Pencekalan Huawei dan Senjakala Teknologi Amerika

arkademi-blog-huawei-amerika-china-5G

Bila hari ini anda menciptakan alat teleportasi, hal pertama yang harus anda lakukan bukanlah membayangkan bagaimana akan menghabiskan kekayaan dari paten penemuan tersebut. Tapi memikirkan bagaimana nyawa anda tetap di kandung badan. Karena anda resmi menjadi ancaman terbesar bagi pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atas ekonomi, politik, dan pertahanan. 

Mungkin anda berpikir ketika menciptakan alat teleportasi maka semua akan baik-baik saja dan dunia akan jadi lebih baik. Oh, tak semudah itu. Karena teknologi anda akan merusak tatanan ekonomi bangsa-bangsa yang telah diatur sedemikian rupa oleh mereka yang berkuasa.

Dilansir dari bbcdotcom (120318), para pejabat di Amerika mengatakan ‘kedekatan Huawei dan ZTE dengan pemerintah Cina’ membuka peluang adanya ‘pemantauan terhadap aktivitas warga Amerika melalui peranti atau layanan dari Huawei atau ZTE, yang berujung dengan risiko ancaman terhadap keamanan nasional’. Untuk alasan itulah pemerintah AS mengeluarkan  peraturan untuk melarang semua produk telepon genggam buatan Huawei dan ZTE masuk ke pasar negara tersebut.

Isu yang digunakan Amerika Serikat (AS) dalam “menjegal” Huawei adalah mata-mata, isu keamanan dan pertahanan memang selalu seksi untuk dijadikan alasan oleh pemerintah untuk menyerang negara lain. Tapi pemerintah negara mana yang tidak melakukannya? Seseorang di NSA sana bisa tahu hari ini anda pergi kemana dan film bajakan apa yang anda tonton. Facebook, IG dan bala tentaranya dapat mengetahui kecenderungan anda, dimana anda, apa kesukaan anda dan lainnya dengan berbagai tools yang ia sematkan, dan kita pun menikmatinya. Sadar atau tidak, diakui atau tidak,  alat pengawasan paling kuat di bumi ini selalu ada di tangan tiap orang yakni smart phone. Ini bukan berita baru. Dan juga bukan alasan utama mengapa AS dan para perusahaan teknologi AS menjegal Huawei. Sampai disini anda dapat menebak sebenarnya kemana muara tulisan ini bukan ?

Tema besar yang sesungguhnya dari konflik ini adalah perlombaan adu cepat pengembangan 5G antara AS dan China. Perlombaan yang menentukan supremasi dunia selanjutnya.

Ketika Cina Mencuri Start Pengembangan Teknologi 5G

Laporan Deloitte Consulting baru-baru ini mengungkapkan, bahwa China mengalahkan Amerika Serikat (AS) untuk pengembangan jaringan 5G. Hal tersebut terlihat dari teknologi yang diusung China Mobile dalam Kongres Inteligensi Dunia II belum lama ini.

Senada dengan Deloitte, Fortune melaporkan, untuk membangun infrastruktur 5G, China telah mengeluarkan USD24 miliar sejak 2015. China juga membangun sepuluh kali lebih banyak situs untuk mendukung komunikasi 5G, yakni 350.000 situs menara telepon seluler baru.

China sudah menambahkan lebih banyak situs dalam periode tiga bulan pada 2017. Sementara Amerika Serikat baru membangun sekira 30.000. Pada 9 April lalu, China Mobile Beijing Company menyelesaikan peningkatan versi NSA dari peralatan jaringan inti. Setelah upgrade, jaringan inti dan jaringan IMS mendapat fungsionalitas 5G. Sederhananya, jaringan China Mobile kini dapat digunakan oleh smartphone yang mendukung 5G atau terminal 5G lainnya. Tes pertamanya sendiri diadakan pada 12 April. Lebih lanjut pada Desember tahun lalu, Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok resmi menyetujui uji coba 5G dari tiga operator utama. China Mobile disetujui untuk pita frekuensi uji 2,6 GHz dan 4,9 GHz. Ini berarti operator besar mempercepat pembangunan jaringan 5G. Diperkirakan batch pertama dari smartphone 5G akan diluncurkan pada paruh kedua tahun ini. Beberapa kota mungkin menggunakannya terlebih dahulu, termasuk Beijing.

