.

“Valuasi startup terus meningkat. Hal ini berarti adanya pasokan yang lebih banyak dari permintaan sehingga valuasi meningkat. Pada akhirnya kami tidak hanya berinvestasi, tetapi juga memantau peningkatan valuasi startup,” ungkapnya.

Cuaca menambahkan, pada 2017 lalu analisis internal perusahaannya menunjukkan sebanyak 70 persen pendanaan Seri A bagi startup di Indonesia mengalir dari East Ventures. Membaca data tersebut, pihaknya lalu membentuk dana kelolaan baru bernama EV Growth yang merupakan prusahaan patungan antara East Ventures, SMDV, dan YJ Capital Inc untuk merespons kebutuhan pendanaan di tingkat pertumbuhan, dengan putaran pendanaan pertama senilai Rp2,9 triliun.

Jumlah kesepakatan meningkat, tapi nominal turun

Capital Invested in SEA | Chart

Laporan bertajuk Southeast Asia Tech Investment H1-2019 yang dipublikasikan Cento Ventures menyatakan tren pendanaan perusahaan rintisan, baik di regional Asia Tenggara maupun Indonesia, pada paruh pertama tahun ini sama-sama mengalami penurunan dari tahun lalu.

Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar (sekitar Rp85 triliun) sepanjang paruh pertama 2019, menurun 27 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar (Rp117 triliun). Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta (Rp9,6 triliun), anjlok dari semester pertama tahun lalu yang mencapai US$4 miliar (Rp56 triliun).

Dalam laporannya, Cento Ventures menyebut Indonesia dan Singapura masih menyerap mayoritas investasi perusahaan rintisan yang ada di Asia Tenggara, diikuti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina yang mengalami peningkatan.

 

Sumber Techinasia

5 Kota Paling Aktif Melahap Bisnis Online di Indonesia, Mana Saja ?

detalase

Jumlah online shopper di Indonesia terus meningkat selama 3 tahun terakhir. Di tahun 2018 jumlah online shopper diperkirakan mencapai 11.9 persen dari jumlah populasi di Indonesia.

Menurut Olivia Adinda Putri, PR & Communications Manager CupoNation, pada 2017 dan 2018, pendapatan pasar ecommerce terbesar di kontribusikan oleh fashion, toy hobby & DIY, dan Furniture Appliances. Perkembangan bisnis ecommerce di Indonesia terbilang bagus, dimana, tercatat jumlah online shopper terus meningkat selama 3 tahun terakhir.

Portal diskon tanah air CupoNation menganalisa tentang beberapa perkembangan ecommerce di indonesia dan sektor apa saja yang paling banyak memberikan kontribusi pada total pendapatan pasar ecommerce Indonesia di tahun 2017 dan 2018.

Dari persentase yang didapat dengan membagikan jumlah populasi dan jumlah online shopper di Indonesia dari tahun 2016-2018, maka diketahui jumlah online shopper terus mengalami peningkatan selama 3 tahun berturut-turut.

Dimana pada tahun 2016, jumlah pembeli online mencapai 9.6% dari jumlah populasi dan mengalami peningkatan hingga 10.7% di tahun 2017. Di tahun 2018, angka persentase kembali meningkat dan diperkirakan akan mencapai 11.9% dari jumlah populasi di Indonesia.

Jika dilihat dari data statistik ada 5 sektor yang memberikan kontribusi paling besar pada jumlah pendapatan pasar ecommerce di Indonesia setiap tahunnya. Dimana, selama 2 tahun berturut-turut yaitu 2017 -2018 jumlah pendapatan pasar ecommerce terbesar di kontribusikan oleh Fashion, Toy Hobby & DIY, dan Furniture Appliances;

Meskipun pendapatan pasar ecommerce di Indonesia terlihat stabil di 3 tahun terakhir dengan total pendapatan mencapai US$6,1 Miliar (2016), US$7,5 Miliar (2017) dan US$ 9,1 Miliar (2018). Namun persentase pertumbuhan mengalami sedikit penurunan pada tahun 2018 hingga 1.3% jika dibandingkan dengan tahun 2017. Penurunan ini disebabkan oleh sektor Toys, Hobby & DIY.

Meskipun jumlah pendapatan untuk sektor Toys, Hobby & DIY berkembang sampai dengan US$445 Juta, namun laju pertumbuhan untuk kategori ini mengalami penurunan yang signifikan hingga 4.61% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Diantara kategori yang mengalami penurunan seperti Fashion (0.75%), dan Food & Personnal Care (0.70%). Masih ada beberapa kategori yang memiliki potensi untuk berkembang seperti Electronics & Media dengan laju pertumbuhan 0.14% dan Furniture & Appliances dengan pertumbuhan yang stabil (0.01%) selama dua tahun terakhir.

