Bagaimana Milenial Mendisrupsi Gaya Kerja dan Tempat Kerja?

milenial4

Setelah generasi baby boomer dan generasi X bertahun-tahun menguasai dunia kerja, kini sebuah generasi baru hadir untuk mengubah tatanan kaku bentukan generasi sebelumnya — untuk kehidupan yang lebih baik. Generasi Y — atau yang biasa disebut millennial — adalah kelompok usia produktif yang lahir antara periode 1980 hingga 2000. Di dunia profesional sendiri, millennial terus mengalami peningkatan jumlah yang signifikan — terutama di ranah perusahaan rintisan/startup.

Diperkirakan pada tahun 2025, tiga perempat dari seluruh profesi yang ada di dunia akan diisi oleh mereka yang berasal dari generasi millennial.

Sebagai angkatan kerja, milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku kerja yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Beberapa survei menyebutkan bahwa milenial adalah generasi yang hyper-connected oleh adanya internet, minta diperhatikan dan didahulukan (entitled), malas (“lazy generation”) karena dengan digital semuanya menjadi mudah, tidak fokus karena gampang terdistraksi, dan yang menjadi keluhann banyak bos: mereka tidak loyal pada perusahaan.

Pada Mei lalu, Deloitte merilis survei yang dilakukan pada 10.455 milenial yang bekerja sebagai karyawan full-time di 36 negara. Survei tiersebut bertujuan untuk mengetahui kebiasaan milenial dalam bekerja, termasuk loyalitas mereka terhadap perusahaan.
Hasilnya menunjukkan bahwa 43 persen dari generasi milenial berencana untuk meninggalkan pekerjaan mereka saat ini dalam waktu tak lebih dari dua tahun. Hanya 28 persen yang memiliki rencana untuk tetap pada pekerjaannya sekarang, setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Tak heran jika milenial berpotensi mendisrupsi tempat kerja. Maksudnya, ketika budaya, sistem, dan lingkungan kerja di perusahaan tidak bisa mengakomodasi nilai-nilai dan perilaku kerja baru mereka maka perusahaan menjadi tak relevan lagi.

Berikut ini adalah lima tren yang membuat milenial menjadi ancaman serius bagi perusahaan sebagai tempat kerja.

From “Paycheck” to “Passion”
Tentu saja milenial bekerja untuk mencari uang, tapi di atas itu, mereka bekerja untuk mengekspresikan passion dan mengaktualisasikan life purpose. Itu sebabnya bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam hari bagi mereka harus bisa menciptakan makna yang bernilai bagi hidup mereka.

Bekerja tak hanya untuk mendapatkan gaji bulanan atau mengejar karir, tapi juga untuk menghasilkan kontribusi yang bermakna bagi keluarga, masyarakat, negara, bahkan umat manusia.

Karena itu berbeda dengan generasi sebelumnya, bagi milenial bekerja di perusahaan startup yang masih baru dan fresh seperti Traveloka atau Gojek lebih bernilai dibandingkan bekerja di perusahaan besar dan mapan seperti Astra atau Citibank.

Kenapa? Karena bekerja di Traveloka atau Gojek, mereka merasa ikut ambil bagian dan berkontribusi dalam merevolusi industri pariwisata dan transportasi. Bagi mereka bekerja di Traveloka atau Gojek lebih cool.

From “Job” to “Life”
Angkatan kerja milenial mulai menyadari bahwa sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja. Karena porsi terbesar waktu mereka untuk bekerja, maka konsekuensi logisnya tak ada lagi batas demarkasi antara kerja dan hidup. Bekerja adalah bagian inheren dari hidup mereka.

Karena itu perusahaan harus bisa menciptakan tak hanya “work environment” tapi juga “playing environment” dan “living environment” di kantor. Kenapa? Karena milenial menuntuk work-life balance yang lebih manusiawi. Tak heran jika tempat kerja banyak starup kini memiliki format bersuasana rumah (homy) dimana “work, play, live” berjalan seiring.

Kini muncul tren di dunia apa yang disebut “digital nomad lifestyle” atau “workcation” yaitu gaya hidup baru yang menggabungkan bekerja, hidup berpindah-pindah, sekaligus liburan. Bali kini dikenal sebagai salah satu “workcation hub” dunia.

gojek6

From “Satisfaction” to “Growth”
Berbeda dengan generasi sebelumnya, kini angkatan kerja milenial tak hanya menuntut kepuasan kerja (job satisfaction), lebih dari itu mereka mengingkan pengembangan diri (personal growth).

Mereka menuntut tak hanya berbagai paket benefit mulai dari gaji, bonus, kantin gratis, atau lingkungan kerja yang fun. Itu hanya jangka pendek. Yang lebih sustainable, mereka menuntut perusahaan mampu mengembangkan diri mereka dengan terus mendongkrak knowledge, skill, dan attitude.

From “8 to 5” to “Flexibility”
Rumah di Depok, kantor di Sudirman-Thamrin. Karena Lenteng Agung dan Pasar Minggu macet minta ampun, maka untuk sampai di kantor jam 8 maka terpaksa berangkat dari rumah lepas subuh. Bolak-balik rumah-kantor bisa 5-6 jam dihabiskan di jalan.

Ini adalah kondisi yang tidak manusiawi sekaligus tidak produktif. Karena itu milenial menolaknya. Milenial menginginkan fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mulai muncul tren “remote workers”, “flexible worker”, “flexi job”, dan “gig economy”.

Deloitte memperkirakan, saat ini “remote worker” (pekerja yang tak lagi bekerja secara penuh di kantor) sudah mencapai 39% dari total pekerja penuh-waktu, dimana 15% dari angka tersebut bekerja di rumah (home full-timer). Angka ini akan terus bertambah seiring banyaknya milenial yang memasuki angkatan kerja.

Karena itu kini perusahaan mulai menerapkan flexitime (flexible working schedule) atau menginisiasi konsep “satelite office”, konsep kantor di pinggiran kota, sehingga milenial tak perlu ngantor di pusat-pusat kota dan waktu mereka efisien.

From “Boss” to “Coach”
Angkatan kerja milenial tak mau dipimpin oleh pimpinan yang bossy. Ia menuntut pimpinannya berperan sebagai coach. Pola kepemimpinan bergeser dari “command & control” ke “conversations & coaching”.