Apa sebenarnya 5G itu?

Teknologi 5G adalah konektivitas internet seluler generasi kelima yang menjanjikan kecepatan pengunduhan dan pengunggahan data yang jauh lebih cepat, jangkauan yang lebih luas dan koneksi yang lebih stabil. Jaringan ini memanfaatkan spektrum radio dengan lebih baik dan memungkinkan lebih banyak perangkat untuk dapat mengakses internet seluler pada saat yang bersamaan. Singkat kata apa pun yang kita lakukan sekarang dengan smartphone kita, kita akan dapat melakukannya dengan lebih cepat dan lebih baik

Sebelum membahas lebih lanjut mengapa 5G bisa menciptakan kekisruhan sebesar ini, mari kita mengilas balik ke 20-30 tahun lalu.

BILL GATES DAN AYAH KITA

Perusahaan terbesar di abad ke-21 namanya Apple, Microsoft, Google. Tiga perusahaan tersebut tidak jatuh dari langit dan tiba-tiba jadi raksasa. Ketiganya dirintis antara tahun 70-90-an. Bill Gates, Steve Jobs, dan Larry Page bisa melahirkan bayi raksasa karena ekosistem yang mendukung; kemajuan teknologi AS. Bila tahun 1980-an Gates dan Jobs bermain-main dengan kode komputer dan processor, ayah kita mungkin ‘bermain’ dengan cangkul. Paling top mesin tik. Itu sebabnya bukan ayah kita yang mendirikan Microsoft atau Apple. Karena ayah kita (atas takdir Tuhan) tidak lahir di sebuah negara yang memiliki keunggulan teknologi. Ekosistem itu sangat penting. Karena kita tak bisa menumbuhkan pohon rambutan di gurun pasir.

Keunggulan teknologi AS di akhir abad ke-20 terus bergulir bak bola salju ke abad 21. Menciptakan teknologi-teknologi selanjutnya yang akhirnya menjadi mesin ekonomi baru yang mengalahkan minyak dan baja. Bola salju yang melahirkan para supreme baru lainnya yang mendominasi planet: Facebook, Amazon, Intel, Cisco, IBM. Para entitas yang mengubah konektivitas dan informasi menjadi komoditas dalam skala masif. Lapangan kerja dibuka, pajak yang gemuk disetor, dan layanan berbasis internet diekspor ke seluruh dunia. Merekalah yang menggerakkan mesin pencetak uang AS. Agar Paman Sam tetap punya fulus yang banyak, dan karenanya bisa tetap jadi negara dan bangsa paling digdaya di muka bumi. Sebab tak ada kedigdayaan tanpa uang.

Kemajuan teknologi itu mengubah ekonomi manusia, bangsa, dan dunia. Yang paling terasa adalah ketika konektivitas 4G diimplementasikan di pasar. Wajah dunia berubah karena 4G.

DAMPAK 4G

Gojek mustahil ada bila konektivitas masih 3G. Begitu juga dengan Grab, Tokopedia, Bukalapak, dan layanan lain yang berbasis internet — sekaligus yang tidak mungkin layanannya diantarkan dengan kualitas konektivitas rendah. Layanan-layanan ini telah membuka jutaan lapangan pekerjaan, peluang ekonomi baru, serta berkontribusi amat besar dalam perekonomian nasional. Hal yang sama juga terjadi dengan Whatsapp, Instagram, Facebook, atau Twitter. Kecepatan konektivitas 4G membuat kita semua bisa melakukan aktivitas ekonomi di internet secara lebih baik dan memperoleh keuntungan finansial. Mulai dari mempromosikan produk lewat gambar atau video, melayani konsumen via chat, atau bahkan mengumpulkan investasi lewat media sosial seperti yang dilakukan Arkademi.

Anda bahkan tak mau mengakses dan membaca artikel ini menggunakan konektivitas 3G. Semuanya tidak terjadi tanpa 4G. Internet tidak akan menarik bila untuk membuka sebuah gambar atau video perlu waktu 1-2 menit.