Berdasarkan jumlah populasi di setiap kota Indonesia yang diperoleh dari Indexmundi, maka diperoleh 5 daerah di Indonesia dengan populasi terbanyak dan pebelanja online teraktif yang jika diurutkan adalah:

1. DKI Jakarta (4%)
2, Surabaya (1.1%)
3. Medan (1%)
4. Bandung (0.9%)
5. Semarang (0.6%)

5 daerah yang paling banyak memberikan kontribusi pada jumlah pendapatan pasar ecommerce di Indonesia adalah DKI Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Semarang.

Selain itu dari hasil laporan priceza sebuah yang juga pelaku marketplace di Indonesia menunjukkan catatan menarik terkait bisnis online di Indonesia yakni :

Selama 3 tahun berturut-turut, komposisi nama kota yang menjadi sumber utama kunjungan tidak berubah sama sekali. Mereka adalah Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.

Komposisi ini pun menduduki peringkat yang nyaris selalu konsisten sesuai urutan tersebut. Ada sedikit pengecualian di tahun 2016, Ketika Bandung berhasil menggeser Medan di peringkat ketiga, namun dengan selisih yang begitu tipis.

Terakhir, menarik untuk dicermati bahwa urutan kota-kota ini pun mencerminkan peringkat dalam hal populasi. Inilah lima kota terbesar di Indonesia dalam hal populasi, yang juga seragam dengan urutannya dalam hal kota dengan pembelanja online terbanyak.

Sebagai tambahan, menarik untuk dicermati bahwa ada tren kenaikan dari kelima kota tersebut dari tahun ke tahun. Di 2015, kota-kota tersebut berkontribusi tidak sampai 50% dari total kunjungan. Sedangkan di tahun 2017 kondisinya berubah drastis, di mana 80% lebih kunjungan berasal dari kota terbesar di Indonesia.

Diolah dari sumber :

Toppreneur.id; tribunbanjarmasin.

Riset Google : Ekonomi Digital Indonesia Capai $40 Miliar, Bisnis E-commerce Beri Sumbangsih Terbesar

Ekonomi-Digital-Untuk-Indonesia-Lebih-Sejahtera

Google dan Temasek kembali merilis laporan tahunannya menyorot perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara. Bertajuk e-Conomy SEA 2019, ada beberapa hal menarik disorot dalam laporan. Sejak tahun 2015 tercatat pertumbuhan jumlah pengguna internet mencapai 100 juta orang –penambahan satu tahun terakhir mencapai 10 juta. Untuk tahun 2019 jumlah pengguna internet di Asia Tenggara mencapai 360 juta orang. Pengguna baru hadir sebagian besar dari demografi usia 15-19 tahun.

Pertumbuhan tersebut turut memberikan sumbangsih pada pertumbuhan ekonomi internet/digital. Tahun 2019 tercatat nilainya mencapai $100 miliar, diproyeksikan akan mencapai $300 miliar pada tahun 2025 mendatang. Prakiraan tersebut meningkat, setelah laporan tahun lalu memprediksi angkanya akan sampai $240 miliar saja – tahun 2018 nilainya $72 miliar.

Ditinjau dari sub-sektor industri internet, alokasi jumlah pengguna paling banyak masuk ke kategori online game (180 juta pengguna aktif), dilanjutkan e-commerce dan ride-hailing. Angka tersebut diperkuat dengan tren esports yang memang terus berkembang di kawasan ini – secara bisnis masih terus mencari jati diri dengan model bisnis yang terus berevolusi, dari sekadar permainan game biasa.

e-Conomy SEA 2019

Permintaan layanan ride-hailing juga memberikan dampak berarti. Sejak tahun 2015, laporan mencatat pertumbuhan jumlah pengguna mencapai 5x lipat. Ditinjau dari pemain industri, Grab dan Gojek yang tengah mencoba untuk terus memenangkan pasar regional. Keduanya secara konsisten menggalang pendanaan baru untuk menguatkan ekspansi di tiap negara.