Ini artinya, si pemimpin harus melakukan engagement yang intens dan terus menerus. Pimpinan harus membimbing dengan intens dan memberikan masukan-masukan saat itu juga (instant feedback).

Bagaimana kalau para bos tak mampu menempatkan dirinya sebagai coach? Dengan enteng para pekerja milenial akan resign. Ingat, mereka adalah tipe pekerja yang tidak loyal, yang begitu mudah menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya.

Sumber : yuswohady.com, id.techinasia.com

Potensi dan Perkembangan Ekonomi Digital di Indonesia

2016_11_22-16_09_33_815484e592756819af7a1590a977f5a6

Menurut Dalle (2016) sejarah ekonomi dunia telah melalui empat era dalam hidup manusia yaitu era masyarakat pertanian, era mesin pasca revolusi industri, era perburuan minyak, dan era kapitalisme korporasi multinasional. Empat gelombang ekonomi sebelumnya berkarakter eksklusif dan hanya bisa dijangkau oleh kelompok elite tertentu. Gelombang ekonomi digital hadir dengan topografi yang landai, inklusif, dan membentangkan ekualitas peluang. Karakteristik ini memiliki konsep kompetisi yang menjadi spirit industri yang dengan mudah terangkat oleh para pelaku startup yang mengutamakan kolaborasi dan sinergi. Karena itu pula ekonomi digital merupakan ‘sharing economy’ yang mengangkat banyak usaha kecil dan menengah untuk memasuki bisnis dunia.

Pertumbuhan ekonomi digital ini terjadi seiring dengan pengguna internet yang semakin meningkat. Menurut catatan Bank Indonesia, pengguna internet Indonesia sudah mencapai 130 juta orang atau 50% dari jumlah penduduk. Dari jumlah ini 124 juta merupakan pengguna internet aktif. Lebih lanjut, data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Februari 2018, menunjukkan, 49,83% masyarakat menggunakan internet 1-3 jam dalam sehari. 29,63 persen masyarakat menggunakan internet 4-7 jam sehari. Dan sebanyak 26,48 persen menggunakan waktunya untuk berinternet lebih dari 7 jam dalam sehari.

Sementara itu katadata menyebutkan proyeksi pertumbuhan pengguna internet rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia.

data pengguna internet

Bank Indonesia (BI) memproyeksi potensi transaksi ekonomi digital Indonesia diperkirakan sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2064 triliun pada 2025 hal ini sejalan dengan hasil riset Mc Kinsey. Salah satu indikator besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia bisa kita lihat dari sektor e-commerce.

Laporan terbaru PPRO, perusahaan layanan pembayaran terkemuka di dunia tentang pembayaran dan perdagangan online tahun 2018, menyatakan Indonesia memiliki pertumbuhan tertinggi mencapai 78% per tahun. Negara lainnya untuk top five pertumbuhan pasar tertinggi adalah Meksiko 59%, Filipina 51%, Kolombia 45%, dan Uni Emirat Arab (UEA) 33%.

Ada ratusan situs belanja online dengan berbagai kelompok produk mulai dari elektronik, pakaian, kesehatan, hingga perjalanan. Beberapa yang populer, seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee, Traveloka, Pegipegi, dan masih banyak lagi. Dari beberapa toko online tersebut, pertumbuhan terbesar terjadi pada tiket pesawat dan hotel dengan pertumbuhan 17,7%; disusul pakaian dan sepatu yang tumbuh 11,9%; kemudian kesehatan dan kecantikan tumbuh 11,2%.

Tingginya minat masyarakat dalam ekonomi digital

Pastinya Anda tidak asing lagi dengan istilah startup digital. Istilah ini memang sering terdengar di tiap obrolan. Sebenarnya, apa itu startup digital? Perusahaan baru yang sedang dikembangkan, begitulah definisi umumnya. Namun manajemen strat up digital ini berbeda dengan manajemen perusahaan rintisan lainnya, dan perbedaan yang paling jelas adalah, start up digital selalu menggunakan internet dan media digital sebagai landasan bisnisnya.

Direktur Digital & Strategic Potfolio PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom), David Bangun memprediksi Startup digital Indonesia akan tumbuh semakin subur tahun ini. Hal itu didorong kian merebaknya gaya hidup digital, baik di kalangan masyarakat urban maupun suburban. Situs startupranking.com menyebutkan, saat ini Indonesia sudah memiliki 1.705 startup digital. Dalam satu tahun terakhir Indonesia mencatat pertumbuhan sekitar 300 startup, dari 1.400-an startup pada 2017. Kondisi itu menempatkan Indonesia pada posisi keempat sebagai negara dengan jumlah startup terbesar di dunia. Berdasarkan data tersebut, Indonesia hanya kalah dari Amerika Serikat yang memiliki 28.789 startup, India 4.711 startup, dan Inggis dengan 2.971 startup. Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan Singapura yang berada di peringkat 15 dengan 508 startup.

Minat investor asing mendanai start up Indonesia Meningkat

Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan paling signifikan dari sisi ekonomi hingga teknologi, Indonesia saat ini menjadi pusat perhatian para investor secara global. Di tahun 2008-2010, ketika startup belum sebanyak tahun ini jumlahnya, masih sedikit jumlah investor asing yang masuk ke Indonesia untuk berinvestasi dan masih didominasi venture capital asal Jepang. Di tahun 2017 ini, VC asal Amerika Serikat dan Tiongkok mulai ramai mengunjungi Indonesia untuk berinvestasi.

Salah satu alasan mengapa saat ini Indonesia tampil lebih unggul mengalahkan Malaysia dan bersanding dengan Singapura adalah besarnya ukuran pasar atau market size. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan smartphone yang makin banyak digunakan masyarakat Indonesia, hingga makin meningkatnya penetrasi internet di Indonesia.

Sejak tahun 2011 Indonesia mulai mengalami perubahan yang cukup signifikan dari sisi teknologi, dengan bermunculannya startup lokal seperti Tokopedia, GO-JEK, hingga Bukalapak. Dinamika tersebut yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan dan perubahan paling cepat.

Kepercayaan investor pada startup di Indonesia terus menerus meningkat. Bahkan peningkatan jumlah investasi yang masuk ke startup asal Indonesia mencapai 68 kali lipat dalam lima tahun di tahun 2016 dengan nilai US$ 1,4 miliar. Bahkan di tahun 2017 nilai tersebut berganda menjadi US$ 3 miliar.