Ketika 4G diimplementasikan, para raja teknologi AS mendulang makin banyak kekayaan karena semua orang di dunia telah mengakses internet dan menggunakan layanan mereka. Bagi generasi sekarang, hidup tanpa internet bukanlah hidup. Dengan uang yang makin banyak, mereka bisa menciptakan teknologi yang lebih maju untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi dan mempertahankan dominasi. Dominasi para raksasa ini artinya dominasi untuk induk mereka: AS. Berkat 4G, AS mengalami kenaikan GDP sebesar $ 100 miliar. Belum termasuk yang dihasilkan oleh industri turunan.

Namun semua kisah ini berubah sejak kemunculan teknologi 5G.

5G: REVOLUSI TEKNOLOGI

5G bukan sekadar 4G yang lebih cepat. 5G adalah revolusi dan keajaiban teknologi konektivitas. Ia bukan hanya jauh lebih kencang dan mampu membawa data lebih besar dibanding 4G. Namun ia hampir tak punya latensi atau jeda. Tak ada putus di tengah. Latensi adalah waktu jeda ketika data berjalan. Rata-rata latensi koneksi saat ini adalah 100 milidetik atau 0,1 detik. Dengan 5G latensinya hanya 1 milidetik atau 0,001 detik. Lebih cepat dibanding waktu yang anda butuhkan untuk berkedip.

Bila kecepatan 4G bisa mengubah wajah dunia dan bangsa-bangsa, lalu apa dampak yang bisa dihasilkan 5G yang kecepatannya 20 kali 4G dan tanpa latensi?

Soal anda bisa mendownload film dari sebelumnya 6 menit di 4G menjadi 3 detik di 5G, itu urusan lain. 5G adalah satu-satunya teknologi yang memungkinkan dilakukannya interkonektivitas secara real-time tanpa harus khawatir dengan keterlambatan transportasi data. Ini adalah teknologi yang dibutuhkan oleh mobil otonom, internet of things (IoT), dan pengoperasian alat jarak jauh. Semua sektor akan terdampak: transportasi (mobil otonom), kesehatan (bedah jarak jauh), konstruksi (operasi alat), hiburan (film dan musik), retail (kecepatan akses layanan), IoT (smart home, smart city), hingga agrikultur.

5G membuka kemungkinan yang tak terbatas bagi teknologi lain atau layanan yang membutuhkan konektivitas real-time dengan ukuran data yang besar. Bila anda mencoba berimajinasi, ingatlah bahwa dengan 5G langit adalah batasnya.

5G akan mengubah dunia. Jauh lebih berdampak ketimbang yang dilakukan 4G. Menurut estimasi, dengan 5G AS akan mendapatkan kenaikan GDP $ 300 miliar dan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru.

Namun kali ini AS mendapat lawan tanding yang setara atau lebih hebat: China. Huawei telah berhasil mengembangkan teknologi 5G yang jauh lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti AT&T atau Verizon. Ibaratnya, 5G China itu seperti DVD dan 5G AS seperti laser disc. AS tertinggal sangat jauh dalam perlombaan 5G. Bagi AS, itu tidak boleh terjadi karena akan mengancam keagungan bangsa mereka di masa depan. Karena itulah Huawei dijegal. Ini bukan semata perlombaan teknologi, tapi persaingan antar bangsa.

TEKNOLOGI YANG BISA MENGUBAH PERCATURAN DUNIA

Mengapa perlombaan ini maha-penting?

Karena kemajuan teknologi menciptakan ekosistem. Pada implementasi teknologi yang revolusioner, kecepatan sangat penting. Ingatlah lagi apa yang dilakukan oleh Steve Jobs, Bill Gates, dan Larry Page pada 20-30 tahun lalu yang melahirkan mesin ekonomi raksasa baru bagi AS. Semua terjadi karena ekosistemnya memungkinkan. Hal yang sama juga akan terjadi di China dengan 5G. Dengan lebih cepat dan majunya implementasi 5G di China yang dikenalkan oleh Huawei, maka perusahaan-perusahaan teknologi China akan lebih dulu mengadopsi, beradaptasi, dan mengembangkan teknologi atau layanan berbasis 5G dibanding negara manapun di dunia. Mereka akan dapat lebih cepat mengakuisisi dan menguasai pasar dunia pada segala sesuatu yang berbasis layanan 5G — internet yang lebih cepat dan tanpa jeda.