Indonesia masih mendominasi

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai $130 miliar pada tahun 2025 mendatang, tahun ini angkanya sudah mencapai $40 miliar – rata-rata pertumbuhannya 49% per tahunE-commerce dan ride-hailing menjadi pendorong utama di kawasan ini; ditambah adopsi pembayaran digital yang mendominasi semua layanan berbasis aplikasi. Pertumbuhan bisnis terkait didukung investasi yang terus mengalir. Termasuk dukungan yang diberikan pada unicorn Indonesia, nilainya mencapai $4 miliar pada tahun 2018 lalu.

e-Conomy SEA 2019

Dibandingkan enam negara lain yang turut mendapat lonjakan tinggi dari ekonomi internet, Indonesia memang memiliki signifikansi lebih dari sisi nilai. Ditinjau dari luas geografis dan total populasi perbandingannya memang sangat jauh. Vietnam digadang-gadang sebagai pangsa pasar terbesar kedua setelah Indonesia. Pebisnis digital mulai memperhatikan wilayah tersebut untuk memantapkan bisnis. Beberapa perusahaan digital besar di Indonesia –sebut saja Gojek dan Traveloka—juga telah debut di sana.

Dalam laporannya, Google-Temasek selalu menyoroti e-commerce, online travel, online media, dan ride-hailing. Empat sektor utama tersebut dianggap memiliki peran besar dalam mentransformasi bisnis di wilayah Asia Tenggara –sebagai lokomotif sekaligus gerbang ekonomi digital. Di Indonesia sendiri, platform e-commerce dan ride-hailing telah mampu menghadirkan banyak kesempatan baru, khususnya dalam rangka mendorong UKM untuk naik kelas dan membuka kesempatan kerja lebih luas.

e-Conomy SEA 2019

Indonesia mendapatkan momentum, sekurangnya jumlah pengguna internet tahun ini mencapai 152 juta pengguna, telah melebihi dari total populasi. Tahun lalu sektor online travel masih memimpin perolehan, tahun ini giliran e-commerce. Peningkatan e-commerce dari tahun 2015 mencapai 88%, tahun ini angkanya (GMV – Gross Merchandise Volume) sudah mencapai $21 miliar. Sementara untuk online travel masih berada di $10 miliar. Ride-hailing mendapatkan porsi $6 miliar.

Terpusat di area metro

Sorotan lain yang turut disampaikan dalam laporan mengenai sebaran ekonomi internet di kawasan tersebut. Riset membandingkan antara putaran ekonomi yang terjadi di area metro atau pusat perkotaan, sebagian besar mengungguli berkali-kali lipat daerah lain. Di Indonesia misalnya, GMV per kapita untuk ekonomi internet yang terjadi di Jabodetabek mencapai $555 sementara di luar kawasan itu hanya di angka $103.

e-Conomy SEA 2019

Sementara secara keseluruhan populasi di Asia Tenggara yang berada di kawasan metro hanya 15% dari total. Namun beberapa startup digital memiliki “misi mulia” untuk menjangkau kawasan rural. Seperti di Indonesia, penetrasi aplikasi pembayaran digital banyak ditargetkan untuk menjangkau pengguna unbankable. Termasuk beberapa e-commerce yang mencoba mengakomodasi produk-produk dari UKM di daerah.

Sumber : Dailysosial.

Tren Personalisasi Iklan di Indonesia

personal

Pernahkah anda mengetik keyword tertentu di google, lalu anda akan menjumpai iklan yang mirip dengan apa yang anda cari tadi di media sosial yang anda miliki ? sadar atau tidak search engine telah disetting sedemikian rupa untuk dapat membaca perilaku kita, agar kita mendapat feedback yang lebih personal atas apa yang sedang kita cari.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, perusahaan teknologi berlomba mengadopsi big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memperkirakan, layanan yang dipersonalisasi juga akan menjadi tren di Indonesia. Riset Technavio pada 2017 menyebutkan, nilai pasar dari layanan yang dipersonalisasi secara global akan mencapai US$ 31 miliar atau sekitar Rp 437,1 triliun pada 2021.

Alasannya, platform seperti e-commerce menyajikan beragam produk konsumen. Alhasil, konsumen butuh layanan dan tampilan platform yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu, perusahaan akan melakukan personalisasi layanan guna menggaet konsumen yang lebih banyak lagi. Terlebih hasil riset facebook menyebut mayoritas responden batal berbelanja karena iklan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Studi tersebut bertajuk Zero Friction Future, yang dikerjakan Facebook bersama Boston Consulting Group (BSC) dan Growth for Knowledge (GfK). Berdasarkan riset itu, 94% masyarakat Indonesia menemukan friksi atau hambatan saat berbelanja. Alhasil, 54% di antaranya batal berbelanja. Friksi yang dimaksud, seperti iklan yang tidak relevan dengan keinginan konsumen, kurangnya informasi atau ulasan terkait suatu produk hingga rumitnya proses transaksi. Ketidaktahuan pelaku usaha mengenai keinginan konsumen ini membuat mereka kehilangan pendapatan.