AT Kearney yang menggandeng Google untuk melakukan kajian tentang Indonesia Venture Capital Outlook 2017 mengungkapkan bahwa pertumbuhan yang masif membuat nilai dari startup Indonesia akan mampu melampaui nilai investasi di bidang migas yang mencapai US$ 5 miliar pada tahun 2016.

investment-vs-outlook-2017

Meskipun Amerika Serikat tetap menjadi pusat perhatian startup dunia, Asia tumbuh pesat berkat perkembangan investasi di Tiongkok, India dan Asia Tenggara. Bahkan pertumbuhan investasi si Asia Tenggara merupakan pertumbuhan tercepat di Asia dengan Singapura dan Indonesia sebagai gerbong utama.

Ditulis dari berbagai sumber.

Leisure Economy Jaman Old Vs Jaman Now

 

selfie

Sumber : tripcanvasindonesia

Melambatnya konsumsi yang sempat ramai pada akhir Tahun 2016 sampai sekarang oleh beberapa pihak disebut sebut sebagai salah satu realitas yang menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia. Beragam hipotesis sampai prediksi-prediksi sederhana pun belakangan muncul. Semuanya berusaha membaca kondisi sebenarnya yang membuat konsumsi masyarakat tumbuh melemah.

Prediksi terkait dengan gaya hidup yang lebih menyukai asupan sehat, makin giat berolahraga, hingga memilih menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya rekreasi, sering disebut sebagai penyebab berkurangnya konsumsi ritel di masyarakat. Bahasa ekonominya, ada shifting yang terjadi, jika sebelumnya orang Indonesia gemar berbelanja, di zaman now orang lebih menggemari leisure economy.

Petumbuhan kelas menengah dan generasi milenial menjadi perhatian tersendiri sebagai penyebab dari perubahan perilaku ke leisure economy. Menurut ekonom Faisal Basri, setidaknya pada tahun ini jumlah kelas menengah nusantara telah mencapai 60% dari total masyarakat.

Berdasarkan laporan survey Nielsen, di Indonesia diketahui bahwa 46% konsumennya lebih royal menghabiskan uangnya untuk kebutuhan yang bersifat gaya hidup maupun pengalaman. Makan di luar rumah, berekreasi, memanjakan diri di salon, hingga berwisata ke destinasi menarik menjadi prioritas dibandingkan membeli barang-barang kebutuhan sekunder.

Leisure Economy “Jaman Old”

Dalam pandangan saya sebagai orang awam, leisure economy “jaman old” ini adalah leisure economy yang digerakkan oleh kelas menengah baru yang sebagian besar dihuni oleh generasi Y, yang mayoritas menjadi keluarga muda di tahun ini. Leisure economy jaman old ini, muncul sebagai bentuk pelampiasan gen Y karena tekanan pekerjaan dan rutinitas yang membosankan. Diakui atau tidak, banyak orang terjebak dalam situasi ekonomi kegentingan waktu (time crunch economy). Ekonomi yang menggambar situasi dimana orang seakan-akan kekurangan waktu. Orang sering dalam situasi keterburu-buruan. Orang yang dikejar-kejar pekerjaan yang semakin menumpuk dan segera diselesaikan sehingga dua puluh empat sehari seakan masih kurang. Banyak dari rekan rekan kerja saya yang harus berangkat jam 5 pagi dan baru sampai rumah baru jam 9 malam, lebih parahnya lagi ada dari mereka yang dirumahpun masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Sebagai bentuk pelampiasan terhadap kepenatan itulah akhirnya banyak dari kalangan kelas menengah ini mengalokasikan budgetnya untuk mengkonsumsi apa apa yang membuatnya senang dan nyaman seperti berwisata, makan di restoran dan sebagainya.

Leisure Economy “jaman now”

Dalam perjalanan saya ke beberapa Kota, khususnya yang di kenal sebagai Kota basis wisata. Cukup sering saya bertanya kepada para driver online yang saya tumpangi. Ada hal hal menarik yang kemudian menjadi pembicaraan kami. Si driver online tersebut bercerita kepada saya bahwa, dia beberapa kali mengantarkan pelancong yang datang ke Malang hanya untuk menikmati apa yang saya sebut dengan “digital tourism”. Digital tourism yang saya maksud disini adalah orang yang berwisata bukan untuk menikmati dan bersantai ditempat wisata yang dimaksud, namun hanya untuk mengambil foto dan di upload ke media social yang menunjukkan bahwa ia telah berkunjung ke wisata tersebut.

Ya inilah keunikan para penikmat leisure economy jaman now. Berbeda dengan leisure economi “jaman old” dimana lebih membutuhkan ketenangan dan menikmati tempat wisata. Generasi leisure conomy “jaman now” lebih membutuhkan pengakuan di media sosial.

Dalam sebuah gelaran pelatihan “Marketing in Disruption” Profesor Rhenald Kasali iseng bertanya kepada para pesertanya : “ Apakah anda pernah selfie dan lalu fotonya anda post di instagram atau facebook ?”.  “Sering” itulah jawaban yang keluar dari mayoritas peserta.

Pertanyaan selanjutnya adalah : “ apa yang anda rasakan bila dalam tempo satu-dua jam kemudian tak ada yang memberi respon berupa “love” atau “like”. Tiba tiba kelas hening, menunjukkan muka para peserta yang gelisah, namun sesaat kemudian mereka menertawakan diri sendiri.

Inilah yang kemudian saya sebut dengan leisure economy “jaman now” atau yang oleh Prof. Rhenald kasali disebut dengan “Esteem Economy”.

Tiap generasi punya needs yang berbeda. Generasi baby boomers dan generasi X membutuhkan “leisure” dalam artian menikmati waktu, harta dan sebagainya, sedangkan  millennials (khususnya gen Z dan sebagian Gen Y) butuh esteem. Mereka mencari share, “like” atau jempol karena difasilitasi medsos. Ini persis dengan yang dilakukan oleh beberapa rumah makan kekinian. Makanannya mungkin biasa saja. Tetapi, tak henti-hentinya pengunjung berdatangan, karena disitu menyediakan tempat foto yang menarik untuk dijadikan background selfie/wefie.