Singkatnya: dengan memenangkan perlombaan 5G China akan mampu menciptakan ‘internet baru’ dan menggeser AS sebagai dominator teknologi dunia. Kekayaan akan berpindah dari Paman Sam ke Kung Fu Panda.

Kelak kita akan mengenal Apple, Microsoft, Google, Facebook, IG, Whatsapp generasi baru yang berasal dari China. Segala komoditas teknologi software maupun hardware yang memungkinkan implementasi 5G pada semua tingkatan pasar.

Bagi AS, khususnya Trump, hal ini tidak boleh terjadi. Karena Amerika harus Great Again. Melihat China bisa melompat menjadi runner-up negara dengan ekonomi terbesar dunia hanya dalam 30 tahun saja sudah meresahkan. Membiarkan mereka jadi nomor 1 tentu bukan pilihan bagi AS. Celakanya China punya amunisi kuat untuk menohok ke peringkat teratas dalam liga. Namanya 5G.

Di abad ini hanya teknologi yang mampu menjadi generator ekonomi terbesar sebuah bangsa. Bukan lagi minyak, gas, atau senjata. Tapi bagaimanapun AS adalah pemenang Perang Dunia II dan terbiasa menjadikan perang sebagai generator ekonomi lewat industri senjata. Sebuah jalan yang masih dipertahankan dan dimanfaatkan untuk menghadapi mereka yang melawan: Vietnam, Korea, Irak, Afganistan.

Tapi kali ini berbeda. Amerika berhadapan dengan Naga. Pada padang Kurusetra yang benar-benar baru: ekonomi dan teknologi. Memperebutkan supremasi baru dunia. Pertempuran yang mungkin asing bagi bagi kita yang sibuk bertengkar tentang perolehan suara.

 

 

Sumber :

Sebagian besar tulisan disadur dari https://arkademi.com

dengan judul tulisan : huawei dalam pertempuran dominasi amerika dan china

Benarkah Amerika Kalah Dari China Dalam Pengembangan Jaringan 5G?

http://www.bbc.com

3 Profesi yang Paling Sering Mengakses Internet, apakah anda termasuk ?

 

Internet

Survei Nasional Penetrasi Internet 2018 mengungkapkan bahwa pekerjaan wirausaha besar, guru dan pedagang onlineshop merupakan tiga pekerjaan yang paling sering mengakses internet.

Ketiga profesi menempati urutan teratas dengan penggunaan internet mencapai 100 persen. Menyusul kemudian profesi lainnya seperti Jasa konsultan, mahasiswa dan Aparatur Sipil Negara, penggunaan internetnya mencapai 94,7 persen, 92,1 persen, dan 90,9 persen.

Sementara, petani penggarap, buruh tani dan petani lahan sendiri menempati urutan terbawah dalam penetrasi internet penggunaan internet masing-masing tercatat, 20,3 persen, 25,7 persen, dan 33,5 persen.  

Adapun berdasarkan umur, tercatat rentan usia 15 -19 tahun menjadi usia yang paling banyak menggunakan internet. Sementara itu, semakin tinggi usia seseorang terlihat penggunaan internet mereka makin berkurang.

Berdasarkan survei, penetrasi internet terhadap seseorang dengan usia 65 tahun keatas hanya 8,5 persen.

Kemudian dari segi pendidikan, mayoritas pengguna internet di Indonesia ada dua. Pertama, orang yang pernah kuliah namun tidak tamat. Kedua, pengguna yang tamat S3. Penggunaan internet masing-masing bidang pendidikan mencapai 100 persen.

Diketahui, Survei Nasional Penetrasi Internet 2018 melibatkan 5.900 sampel dengan margin of Error 1,28 persen. Sampel yang diambil adalah orang yang telah berinternet lebih dari tiga bulan sejak akhir 2018. Survei ini dilaksanakan mulai dari 9 Maret – 14 April 2019.

Adapun teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling, dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan bantuan kuesioner.