Perusahaan teknologi yang sudah menerapkan personalisasi diantaranya seperti Gojek, Grab, Shopee, Lazada, dan lain lain. Adapun perusahaan pengembang media sosial yang juga melakukan personalisasi atas iklannya yakni Instagram dan Facebook   dengan tujuan iklan lebih tepat sasaran. Karenanya, iklan yang tampil di setiap akun akan berbeda, tergantung kebiasaan masing-masing pengguna.

Riset Deloitte pada 2015 menunjukkan, konsumen bersedia membayar 10-50% lebih banyak untuk produk yang dipersonalisasi. Hasil studi menunjukkan beberapa produk yang diharapkan konsumen untuk disesuaikan dengan kebutuhannya adalah perlengkapan rumah tangga, busana, otomotif, mainan dan gim, kosmetik, makanan dan minuman, dan produk kesehatan. Personalisasi sangat berpengaruh dalam menciptakan pengalaman konsumen yang lebih baik. Strategi ini juga dinilai bisa meningkatkan loyalitas konsumen dan sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis dan penetrasi ke pasar (speed to market). Jadi jangan heran kalau semakin kesini iklan iklan yang kita temui akan semakin personal, karena memang pelaku bisnis ingin menyajikan iklan yang relevan sehingga tingkat ketertarikan untuk membeli sebuah produk meningkat.

sumber : katadata.co.id/ Cindy M Annur

Start Up Unicorn dan Pembangunan Ekonomi Indonesia

unic2

Dalam beberapa bulan yang lalu istilah unicorn tiba tiba menjadi trending topic di jagat dunia maya, istilah yang biasanya terbatas dikalangan para pelaku start up ini tiba-tiba menjadi perbincangan Nasional, setelah kata “unicorn” disebut dalam debat capres bulan Februari 2019 kemarin.

Yang menjadi kegelisahan saya pasca unicorn menjadi trending topic adalah ada beberapa pihak yang kemudian menyampaikan pendapatnya bahwa percuma Indonesia memiliki Unicorn tapi investornya datang dari Negara lain, atau yang sering mereka kumandangkan sebagai “Asing/Aseng”. Bahkan beberapa kali saya memantau diskusi pihak yang pro dan kontra statement ini, yang menurut saya jauh dari kata “bisa diterima” karena tidak menyampaikan data dan fakta yang ada, dan mohon maaf malah cenderung menggunakan emosi belaka.

Unicorn sendiri merupakan istilah yang sangat familiar di dunia perusahaan rintisan atau startup. Istilah unicorn digunakan untuk mendeskripsikan perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar atau sekitar 14 Trilyun rupiah. Di Indonesia kini ada 4 perusahaan start up yang masuk kategori Unicorn yakni Gojek yang bermain di sektor transportasi, Traveloka yang bermain di sektor Online Travel Agent (OTA), dan 2 Unicorn lainnya yang bergerak dibidang market place yakni Bukalapak dan Tokopedia. Kabarnya akan ada satu lagi start up yang segera menyandang status Unicorn Indonesia yakni tiket.com, mari kita semua berdoa semoga mas Gaery dan kawan kawan bisa segera mewujudkannya.

Potensi Besar Pengguna Internet Indonesia

Tingginya pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu daya tarik terbesar mengapa banyak investor tertarik untuk berinvestasi di bisnis digital yang ada di Indonesia. Data yang dilansir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebutkan bahwa terdapat 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat operator tak pernah menurunkan dana Capex (capital expenditure) atau belanja modal, terutama BTS 4G demi bisa bersaing dan memperebutkan pangsa pasar pengguna data. Ditambah pemerintah terus menggenjot infrastruktur dibidang telekomunikasi dengan proyek palapa ringnya. Kolaborasi yang baik antar keduanya, pada akhirnya menambah keyakinan para investor untuk menginvestasikan modalnya di Indonesia.