Rasa ingin tampil dan eksis di dunia maya akhirnya mendorong masyarakat untuk mengunjungi berbagai lokasi tertentu yang dianggap mampu menghasilkan foto-foto keren untuk dipajang di akun mereka. Lokasi yang instagramable pun jadi buruan. Plus, demam “My Trip My Advanture” dimana banyak artis yang pakai media sosial, jalan-jalan ke suatu tempat, lalu foto. Akhirnya, para fansnya juga mau ikut jalan-jalan ke situ untuk foto juga.

Dari ulasan saya diatas masuk kategori manakah anda ? Jaman Old atau Jaman Now ? hehe

Perilaku Millenial Traveler di Asia Tenggara

millennial-travelers-image-for-blog

Kalangan milenial terkenal akan kebiasaan mereka dalam hal berwisata. Bahkan mereka rela menabung hanya untuk berkunjung ke lokasi tertentu dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka.

Kebiasaan traveling ini yang pada akhirnya menumbuhkan peluang baru dalam industri pariwisata. Namun, ada beberapa hal yang harus dipahami ketika mencoba menggarap pasar millenial dalam industri pariwisata.

Menurut Karun Budhraja selaku Vice President Corporate Marketing and Communications Asia Pacific Amadeus setidaknya saat ini jumlah milenial di kawasan Asia Pasifik mencapai 45% dari total populasi. Angka ini diprediksi pada 2020 akan memiliki kekuatan daya beli sebesar US$ 6 triliun.

Ia juga menambahkan ada setidaknya 6 perilaku penting yang harus dipahami dari para traveler milenial ini yakni : Pertama, adalah masalah aspirasi. Ini merupakan tantangan buat brand untuk memahami keinginan mereka bahkan sebelum konsumen tahu bahwa mereka butuh.

Kedua, milenial merupakan generasi yang berlomba-lomba mencari pengalaman. Baik dalam bentuk digital dan konvensional. Sebelum melakukan travelling, milenial ini mencari dan mendapatkan inspirasi dari rekanan terdekat mereka. Setelah itu mereka akan mendengarkan pendapat dari digital reviewers dan platform travel seperti Agoda dan TripAdvisor

Sebanyak 54% milenial di Asia Pasifik tetap terhubung dengan Internet selama liburan. 52% terhubung untuk bisa mengakses peta dan lokasi. 49% terhubung dengan alasan untuk bisa memberikan informasi kepada rekanan bahwa mereka aman selama berlibur.

Milenial ini ingin mendapatkan rekomendasi terkait travelling berdasarkan sumber yang tepat. Data dari Amadeus mencatat sebanyak 31% menyukai promosi dari email, 23% dari media sosial, dab 20% dari travel apps.

Bagi Karun, saat ini milenial bukan soal berkunjung saja. Mereka menekankan pentingnya sebuah pengalaman yang nyata ketika berliburan. Bagi para milenial traveler ini  sesuatu yang nyata atau yang benar-benar dekat dengan jati diri mereka akan menjadi hal yang menarik, ketimbang hal-hal yang terlalu dibuat-buat.

 

 

Sumber : marketeers.com

sumber foto : explormerriam.wordpress.com

Nation Branding: Agenda Bangsa setelah Asian Games Usai

Minggu 2 September 2018, menjadi hari terakhir sekaligus hari  penutupan Asian Games. Sebagai bangsa kita bangga karena telah sukses menyelenggarakan event akbar empat tahunan ini. Kita juga bungah karena prestasi atlet kita mencuat mengharumkan nama bangsa.

Tak hanya itu, Asian Games 2018 betul-betul menjadi pemersatu bangsa ketika kita sejenak melupakan perbedaan kubu politik, suku, agama, golongan, demi kemenangan dan kejayaan Indonesia tercinta.

Namun, setelah menutup “pesta kemenangan” hari ini apakah kemudian semuanya berakhir begitu saja?

Tidak! Justru di sinilah pekerjaan besar harus dimulai. Asian Games haruslah kita jadikan momentum, bahkan batu loncatan, untuk membangun nation brand Indonesia.

Apa itu nation brand? Intinya adalah adalah citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara.

Citra dan reputasi negara ini bisa dilihat dari enam kualitas yaitu: Export (citra produk nasional yang kompetitif), Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment (ketertarikan investor untuk menanam modal), Culture (kekayaan budaya), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Singkatnya, nation branding bertujuan untuk menarik TTI (trader, tourist, investor) dengan menciptakan citra dan reputasi di enam kualitas di atas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak nation brand Indonesia setelah Asian Games berakhir?

Super Junior di Asian Games 2018

#1. Kampanye Nation Branding
Dalam waktu yang tidak lama setelah Asian Games berakhir, Indonesia harus meluncurkan kampanye nation brand sebagai upaya me-leverage kesuksesan dalam mendapatkan eksposur global yang luar biasa.

INASGOC mengonfirmasi bahwa ada sekitar 11 ribu media lokal maupun global meliput Asian Games 2018. Ini merupakan eksposur luar biasa yang hanya bisa kita perolah melalui event akbar (sport mega-event) seperti Asian Games, Olimpiade, atau Piala Dunia. Momentum inilah yang harus kita perpanjang dengan meluncurkan kampanye nation branding untuk menarik TTI datang ke Tanah Air.

Kita harus banyak belajar dari negara tetangga Australia. Australia me-leverage habis-habisan posisinya sebagai tuan rumah Olimpiade Sidney tahun 2000. Event akbar ini kemudian diikuti dengan berbagai kampanye nation branding: “Life a Different Light” (2004-2006); lanjut “A Uniquely Australian Invitation” (2006-2008); kemudian “Come Walkabout” (2008-2009); dan terakhir “There’s Nothing Like Australia” (2010-sekarang).

#2. Diplomasi Global
Afrika Selatan memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Cina memanfaatkan Olimpiade Beijing 2008 untuk menunjukkan bahwa dengan laju pembangunannya yang supercepat, Cina bakal menyalip Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melalui Asian Games Indonesia juga bisa memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan populasi terbesar keempat, Indonesia juga sedang bertransformasi menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

#3. Visi Olahraga 2032
Dengan bekal kesuksesan menyelenggarakan Asian Games Indonesia harus berani think big dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Olimpiade 2020 bakal diadakan di Tokyo, 2024 di Paris, dan 2028 di Los Angeles. Untuk Olimpiade 2032, kini sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk bidding yaitu Jerman, Australia, dan India. IOC bakal menetapkan pemenangnya pada tahun 2025, jadi masih ada waktu tujuh tahun untuk berbenah diri.