Sumber : bisnis.com, ilustrasi by : Hoovers

Tren Penggunaan Tunjangan Hari Raya (THR) 2019

Memasuki bulan Ramadan, selain beribadah salah satu yang ditunggu masyarakat adalah penerimaan Tunjangan Hari Raya (THR). Snapcart, salah satu start up yang bergerak di bidang riset berbasis aplikasi, melakukan penelitian tentang apa saja rencana penggunaan THR oleh masyarakat setelah mereka mendapatkan THR nanti. Hasil riset Snapcart yang diselenggarakan tanggal 16-23 April 2019 menemukan, 60% responden berencana akan menggunakannya untuk berbelanja, 91% di antaranya akan berbelanja melalui e-commerce.

THR

Sebagian responden merencanakan akan menyimpan THR dalam bentuk tabungan (65%), serta untuk sedekah atau zakat (45%), dan untuk keperluan lebaran serta mudik (25%). Kecenderungan rencana penggunaan untuk berbelanja, lebih tinggi dikalangan perempuan yaitu 64% berbanding 54% untuk laki-laki.

Perempuan dan ibu rumah tangga lebih tertarik membelanjakan THRnya untuk membeli baju, tas, sepatu dan aksesoris. Berbeda dengan kaum pria yang lebih berminat pada produk digital, gadget, peralatan olahraga dan untuk hobi. Kategori barang yang diakui paling dibidik oleh para responden untuk berbelanja THR adalah pakaian, personal care, produk digital, makanan dan minuman (groceries), dan gadget.

Yang menarik, 91% responden menyatakan mereka akan memilih berbelanja melalui e-commerce, sedangkan 56% responden berencana berbelanja di toko offline seperti di mall, pasar, toko/minimarket, dan warung. Tren ini merata, baik para responden yang berdomisili di Jabodetabek maupun di luar Jabodetabek.

Dengan semakin banyaknya brand e-commerce, membuat masyarakat mempunyai banyak saluran dan pilihan untuk membelanjakan THR. Dalam riset Snapcart ditemukan, brand e-commerce yang menjadi pilihan utama belanja THR masyarakat adalah Shopee, Tokopedia, Lazada dan Bukalapak.

Sebanyak 57% responden merencanakan menggunakan THR mereka untuk berbelanja di Shopee, 19% responden memilih Tokopedia, dan 9% akan menggunakan Lazada dan Bukalapak. Pilihan tersebut tentunya disebabkan banyak faktor, antara lain promosi, ongkos kirim gratis, harga lebih murah, iming-iming hadiah, dan ketersediaan produk.

Tingginya awareness masyarakat untuk berbelanja online ini, tidak terlepas dari gencarnya aktivitas promosi yang dilakukan oleh masing masing e-commerce ini selama Ramadan. Iklan-iklan tersebut semakin menjamur baik di media cetak, elektronik, maupun sosial media. Berdasarkan hasil riset Snapcart , brand e-commerce yang menempati empat posisi teratas dalam survei rencana belanja THR adalah Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Bukalapak. Kemudian disusul brand lain seperti JD.id, Blibli, Zalora, Elevenia, Zilingo, Berrybenka, Qoo10 dan Sorabel.

Alasan utama responden memilih berbelanja THR melalui sarana online; 66% responden mengatakan karena ada banyak tawaran promosi dari situs-situs belanja online, 59% responden mengatakan karena adanya fasilitas gratis ongkos kirim barang, dan 56% responden mengatakan karena harga barang di situs belanja online lebih murah. Selain itu para responden juga menambahkan, pertimbangan lain lebih memilih berbelanja online juga karena ada banyak tawaran bonus, pilihan produk-produknya lebih beragam, metode pembayarannya lebih lengkap, lebih terpercaya, situs belanja/aplikasinya lebih mudah untuk digunakan, lebih cepat dan efisien waktu dan biaya, serta pilihan cara pengirimannya lebih lengkap.

Sumber : swa.co.id

Mengukur Efektivitas Instagram sebagai Social Commerce

instagram_closetshop_2

Sumber gambar : guides.co

Social commerce tengah menjadi tren di segmen UKM dan pengusaha muda di Indonesia. Mereka pun memilih Instagram sebagai salah satu platform social commerce guna mengembangkan sekaligus mensukseskan bisnis. Seberapa efektif Instagram sebagai Social Commerce?