Mari kita mulai dari GoJek. Tercatat, dua perusahaan investasi papan atas asal AS, Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, menjadi pemilik GoJek sejak 2015. Investor lain adalah Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures, Formation Group, KKR, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets. Sokongan para investor asing pada unicorn pertama Indonesia itu, diperkuat dengan kehadiran Google yang menggelontorkan dana Rp 16 triliun pada akhir 2017. Menyusul kemudian, konglomerat lokal Astra International dengan dana investasi Rp 2 triliun. Selain investor asal AS, sinar terang GoJek juga menarik minat pemodal China. Tiga perusahaan raksasa China, yakni Tencent, JD.com dan Meituan Dianping juga telah turut menjadi pemilik Go-Jek (Republika, februari 2018).

Start up Unicorn selanjutnya adalah Tokopedia. Setelah mendapatkan suntikan dana US$1,1 miliar (sekitar Rp14,7 triliun) dari Grup Alibaba, nama Tokopedia kian melambung. Sejak itu, Tokopedia dikukuhkan sebagai unicorn pasca 8 tahun  berdiri dengan total valuasi diperkirakan  US$1,35 miliar.

Bisa dibilang Traveloka merupakan salah satu perusahaan booking travel besar di Asia tenggara. Walau website ini hanya memiliki 120 pegawai saat ini, menerima sekitar 250.000 pengunjung setiap harinya (dictio, Februari 2018). Traveloka mendapatkan suntikan dari investor-investor besar seperti Expedia, East Ventures, Hillhouse Capital Group, Sequoia Capital dan ecommerce dari Cina, JD. Traveloka sendiri mendapatkan pendanaan dari Expedia sebesar 350 juta dolar atau sekitar 4,6 triliun rupiah sedangkan dari investor lainnya tidak disebutkan berapa jumlah pendanaan yang diberikan. Traveloka bekerja sama dengan Expedia untuk menambah layanan akomodasi online secara internasional.

Unicorn keempat Indonesia yakni, Bukalapak diklaim masuk ke tataran unicorn pada November 2017 lalu. Selain Grup Emtek, pemilik jaringan SCTV, dua perusahaan ventura asal AS, yaitu 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga diketahui menanamkan modal di Bukalapak.

Tingginya minat investasi asing khususnya di bidang ICT adalah bagian dari dampak positif bonus demografi dan massifnya pembangunan jaringan broadband (3G dan 4G) oleh para operator seluler di Indonesia. Kombinasi kedua hal itu, ditambah meningkatnya populasi generasi milenial yang melek teknologi, menjadikan Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia Macan Baru Asia.

Kontributor Forbes Elad Natanson sebagaimana dikutip dari katadata, menyebut Indonesia sebagai ‘macan baru’ di Asia Tenggara dalam artikel terbarunya yang berjudul Indonesia: The New Tiger of Southeast Asia yang dimuat Forbes, pada Selasa, 14 Mei 2019. Hal ini diasebabkan karena pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia cukup pesat. Tiga alasan yang membuat Indonesia bisa menjadi ‘macan baru’ di Asia Tenggara. Pertama, usia penduduk Indonesia relatif muda yakni rata-rata 29 tahun. Sebanyak 60% dari total populasinya berusia di bawah 40 tahun. Kedua, 60% penduduk dewasa di Indonesia memiliki ponsel pintar (smartphone). Ketiga, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Sekitar 95% atau 142 juta dari total 150 juta pengguna di Indonesia mengakses internet lewat ponsel.

Presentation1

Kawasan Asia Tenggara (SEA) digadang-gadang sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi internet paling pesat. Dalam satu dekade terakhir, dinamika bisnis digital di berbagai lanskap memang cukup terasa — berupa kemunculan bisnis baru atau penguatan bisnis yang sudah ada dalam investasi besar-besaran.

Menurut hasil penelitian google dan temasex pada laporan riset bertajuk “e-Conomy SEA 2018”. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan paling cepat dan ukuran pasar paling besar di SEA. Tahun 2018 angkanya mencapai $27 miliar, akan menyumbangkan $100 miliar di tahun 2025 mendatang. Pertumbuhannya ekonomi digital di Indonesia sangat pesat, pasalnya pada tahun 2015 lalu angkanya baru mencapai $8 miliar, artinya tahun ini berhasil tumbuh lebih dari 4x lipat. Untuk tahun ini, Thailand menjadi terbesar kedua di angka $12 miliar.

Kiprah Unicorn Bagi Pengembangan Ekonomi Indonesia

Gojek

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) melakukan survei terkait layanan Go-Food dari Gojek sebagai mitra bisnis yang paling menguntungkan secara omzet. Survei dilakukan di sembilan kota antara lain Balikpapan, Bandung, Jabodetabek, Denpasar, Makassar, Medan, Palembang, Surabaya, Yogyakarta.