Perlu diingat sejak tahun 2000an, negara-negara maju baru BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah sport mega-event seperti Olimpiade dan Piala Dunia sebagai bentuk diplomasi global untuk mengangkat nation brand mereka masuk dalam “club of elite” negara-negara maju.

Kalau betul Indonesia bisa mewujudkan visi ini, maka nation brand Indonesia akan naik kelas sejajar dengan negara-negara maju dunia. Karena perlu diingat, negara yang mampu menyelenggarakan event-event olahraga besar tersebut hanyalah negara-negara maju.

 

Sumber foto: Okezone.com

Sumber artikel : yuswohady.com

Disrupsi : Apakah Air BnB Mengancam Indutri Hotel ?

Kehadiran AirBnB memberikan warna baru dalam industry perhotelan. Ia memberikan pilihan bagi mereka yang mencari tempat tinggal dengan harga yang terjangkau.

Cara booking hunian di Air BnB ini memang mudah. Bisa dari situsnya atau dari aplikasi ponsel pintar. Tinggal mencari kota yang akan kita singgahi. Kemudian ada saringan seperti harga maksimal per malam, jumlah kamar, hingga ketentuan khusus seperti ada ruang merokok atau tidak.

Pendiri Airbnb bukanlah pemilik properti. Dia hanya jadi perantara untuk sistem sharing economy. Sama saja dengan yang sudah diterapkan di Uber, Grab Bike, atau Gojek. Sebagai perantara, Airbnb memungut upah antara 6 hingga 12 persen dari jumlah yang dibayar tamu, dan 3 persen dari yang diterima tuan rumah.

Secara rata-rata, sekitar 68 persen yang disewakan di Airbnb adalah rumah. Sedangkan kamar privat hanya 30 persen. Sisanya, kurang dari 2 persen adalah kamar untuk ramai-ramai. Ini artinya, “image” Airbnb sudah bergerak lebih maju. Dulu di awal kemunculannya, Airbnb hanya dianggap sebagai Couch Surfing baru. Di mana para pelancong akan menumpang atau menyewa kamar saat berlibur. Namun kini semakin banyak yang menyewa satu rumah.

Ini artinya, mulai ada pergeseran preferensi penginapan. Kini Airbnb sudah bisa berhadap-hadapan dengan hotel. Tanda-tandanya bisa terlihat dari tingkat okupansi dan juga pendapatan Airbnb. Di Kota New York, misalkan. Pada 2010, pendapatan Airbnb hanya 13 juta dolar. Pada 2014 jumlah ini melonjak jadi 319 juta dolar. Tahun lalu, pendapatan Airbnb dari kota Apel Besar ini meningkat jadi 451 juta dolar. New York memang termasuk kota dengan pertumbuhan Airbnb yang paling cepat.

Apakah Air BnB Mengancam Hotel?

Saat ada hal baru, sudah pasti itu akan mengancam sesuatu yang sudah mapan sebelumnya. Dalam hal penginapan, Airbnb sudah pasti akan memengaruhi tingkat okupansi hotel dan industrinya secara keseluruhan.

Sekarang saja, hotel mulai babak belur dengan adanya Airbnb. Menurut lembaga konsultan HVS Consulting & Valuation, industri hotel kehilangan sekitar 450 juta dolar pendapatan langsung setiap tahun gara-gara Airbnb. Antara September 2014 hingga Agustus 2015, ada sekitar 480 ribu kamar hotel yang dipesan. Pemesanan Airbnb di periode yang sama? Sudah mencapai 2,8 juta. Menurut HVS, pada 2018 diperkirakan pemesanan kamar akan mencapai 5 juta.

Masalahnya, hotel adalah industri yang saling terkait dengan industri lain. Pengurangan okupansi hotel, juga akan berdampak berkurangnya pendapatan dari sektor makanan dan minuman yang biasanya disediakan pihak hotel. Sekitar 108 juta dolar pendapatan dari makanan dan minuman (88 juta untuk makanan dan 20 juta untuk minuman) akan hilang karena para pelancong lebih memilih pesan hunian di Airbnb. Belum lagi tips dan berbagai service fee lain.
Airbnb unggul pula perihal ongkos produksi. Semisal angka hunian rendah, pemilik properti juga tidak harus menanggung biaya karyawan. Properti pun bisa disewakan seperti biasa. Properti yang biasanya kosong dan tidak produktif pun kini bisa disewakan dan menghasilkan. Membuat kemungkinan berkembangnya Airbnb sangat terbuka lebar.

Dengan angka pertumbuhan yang cepat, wajar kalau hotel konvensional khawatir. Apalagi menurut CBRE, Airbnb masih akan berjaya dalam masa-masa mendatang. Tentu ini bukan tanpa aral. Airbnb masih bermasalah dengan, antara lain, pencurian barang, pajak, hingga masalah hukum dan perizinan.

Dan lagi, ternyata sewa Airbnb selalu lebih murah ketimbang hotel itu adalah mitos. Sebab menurut CBRE, dari September 2014 hingga September 2015, rata-rata harga sewa kamar Airbnb adalah 148 dolar. Lebih tinggi ketimbang hotel yang rata-ratanya hanya 119 dolar. Harga yang lebih mahal ini karena biasanya properti yang disewakan memiliki fasilitas seperti dapur, mesin cuci, dan juga termasuk sarapan.

Tapi pengaruh Airbnb akan tetap besar, terutama bagi industri hotel. Airbnb paling tidak akan memengaruhi hotel dalam dua hal. Pertama, harga Average Daily Room(ADR) hotel akan turun. Tentu hotel terpaksa menurunkan harga kamar agar tidak kalah saing dengan Airbnb. Hotel juga tidak lagi bisa menaikkan harga seenaknya ketika peak season. Sistem monopoli seperti ini akan berakhir.

Pengaruh kedua akan ada pada pembangunan hotel. Dengan semakin berkembangnya Airbnb, pengusaha akan berpikir ulang untuk membangun hotel baru. Tingkat hunian hotel sekarang sudah mulai terbagi dengan Airbnb. Ditambah dengan semakin kuatnya Airbnb, membangun hotel baru yang butuh model besar tentu bukan pilihan yang bijak.

sumber utama : tirto.co.id

Ketidaktahuan : Waspadalah jika pengetahuan anda sudah “kadaluarsa”.

Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketika kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet/kadaluarsa dan tak relevan lagi, di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

Unlearn

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan.

Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Karena itu di era disrupsi saat ini “unlearning” itu menjadi sangat penting. Untuk adaptif dan cepat merespons datangnya disrupsi, mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Apa konsekuensinya jika kita merasa tak tahu semua? Dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru akibat datangnya disrupsi maka rasa keingintahuan kita akan begitu menyala-nyala.

Keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengeksplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses melewati disrupsi.

So, ketidaktahuan saja tidak cukup, kita juga perlu keingintahuan.

Untuk sukses melewati disrupsi kita harus memiliki dua mindset sekaligus: ketidaktahuan dan keingintahuan.

Ketidaktahuan memungkinkan kita menjadi agile learner. Sementara keingintahuan memungkinkan kita menjadi fast learner.

Agile learner menjadikan kita begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses melewati disrupsi. Sementara fast learner memungkinkan kita super cepat menemukan formula sukses melewati disrupsi.

 

Sumber : yuswohady.com

Lebaran Zaman Now (1)

Pertama tama saya atas nama pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas khilaf dan dosa baik yang disengaja maupun tidak. Semoga Idul Fitri kali ini membawa semangat silaturrahim yang lebih erat lagi diantara sesama umat manusia.

20180615_052154_0001

Ulasan saya kali ini adalah tentang tren yang terjadi selama idul fitri, yang merupakan hasil riset dari Inventure ( Pak Siwo dkk). Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa mudik sudah menjadi budaya dan kekuatan tersendiri bagi pembangunan ekonomi di Indonesia.

Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur lebaran lebih panjang; cairnya THR bagi PNS dan pensiunan; dan beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat. Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama lebaran mencapai Rp 188 triliun, sementara sirkulasi uang melalui remittance/transfer menurut Pos Indonesia mencapai Rp 3-4 triliun. Sebuah angka yang Fantastis !!!

Lantas tren apa saja yang terjadi selama masa lebaran ( puasa & idul fitri) tahun ini ? Mari kita simak bersama :

#1 Lebaran Adalah Liburan
Momen lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Sholat Ied dan halal-bihalal di kampung hanya memakan waktu setengah hari saja. Lantas sisanya diisi apa dong? Liburan dan kulineran. Yes, waktu libur yang cukup panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeskplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata lebaran. Beberapa destinasi favorit seperti Yogyakarta, Malang dan Bali tercatat mengalami peningkatan wisatawan, Yogyakarta mengalami kenaikan wisatawan sebesar 15% ( detik.com), Bali naik 50% (rri.co.id), dan Malang mengalami kenaikan wisatawan sebesar 30% (malangvoice.com).

#2 Lailatul Obral: The Paradox of Consumption
Setiap menjelang lebaran atau sepuluh hari terakhir ramadhan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late night sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Di bulan suci ramadhan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin di saat lebaran. Saat harus i’tikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral”.

#3 Online Late Nite Sale
Selain mal-mal yang menggelar late night sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce menggelar hal serupa. Antrian panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak, jadi wajar saja kalau website ecommerce sempat down. Tokopedia misalnya menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain untuk membangkitkan nafsu belanja…belanja…belanja!!!

#4 Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran
Bulan ramadhan dan momen mudik lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar brand. Daya beli masyarakat yang cukup tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand. Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun posko-posko yang dibuat oleh brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

toped2

#5 Mudik = Pamer Kesuksesan
Momen lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru hehe… Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka untuk membeli smartphone di saat lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana untuk membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

Selamat ya bagi yang udah bsia membeli mobil baru dan handphone baru

#6 Mudik is Expensive… but It’s a Must
Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transportasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji + THR pun seketika ludes… cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan.

#7 Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs
Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka kota yang identik dengan kemacetan, selama lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantong-kantong mudik di berbagai daerah. Di samping itu sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

599898-1000xauto-jakarta-sepi

Salah satu foto yang sempat viral di medsos, yang menggambarkan lengangnya Jakarta.

#8 Syawalan Digital
Keriuhan bermaafan saat lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama buat teman atau kerabat yang jauh. H-1 lebaran ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan lebaran di WA, Facebook atau Twitter. Dan juga banyak ditemui foto foto dengan pose tangan di depan khas bermaaf maafan, baik pribadi, alumni sekolah dan sebagainya. Nah satu lagi yang mungkin akan nyesek bagi para jomblo, yakni ucapan idul fitri yang ujung kalimatnya ada tulisan….. dan … ( pasangan). Semoga anda yang jomblo segera mendapat jodoh ya guys, yang sholeh/sholihah yang bisa diajak foto bersama lebaran tahun depan.

#9 Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”

Ketertarikan masyarakat akan segala hal berbau digital tampaknya tidak diragukan lagi, termasuk dalam penghimpunan zakat. Membayar zakat kini semakin techy. Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Basnaz juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman. Tahun 2016 jumlah pembayar zakat berbasis digital tercatat sebesar 1%, tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai 12% dan di tahun 2018 ini mengalami kenaikan lagi sebesar 18%.

#10 Lebaran = Fashion War
Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah bawah juga menunggangi tren baju lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

Sementara cukup sekian ulasan dari saya, semoga bermanfaat untuk anda semua.

Menakar Potensi Pasar Muslim di Indonesia : Tren Muslim Zaman Now

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat sebagaimana yang saya temukan di buku yang ditulis Oleh Pak Siwo ( Yuswohady) yang berjudul Marketing to the Middle-Class Muslim dan #GenM ( Generasi Muslim). Persis seperti yang ditulis pada dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Pada bulan Ramadhan kali ini Pak Siwo lagi lagi memunculkan hasil riset terbarunya terkait dengan pasar muslim di Indonesia. Nah untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now, berikut 10 tren perilaku konsumen muslim di Indonesia :

#1. Halal of Things: The Hot Label
Di dunia digital selama ini kita mengenal istilah “Internet of Things” (IoT). Artinya, semua peralatan apapun (TV, lemari es, mobil, hingga wearable devices) nantinya akan membentuk jejaring internet yang terkoneksi satu sama lain. Dengan menggunakan analogi yang sama saya punya istilah baru “Halal of Things” (HoT) yaitu fenomena dimana seluruh produk (terutama yang terkait makanan) akan diberi label halal.