Belakangan, Instagram tak hanya dimanfaatkan sebagai ajang narsis atau personal branding para penggunanya. Tren yang sedang tumbuh subur di platform media sosial milik Facebook ini adalah fungsi niaga. Tak sedikit pengguna Instagram yang memanfaatkan media sosial ini sebagai ajang untuk menjajakan dagangan mereka, sehingga disebut sebagai Social Commerce.

Merujuk data Instagram, dari lebih 1 dari miliar pengguna aktif Instagram di dunia, setidaknya 25 juta memanfaatkan Instagram sebagai platform untuk mempromosikan bisnis mereka.

Dan Indonesia, menurut Sri Widowati, Country Director Facebook Indonesia, merupakan salah satu komunitas pengguna Instagram terbesar di Asia Pasifik. “Hal ini, karena pengalaman yang ditawarkan Instagram sangat visual, yang notabene sangat digemari oleh masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Yang menarik, penggunaan Instagram tidak hanya memakai media sosial itu untuk mengekspresikan diri dan terhubung dengan hal-hal sesuai dengan minat mereka—dalam hiburan, musik, fesyen, seni, maupun olahraga. Namun, mereka juga menggunakannya untuk mengembangkan bisnis. Hal ini dibuktikan oleh trending-nya tagar #bisnisanakmuda sepanjang 2018 di Indonesia (mention tertinggi).

Studi Instagram bersama Ipsos tentang “Dampak Instagram bagi Bisnis di Indonesia” yang dirilis pada November 2018 menjumpai fakta bahwa 90% pengguna Instagram yang disurvei menggunakan Instagram untuk berkomunikasi tentang bisnis. Sementara itu, 76% pengguna Instagram yang disurvei pernah membeli dari sebuah brand setelah menemukannya di Instagram. Dan, 81% pengguna Instagram yang disurvei saat tertarik dengan sebuah bisnis akan mempelajari bisnis tersebut lebih lanjut melalui Instagram.

Fakta lainnya, 49% yang disurvei mengaku sangat setuju bahwa Instagram lebih penting dibandingkan situs web. “Hal ini menunjukkan bahwa profil bisnis Instagram merupakan medium utama untuk menunjukkan kehadiran mereka secara online.

Sementara itu, 43% responden mengaku menempatkan Instagram sebagai platform paling penting dalam kelanjutan sukses bisnis mereka, 66% sangat setuju bahwa Instagram membantu mereka dalam mencari pelanggan di kota dan negara lain, 60% pemilik atau pendiri bisnis menemukan inspirasi dari usaha lain melalui Instagram.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa konsep Social Commerce sudah menjadi kebutuhan para pelaku bisnis di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh data bahwa 87% UKM (Usaha Kecil Menengah) Indonesia yang disurvei oleh Instagram dan Ipsos mengatakan setuju bahwa penjualan mereka meningkat berkat Instagram. Bahkan, 82% pengusaha muda mengaku sangat setuju bahwa Instagram telah membantu mereka mencapai target usaha. Adapun 63% pengusaha muda setuju bahwa Instagram telah membantu peluncuran dan kesuksesan usaha baru, 74% sangat setuju bahwa usaha mereka berkembang pesat karena akun Instagram mereka, dan 71% setuju bahwa Instagram memberi mereka kekuatan untuk membangun bisnis sesuai keinginan mereka.

Menjawab tren Social Commerce, Instagram menawarkan sejumlah fitur unggulan yang dapat dimanfaatkan oleh pebisnis. Keempat fitur tersebut adalah Explore, Feed, Stories, dan Profile. Menurut Country Director Facebook Indonesia, saat ini ada lebih dari 7 juta pengiklan di seluruh aplikasi keluarga besar Facebook Inc., di mana 2 juta di antara total pengiklan tersebut telah aktif menggunakan Stories.