Hasil penelitian menunjukkan pada akhir tahun 2018, mitra UMKM Go-Food berkontribusi sebesar Rp 18 triliun kepada perekonomian Indonesia. Sebanyak 55 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet dari sejak mereka gabung Go-Food. Sebanyak 72 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food; dan 93 persen responden UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food.

Peningkatan klasifikasi omzet usaha ini menunjukkan UMKM yang bergabung dengan Go-Food mengalami perluasan pasar dan naik kelas, seperti dari mikro ke kecil dari kecil ke menengah. Dengan UMKM yang naik kelas dan usahanya membesar, maka mereka bisa menyerap tenaga kerja dan menyumbang lebih banyak kepada ekonomi daerah atau nasional (Republika, April 2019)

Tokopedia

William Tanuwijaya sang CEO Tokopedia menyampaikan bahwa melalui tokopedia ia telah membantu lebih dari 2,6 juta masyarakat Indonesia untuk memulai dan mengembangkan bisnis secara online. Menariknya, 70% di antara mereka adalah pebisnis baru. Hingga saat ini, Tokopedia telah memiliki jangkauan wilayah sebanyak 93 persen kecamatan di seluruh Indonesia. Tokopedia memiliki beberapa pencapaian signifikan sepanjang tahun 2018. Beberapa pencapaian itu seperti Gross Merchandise Value (GMV). GMV Tokopedia disebut-sebut meningkat pesat hingga 4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya (Merdeka, jan 2019). Memasuki tahun ke-10, Tokopedia akan mengembangkan ekosistemnya menjadi infrastructure-as-a-service (IaaS) dimana teknologi logistik, fulfillment, pembayaran, dan layanan keuangan kami akan memberdayakan perdagangan, baik online maupun offline. Dengan evolusi ini, diharapkan akan mempercepat pencapaian misi dalam pemerataan ekonomi secara digital.

Sementara itu Bukalapak yang juga pemain market place telah menggandeng 700 ribu pelaku usaha mandiri di Indonesia. Diman jumlah pelapak yang bergabung dengan  Bukalapak mencapai 4 juta. Sedangkan jumlah pengguna sudah mencapai 50 juta orang. Saat ini, Bukalapak mencatat GMV perusahaan e-commerce ini tembus Rp 4 triliun per bulan (Katadata, Januari 2019).

Pada Mei 2019 lalu Bukalapak secara resmi meluncurkan fitur BukaGlobal untuk konsumen di Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan Brunei Darrusalam. Fitur ini memungkinkan para penjual di platform Bukalapak dapat menjual barang mereka kepada konsumen di 5 negara tersebut. Dengan adanya fitur BukaGlobal ini diharapkan dapat mendongkrak ekspor produk Indonesia ke Luar Negeri.

Traveloka

Kementerian Pariwisata Indonesia saat ini sedang menggalakkan sepuluh destinasi prioritas baru, yang diharapkan dapat menjadi destinasi pilihan layaknya Pulau Bali yang mampu menyedot banyak turis baik Domestik maupun International.

Bank Indonesia (BI) menegaskan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah kelapa sawit yakni dengan menyumbang devisa sebesar Rp. 246 Trilyun (cnbcindonesia, 2019). Lebih lanjut Perry selaku gubernur BI menyampaikan perolehan devisa dari industri pariwisata nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebab industri pariwisata memiliki klasifikasi bisnis yang beragam, mulai dari transportasi, resort, hotel, restoran hingga UMKM. Sehingga akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Traveloka telah secara resmi bergabung sebagai co-branding Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata. Kolaborasi ini akan mengoptimalkan informasi pariwisata lengkap dengan program Hot Deals-nya. Dengan berbagai macam kemudahan yang dimiliki oleh traveloka, diharapkan akan semakin meningkatkan minat wisatawan untuk berwisata di Indonesia. Secara kapasitas, platform Traveloka merupakan sistem yang besar. Dirilis sejak 2012, Traveloka telah beroperasi pada 6 negara. Selain Indonesia dan Singapura, ada juga Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Aplikasi Traveloka juga sudah diunduh lebih dari 40 Juta pengguna. Selain itu, Traveloka juga menjalin kerjasama dengan lebih dari 100 maskapai low-cost dengan 200 ribu rute di Asia Pasifik dan Eropa. Traveloka juga memiliki banyak inventori akomodasi, seperti hotel, apartemen, guest house, homestay, resor, dan vila yang tentunya akan mempermudah wisatawan untuk menikmati liburan.