Lemari Es Halal Pertama

Labelisasi halal ini akan berlangsung begitu masif menjelang dan setelah tahun 2019 karena memang UU Jaminan Produk Halal (UU No. 33 Tahun 2014) akan diterapkan di tahun tersebut. Label halal akan menjadi “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen muslim zaman now.

#2. Riding the Conversations
Dengan munculnya fenomena Halal of Things, pemilik brand non-makanan/minuman seperti lemari es, panci, hijab, tisue, lingerie, hingga pembalut wanita, berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Tujuannya untuk menciptakan percakapan: word of mouth dan viral di media sosial yang ujung-ujungnya melesatkan awareness produk. Mereka mencuri perhatian muslim zaman now. Tapi ingat, langkah berani ini bukannya tak membawa risiko, karena bisa menimbulkan kontroversi yang membahayakan brand: “high return, high risk… even high loss!”

#3. Hijrah: The New Way of Life
Hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi mereka, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan kerudung. Mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam . Misalnya, rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya mereka yang bekerja di bank konvensional, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba). Fenomena hijrah ini banyak didorong oleh para selebritas baik dari bintang film, pemain sinetron, hingga penyanyi.

Hijarah - Tidak Bekerja di Bank Konvensional

#4. The Rise of Riba Awareness
Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan muslim zaman now, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech. Go-Pay yang sempat dianggap riba, kini mulai ancang-ancang meluncurkan produk Go-Pay syariah ( Note : beberapa waktu lalu Go Jek sempat melakukan jajak pendapat tentang hal ini).

Kick RIba#5. Umat-nomic: The New Movements
Tahun kemarin saya mengikuti beberapa workshop yang bertemakan “Keuatan Ekonomi Umat”, dan saya sendiri sempat berdiskusi langsung dengan teman teman dari NU dan Muhammadiyah perihal potensi ekonomi umat ini, karena bagi saya dua organisasi islam ini bisa menjadi motor sekaligus akselerator untuk pemberdayaan ekonomi umat.  Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety & desire muslim zaman now. Mereka muncul dengan mengedepankan konsep syariah. Yang di maksud Umat-nomic adalah gerakan ekonomi umat yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Muslim zaman now menyukai geliat gerakan ini karena konsep ekonomi yang dikembangkannya mengacu kepada ajaran Islam dan dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan profesional.

212 Mart

Umat-nomic hadir sebagai alternatif bagi sistem ekonomi kapitalistik yang bersifat menghisap dan menghasilkan ketimpangan kaya-miskin. Contohnya adalah 212 Mart, perusahaan jaringan gerai ritel, yang dikelola dengan sistem baru yang sangat Islami yaitu: amanah (dapat dipercaya), jamaah (bersam-sama/koperasi), dan izzah (kemuliaan). Contoh lain, Bank Wakaf mikro dirancang untuk membantu kelompok segmen bawah-menengah dengan akad yang menguntungkan nasabah.

#6. Soleh-Smart Kids: The New Paradigm of Parenting
Di kalangan mamah-mamah muda muslim zaman now kini muncul pergeseran mindset dan perilaku dimana mereka lebih memilih dan menyukai pendidikan berbasis Islam. Mereka tak hanya menginginkan anak-anak mereka pintar di bidang matematika, fisika, atau mahir berbahasa Inggris, tapi juga ingin anaknya memiliki nilai-nilai dan karakter Islam yang mulia.

Fenomena yang lagi happening saat ini adalah kemunculan SD Islam Terpadu (SD-IT) yang justru lebih diminati dibanding SD-SD biasa. Di berbagai kota besar/menengah di Tanah Air kini banyak bermunculan sekolah-sekolah (TK-SD-SMP-SMA) berkelas global yang menggabungkan sains dengan pendidikan karakter Islam. Sekolah-sekolah ini sangat diminati oleh orang tua muslim walaupun biayanya selangit .

Mungkin ini adalah bentuk kesadaran mamah mamah dan papah papah muda bahwa menanamkan pendidikan Moral dan spiritual adalah bagian penting dari mempersiapkan anak anak mereka, agar kedepan bisa menjawab tantangan jaman yang ada, yang semakin kompleks dan terbuka ( pengaruh narkoba, kenakalan remaja dll) khususnya di Kota Kota besar.

#7. Lei-Sharia: Muslim-Friendly Leisure
Muslim zaman now adalah juga experience-seeker yang hobi banget melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang saya sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip sharia-friendly. Banyuwangi misalnya mulai memperkenalkan wisata pantai syariah. Kolam renang hotel syariah kini mulai tidak lagi mencampur antara tamu pria dan wanita.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal trip. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, dan lainnya.

Untuk Indonesia, jika kita berbicara tentang daya saing  pariwisata halal (halal tourism) memang masih kalah dengan Malaysia, Singapura, ataupun Thailand. Kontribusi terhadap PDB hanya sekitar 9,6% dan menyumbang devisa sebesar US$ 11,9 miliar, begitu juga peringkat kita di Global Muslim Travel Index (GMTI), masih di bawah Malaysia yang menduduki peringkat 1. Jumlah wisman muslim yang ke Indonesia pada tahun 2015 hanya 2,2 juta.

Namun seiring dengan tren tingginya wisata syariah ini, kita patut berbangga. Pertumbuhan wisatawan muslim di Indonesia diprediksi mencapai 9,1% per tahun, lebih tinggi daripada rata rata global yang hanya 6.3% per tahun, dan pemerintah mentarget 5jt wisatawan muslim Indonesia pada 2019.

Lei-Sharia

#8. Mipster: The New Role Model
Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan bahkan terkenal. Sosok muslim kekinian ini sering disebut “Mipster” atau Muslim Hipster. Mereka adalah sosok muslim zaman now yang memiliki mindset global, toleran, inklusif, digital-savvy, tapi juga tetap soleh dan religius. So, seimbang antara “faith” dan “fun” (2F).

Di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran dengan penampilan yang sangat stylish. Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di media sosial seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana.