Belum cukup dengan keempat fitur tersebut, Instagram kembali merilis inovasi barunya berupa layanan Shopping di dalam Stories dan Explore pada September 2018 lalu. Layanan baru tersebut membuktikan bahwa Facebook serius menjadikan Instagram sebagai Social Commerce bagi para pelaku bisnis. Inovasi lainnya yang juga diluncurkan Instagram guna menjawab konsep Social Commerce yang kini tengah tumbuh subur adalah Instagram Direct, dimana di dalamnya dihadirkan tombol integrasi kotak masuk, sehingga memperkecil kemungkinan pesan tidak terbaca, serta tombol Quick Replies. “Inovasi ini kami hadirkan karena lebih dari 150 juta pengguna Instagram melakukan percakapan dengan setidaknya satu profil bisnis di Instagram setiap bulannya. Dan, 1/3 pesan untuk profil bisnis berawal dari Stories. Lebih lanjut, Instagram juga menyediakan beberapa tombol di profil bisnis Instagram yang dapat mendorong pengguna mengambil tindakan seperti telepon, email, atau menunjukkan arah menuju toko bisnis tersebut.

Sejumlah merek yang telah sukses menfaatkan Instagram diantaranya yakni Tokopedia . Tokopedia misalnya, sukses menjalankan festival kejutan belanja untung akhir tahun bertajuk KEBUT pada akhir 2018 lalu. Instagram menjadi salah satu medium utama yang digunakan Tokopedia selama periode kampanye KEBUT berlangsung. Pada kesempatan itu, Tokopedia menggunakan hampir seluruh fitur yang ada di Instagram, mulai dari Feed, Stories dan Instagram Live untuk mengomunikasikan promosi KEBUT setiap hari kepada followers setia mereka.

Ada empat jenis aktivitas yang dijalankan dalam kampanye KEBUT. Pertama, Konten Regular berupa konten inspiratif dan info promo. Kedua, Quiz dalam format tebak harga. Ketiga, Tokopedia Live yang diimplementasikan lewat Geng Kebut Live dan Bedah Promo. Keempat, Influencer Marketing melalui influencer marketing buzz.

Hasilnya, melalui kolaborasi Kelas Kebut Live X Instagram, traffic Tokopedia meningkat. “Kolaborasi ini mampu meningkatkan view hingga 10 kali lipat dibandingkan live pada saat periode regular. Bahkan, dari Kelas Kebut Live, Tokopedia berhasil meningkatkan sales selama Live Show berlangsung.

Ditulis oleh : Dwi Wulandari

Sumber : mix.co.id

6 Tren Teknologi yang akan Merevolusi Industri Perhotelan

Digitalisasi kian merambah ke berbagai lini dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat mungkin tak percaya bahwa di masa depan mereka dapat memesan atau membeli apapun melalui internet hanya dengan beberapa klik menggunakan ponsel pintar mereka.

Industri Perhotelan

Saat ini layanan online banking, pemesanan tiket pesawat, taksi dan makanan, serta layanan seperti kecantikan dan kebugaran bisa dipesan secara mudah melalui aplikasi. Indonesia semakin menjadi pusat teknologi sejalan dengan semakin banyaknya brand dan korporasi yang semakin fokus pada teknologi guna menawarkan berbagai layanan yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan nyaman.

Industri perhotelan merupakan salah satu studi kasus yang diuntungkan dari kehadiran inovasi teknologi. Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)Machine learning, dan Otomatisasi merupakan beberapa inovasi teknologi yang tak hanya merevolusi dari sisi pengalaman konsumen, namun juga mampu memberikan kemudahan dari sisi bisnis. Tentu dengan kecanggihan teknologi tersebut membantu para pemain industri untuk menemukan solusi-solusi potensial bagi para konsumen.

Bagi pemilik hotel, penting untuk terhubung dengan inovasi teknologi terbaru agar tetap dapat berkompetisi dalam industri yang dinamis. Memastikan pengalaman pelanggan yang berkualitas membutuhkan pendekatan menyeluruh, melibatkan banyak aspek operasional dan profesional. Teknologi memainkan peran penting untuk mewujudkan hal ini sekaligus memungkinkan pemilik hotel mengelola tantangan dan operasional sehari-hari melalui platform yang didukung dengan teknologi.

Saat ini, industri perhotelan mungkin belum sepenuhnya menjangkau tahap penerapan inovasi teknologi-teknologi terbaru. Namun cepat atau lambat, setiap perkembangan dan penemuan inovasi teknologi terbaru akan semakin membuat dunia lebih terhubung serta berkembang menjadi lebih personal dengan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi konsumen.