Muzamil Hasballah

#9. Sportyjab: The New Hype
Gaya hidup sehat kini semakin menjadi pilihan bagi muslim zaman now. Berolah raga sambil narsis telah menjadi “kewajiban”. Bagi muslimah zaman now, menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab tak serta-merta membatasi aktivitas berolah raga dan aktivitas produktif lainnya. Mereka tetap jogging, nge-gym, zumba, atau berenang mengenakan hijab yang sporty. Yup, sehat dapat, syar’i pun dapat.

Melihat tren ini, Nike sampai mengembangkan lini brand baru untuk hijabers: Pro Hijab. Produk tersebut diperuntukkan bagi hijabers yang aktif berolahraga tapi tetap ingin stylish dengan hijabnya. Tak hanya Nike, brand lokal seperti Specs dan Sporte justru sudah lebih dulu mengeluarkan lini produk yang sama. Sportyjab… the new hype!

SportyJab

#10. Muslizen: the New Digital Lifestyle
Perkembangan dunia digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak bisa lepas dari gaya hidup digital. Hidup mereka sudah tergantung kepada media sosial, apps, wearable device, dan sejenisnya.

Aktivitas kehidupan sehari-hari mereka pun mulai beralih ke digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintech, travelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial seperti: HalalTrip (berlibur), Muslimarket (belanja), IndVes (berinvestasi), Kitabisa.com (sodaqoh), rumah ta’aruf, Paytren dan sebagainya. Termasuk bagi anda pelaku UKM yang butuh tambahan modal ada start up Peer To Peer Lending berbasis syariah yakni investree (investree.id) yang pada awal 2018 kemarin telah berhasil menyalurkan dana sebesar 2,7 Milyar Rupiah.

Mengacu pada beberapa tren di atas, tentunya kita juga harus menyiapkan strategi agar pasar muslim yang sangat potensial ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan bisnis yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selamat memikirkan strategi terbaik untuk meningkatkan bisnis anda.

 

sumber utama tulisan ini adalah yuswohady.com

Tren E-Commerce 2018 yang Perlu Kita Ketahui Untuk Mendongkrak Penjualan

28783960 - indonesia high resolution e-commerce concept

Tahun 2017 menjadi tahun yang penuh dengan gejolak dalam perkembangan e-commerce Indonesia. Mulai dari masuknya investasi Alibaba melalui Lazada dan Tokopedia, meroketnya pertumbuhan pemain baru Shopee dalam memenangkan pasar mobile, dan jumlah transaksi Harbolnas 2017 yang mencapai Rp 4 triliun selama tiga hari.

Momen bombastis yang terjadi di tahun lalu tampak menunjukkan geliat perdagangan online yang semakin panas di Bumi Pertiwi. Tentu gairah ini tidak akan turun begitu saja pada tahun 2018. Justru industri e-commerce bakal semakin menarik berkat hadirnya pemain yang kian kompetitif.

Perkembangan e-commerce seolah sudah tidak terbendung. Semua pemain berlomba-lomba untuk mengambil kue pasar. Tidak heran bila pasar Indonesia begitu menggiurkan. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan bahwa pengguna internet yang berbelanja online di Indonesia mencetak nilai transaksi sebesar Rp 75 triliun sepanjang tahun 2017.

Angka yang fantastis ini berasal dari 24,7 juta konsumen. Padahal, APJII merilis temuan bahwa angka pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta jiwa pada tahun 2017. Betapa besarnya potensi perdagangan online di Indonesia yang bisa diperebutkan peritel online.

Meskipun begitu, memenangkan pasar Indonesia tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Masih banyak tantangan yang masih harus dihadapi oleh pelaku e-commerce sampai saat ini. Mulai dari akses dan kecepatan internet, masalah geografis dan tipografis, hingga metode pembayaran.

Baru-baru ini, situs agregator perbandingan harga e-commerce iPrice meluncurkan riset pertamanya dengan mengumpulkan data lebih dari seribu e-commerce di Asia Tenggara dalam periode Juli 2016 hingga Juni 2017. Riset tersebut berisi temuan-temuan menarik terkait perilaku konsumen Indonesia dalam berbelanja online.

Salah satu temuannya yaitu penggunaan smartphone yang semakin bertambah tiap tahunnya ternyata sejalan dengan peningkatkan trafik mobile terhadap situs toko online. Hal ini ditandai dengan peningkatan kunjungan mobile dengan rata-rata sebesar 19% di Asia Tenggara dalam kurun 12 bulan.

Sementara sampel e-commerce yang beroperasi di Indonesia menunjukkan data bahwa 87% trafik kunjungan mereka berasal dari penggunaan mobile. Temuan ini menunjukkan bahwa mobile menjadi potensi besar dalam meningkatkan kunjungan atau trafik yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilakukan oleh para pemain e-commerce dengan menginvestasikan pengembangan situsnya agar lebih mobile-friendly.

Kendati jumlah trafik dari mobile menyumbang rata-rata 87% dari total trafik, akan tetapi konsumen masih lebih suka melakukan transaksi melalui desktop. Inilah uniknya perilaku konsumen Indonesia dan juga negara-negara berkembang lainnya di Asia Tenggara.

Terdapat istilah conversion rate, yang merujuk pada kunjungan yang berujung pada pembelian. Riset menunjukkan conversion rate kunjungan desktop menembus 200% lebih tinggi dibandingkan conversion rate dari kunjungan mobile. 

Andrew Prasatya, Content Marketing Lead iPrice mengatakan, data tersebut menunjukkan perilaku umum konsumen online Indonesia, yakni melihat-lihat barang melalui mobile atau aplikasi, namun baru belanja lewat komputer atau laptop. “Konsumen lebih suka bertransaksi melalui desktop karena dinilai lebih nyaman, mudah, dan terpercaya,” terang dia.

Layar lebar desktop memang menawarkan ruang yang lebih luas, dapat melihat semua fitur dalam sekali pandang, dan lebih mudah memilih produk yang diinginkan. Hal inilah yang mungkin belum bisa ditawarkan oleh layar mobile yang memiliki keterbatasan ruang untuk menampilkan fitur sebuah situs.

Meski jumlah trafik mobile tidak serta-merta memiliki conversion rate yang tinggi, hal ini juga bisa menjadi referensi kebijakan para pelaku e-commerce. Misalnya, bagi pemain yang baru berkecimpung dalam perdagangan online, mungkin ada baiknya bila fokus para peningkatan trafik terlebih dahulu dengan mengembangkan kualitas situs mobile.

 

Sumber : marketeers.com