Berikut merupakan enam inovasi teknologi terbaru yang harus diketahui para pemain di industri perhotelan:

  1. Internet of Things(IoT) yang menghubungkan berbagai perangkat melalui internet, telah banyak digunakan oleh hotel-hotel di seluruh dunia. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini seperti mengendalikan lampu hingga suhu ruangan. Hal ini akan berdampak besar pada efektivitas biaya operasional hotel sehari-hari.
  2.  Big Data, penggunaan pengumpulan data berkembang pesat di hampir semua industri. Pada industri perhotelan, hal ini bisa membantu pengelola hotel dalam menawarkan pengalaman menginap yang lebih personal. Misalnya, pengelola hotel dapat membantu menyarankan lokasi wisata yang lebih tepat kepada tamu berdasarkan usia, budget, dan jenis kelamin. Pengelola hotel juga dapat membuat analisis berbasis data untuk tujuan bisnis, seperti mengidentifikasi strategi harga yang lebih baik dan evaluasi performa bisnis.
  3. Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI) merupakan inovasi berikutnya yang siap memberikan dampak bagi industri, termasuk industri perhotelan. Nantinya, pemilik hotel bisa memprediksi momen ketika kamar-kamar terisi penuh melalui analisis AI berdasarkan trencheck in para tamu. Teknologi ini juga bisa menentukan dengan tepat keluhan tamu dan melihatnya dari cabang dan kamar mana keluhan tersebut berasal sehingga bisa langsung ditindaklanjuti.
  4. Augmented reality(AR) untuk pengalaman yang lebih baik. Game mobile berbasis AR memainkan peran penting kala mempromosikan teknologi AR sehingga diketahui oleh banyak orang. Teknologi tersebut saat ini sedang dikembangkan oleh hotel-hotel untuk menghadirkan pengalaman yang terkesan canggih pada para tamunya. Dengan teknologi ini, tamu bisa melakukan tur virtual ke kamar dan sekeliling hotel guna mengetahui fasilitas maupun atraksi yang ditawarkan di sekitar hotel.
  5. Teknologi Pengenalan (Recognition Technology) merupakan salah satu tren teknologi yang sedang  dipelajari penggunaannya dalam industri perhotelan guna menghadirkan autentikasi biometrik yang lebih mulus. Teknologi ini bisa dimanfaatkan para tamu untuk membuka kamar hotel mereka dan melakukan check in/check out menggunakan sidik jari atau pemindaian wajah.
  6. Chatbot untuk menjawab pertanyaan, layanan yang memungkinkan para tamu untuk berinteraksi dengan AI melalui tampilan chat. Melihat banyak orang menghabiskan banyak waktu ketika menggunakan aplikasi obrolan, chatbot menawarkan potensi luar biasa untuk digunakan dengan baik di industri hotel. Chatbot bisa memahami pertanyaan sederhana dan menyediakan jawaban dalam waktu singkat. Dengan mengimplementasikan chatbot, staf hotel bisa fokus pada hal-hal yang lebih kompleks maupun pekerjaan yang lebih urgent.

Dengan bantuan teknologi, para pemain di industri perhotelan bisa mempercepat bisnis mereka, memperluas jangkauannya ke lebih banyak orang, termasuk pasar yang sedang berkembang seperti anak muda maupun para pelancong yang memahami teknologi. Tapi apakah itu artinya industri tak membutuhkan lagi tenaga manusia? saya pribadi meyakini bahwa hal itu tidak akan terjadi.

“Inovasi teknologi memungkinkan hotel dapat tampil beda di mata publik, memenuhi harapan tamu, dan memperluas pasar. Namun teknologi tidak akan pernah menggantikan kehangatan dan personalisasi yang dihadirkan oleh interaksi manusia. Di masa mendatang, meski kita akan melihat lebih banyak kemajuan teknologi, interaksi manusia akan tetap relevan. Karena teknologi memudahkan operasional, staf hotel akan lebih banyak memiliki waktu dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas layanan serta interaksi. Bagaimanapun, bisnis perhotelan sendiri adalah sebuah seni.

Sumber : marketing.co.id